• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perhitungan Kerangka Pendanaan

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... (Halaman 179-0)

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

3.3. KERANGKA PENDANAAN

3.3.2. Perhitungan Kerangka Pendanaan

Dalam perhitungan kerangka pendanaan, Pemerintah melakukan perhitungan rencana belanja periodik yang wajib dan mengikat yang merupakan pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya seperti disajikan pada Tabel 3.15. Komponen belanja wajib mengikat ini terdiri dari belanja operasi yang mencakup belanja pegawai dan lainya serta pengeluaran pembiayaan untuk pembayaran pokok utang dan penyertaan modal.

Tabel III- 17 Proyeksi Pengeluaran Wajib Mengikat Tahun 2019-2023 dan Proyeksi Pengeluaran Wajib Mengikat Tahun 2021-2023

Uraian Belanja Wajib Mengikat Tahun 2019 (Rp)

Tahun 2020 (Rp)

Tahun 2021 (Rp)

Tahun 2022 (Rp)

Tahun 2023 (Rp)

A BELANJA OPERASI 5.729.400.964.884 5.529.265.228.406 8.859.499.554.655 8.355.270.427.628 9.308.280.638.093 1 Belanja Pegawai (Gaji. Tunjangan dan

TTP) 1.964.758.191.991 2.001.875.319.326 1.940.716.624.687 1.940.716.624.687 1.940.716.624.687 2 Belanja Penerimaan Lainnya Pimpinan

& Anggota DPRD serta KDH/WKDH 23.802.600.000 24.513.262.080 59.966.551.103 59.966.551.103 59.966.551.103 3 Bagi Hasil Kepada Kabupaten/Kota 3.087.791.772.893 1.911.308.336.000 2.240.000.000.000 2.607.571.500.000 3.107.500.000.000

4 Operasional Wajib Kantor 0 0 83.922.193.786 83.922.193.786 83.922.193.786

5 Insentif pemungut Pajak 0 0 129.632.250.000 151.279.350.000 180.450.000.000

6 Dana Alokasi Khusus (DAK) 653.048.400.000 623.341.242.000 666.487.302.000 666.487.302.000 666.487.302.000 7 Dana Bagi Hasil Reboisasi (DBH-DR) 0 162.729.921.000 171.536.608.000 196.941.606.585 202.945.387.865

8 Dana Insentif Daerah (DID) 0 62.010.148.000 37.454.311.000 37.454.311.000 37.454.311.000

9 Belanja pajak rokok 0 47.187.000.000 60.000.000.000 69.643.500.000 75.000.000.000

10 BLUD 0 696.300.000.000 700.150.000.000 651.500.000.000 703.500.000.000

11 Bantuan Keuangan kepada Partai Politik/Belanja Hibah kepada Partai Politik (Kesbangpol)

0 0 2.381.863.838 2.381.863.838 2.381.863.838

12 Bantuan keuangan Umum Kepada

Pemerintah Kabupaten/Kota 0 0 1.661.741.500.000 800.000.000.000 1.000.000.000.000

13 Bantuan keuangan Ke Desa 0 0 42.500.000.000 42.500.000.000 42.500.000.000

14 Bantuan Keuangan Pengawasan 0 0 251.933.363.342 6.000.000.000

15 Bantuan Keuangan Penyuluh Pertanian 0 0 638.508.829.668 10.000.000.000

17 Belanja Tidak Terduga 0 223.202.839.000 200.000.000.000

18 Belanja Fungsi Pendidikan 0 642.368.664.868 897.769.740.183

19 Belanja Fungsi Kesehatan 0 0 120.678.514.191 120.142.760.683 64.383.473.640

20 Belanja untuk Pengawasan 0 0 21.838.214.268 21.691.480.268 22.684.847.281

21 Belanja untuk Peningkatan SDM ASN 0 0 30.051.428.772 20.254.888.772 20.618.342.711

Tabel III- 18 Proyeksi Pengeluaran Wajib Mengikat Tahun 2019-2023 dan Proyeksi Pengeluaran Wajib Mengikat Tahun 2021-2023 (Lanjutan)

Uraian Belanja Wajib Mengikat Tahun 2019 (Rp)

Tahun 2020 (Rp)

Tahun 2021 (Rp)

Tahun 2022 (Rp)

Tahun 2023 (Rp) A BELANJA OPERASI 5.729.400.964.884 5.529.265.228.406 8.859.499.554.655 8.355.270.427.628 9.308.280.638.093

1 Pembayaran Pokok Utang - 0 0 0 -

2 Penyertaan modal 150.000.000.000 249.856.920.000 249.856.920.000 249.856.920.000 150.000.000.000 TOTAL BELANJA WAJIB &

MENGIKAT 5.729.400.964.884 5.679.265.228.406 9.109.356.474.655 8.591.892.374.028 9.558.137.558.093 Sumber: BAPPEDA Prov. KALTIM. 2021

Berdasarkan data proyeksi pendapatan dan proyeksi data belanja wajib dan mengikat, dapat disusun kapasitas riil keuangan daerah pada tahun 2019-2023 seperti disajikan pada Tabel III-19.

Tabel III- 19 Proyeksi Kapasitas Riil Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019-2023

No Uraian Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023

1 Pendapatan 8.769.807.042.689 8.584.526.835.525 9.590.400.000.000 11.038.618.621.745 12.136.620.129.156 2 Total Penerimaan 10.631.867.596.326 10.833.921.000.000 11.866.042.920.000 11.038.164.310.745 12.136.620.129.156

Dikurangi

5.729.400.964.884 5.679.265.228.406 9.109.356.474.655 8.591.892.374.028 9.558.137.558.093

Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan

4.902.466.631.442 5.154.655.771.594 2.756.686.445.345 2.451.726.247.717 2.578.482.571.064 Sumber: BAPPEDA Prov. KALTIM. 2021

Adapun alokasi Kapasitas Riil Keuangan Provinsi Kalimantan Timur guna mendanai prioritas pembangunan disajikan dalam tabel III-20

Tabel III- 20 Alokasi Kapasitas Riil Kemampuan Daerah Tahun 2019-2023

Uraian

5.518.720.811.513 5.154.655.771.594 2.756.686.445.345 2.451.726.247.717 2.578.482.571.064 - Prioritas I 2.811.476.506.910 2.856.336.371.658 1.473.939.482.031 1.194.342.874.111 1.316.124.857.445 - Prioritas II 1.001.196.024.228 1.599.014.862.459 958.921.670.696 945.550.874.623 1.084.890.362.053 - Prioritas III 1.089.794.100.304 699.304.537.477 323.825.292.617 311.832.498.983 177.467.351.565

Sumber: BAPPEDA Prov. KALTIM. 2021

Kapasitas riil kemampuan keuangan Prioritas I, dialokasikan untuk membiayai belanja wajib dan mengikat serta pemenuhan penerapan pelayanan dasar. Pada tahun 2021 hingga tahun 2023 sebagian besar belanja wajib dan mengikat untuk pemenuhan pelayanan dasar telah dialokasikan pada belanja wajib dan mengikat seperti tertuang pada tabel Tabel III-20. Proyeksi Pengeluaran Wajib Mengikat Tahun 2019-2023. Prioritas II dialokasikan untuk membiayai belanja pemenuhan visi dan misi Kepala Daerah.

Sedangkan Prioritas III dialokasikan untuk membiayai belanja penyelenggaraan urusan pemerintahan lainnya

Kebijakan belanja operasi juga diarahkan untuk meningkatkan pemerataan pembangunan sehingga dapat dinikmati seluruh elemen masyarakat Provinsi Kalimantan Timur. serta mampu menyerap tenaga kerja dan mengentaskan kemiskinan. Alokasi belanja operasi terutama berupa belanja bantuan sosial dan belanja keuangan diarahkan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan akselerasi pembangunan desa serta sebagai stimulus bagi berbagai kelompok masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah.

C. Pembiayaan Daerah

Pembiayaan daerah dilaksanakan ketika terjadi defisit anggaran, yaitu ketika pendapatan daerah belum mampu memenuhi kebutuhan belanja daerah. Pembiayaan daerah yang terdiri dari penerimaan dan pengeluaran pembiayaan. mempunyai arah kebijakan yaitu penggunaan SiLPA tahun sebelumnya yang dimasukkan sebagai sumber penerimaan APBD, dengan tetap menjaga dan mengupayakan besaran SiLPA seminimal mungkin dari tahun ke tahun. Strategi lainnya adalah kerjasama pembiayaan pembangunan secara komplementer dan terpadu baik melalui Pinjaman (Loan). APBN dan APBD Kabupaten/Kota serta sumber pembiayaan lainnya terutama untuk pelaksanaan program prioritas daerah. Sementara untuk komponen pengeluaran pembiayaan, terdiri dari nilai penyertaan modal yang dinilainya diasumsikan sama dengan tahun 2021. Detil pembiayaan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019-2023 disajikan pada Tabel III-21 berikut:

Tabel III- 21 Pembiayaan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019-2023

No. Uraian

Daerah 1.761.926.227.625 2.099.394.164.475 2.025.786.000.000 236.621.946.400 249.856.920.000 A Penerimaan

Pembiayaan 1.861.926.227.625 2.249.394.164.475 2.275.642.920.000 0 0

-

Pembiayaan 100.000.000.000 150.000.000.000 249.856.920.000 236.621.946.400 249.856.920.000 - Total

Penerimaan 100.000.000.000 150.000.000.000 249.856.920.000 236.621.946.400 249.856.920.000 Sumber: BPKAD Provinsi Kaltim, 2021

BAB IV

PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS DAERAH

Rumusan tentang permasalahan pembangunan dan isu strategis merupakan bagian penting dalam penentuan kebijakan pembangunan jangka menengah daerah Provinsi Kalimantan Timur dalam setiap periode lima tahun. Pemetaan permasalahan pembangunan yang baik, menjadi dasar bagi perumusan intervensi kebijakan yang komprehensif. Permasalahan pembangunan daerah menggambarkan kinerja daerah atau kondisi masyarakat yang belum sesuai harapan. Sedangkan, isu strategis merupakan tantangan atau peluang yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi masyarakat di masa mendatang.

Perubahan RPJMD 2019-2023 ini dilakukan dengan memperhatikan pemutakhiran permasalahan dan isu strategis yang akan mempengaruhi kebijakan pembangunan Kalimantan Timur paling tidak hingga akhir periode keempat.

4.1. Permasalahan Pembangunan

Permasalahan pembangunan dibagi menjadi Permasalahan pembangunan daerah dan per-urusan Pemerintahan. Permasalahan pembangunan daerah merupakan persoalan-persoalan makro yang memiliki keterkaitan dengan berbagai urusan. Sedangkan permasalahan per-urusan pemerintahan adalah persoalan yang dihadapi oleh beberapa urusan Pemerintah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.

4.1.1 Permasalahan Pembangunan Daerah

Permasalahan pembangunan adalah kesenjangan antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan target kinerja yang direncanakan dan/atau kesenjangan antara apa yang ingin dicapai di masa datang dengan kondisi riil saat perencanaan dibuat.

Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan pencapaian kinerja pembangunan daerah di masa lalu, khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya. Suatu permasalahan daerah dianggap memiliki nilai prioritas jika berhubungan dengan tujuan dan sasaran pembangunan, khususnya untuk penyusunan RPJPD, RPJMD dan RKPD, termasuk didalamnya prioritas lain dari kebijakan nasional/provinsi yang bersifat mandatory (wajib untuk dilaksanakan).

Setelah menelaah kajian data dan informasi terkait situasi dan kondisi beserta dinamika di daerah di Bab 2. Dan menelaah hasil analisis permasalahan pembangunan daerah pada masing-masing bidang urusan sesuai dengan kondisi objektif daerah, serta kesepakatan dari para pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan daerah, diperoleh gambaran permasalahan utama (core problem) pembangunan daerah Provinsi

Kalimantan Timur, yakni “Belum optimalnya pemerataan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Timur”.

Berdasarkan hasil analisis permasalahan utama pembangunan tersebut, maka dapat dirumuskan 6 (enam) permasalahan pokok pembangunan Provinsi Kalimantan Timur yaitu:

1) Tingginya ketimpangan daya saing SDM;

2) Kesejahteraan belum terwujud secara adil dan merata;

3) Lambatnya transformasi ekonomi menuju pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan;

4) Belum optimalnya pemerataan dan pengembangan pelayanan infrastruktur dasar;

5) Meningkatnya risiko penurunan kualitas lingkungan hidup; dan

6) Tata pemerintahan belum menghasilkan layanan dan kebijakan publik yang berorientasi pada kedaulatan masyarakat.

Keenam permasalahan pokok tersebut merupakan permasalahan pembangunan lintas sektor yang menjadi pemicu utama belum maksimalnya pembangunan daerah di Provinsi Kalimantan Timur, yang dapat diuraikan lebih detil sebagai berikut:

1. Tingginya ketimpangan daya saing SDM

Salah satu permasalahan yang masih memerlukan perhatian dalam perumusan perencanaan pembangunan di Provinsi Kalimantan Timur adalah daya saing sumber daya manusia. Aspek daya saing seringkali diukur dengan menggunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator ini mengukur berbagai aspek terutama pendidikan, kesehatan dan perekonomian masyarakat. Berdasarkan data IPM yang ada, posisi Kalimantan Timur sudah lebih baik dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara, serta bahkan dibandingkan rata-rata nasional. Namun, bila dicermati lebih lanjut daya saing antara kabupaten/kota di Kalimantan Timur, maka akan terlihat adanya ketimpangan IPM yang menjadikan daya saing SDM Kalimantan Timur secara keseluruhan belum optimal.

Secara umum, IPM Provinsi Kalimantan Timur periode 2015 hingga dengan 2019 selalu meningkat dan selalu berada di atas IPM Nasional dan jauh di atas provinsi lain di Pulau Kalimantan. Meski demikian, IPM Kaltim pada tahun 2020 menurun ke angka 76,24 dari angka 76,61 di tahun 2020. Angka ini tidak linier dengan perkembangan IPM Nasional yang cenderung menanjak di tahun yang sama walau sedikit. Anomali yang terjadi pada capaian IPM ini disebabkan karena adanya pandemi COVID-19 yang mempengaruhi salah satu dari komponen utama penyusun IPM yakni pengeluaran per kapita disesuaikan. Indikator yang merupakan komponen hidup layak pada penghitungan IPM tersebut mengalami penurunan dikarenakan banyaknya dampak negatif akibat

hubungan kerja, pengurangan produksi, hingga menurunnya aktivitas perdagangan yang kesemuanya berpengaruh pada pendapatan masyarakat.

Selanjutnya, secara detail perkembangan IPM Provinsi Kalimantan Timur dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar IV-1. di bawah ini.

Gambar IV- 1 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Pulau Kalimantan Tahun 2016-2020

(Sumber : BPS Kalimantan Timur, 2020)

Ketimpangan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Timur terlihat dari nilai IPM setiap Kabupaten/Kota (Gambar IV-2.), dimana ketimpangan 13,02 poin terlihat dari nilai IPM tertinggi yakni Samarinda sebesar 80,11 dan IPM sementara terendah yakni IPM Mahakam Ulu sebesar 67,09. Selanjutnya secara nasional IPM tertinggi Kalimantan Timur yakni IPM Kota Samarinda berada pada peringkat ke-33 secara nasional disusul IPM Kota Bontang dan Kota Balikpapan yang berada pada peringkat ke-34 dan peringkat ke-36. Sedangkan kabupaten lain masih berada pada kisaran peringkat ke-94 dan peringkat ke-358. Perbedaan nilai IPM yang cukup signifikan antar kabupaten/kota harus menjadi pemicu untuk memperkecil ketimpangan yang terjadi.

2016 2017 2018 2019 2020

Kalimantan Barat 65,88 66,26 66,98 67,65 67,66

Kalimantan Tengah 69,13 69,79 70,42 70,91 71,05

Kalimantan Selatan 69,05 69,65 70,17 70,72 70,91

Kalimantan Utara 69,2 69,84 70,56 71,15 70,63

Kalimantan Timur 74,59 75,12 75,83 76,61 76,24

Nasional 70,18 70,81 71,39 71,92 71,94

6062 6466 6870 7274 7678

Gambar IV- 2 Peringkat Secara Nasional Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2020

(Sumber: BPS Kalimantan Timur, 2020)

Timpangnya kualitas dan daya saing SDM Kalimantan Timur di atas disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Sedangkan sektor-sektor lain yang juga menopang capaian daya saing antara lain berkaitan dengan keagamaan, sosial dan budaya. Secara keseluruhan dapat diuraikan, bahwa permasalahan pokok tingginya ketimpangan daya saing SDM disebabkan oleh masalah-masalah berikut:

1) Belum meratanya kualitas pelayanan pendidikan;

2) Peran pemuda belum terlibat secara nyata dalam membangun kemandirian daerah;

3) Akses pelayanan kesehatan masyarakat belum merata, terutama pada daerah 3T;

4) Masih rendahnya upaya pengarusutamaan gender.

2. Kesejahteraan belum terwujud secara adil dan merata

Permasalahan pokok berikutnya yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur adalah masih belum optimalnya peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang terlihat dengan masih tingginya disparitas kesejahteraan antar kabupaten/kota. Maka dari itu, permasalahan daerah yang berkaitan dengan kesejahteraan di Kalimantan Timur lebih dititikberatkan pada disparitas daya saing antar daerah yang sangat tinggi. Terbatasnya lapangan usaha masyarakat (atau paling tidak yang sesuai dengan kapasitas dan persyaratan yang dituntut) di banyak daerah di Kaltim yang berimplikasi pada fluktuasi pengangguran terbuka menjadi salah satu penyebab kesenjangan pendapatan masyarakat. Pembangunan yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat masih belum berhasil mengentaskan kemiskinan atau taraf hidup pra-sejahtera. Kondisi ini tentu saja lebih banyak dihadapi oleh keluarga masyarakat yang tinggal dan menetap di Kalimantan Timur, daripada oleh pekerja migran

33 34 36

94 112 125 152 174 185

358

0 50 100 150 200 250 300 350 400

yang tinggal sementara di provinsi ini. Oleh karena itu, program percepatan pengentasan kemiskinan harus semakin diefektifkan.

Terbatasnya lapangan usaha masyarakat atau yang sesuai dengan kapasitas masyarakat Kalimantan Timur di atas berimplikasi pada fluktuasi pengangguran terbuka, sehingga selanjutnya menjadi salah satu penyebab kesenjangan pendapatan masyarakat.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dapat diketahui dengan mengukur persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja guna mengetahui indikasi besarnya persentase angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran. Meskipun TPT Kalimantan Timur masih di bawah rata-rata nasional, namun faktanya tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Kalimantan. Sehingga program pembangunan ke depan diharapkan berhasil mengentaskan kemiskinan atau taraf hidup pra sejahtera masyarakat Kalimantan Timur.

Gambar IV- 3 Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Pulau Kalimantan Agustus Tahun 2020

(Sumber : BPS Kalimantan Timur, 2020)

Terkait dengan ketenagakerjaan bahwa perkembangan perluasan kesempatan kerja semakin kompleks dan dinamis, yang membutuhkan tenaga kerja bukan saja terlatih tetapi mampu bersaing di tingkat daerah, nasional dan internasional. maka diperlukan sertifikasi kompetensi bertaraf internasional yang mampu berkreasi untuk melakukan inovasi menghadapi tantangan dan mampu menyesuaikan dengan tantangan yang dihadapi. Pemerintah mengkondisikan penciptaan pasar kerja yang sesuai dengan tuntutan global. Dalam hal ini tentu saja amat penting untuk mendorong sektor pendidikan, baik pada tingkat menengah maupun juga pendidikan tinggi, agar mampu menghasilkan lulusan berdaya saing dalam arti siap kerja ataupun bahkan siap pakai.

Sebagaimana telah disinggung terdahulu, bahwa belum optimalnya integrasi pendidikan vokasi dengan kebutuhan tenaga kerja industri dan sektor ekonomi lainnya, menjadikan rendahnya penyerapan tenaga kerja produktif oleh dunia kerja. Pemerataan sarana dan prasarana Pendidikan dan peningkatan lulusan yang berdaya saing di dunia kerja juga masih terjadi dan perlu memperoleh perhatian lebih dalam program

peningkatan sumber daya manusia di Kalimantan Timur. Urutan logisnya, bahwa rendahnya penyerapan tenaga kerja berpengaruh terhadap pemerataan pendapatan. Tidak meratanya pendapatan mengakibatkan gap kesejahteraan antar masyarakat, khususnya apabila dilihat dari tingginya angka kemiskinan di pedesaan dibandingkan dengan angka kemiskinan di perkotaan. Sektor industri berbasis lahan khususnya di sector Pertambangan dan Perkebunan, justru berada dan tumbuh berkembang di tengah banyak wilayah yang masih relatif belum berkembang optimal/tertinggal, tidak terkecuali pembangunan pendidikannya Pembangunan yang tidak dilakukan secara merata dan menyeluruh menimbulkan dan memperluas permasalahan yaitu bertambahnya kantong-kantong wilayah miskin dan tertinggal. Kecepatan laju pembangunan di wilayah tertinggal akan semakin sulit dikejar karena pemenuhan kebutuhan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan peningkatan usaha ekonomi relatif terbatas. Tiga sektor terkait kebutuhan dasar dimaksud perlu menjadi perhatian besar ke depan.

Permasalahan lain berdasarkan identifikasi pilar sosial TPB/SDGs adalah belum maksimalnya penjangkauan dan pemerataan program pengentasan kemiskinan dimana program-program masih terpusat pada wilayah perkotaan dan hanya sebagian kecil berada di kabupaten/kota, terlebih di sekitar pedesaan. Situasi ini dimungkinkan faktor aksesibilitas akibat kondisi geografis yang relatif sulit dan pemenuhan fasilitas penunjang lainnya, tidak terkecuali jarak dengan pusat pemerintahan dan perekonomian. Kondisi ini terlihat dari meningkatnya Gini Ratio Provinsi Kalimantan Timur dari 0,315 (Maret-2016) menjadi 0,328 (Maret-2020) yang mengindikasikan adanya peningkatan kesenjangan kesejahteraan masyarakat. Sebagai tambahan, permasalahan di atas juga merupakan hasil evaluasi dari perbandingan persentase penduduk miskin antar Kaltim dan Nasional, dan Kaltim dengan provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan, sebagaimana yang dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

Gambar IV- 4 Persentase Penduduk Miskin Provinsi se-Pulau Kalimantan September Tahun 2020

(Sumber : BPS Kalimantan Timur, 2020)

Berdasarkan data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan pokok kesejahteraan belum terwujud secara adil dan merata disebabkan oleh masalah-masalah

7,24

1) Desa dan Masyarakat belum optimal diberdayakan; dan

2) Lemahnya pengembangan kompetensi/keterampilan angkatan kerja.

3. Lambatnya transformasi ekonomi menuju pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan

Pembangunan ekonomi daerah memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif dan berkeadilan, serta berorientasi pada penurunan emisi. Hingga saat ini, perekonomian Kalimantan Timur masih ditopang oleh aktivitas perekonomian yang berbasis pada ekstrasi sumber daya alam dan berbasis lahan yang berpotensi menghasilkan dampak degradasi terhadap kualitas lingkungan hidup. Oleh karenanya sudah menjadi tekad bahwa kegiatan perekonomian tersebut harus ditransformasi menjadi perekonomian yang berwawasan kelanjutan lingkungan hidup (sustainable development atau green-growth).

Berbagai upaya untuk mentransformasikan struktur perekonomian dari yang berbasis ekstraktif sumber daya alam menjadi perekonomian yang berorientasi pada nilai tambah pengolahan hasil sumber daya alam terbarukan telah diupayakan bahkan sejak RPJMD sebelumnya. Prinsip utama dari upaya tersebut adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah (termasuk hilirisasi), serta upaya-upaya reinvestasi sumberdaya alam yang tergunakan guna keberlanjutannya.

Gambar IV-5. di bawah menjelaskan perbandingan antara Laju PDRB Provinsi Kalimantan Timur dengan provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan Tahun 2016-2020, dimana Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kalimantan Timur berada secara konsisten pada urutan terendah selama 4 tahun terakhir. Selain itu, meskipun mengalami fluktuasi yang hampir serupa dengan daerah lainnya pada periode tahun 2012-2019, namun pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Timur menurun drastis sejak tahun 2014.

Bahkan, daerah ini merupakan satu-satunya provinsi di Pulau Kalimantan yang mengalami LPE di bawah nol (minus) pada tahun 2015 dan 2016. LPE Kalimantan Timur cenderung menurun karena penurunan kontribusi sektor pertambangan (batubara) akibat terjadinya penurunan harga dan permintaan batu bara di level internasional, padahal sektor tersebut merupakan sumber pendapatan terbesar (bahkan dominan) dari Kalimantan Timur.

Gambar IV- 5 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Timur (ADHK) Pulau Kalimantan Tahun 2016-2020

(Sumber : BPS Kalimantan Timur, 2020)

Secara umum, saat ini nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Provinsi Kalimantan Timur dari tahun 2015 hingga tahun 2020 menunjukkan kecenderungan yang meningkat baik dari komposisi dengan migas, non migas, serta non migas dan batubara. Adapun nilai PDRB dengan migas Tahun 2019 tercatat sebesar Rp 653,68 triliun, sedangkan nilai PDRB non migas sebesar Rp 542,15 triliun dan nilai PDRB non migas dan batubara sebesar Rp 313,17 triliun.Secara umum, saat ini nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Provinsi Kalimantan Timur dari tahun 2015 hingga tahun 2019 menunjukkan tren yang meningkat baik dari komposisi dengan migas, non migas, serta non migas dan batubara. Adapun nilai PDRB dengan migas Tahun 2019 tercatat sebesar Rp 653,68 triliun, sedangkan nilai PDRB non migas sebesar Rp 542,15 triliun dan nilai PDRB non migas dan batubara sebesar Rp 313,17 triliun.

Tabel IV- 1 Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita Pulau Kalimantan Tahun 2016-2020 (%)

Provinsi PDRB Per Kapita

2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Timur, 2021

Selain itu, Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita Atas Dasar Harga Konstan Provinsi Kalimantan Timur juga mengisi tempat paling rendah di antara provinsi-provinsi di Pulau Kalimantan dalam rentang waktu 2015 -2018. Pada tahun 2019, PDRB Per Kapita Kalimantan Timur berhasil naik menjadi nomor 2 (dua)

Kalimantan

2017 5,17 6,73 5,28 6,8 3,13 4,34 5,07

2018 5,07 5,61 5,08 5,38 2,64 3,84 5,17

2019 5,09 6,12 4,08 6,9 4,74 4,99 5,02

2020 -1,82 -1,4 -1,81 -1,11 -2,85 -2,27 -2,01

-4

lain, PDRB Per Kapita Kalimantan Timur tetap tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.

Perlu digaris-bawahi, bahwa ekonomi Kalimantan Timur masih ditopang oleh minyak bumi dan gas alam, serta pertambangan batubara. Semakin menurunnya produksi sektor migas dan batubara, berdampak pada sektor-sektor lain, utamanya jasa dan perdagangan, sehingga memberikan pengaruh pada ekonomi Kalimantan Timur.

Produktivitas kawasan di Kalimantan Timur juga masih rendah. Di sektor pertambangan batubara dan mineral lainnya, luas areal yang terdapat perijinan seluas 4,8 juta hektar, namun yang dieksploitasi hanya seluas ± 130 ribu hektar atau hanya 2,7% dari total luas IUP yang diberikan.

Pada sector pertanian dalam arti luas, ternyata Sektor Kehutanan masih belum mengoptimalkan produktivitas kawasan yang telah diperuntukan untuk hutan produksi.

Pada produksi hutan alam, produktivitas setiap tahun berada pada angka 30 m3/hektar/tahun dengan total produksi 2,0-2,6 juta meter kubik per tahun. Pada perkebunan, terdapat 3,2 juta hektar peruntukan perkebunan dalam RTRW Kalimantan Timur, izin perkebunan yang diterbitkan 2,88 juta hektar dengan luasan areal tertanam 1,4 juta hektar, termasuk 1,2 juta hektar kelapa sawit. Masih terdapat 1,48 juta hektar areal izin perkebunan yang belum ditanami.

Sementara itu Industri hilir pertanian dalam arti luas juga belum banyak bertumbuh di Kalimantan Timur. Saat ini, hasil pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan, sebagian besar dipasarkan sebagai komoditi primer. Sebagian produk perkebunan, utamanya sawit, telah diolah menjadi crude palm oil (CPO), walaupun untuk Palm Kernel Oil (PKO) masih belum optimal diproduksi.

Meskipun demikian Pemerintah Kalimantan Timur terus menggenjot agenda transformasi ekonomi dengan menangkap peluang yang ada, salah satunya adalah melalui ekonomi kerakyatan berbasis sektor unggulan. Pengembangan ekonomi kerakyatan didasarkan pada pertumbuhan produk yang dihasilkan oleh sebuah provinsi. Ekonomi kerakyatan berbasis sektor unggulan, khususnya sumber daya terbarukan melalui peningkatan nilai tambah hasil pengolahan sumber daya alam akan mampu menyelaraskan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.

Upaya Pemerintah Daerah dalam meningkatkan perekonomian kerakyatan berbasis sektor unggulan yang dimaksud masih belum dapat diimplementasikan dan belum sesuai harapan. Beberapa kondisi permasalahan yang perlu menjadi perhatian untuk diselesaikan secara berjenjang diantaranya adalah masih kurangnya SDM yang kompeten dan mampu mengelola potensi wilayah utamanya sektor agribisnis dan ekonomi kreatif, masih belum optimalnya kondusivitas investasi UMKM sehingga ketertarikan investor dan perusahaan untuk berinvestasi pada usaha ekonomi kerakyatan masih rendah serta belum optimalnya pengembangan industri yang sesuai dengan tata ruang wilayah yang mengedepankan prinsip berwawasan lingkungan.

Hal ini sejalan dengan hasil kajian TPB/SDGs dalam dokumen KLHS Revisi RPJMD, dimana masih diperlukan upaya tambahan pada Tujuan 9 (Membangun infrastruktur yang tangguh, meningkatkan industri inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi) khususnya indikator 9.2., 9.3. dan 9.4. (Lihat Bab 2 Perubahan RPJMD) guna memedomani prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengembangan industri dan UMKM.

Lebih lanjut, KLHS Revisi RPJMD juga mengarahkan optimalisasi perlindungan pencadangan kawasan utamanya diluar kawasan hutan sumber pangan dan diversifikasi bahan makanan pokok, variasi pada pola konsumsi yang diharapkan dapat menumbuhkan kebutuhan terhadap bahan pangan yang lebih beragam sehingga dapat diikuti dengan pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, serta sumber pangan lainnya,

Lebih lanjut, KLHS Revisi RPJMD juga mengarahkan optimalisasi perlindungan pencadangan kawasan utamanya diluar kawasan hutan sumber pangan dan diversifikasi bahan makanan pokok, variasi pada pola konsumsi yang diharapkan dapat menumbuhkan kebutuhan terhadap bahan pangan yang lebih beragam sehingga dapat diikuti dengan pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, serta sumber pangan lainnya,

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... (Halaman 179-0)

Dokumen terkait