• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS

HASIL PENELITIAN

D. Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS

ii. Tabulasi Silang antar Variabel Penelitian

1. Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS

Tabel 4.20 Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS

No. Kriteria Perilaku BAB

Perilaku BAB Sebelum

STOPS

Setelah STOPS

f % F %

1 Tidak Memenuhi Syarat 59 47,2 41 32,8

2 Memenuhi Syarat 66 52,8 84 67,2

Total 125 100 125 100

Mc Nemar dengan p = 0,002 < 0,05 H0 ditolak

Berdasarkan tabel 4.20 diketahui ada perbedaan perilaku BAB dalam program STOPS Tahun 2015 (Mc Nemar, p = 0,002 < 0,05 H0 ditolak).

BAB V PEMBAHASAN

D. Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui sebagian besar responden sebelum STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 66 responden (52,8%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 59 responden (47,2%) dari total 125 responden.

Menurut (Suliha, 2011) perilaku adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan, yang dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang. Sedangkan menurut (Notoatmojo, 2010) menjelaskan bahwa perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004). Perilaku manusia terbentuk karena adanya faktor kebutuhan (Sunaryo, 2004).

Didapatkannya sebagian besar responden sebelum STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat kesehatan disebabkan secara umum masyarakat memang sudah memiliki jamban keluarga jenis WC.

Umumnya jika membuat WC adalah WC leher angsa dilengkapi dengan tanki septik tank. Hasil pengamatan peneliti di lokasi penelitian, pembuatannya sudah cukup baik dalam arti sudah memperhatikan aspek keamanan terhadap pencemaran air. Masyarakat sudah memahami bahwa jarak peresapan dengan sarana air bersih (sumur gali maupun sumur pompa tangan) sudah lebih dari 10 meter. Pembangunan sarana dengan jarak demikian jauh ini masih memungkinkan karena lokasi merupakan lokasi pedesaan sehingga rata-rata memiliki tanah cukup luas. Namun demikian pada golongan ekonomi menengah ke bawah masih ada masalah kepemilikan jamban. Oleh karenanya pada masyarakat ini secara umum memanfaatkan aliran air sungai. Ada beberapa jalur sungai yang mengalir terus sepanjang tahun ada ada yang kering di saat musim penghujan.

Jika dikaji lebih lanjut hubungannya dengan usia responden diketahui responden paling banyak berusia >35 tahun dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 37 responden (29,6%). Hal ini menunjukkan bahwa usia ada hubunganya dengan perilaku BAB pada responden. Asumsinya dengan semakin tua usia seseorang maka tingkat kedewasaan dalam berpikir juga semakin baik, sehingga ada perasaan malu jika BAB di sembarang tempat. Demikian juga dengan semakin tua usia seseorang maka semakin banyak informasi yang diterima sehingga lebih menyadarkan untuk mengubah perilaku BAB yang sebalumnya tidak memenuhi syarat kesehatan bersedia berubah menjadi lebih sehat.

Demikian juga jika dikaji hubungannya dengan latar belakang pendidikan responden, berdasarkan hasil analisis diketahui responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 28 responden (22,4%). Hal ini memberikan gambaran semakin tinggi pendidikan seseorang maka konsep berpikirnya juga semakin baik sehingga berimplikasi kepada perilakunya yang semakin baik pula. Termasuk dalam hal ini perilakunya di dalam buang air besar dengan di dukung pendidikannya yang semakin tinggi maka kesadarannya untuk BAB ditempat yang memenuhi syarat kesehatan juga semakin baik.

Terakhir jika dikaji berdasarkan jenis pekerjaan, berdasarkan hasil analisis diketahui diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 29 responden (23,2%). Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun saat ini sebagai petani akan tetapi dengan di dukung oleh kemampuan yang lain, tetap saja

dapat mewujudkan perilaku BAB yang memenuhi syarat kesehatan. Maksu di dukung disini adalah di dukung oleh kondisi lingkungan yang secara umum sudah memiliki gaya hidup modern, Perilaku Buang Air Besar Setelah

Program STOPS

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui sebagian besar responden setelah STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 84 responden (67,2%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 41 responden (32,8%) dari total 125 responden.

Perilaku seseorang memang terkadang sulit di ubah karena sudah membudaya. Mengubah perilaku masyarakat memang harus menggunakan berbagai macam strategi. Salah satu pendekatan yang dilakukan hingga saat ini adalah dengan program STOPS. STOPS adalah pendekatan terpadu mencapai dan mempertahankan bebas buang air besar terbuka (ODF) mencakup fasilitasi, analisis sanitasi, profil, praktek buang air besar dan konsekuensi, mengarah pada tindakan kolektif menjadi ODF (Kamal with Chambers, 2008).

Jka sebagian besar responden setelah STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat, maka hal ini disebabkan dengan adanya program ini maka pada sebagian masyarakat yang hingga saat ini belum BAB memenuhi syarat kesehatan, setelah mendapatkan pemicuan dari pihak keseatan mereka mulai menyadari pentingnya BAB di tempat yang memenuhi syarat kesehatan, misalnya di WC leher angsa atau jamban cemplung yang tertutup. Program ini memang ditujukan untuk menimbulkan kesadaran

masyarakat sendiri bahwa BAB memang tidak baik jika dilakukan di sembarang tempat. Melalu pendampingan secara rutin (dalam aplikasinya 1 mingu sekali dilakukan pemantauan perkembangan hasil STOPS oleh petugas kesehatan), maka yang tadinya tidak bergerak sama sekali, mereka ada perasaan malu jika selalu didatangi petuigas kesehatan. Akhirnya lambat laun mereka mulai menyediakan material untuk membangun jamban keluarga. Hal ini benar-benar terlihat bahwa mereka ingin berubah.

Jika dilakukan analisis lebih mendalam hubungannya dengan faktor usia terlihat responden paling banyak 20-35 tahun dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk positif yaitu 42 responden (33,6%). Hal ini memberikan gambaran usia 20-35 tahun merupakan sosok yang lebih cepat mau di ajak berubah dibanding usia >35 tahun atau <20 tahun. Bisa jadi pada usia tersebut merasa masih produktif, masih kuat bekerja dan masih memiliki rasa malu jika ada teman atau saudara datang kerumah dan meminta ijin BAB ternyata tidak memiliki jamban. Setelah mendapatkan pemicuan, dengan segera ingin berubah. Jadi pemicual ini efektif bagi mereka yang berusia 20-35 tahun.

Demikian juga jika dikaji atas dasar latar belakang pendidikan responden, berdasarkan hasil analisis responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 35 responden (28%). Hal ini memberikan gambaran bahwa sebelum STOPS kelompok ini yang terbaik dan setelah STOPS kelompok ini juga yang paling cepat berubah. Hal ini tentunya di dukung dengan mayoritas tingkat pendidikannya memang SMA serta kelompok ini yang paling mudah menerima dan memahami informasi sebagai sumber pengetahuan. Disisi lain

pengetahuan yang semakin baik akan mendukung terciptanya perubahan perilaku yang lebih baik. Tetapi pada hasil penelitian didapatkan masih ada 4 responden (3,2%) dengan pendidikan perguruan tinggi yang memiliki perilaku negatif dalam buang air besar. Hal ini bisa terjadi karena perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pendidikan, tetapi masih ada faktor lain yang berpengaruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai), faktor pendukung (lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan), faktor pendorong (sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat).

Selanjutnya jika dikaji atas dasar latar belakang pekerjaan, diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 39 responden (31,2%). Hal ini bukan berarti kelompok petani yang paling mudah menerima dan memahami pemicuan dalam program STOPS. Secara matematis memang mayoritas warga masyarakat pekerjaanya sebagai petani. Oleh karenanya yang dominan tampat perubahan tetap saja kelompok petani. Namun demikian ada benarnya juga karena umumnya kelompok petani ini tidak memiliki banyak pemikiran jika ingin berubah. Dalam arti ketika mengikuti pemicuan sebanrnya mereka tahu persis bahwa BAB yang baik itu di jamban keluarga seperti WC leher angsa.

Namun demikian bagi yang hingga saat ini BAB-nya belum memenuhi syarat kesehatan bukan karena tidak tahu, melainkan karena keterbatasan biaya untk membangun jamban keluarga.

E. Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS

Dokumen terkait