BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Perhitungan Kondisi Simpang Amplas
4.2.1. Perhitungan Simpang Amplas Sebelum Dibangun Fly over (2006) a. Data Geometrik Simpang
Data geometrik Simpang merupakan data yang memuat kondisi geometrik jalan pada Simpang yang diamati. Data ini dapat diperoleh langsung di lapangan berupa data primer kondisi eksisting melalui survey, maupun data sekunder yang diperoleh dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I Medan. Adapun data geometric Simpang Amplas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Kondisi Geometrik Simpang Amplas Tahun 2006
Pendekat Utara Selatan Timur Barat
Tipe lingkungan jalan COM RES COM COM
Hambatan samping Tinggi Sedang Tinggi Tinggi
Median Ada Tdk ada Ada Ada
Lebar Median (m) 0,50 - 1,50 1,50
Belok kiri jalan terus Ada Ada Ada Ada
We (m) 6,00 6,40 9,40 9,60
WA (m) 10,50 11,5 14,50 12,6
WLTOR (m) 4,5 5,1 5,1 3,00 WMASUK (m) 6,00 6,40 9,40 9,60
Gambar 4.1 Kondisi Geometrik Simpang Amplas Tahun 2006
Adapun setiap kaki persimpangan diberi kode pendekat U, S, T dan B dengan keterangan sebagai berikut:
- U (Utara) adalah kaki persimpangan di sebelah utara yakni Jalan Panglima Denai
- S (Selatan) adalah kaki persimpangan di sebelah selatan yakni Jalan Patumbak - T (Timur) adalah kaki persimpangan di sebelah timur yakni Jalan
Sisingamangaraja B (arah Tj. Morawa)
- B (Barat) adalah kaki persimpangan di sebelah barat yakni Jalan Sisingamangaraja A (arah Kota Medan)
a. Tata Guna Lahan
Penggunaan tanah di daerah sekitar Simpang Amplas sebagian besar dimanfaatkan untuk tempat tinggal dan ruko. Jalan ini difungsikan sebagai sarana keluar masuknya angkutan umum menuju terminal Amplas dan juga sebagai penghubung antara Kota Medan dengan Kabupaten Deli Serdang. Hambatan samping untuk jalan ini sangat tinggi dikarenakan banyaknya bus dan angkutan kota yang menunggu, menaikkan dan menurunkan penumpang di persimpangan Amplas terutama dari Jalan Panglima Denai menuju Jalan Sisingamangaraja B.
b. Data Lalu lintas
Simpang Amplas merupakan persimpangan dengan volume arus Lalu lintas yang cukup padat. Persimpangan antara jalan Sisingamangaraja dengan Jl. P. Denai dan Jl. Patumbak. Jalan Utama dengan volume yang cukup padat adalah di Jl. Sisingamangaraja khususnya arah Lalu lintas yang menuju ke Kota Medan. Arus Lalu lintas dari Jl. P. Denai juga cukup padat,karena arus dari atau menuju Terminal Amplas.
Tabel 4.3 Komposisi volume lalu lintas di Simpang Amplas dalam volume kendaraan per jam (tahun 2006)
Kode Pend
ekat
Arah
ARUS LALU LINTAS KENDARAAN BERMOTOR (MV) Kendaraan ringan (LV) Kendaraan berat
(HV)
Sepeda motor
(MC) Kendaraan bermotor total MV
Rasio berbelok emp terlindung = 1.0 emp terlindung = 1.3 emp terlindung = 0.2
emp terlawan = 1.0 emp terlawan = 1.3 emp terlawan = 0.4 kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam P LT P RT Terlind ung Terlaw an Terlind ung Terlaw an Terlindu ng Terlaw an Terlind ung Terlaw an (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) U LT/LTOR 313 313 313 22 29 29 218 44 87 553 385 429 0.37 ST 183 183 183 13 17 17 128 26 51 324 226 251 RT 345 345 345 25 33 33 240 48 96 610 426 474 0.41 Total 841 841 841 60 78 78 586 117 234 1487 1036 1153 S LT/LTOR 38 38 38 13 17 17 82 16 33 133 71 88 0.24 ST 94 94 94 31 40 40 206 41 82 331 176 217 RT 29 29 29 10 13 13 63 13 25 102 55 67 0.18 Total 161 161 161 54 70 70 351 70 140 566 301 372 T LT/LTOR 53 53 53 12 16 16 26 5 10 91 74 79 0.04 ST 976 976 976 70 91 91 488 98 195 1534 1165 1262 RT 301 301 301 227 295 295 150 30 60 678 626 656 0.34 Total 1330 1330 1330 309 402 402 664 133 266 2303 1865 1997 B LT/LTOR 290 290 290 75 98 98 145 29 58 510 417 446 0.31 ST 569 569 569 148 192 192 285 57 114 1002 818 875 RT 81 81 81 21 27 27 41 8 16 143 117 125 0.09 Total 940 940 940 244 317 317 471 94 188 1655 1351 1446
Data komposisi volume lalu lintas hasil perhitungan didapatkan pada Tabel 4.3. Data-data lalu lintas di simpang yang telah dihitung dan parameter geometrik pada simpang, selanjutnya sebagai data masukan untuk menganalisa kapasitas dan perilaku lalu lintas di masing-masing kaki simpang.
c. Perhitungan Derajat Kejenuhan, Panjang Antrian, dan Tundaan Setelah diperoleh data arus lalu lintas dalam satuan smp/jam, selanjutnya adalah menentukan panjang antrian dengan menggunakan metode MKJI 1997. 1) Perhitungan Derajat Kejenuhan, Panjang Antrian, dan Tundaan
a) Pendekat Timur (Jalan Sisingamangaraja B/arah Tj. Morawa) - Kendaraan tidak bermotor (UM) memiliki rasio = 0 - Lebar efektif (We) = 9,40 m
- Arus Jenuh (S)
Arus jenuh dapat dinyatakan dengan rumus: S = S0.FCS.FSF.FP.FRT.FLT
dimana:
SO adalah arus jenuh dasar. Untuk suatu ruas jalan (pendekat) terlindung yaitu tidak terjadi konflik antara kendaraan yang berbelok dengan lalu lintas yang berlawanan maka penentuan arus jenuh dasar (SO) ditentukan sebagai fungsi dari lebar efektif (We) yaitu:
SO = 600.We = 600.9,40 = 5640 smp/jam
Dimana arus jenuh (S) diasumsikan tetap selama waktu hijau.
FCS = Faktor penyesuaian ukuran kota, berdasarkan jumlah penduduk Kota Medan yakni sebesar 2.121.053 Jiwa (BPS Kota Medan) berada pada range 1-3 juta jiwa, maka nilai FCS = 1,00
FSF = Faktor penyesuaian hambatan samping, berdasarkan kelas hambatan samping dari lingkungan jalan tersebut, maka dinyatakan lingkungan jalan adalah termasuk kawasan komersial dan pusat pertokoan. Jalan yang ditinjau merupakan jalan dua arah dipisahkan oleh median dengan tipe fase terlindung → FSF = 0,93 (dengan rasio kendaraan tak bermotor = 0).
Fg = Faktor penyesuaian terhadap kelandaian (G), berdesarkan naik (+) atau turun (-) permukaan jalan → Fg = 1,00 (mendatar)
Fp = Faktor penyesuaian parkir (P), berdasarkan jarak henti kendaraan parkir → Fp = 1,0
Frt = Faktor penyesuaian belok kanan, ditentukan sebagai fungsi rasio belok kanan Prt. Untuk jalan yang dilengkapi dengan median, nilai Frt tidak diperhitungkan.
Flt = Faktor penyesuaian belok kiri, ditentukan sebagai fungsi rasio belok kiri Plt. Untuk jalan yang dilengkapi dengan lajur belok kiri jalan terus (LTOR) maka nilai Flt tidak diperhitungkan.
S = S0.FCS.FSF.FP.FRT.FLT
= 5640 x 1,0 x 0,93 x 1,0 x 1,0 = 5245 smp/jam
- Waktu siklus (c)
Penentuan waktu siklus berdasarkan dari pengamatan langsung di lapangan yaitu: waktu siklus (c) = 150 detik, waktu hijau = 46 detik. - Kapasitas (C) dan Derajat Kejenuhan (DS)
Kapasitas pendekat (C) diperoleh dengan perkalian arus jenuh dengan rasio hijau (g/c) yaitu:
C = = 5445 = 1609
Derajat kejenuhan diperoleh dengan rumus: DS =
= = 1,11 - Antrian
Jumlah rata-rata antrian (smp) pada awal sinyal hijau yaitu NQ dihitung sebagai jumlah kendaraan (smp) yang tersisa dari fase hijau sebelumnya (NQ1) ditambah jumlah kendaraan (smp) yang akan datang selama fase merah (NQ2)
NQ = NQ1 + NQ2 dimana:
NQ1 = 0,25 x C x
Jika DS>0,5 ; selain itu NQ1 = 0
Maka: NQ1 = 0,25 x 1791 x = 96,21 NQ2 = = 78.55 NQ = NQ1 + NQ2 = 96,21 + 78,55 = 174,76 → NQmax= 222
Panjang antrian = QL = NQmax. = 222. = 472m
Diperoleh panjang antrian kendaraan untuk pendekat utara pada Simpang Amplas untuk arah lurus adalah 472m
- Tundaan
Tundaan pada suatu Simpang dapat terjadi karena dua hal:
Tundaan lalu lintas (DT) karena interaksi lalu lintas dengan gerakan lainnya pada suatu simpang dan tundaan geometri (DG) karena perlambatan dan percepatan saat membelok pada suatu simpang dan/atau terhenti karena lampu merah.
Angka henti = NS = 0,9 x x 3600 = 0,9 x x 3600 = 2,11
Kendaraan terhenti = NSV = Q x NS (smp/jam) = 1791 x 2,11
Tundaan lalu lintas = DT = → A = = =0,36 = = 270,07 det/smp Tundaan geometrik = DG = (1-PSV) x PT x 6 + (PSVx4) = (1-1,16) x 0,336 x 6 + (1,16x4) = 4,3 det/smp Tundaan rata-rata = D = DT + DG = 270,1 + 4,3 = 274,4 det/smp Tundaan total = D x Q = 274,4 x 1791 = 491354smp.det
Adapun hasil perhitungan secara lengkap pada Tabel berikut: Tabel 4.4 Hasil Analisa pada Simpang Amplas (pada tahun 2006)
Lengan Utara Selatan Timur Barat Rasio Kendaraan tidak bermotor
(UM) (kend/jam) 0,00 0,00 0,00 0,00
Lebar efektif (We) (m) 6,00 6,40 9,40 9,60
Arus jenuh dasar (So) 3600 3840 5640 5760
Arus jenuh (S) (smp/jam) 3348 3725 5245 5257
Waktu siklus (c) (detik) 150 150 150 150
Waktu hijau (detik) 37 21 46 38
Kapasitas pendekat (C) 826 546 1609 1357 Derajat Kejenuhan (DS) 0,79 0,42 1,11 0,69 NQ1 1,34 0,00 96,21 0,61 NQ2 25,37 8,76 78,55 35,24 NQ 26,71 8,76 174,76 35,84 Panjang antrian (QL) (m) 94 49 472 96
Angka henti (NS) (stop/smp) 0,886 0,823 2,108 0,828 Kendaraan terhenti (NSV) (smp/jam) 577 189 3775 774 Tundaan lalu lintas (DT) (det/smp) 58,7 58,9 270,1 52,3 Tundaan geometric (DG) (det/smp) 4,2 4,5 4,3 4,6 Tundaan rata-rata (D) (det/smp) 62,9 63,4 274,4 56,8 Tundaan total (smp.det) 40968 14592 491354 52122 Sumber: hasil perhitungan peneliti
Pada kondisi volume lalu lintas pada tahun 2006, hasil perhitungan menyimpulkan, Derajat Kejenuhan (DS), yaitu perbandingan antara volume kendaraan yang melalui simpang Amplas dengan kapasitas simpang maksimum terjadi pada arus lalu lintas yang berasal dari pendekat Jl. Sisingamangaraja dari arah Tj. Morawa I menuju pendekat Jl. Sisingamangaraja yang menuju Kota Medan, dengan nilai sama dengan 1,11.
Waktu tempuh tambahan yang diperlukan untuk melalui simpang Amplas dibandingkan lintasan tanpa melalui suatu simpang (Tundaan) sama dengan 274,4 dt/smp. Jumlah kendaraan antri maksimum 18 smp, panjang antrian 35 meter dan jumlah kendaraan terhenti 3775 smp/jam pada lokasi pendekat Jl. Sisingamangaraja dari arah Tj. Morawa
Untuk kondisi pada tahun 2006, nilai Derajat Kejenuhan (DS) maksimum menjadi 1,11. Panjang antrian maksimum 140m, terjadi pada pendekat Jl. Sisingamangaraja B, dari arah Tj. Morawa dimana terdapat Simpang antara Jl. Sisingamangaraja dengan Jalan Masuk ke arah Gerbang Tol merupakan persimpangan lengan tiga, yaitu pertemuan arus lalu lintas dari ke Pintu masuk Gerbang Tol dengan Jalan Sisingamangaraja, baik yang akan ke arah Kota Medan maupun ke arah Tanjung Morawa.
Pada kondisi volume lalu lintas pada tahun 2006, hasil perhitungan menyimpulkan, Derajat Kejenuhan (DS) maksimum sama dengan 1,11 terjadi pada arah pendekat Jl. Sisingamangaraja B (Dari Arah Tj. Morawa).
Dari hasil perhitungan yang telah dilaksanakan, kondisi arus Lalu lintas di Simpang Amplas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Arus lalu lintas dari arah Kota Medan
Volume lalu lintas dengan jumlah 1351 smp/jam. Komposisi Lalu lintas di dominasi oleh oleh kendaraan umum (bus kota, mikrolet) dengan jumlah 940smp/jam.
2) Arus lalu lintas dari arah Tanjung Morawa
Volume lalu lintas dengan jumlah 1865 smp/jam. Komposisi Lalu lintas di dominasi oleh Mobil Penumpang (bus kota, mikrolet) dengan jumlah 1330 kend/jam dan sepeda motor (133 smp/jam).
3) Arus lalu lintas dari arah Patumbak
Volume lalu lintas dengan jumlah 55 smp/jam. Komposisi Lalu lintas di dominasi oleh sepeda motor (13 smp/jam) dan Mobil Penumpang (bus kota, mikrolet) dengan jumlah 29smp/jam.
4) Arus lalu lintas dari arah Denai / Terminal
Volume lalu lintas dengan jumlah 426 smp/jam. Komposisi Lalu lintas di dominasi oleh sepeda motor (117 smp/jam) dan Mobil Penumpang (bus kota, mikrolet) dengan jumlah 841 smp/jam.
Dari hasil survei Lalu lintas pada jam puncak di lokasi simpang Jamin Ginting, volume Lalu lintas terbesar adalah arus Lalu lintas dari arah Denai / Terminal dengan jenis kendaraan mobil penumpang dan oplet dengan volume total 1,565 kend/jam, sedangkan dari arah Kota Medan yang akan menuju ke Tanjung Morawa juga padat dengan mempunyai volume 1,541 kend/jam.
Arus Lalu lintas dari arah Kota Medan yang menuju Tanjung Morawa cukup ramai. Kondisi ini dikarenakan antara lain:
1) Jalan Sisingamangaraja merupakan jalan Arteri Primer yang menghubungkan antar Ibu Kota Propinsi dengan Ibu Kota Propinsi lainnya.
2) Merupakan akses utama dari Kota Medan menuju luar kota dari arah Tenggara Kota dan juga merupakan salah satu ruas jalan Lingkar Tengah Kota Medan
3) Merupakan pintu masuk ke Terminal Terpadu Amplas dan jalan Tol ke/dari rencana Bandara Kuala Namu.
Simpang Amplas merupakan persimpangan dengan volume arus Lalu lintas yang cukup padat. Persimpangan antara jalan Sisingamangaraja dengan Jl. P. Denai dan Jl. Patumbak. Jalan Utama dengan volume yang cukup padat adalah di Jl. Sisingamangaraja khususnya arah Lalu lintas yang menuju ke Kota Medan dari Tj. Morawa. Arus Lalu lintas dari Jl. P. Denai juga cukup padat, karena arus dari atau menuju Terminal Amplas.
Data-data lalu lintas di simpang yang telah dihitung dan parameter geometrik pada simpang, selanjutnya sebagai data masukan untuk menganalisa kapasitas dan perilaku Lalu lintas di masing-masing kaki simpang. Adapun hasil perhitungan secara lengkap pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.5 Kinerja Persimpangan Amplas Eksisting (Tahun 2006)
No Bagian Pendekat Derajat Kejenuhan (DS) Panjang Antrian (m) Tundaan (det/smp)
1. Arah Denai / Terminal 0,79 94 62,9
2. Arah Patumbak 0,44 49 63,4
3. Arah Tanjung Morawa 1,11 472 274,4
4. Arah Kota Medan 0,69 96 56,8
Pada kondisi volume Lalu lintas pada tahun 2006, hasil perhitungan menyimpulkan, Derajat Kejenuhan (DS), yaitu perbandingan antara volume kendaraan yang melalui simpang Amplas dengan kapasitas simpang maksimum
terjadi pada arus Lalu lintas yang berasal dari pendekat Jl. Sisingamangaraja dari arah Tj. Morawa I menuju pendekat Jl. Sisingamangaraja yang menuju Kota Medan, dengan nilai sama dengan 1.11. Waktu tempuh tambahan yang diperlukan untuk melalui simpang Amplas dibandingkan lintasan tanpa melalui suatu simpang (Tundaan) sama dengan 274,4 dt/smp. Panjang antrian maksimum 35meter pada lokasi pendekat Jl. Sisingamangaraja dari arah Tj. Morawa.
4.1.2. Perhitungan Simpang Amplas Setelah Dibangun Fly over (2011) a. Data Geometrik Simpang
Data geometric Simpang merupakan data yang memuat kondisi geometrik jalan pada Simpang yang diamati. Data ini dapat diperoleh langsung di lapangan berupa data primer kondisi eksisting melalui survey, maupun data sekunder yang diperoleh dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I Medan. Adapun data geometric Simpang Amplas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Kondisi Geometrik Simpang Amplas Tahun 2011
Pendekat Utara Selatan Timur Barat
Tipe lingkungan jalan COM RES COM COM
Hambatan samping Tinggi Sedang Tinggi Tinggi
Median Ada Tdk ada Ada Ada
Lebar Median (m) 0,50 - 1,50 1,50
Belok kiri jalan terus Ada Ada Ada Ada
Lebarjalurfly over - - 8,50 8,50
We (m) (bawah fly over) 6,00 6,40 8,00 7,50
WA (m) 10,50 11,5 9,50 9,50
WLTOR (m) 4,5 5,1 1,50 2,00 WMASUK (m) 6,00 6,40 8,00 7,50
Gambar 4.2 Kondisi Geometrik Simpang Amplas Tahun 2011 (Setelah Fly over) Adapun setiap kaki persimpangan diberi kode pendekat U, S, T dan B dengan keterangan sebagai berikut:
- U (Utara) adalah kaki persimpangan di sebelah utara yakni Jalan Panglima Denai
- S (Selatan) adalah kaki persimpangan di sebelah selatan yakni Jalan Patumbak - T (Timur) adalah kaki persimpangan di sebelah timur yakni Jalan
Sisingamangaraja B (arah Tj. Morawa)
- B (Barat) adalah kaki persimpangan di sebelah barat yakni Jalan Sisingamangaraja A (arah Kota Medan)
b. Tata Guna Lahan
Penggunaan tanah di daerah sekitar Simpang Amplas sebagian besar dimanfaatkan untuk tempat tinggal dan ruko. Jalan ini difungsikan sebagai sarana keluar masuknya angkutan umum menuju terminal Amplas dan juga sebagai penghubung antara Kota Medan dengan Kabupaten Deli Serdang. Hambatan samping untuk jalan ini sangat tinggi dikarenakan banyaknya bus dan angkutan kota yang menunggu, menaikkan dan menurunkan penumpang di persimpangan Amplas terutama dari Jalan Panglima Denai menuju Jalan Sisingamangaraja B.
c. Data Lalu lintas
Simpang Amplas merupakan persimpangan dengan volume arus Lalu lintas yang cukup padat. Persimpangan antara jalan Sisingamangaraja dengan Jl. P. Denai dan Jl. Patumbak. Jalan Utama dengan volume yang cukup padat adalah di Jl. Sisingamangaraja khususnya arah Lalu lintas yang menuju ke Kota Medan. Arus Lalu lintas dari Jl. P. Denai juga cukup padat,karena arus dari atau menuju Terminal Amplas.
Dengan diketahuinya perkiraan jumlah kendaraan yang akan lewat, maka dapat direncanakan fly over suatu jalan dengan tingkat pelayanan (”Level of Service”) seperti diharapkan. Volume lalu lintas dimasa yang akan datang jumlahnya didapat dari volume Lalu lintas masa kini ditambah volume Lalu lintas yang terjadi pada tahun-tahun yang bersangkutan.
Dengan dibangunnya fly over yang memanjang di jalan Sisingamangaraja dari dari arah Tj. Morawa ke arah Kota Medan, akan mengurangi beban menambah kapasitas simpang di simpang Amplas. Kendaraan yang akan menuju
ke atau dari kota medan bisa langsung melewati fly over, kecuali lalu lintas yang akan menuju ke Jl. P. Denai atau Jl. Patumbak, harus melewati jalur bawah fly over. Jadi konflik di simpang Amplas banyak dipengaruhi oleh lalu lintas dari Jl. P. Denai yang akan menuju kota Medan atau kearah Jl. Patumbak. Selain itu arus lalu lintas dari arah Tanjung Morawa dan dari Jl. Patumbak yang akan menuju ke Jl. P. Denai / Terminal Amplas juga masih akan mempengaruhi kapasitas di simpang Amplas.
Untuk melihat kondisi kapasitas simpang amplas setelah ada bangunan fly over, perlu ada perhitungan analisa kapasitas simpangnya. Perhitungan mengacu pada MKJI 1997 dengan dasar data-data hasil survei lalu lintas yang telah dilaksanakan.
Tabel 4.7Komposisi volume lalu lintas di Simpang Amplas dalam volume kendaraan per jam (tahun 2011)
Kode Pend
ekat
Arah
ARUS LALU LINTAS KENDARAAN BERMOTOR (MV) Kendaraan ringan (LV) Kendaraan berat (HV) Sepeda motor (MC)
Kendaraan bermotor total
MV Rasio berbelok emp terlindung = 1.0 emp terlindung = 1.3 emp terlindung = 0.2
emp terlawan = 1.0 emp terlawan = 1.3 emp terlawan = 0.4 kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam kend /jam smp/jam P LT P RT Terlind ung Terlaw an Terlind ung Terlaw an Terlind ung Terlaw an Terlind ung Terlaw an (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) U LT/LTOR 408 408 408 31 40 40 321 64 128 760 513 577 0.40 ST 201 201 201 17 22 22 184 37 74 402 260 297 RT 396 396 396 36 47 47 352 70 141 784 513 584 0.40 Total 1005 1005 1005 84 109 109 857 171 343 1946 1286 1457 S LT/LTOR 60 60 60 21 27 27 130 26 52 211 113 139 0.25 ST 126 126 126 49 64 64 328 66 131 503 239 321 RT 38 38 38 16 21 21 100 20 40 154 79 99 0.18 Total 224 224 224 86 112 112 558 112 223 868 447 559 T LT/LTOR 84 84 84 19 25 25 41 8 16 144 117 125 0.03 ST 1152 1152 1152 103 134 134 706 141 282 1961 1427 1568 ST bawah 173 173 173 15 20 20 106 21 42 294 214 235 ST atas 979 979 979 88 114 114 600 120 240 1667 1213 1333 RT 356 356 356 278 361 361 169 34 68 803 751 785 0.20 Total 2744 2744 2744 503 654 654 1622 324 649 4869 3722 4047 B LT/LTOR 461 461 461 119 155 155 231 46 92 811 662 708 0.19 ST 905 905 905 235 306 306 453 91 181 1593 1301 1392 ST bawah 181 181 181 47 61 61 136 18 54 364 260 296 ST atas 724 724 724 188 244 244 317 63 127 1229 1032 1095 RT 118 118 118 33 43 43 65 13 26 216 174 187 0.05 Total 2389 2389 2389 622 809 809 1202 231 481 4213 3429 3678
Pada kondisi volume lalu lintas pada tahun 2011 setelahdibangun fly over untukjalanlurus (ST) yang dihitungadalah yang melewatibawah fly over (melewatipersimpanganAmplas).
d. Perhitungan Derajat Kejenuhan, Panjang Antrian, dan Tundaan Setelah diperoleh data arus lalu lintas dalam satuan smp/jam, selanjutnya adalah menentukan panjang antrian dengan menggunakan metode MKJI 1997. 1) Perhitungan Derajat Kejenuhan, Panjang Antrian, dan Tundaan
1. Pendekat Timur (Jalan Sisingamangaraja B/arah Tj. Morawa) - Kendaraan tidak bermotor (UM) memiliki rasio = 0 - Lebar efektif (We) = 8,00 m
- Arus Jenuh (S)
Arus jenuh dapat dinyatakan dengan rumus: S = S0.FCS.FSF.FP.FRT.FLT
Dimana:
SO adalah arus jenuh dasar. Untuk suatu ruas jalan (pendekat) terlindung yaitu tidak terjadi konflik antara kendaraan yang berbelok dengan lalu lintas yang berlawanan maka penentuan arus jenuh dasar (SO) ditentukan sebagai fungsi dari lebar efektif (We) yaitu:
SO = 600.We = 600.8,00 = 4800 smp/jam
Dimana arus jenuh (S) diasumsikan tetap selama waktu hijau.
FCS = Faktor penyesuaian ukuran kota, berdasarkan jumlah penduduk Kota Medan yakni sebesar 2.121.053 Jiwa (BPS Kota Medan) berada pada range 1-3 juta jiwa, maka nilai FCS = 1,00
FSF = Faktor penyesuaian hambatan samping, berdasarkan kelas hambatan samping dari lingkungan jalan tersebut, maka dinyatakan lingkungan jalan adalah termasuk kawasan komersial dan pusat pertokoan. Jalan yang ditinjau merupakan jalan dua arah dipisahkan oleh median dengan tipe fase terlindung → FSF = 0,93 (dengan rasio kendaraan tak bermotor = 0).
Fg = Faktor penyesuaian terhadap kelandaian (G), berdesarkan naik (+) atau turun (-) permukaan jalan → Fg = 1,00 (mendatar)
Fp = Faktor penyesuaian parkir (P), berdasarkan jarak henti kendaraan parkir → Fp = 1,0
Frt = Faktor penyesuaian belok kanan, ditentukan sebagai fungsi rasio belok kanan Prt. Untuk jalan yang dilengkapi dengan median, nilai Frt tidak diperhitungkan.
Flt = Faktor penyesuaian belok kiri, ditentukan sebagai fungsi rasio belok kiri Plt. Untuk jalan yang dilengkapi dengan lajur belok kiri jalan terus (LTOR) maka nilai Flt tidak diperhitungkan.
S = S0.FCS.FSF.FP.FRT.FLT
= 4800 x 1,0 x 0,93 x 1,0 x 1,0 = 4464 smp/jam
- Waktu siklus (c)
Penentuan waktu siklus berdasarkan dari pengamatan langsung di lapangan yaitu: waktu siklus (c) = 166 detik, waktu hijau = 42 detik. - Kapasitas (C) dan Derajat Kejenuhan (DS)
Kapasitas pendekat (C) diperoleh dengan perkalian arus jenuh dengan rasio hijau (g/c) yaitu:
C = = 4464 = 1129
Derajat kejenuhan diperoleh dengan rumus: DS =
= = 0,85 - Antrian
Jumlah rata-rata antrian (smp) pada awal sinyal hijau yaitu NQ dihitung sebagai jumlah kendaraan (smp) yang tersisa dari fase hijau sebelumnya (NQ1) ditambah jumlah kendaraan (smp) yang akan datang selama fase merah (NQ2)
NQ = NQ1 + NQ2 dimana:
NQ1 = 0,25 x C x
Jika DS>0,5 ; selain itu NQ1 = 0
Maka: NQ1 = 0,25 x 1129 x = 2,36 NQ2 = = 42,40 NQ = NQ1 + NQ2 = 2,36 + 42,40 = 44,76 → NQmax = 49,8
Panjang antrian = QL = NQmax. = 49,8. = 125m
Diperoleh panjang antrian kendaraan untuk pendekat utara pada Simpang Amplas untuk arah lurus adalah 125m
- Tundaan
Tundaan pada suatu Simpang dapat terjadi karena dua hal:
Tundaan lalu lintas (DT) karena interaksi lalu lintas dengan gerakan lainnya pada suatu simpang dan tundaan geometri (DG) karena perlambatan dan percepatan saat membelok pada suatu simpang dan/atau terhenti karena lampu merah.
Angka henti = NS = 0,9 x x 3600 = 0,9 x x 3600
= 0,905
Kendaraan terhenti = NSV = Q x NS (smp/jam) = 965 x 0,905
Tundaan lalu lintas = DT = → A = = =0,36 = = 66,6 det/smp Tundaan geometrik = DG = (1-PSV) x PT x 6 + (PSVx4) = (1-0,83) x 0,202 x 6 + (0,83x4) = 3,5 det/smp Tundaan rata-rata = D = DT + DG = 66,6 + 3,5 = 70,1 det/smp Tundaan total = D x Q = 70,1 x 965 = 67686smp.det
Adapun hasil perhitungan secara lengkap pada Tabel berikut: Tabel 4.8 Hasil Analisa pada Simpang Amplas (pada tahun 2011)
Lengan Utara Selatan Timur Barat Rasio Kendaraan tidak bermotor
(UM) (kend/jam) 0,00 0,00 0,00 0,00
Lebar efektif (We) (m) 6,00 6,40 8,00 7,50
Arus jenuh dasar (So) 3600 3840 4800 4500
Arus jenuh (S) (smp/jam) 3348 3895 4464 4185
Waktu siklus (c) (detik) 166 166 166 166
Waktu hijau (detik) 27 22 42 37
Kapasitas pendekat (C) 1150 516 1129 933 Derajat Kejenuhan (DS) 0,67 0,65 0,85 0,48 NQ1 0,53 0,00 2,36 0,00 NQ2 30,44 14,62 42,40 17,76 NQ 30.96 14,62 44,76 17,76 Panjang antrian (QL) (m) 148 47 125 57
Angka henti (NS) (stop/smp) 0,782 0,854 0,905 0,782 Kendaraan terhenti (NSV) (smp/jam) 604 285 874 347 Tundaan lalu lintas (DT) (det/smp) 48,2 68,3 66,6 56,1 Tundaan geometric (DG) (det/smp) 3,7 3,5 3,5 3,4 Tundaan rata-rata (D) (det/smp) 51,9 71,8 70,1 59,4 Tundaan total (smp.det) 40127 23995 67686 26340 Sumber: hasil perhitungan peneliti
Kinerja simpang setelah ada pembangunan fly over seperti dalam tabel 4.9 berikut ini:
Tabel. 4.9 Kinerja Persimpangan Simpang Amplas setelah ada penanganan (Tahun 2011) No Bagian Pendekat Derajat Kejenuhan (DS) Panjang Antrian (m) Tundaan (det/smp)
1. Arah Denai / Terminal 0,67 148 51,9
2. Arah Patumbak 0,65 47 71,8
3. Arah Tanjung Morawa 0,85 125 70,1
4. Arah Kota Medan 0,48 57 59,4
Dari hasil perhitungan di atas, Derajat Kejenuhan (DS), yaitu perbandingan antara volume kendaraan yang melalui simpang dengan kapasitas simpang maksimum terjadi pada pendekat arah Tanjung Morawa, dengan nilai 0.85. Panjang Antrian mencapai 165 meter dan Tundaan sebesar 70,1dt/smp. Nilai DS rata-rata didapatkan sebesar 0.67.