Dampak Program SToPS terhadap perilaku B.A.B Masyarakat
I N D A S A H
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
2014
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Keaslian Penelitian ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep STOPS ... 9
B. Konsep Perilaku ... 31
C. Kerangka Konsep Penelitian ... 48
E. Hipotesis Penelitian ... 49
BAB 3 METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 50
B. Kerangka Kerja ... 51
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 52
D. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional ... 52
E. Instrumen Penelitian ... 54
F. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 55
G. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data ... 55
H. Cara Analisis Data ... 56
I. Etika Penelitian ... 58
BAB 4 HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 59
B. Karakteristik Responden ... 60
C. Karakteristik Variabel ... 62
D. Tabulasi Silang antar Variabel ... 64
BAB 5 PEMBAHASAN A. Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS ... 74
B. Perilaku Buang Air Besar Setelah Program STOPS ... 77
C. .Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS 86
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 91
B. Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 94
LAMPIRAN ... 97
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Hartono, 2006).
Dalam kerangka tersebut ditetapkan visi pembangunan kesehatan yaitu
“Indonesia Sehat 2015”. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan kesehatan mampu mendorong kemandirian masyarakat mewujudkan lingkungan hidup dan perilaku sehat (Dinkes Jatim, 2007). Lingkungan yang sehat yaitu lingkungan yang bebas polusi, tersedia air bersih, sanitasi lingkungan memadai (pembuangan sampah, jamban, perumahan dan permukiman sehat). Sejalan dengan visi tersebut maka Indonesia ikut berperan serta dalam kesepakatan global untuk mencapai Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 yakni tersedianya air dan sanitasi sebesar 50% total penduduk. Pada kenyataannya harapan tersebut belum tercapai hingga saat ini dengan bukti angka kejadian penyakit infeksi masih tinggi demikian juga angka kepemilikan jamban masih rendah.
Sebagai bukti dari pernyataan di atas dapat dilihat bahwa insidens diare masih ada hingga saat ini yakni 13 ribu balita terkena diare setiap harinya (Cipta Karya, 2013). Menurut Riskesdas tauhn 2013 insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0 persen (Trihono, 2013). Di Jawa Timur hingga 2013
tercatat 1.563.976 penderita diare diantara 38.052.950 penduduk atau prevalence rate sebesar 41,09%o (Dinkes Jatim, 2013).
Disisi lain menurut Water Supply & Sanitation Collaborative Council, sebanyak 2,6 milyard manusia atau 40% penduduk dunia tidak memiliki akses untuk mendapatkan sanitasi dasar. Di Indonesia layanan sanitasi dasar yang aman baru tercapai 32,47% penduduk di perdesaan (Konferensi Sanitasi Nasional, 2009). Kepemilikan jamban keluarga juga masih rendah yaitu hanya ±22% penduduk belum mempunyai jamban (Dirjen Cipta Karya, 2009). Berdasarkan hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.(Depkes, 2013). Laporan Pemerintah RI ke Millennium Development Goals/MDGs) sebanyak 72,5 juta masih buang air besar di luar rumah. Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan sebanyak 100 juta orang belum memiliki jamban (Samhadi, 2013). Menurut prediksi Dirjen Cipta Karya, Indonesia masih memproduksi 5,6 juta ton tinja per-hari yang sebagian besar pembuangannya ke sungai.
Menurut Dinkes Jawa Timur dari 5.638.960 KK yang diperiksa hanya 5.322.945 KK (94,39%) yang memiliki jamban. Namun demikian jamban sehat berdasarkan KK diperiksa sebanyak 4.049.801, yang memiliki jambah sehat hanyay 69,36% (Dinkes jatim, 2013).
Masih adanya KK atau pemilik rumah yang belum memiliki jamban dan perilaku buang air besar yang masih tidak memenuhi syarat kesehatan tersebut dapat dipengaruhi banyak faktor. Menurut (Notoatmodjo, 2010)
faktor penentu perilaku terdiri dari 3 faktor yaitu predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai dan sebagainya), pemungkin (sumber daya atau keuangan, jarak, fasilitas/sarana dan prasarana) dan penguat (petugas kesehatan, petugas lain, kelompok referensi). Selain itu sesuai konsep perilaku yang dirumuskan dalam K-A-P (knowledge-attitudde- practice), mengandung makna bahwa terbentunya perilaku atau tindakan seseorang akan didahului oleh faktor sikap, dan sikap yang terbentuk akan didahului oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003). Dalam hal ini pengetahuan menjadi salah satu faktor penting disamping keuangan atau sosio ekonomi keluarga untuk membangun jamban keluarga.
Berdasarkan kajian teori di atas maka sebagai upaya untuk merubah perilaku buang air besar yang masih tidak memenuhi syarat kesehatan diperlukan berbagai strategi yang salah satunya adalah melalui penyuluhan.
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat harus melaksanakan pemberdayaan kepada masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan setiap individu, keluarga, dan lingkungan secara mandiri (Depkes, 2009). Melalui metode ini diharapkan ada peningkatan pengetahuan sehingga timbul sikap positif yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk perilaku buang air besar di jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Salah satu metode penyuluhan yang saat ini sedang digalakkan dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan STOPS . Melalui teknik ini masyarakat disadarkan bahwa mereka mempunyai masalah kesehatan (buang air besar) yang harus dihadapi, di atasi dan harus ada metode pemecahan masalahnya..
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
Adakah perbedaan perilaku buang air besar dalam program STOPS di Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui perilaku buang air besar dalam program STOPS 2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi perilaku buang air besar sebelum program STOPS b. Mengidentifikasi perilaku buang air besar setelah program STOPS.
c. Menganalisis perilaku buang air besar dalam program STOPS
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang efektivitas program STOPS terhadap perubahan perilaku buang air besar guna memperkuat teori perilaku yang sudah ada.
2. Manfaat praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi Kepala Keluarga terutama mengenai perlunya merubah perilaku dalam buang air besar dari tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi memenuhi syarat kesehatan yakni dengan membuang tinja di jamban keluarga.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Konsep STOPS
a. Pengertian STOPS
STOPS adalah pendekatan terpadu mencapai dan mempertahankan bebas buang air besar terbuka (ODF) mencakup fasilitasi, analisis sanitasi, profil, praktek buang air besar dan konsekuensi, mengarah pada tindakan kolektif menjadi ODF (Kamal with Chambers, 2008).
STOPS adalah pendekatan penggerakan pembangunan sanitasi melalui penggerakan pimpinan masyarakat setempat. Proses fasilitasi STOPS di masyarakat pada prinsipnya adalah “pemicuan” terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa dan rasa tanggungjawab yang berkaitan dengan kebiasaan buang air besar di sembarang tempat. Untuk membantu proses pemicuan tersebut digunakan beberapa komponen PRA seperti pemetaan, transect walk, alur kontaminasi dan simulasi lainnya.
Panduan ini bukan merupakan suatu alur yang “harus” diikuti atau dilakukan pada saat fasilitasi karena tidak ada aturan yang baku dalam proses pemicuan. Proses implementasi di masyarakat lebih berkaitan dengan kemampuan dan inisiatif fasilitator. Fasilitator bisa memulai dengan kegiatan pemetaan dilanjutkan dengan transect walk, alur kontaminasi, kemudian ke pemetaan lagi, atau memulainya
dengan transect walk, kemudian ke pemetaan, transect walk lagi, dan seterusnya. Fasilitator tidak harus menunggu sampai 1 komponen, 2 atau 3 komponen PRA selesai, namun setiap saat bisa langsung melakukan pemicuan jika kesempatan terbuka (misalnya masyarakat mulai menunjukkan ke arah itu).
Dibawah ini disampaikan hal-hal yang harus dipicu dan alat pemicu yang digunakan (selain pemetaan wilayah Buang Air Besar).
Tabel 2.1. Hal-Hal yang Harus Dipicu dan Alat Pemicu yang Digunakan (Selain Pemetaan Wilayah Buang Air Besar) No. Hal yang Harus
Dipicu Alat yang Digunakan
1. Rasa Jijik Transect walk
Demo air yang mengandung tinja, untuk digunakan cuci muka, kumur- kumur, sikat gigi, cuci piring, cuci pakaian, cuci makanan/beras, wudlu, dan lain-lain
2. Rasa Malu Transect walk (meng-eksplore pelaku open defecation)
FGD (Forum Group Discution) terutama untuk perempuan
3. Takut Sakit FGD
Perhitungan jumlah tinja
Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan didukung data puskesmas
Alur kontaminasi (oral fecal) 4. Aspek Agama
(rasa berdosa)
Mengutip hadist atau pendapat-pendapat para ahli agama yang relevan dengan perilaku manusia yang dilarang karena merugikan manusia itu sendiri
5. Privacy FGD (terutama dengan perempuan) 6. Kemiskinan Membandingkan kondisi di desa/dusun
yang bersangkutan dengan masyarakat
“termiskin” seperti di Bangladesh atau India
b. Langkah-langkah STOPS
Langkah fasilitasi di masyarakat pada teknik STOPS dilakukan dengan beberapa tahap :
1) Perkenalan dan Penyampaian Tujuan
Perkenalkan dahulu anggota tim fasilitator dan sampaikan tujuan tim ingin “melihat” kondisi sanitasi dari kampung tersebut.
Jelaskan dari awal bahwa kedatangan tim bukan untuk memberikan penyuluhan apalagi memberikan bantuan. Tim hanya ingin melihat dan mempelajari kehidupan masyarakat, bagaimana masyarakat mendapat air bersih, bagaimana kebiasaan buang air besar dan lain- lain. Tanyakan apakah mereka mau menerima tim dengan maksud dan tujuan yang telah disampaikan.
2) Bina Suasana
Untuk menghilangkan “jarak” antara fasillitator dan masyarakat sehingga proses fasilitasi berjalan lancar, sebaiknya lakukan pencairan suasana. Pada saat itu temukan isitilah setempat untuk “tinja” (misalnya tai dan lain-lain) dan BAB (ngising, naeng dan lain-lain).
3) Analisa Partisipatif dan Pemicuan
Memulai proses pemicuan di masyarakat yang diawali dengan analisa partisipatif misalnya dengan pembuatan peta desa /dusun/kampung yang akan menggambarkan wilayah BAB masyarakat. Pembuatan peta dilakukan di tanah dengan bantuan serbuk gergaji atau kapur atau bahan lain serupa yang sifatnya sederhana dan mudah didapat.
4) Tindak Lanjut oleh Masyarakat
Jika masyarakat sudah terpicu dan kelihatan ingin berubah, maka saat itu juga susun rencana tindak lanjut oleh masyarakat.
Semangati masyarakat bahwa mereka dapat 100% terbebas dari kebiasaan BAB di sembarang tempat.
5) Monitoring
Lebih kepada "memberikan energi" bagi masyarakat yang sedang dalam masa perubahan di bidang sanitasinya.
Dibawah ini diuraikan secara mendetail mengenai analisa partisipatif, pemicuan dan tindak lanjut oleh masyarakat.
1) Pemetaan Tujuan :
a) Mengetahui/melihat peta wilayah BAB masyarakat.
b) Sebagai alat monitoring (pasca triggering, setelah ada mobilisasi masyarakat).
Alat yang diperlukan :
a) Tanah lapang atau halaman
b) Bubuk putih untuk membuat bates desa.
c) Potongan-potongan kertas untuk menggambarkan rumah penduduk.
d) Bubuk kuning untuk menggambarkan kotoran.
e) Spidol.
f) Kapur tulis berwarna untuk garis akses penduduk terhadap sarana sanitasi
Bahan tersebut bisa digantikan dengan bahan lokal seperti : daun, batu, ranting kayu, dan lain-lain.
Proses :
a) Ajak masyarakat untuk membuat outline desa/dusun/kampung, seperti batas desa/dusun/kampung, jalan, sungai dan lain-lain.
b) Siapkan potongan kertas dan minta masyarakat untuk mengambilnya, menuliskan nama kepala keluarga masing- masing dan menempatkannya sebagai rumah, kemudian peserta berdiri di atas rumah masing-masing.
c) Minta mereka untuk menyebutkan tempat BAB-nya masing- masing. Jika seseorang BAB di luar rumahnya baik itu di tempat terbuka maupun "numpang di tetangga", tunjukkan tempatnya dan tandai dengan bubuk kuning. Beri tanda (garis akses) dari masing-masing KK ke tempat BAB-nya. Tanyakan pula di mana tempat melakukan BAB dalam kondisi darurat seperti pada saat malam hari, saat hujan atau saat terserang sakit perut.
Pendalaman/analisa partisipatif dari kegiatan pemetaan.
a) Tanyakan berapa kira-kira jumlah "tinja" yang dihasilkan tiap orang tiap hari. Sepakati jumlah rata-ratanya.
b) Minta masyarakat untuk menulis jumlah anggota keluarga di atas kertas yang berisi nama KK dan berapa jumlah total "tinja"
yang dihasilkan oleh 1 keluarga/rumah setiap harinya.
c) Ajak masyarakat untuk melihat rumah mana (yang masih BAB
di sembarang tempat) yang paling banyak menghasilkan tinja (beri tepuk tangan).
d) Pada penduduk yang BAB di sungai, tanyakan ke mana arah aliran airnya.
e) Pada penduduk yang berada di daerah hilir, tanyakan dimana mereka mandi. Picu masyarakat bahwa bapak/ibu telah mandi dengan air yang ada tinjanya.
f) Ajak masyarakat menghitung jumlah "tinja" dari masyarakat yang masih BAB di sembarang tempat perhari, kemudian perbulan. Berapa banyak "tinja" yang ada di desa/dusun tersebut dalam 1 tahun ? Berapa lama kebiasaan BAB sembarang tempat berlangsung ? Tanyakan kemana "perginya" tinja tersebut.
g) Di akhir kegiatan tanyakan : kira-kira kemana besok mereka akan BAB ? Apakah mereka akan melakukan hal yang sama ? Catatan:
Untuk kepentingan masyarakat dalam memonitor kondisi wilayah sendiri, peta di atas lahan "harus" disalin ke dalam kertas (flipchart). Jika tempat tidak memungkinkan, pemetaan bisa dilakukan menggunakan kertas yang besar.
2) Jalan-Jalan
Tujuan : melihat dan mengetahui tempat paling sering dijadikan tempat BAB dengan mengajak masyarakat berjalan ke sana dan berdiskusi di tempat tersebut, diharapkan masyarakat merasa jijik dan bagi orang yang biasa BAB di tempat tersebut
diharapkan akan terpicu rasa malunya.
Proses :
a) Ajak masyarakat untuk mengunjungi wilayah yang sering dijadikan tempat BAB (didasarkan pada hasil pemetaan).
b) Lakukan analisa partisipatif di tempat tersebut.
c) Tanya siapa saja yang sering BAB di tempat tersebut atau siapa yang hari ini telah BAB di tempat tersebut.
d) Jika di antara masyarakat yang ikut transect walk ada yang biasa melakukan BAB di tempat tersebut, tanyakan : bagaimana perasaannya, berapa lama kebiasaan itu berlangsung, apakah besok akan melakukan hal yang sama ? e) Jika di antara masyarakat yang ikut transect walk tidak ada
satupun yang biasa melakukan BAB di tempat tersebut tanyakan pula bagaimana perasaannya melihat wilayah tersebut. Tanyakan hal yang sama pada warga yang rumahnya berdekatan dengan tempat yang sering dipakai BAB tersebut.
f) Jika ada anak kecil yang ikut dalam transect walk atau berada tidak jauh dengan tempat BAB itu, tanyakan apakah mereka senang dengan keadaan itu ? Jika anak kecil menyatakan tidak suka, ajak anak itu untuk menghentikan kebiasaan itu, yang bisa dituangkan dalam nyanyian, slogan, puisi, dan bentuk kesenian (lokal) lainnya.
Catatan:
Jika masyarakat sudah terpicu tetapi belum total (yang mau
berubah baru sebagian), natural leader dan anggota masyarakat lainnya dapat melakukan kembali transect walk dengan membawa
"peta". Transect walk ini dilakukan dengan mengunjungi rurnah- rumah dan menanyakan kepada mereka kapan mereka mau berubah seperti masyarakat lainnya yang sudah mulai berubah?
Minta waktu yang detil, misalnya tanggal berapa. Tandai rumah masing-masing dengan tanggal sesuai kesiapan mereka.
3) Alur Kontaminasi (Oral Fecal)
Tujuan : mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. Alat yang digunakan antara lain : gambar tinja dan gambar mulut, potongan kertas dan spidol. Proses :
a) Tanyakan apakah mereka yakin bahwa tinja bisa masuk ke dalam mulut?
b) Tanyakan bagaimana tinja bisa "dimakan oleh kita"? melalui apa saja? Minta masyarakat untuk menggambarkan atau menuliskan hal yang menjadi perantara tinja sampai ke mulut.
c) Analisis hasilnya bersama dengan masyarakat dan kembangkan diskusi (misalnya FGD untuk memicu rasa takut sakit).
d) Simulasi Air yang Telah Terkontaminasi
Simulasi dengan menggunakan air ini dapat dilakukan pada saat transect walk, saat pemetaan atau pada saat diskusi kelompok lainnya. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana persepsi masyarakat terhadap air yang biasa mereka gunakan
sehari-hari. Alat yang digunakan adalah ember yang diisi air (air mentah/sungai atau air masak/minum) dan polutan air (tinja).
Prosesnya :
(1) Dengan disaksikan oleh seluruh peserta, ambil 1 ember air sungai dan minta salah seorang untuk menggunakan air tersebut untuk cuci muka, kumur-kumur, cuci pakaian dan lain-lain yang biasa dilakukan oleh warga di sungai.
(2) Bubuhkan sedikit tinja ke dalam ember yang sama, dan minta salah seorang peserta untuk melakukan hal yang dilakukan sebelumnya.
(3) Tunggu reaksinya. Jika ia menolak melakukannya, tanyakan apa alasannya ? Apa bedanya dengan kebiasaan masyarakat yang sudah terjadi dalam kurun waktu tertentu ? Apa yang akan dilakukan masyarakat di kemudian hari ? Peragaan ini bisa ditambahkan dengan hal-hal lain seperti mencampur sedikit kotoran ke dalam gelas dan minta mereka untuk meminumnya, meminta masyarakat untuk mencuci beras, sikat gigi atau berwudlu dengan air sungai yang telah dicampur dengan kotoran, dan lain-lain.
Bila peragaan ini dilakukan pada saat transect walk ke wilayah sungai, untuk menunjukkan bahwa air telah terkontaminasi tidak perlu memasukkan kotoran ke dalam air dalam ember, melainkan bisa langsung mengambil air yang di sekitar air tersebut terdapat tinja.
4) FGD (Forum Group Discussion)
Kegiatan pemicuan tersebut dilakukan dengan cara simulasi dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok (FGD). Tujuannya adalah bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan.
Banyak hal yang harus dipicu yang dapat dilakukan melalui diskusi dengan masyarakat, diantaranya :
a) FGD untuk memicu rasa "malu" dan hal-hal yang bersifat
"pribadi".
Tanyakan, seberapa banyak perempuan yang biasa melakukan BAB di tempat terbuka dan alasan mengapa mereka melakukannya. Bagaimana perasaan kaum perempuan ketika BAB di tempat terbuka yang tidak terlindung dan kegiatan yang dilakukan dapat dilihat oleh setiap orang ? Bagaimana perasaan laki-laki ketika istrinya, anaknya atau ibunya melakukan BAB di tempat terbuka dan dapat dilihat oleh siapapun juga yang kebetulan melihatnya secara sengaja atau tidak sengaja ? Apa yang dilakukan perempuan ketika harus BAB (di tempat terbuka) padahal ia sedang mendapatkan rutinitas bulanan. Apa yang dirasakan ? Apa yang akan dilakukan besok hari? Apakah tetap akan melakukan kebiasaan yang sama ?
Catatan : Dalam kebiasaan BAB di sembarang tempat, perempuan adalah pihak yang paling terbebani (kehilangan privacy), jadi perempuan termasuk kelompok yang paling kompeten untuk dipicu.
b) FGD untuk memicu rasa "jijik" dan "takut sakit"
1) Ajak masyarakat untuk menghitung kembali jumlah "tinja di kampungnya", dan kemana perginya sejumlah tinja tersebut.
2) Jika dalam diagram alur terdapat pendapat masyarakat bahwa lalat adalah salah satu media penghantar kotoran ke mulut, lakukan probing tentang lalat. Misalnya: jumlah dan anatomi kaki lalat, bagaimana lalat hinggap di kotoran dan terbang ke mana saja dengan membawa kotoran di kaki- kakinya, bagaimana memastikan bahwa rumah-rumah dan makanan-makanan di dalam kampung itu dijamin bebas dari lalat, dan sebagainya.
3) Ajak untuk melihat kembali peta, dan kemudian tanyakan rumah mana saja yang pernah terkena diare (2-3 tahun lalu), berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat, adakah anggota keluarga (terutama anak kecil) yang meninggal karena diare, bagaimana perasaan bapak/ibu atau anggota keluarga lainnya. Apa yang akan dilakukan kemudian ? c) FGD untuk memicu hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan
Contohnya dalam komunitas yang beragama Islam, bisa
dengan mengutip hadits atau pendapat para alim ulama yang relevan dengan larangan atau dampak buruk dari melakukan BAB sembarangan, seperti yang dilakukan oleh salah seorang fasilitator di Sumbawa, yang intinya kurang lebih: "bahwa ada 3 kelompok yang karena perbuatannya termasuk orang- orang yang terkutuk, yaitu orang yang biasa membuang air (besar) di air yang mengalir (sungai/kolam), di jalan dan di bawah pohon (tempat berteduh)". Bisa dengan mengajak untuk mengingat hukum berwudlu, yaitu untuk menghilangkan
"najis". Tanyakan air apa yang selama ini digunakan oleh masyarakat untuk wudlu"? apakah benar-benar bebas dari najis
? Apa yang akan dilakukan kemudian ?
d) FGD menyangkut kemiskinan
FGD ini biasanya berlangsung ketika masyarakat sudah terpicu dan ingin berubah, namun terhambat tidak ada uang untuk membangun jamban.
1) Apabila masyarakat mengatakan bahwa membangun jamban itu perlu dana besar, fasilitator bisa menanyakan apakah benar jamban itu mahal ? Bagaimana dengan bentuk ini (berikan alternatif yang paling sederhana).
2) Apabila masyarakat tetap beralasan mereka cukup miskin untuk bisa membangun jamban (meskipun dengan bentuk paling sederhana), fasilitator bisa mengambil perbandingan
dengan masyarakat yang "jauh lebih miskin" daripada masyarakat Indonesia, misalnya Bangladesh berupaya untuk merubah kebiasaan BAB di sembarang tempat.
3) Apabila masyarakat masih mengharapkan bantuan, tanyakan kepada mereka tanggung jawab siapa masalah BAB ini?
Apakah untuk BAB saja kita harus menunggu diurus oleh pemerintah dan pihak luar lainnya ?
Catatan penting pada saat pemicuan
Di setiap akhir fasilitasi (FGD) tanyakan kepada mereka : “bagaimana perasaan ibu/bapak terhadap kondisi ini ?”
“apakah bapak/ibu ingin terus dalam kondisi seperti ini?”
Fasilitator menyampaikan kesimpulan atas analisa yang telah dilakukan oleh masyarakat. Jika masyarakat masih senang dengan kondisi sanitasi mereka, artinya tidak mau berubah dengan berbagai macam alasan, fasilitator bisa menyampaikan : Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk melakukan analisa tentang sanitasi di desa bapak ibu, silakan bapak ibu meneruskan kebiasaan ini, dan ibu bapak adalah satu-satunya kelompok masyarakat yang masih senang untuk membiarkan masyarakatnya saling mengkonsumsi kotoran. Dengan senang hati kami akan menyampaikan hasil analisa bapak/ibu ini kepada bapak Camat/Bupati/dan seterusnya, bahwa di wilayah kerja mereka masih terdapat masyarakat yang mau bertahan dengan kondisi sanitasi seperti ini.
Penting untuk fasilitator, yakni pada saat memfasilitasi, ada hal yang ”jangan dilakukan” dan ”harus dilakukan”.
Tabel 2.2 Hal yang Jangan dan Harus Dilakukan Saat Fasilitasi
JANGAN LAKUKAN LAKUKAN
Menawarkan subsidi Memicu kegiatan setempat.
Dari awal katakan bahwa tidak akan pernah ada subsidi dalam kegiatan ini.
Jika masyarakat bersedia maka kegiatan bisa dilanjutkan tetapi jika mereka tidak bisa menerimanya, hentikan proses.
Mengajari Memfasilitasi Menyuruh membuat
jamban
Memfasilitasi masyarakat untuk menganalisa kondisi mereka, yang memicu rasa jijik dan malu dan mendorong orang dari BAB di sembarang tempat menjadi BAB di tempat yang tetap dan tertutup.
Memberikan alat atau petunjuk kepada orang perorangan
Melibatkan masyarakat dalam setiap pengadaan alat untuk proses fasilitasi.
Menjadi pemimpin, mendominasi proses diskusi. (selalu menunjukkan dan menyuruh masyarakat melakukan ini dan itu pada saat fasilitasi).
Fasilitator hanya menyampaikan
"pertanyaan sebagai pancingan" dan biarkan masyarakat berbicara /diskusi lebih banyak (masyarakat yang
memimpin)
Memberitahukan apa yang baik dan apa yang buruk
Membiarkan mereka menyadarinya sendiri
e) Fasilitasi di Akhir Pemicuan (dimana masyarakat sudah terpicu) Tujuan : memberikan dukungan, semangat dan apresiasi kepada masyarakat yang mau melakukan perubahan di bidang sanitasi. Proses :
1) Jika masyarakat sudah kelihatan ingin berubah, minta masyarakat untuk merumuskan upaya apa. Biarkan mereka
merumuskan apa upaya mereka untuk berubah. Jika mereka menanyakan pendapat fasilitator, kembalikan pertanyaan itu kepada masyarakat, apa yang sebaiknya diupayakan ? Jika masyarakat terlihat sangat mengharapkan solusi dari fasilitator, kita sebaiknya berpura-pura sibuk sendiri (sehingga bukan kita yang memberikan solusi) tetapi dengan tetap memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka diskusikan.
2) Jika diskusi di antara mereka terlihat sudah selesai, tanyakan : siapa yang ingin berubah dan membuat jamban esok hari ? Buat daftar namanya. Berikan apresiasi dengan memberikan selamat dan bertepuk tangan.
3) Orang yang pertama menyatakan ingin berubah, itulah yang diharapkan menjadi natural leader untuk memicu masyarakat lainnya untuk merubah kebiasaan BAB di sembarang tempat. Dorong masyarakat yang mampu untuk membantu keluarga yang kurang mampu dalam mencari jalan keluar untuk menghentikan kebiasaan BAB disembarang tempat.
Dukung masyarakat yang termasuk pressure group bisa memfasilitasi masyarakatnya agar terjadi perubahan kebiasaan secara total. Contoh di Sumbawa, masyarakat yang punya kebun dan kebunnya sering digunakan tempat BAB sementara ia sendiri sudah mempunyai jamban adalah salah seorang yang
termasuk pressure group karena ia merasa dirugikan masyarakat tersebut.
Jika sudah mencapai tahap ini dan masyarakat mengharapkan bantuan fasilitator, fasilitator bisa mulai membantu dengan menggambarkan bentuk jamban, mulai dari paling sederhana sampai paling layak (sehat, aman dan nyaman).
f) Fasilitasi untuk Rencana Tindak Lanjut Masyarakat
Tujuan : mendampingi masyarakat dalam menyusun rencana tindak lanjut untuk memperbaiki kondisi sanitasinya.
Proses :
1) Tanyakan kembali siapa yang akan berubah (dengan membuat jamban) esok hari ? Buat daftar nama orang yang akan berubah.
2) Tegaskan kepada orang yang pertama kali akan berubah bahwa mereka adalah "pemimpin" yang diharapkan dapat membawa perubahan sanitasi secara keseluruhan di desanya (sepakati kemungkinan orang tersebut menjadi semacam
"panitia" dalam rangka perubahan sanitasi ke arah yang lebih baik.
3) Tanyakan pula, siapa yang akan mulai merubah kebiasaan BAB sembarangan 3 hari kemudian, 1 minggu kemudian, 10 hari, 2 minggu, 1 bulan, dan seterusnya.
4) Berdasarkan kesepakatan, apa sebaiknya yang akan dilakukan oleh masyarakat (yang akan berubah) kepada
masyarakat lain jika kesanggupan untuk berubah (setelah masing-masing menyanggupi waktunya) tiba-tiba tertunda
? Misalnya dengan membantu secara gotong royong, sanksi, dan lain-lain sesuai kesepakatan.
5) Tanyakan pula, kapan kira-kira seluruh masyarakat kampung/dusun/desa ini akan berubah dan menjadi salah satu desa yang menyatakan diri 100% telah bebas dari kebiasaan BAB sembarangan ? Fasilitasi kepada mereka berdasarkan hasil analisa sebelumnya, bahwa sebagian kecil saja masyarakat yang masih BAB sembarangan dampaknya tetap akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
6) Tanyakan apakah yang dapat mereka lakukan terhadap masyarakat kampung lain di dalam desanya atau desa lain yang masih mempunyai kebiasaan BAB di sembarang tempat ? (apakah mereka bersedia untuk menyebarkan kepada masyarakat kampung lain tentang upaya yang mereka lakukan untuk merubah kebiasaan ?)
Fasilitasi kepada masyarakat bahwa fasilitator akan membantu masyarakat dalam mendeklarasikan kempung mereka sebagai kampung yang 100% bebas dari kebiasaan BAB sembarangan misalnya dengan mendatangkan kepala daerah (bupati), pers, masyarakat kampung lain, dan sebagainya.
g) Leader Sanitation
Tujuan : melihat tangga/tahap-tahap sarana sanitasi masyarakat, dari sarana yang paling sederhana sampai sarana yang paling lengkap/layak (sehat, aman, nyaman). Proses : 1) Ajak masyarakat menggambarkan sarana sanitasi apa yang
mereka ketahui.
2) Atau, ajukan pertanyaan kepada mereka (yang sudah punya jamban) kira-kira 10 tahun yang lalu BAB di mana, atau jamban seperti apa yang digunakan dulu, atau jamban apa yang digunakan sekarang ?
3) Kembangkanlah diskusi yang berkaitan dengan sarana tersebut, tanyakan apakah faktor pendukung dan faktor penghambat setempat (teknis dan non teknis) dalam mewujudkan bentuk sarana tersebut ?
4) Lalu kembalikan kepada mereka, bentuk sarana apa yang bisa mereka wujudkan, yang sesuai dengan kondisi alam serta kemampuan mereka masing-masing.
Catatan : Leader sanitasi penting untuk diketahui dan menjadi bekal bagi fasilitator, namun baru disampaikan kepada masyarakat jika masyarakat memerlukannya, misalnya jika mereka merasa perlu saran atau pendapat yang berhubungan dengan sarana sanitasi yang akan mereka bangun. Fasilitator bisa membawa alat bantu tentang leader sanitasi, biasanya dalam bentuk gambar dengan spesifikasi teknis, serta kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sarana tersebut.
h) Tahap Monitoring
Dalam STOPS monitoring yang paling efektif adalah pengawasan diantara mereka sendiri, sehingga monitoring oleh pendamping lebih kepada memberikan energi atau dorongan kepada masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka monitoring adalah:
1) Cross visit di antara kelompok masyarakat (kelompok yang sudah terpicu kepada kelompok yang belum terpicu atau sebaliknya).
2) Mengembangkan konsultan masyarakat; memfasilitasi masyarakat yang belum terpicu untuk mengundang natural leader yang ada untuk melakukan pemicuan di kelompok tersebut.
Selain itu, beberapa tools PRA yang bisa digunakan dalam tahap monitoring (setelah 1-2 bulan perubahan kebiasaan), diantaranya :
a. Pemetaan
Tujuan : melihat akses masyarakat terhadap tempat- tempat BAB (dengan cara membandingkan antara lain akses sebelum pemicuan dan akses yang terlihat pasca pemicuan dan tindak lanjut masyarakat).
Proses :
1) Ajak masyarakat menandai rumah mana saja yang telah berhasil merubah kebiasaan (dimana pada peta awal
tercantum kapan waktunya mereka akan berubah, sampai tanggal berapa menyanggupi terbebas dari kebiasaan BAB di sembarang tempat (kegiatan ini bisa dilengkapi dengan transect walk).
2) Mengajak masyarakat untuk "menilai" kondisi sanitasi di desa/dusunnya dengan menggunakan skoring (ada penilaian, misalnya ketika pencapaian dibawah 25% berapa skornya, pencapaian 20-40%, pencapaian 50% dan seterusnya sampai skor tertinggi untuk pencapaian 100%
masyarakat telah mempunyai tempat yang tetap dan tertutup untuk melakukan BAB).
b. Rating Scale (Convenient) Tujuan :
1) Melihat dan mengetahui apa yang dirasakan masyarakat (bandingkan antara yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat dengan yang dirasakan sekarang ketika sudah BAB di tempat yang tetap dan tertutup).
2) Mengetahui yang dirasakan masyarakat dengan sarana sanitasi sekarang, dan hal lain. Hal ini berkaitan dengan leader sanitasi di masyarakat.
Proses :
1) Ajak masyarakat untuk menggambar sesuatu yang dapat menunjukkan perasaan puas/senang/bahagia, perasaan biasa-biasa saja, dan perasaan tidak puas/tidak senang/sedih,
misalnya :
2) Sepakati makna dari gambar tersebut, (bila perlu sepakati pula berapa nilai dari masing-masing gambar tersebut, misalnya gambar sedih nilainya 0 dan gambar tertawa nilainya 100, dan ada interval nilai di antara gambar tersebut).
3) Minta masyarakat (satu persatu) untuk berdiri diantara gambar itu, tanyakan :
a) Apa yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat ?
b) Apa yang dirasakan sekarang?
c) Tanyakan apa perasaannya terhadap sarana sanitasi yang mereka punyai (mungkin masyarakat ada yang menjawab senang punya jamban tetapi kurang senang karena masih belum dipasang dinding, dan lain-lain).
4) Bila diperlukan, sepakati juga dengan masyarakat, bahwa masyarakat tidak harus berdiri tepat pada gambar tersebut, tetapi mungkin dapat berdiri diantara 2 gambar yang ada untuk menunjukkan apa yang mereka rasakan.
5) Untuk setiap pertanyaan, lihat jawaban dengan melihat di gambar mana mereka berdiri. Perdalam alasannya, sehingga akan terbentuk diskusi yang menggambarkan apa
yang dirasakan masyarakat (Dinkes Jatim, 2005).
2. Konsep Perilaku a. Pengertian Perilaku
Menurut (Suliha, 2011) perilaku adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan, yang dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang. Sedangkan menurut (Notoatmojo, 2010) menjelaskan bahwa perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Perilaku menurut pandangan behavioristik adalah respons terhadap stimulus yang sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya, dan individu atau organisme seakan-akan tidak tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya, hubungan stimulus dan respons seakan-akan bersifat mekanistis. Sedang menurut pandangan kognitif perilaku individu merupakan respons dari stimulus, namun dalam diri individu ada kemampuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya. Ini berarti individu dalam keadaan aktif ddalam menentukan perilaku yang diambilnya (Walgito, 2010). Perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004).
b. Proses Pembentukan Perilaku
Perilaku manusia terbentuk karena adanya faktor kebutuhan (Sunaryo, 2004).
c. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Green dalam (Notoatmodjo, 2010) perilaku dipengaruhi 3 faktor yaitu faktor pendahulu, pemungkin dan penguat. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut.
1) Faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai dan sebagainya.
2) Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat, alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
3) Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut :
dimana :
B = Behavior
PF = Predisposing factors RF = Reinforcing Factors f = fungsi
Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat
B = f (PF, EF, RF)
yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap, dan perilaku petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.
Menurut Snehandu B. Kar dalam (Notoatmodjo, 2010) mencoba menganalisis perialaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari :
1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatan (behaviour intention).
2) Dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support).
3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessibility of information).
4) Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy).
5) Situasi yang memungkinkan bertindak atau tidak bertindak (action situation).
Uraian di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :
dimana :
B = Behavior f = fungsi
BI = Behavior Intention SS = Social Support
AL = Accessebility of Information SS = Personal Autonomy
B = f (BI, SS, AL, PA, AS)
AS = Action Situation
Menurut tim kerja WHO dalam (Notoatmodjo, 2010) menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu karena adanya 4 alasan pokok.
1) Pemikiran dan perasaan (thought and feeling)
Yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, dan penilaian seseorang terhadap objek (dalam hal ini adalah objek kesehatan).
(a) Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
(b) Kepercayaan
Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
(c) Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan antara lain :
(1) Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu.
(2) Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada pengalaman orang lain.
(3) Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
(4) Nilai (value). Di dalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat.
2) Orang penting sebagai referensi
Perilaku orang lebih banyak dipengaruhi oleh orang- orang yang dianggap penting. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh. Orang yang dianggp penting ini sering disebut kelompok referensi (reference group), antara lain guru, alim ulama, kepala adat (suku), kepala desa dan sebagainya.
3) Sumber daya (resources)
Sumber daya ini mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya. Semua ini berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau kelompok masyarakat. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.
4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai, dan penggunanan sumber dalam suatu masyarakat akan menghasilkan pola hidup (way of life) yang disebut kebudayaan. Kebudayaan terbentuk dalam waktu lama akibat dari kehidupan masyarakat bersama.
Perilaku normal adalah salah satu aspek kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh terhadap perilaku ini.
Secara sederhana dapat diilustrasikan sebagai berikut :
dimana :
B = Behavior f = fungsi
TF = Thought and feeling PR = Personal reference R = Resources
C = Culture
Sedangkan menurut (Sunaryo, 2004) faktor yang mempengaruhi perilaku meliputi faktor genetik atau faktor endogen (jenis ras, jenis kelamin, sifat fisik, sifat kepribadian, bakat pembawaan, inteligensi) dan faktor eksogen atau faktor dari luar individu (faktor lingkungan, pendidikan, agama, sosial ekonomi, kebudayaan) dan faktor lain (susunan saraf pusat, persepsi dan emosi).
B = f (TF, PR, R, C)
B. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah kesimpulan sementara atau dugaan logis tentang keadaan populasi. Dalam statistik hipotesis selalu dinyatakan sebagai hipotesis nol yang berarti secara statistik tidak ada perbedaan antara variabel yang dibandingkan atau perbedaan antara variabel yang dibandingkan sama dengan nol (Budiarto, 2012).
ada perbedaan perilaku buang air besar dalam program STOPS
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan suatu rangkaian proses yang terkait secara sistematis dan terdiri dari berbagai tahap. Agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan maka perlu dibuat metode penelitian.
A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian (Nasir, 2005). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu desain penelitian dimana pengumpulan data variabel bebas dan terikat dilakukan hanya satu kali dan dalam waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2012). Secara teknis pengukuran variabel bebas implementasi program STOPS dan terikat berupa perubahan perilaku dan kepemilikan jamban dilakukan dalam waktu bersamaan dan hanya satu kali pengukuran.
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian (Arikunto, 2010). Populasinya adalah semua keluarga yang mengikuti program STOPS sebanyak 1.258 jiwa..
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi obyek penelitian (Mardalis, 2004). Dalam penelitian ini sampelnya sebagian keluarga yang mengikuti program STOPS sebanyak 125 jiwa.
3. Teknik sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008). Sampling adalah simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana (Machfoedz, 2005).
C. Variabel Penelitian
Pada penelitian ini variabelnya meliputi : 1. Variabel bebas (independent variabel)
Variabel bebas (independent variabel) merupakan variabel penyebab atau variabel yang memperbedaan variabel terikat (Notoatmodjo, 2005). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah STOPS.
2. Variabel terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang diperbedaani variabel bebas (Notoatmodjo, 2005). Sebagai variabel terikat adalah perilaku BAB
D. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2008). Definisi operasional dalam penelitian ini dapat disajikan dalam bentuk tabel seprti tertera di bawah ini.
Tabel 3.1. Definisi Operasional Perilaku Keluarga dalam Program STOPS
No Variabel Definisi
Operasional Indikator Instrumen Skala Kriteria
1 2 3 4 5 6 7
1. Bebas : STOPS
pendekatan pengubahan perilaku buang air besar dan penggerakan pembanguna n jamban keluarga melalui penggerakan pimpinan masyarakat setempat bersama masyarakat setempat tanpa
mengandalka n bantuan pemerintah
Dilaksana- kannya : 1. Sosialisasi 2. Pembentuk an Timlak TK Desa 3. Pemicuan 4. Monitoring
dan evaluasi
- - -
1 2 3 4 5 6 7
2. Terikat : Perilaku BAB
aktivitas BAB (buang air besar) dari anggota masyarakat sebelum dan sesudah dilaksanakan STOPS (pemicuan) ditunjau dari tempat BAB sesuai persyaratan kesehatan
Kebiasaan : 1. Buang air
besar di tempat yang bukan WC
misalnya sungai, kebon, sawah, empang, kolam ikan, jamban cemplung yang terbuka atau lainya 2. Jamban/W
C leher angsa yang tertutup air seingga tidak berbau
Lembar Observasi
Nominal
Selalu : 2 Kadang-kadang : 1
Tidak pernah : 0 Kriteria :
1. Memenui syatat : 100%
tidak BAB di sembarang tempat 2. Tidak
memenuhi syarat : <
100% tidak BAB memenuhi syarat (Notoatmodjo, 2007).
E. Pengumpulan dan pengolahan data 1. Instrumen Pengumpulan Data Penelitian
Instrumen adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010). Alat bantu yang digunakan adalah lembar observasi.
2. Waktu dan Tempat Penelitian a. Waktu Penelitian
Waktu penelitian direncanakan Bulan September 2014.
b. Tempat Penelitian
Tempat yang dijadikan penelitian adalah di Dusun Genuk Desa picisan Kecamatan Sendang.
34
45
3. Analisis Data a. Editing
Editing adalah penelitian kembali hasil kuesioner untuk meningkatkan reliabilitas data yang hendak diolah (Setiawan &
Saryono, 2010). Kegiatan editing ini meliputi :
1) Pemeriksaan kelengkapan pengisian lembar observasi.
2) Kejelasan pengisian lembar observasi.
3) Keseragaman satuan data.
b. Coding
Yang dimaksud dengan coding adalah mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memasukkan data (data entry) ke program SPSS (Notoatmodjo, 2012).
c. Tabulating
Tabulating adalah kegiatan meringkas data yang masuk ke dalam tabel yang telah dipersiapkan dalambentuk tabel distribusi frekuensi maupun tabel silang (Setiawan & Saryono, 2010). Proses tabulasi : 1) Mempersiapkan tabel dengan kolom dan barisnya yang disusun
dengan cermat sesuai kebutuhan.
2) Menghitung frekuensi pemunculan masing-masing kategori dan prosentasenya.
d. Analisis
1) Uji statistik yang digunakan
Pemilihan uji statistik ditentukan berdasarkan tujuan maupun skala. Untuk mengetahui perbedaan perilaku buang air besar dan kepemilikan jamban keluarga dalam program STOPS dianalisis dengan uji Mc Nemar. Alasan pemilihan teknik uji ini adalah dari tujuan pengujian merupakan komparasi, jumlah kelompok ada 2, jenis sampel berpasangan dan data yang berskala nominal.
a) Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :
Ho = = 0 (tidak ada perbedaan perilaku buang air besar dan kepemilikan jamban keluarga dalam program STOPS di Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015).
H1 = < 0 (ada perbedaan perilaku buang air besar dan kepemilikan jamban keluarga dalam program STOPS di Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015).
b) Kaidah pengambilan keputusan Sig. (2-tailed) = tolak Ho. Sig. (2-tailed) > = tolak H1. c) Cara penarikan kesimpulan
Cara penarikan kesimpulan didasarkan dari hasil uji. Jika Ho ditolak maka dapat disimpulkan ada perbedaan perilaku buang air besar dalam program STOPS di Desa Kerkep
Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015 dan sebaliknya jika Ho diterima maka tidak ada perbedaan perilaku buang air besar dan kepemilikan jamban keluarga dalam program STOPS di Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015.
F. Etika Penelitian
Etika penelitian adalah suatu prinsip etika penelitian agar peneliti tidak melanggar hak (otonomi) manusia yang kebetulan sebagai responden (Nursalam, 2012).
1. Informed consent (persetujuan menjadi responden)
Lembar persetujuan penelitian diberikan pada responden, tujuannya adalah agar subyek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika subyek bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek, lembar tersebut hanya diberikan nomor tertentu.
3. Confidentially (kerahasiaan)
Informasi yang diberikan kepada peneliti dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan dan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
No. Umur Frekuensi %
1 <20 tahun 1 0,8
2 20-35 tahun 63 50,4
3 >35 tahun 61 48,8
Total 125 100
Berdasarkan tabel 4.1 di atas diketahui sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu sebanyak 63 responden (50,4%) dari total 125 responden.
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
No. Pendidikan Frekuensi %
1 SD 27 21,6
2 SMP 38 30,4
3 SMA 51 40,8
4 PT 9 7,2
Total 125 100
Berdasarkan tabel 4.2 di atas diketahui hampir setengah responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 51 responden (40,8%) dari total 125 responden.
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
No. Pekerjaan Frekuensi %
1 Tidak Bekerja 23 18,4
2 Tani 54 43,2
3 Swasta 45 36,0
4 PNS 3 2,4
Total 125 100
Berdasarkan tabel 4.3 di atas diketahui hampir setengah responden sebagai petani yaitu sebanyak 54 responden (43,2%) dari total 125 responden.
B. Karakteristik Variabel
1. Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS Perilaku buang air besar sebelum program STOPS Tabel 4.4 Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS
No. Perilaku BAB (Sebelum STOPS) Frekuensi %
1 Tidak Memenuhi Syarat 59 47,2
2 Memenuhi Syarat 66 52,8
Total 125 100
Berdasarkan tabel 4.4 diketahui sebagian besar responden sebelum STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 66 responden (52,8%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 59 responden (47,2%) dari total 125 responden.
2. Perilaku Buang Air Besar Setelah Program STOPS Perilaku buang air besar setelah program STOPS
Tabel 4.5 Perilaku Buang Air Besar Setelah Program STOPS (Community Lead Total Sanitation)
No. Perilaku BAB (Setelah STOPS) Frekuensi %
1 Tidak Memenuhi Syarat 41 32,8
2 Memenuhi Syarat 84 67,2
Total 125 100
Berdasarkan tabel 4.5 diketahui sebagian besar responden setelah STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 84 responden (67,2%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 41 responden (32,8%) dari total 125 responden.
C. Tabulasi Silang antar Variabel
i. Tabulasi Silang Karakteristik Responden dengan Variabel Penelitian 1. Umur dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS
Hubungan umur dengan perilaku BAB sebelum program STOPS
Tabel 4.8 Tabulasi Silang Umur dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS
No. Umur
Perilaku BAB Sebelum STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 <20 tahun 1 0,8 0 0 1 0,8
2 20-35 tahun 34 27,2 29 23,2 63 50,4 3 >35 tahun 24 19,2 37 29,6 61 48,8
Total 59 47,2 66 52,8 125 100
Berdasarkan tabel 4.8 diketahui responden paling banyak berusia >35 tahun dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 37 responden (29,6%).
2. Pendidikan dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS
Tabel 4.9 Tabulasi Silang Pendidikan dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS di
No. Pendidikan
Perilaku BAB Sebelum STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 SD 13 10,4 14 11,2 27 21,6
2 SMP 19 15,2 19 15,2 38 30,4
3 SMA 23 18,4 28 22,4 51 40,8
4 PT 4 3,2 5 4 9 7,2
Total 59 47,2 66 52,8 125 100
Berdasarkan tabel 4.9 diketahui responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 28 responden (22,4%).
3. Pekerjaan dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS
Tabel 4.10 Tabulasi Silang Pekerjaan dengan Perilaku BAB Sebelum STOPS
No. Pekerjaan
Perilaku BAB Sebelum STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 Tidak Bekerja 14 11,2 9 7,2 23 18,4
2 Tani 25 20,0 29 23,2 54 43,2
3 Swasta 20 16,0 25 20 45 36,0
4 PNS 0 0,0 3 2,4 3 2,4
Total 59 47,2 66 52,8 125 100
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 29 responden (23,2%).
4. Umur dengan Perilaku BAB Setelah STOPS
Tabel 4.11 Tabulasi Silang Umur dengan Perilaku BAB Setelah STOPS
No. Umur
Perilaku BAB Setelah STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 <20 tahun 0 0,0 1 0,8 1 0,8
2 20-35 tahun 21 16,8 42 33,6 63 50,4 3 >35 tahun 20 16,0 41 32,8 61 48,8
Total 41 32,8 84 67,2 125 100
Berdasarkan tabel 4.11 diketahui responden paling banyak berusia 20-35 tahun dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 42 responden (33,6%).
5. Pendidikan dengan Perilaku BAB Setelah STOPS
Tabel 4.12 Tabulasi Silang Pendidikan dengan Perilaku BAB Setelah STOPS di Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun 2015
No. Pendidikan
Perilaku BAB Setelah STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 SD 13 10,4 14 11,2 27 21,6
2 SMP 19 15,2 19 15,2 38 30,4
3 SMA 23 18,4 28 22,4 51 40,8
4 PT 4 3,2 5 4 9 7,2
Total 59 47,2 66 52,8 125 100
Berdasarkan tabel 4.12 diketahui responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 28 responden (22,4%).
6. Pekerjaan dengan Perilaku BAB Setelah STOPS
Hubungan pekerjaan dengan perilaku BAB setelah program STOPS
Tabel 4.13 Tabulasi Silang Pekerjaan dengan Perilaku BAB Setelah STOPS
No. Pekerjaan
Perilaku BAB Setelah STOPS
f %
Negatif Positif
f % f %
1 Tidak Bekerja 14 11,2 9 7,2 23 18,4
2 Tani 25 20,0 29 23,2 54 43,2
3 Swasta 20 16,0 25 20 45 36,0
4 PNS 0 0,0 3 2,4 3 2,4
Total 59 47,2 66 52,8 125 100
Berdasarkan tabel 4.13 diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 29 responden (23,2%).
ii. Tabulasi Silang antar Variabel Penelitian
1. Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS
Tabel 4.20 Perbedaan Perilaku Buang Air Besar dalam Program STOPS
No. Kriteria Perilaku BAB
Perilaku BAB Sebelum
STOPS
Setelah STOPS
f % F %
1 Tidak Memenuhi Syarat 59 47,2 41 32,8
2 Memenuhi Syarat 66 52,8 84 67,2
Total 125 100 125 100
Mc Nemar dengan p = 0,002 < 0,05 H0 ditolak
Berdasarkan tabel 4.20 diketahui ada perbedaan perilaku BAB dalam program STOPS Tahun 2015 (Mc Nemar, p = 0,002 < 0,05 H0 ditolak).
BAB V PEMBAHASAN
D. Perilaku Buang Air Besar Sebelum Program STOPS
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui sebagian besar responden sebelum STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 66 responden (52,8%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 59 responden (47,2%) dari total 125 responden.
Menurut (Suliha, 2011) perilaku adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan, yang dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang. Sedangkan menurut (Notoatmojo, 2010) menjelaskan bahwa perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004). Perilaku manusia terbentuk karena adanya faktor kebutuhan (Sunaryo, 2004).
Didapatkannya sebagian besar responden sebelum STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat kesehatan disebabkan secara umum masyarakat memang sudah memiliki jamban keluarga jenis WC.
Umumnya jika membuat WC adalah WC leher angsa dilengkapi dengan tanki septik tank. Hasil pengamatan peneliti di lokasi penelitian, pembuatannya sudah cukup baik dalam arti sudah memperhatikan aspek keamanan terhadap pencemaran air. Masyarakat sudah memahami bahwa jarak peresapan dengan sarana air bersih (sumur gali maupun sumur pompa tangan) sudah lebih dari 10 meter. Pembangunan sarana dengan jarak demikian jauh ini masih memungkinkan karena lokasi merupakan lokasi pedesaan sehingga rata-rata memiliki tanah cukup luas. Namun demikian pada golongan ekonomi menengah ke bawah masih ada masalah kepemilikan jamban. Oleh karenanya pada masyarakat ini secara umum memanfaatkan aliran air sungai. Ada beberapa jalur sungai yang mengalir terus sepanjang tahun ada ada yang kering di saat musim penghujan.
Jika dikaji lebih lanjut hubungannya dengan usia responden diketahui responden paling banyak berusia >35 tahun dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 37 responden (29,6%). Hal ini menunjukkan bahwa usia ada hubunganya dengan perilaku BAB pada responden. Asumsinya dengan semakin tua usia seseorang maka tingkat kedewasaan dalam berpikir juga semakin baik, sehingga ada perasaan malu jika BAB di sembarang tempat. Demikian juga dengan semakin tua usia seseorang maka semakin banyak informasi yang diterima sehingga lebih menyadarkan untuk mengubah perilaku BAB yang sebalumnya tidak memenuhi syarat kesehatan bersedia berubah menjadi lebih sehat.
Demikian juga jika dikaji hubungannya dengan latar belakang pendidikan responden, berdasarkan hasil analisis diketahui responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 28 responden (22,4%). Hal ini memberikan gambaran semakin tinggi pendidikan seseorang maka konsep berpikirnya juga semakin baik sehingga berimplikasi kepada perilakunya yang semakin baik pula. Termasuk dalam hal ini perilakunya di dalam buang air besar dengan di dukung pendidikannya yang semakin tinggi maka kesadarannya untuk BAB ditempat yang memenuhi syarat kesehatan juga semakin baik.
Terakhir jika dikaji berdasarkan jenis pekerjaan, berdasarkan hasil analisis diketahui diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB sebelum STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 29 responden (23,2%). Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun saat ini sebagai petani akan tetapi dengan di dukung oleh kemampuan yang lain, tetap saja
dapat mewujudkan perilaku BAB yang memenuhi syarat kesehatan. Maksu di dukung disini adalah di dukung oleh kondisi lingkungan yang secara umum sudah memiliki gaya hidup modern, Perilaku Buang Air Besar Setelah
Program STOPS
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui sebagian besar responden setelah STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat yaitu sebanyak 84 responden (67,2%) dan sebagian kecil tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 41 responden (32,8%) dari total 125 responden.
Perilaku seseorang memang terkadang sulit di ubah karena sudah membudaya. Mengubah perilaku masyarakat memang harus menggunakan berbagai macam strategi. Salah satu pendekatan yang dilakukan hingga saat ini adalah dengan program STOPS. STOPS adalah pendekatan terpadu mencapai dan mempertahankan bebas buang air besar terbuka (ODF) mencakup fasilitasi, analisis sanitasi, profil, praktek buang air besar dan konsekuensi, mengarah pada tindakan kolektif menjadi ODF (Kamal with Chambers, 2008).
Jka sebagian besar responden setelah STOPS perilaku buang air besarnya termasuk memenuhi syarat, maka hal ini disebabkan dengan adanya program ini maka pada sebagian masyarakat yang hingga saat ini belum BAB memenuhi syarat kesehatan, setelah mendapatkan pemicuan dari pihak keseatan mereka mulai menyadari pentingnya BAB di tempat yang memenuhi syarat kesehatan, misalnya di WC leher angsa atau jamban cemplung yang tertutup. Program ini memang ditujukan untuk menimbulkan kesadaran
masyarakat sendiri bahwa BAB memang tidak baik jika dilakukan di sembarang tempat. Melalu pendampingan secara rutin (dalam aplikasinya 1 mingu sekali dilakukan pemantauan perkembangan hasil STOPS oleh petugas kesehatan), maka yang tadinya tidak bergerak sama sekali, mereka ada perasaan malu jika selalu didatangi petuigas kesehatan. Akhirnya lambat laun mereka mulai menyediakan material untuk membangun jamban keluarga. Hal ini benar-benar terlihat bahwa mereka ingin berubah.
Jika dilakukan analisis lebih mendalam hubungannya dengan faktor usia terlihat responden paling banyak 20-35 tahun dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk positif yaitu 42 responden (33,6%). Hal ini memberikan gambaran usia 20-35 tahun merupakan sosok yang lebih cepat mau di ajak berubah dibanding usia >35 tahun atau <20 tahun. Bisa jadi pada usia tersebut merasa masih produktif, masih kuat bekerja dan masih memiliki rasa malu jika ada teman atau saudara datang kerumah dan meminta ijin BAB ternyata tidak memiliki jamban. Setelah mendapatkan pemicuan, dengan segera ingin berubah. Jadi pemicual ini efektif bagi mereka yang berusia 20-35 tahun.
Demikian juga jika dikaji atas dasar latar belakang pendidikan responden, berdasarkan hasil analisis responden paling banyak berpendidikan SMA dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 35 responden (28%). Hal ini memberikan gambaran bahwa sebelum STOPS kelompok ini yang terbaik dan setelah STOPS kelompok ini juga yang paling cepat berubah. Hal ini tentunya di dukung dengan mayoritas tingkat pendidikannya memang SMA serta kelompok ini yang paling mudah menerima dan memahami informasi sebagai sumber pengetahuan. Disisi lain
pengetahuan yang semakin baik akan mendukung terciptanya perubahan perilaku yang lebih baik. Tetapi pada hasil penelitian didapatkan masih ada 4 responden (3,2%) dengan pendidikan perguruan tinggi yang memiliki perilaku negatif dalam buang air besar. Hal ini bisa terjadi karena perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pendidikan, tetapi masih ada faktor lain yang berpengaruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai), faktor pendukung (lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan), faktor pendorong (sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat).
Selanjutnya jika dikaji atas dasar latar belakang pekerjaan, diketahui responden paling banyak petani dengan perilaku BAB setelah STOPS termasuk kategori positif yaitu sebanyak 39 responden (31,2%). Hal ini bukan berarti kelompok petani yang paling mudah menerima dan memahami pemicuan dalam program STOPS. Secara matematis memang mayoritas warga masyarakat pekerjaanya sebagai petani. Oleh karenanya yang dominan tampat perubahan tetap saja kelompok petani. Namun demikian ada benarnya juga karena umumnya kelompok petani ini tidak memiliki banyak pemikiran jika ingin berubah. Dalam arti ketika mengikuti pemicuan sebanrnya mereka tahu persis bahwa BAB yang baik itu di jamban keluarga seperti WC leher angsa.
Namun demikian bagi yang hingga saat ini BAB-nya belum memenuhi syarat kesehatan bukan karena tidak tahu, melainkan karena keterbatasan biaya untk membangun jamban keluarga.