• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Perhitungan Jumlah Penumpang Puncak Pada Tahun

Banyaknya jumlah penumpang yang dilayani sebuah terminal merupakan hal yang penting untuk menjadi acuan perencanaan kebutuhan suatu fasilitas terminal. Penambahan jumlah penumpang sendiri akan dihitung berdasarkan peramalan pada tahun yang akan datang dengan menggunakan data-data jumlah penumpang tahun sebelumnya dan kapasitas maksimum runway eksisting dimana nantinya akan ditambahkan dengan beberapa kasus tertentu. Hasil dari ramalan jumlah penumpang pada tahun yang akan datang nantinya digunakan untuk mencari jumlah penumpang pada saat jam puncak. Dalam hal ini perhitungan jumlah penumpang pada saat jam puncak menggunakan tabel hubungan tipe penumpang waktu puncak dari FAA.

4.3.1 Permalan Penumpang (Forecasting)

Peramalan dilakukan untuk mengetahui jumlah penumpang dan juga untuk memperkirakan kebutuhan pengembangan fasilitas terminal pada tahun mendatang. Dalam hal ini metode peramalan yang digunakan adalah metode Regresi Linier yang dapat memodelkan hubungan antara 2 peubah atau lebih.

Dari data jumlah penumpang yang telah didapat dilakukan analisa untuk mendapatkan persamaan Y yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung peramalan ditahun berikutnya.

Dengan menggunakan program bantu excel maka didapat hasil persamaan seperti dibawah ini :

Gambar 4. 5 Pertumbuhan Penumpang Setiap Tahun Selanjutnya dihitung dengan menggunakan persamaan Y diatas maka didapat hasil jumlah penumpang tahun rencana.

Tabel 4. 13 Hasil Peramalan Penumpang Tahun 2021 Forecast Penumpang Tahun 2021

Tahun

Ke- Tahun Jumlah Penumpang

1 2011 1,519,624

2 2012 1,836,051

3 2013 2,167,619

4 2014 2,417,875

5 2015 2,552,399

6 2016 3,421,584

7 2017 3,589,812

8 2018 3,594,688

9 2019 2,875,751

10 2020 3,424,750

11 2021 3,667,225

y = 242475x + 1E+06 R² = 0.7576

1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Forecast Penumpang

4.3.2 Perhitungan Kapasitas Runway Eksisting

Perhitungan kapasitas runway dilakukan dengan data yang diperoleh dari jam sibuk pada tahun eksisting , hal ini guna mendapatkan kapasitas runway maksimum pada tahun eksisting agar dapat jumlah penumpang saat jam puncak. Jumlah penumpang sendiri didapatkan dari jumlah seluruh kapasitas pesawat kedatangan maupun keberangkatan. Berikut komposisi pesawat yang beroperasi pada saat jam sibuk.

Tabel 4. 14 Komposisi pesawat yang beroperasi pada saat jam sibuk tahun 2019

Jenis

Pesawat Arrival Departure Total

Approach

Hal yang pertama kali dilakukan untuk perhitungan kapasitas runway adalah mengetahui jarak pemisahan minimum rata-rata dua pesawat yang tiba pada jalur pendekat (approach) ij) berdasarkan tabel 4.15. dari ICAO (2001).

Tabel 4. 15 Jalur Pendekatan antar Pesawat

(Sumber : ICAO, 2001)

Pesawat yang beroperasi di bandara Lombok International Airport, memiliki tipe Medium dan Heavy, sesuai dengan kategori pesawat dalam doc. 4444 Air Traffic Management dari ICAO (2001). maka, jarak pemisahan minimum rata-rata dua pesawat yang tiba pada jalur pendekat (approach) ij) adalah 5 nm. Selanjutnya, adalah mengidentifikasi ILS chart pada runway Lombok International Airport guna mendapat data tentang panjang jalur pendekat (Final Approach Path) (ɣ) sebesar 5,3 nm. yang akan digunakan untuk perhitungan kapasitas runway dengan metode matematis.

Preceding Aircraft Succeeding Aircraft

HEAVY 7,4 km (4,0 NM) MEDIUM 9,3 km (5,0 NM) LIGHT 11,1 km (6,0 NM)

MEDIUM LIGHT 9,3 km (5,0 NM)

Aircraft Category Wake turbulence radar separation

minima HEAVY

Gambar 4. 6 ILS Chart di Runway Lombok International Airport (Sumber : liftflightacademy, 2019)

1. Kondisi Kedatangan Saja (Arrivals Only)

Kondisi ini merupakan menganggap bahwa runway hanya menerima kedatangan pada jam sibuk. Pada tabel 4.16 merupakan komposisi pesawat yang datang ke bandara SSK-II pada jam sibuk

Tabel 4. 16 Kedatangan pesawat pada jam sibuk tahun 2019

Tabel 4. 17 Probabilitas pada Operasi Kedatangan Saja dari Kecepatan Approach

Leading Trailing Frekuensi Probabilitas

131 131 0.000

JT-646 12:10:00 PM SUB B739 144 V E

QG-670 12:15:00 PM SUB A320 135 V B

QZ-308 12:25:00 PM KUL A320 135 V B

IN-653 12:30:00 PM BMU B735 140 V C

ID-6950 12:35:00 PM CGK A320 135 V B

GA-7035 12:40:00 PM SWQ ATR72 131 V A

JT-656 12:45:00 PM CGK B739 144 V E

GA-450 12:55:00 PM DPS B738 142 V D

Arrival Only

59

a. Keadaan Bebas Kesalahan

Pesawat yang akan dilayani runway adalah pesawat yang akan datang dengan bebas kesalahan.

Diketahui : Tabel 4. 18 Probabilitas pada Operasi Kedatangan

Saja dari Kecepatan Approach (Lanjutan)

Untuk VC(i) = 140 Knot dan VB(j)= 135 Knot - Keadaan Meregang (The Opening Case) (Vi ≥ Vj)

Untuk VE(i) = 144 Knot dan VB(j)= 135 Knot

TBA = 5

Apabila sudah didapatkan hasil dari Keadaan Merapat, Keadaan Meregang, dan Keadaan sama besar dari keadaan Bebas Kesalahan (Error Free Case), maka akan dihasilkan sebagai Matriks bebas kelasahan [Mij] seperti tabel 4.20.

Tabel 4.20 Matriks Bebas Kesalahan [Mij]

Untuk Matriks Presentase Kombinasi [Pij] pada operasi kedatangan saja, dapat dilihat pada matriks seperti pada tabel 4.21.

Tabel 4.21 Matriks Presentase Kombinasi [Pij]

Setelah mendapat Matriks bebas kesalahan [Mij] dan Matriks Presentase Kombinasi [Pij], selanjutnya adalah perhitungan nilai pada waktu layanan E [∆Tij]. E [∆Tij] = ∑ [Pij] [Mij]

A (131) B (135) C (140) D (142) E (144)

A (131) 0 141.7201 0 0 0

B (135) 0 133.3333 138.381 0 142.1667

C (140) 0 128.5714 0 0 0

Tabel 4. 22 Matriks Nilai Waktu Pelayanan E [∆Tij].

E [∆Tij] = 133,187 detik

Maka, kapasitas runway untuk keadaan bebas kesalahan yang melayani kedatangan saja sebesar :

𝐶 = 1 𝐸 [𝑇𝑖𝑗]

𝐶 = 1

133,187= 27,029 = 27 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖

⁄𝑗𝑎𝑚 b. Keadaan Kesalahan Posisi

Mengacu pada Horonjeff (2011) Dengan anggapan bahwa ada kesalahan posisi (σ0) pada jadwal penerbangan sebesar 20 detik, yang didistribusikan secara normal dan probabilitas separasi minimum pesawat untuk operasi kedatangan yang diperbolehkan adalah 10%. Maka, kapasitas runway dapat dihitung dengan nilai qv yang dapat dicari dari tabel statistik adalah 1,65.

- Keadaan Merapat (The Closing Case) (Vi ≤ Vj) Perhitungan untuk keadaan merapat ini menggunakan persamaan 3.6, sehingga dihasilkan perhitungan sebagai berikut :

Bij = 𝑞𝑣 𝑥 𝜎0 Bij = 1,65 x 20 detik Bij = 33 detik

- Keadaan Meregang (The Opening Case) (Vi ≥ Vj)

A (131) B (135) C (140) D (142) E (144)

A (131) 0 20.24573 0 0 0

B (135) 0 19.04762 19.76871 0 20.30952

C (140) 0 18.36735 0 0 0

Diketahui : δij = 5 nm ɣ = 5,3 nm

VA = 131 Knot (ATR 72-600) VB = 135 Knot (A320-200) VC = 140 Knot (B737-500) VD = 142 Knot (B737-800) VE = 144 Knot (B737-900)

Bij = σ0 qv – δij (𝑉𝑗1𝑉𝑖1)

Untuk VE(i) = 144 Knot dan VB(j)= 135 Knot BEB = 20 x 1,65 – 5 (13511441 )

BEB = 32,841 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Untuk VB(i) = 135 Knot dan VC(j)= 140 Knot BBC = 20 x 1,65 – 5 ( 1

1401

135) BBC = 32,850 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Untuk VC(i) = 140 Knot dan VB(j)= 135 Knot BCB = 20 x 1,65 – 5 (13511401 )

BCB = 32,842 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Untuk VB(i) = 135 Knot dan VA(j)= 131 Knot BBA = 20 x 1,65 – 5 ( 1

1311

135) BBA = 32,837 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Untuk VA(i) = 131 Knot dan VE(j)= 144 Knot BAE = 20 x 1,65 – 5 ( 1

1441

131)

BAE = 32,856 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Pada kondisi ini, perhitungan menggunakan persamaan 3.6, dan didapatkan hasil yang sama yakni 33 detik.

TAA = 33 Detik TBB = 33 Detik TCC = 33 Detik TDD = 33 Detik

Apabila sudah didapatkan hasil dari Keadaan Merapat, Keadaan Meregang, dan Keadaan sama besar dari keadaan Kesalahan Posisi maka akan dihasilkan sebagai Matriks Nilai Sanggah [Bij] seperti tabel 4.23.

Tabel 4. 23 Matriks Nilai Sanggah [Bij]

Dengan menggabungkan Matriks Bebas Kesalahan [Mij] dan Matriks Bebas Kesalahan [Bij], maka dihasilkan jarak waktu antar kedatangan sebenarnya di ambang runway, Maka Matriks [Mij] + [Bij], dapat dilihat pada matriks seperti pada tabel 4.24.

A (131) B (135) C (140) D (142) E (144)

Tabel 4. 24 Matriks [Mij] + [Bij]

Setelah mendapat Matriks [Mij] + [Bij] dan Matriks Presentase Kombinasi [Pij], selanjutnya adalah penggabungan dengan prosentase campuran pesawat [Pij], maka waktu antar kedatangan rata-rata adalah

E [∆Tij] = ∑ [Pij] ( [Mij]+ [Bij] )

Tabel 4. 25 Matriks Nilai Waktu Pelayanan E [∆Tij].

E [∆Tij] = 166,097 detik

Maka, kapasitas runway untuk keadaan kesalahan posisi yang melayani kedatangan saja sebesar :

𝐶 = 1

B (135) 0 166.3333 171.2225 0 175.0072

C (140) 0 161.5714 0 0 0

B (135) 0 23.7619 24.46036 0 25.00103

C (140) 0 23.08163 0 0 0

2. Kondisi Keberangkatan Saja (Departures Only)

Dari ICAO (2001) pada Doc. 4444 Procedure for Air Navigation Service Air Traffic Management Chapter 5, Section 5.6 “Minimum Separation Betweet Departing Aircraft” diketahui waktu pemisahan antara keberangkatan pesawat (td) adalah 1 menit saat keadaan merapat, atau 2 menit saat kecepatan pesawat didepan lebih besar dari kecepatan pesawat dibelakang (keadaan meregang). Jarak pisah minimum antar keberangkatan dapat dilihat pada tabel 4.26

Tabel 4. 26 Jarak Pisah Minimum Antar Keberangkatan [td]

Berikut merupakan jadwal keberangkatan pesawat di Lombok International Airport pada jam sibuk tahun 2019 yang akan disajikan pada tabel 4.27

Tabel 4. 27 Keberangkatan pesawat pada jam sibuk tahun 2019

Approach V Type

JT-177 12:00:00 PM SUB B739 144 V E

QG-671 12:05:00 PM SUB A320 135 V B

QZ-309 12:20:00 PM KUL A320 135 V B

IN-652 12:30:00 PM BMU B735 140 V C

ID-7334 12:45:00 PM HLP A320 135 V B

GA-7032 12:50:00 PM BMU ATR72 131 V A

Arrival Only

Tabel 4. 28 Probabilitas pada Operasi Keberangkatan Saja dari Kecepatan Approach

Untuk prosentase kombinasi [Pij] yang terjadi untuk operasi keberangkatan, data didapatkan dari tabel 4.28. Matriks prosentase kombinasi untuk keberangkatan saja dapat dilihat dalam matriks berikut ini :

Tabel 4. 29 Matriks [Pij] untuk operasi keberangkatan saja

Leading Trailing Frekuensi Probabilitas

Setelah mengetahui jarak pisah minimum antar operasi keberangkatan [td], dan mengentahui matriks prosentase keberangkatan saja [Pij], langkah selanjutnya adalah menghitung nilai pada waktu pelayanan E[td] dengan persamaan berikut ini E[td] = ∑[Pij] [td], yang disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4. 30 Matriks Nilai waktu pelayanan untuk keberangkatan saja

E[td] = 51,48 Detik

Maka, kapasitas runway untuk operasi keberangkatan saja sebesar :

3. Kondisi Campuran (Mix Operation)

Langkah terakhir dalam perhitungan kapasitas runway adalah menentukan kemungkinan dilakukannya operasi keberangkatan (departures) diantara dua kedatangan (arrivals). Dalam penggunaan runway, harus mengutamakan pesawat yang akan mendarat. Berikut ini merupakan jenis pesawat yang beroperasi kedatangan & keberangkatan pada hari sibuk tahun 2019 yang akan disajikan pada tabel 4.31.

A (131) B (135) C (142) E (144)

Tabel 4. 31 Komposisi Pesawat pada hari sibuk

Berikut ini merupakan tabel spesifikasi pesawat beserta probabilitas per pesawat yang beroperasi untuk melakukan operasi kedatangan dan keberangkatan pada hari sibuk yang akan disajikan pada tabel 4.32.

Tabel 4. 32 Spesifikasi dan Probabilitas Pesawat di hari sibuk tahun 2019

Waktu pemakaian runway rata-rata E[Ri], merupakan jumlah perkalian dari presentase kategori pesawat dengan waktu pemakaian runway (ROT) untuk tiap katagori pesawat, data yang didapatkan berasal dari tabel 4.30, maka :

E[Ri] = ROT x Probabilitas

E[Ri] = 55 (0,283) + 65 (0,283) + 65 (0,038) + 65 (0,198) + 65 (0,151) + 55 (0,019) + 55 (0,028)

E[Ri] = 61,70 detik

Selanjutnya, adalah mencari waktu yang diharapkan pesawat yang datang untuk menempuh jarak sepanjang

Jenis Pesawat Departure Arrival

Tipe Pesawat ROT (dt) Approach Speed Probablitas

ATR 72-600 55 131 0.283

Airbus 320-200 65 135 0.283

Boeing 737-500 65 140 0.038

Boeing 737-800 65 142 0.198

Boeing 737-900 65 144 0.151

Airbus 319 55 130 0.019

CRJX 55 130 0.028

separasi pesawat (δ) = 5 nm sebelum masuk ke runway,

Sehingga, untuk menghitung kemungkinan suatu operasi keberangkatan (departures) yang dapat dilakukan diantara dua operasi kedatangan (arrivals) menggunakan persamaan 3.11.

E [Tij] ≥ E [Ri] + E[𝑉𝑗δ]+ E [Bij] + E[td] (nd – 1) E [Tij] ≥ 61,70 + 131,988 + 33 + 51,48 (nd – 1) E [Tij] ≥ 226,686 + 51,48 (nd – 1) detik

Untuk satu keberangkatan diantara dua kedatangan, akan didapatkan waktu antar kedatangan sebesar 226,686

detik. Untuk dua keberangkatan diantara dua kedatangan, akan didapatkan waktu antar kedatangan sebesar 278,166 detik. Oleh karena itu, jika waktu antar keberangkatan dapat dilakukan disembarang waktu jika waktu antar kedatangan sebesar 226,686 detik dan 278,166 detik. Dua kali keberangkatan dapat dilakukan di sembarang waktu jika waktu antar kedatangan sebesar 278,166 detik dan 329,646 detik, dan seterusnya.

Dari matriks antar waktu kedatangan dapat diketahui bahwa kemungkinan satu operasi keberangkatan dapat dilakukan diantara dua kedatangan terjadi sebesar 57% (Pnd), dan tidak bisa dilakukan keberangkatan lebih dari satu kali diantara kedatangan. kapasitas runway menurut kondisi operasi tersebut dapat dihitung dengan persamaan 3.16

Karena nilai waktu antar kedatangan yang ada pada matriks [Mij] paling tidak sebesar 226,686detik, maka nilai yang lebih kecil dari 226,686 detik akan diganti agar satu keberangkatan dapat dilakukan diantara dua kedatangan.

Tabel 4. 33 Matriks [Mij] untuk operasi campuran tahun 2019

A (131) B (135) C (140) D (142) E (144) A (131) 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 B (135) 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 C (140) 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 D (142) 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 E (144) 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859 226.6859

Leading (i)

Trailing (j)

Tabel 4. 34 Matriks [Pij] untuk kedatangan

E[Tij] = [Mij] . [Pij]

Tabel 4. 35 Matriks E[Tij] untuk operasi campuran

∑ E[Tij] = 226,686 detik

Maka, kapasitas runway untuk operasi campuran untuk tahun 2019 adalah sebesar

𝐶 = 1 𝐸 [𝑇𝑖𝑗]

𝐶 = 1

226,686𝑥 3600 = 16 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖

⁄𝑗𝑎𝑚

Hasil Perhitungan Kapasitas Runway eksisting, adalah akan disajikan dalam tabel 4.36 berikut :

A (131) B (135) C (140) D (142) E (144)

A (131) 0 0.142857 0 0 0

B (135) 0 0.142857 0.142857 0 0.142857

C (140) 0 0.142857 0 0 0

B (135) 0 32.3837 32.3837 0 32.3837

C (140) 0 32.3837 0 0 0

Tabel 4. 36 Hasil Kapasitas Runway Metode Matematis Tahun 2019

Dikarenakan pada kondisi eksisting Lombok International Airport, runway mengalami operasi kedatangan dan keberangkatan, maka kesimpulan yang dapat digunakan untuk perhitungan penumpang puncak hanya pada mix operation.

4.3.3 Perhitungan Jumlah Penumpang Saat Event Berlangsung

Peningkatan penumpang puncak pada saat event menjadi hal yang penting untuk menjadi acuan perencanaan kebutuhan suatu fasilitas terminal. Dari perhitungan peramalan pada subbab sebelumnya maka didapat jumlah penumpang rencana yang nantinya akan digunakan untuk mencari jumlah penumpang padawaktu puncak. Kebutuhan fasilitas terminal dihitung berdasarkan jumlah penumpang tahunan pada waktu puncak. Dalam hal ini perhitungan jumlah penumpang event berlangsung dilakukan dengan tiga simulasi dan kemudian hasil dari simulasi tersebut akan perhitungan jumlah penumpang pada saat jam puncak menggunakan tabel hubungan tipe penumpang waktu puncak dari FAA. Berikut perhitungan penumpang puncak saat event berlangsung.

4.3.3.1 Perhitungan Simulasi Pertama

Simulasi pertama dilakukan berdasarkan optimisme dari PT. Angkasa Pura dimana peningkatan penumpang sebesar 100% saat event berlangsung dan berikut perhitungan penumpang puncak berdasarkan simulasi pertama.

Keadaan Bebas Kesalahan = 27 Operasi / Jam Keadaan Kesalahan Posisi = 21 Operasi / Jam

= 69 Operasi / Jam

Jumlah Penumpang Tahun 2021 = Hasil Ramalan 2021 x 200%

= 3.667.225 x 200%

= 7.334.450

Dari hasil berikut kita hubungkan dengan tabel hubungan tipe penumpang waktu puncak dari FAA

Tabel 4. 37 Tabel Hubungan Tipe Penumpang Waktu Puncak Berdasarkan Jumlah Penumpang Tahunan

Total Annual Passengers TPHP as a percentage of annual flows 30 million and over 0,035 20.000.000 to 29.999.999 0,04 10.000.000 to 19.999.999 0,045

1.000.000 to 9.999.999 0,05 500.000 to 999.999 0,08 100.000 to 499.999 0,130

Under 100.000 0,200

Dari perhitungan sebelumnya telah didapat jumlah penumpang pada tahun rencana. Jumlah penumpang pada tahun 2021 dipilih untuk mengetahui jumlah penumpang pada waktu puncak, berdasarkan peramalah jumlah penumpang telah diketahui pada tahun 2021 terdapat jumlah penumpang sebesar 7.334.450 penumpang.

Berdasarkan tabel hubungan penumpang waktu puncak diatas, data jumlah penumpang tahun 2021 tersebut akan dikalikan dengan 0,05% untuk jumlah penumpang dan hasilnya sebesar 3.667 penumpang dan dari perhitungan tersebut didapat digunakan perbandingan rasio penumpang kedatangan dan keberangkatan untuk mendapatkan jumlah penumpang kedatangan dan keberangkatan. Adapun perhitungannya sebagai berikut :

Kedatangan = 59% x 3.667 = 2.156 penumpang Keberangkatan = 41% x 3.667 = 1.511 penumpang 4.3.3.2 Perhitungan Simulasi Kedua

Untuk pencarian jumlah penumpang puncak yang kedua, akan digunakan data ramalan penumpang tahun 2021 yang kemudian diasumsikan saat event berlangsung jumlah penumpang bertambah dengan berapa persen dari kapasitas tribun penonton. Prosentase yang dipakai sebesar 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Adapun contoh perhitungan yang ditampilkan.

Jumlah tribun penonton = 150.000 Kursi Peramlan tahun 2021 = 3.667.225 Penumpang

Jumlah penumpang tahun 2021 = Peramalan tahun 2021 + % Kapasitas Tribun Sirkuit

Jumlah penumpang tahun 2021 = 3.667.225 + (10% x 150.000)

Jumlah penumpang tahun 2021 = 3.682.225

Berikut merupakan hasil perhitungan jumlah penumpang tahun 2021 tiap tiap prosentase dengan menggunakan cara diatas, dan hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.38 dan 4.39 berikut.

Tabel 4. 38 Hasil Perhitungan Jumlah Penumpang Tahunan Prosentase Jumlah Penumpang

10% 3.682.225

20% 3.697.225

30% 3.712.225

40% 3.727.225

50% 3.742.225

Dari hasil berikut kita hubungkan dengan tabel hubungan tipe penumpang waktu puncak dari FAA

Tabel 4. 39 Tabel Hubungan Tipe Penumpang Waktu Puncak Berdasarkan Jumlah Penumpang Tahunan

Total Annual Passengers TPHP as a percentage of annual flows 30 million and over 0,035 20.000.000 to 29.999.999 0,04 10.000.000 to 19.999.999 0,045

1.000.000 to 9.999.999 0,05 500.000 to 999.999 0,08 100.000 to 499.999 0,130

Under 100.000 0,200

Dari perhitungan sebelumnya telah didapat jumlah penumpang pada tahun rencana. Jumlah penumpang pada tahun 2021 dipilih untuk mengetahui jumlah penumpang pada waktu puncak, berdasarkan peramalah jumlah penumpang yang ditambahkan dengan prosentase jumlah tribun.

Berdasarkan tabel hubungan penumpang waktu puncak diatas, data jumlah penumpang tahun 2021 tersebut akan dikalikan dengan 0,05% untuk jumlah penumpang dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. 40 Jumlah Penumpang Puncak Prosentase Jumlah Penumpang

Puncak

Dari perhitungan tersebut dapat digunakan perbandingan rasio penumpang kedatangan dan keberangkatan untuk mendapatkan jumlah penumpang kedatangan dan keberangkatan. Adapun perhitungannya sebagai berikut : Kedatangan = 59% x 1.841 = 1.086 penumpang

Keberangkatan = 41% x 1.841 = 755 penumpang

Berikut merupakan hasil perhitungan jumlah penumpang kedatangan dan keberangkatan tahun 2021 tiap tiap prosentase dengan menggunakan cara diatas, dan hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.32 berikut.

Tabel 4. 41 Jumlah Penumpang Kedatangan dan Keberangkatan Tahun 2021

Prosentase Jumlah Penumpang Puncak Kedatangan Keberangkatan

10% 1086 755

20% 1091 758

30% 1095 761

40% 1100 764

50% 1104 767

4.3.3.2 Perhitungan Simulasi Ketiga

Pada subbab sebelumnya didapatkan kapasitas runway sebesar 16 operasi/jam dan pada kondisi eksisting jumlah penerbangan terbesar sebesar 14 operasi/jam. Dengan asumsi pada saat event berlangsung kapasitas runway yang digunakan adalah kapasitas runway maksimum yaitu sebesar 16 operasi/jam, maka akan ditambahkan 2 penerbangan tambahan dan didapatkan jumlah penumpang saat jam puncak adalah sebagai berikut.

Tabel 4. 42 Keberangkatan Pesawat Tahun 2021 Keberangkatan

Time Flight Destination Type Pax

Peak Hour

JT-177 SUB B739 215

QG-671 SUB A320 180

QZ-309 KUL A320 180

IN-652 BMU B735 120

ID-7334 HLP A320 180

GA-7032 BMU ATR72 70

QZ-310 KUL A320 180

JUMLAH 1125 Tabel 4. 43 Kedatangan Pesawat Tahun 2021

Kedatangan

Time Flight Origin Type Pax

Peak Hour

JT-646 SUB B739 215

QG-670 SUB A320 180

QZ-308 KUL A320 180

IN-653 BMU B735 120

ID-6950 CGK A320 180

GA-7035 SWQ ATR72 70

JT-656 CGK B739 215

GA-450 DPS B738 189

QZ-311 KUL A320 180

JUMLAH 1529

4.4 Perhitungan dan Evaluasi Kapasitas Masing-masing

Dokumen terkait