d. Kemungkinan mendatangkan modal melalui panenan kaju kehutanan setjara ilmiah dan tidak merugikan hutan2 jang bersangkutan. Luas seluruh "nonreserved forest" di Indo nesia adalah 729.301 km2.
Eksploitasi sementara ditudjukan kepada bagian nonreser ved forest untuk Kalimantan jang luasnja 370.197 km2. Tiap2 km2 hutan kaju dapat menghasilkan 800 m3.
Sementara dipikirkan pengolahan 12%% dari nonreserved forest Kalimantan tiap tahun, sehingga hasil 1 tahun diha rapkan 370.197 X 800 m3 dibulatkan 37.000.000, m3. jang berharga : 37.000.000 X $ 20 = $ 740 djuta, Dari hasil ini 50% mendjadi bagian Pemerintah dan 50% men djadi bagian Pengusaha, jaitu sesudah dari seluruh hasil itu dipotong 21,5% untuk : depreciation, damages tool, mendjadi biaja mengambil dsb. jaitu masing2 ½ X ($ 740 — 21,5% X $ 740)) djuta = $ 291 djuta. Ini adalah pendapatan opti mum dalam keadaan jang sempurna. jang dapat segera di realisasi adalah lebih sedikit. e. Kemungkinan pendatangan modal melalui perikanan laut se tiara besarbesaran dan pengeksporan ikan laut.
Luasnja laut perikanan jang dapat diusahakan adalah 5.000.000 km2. Tiap km2 dapat menghasilkan serendah2nja 2 ton ikan dalam 1 tahun. Dengan mengidjirikan pengusaha memperkembangkan peri kanan laut 'setjara besarbesaran, maka akan diperoleh ha sil sedjumlali 5.000.000 X 2 ton = 10.000.000 ton 1 tahun, dengan liarga $ 130 per ton = $ 1.300 djuta, sedangkan biaja produksi = $ 300 djuta. Hasil jang diharapkan adalah ½ X ($ 1.300 — $ 300) = $ 500 djuta tiap tahun mulai tahun 1962, Pada achir 1967 hasil laut ialah 6 X $ 500 djuta = $ 3000 djuta, Hasil ini adalah pendapatan optimum dalam keadaan jang sempurna. jang dapat segera direalisasi adalah lebih sedikit. Kemungkinan mendatangkan modal melalui pengolahan mi njak bumi.
1. Kenaikan tambahan produksi minjak bumi dengan tjara mendatangkan alat' dan tenaga ahli dengan modal $ 1.500 djuta pada achir tahun 1966 akan mendjadi 212 djuta ton. Untuk biaja produksi, ditaksir 20% atnu 42,4 djuta ton. Sisa bersih : 169,6 djuta ton Hasil bersih untuk Pemerintah 169,6 djuta ton x 2 $ 14 = $ 1.187,2 djuta dibulatkan $ 1.180 djuta, 2. Hasil P.U.I.M. dengan mendatangkan barang2 modal = $ 1,050 djuta,
3. Keuntungan jang diperoleh dari pengimporan barang2
jang akan didjual lag( kepada raklat
($ 750 djuta X Rp. 77) — ( $ 750 djuta X Rp. 45,) = Rp. 24 milijar.
Djumlah hasil jang diharapkan ialah ($ 1180 I $ 1050) djuta + Rp. 24 miljar,
g. Untuk rugi mendatangkan modal dari luar negeri. 1. Kredit :
(a) Faktor2 jang merugikan :
(1). Harus membajar bunga jang seluruhnja ber djumlah ± 25 — 40% dari modal,
(2). Harga barang2 modal jang diperoleh melalui kredit 20 — 30% lebih mahal.
(3). Angsuran kredit dan bunga, susah ditepati dji ka produksi tidak mentjapai volume jang di harapkan,
(4). Risiko sepenuhnja dipikul oleh hangsa kita.
(5). Berhubung dengan kondisi (b) maka hampir tidak ada projek jang wadjar dilaksanakan melalui kredit luar negeri.
(b) Kondisi ekonomis.dan politis dalam negeri.
(1). Harus ada stabilitet politik dalam negeri untuk.
(2). Berhubung tidak stabilnja politik dan ekonomi dapat mendjamin kelantjaran pembangunan.
untuk sementara projek2 dibatasi pada jang a). I.C.O.R. rendah.
b). Membutuhkan sedikit technical skill,
c). Jung sangat lekas menghasilkan, supaja dapat melunasi kredit luar negeri.
2. Pengumpulan modal melalui usaha2 jang berdasarkan "pattern of terms fifty2",
(a) Faktor'jang menguntungkan;
(1) Tidak ada hutang sehingga tidak ada bunga dan angsuran modal.
(2) Tidak ada risiko keuangan.
(3) Hasil langsung mendjadi penghasilan negara. (b) Kondisi, ekonomis dan politis dalam negeri,
(1) Harus mempertimbangkan projek2 setjara objek tif serta didasarkan perhitungan untung rugi ba gi rakjat.
(2) Ketidak stabilan ekonomis dan politik tidak menghalangi pembangunan projek, karena te naga pelaksana tidak ada hubungan dengan ke adaan politik dan ekonomi dalam negeri:
3. Faktor2 memperbesar kebenaran perhitungan.
(a) Dalam projek kehutanan barn sebahagian „non reserved forest” Kalimantan jang digarap sedang nonreserved forest dikepulauan lain tetap belum digarap.
Dari nonreserved forest di Kalimantan itu hanja 1214% dipergunakan tiap2 tahun.
(b) Dalam projek perikanan laut, lazimnja volume ha sil adalah 25 ton per km2, sedang. diperhitungkan hanja 2 ton per km2 jang berarti barn 8% dari vo lume sebenarnja.
(c) Dalam projek minjak bumi, areal jang digarap Ba ru merupakan lebih kurang 10% dari luas nja seluruh daerah2 jang mengandung minjak bumi. Disamping 3 projek pokok jang dikemukakan di atas sudah terang masih ada bidang lain jang setjara njata membantu pembajaran pembangunan misalnja : bidang kopra, bidang karat dan bidji sawit dan lain. 4. Pengumoulan modal melalui setengah dari pindjaman
luar negeri (kredit) dan setengah melalui sumber be.
rupa projek pembangunan jang diselenggarakan dengan production share.
§ 567. Perentjanaan kebidjaksanaan pindjaman luar negeri
a. Perentjanaan kebidjaksanaan pindjaman luar negeri harus bertolak dari penilaia.n kemampuan bangsa Indonesia untuk membajar kembali dan tidak dapat didasarkan atas ke inginan atau keperluan sematamata untuk memindjam uang dari Mar negeri.
b. Pendapatan Nasional 1960 ditaksir Rp. 206 miljar atau Rp, 2.220 per capita. Walaupun belum tersedia angka2 sta tistik mengenai biaja penghidupan per capita per tahun na
pulan bahwa pendapatan kita per capita dewasa ini termasuk kepada golongan pendapatan jang sangat rendah. Menurut taksiran kemudian jang lebih hati2 maka Pendapatan Nasio nal 1960 = Rp, 236 miljar atau percapita — Rp, 2.500.
c. Pembiajaan Pembangunan Semesta atas dasar penarikan uang dari masjarakat, baik melalui politik perpadjakan, maupun melalui politik deficit spending tidaklah sesuai de ngan Sila perkemanusiaan dari Pantjasila kita jang didjun djung tinggi itu, karena tiap sistim perpadjakan ataupun de ficit spending pada hakekatnja akan memperberat beban rakjat.
Pindjaman Iuar negeri akan menambah babas rakjat, kare na tiap pindjaman disertai kewadjiban membajar bunga.
Penambahan beban jang berupa pembajaran bunga modal pindjaman luar negeri itu lebih akan terasa berat oleh rak jat karena modal asing serta bunganja itu harus dibajar kem bali dengan valuta using jang berarti pembajaran dengan barang2 ekspor.
Untuk mentjari modal Pembangunan Semesta, melalui kredit pindjaman Mar negeri jang sedjumlah $ 690 djuta dan Rp. 31 miljar setahun amat berat, sebab pindjaman luar negeri ti dak dapat dilepaskan dari penilaian kemampuan membajar kembali, Harus diperhatikan bahwa Negara kini telah mem punjai hutang sedjumlah
± $ 1.40 djuta ± Rp. 50 milijar
d. Berhubung dengan tertutupnja djalan memperoleh modal pembangunan melalui kredit luar negeri maka timbul pemi kiran dan pernjataan untuk mempertaruhkan sebagian ke kajaan alam Indonesia kedalam usaha pengumpulan mo dal dengan konsep kerdja sama dengan pengusaha2 dari dunia internasional untuk segera memberikan hasil konkrit dan untuk pembiajaan Pembangunan Semesta jang hakekatnja berupa penambahan Pendapatan Nasional.
§ 568. Rentjana dibidang politik dan sistim iuran jang sehat
a. Dalam ekonomi negara sekarang belum dapat dihindarkan bahwa sebagian besar daripada penerimaan Negara ber sumber kepada pemungutan berbagai iuran jaitu : 1. Padjak langsung 2. Padjak tidak langsung 3. Penerimaan berupa berbagai iuran perusahaan negara 4. Hasil pemungutan lainnja. 624
b. Dari angka2 jang digambarkan dalam Nota Keuangan Negara 1960 njata bahwa penerimaan negara hampir 75% berdasarkan hasil' pemungutan padjak langsung atau tidak langsung dan 25% berdasarkan hasil' pemungutan iuran jang berhubungan dengan usaha2 produktip, c. Dinegara2 jang telahmadju sebagian terbesar daripada beban perpadjakan itu diletakkan atas pundak perusahaan (terutama industri berat dan industri ringan), sehingga hasil' pemungutan padjak diperoleh melalui proses produksi dan konsumsi masal. Menunggu hasil pelaksanaan Pembangunan Semesta Be rentjana, Pemerintah sebaiknja segera mulai menggeser titik berat pemungutan loran dari sektor perpadjakan kepada.sektor produktip, sehingga dalam tahun2 jang akan datang perbandingan antara djumlah hasil pemungutan padjak dan djumlah hasil pemungutan iuran dari sektor produktip mendjadi lebih sehat.
Kalau keadaan sekarang menundjukkan perbandingan: 73,2% (padjak) : 26,8%, (Iuran sektor produksi) maka tudjuan pertama dari politik dan sistim iuran adalah mewudjudkan perbandingan 25% (padjak) : 75% (Iuran sektor produksi). Tudjuan itu dapat terwudjud dengan melaksanakan rentjana Pembangunan Semesta.
Sebagian ketjil daripada tudjuan diatas, akan dapat ditja pal melalui
1. Perbaikan pelaksanaan (management) perusahaan jang diambil alih.
2. Rasionalisasi pelaksanaan perusahaan negara (I.C.W. dan I.B.W.) termasuk perusahaan Daerah2 Swatantra. Perusahaan jang mempunjai fungsi sosial supaja men tjiptakan anggaran belandja jang berimbang (sluitende begroting) dan memberi keuntungan jang wadjar.
3. Perusahaan atau badan jang dilaksanakan sebagai Djawatan didalam sesuatu Departemen jang menghasilkan barang atau djasa harus selekasnja direorganiseer dan dirasionnaliseer agar supaja badan terse'but tidak mem beri kerugian.
4. Perluasan volume serta dan penaikan nilai ekspor.
Dengan kenaikan volume dan nilai ekspor, padjak dari sektor perdagangan luar negeri akan naik,
§ 569. Rentjana dibidang devisen(impor — ekspor)
a. Kebidjaksanaan penambahan dan penggunaan devisen
Mengingat bahwa ekspor merupakan sumber pendapatan de visen negara maka djalan jang pendek untuk dapat mem biajai pembangunan ialah mendorong produksi barang2 eks por.
Tjadangan devisen jang tjukup perlu diadakan dalam suatu taraf untuk mempertahankan liquiditet negara dalam hu bungannja dengan luar negeri.
Persediaan devisen guna mendatangkan barang2 perlu di ambil tindakan2 untuk niendoroug produksi barang2 ekspor antara lain
1. Meningkatkan ekspor barang2 azasi pertanian, antara lain karat, kopi, teh, kopra, dengan djalan penetapan quota jang diwadjibkan bagi daerah penghasil.
2. Meningkatkan produksi tambahan dan perbaikan kwa liteit menurut suatu program jang effektip,
3. Eksploitasi tambang minjak bumi jang diusahakan sendiri oleh Pemerintah atau dengan sistim production share (Argintinepattern) . 4. Eksploitasi besar2an mangan, bauxit, bidjih besi, nikel, uranium jang untuk sementara diekspor langsung f.o.b. 5. Industri kaju dengan production share atau joint, atau pun diserahkan kepada Swasta. 6. Mengembangkan perikanan laut oleh Pemerintah dan/ atau nelujan Indonesia.
Dengan meningkatkan ekspor persediaan devisen ma kin baik maka penggunaannja dapat diatur sebagai bari kut :
1. Prognoge penggunaan devisen dapat dirantjangkan da lam djangka jang pandjang dan dapat langsung meme san barang2 jang diperlukan,
2. Menggeser penggunaan devisen dari barang2 konsum si kebarangbarang modal,
3. Tjadangan devisen jang tjukup memang perlu diadakan dalam taraf untuk mempertahankan liquiditet negara dalam hubungan dengan luar negeri, b. Politik dan sistim imporekspor. 1. Politik impor, (a) Pemerintah (melalui perusahaan negara) melaksana kan sendiri impor : Sandang Pangan,
Barang konsumsi lainja, barang baku dan barang penolong,
(b) Barang modal jang diperlukan sendiri oleh Peme rintah. Harus diberi kesempatan dan fasilitet seluas nja kepada pihak swasta dalam bidang impor me.,
ngenai barang lain, 2. Politik ekspor :
Hasil perkebunan Negara. Hasil pertambangan Negara.
(b) Barang dan hasil ekspor lain dapat diselenggarakan oleh swasta :
3. Dengan politik impor dan ekspor seperti digambarkan diatas dimaksudkan supaja.
(a) Pemerintah menguasai dan mengawasi sepenuhnja bidang impor dan ekspor, tanpa mengganggu. risiko ketjuali dalam hal 12 tertentu. (b) Swasta diikutsertakan dalam bidang impor dan eks por: 4. Sistim impor. Harus diadakan penjederhanaan dalam peraturan impor dan diberikan fasilitet jang bersifat meringankan pemu ngutan terhadap barang impor. 5. Sistim ekspor : Untuk membantu ekspor drive barn, diadakan kembali sistim „Verplichte quotum” (volume wadjib) terhadap bahan ekspor tertentu dan sistim bonus untuk produsen atau pegawai dan pekerdja perkebunan dan pertambangan jang berhasil memenuhi quotumnja (volumenja), Dalam bidang ekspor perlu diberi perkreditan dibidang „Collec tirende handel” untuk hasil hutan pertanian dan jang se. rupa dengan itu. § 570. Rentjana dibidang stabilisasi Keuangan Negara a. Usaha2 dalam djangka pendek.
1. Dalam sektor anggaran belandja negara.
(a) Pengeluaran routine tidak melebihi penerimaan Ne gara sehingga pindjaman luar negeri maupun dalam negeri dan defisit hanja digunakan untuk pemba ngunan. (b) Pengeluaran jang bersifat konsumtif, dihentikan dan pengeluaran jang tidak perlu ditjegah. 2. Menaikkan daja bell rakjat. (a) Pemetjahan masalah barter liar dan penjelundupan baik dari dalam keluar maupun dalam lalulintas ba rang dari Iuar kedalam, (b) Menarik uang jang ditahan oleh masjarakat dengan djalan memberi bunga deposito djangka pandjang jang menarik.
(c) Mendjamin rahasia bank jang hanja dapat digang gugugat apabila ternjata perlu untuk pembuktian perkara dalam pengadilan.
(d) Memberi fasilitet jang mudah kepada mereka jang membuka perusahaan produktip untuk serta melak sanakan Rentjana Pembangunan tahapan pertama. (e) Menjediakan kredit dengan bunga jang menarik bagi pengusaha jang bergerak dalam lapangan pro duksi, (f) Memberi padjak jang ringan kepada para produsen. 3. Dalam perdagangan hear negeri, Djalan jang harus ditempuh setjepat mungkin ialah usa. ha menaikkan volume ekspor dengan djalan : (a) Menaikkan produksi barang azasi antara lain karet, kopra, teh, tembakau dengan djalan penetapan quo ta pemberian bonus dan premi kepada produsen, (b) Eksplotasi dan eksploitasi barang pertambangan
untuk sementara diekspor dan kemudian mengusahahakan sendiri.
b. Usaha2 dalam djangka pandjang,
Usaha2 stabilisasi keuangan dalam djangka pandjang ialah realisasi pembangunan industri menengah dan industri berat jang tertjantum dalam pola Pembangunan Semesta ke I, ke II dan selandjutnja,
§ 571. Haluan terhadap masa datang dibidang : Politik dan sistim Perbankan/Perkreditan
a. Perbankan.
Garis pokok dalam mentjari arah didunia perbankan, di masa datang Indonesia diliputi oleh :
1. baru mengarah kestabilitet politik ;
2. baru mengarah kestabilitet ekonomi/keuangan/moneter; 3. keamanan dalam negeri ;
4. tidak meninggalkan problemmassa ;
5. disebelah fihak menghadapi projek2 besar, piojek2 „rak sasa” dalam ukuran dewasa ini ;
6. alam Ekonomi Terpimpin ;
7. bahaja inflasi dan kanjungktur jang melondjak2 ; b. Tindakan integral jang segera harus dilakukan,
1. Dari sudat politik dan sistim perbankan perlu diadakan : (a) Undang2 Induk Perbankan dan,
(b) Penindjauan kembali undang2 bagi tiap Bank Ne gara, 2. Dibidang perUndang2an dapat diatur
(a) semua Bank Negara politis harus dibawah satu Ke menterian ;
(b) usaha penerbitan;
(c) harus tidak ada rebutan'bidang kerdja dari pelbagai djenis Bank Negara ;
(d) sifat saling mengisi dan membatu antara Bank2 Ne gara dart swasta ;
(e) hubungan antara Pemerintah dan Bank2 Negara ; (f) soal pengawasan;
(g) soal bunga ; (h) arah spesialisasi; (i) soal Undang2 inhaeren
(j) penitik beratkan kepada bidang pembangunan ; (k) memulihkan kembali kedudukan rahasia bank ;
(1) perlalulintasan uang dan kredit (geldcreditver keer) harus liwat trangsiksi perbankan,
3. Persaratan jang harus nampak, dapat disebutkan :
(a) suatu Bank Negara harus merupakan perusahaan perbankan (jang dapat „seifbedruipend” dan tidak merupakan „djawatan distribusi uang”) ;
(b) kemungkinan untuk mengadakan usaha akumulasi
'tang ;
(c) penentuan pembagian laba, jang menundjukkan be rapa jang disetorkan pada Negara dan berapa jang ditjadangkan ;
(d) sifat Bank Negara jang mendjalankan „staatzorg” dan membantu kelantjaran pembangunan dan per ekonomian Negara ;
(e) tinggi bunga serta perongkosan lainnja harus sela jak mungkin ;
(f) kemungkinan akan timbul suatu standaard bunga; (g) pimpinan Bank Negara adalah mempunjai tugas Ne
gara bersifat „staatzorg”. Perusahaan jang didjadi kan atas kadar staatzorg jang harus dapat memberi kan laba dari „suververrhogen” dan kelebihan la ba harus digunakan untuk menurunkan tingkatan bunga;
(h) adanja instansi pengawasan jang bersifat financieel technis dan bedrijfsekonomis;
(i) Bank Negara merupakan badan hukum jang dite tapkan dengan Llndang2 (rechtspersoon bij wetsaan duiding).
c. Usaha bank:
1. Mobilisasi tabungan ;
(a) sebagai perusahaan jang berdasarkan „cast and accounting” bank djuga mentjari laba dengan tidak melupakan togas turut melantjarkan pembangunan Negara, Dalam rangka tabungan terpimpin dapat oleh Pemerintah dengan suatu perundang2an mendirikan umpama Dana Pembangttnan Rakjat (Dana jang terbentuk dari tabungan rakjat tiap keluarga).
(b) usaha penjimpanan ini dapat pula dilakukan pada tiap debitur bank dan simpanan wadjib ini dalam masa djangka waktu tertentu tak boleh diambil Berta dibungai dalam masa itu, hal ini dapat diatur se demikian rupa sehingga tidak memberatkan sipemin djam ;
(c) usaha ad (a) dan (b) ini usaha pengambilan ke pertjajaan rakjat baik terhadap mata uang, maupun kepada karja2 hank, sambil menabung dan memu puk modal untuk pembangunan,
2. Instansi2 dan Badan2 Pemerintah;
(a) mengharuskan kepada Instansi2 dan Badan2 Perna rintah mendjalankan transaksi ekonomi dan keuang annja meliwati bank dengan djalan pemindah bu kuan dan
(b) melarang mendepositokan uangnja pada bank swasta, 3. Pimpinan suatu pusat bank. (a) dibawah pimpinan suatu bank pusat dibentuk suatu lalulintas giro ; (b) dalam sistim ini setiap orang/badan dan hokum da pat menjimpan uang di bank ; (c) uang tersebut dengan melalui suatu ketentuan hanja dapat digunakan untuk pembajaran melalui pemin dahan bukuan (pengetjualian bila sipenjimpan me minta uangnja kembali). Keuntungan dari sistim tersebut ialah : (1). kenaikan deposito ; (2). memperbesar lalulintas giral; (3). tidak ada kemungkinan pemalsuab tjek. 4. Funksi bank:
(a). peranan bank disesuaikan dengan politik pemba ngunan Pemerintah, disamping services jang dibe rikan oleh bank dan
(b). mengadakan penertiban dan usahanja supaja di tudjukan pada bidang rakjat banjak,
d. Hubungan perbankan dengan dunia Iuar.
1. perlu ditindjau hubungan bank chusus dengan badan2
Pemerintahan ;
2. funksi Landskas pada hakekatnja dapat diurus oleh bank ;
3. pembiajaan berbagai djenis pembangunan diserahkan pada bank itu ;
4. Pemerintah mengawasi bank2 Negara melalui Djawa tan Akuntan Negara;
5. diusulkan agar bidang meneter dimasukkan kedalam Dewan Pembangunan/Ekonomi jang merupakan „policy making board” untuk Pemerintah guna memberikan garis haluan perbankan
6. hubungan dWbidang „policy” antara Pemerintah de.
ngan bank didjalankan melalui ibank sentral (Bank Indonesia) dan chusus untuk Bank Pembangunan In donesia garis haluan perbankan itu langsung dengan Dewan Pembangunan/Ekonomi dan Moneter;
7. dalam dewan selaln dari Menteri2 jbs. djuga duduk Gubernur Bank Indonesia dan Presiden Bank Pent bangunan Indonesia ;
8. sifat „advisory” setjara diminta atau tidak senanti.asa dapat dilakukan oleh Bank sentral dan Bank Pemba ngunan Indonesia kepada Menteri Keuangan atau menteri lainnja dengan setahu Menteri Keuangan ; 9. Penguatan Dewan Pembangunan/Ekonomi dan Moneter
dapat diadakan dengan mengadakan sistim panitia kerdja ;
10. Bank2 Negara setjara perusahaan patut dapat ditem patkan dalam pengawasan Dewan Pengawas Keuang an.
e. Hubungan kedalam antar bank.
Dalam memandang dunia perbankan dewasa ini, adalah mutlak mengindahkan alam fikiran dan haluan Negara. Unsur2 alam fikiran jang penting adalah : 1. rangka berfikir kembali ke U.LLD, 45, dimana pasal 33 merupakan satu garis dasar jang penting ; 2. rangka haluan Negara : demokrasi terpimpin dan eko nomi terpimpin ; 3. garis masjarakat adil dan makmur ; 4. masjarakat sosialisme Indonesia ; 5. rangkabesar Pembangunan Semesta Berentjana (Ama nat Presiden), 631
f. Bidang koordinasi antarbank.
1. bank sentral (Bank Indonesia) jang „mewakli” Bank2
Pemerintah (Negara) lainnja dalam Dewan Pembangu nan/Ekonomi dan Mounter, mendjalankan koordinasi setjara instruktif ; 2. adanja sifat koordinasi jang timbalbalilc antara jang di koordinir dan jang mengkoordinir ; 3. pengkoordinir djangan melewatkan begun sadja bank2 jang sudah spesifik mempunjai bidang kerdja jang chu sus ; 4. politik perimbangan akan senantiasa terdjalin didalam nja, lebih2 karena dalam alam Pembangunan Semesta Berentjana ini akan tampak :
(a) tugas dari masing2 bank negara/swasta;
(b) bidang kerdja jang ditentukan, sehingga terhindar „rebutan” antara bank jang „berkuasa” terhadap jang „masih ketjil” dan muda ;
5. koordinasi berarti mengkoordinir kepentingan masjara kat dalam hubungannja dengan perbank/perkreditan, baik :
(a) masjarakat jang merupakan „golongan” (perusaha an besar), (b) masjarakat jang tergolong „menengah”, maupun (c) golongan masjarakat jang bersifat rakjat banjak. 6. koordinasi oleh bank sentral dengan bank', Negara lain nja didjalankan pula untuk penjesuaian segala sesuatu dalam pemberian kredit pada Bank2 Negara atas dasar soepel, flexible dan harus tidak mengganggu djalannja produksi. g. Bidang pengawasan. 1. Pengawasan jang bersifat extern : (a) pengawasan dari Departemen Keuangan ; (b) pengawasan dari Djawatan Angkutan Negara (c) pengawasan Dewan Pengawasan Keuangan; 2. Pengawasan jang bersifat intern :
(a) pengawasan dilakukan oleh bank sentral terhadap bank2 Negara ;
(b) perlu diadakannja penindjauan kembali P.P, No. 1 tahun 55 tentang pengawasan terhadap bank ;
(c) bank2 Negara harus mendjalankan pengawasan ter hadap tumbuhnja sendiri ;
(d) baik sekali djika bank sentral melakukan pengawa san dibidang politik kredit kwalitatif dan kredit kwantitatif.
3. Bidang penjaluran fikiran sehat:
(a) fikiran jang progresif dan sehat supaja dapat di tampung serta disalurkan;
(b) adanja pergantian Dewan Pimpinan; (c) Baling pengertian antara pimpinan2 bank. 4. Bidang pembagian tugas antara bank :
(a) pembagian tugas dan bidang kerdja dari pelbagai djenis bank Pemerintah, swasta dan kooperasi ; (b) tidak adanja matarantai jang lem.ah dalam Pem
bangunan Semesta Berentjana jang disebabkan oleh perbankan dan perkreditan ;
(c) adanja spesialisasi jang ditudjukan untuk Iebih mentjepatkan kehidupan ekonomi dan kenaikan produksi (d) tugas Bank Indonesia masih perlu dihadapkan ke pada : (1) menentukan struktur bunga (2) mengurus sirkulasi uang ; (3) mendjadi „agency” dari Pemerintah; (4) menjimpan, mengatur dan mengawasi hal2 me ngenai alat pembajaran luar negeri sesuai de ngan kebidjaksanaan Dewan Pembangunan/ Ekonomi dan Moneter ;
(5) membimbing dan mendorong pendidikan kader2
bank' untuk seluruh Indonesia ;
(6) mengadakan penjelidikan guna kepentingan pembangunan;
(7) mendjadi „bankers Bank” dan „lender of last ressort” ;
(8) melantjarkan organisasi perkreditan untuk se luruh Indonesia.
(e) Bank Negara Indonesia, bidang usahanja adalah terletak pada lapangan perdagangan umumnja dan lapangan import dan ekspor pada chususnja dengan ketentuan bidang lalulintas ekspor dan import se bagai akibat pembangunan langsung dari projek2
Rentjana Pembangunan Semesta adalah termasuk lapangan Bank Pempangunan Indonesia.
(f) Bank Industri Negara ;
(1) perusahaan jang telah dilajani tetap dilajani, sedangkan perusahaan baru harms mendapat pelajanan ;
(2) adanj'a penegasan b`ahwa semua pembiajaan projek perindustrian jang masuk dalam rang ka Pembangunan Semesta, diserahkan kepada Bank Pembangunan Indonesia.
(g). Bank Rakjat :
(1) sesudah masa peralihan jang tjukup baik dad B.R.I. jang akan melepaskan bidang kredit ketjil, maupun Bank lain jang diserahi menam pung bidang ini, maka sebaiknja ditinggalkan bidang ini oleh B,R.I, jang sudah mendjalan kan kredit menengah ;
(2) kedudukannja sebagai Bank devisen harus menghendaki penindjauan.
(h) Bank Tani dan Nelajan :
(1) bidang kerdja berputar disegi socialekonomi;