• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2. Perhitungan Economic Value Added

EVA yang pertama kali digagas oleh Stern and Steward memiliki persamaan sebagai berikut:

EVA = Operating Profits – (Cost of capital x Capital)

Selain persamaan diatas ada beberapa persamaan yang dapat menghitung nilai EVA suatu perusahaan. Adapun persamaan tersebut hanya dibedakan oleh bentuk

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. penulisanannya, namun apabila digunakan dalam suatu perusahaan yang sama akan menghasilakan nilai yang sama.

Menurut Sjarief dan Wirjolukito (2003:46), EVA dirumuskan sebagai berikut: EVA = Net Operating After Tax – Capital Charges

= Net Operating After Tax – (Average Cost of Capital x Total Capital) Capital Charges merupakan perhitungan charges (berbentuk bunga) dan biaya- biaya yang harus dibayarkan kepada pemegang saham yang selama ini tidak tercermin dalam laporan akuntansi.

Selain itu ada lagi persamaan lain menurut Irmani dan Febrian (2005:4) EVA = NOPAT – (WACC x Total Assets)

Menurut Young and O’Byrne (2001:31) sebagai alat pengukur kinerja keuangan EVA dapat dirumuskan sebagai berikut:

Penjualan Bersih (Biaya Operasi)

Laba Operasi (pendapatan sebelum bung dan pajak, EBIT) (Pajak)

Laba opersi bersih sesudah pajak

(Biaya Modal (modal yang diinvestasikan x biaya modal)) EVA

Dari ketiga persamaan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam perhitungan EVA terdapat tiga komponen, NOPAT (Net Operating After Tax), WACC (Weighted Average Cost of Capital), dan Total Assets atau Total Capital.

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. a. Net Operating After Tax (NOPAT)

Defenisi NOPAT menurut Karnadi (Sjarief) adalah hasil operasi perusahaan yang diperoleh dari usaha normal perusahaan. Secara singkat NOPAT dapat diperoleh dengan rumus EBIT (1 – T) atau dinyatakan dengan penjumlahan berikut, yaitu EAT ditambah dengan bunga (1 – T) ditambah dengan kerugian atau minus keuntungan yang bukan dari operasi normal perusahaan dan ditambah dengan cadangan pajak yang ditangguhkan.

Menurut Young and O’Bryne (2001:39), NOPAT merupakan laba operasi perusahaan, setelah pajak, dan mengukur laba yang diperoleh perusahaan dari operasi berjalan. Young and O’Bryne membuat suatu perhitungan terhadap NOPAT sebagai berikut:

Pendapatan Operasi xxx

Ditambah:

Pendapatan bunga xxx

Pendapatan ekuitas (atau – Kerugian ekuitas) xxx

Pendapatan investasi lainnya xxx

Dikurangi:

Pajak penghasilan xxx

Pembebasan pajak terhadap biaya bunga xxx

Laba operasi setelah pajak (NOPAT) xxx

b. Invested Capital (IC)

Menurut Widjaja (dalam Tobing, 2007:24), modal yang diinvestasikan (investad capital) adalah jumlah seluruh pinjaman perusahaan diluar pinjaman jangka pendek tanpa bunga (non-interest bearing liabilities), seperti utang

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. dagang, biaya yang masih harus dibayar, hutang pajak, uang muka dan sebagainya. Sedangkan Young and O’Bryne (2001:39) menyatakan hal yang sama bahwa modal yang diinvestasikan adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non-interest bearing liabilities), seperti utang dagang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages), dan pajak yang akan jatuh tempo (accrued taxes). Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah ekuitas pemegang saham, seluruh utang jangka pendek dan jangka panjang yang menanggung bunga, utang, dan kewajiban jangka panjang lainnya, seperti persamaan berikut:

Utang jangka pendek xxx

Ditambah:

Utang jangka panjang (termasuk obligasi) xxx

Utang jangka panjang lainnya (pajak yang ditangguhkan dan provisi) xxx

Ekuitas pemegang saham (termasuk bunga minoritas) xxx

Modal yang diinvestasikan xxx

Sedangkan Brigham dan Houston (2001:51) memberi modal yang diinvestasikan dengan total modal operasi yang diberikan investor yaitu jumlah dari utang yang dikenakan bunga, saham preferen, dan ekuitas saham biasa yang digunakan untuk memperoleh aktiva bersih perusahaan, yaitu modal kerja operasi plus aktiva tetap bersih. Menurut Sjarief dan Wirjolukito (2004:48) invested capital merupakan hasil reorganisasi neraca untuk melihat besarnya capital yang diinvestasikan dalam perusahaan oleh kreditor dan pemodal juga untuk melihat

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. seberapa besar capital yang diinvestasi dalam aktivitas operasional dan non- operasional lainnya. Invested capital dapat dihitung dari:

1. Jumlah utang jangka pendek.

2. Bagian pinjaman bank atau sewa guna usaha atau obligasi jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun (current maturity of long term debt). 3. Utang jangka panjang.

4. Kewajiban pajak yang ditangguhkan (deferred taxes liabilities). 5. Kewajiban jangka panjang lainnya.

6. Hak minoritas. 7. Ekuitas. c. Cost of Capital

Menurut Van Horme dan Wachowichz (1998:398), biaya modal merupakan tingkat pengembalian minimum yang diharapkan atas berbagai jenis pendanaan. Terwujudnya kesesuainan antara tingkat pengembalioan yang diharapkan investor dengan yang didapatkannya merupakan sumber utama terjadinya penciptaan nilai perusahaan. Terjadinya peningkatan harga pasar saham perusahaan merupakan wujud dari tercipatanya nilai perusahaan, sehingga yang menyebabkan tidak terjadinya perubahan/penurunan harga pasar saham biasa perusahaan dipasar modal adalah karena kecilnya tingkat pengembalian yang diterima investor dari suatu proyek yang diinvestasikannya.

Menurut Utomo (1999:37) Biaya modal atau cost of capital adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan oleh pemegang saham (pemilik) perusahaan dalam investasinya. Untuk praktisi bidang keuangan, istilah cost of capital ini digunakan:

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009.

1. Sebagai tarif diskonto (discount rate) untuk membawa arus kas masa mendatang suatu project ke nilai sekarang (present value)

2. Sebagai tarif minimum yang diinginkan untuk menerima project baru

3. Sebagai biaya modal (capital charge) dalam perhitungan economic value added

4. Sebagai bandingan (benchmark) untuk menaksir tarif biaya pada modal yang digunakan

Cost of capital sangat dipengaruhi oleh hubungan antara risiko (risk) dan tingkat pengembalian (return), dimana semakin besar risiko yang ditanggung oleh investor semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang dikehendaki sebelum nilai tambah dapat diciptakan dan semakin tinggi biaya modal yang timbul.

Sedangkan menurut Young and O’Bryne (2001:148) menyatakan biaya modal untuk investasi maupun dalam suatu proyek, sebuah devisi bisnis, atau suatu perusahaan keseluruhan adalah tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana, jika proyek itu diinvestasikan di proyek lainnya, dalam suatu proyek, aktiva, atau perusahaan dengan seriko yang sebanding. Dengan kata lain biaya modal adalah suatu biaya kesempatan. Biaya modal untuk perusahan A adalah mamfaat yang dilewatkan dengan tidak menginvestasikan pada kesempatan lain dari resiko yang serupa karena menginvestasikan pada proyek A dengan harapan investasi tersebut memberikan hasil yang lebih tinggi dari yang dapat diharapkan jika menginvestasikan pada alternative terbaik berikutnya. Sehingga ada dua hal yang dipelajari mengenai biaya modal yaitu:

1. Biaya modal berdasarkan pengembalian yang diharapkan, bukan pada pengembalian historis.

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009.

2. Biaya modal adalah biaya kesempatan yang mencerminkan pengembalian yang diharapkan investor dari investasi lain dengan risiko yang serupa. Menurut Brigham dan Houston (2001:427) dalam menghitung biaya modal terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi yaitu:

1. Faktor yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. a. Tingkat suku bunga

b. Tarif pajak

2. Faktor yang dapat dikendalikan perusahaan a. Kebijakan struktur modal

b. Kebijakan dividen c. Kebijakan investasi

Berikut ini perhitungan biaya dari setiap komponen modal yang dapat digunakan oleh perusahaan:

1. Biaya hutang (Cost of debt)

Utang merupakan salah satu dari komponen modal. Beban yang dibayar perusahaan atas utangnya berupa bunga. Biaya hutang dihitung dengan persamaan dibawah ini:

Kdt = Kd(1 – T)

Ki merupakan biaya utang setalah pajak, Kd merupakan biaya utang (sebelum pajak). Alasan penggunaan biaya hutang setelah pajak adalah karena, nilai saham perusahaan, yang ingin kita maksimumkan, bergantung pada arus kas setelah pajak. Karena bunga merupakan beban yang dapat dikurangkan , maka bunga menghasilkan penghematan pajak yang mengurangi biaya utang bersih, yang membuat biaya utang setelah pajak lebih kecil daripada biaya utang sebelum

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. pajak. Disisi lain hutang memiliki kekuatan hukum, apabila terjadi kebangkrutan pada perusahaan peminjam maka hasil penjualan asset-aset perusahaan lebih diutamakan untuk membayar hutang.

Menurut Van Horme dan Warchowicz (dalam Sjarief dan Wirjolukito, 2004:47), “cost of debt is the required rate of return on investment of the lenders of the company.” Pinjaman disini dapat berupa pinjaman jangka pendek dan jangka panjang, dan juga meliputi kewajiban lancar (current leabilities) serta biaya-biaya yang masih harus dibebankan (accrued expense). Adapun rumus cost of debt adalah interest (1 - tax).

2. Biaya ekuitas (Cost of equity)

Menurut Young and O’Byrne (2001:150) “biaya ekuitas adalah pengembalian yang diminta investor untuk membuat investasi ekuitas dalam perusahaan” Kebutuhan pengembalian biaya ini tidak dapat diamati secara langsung, seperti biaya utang yang terdapat syarat-syarat pembayaran kembali yaitu tingkat bunga. Sedangkan menurut Sjarief dan Wirjolikito (2004:47), cost of equity adalah biaya yang dibayarkan dalam menarik investor untuk menamkan uangnya dalam saham perusahaan dan mempertahankan investor tersebut. Bila perusahaan tidak mampu menyediakan cost of equity yang layak, maka investor akan melepas investasinya dan beralih keperusahaan lain dan hal ini menyulitkan perusahaan dalam mengumpulkan modal untuk keperluan operasi.

Perhitungan biaya ekuitas dapat dilakukan dengan pendekatan CAMP. CAMP merupakan singkatan dari Capital Asset Pricing Model. Metode CAMP pertama kali dikembangkan oleh Profesor William Sharpe. Menurut Van Horme dan Wachowicz (1998:107), CAMP menggambarkan hubungan antara resiko dan

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. pengembalian yang diharapkan (dibutuhkan). Dalam model ini, pengembalian surat berharga yang diharapkan (dibutuhkan) adalah tingkat bebas resiko ditambah premium yamg didasarkan pada resiko sistematis surat berharga. Persamaan untuk menghitung nilai CAMP adalah:

Ke = E(R) = Rf + Beta [E(Rm) – Rf]

E(R)/Ke merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan atas investasi terhadap aktiva beresiko. Nilai E(R)/Ke merupakan nilai pengembalian minimum yang diharapkan oleh invetor. Dari sisi perusahaan ini merupakan suatu biaya. Rf adalah tingkat pengembalian atas aktiva bebas resiko. Instrument yang tepat digunakan untuk mengestimasi nilai Rf tingkat suku bunga SBI bulanan atau triwulan yang dirata-ratakan selama satu tahun. Beta adalah pengukuran dari resiko. E(Rm) adalah tingkat pengembalian pasar, dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini:

E(Rm) = 1 1 − − − t t t IHSG IHSG IHSG Keterangan:

IHSGt = Indeks Harga Saham Gabungan periode t IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan periode t-1

Pada pendekatan CAMP hal yang tersulit dilakukan adalah menghitung nilai Beta. Beta merupakan kecenderungan saham untuk bergerak naik atau turundalam pasar. Menurut defenisinya saham yang mempunyai nilai Beta sebesar 1,0 mengindikasikan bahwa secara umum jika pasar bergerak keatas 10%, maka saham juga akan naik sebesar 10%, sementara jika pasar turun 10%, maka saham juga akan turun sebesar 10%. Portfolio saham dengan b = 1,0 akan bergerak naik

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. dan turun sesuai dengan rata-rata pasar, dan akan memiliki resiko yang sama dengan rata-rata pasar. Jika b = 0.5, maka perubahan saham hanya separuh dari perubahan pasar, saham itu akan naik dan turun hanya separuh dari perubahan pasar. Dan saham seperti ini akan memiliki setengah resiko portfolio dengan b = 1. Disamping itu, jika b = 2,0 maka perubahan saham akan dua kali lipat dari perubahan rata-rata saham. Nilai portfolio seperti itu dapat menjadi dua kali lipat dalam jangka pendek. Jika anda mengantongi portfolio seperti itu, maka anda yang sebelumya milyoner dapat menjadi pakir miskin dengan cepat.

Menurut Young and O’Byerne (2001:154), untuk mencari nilai beta suatu perusahaan, data yang dibutuhkan adalah data pengembalian pemegang saham suatu perusahaan yang hendak diteliti dan data pengembalian pasar saham selama 1 tahun atau 12 bulan. Misalnya jika kita ingin meneliti nilai beta PT X pada tahun Y, PT X listing di Bursa Efek Indonesia. Maka untuk memcari beta PT X data yang kita butuhkan adalah data pengembalian saham PT X selama 12 bulan dan data pengembalian pasar saham (IHSG) selama 12 bulan.

Kemudian dari data-data tersebut kemudian dijabarkan kedalam sebuah grafik yang didalamnya terdapat 12 titik dimana pengembalian perusahaan pada sumbu Y dan pengembalian pasar pada sumbu X. dengan melakukan regresi pengembalian perusahaan pada pengembalian pasar akan menghasilkan suatu garis trend. Regresi ini mencerminkan persamaan Y = a + bX dimana Y adalah variabel yang tergantung (perusahaan) dan X adalah variabel tidak tergantung (pasar), a adalah perpotongan Y dan b adalah koefisien kemiringan yang menetapkan hubungan antara variabel X dan Y. Untuk selanjutnya nilai a dan b

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. dikonversikan menjadi alpa dan beta, sehingga nilai b menunjukkan besarnya beta. Sehingga nilai beta dapat dicari dengan persamaan dibawah ini:

Beta =

( )

2 2 x x n y x xy n ∑ − ∑ ∑ ∑ − ∑ Keterangan: n = jumlah observasi

x = tingkat pengembalian pasar (Rm) y = tingkat keuntungan individu saham (Ri)

Untuk Ri dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dibawah ini:

Ri = 1 1 − − + − t t t t Pi Di Pi Pi Keterangan:

Pit = Harga saham penutupan pada periode t Ptt-1 = Harga penutupan saham pada periode t-1 Dit = Deviden yang dibayarkan pada periode t

Menurut Young and O’Byerne (2001:151), pengembalian yang diharapkan atas aktiva beresiko sama dengan pengembalian aktiva tanpa resiko ditambah suatu premi resiko. Premi resiko itu sama dengan suatu premi resiko pasar (market risk premium), yang mencerminkan harga yang dibayar oleh pasar saham untuk seluruh investor ekuitas, disesuaikan untuk beta, suatu faktor resiko. Young and O’Byerne mengasumsikan nilai premi resiko sebesar 5% untuk setiap perusahaan yang hendak ditelitinya.

Sementara itu, menurut Singgih (2003:3), menghitung cost equity menggunakan berprinsip bahwa tingkat pengembalian suatu investasi beresiko

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. sama dengan tingkat pengembalian investasi bebas resiko (risk free) ditambah suatu risk premium (mengunakan prinsip model CAMP), sehingga:

Cost equity = Risk premium + Risk free

Risk premium mencerminkan resiko yang timbul sebagai akibat perusahaan melakukan investasi dalam ekuitas perusahaan. Semakin beresiko suatu perusahaan maka semakin besar Risk premium-nya. Tabel 2.1 menunjukkan besar risk premium untuk berbagai jenis resiko investasi yang berbeda. (Roztocki, 2000).

Tabel 2.1

Jenis-jenis Risk Premium

Range RP Jenis Resiko Investasi

Kurang dari 6% Resiko sangat rendah, perusahaan berkembang dengan cash flow yang sangat stabil

6% - 12% Resiko rendah, perusahaan berkembang dengan cash flow yang berfluktuasi sedang

12% - 18% Resiko cukup tinggi, perusahaan berkembang dengan cash flow yang berfluktuasi cukup tinggi

Lebih dari 18% Perusahaan dengan tingkat resiko tinggi Sumber: Singgih (2003)

Setelah menghitung biaya komponen individual dari pendanaan perusahaan, selanjutnya adalah menghitung WACC. WACC merupakan Weighted Average Cost Of Capital. Dengan menghitung WACC kita akan mengetahui berapa perbandingan biaya modal sesuai dengan komposisinya pada modal secara keseluruhan. Hal itu dilakukan karena setiap bentuk pembiayaan memiliki resiko yang berbeda-beda.

Menurut Brigham dan Houston (2001:405) Weighted Average Cost Of Capital (WACC) merupakan biaya modal rata-rata tertimbang. WACC merefleksikan biaya

Melky Sedek Hamonangan S. : Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Analisis EVA Dan MVA Antara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, 2009. rata-rata dari berbagai sumber dana jangka panjang yang digunakan, tidak hanya biaya ekuitas perusahaan. WACC juga menggambarkan setiap komponen modal yang digunakan oleh perusahaan, dimana komponen modal tersebut terdiri dari utang, saham preferen, laba ditahan, dan penerbitan saham biasa yang baru. Perhitungan WACC tergantung pada komponen modal yang digunakan perusahaan. Apabila komponen modalnya terdiri dari hutang, saham preferen, dan ekuitas (laba ditahan dan penerbitan saham yang baru), maka perhitungan WACC dilakukan dengan persamaan:

WACC = WdKd(1- T) + We Ke

Wd dan We menunjukkan bobot setiap komposisi modal pada total modal, misalnya untuk hutang, maka bobotnya adalah hutang dibagi total modal.Kd merupakan biaya hutang (Cost of debt). Ke merupakan biaya ekuitas (Cost of equity). Perhitungan WACC tergantung dari komponen modal yang dugunakan perusahaan. Ada perusahaan yang modalnya hanya terdiri dari utang saja atau utang dan ekuitas, atau yang lainnya. Menurut Sjarief dan Warjolukito (2004:46), WACC adalah tingkat return minimum yang dibobot berdasarkan proforsi masing-masing instrument pembiayaan dalam struktur modal perusahaan yang harus dihasilkan perusahaan untuk memenuhi harapan kreditur dan pemodal atau pemegang saham. Pembobotan dilakukan karena setiap bentuk pembiayaan yang berbeda mengandung resiko yang berbeda bagi investor, karena itu, tiap-tiap bentuk pembiayaan yang dipilih perusahaan mengandung cost yang berbeda.

Dokumen terkait