ρ
=
B−VA a) Gliserin ρ = 90−28,24 50 = 1, 23 b) Paraffin Cair ρ 1 = 40,9571−20,4469 25 = 0,820 ρ 2 = 37,5039−17,0539 25 = 0,818 ρ 3 = 40,9347−20,4687 25 = 0,818 c) Oleum Iecoris d) Oleum Sesami ρ 1 = 68,031−22, 8409 50 = 0,9038 ρ 2 = 68,00−22,8560 50 = 0,9028 e) Oleum Eucalyptus ρ 1 = 44,0528−21,5701 25 = 0,899308ρ 2 = 42,1808−21,5664 25 = 0,824576 ρ 3 = 44,2332−21, 6175 25 = 0,904628 f) Isopropil Meristat ρ 1 = 85,025−22,7634 50 = 1,245 ρ 2 = 73,9774−31,9252 50 = 0,841 ρ 3 = 74,0204−31,9675 50 = 0,841 g) Metil Salisilat ρ 1 = 86,3982−27,5256 50 = 1,1714 ρ 2 = 86,2776−27,5463 50 = 1,1746 ρ 3 = 86,7998−27,5233 50 = 1,1655 h) Oleum Ricini ρ 1 = 39,9608−15,6153 25 = 0,9738 ρ 2 = 39,9245−15,6154 25 = 0,9723 ρ 3 = 39,9882−15,6173 25 = 0,9748 i) Propilen Glikol ρ 1 = 83,823−32,265 50 = 1,03116 ρ 2 = 83,797−32,261 50 = 1,03072
ρ 3 = 83,782−32,260
50 = 1,03044
IV.3 Pembahasan
Telah dilakukan percobaan engamatan wujud zat dan sifat fisika kimia bahan obat, dimana terdapat beberapa paremeter yang diamati, antara lain titik lebur, jarak lebur, pengukuran densitas menggunakan piknometer, pengukuran densitas menggunakan hidrometer, serta penentuan bobot jenis suatu bahan obat. Adapun beberapa sampel yang diukur titik lebur dan jarak leburnya antara lain Ketoprofen, Ibuprofen, Guafenisin, Paracetamol, Atropine Sulfate, Dekstrometorfan, Resorsinol, Piracetam, dan asam askorbat. Sedangkan sampel yang diukur densitas serta bobot jenisnya antara lain Gliserin, Parafin cair, Oleum licoris, Oleum sesami, Oleum eucalyptus, Isopropil miristat, Metil salisilat, oleum ricini, dan Propilen glikol.
Pengukuran titik lebur dan jarak lebur dilakukan dengan menggunakan metode pipa kapiler, dimana pipa kapiler yang telah diisi dengan sampel diletakkan diatas uap panas yang akan melebur apabila telah sampai pada titik leburnya, pengukuran ini dilakukan secara triplo untuk mendapatkan hasil yang akurat. Untuk pengukuran titik lebur dan jarak lebur dari sampel ketoprofen, diperoleh titik lebur yaitu 94,5OC dengan jarak lebur yaitu 2OC dimana referensi yang digunakan yaitu 93OC - 96OC sehingga dapat dikatakan bahwa hasil pengujian telah sesuai dengan literatur yan digunakan. Selanjutnya untuk sampel ibuprofen,
diperoleh titik lebur yaitu 74,6OC dengan jarak lebur yaitu 4OC dimana referensi yang digunakan yaitu 75OC - 78OC, meskipun terdapat sedikit perbedaan dengan literatur yang digunakan, tetapi dapat dikatakan bahwa hasil pengujian telah sesuai dengan literatur yan digunakan. Untuk sampel Guafenisin di peroleh titik lebur 66OC dengan jarak lebur 4,3OC, dimana referensi yang digunakan menyatakan bahwa titik lebur dari sampel Guafenisin yaitu 79OC dan terdapat perbedaan dengan hasil yang diperoleh, sehingga dikatakan bahwa hasil yang diperoleh tidak memenuhi literatur yang digunakan. Untuk sampel Paracetamol titik lebur yang diperoleh adalah 169OC dengan jarak lebur 4OC, literatur yang digunakan adalah 172OC sehingga sampel yang diujikan memenuhi kriteria dari literatur yang digunakan. Pada pengukuran titik lebur dan jarak lebur dari sampel atropin sulfat, hasil yang diperoleh adalah titik lebur 146,60C dengan jarak lebur 6OC, literatur yang digunakan yaitu 1870C sehingga sampel yang diujikan tidak memenuhi literatur yang digunakan. Untuk sampel Dekstromethorphan di peroleh titik lebur 120OC dengan jarak lebur 7OC, dimana referensi yang digunakan menyatakan bahwa titik lebur dari sampel Dekstromethorphan yaitu 109,5OC-112,5OC dan terdapat perbedaan dengan hasil yang diperoleh, sehingga dikatakan bahwa hasil yang diperoleh tidak memenuhi literatur yang digunakan. Pada pengukuran titik lebur dan jarak lebur dari sampel Resorsinol, hasil yang diperoleh adalah titik lebur 105OC dengan jarak lebur 6OC, literatur yang digunakan yaitu 1090C-1110C sehingga sampel yang diujikan tidak
memenuhi literatur yang digunakan. pada pengukuran sampel piracetam diperoleh titik lebur 145OC dengan jarak lebur 6OC, dimana hasil ini sesuai dengan literatur yang digunakan yaitu 151,5-152,5OC. Yang terakhir dilakukan pengukuran pada sampel Asam askorbat diperoleh titik lebur yaitu 170OC dengan jarak lebur 18OC dimana hasil ini tidak memenuhi literatur yang digunakan yaitu 190OC. Adanya perbedaan dari literature yang digunakan dengan hasil pengamatan yang diperoleh dapat diakibatkan oleh beberapa hal seperti sampel yang telah terkontaminasi dengan bahan lain, menyebabkan titik lebur sampel yang diukur meningkat atau menurun, atau dapat juga diakibatkan karena pengamatan yang kurang teliti.
Untuk pengukuran densitas bahan obat menggunakan piknometer juga dilakkan secara triplo, dimana hasil yang diperoleh kemudian dmasukkan kedalam rumus yang berlaku sehingga diperoleh densitas dari sampel yang diukur, Pada penentuan densitas dari gliserin, hasil yang diperoleh memenuhi literatur yang digunakan, yaitu densitas sebesar 1,23. begitupula dengan pengukuran densitas sampel Oleum lecoris dimana hasil yang diperoleh memenuhi literatur yang digunakan yaitu 0,92. Untuk pengukuran densitas dari Parafin cair diperoleh densitas 0,88 dimana hasil ini tidak sesuai dengan oliteratur yang digunakan yaitu 0,92. Begitupula dengan pengukuan densitas dari Oleum sesami, dimana densitas yang diperoleh yaitu 0,90 sedangkan range literatur yang digunakan yaitu 0,91 - 0,92. Pada pengukuran densitas Oleum Eucalyptus
hasil yang diperoleh sesuai dengan range yang tertera pada literatur yaitu 0,88-0,92. Pada pengukuran densitas metil salisilat dan oleum ricini juga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur yang digunakan dimana densitas yang tertera di literatur untuk sampel metil salisilat dan oleum ricini bertuut turut adalah 0,55 dan 1,18. Untuk pengukuran densitas dari Oleum ricini dan Propilen glicol hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur yang digunakan yaitu densitas dari oleum ricini dan propilen glikol berturut turut adalah 0,95 dan 1,03. Adanya perbedaan yang diperoleh dari sampel yang diujikan dengan literature yang digunakan dapat dipengaruhi pleh beberapa hal, seperti terdapatnya gelombang udara di dalam piknometer atau terdapat sampel yang melekat pada piknometer yang digunakan sehingga mempengaruhi hasil pengukuran.
Untuk pengukuran densitas bahan obat menggunakan hidrometer juga dilakkan secara triplo, pengukuran menggunakan hidrometer dilakukan dengan membaca skala dimana hidrometer brada dalam posisi melayang dalam gelas ukur berisikan sampel cair yang akan ditentukan densitasnya. Pada penentuan densitas dari gliserin, hasil yang diperoleh memenuhi literatur yang digunakan, yaitu densitas sebesar 1,254 dengan literatur 1,26. Begitupula dengan pengukuran densitas sampel Oleum lecoris dimana hasil yang diperoleh 0,891 dengan literatur yang digunakan yaitu 0,92. Untuk pengukuan densitas dari Oleum sesami, dimana densitas yang diperoleh yaitu 0,94 dan hasil ini memenuhi densitas oleum sesami pada literatur yang digunakan. Pada pengukuran densitas Oleum
Eucalyptus hasil yang diperoleh yaitu 0,920 dan hasil ini sesuai dengan range yang tertera pada literatur yaitu 0,88-0,92. Pada pengukuran densitas isopropil miristat dan metil salisilat juga hasil yang diperoleh (0,84 dan 1,17) tidak sesuai dengan literatur yang digunakan dimana densitas yang tertera di literatur untuk sampel isopropil miristat dan metil salisilat dan berturut turut adalah 0,55 dan 1,18. Untuk pengukuran densitas dari Oleum ricini dan Propilen glicol hasil yang diperoleh berturut turut yaitu 0,968 dan 1,033 dan hasil ini sesuai dengan literatur yang digunakan yaitu densitas dari oleum ricini dan propilen glikol berturut turut adalah 0,95 dan 1,03. Perbedaan hasil yang diperleh engan literature yang diunakan dapat disebabkan oleh beberapa factor kesalahan, seperti pengamatan yang kurang teliti serta posisi dari hydrometer yang tidak lurus sehingga mempengaruhi skala yang terbaca.
Dilakukan pula pengukran bobot jenis dari sampel yang sebelumnya telah diukur densitasnya. adapun hasil pengukuran bobot jenis yang diperoleh yaitu bobot jenis gliserin yaitu 1,24 (ref : 1,249), parafin cair dengan bobot jenis 0,867 (ref : 0,874), Oleum eucalyptus dengan bobot jenis 0,95 (ref : 0,906-0,925), bobot jenis oleum ricini yaitu 0,975 (ref : 0,957-0,961) dan bobot jenis propilen glycol 1,041 (ref : 1,048). Bobot jenis yang diperoleh untuk sampel gliserin, parafin cair, oleum eucalyptus, oleum ricini, dan propilen glycol telah sesuai dengan literatur yang digunakan, sedangkan untuk pengukuran bobot jenis oleum iecoris yang diperoleh yaitu 0,938 (ref : 0,918-0,927), isopropil miristat 0,95
(0,846-0,854), dan metil salisilat 1,86 (ref : 1,180). hasil pengukuran untuk sampel oleumiecoris, isopropil miristat, dan metil salisilat tidak memenuhi literatur yang digunakan, dimana hal ini dapat di pengaruhi oleh beberapa hal seperti pengukuran densitas yang sebelumya dilakukan tidak memenuhi literatur yang digunakan.
BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan dapat disimpulkan dapat disimpulkan bahwa pada pengukuran titik lebur dan jarak lebur dengan metode pipa kapiler untuk sampel ketoprofen, ibuprofen, paracetamol, dan piracetam sesuai dengan literatur yang digunakan. Sedangkan hasil yang diperoleh untuk sampel guafenisin, atropin sulfat, dekstromethorphan, resorsinol, dan asam askorbat tidak memenuhi literatur yang digunakan.
Untuk pengukuran densitas dengan piknometer, hasil pengukuran dari sampel Gliserin, Oleum Iecoris, Oleum Eucalyptus, Oleum Ricini, dan Propilen glycol telah sesuai dengan literatur yang digunakan, sedangkan untk hasil pengukuran dari paraffin cair, oleum sesami, isopropil miristat, dan metil salisilat tidak sesuai dengan literatur yang digunakan.
Untuk pengukuran densitas menggunakan hydrometer hasil pengukuran untuk gliserin, Oleum lecoris, Oleum sesami, Oleum eucaliptus, Oleum ricini, dan propilen glicol telah sesuai dengan literatur yang digunakan, sedangkan untuk pengukuran isopropil miristat dan metil salisilat hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur yang digunakan.
Untuk penentuan bobot jenis, hasil yang diperoleh untuk gliserin, paraffin cair, oleumeucaliptus, oleum ricini, dan propilen gllycol telah sesuai dengan lteratur yang digunakan, sedangkan untuk sampel oleum iecoris, isopropil miristat, dan metil salisilat tidak sesuai dengan literatur yang digunakan.
Adapun terbedaan hasil yang diperoleh dengan literatur yang digunakan dipengaruhi oleh beberapa faktor kesalahan yang telah dijelaskan sebelumya.
V.2 Saran
Saran untuk percobaan sifat fisika kimia bahan obat selanjutnya adalah agar alat praktikum lebih dilengkapi sehingga menunjang praktikum berjalan maksimal serta ketelitian dan kebersihan saat
praktikum lebih dijaga sehingga dapat mengurangi factor kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil pengamatan.