BAB II......................................................................................................................... 6
2.1 Dasar Teori
2.1.4 Siklus Kompresi Uap
2.1.4.2 Perhitungan P-h Diagram
Ada beberapa rumus perhitungan untuk menentukan karakteristik jenis refrigeran, antara lain :
a. Energi kalor yang diserap evaporator (Qin)
Merupakan proses perubahan entalpi pada siklus kompresi uap dari titik 1 ke titik 4. Perubahan entalpi teresebut dapat dihitung menggunakan Persamaan (2.2).
Qin = h1 – h4 ...(2.2)
Pada Persamaan (2.2)
Qin : Energi kalor yang diserap evaporator persatuan massa refrigeran, kJ/kg h1 : Nilai entalpi refrigeran saat masuk kompresor, kJ/kg
h4 : Nilai entalpi refrigeran saat keluar pipa kapiler, kJ/kg b. Energi kalor yang dilepas oleh kondensor (Qout)
Merupakan perubahan entalpi pada siklus kompresi uap dari titik 2 ke 3.
Perubahan entalpi teresebut dapat dihitung menggunakan Persamaan (2.3).
Qout = h2 – h3 ...(2.3)
Pada Persamaan (2.3)
Qout : Energi kalor yang dilepas kondensor persatuan massa refrigeran, kJ/kg h2 : Nilai entalpi refrigeran saat keluar kompresor, kJ/kg
h3 : Nilai entalpi refrigeran saat masuk pipa kapiler, kJ/kg c. Kerja Kompresor (Win)
Merupakan perubahan entalpi pada siklus kompresi uap titik 1 ke 2.
Perubahan entapi tersebut dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.4).
Win = h2 – h1 ...(2.4)
Pada Persamaan (2.4)
Win : Kerja kompresor persatuan massa refrigeran, kJ/kg h2 : Nilai entalpi refrigeran saat keluar kompresor, kJ/kg h1 : Nilai entalpi refrigeran saat masuk kompresor, kJ/kg d. Actual Coefficient Of Performance (COPaktual)
COPaktual merupakan pembandingan antara panas yang diserap evaporator dengan kerja yang dilakukan kompresor. Dimana COPaktual ini digunakan untuk mengetahui performa dari siklus kompresi uap. Semakin tinggi nilai COP semakin baik kinerja/performa mesin. COPaktual dapat dihitung dengan Persamaan (2.5).
COPaktual = Qin / Win ...(2.5)
Pada Persamaan (2.5)
COPactual : Kinerja/performa mesin siklus kompresi uap aktual
Qin : Energi kalor yang diserap evaporator persatuan massa refrigeran, kJ/kg
Win : Kerja kompresor persatuan massa refrigeran, kJ/kg e. Ideal Coefficient Of Performance (COPideal)
COPideal dapat dihitung dengan Persamaan (2.6).
COPideal = Te
Tc−Te ...(2.6)
Pada Persamaan (2.6) :
COPideal : Kinerja mesin siklus kompresi uap secara ideal
Te : Suhu kerja mutlak evaporator, oK Tc : Suhu kerja mutlak kondensor, oK f. Efisiensi Mesin Siklus Kompresi Uap
Efisiensi dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7).
Efisiensi = (COPaktual / COPideal) x 100% ...(2.7) Pada Persamaan (2.7)
COPaktual : Kinerja mesin siklus kompresi uap secara aktual COPideal : Kinerja mesin siklus kompresi uap secara ideal g. Laju aliran massa refrigeran (ṁref)
Laju aliran massa refrigeran pada mesin siklus kompresi uap (ṁref) dapat dihitung menggunakan persamaan (2.8).
ṁref = 𝐼 𝑥 𝑉
(ℎ2−ℎ1 )𝑥 1000 ...(2.8)
I : Arus listrik, ampere V : Tegangan, watt 2.1.5 Psychrometric Chart
Psychrometric chart adalah grafik yang digunakan untuk menentukan nilai properti-properti dari udara pada suatu keadaan tertentu. Juga dapat digunakan untuk menggambarkan proses – proses yang dialami udara. Sebagai contoh, sebuah ruangan memiliki suhu udara basah dan suhu udara kering tertentu, dengan mengetahui dua suhu tersebut maka dapat ditentukan sifat-sifat udara lainnya seperti RH, W, volume spesifik, enthalpi, dan Tdp.
Gambar 2.9 Psychrometric chart (Sumber : https://fenix.tecnico.ulisboa.pt) 2.1.5.1 Parameter – Parameter pada Psychrometric Chart
Parameter-parameter udara dalam Psychrometric chart antara lain (a) Dry-
bulb temperature, (b) Wet-bulb temperature, (c) Dew-point temperature, (d) Specific humidity, (e) Volume spesifik, (f) Entalpi, (g) kelembapan relatif. Berikut ini penjelasannya :
a. Dry-bulb Temperature (Tdb)
Tdb atau temperatur bola kering merupakan suhu yang didapat dari pengukuran termometer dengan bulb pada keadaan kering (tidak dilapisi kain basah).
b. Wet-bulb Temperature (Twb)
Twb atau temperatur bola basah merupakan suhu yang didapat dari pengukuran termometer dengan bulb pada keadaan basah (dilapisi kain basah).
c. Dew-Point Temperature (Tdp)
Tdp atau temperatur titik embun merupakan suhu dimana uap air di dalam udara mulai mengembun saat udara diturunkan atau didinginkan.
d. Kelembapan Spesifik (W)
Kelembapan spesifik merupakan banyaknya uap air yang terkandung dalam satu kilogram udara kering (kgair/kgudara).
e. Entalphi (h)
Entalphi merupakan besarnya energi yang dimiliki udara, yang nilainya tergantung dari suhu dan tekanan udara pada saat itu.
f. Kelembapan Relatif (RH)
Kelembapan relatif merupakan perbandingan antara massa uap air yang dikandung pada suhu tertentu dengan massa uap air maksimal yang dikandung udara pada suhu tersebut.
g. Volume Spesifik (SpV)
Volume spesifik merupakan volume udara campuran per satuan kilogram udara kering (m3/kg).
Gambar 2.10 Parameter Udara dalam Psychrometric chart ( Sumber : http://mahdihvacr.blogspot.com/ )
2.1.5.2 Proses – Proses yang terjadi pada Udara Psychrometric Chart
Proses-proses yang dapat digambarkan pada psychrometric chart adalah (1) proses pemanasan (sensible heating), (2) proses pendinginan (sensible cooling), (3) proses dehumidify, (4) proses humidify, (5) proses pendinginan dan penurunan kelembapan (evaporative cooling), (6) proses pendinginan dan penaikkan kelembapan (cooling and humidify), (7) proses pemanasan dan penurunan kelembapan (heating and dehumidify), (8) proses pemanasan dan penaikkan kelembapan (heating and humidify).
Gambar 2.11 Proses – proses dalam psychrometric chart
1. Proses pemanasan (sensible heating)
Proses pemanasan (sensible heating) adalah proses penambahan kalor sensibel ke udara. Pada proses pemanasan, terjadi peningkatan temperatur bola kering, temperatur bola basah, entalpi, dan volume spesifik. Sedangkan temperatur titik embun dan kelembapan spesifik tetap konstan. Namun kelembapan relatif mengalami penurunan.
.
Gambar 2.12 Proses sensible heating 2. Proses pendinginan (sensible cooling)
Proses pendinginan adalah proses pengambilan kalor sensibel dari udara sehingga temperatur udara mengalami penurunan. Pada proses ini temperatur bola kering, bola basah dan volume spesifik mengalami penurunan. Kelembapan relatif mengalami kenaikkan. Sedangkan kelembapan spesifik dan temperatur titik embun tidak berubah atau konstan. Proses ini disajikan pada Gambar 2.13.
Gambar 2.13 Proses sensible cooling
3. Proses dehumidify
Proses dehumidify adalah proses pengurangan kandungan uap air pada udara tanpa merubah temperatur bola kering sehingga terjadi penurunan entalpi, titik embun, temperatur bola basah dan kelembapan spesifik. Proses ini disajikan pada Gambar 2.14.
Gambar 2.14 Proses dehumidify 4. Proses humidify
Proses humidify adalah proses penambahan kandungan uap air udara tanpa merubah suhu bola kering sehingga terjadi kenaikkan entalpi, temperatur bola basah, titik embun dan kelembapan spesifik. Proses ini disajikan pada Gambar 2.15.
Gambar 2.15 Proses humidify
5. Proses pendinginan dan penaikkan kelembapan (evaporative cooling)
Proses pendinginan dan penaikkan kelembapan adalah proses menurunkan
Tdb1=Tdb2
temperatur udara kering dan menaiknya kandungan uap air udara. Proses ini menyebabkan peningkatan suhu titik embun, kelembapan relatif dan kelembapan spesifik. Proses ini disajikan pada Gambar 2.16.
Gambar 2.16 Proses evaporative cooling
6. Proses pendinginan dan penurunan kelembapan (cooling and dehumidify) Proses pendinginan dan penurunan kelembapan adalah proses penurunan kalor sensibel dan penurunan kalor laten ke udara. Pada proses ini terjadi penurunan temperatur pada bola kering, temperatur bola basah, entalpi, volume spesifik, temperatur titik embun, dan kelembapan spesifik. Sedangkan kelembapan relatif dapat mengalami peningkatan dan dapat mengalami penurunan, tergantung dari prosesnya. Proses ini disajikan pada Gambar 2.17.
Gambar 2.17 Proses cooling and dehumidify
7. Proses pemanasan dan penurunan kelembapan (heating and dehumidify)
Proses pemanasan dan penurunan kelembapan (heating and dehumidify)
berfungsi untuk menaikkan suhu bola kering dan menurunkan kandungan uap air pada udara. Pada proses ini terjadi penurunan kelembapan spesifik, entalpi, suhu bola basah dan kelembapan relatif tetapi terjadi peningkatan suhu bola kering.
Proses ini disajikan pada Gambar 2.18.
Gambar 2.18 Proses heating and dehumidify 8. Proses pemanasan dan menaikan kelembapan (heating and humidify)
Proses pemanasan dan penaikkan kelembapan adalah proses menaikkan temperatur udara disertai penambahan uap air. Pada proses ini terjadi kenaikkan kelembapan spesifik, entalpi, suhu bola basah, suhu bola kering. Proses ini disajikan pada Gambar 2.19.
Gambar 2.19 Proses heating and humidify
2.1.5.3 Sirkulasi udara yang Terjadi pada Mesin Pengering Keripik Gendar Sirkulasi udara yang terjadi di dalam mesin pengering keripik gendar dapat dilihat pada Gambar 2.20. Udara yang berada dalam ruang pengering diolah
melewati proses pendinginan (cooling) dan dilanjutkan proses pendinginan dan penurunan kelembapan (cooling and dehumidify) kedua proses ini berlangsung di evaporator. Tujuan dari proses ini untuk mendapatkan udara yang kering. Lalu udara kering diolah melalui proses pemanasan (heating) yang berlangsung di dalam kondensor dan ketika udara melewati kompresor. Udara kering dan bersuhu tinggi ini kemudian dialirkan ke ruang pengeringan keripik gendar untuk proses berikutnya, yaitu proses pendinginan dan penaikkan kelembapan (evaporative cooling). Akibatnya kandungan air di dalam keripik gendar menurun. Setelah melewati keripik gendar udara yang masih memiliki temperatur tinggi ini, udara dilewatkan kembali melalui evaporator. Siklus berulang secara terus menerus seperti semula.
Gambar 2.20 Proses udara yang terjadi pada mesin pengering
Evaporator berfungi untuk mendapatkan udara kering sedangkan kondensor dan kompresor untuk mendapatkan kondisi udara bersuhu tinggi. Udara kering dan bersuhu tinggi inilah yang digunakan untuk proses pengeringan keripik gendar.
2.1.5.4 Proses Pengeringan Keripik Gendar dalam Psycromethric Chart Proses-proses pada pengeringan keripik gendar dalam psychrometric chart adalah sebagai berikut (a) proses pendinginan (sensible cooling), (b) proses pendinginan dan penurunan kelembapan (cooling and humidify), (c) proses pemanasan (sensible heating), dan (d) proses pendinginan dan penaikkan kelembapan (evaporative cooling).
Gambar 2.21 Proses pengeringan keripik gendar pada psychrometric chart
Gambar 2.21 adalah proses pengeringan keripik gendar yang tergambar dalam psychrometric chart. Proses A – A’ adalah proses pendinginan udara. Proses A’ – B adalah adalah proses pendinginan dan penurunan kelembapan (cooling and dehumidity). Proses B – D adalah proses pemanasan (heating), proses D –A adalah proses evaporative cooling. keterangan dari Gambar 2.21:
a. Titik D merupakan kondisi udara setelah melewati kondensor.
b. Titik A merupakan kondisi udara keluar dari dalam ruang pengering atau masuk ke dalam evaporator.
c. Titik C merupakan suhu kerja evaporator. (=Te)
d. Titik B merupakan kondisi udara setelah melewati evaporator.
e. Titik E adalah suhu kerja kondensor.
f. Titik A’ merupakan titik dimana uap air di dalam udara mulai mengembun.
2.1.5.5 Perhitungan pada Psychrometric Chart
a. Laju pengeringan keripik gendar oleh mesin pengering keripik gendar (ṁair) Laju pengeringan keripik gendar oleh mesin pengering keripik gendar (ṁair) dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.9) :
ṁair =mair
∆𝑡 ...(2.9)
Pada Persamaan (2.9) :
ṁair : Laju pengeringan keripik gendar, kgair/menit
𝑚air : Massa air yang diambil oleh udara dari keripik gendar yang dikeringkan, kgair
Δ𝑡 : Waktu yang dibutuhkan untuk proses pengeringan, menit
b. Laju aliran udara pada mesin pengering keripik gendar
Laju aliran udara pada mesin pengering keripik gendar dapat dihitung
ṁair : laju pengeringan keripik gendar, kgair/menit
Δ𝑤 : massa air yang dihasilkan persatuan massa udara, kgair/kgudara
WA : Kelembapan spesifik udara setelah proses pengeringan, kgair/kgudara
WB : Kelembapan spesifik udara sebelum proses pengeringan, kgair/kgudara
c. Debit aliran udara yang masuk ke ruang pengering
Debit aliran udara dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.11)
Q
=
ṁ 𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎2.2 Tinjauan Pustaka
Nico (2015) melakukan penelitian mesin pengering pakaian yang bertujuan untuk (1) merancang dan membuat mesin pengering pakaian (b) mengetahui kecepatan pengeringan pakaian yang dibuat dengan berbagai variasi jumlah pakaian yang dikeringkan. Metode penelitiannya dilakukan secara eksperimen dengan mesin dibuat sistem terbuka dengan debit aliran udara 0,054 m3/detik. Variasi penelitiaannya adalah jumlah pakaian, 5 pakaian, 15 pakaian, dan 20 pakaian. Bahan kain yang digunakan adalah kain salur polyester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju aliran massa air pada proses pengeringan sebesar 0,905 kg/jam.
Waktu untuk mengeringkan 5 pakaian merupakan yang paling cepat dengan kecepatan pengeringannya sebesar 0,303 kg/jam. Tetapi untuk variasi pakaian 20 pakaian memiliki kapasitas paling efektif dalam proses pengeringan dengan mesin yang dipakai.
Luke E. Lentz, (2008) membuat mesin pengering pakaian menggunakan sistem tertutup, tidak memerlukan sumber udara dari luar dan juga tidak memerlukan adanya pemanas (heater). Mesin pengering pakaian yang dibuat bekerja dengan memanfaatkan siklus kompresi uap. Evaporator yang digunakan untuk kondensasi uap air pada udara setelah melewati pakaian dan ada nya bak penampungan air untuk menampung air hasil kandungan di evaporator. Relatif kebutuhan energi yang rendah memungkinkan dioperasikan pada tegangan listrik 110 V.
PK Purwadi dan Wibowo Kusbandono, (2015) telah melakukan penelitian tentang mesin pengering pakaian energi listrik dengan mempergunakan siklus
kompresi uap. Tujuan dari penelitiannya adalah membuat mesin pengering pakaian dengan energi listrik dan mengetahui beberapa karakteristik mesin pengering yang telah dibuat. Proses pengeringan menggunakan udara yang disirkulasi oleh kipas secara berturut- turut melewati evaporator, kompresor dan ruangan pengering.
udara dilewatkan evaporator untuk diembunkan dan diturunkan kelembapannya, kemudian dilewatkan kompresor dan menjadi panas, udara kering dan panas inilah yang digunakan untuk mengeringkan pakaian. Mesin pakaian dirancang untuk kapasitas 20 pakaian dan bekerja dengan sistem tertutup. Ukuran ruang pengering : 60 cm x 120 cm x 130 cm. Penelitian memberikan hasil (a) mesin pengering dapat bekerja dengan baik (b) Bila tanpa beban, mesin pengering mampu mengkondisikan udara di dalam lemari pengering pada suhu udara kering (Tdb): 57.1oC dan suhu udara basah (Twb): 23oC. Untuk mengeringkan 20 baju batik basah hasil perasan tangan memerlukan waktu sekitar 115 menit, sedangkan untuk mengeringkan 15 baju batik hasil perasan tangan memerlukan waktu sekitar 90 menit. Untuk mengeringkan 20 pakaian baju batik basah hasil perasan mesin cuci memerlukan waktu sekitar 55 menit.
PK Purwadi, Wibowo Kusbandono (2016) telah melakukan penelitian tentang peningkatan mutu pengeringan dan laju pengeringan pada mesin pengering pakaian energi listrik. Tujuannya adalah (a) merancang dan merakit mesin pengering pakaian dengan mempergunakan energi listrik, (b) melihat pengaruh pemasangan kipas di ruang pengering terhadap waktu yang diperlukan untuk pengeringan dan terhadap laju pengeringan pakaian. Mesin pengering yang digunakan pada penelitian ini menggunakan mesin siklus kompresi uap dengan
memakai refrigeran R134a. Komponen utama dari mesin siklus kompresi uap meliputi : kompresor, evaporator, kondensor, dan pipa kapiler. Jumlah mesin siklus kompresi uap 2 buah, dengan masing-masing daya yang digunakan sebesar 1100 watt, sedangkan komponen utama yang lain menyesuaikan. Pengering pakaian ini menggunakan sistem tertutup, dengan memakai kipas, dan dilakukan pada ruang pengering, mempergunakan udara hasil olahan mesin siklus kompresi uap.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa adanya kipas di ruang pengering mempengaruhi pengeringan pakaian menjadi lebih cepat. Jika tanpa kipas waktu yang diperlukan untuk mengeringkan 50 pakaian basah hasil perasan tangan , selama 140 menit, sedangkan dengan adanya kipas, selama 80 menit. Terjadi pemendekkan waktu pengeringan sebesar 42,8%. Untuk 50 pakaian basah hasil perasan mesin cuci, waktu pengeringan tanpa kipas selama 60 menit, sedangkan dengan adanya kipas selama 35 menit. Terjadi pemendekkan pengeringan sebesar 41.6%. Dengan adanya kipas, laju pengeringan pakaian meningkat sebesar75%
untuk kondisi awal baju basah perasan tangan, dan 71.46% untuk perasan mesin cuci.
Beberapa penelitian lain terkait dengan proses pengeringan juga telah dilakukan beberapa peneliti lain. Purwadi, PK, dkk, telah melakukan penelitian dengan objek yang dikeringkan briket arang batok kelapa (2018). Selain dengan sistem pengeringan udara terbuka, Purwadi dan Wibowo (2016, 2017) juga telah melakukan penelitian dengan sistem udara tertutup untuk pengeringan pakaian.
Selain memvariasikan terhadap jumlah pakaian yang dikeringkan, kondisi awal pakaian, juga memvariasikan ada dan tidaknya kipas di dalam ruang pengeringan.
36
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Obyek penelitian yang digunakan adalah alat pengering keripik gendar dengan menggunakan sistem udara tertutup. Pada penelitian ini obyek yang dikeringkan adalah keripik gendar yang setelah dikukus dan siap dikeringkan, bahan baku utama keripik gendar ialah nasi. Alat penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan mesin pengering keripik gendar berbentuk lemari yang memiliki ukuran 200 cm x 120 cm x 110 cm. Gambar 3.1 menyajikan skema mesin pengering keripik gendar.
Gambar 3.1 Skema mesin pengering keripik gendar sistem udara tertutup
Obyek penelitian yang dikeringkan yaitu keripik gendar. Bahan utama untuk pembuatan keripik gendar adalah nasi yang telah di kukus. Penelitian ini membutuhkan keripik gendar yang siap untuk dikeringkan sebanyak 60 kg dalam enam kali pengambilan data, dengan sekali pengambilan sebanyak 10 kg. Di dalam lemari pengering terdapat rak tempat untuk keripik gendar, dengan jumlah rak yang diperlukan sebanyak 5 rak, dengan ketentuan 1 rak menampung 2 kg keripik gendar.
Massa awal keripik gendar basah saat proses 1x penelitian sekitar 10 kg dan massa akhir keripik gendar setelah dikeringkan sekitar 5 kg. Gambar 3.2 menyajikan rak yang berada pada lemari pengering yang disusun secara vertikal .
Gambar 3.2 Susunan rak secara vertikal
3.2 Pembuatan Mesin Pengering dan Alat Pendukung Penelitian 3.2.1 Pembuatan Mesin Pengering
3.2.1.1 Bahan Yang Digunakan Alat Pengering a. Triplek
Lemari pengering digunakan sebagai tempat untuk komponen ac dan rak untuk obyek yang dikeringkan. Lemari pengering berbahan dasar triplek yang
berukuran 200 cm x 120 cm x 110 cm. Gambar 3.3 menyajikan triplek yang digunakan.
Gambar 3.3 Triplek
b. Kayu dan striming
Rak digunakan sebagai tempat untuk keripik gendar yang akan dikeringkan.
Rak tersebut berbahan dasar dari kayu dan striming sebagai wadah dari obyek. Rak yang digunakan berukuran 100 cm x 80 cm. Gambar 3.4 menyajikan kayu dan striming yang digunakan.
Gambar 3.4 Kayu dan striming
c. Styrofoam
Styrofoam digunakan sebagai pelapis dinding pada ruangan pengering agar pada saat proses pengeringan lebih meminimalisir kebocoran kalor yang terbuang.
Ukuran tebal yang digunakan pada styrofoam ini adalah 3 cm melapisi seluruh dinding ruangan dibagian yang dikeringkan. Gambar 3.5 menyajikan styrofoam yang digunakan.
Gambar 3.5 Styrofoam
d. Busa
Busa digunakan sebagai pelapis dinding pada bibir pintu ruangan pengering agar pada saat proses pengeringan lebih meminimalisir kebocoran kalor yang terbuang. Ukuran tebal busa yang digunakan adalah 3 cm dengan panjang 5 m.
Gambar 3.6 menyajikan busa yang akan digunakan.
Gambar 3.6 Busa yang dipakai
e. Lem kayu
Lem kayu digunakan sebagai perekat kayu, styrofoam, dan busa pada bagian dinding ruangan pengering. Gambar 3.7 menyajikan lem kayu yang digunakan.
Gambar 3.7 Lem kayu
f. Baut dan nut
Baut dan nut digunakan untuk menyatukan triplek agar berbentuk lemari, menyatukan engsel pintu lemari pengering, pemasangan evaporator dan kondensor pada lemari pengering, dan pemasangan lainnya. Gambar 3.8 menyajikan baut dan nut yang digunakan.
Gambar 3.8 Baut dan nut g. Paku
Paku digunakan saat melakukan komponen komponen pemasangan pada pintu lemari pengering guna untuk menyatukan, pemasangan dudukan rak, pemasangan rak dan striming, dan komponen pemasangan lainnya. Gambar 3.9 menyajikan paku yang digunakan.
Gambar 3.9 Paku
h. Dempul
Untuk menutupi lubang/kerusakan pada triple yang tidak disengaja maka diperlukan dempul untuk menutupnya, selain itu dapat menutupi sela-sela sambungan triplek dengan triplek. Gambar 3.10 menyajikan dempul yang digunakan.
Gambar 3.10 Dempul
i. Engsel Pintu
Engsel pintu digunakan untuk menyatukan pintu dengan lemari pengering.
Gambar 3.11 menyajikan engsel pintu yang akan digunakan.
Gambar 3.11 Engsel pintu
j. Kompresor
Kompresor berfungsi untuk mensirkulasikan refrigeran kesemua komponen refrigerasi siklus kompresi uap. Untuk mendapatkan performa seperti yang diinginkan maka kompresor harus bekerja sesua dengan kondisi yang maksimal, terutama saat kondisi temperatur dan tekanan refrigeran pada saat masuk dan meninggalkan pipa kapiler. Kompresor yang digunakan untuk penelitian kali ini
berdaya 1 PK. Kompresor ini berjenis rotary dan menggunakan fluida kerja R22.
Gambar 3.12 menyajikan kompresor yang diigunakan.
Gambar 3.12 Kompresor yang dipakai
k. Kondensor
Kondensor berfungsi untuk merubah fasa refrigeran dari gas bertekanan tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi. Hal ini terjadi karena pada kondensor mengalami proses kondensasi. Refrigeran yang telah berubah menjadi cair kemudian dialirkan ke evaporator melalui pipa kapiler. Kondensor yang dipakai dalam penelitian ini mempunyai ukuran p x l x t, 60 cm x 23 cm x 50 cm. Gambar 3.13 menyajikan kondensor yang digunakan. Jenis kondensor ada;ah mondensor pipa bersirip, diameter pipa kondensor 5 mm, bahan pipa dari tembaga. Bahan sirip dari aluminium dengan tebal 0,2 mm dengan jarak antar sirip 1 mm.
Gambar 3.13 Kondensor
l. Pipa Kapiler
Pipa kapiler berfungsi menurunkan tekanan refrigeran sehingga temperatur menjadi turun, hal ini diakibatkan terjadinya gesekan pada pipa kapiler, maka tekanan dan temperatur menjadi turun. Tekanan refrigeran akan semakin turun jika diameter pipa semakin kecil. Setelah refrigeran mengalami kondensasi di kondensor, refrigeran cair tersebut masuk ke pipa kapiler lalu mengontrol jumlah refrigeran yang mauk ke evaporator agar sesuai dengan laju aliran refrigeran di evaporator. Pipa kapiler yang akan digunakan dalam penelitian ini berukuran 0,80 mm. Gambar 3.14 menyajikan pipa kapiler yang digunakan. Panjang pipa kapiler 2,1 m dengan diameter 0,80 mm.
Gambar 3.14 Pipa kapiler
m. Evaporator
Evaporator berfungsi sebagai sebuah media penguapan cairan refrigeran yang berasal dari pipa kapiler. Penguapan pada cairan refrigeran ini bertujuan untuk menyerap panas dari ruang yang akan didinginkan melalui perpindahan panas dari dinding. Evaporator bahkan sering disebut cooling, boiler, dan lainnya tergantung dari bentuknya, hal ini dikarenakan kegunaannya juga berbeda-beda, maka dari itu evaporator dibentuk sesuai perencanaan yang diinginkan. Evaporator yang akan digunakan dalam penelitian ini berukuran p x l x t, 70 cm x 16,5 cm x 21 cm.
Dengan daya sebesar 1 PK. Gambar 3.15 menyajikan evaporator yang digunakan.
Jenis evaporator adalah pipa bersirip.
Gambar 3.15 Evaporator n. Kipas Kondensor
Kipas berfungsi untuk mensirkulasikan udara panas pada ruangan pengering, agar udara panas lebih merata pada keripik gendar saat proses pengeringan. Pada penelitian ini menggunakan kipas berdaya 15W. Dengan dengan
ukuran diameter sebesar 40 cm dan menggunakan 5 sudu. Gambar 3.16 menyajikan kipas yang digunakan.
Gambar 3.16 Kipas Kondensor
o. Refrigeran
Refrigeran berfungsi untuk menyerap dan melepas kalor dari dan ke lingkungan. Refrigeran merupakan jenis gas yang digunakan sebagai fluida pendingin. Fluida kerja yang digunakan adalah R22, yang bersifat ramah lingkungan.
p. Presure Gauge
Presure Gauge berfungsi untuk mengukur tekanan refrigeran kedalam sistem, saat pengisian maupun pada saat beroperasi. Dalam mesin pengering keripik gendar ini salah satu presure gauge mengukur tekanan masuk kompresor dan satu lagi mengukur tekanan keluar kompresor. Gambar 3.17 menyajikan pressure gauge yang digunakan.
Gambar 3.17 Pressure Gauge
3.2.1.2 Alat Yang Dibutuhkan
Diperlukannya peralatan yang digunakan untuk pembuatan lemari mesin pengering keripik gendar, terdiri dari :
a. Mesin gergaji triplek
Dalam membuat lemari pengering yang terbuat dari triplek, diperlukannya sebuah alat untuk memotong triplek yang akan digunakan. Biasanya alat yang
Dalam membuat lemari pengering yang terbuat dari triplek, diperlukannya sebuah alat untuk memotong triplek yang akan digunakan. Biasanya alat yang