• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Dan Perilaku Kesehatan .1Perilaku .1Perilaku

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengobatan Tradisional

2.3 Perilaku Dan Perilaku Kesehatan .1Perilaku .1Perilaku

Perilaku manusia ataupun aktivitas manusia secara umum tidak datang dengan sendirinya, melainkan karena adanya rangsangan stimulus yang mengenai individu. Respon yang ada merupakan suatu suatu yang bergantungan pada stimulus. Apa yang ada pada diri manusia akan menentukan pemberian respon terhadap suatu obyek. Selain itu, terdapat pula formasi atau respon mengenai perilaku bergantung dari lingkungan serta organisme yang saling berinteraksi. Yang dimaksud berinteraksi dimana adanya hubungan antara perilaku, fungsi, lingkungan serta organisme yang akan saling mempengaruhi (Walgito, 2010).

2.3.1.1 Jenis perilaku

Pada umumnya, perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua yakni perilaku refleksi dan perilaku non-refleksi (Walgito, 2010). Adapun perbedaannya yakni :

1. Perilaku refleksi

Perilaku refleksi merupakan perilaku yang terjadi secara spontan ketika reaksi yang secara spontan mengenai organisme. Misalnya mata berkedip ketika

berpantulan dengan sinar, menarik jari tangan ketika terkena api, dan sebagainya. Perilaku refleksi terjadi secara sendirinya dimana stimulus yang ditangkap moleh organisme tidak sampai pada otak. Dalam perilaku refleksi stimuls yang diterima oleh reseptur secara langsung menimbulkan aksi tanpa melalui kesadaran.

2. Perilaku non-refleksi

Perilaku refleksi ini berbeda dengan perilaku refleksi. Perilaku non-refleksi dikendalikan oleh saraf pusat dengan kesadaran. Dalam prosesnya, ketika stimulus menerma respon maka akan diteruskan ke saraf pusat kesadaran yang kumudian akan menimbulkan responyang melalui afektor. Perilaku non refleksi ini biasa disebut sebagai perilaku psikologis karena terjadi didalam otak dan kesadaran. Perilaku ini dapat dikendalikan, dirubah serta diatur yang sebagai proses dari hasil belajar.

2.3.2 Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan merupakan respon dari individu terhadap stimulus yang diterima yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakut, maupun faktor-faktor yang mempengaruhi sehat dan sakit. Perilaku kesehatan juga dapat diartikan sebagai semua aktivitas atau kegiatan individu baik yang dapat diamati ataupun tidak dapat diamati yang berhubungan dengan perilaku dalam peningkatan kesehatan. Pemeliharahaan kesehatan yang dimaksud adalah tahap pencegahan, pengobatan, masalah kesehatan yang lainnya serta upaya pencarian pengobatan apabila individu terkena penyakit (Notoadmodjo, 2010).

Becker, 1979 dalam Notoadmodjo, 2010 membuat klasifikasi mengenai perilaku kesehatan yang dibagi menjadi tiga, yakni :

1. Perilaku sehat (healty behavior)

Perilaku sehat merupakan perilaku yang meliputi kegiatan dengan upaya menjaga, mempertahankan serta meningkatkan kesehatan. Adapun kegiatan yang bisa dilakukan dengan cara mekan makanan seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, melakukan kegiatan fisik yang cukup dan teratur antara bekerja dan berolahraga, tidak merokok, minum-minuman keras serta menggunakan narkoba yang dapat merusak tubuh kita, istirahat yang cukup ditengah kesibukan, manajemen stress salah satu upaya pengendalian stress agar tidak menganggu kesehatan individu, serta perilaku positif terkait dengan kesehatan maupun diluar kesehatan.

2. Perilaku sakit (illness behavior)

Perilaku sakit merupakan perilaku yang meliputi orang sakit , adanya masalah kesehatan individu atau keluarga dalam mencari upaya penyembuhan penyakit yang diderita. Dalam kondisi orang sakit, terdapat beberapa tindakan yang sering muncul diantaranya (1) Didiamkan saja, dimana rasa sakit diabaikan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa tanpa mencari penyembuhan. (2) pengambilan tindakan dengan pengobatan sendiri, dalam hal ini pengambilan tindakan sendiri dibedakan menjadi dua yakni dengan upaya pengobatan tradisional (urut, dukun, jamu, dan sebagainya) dan upaya pengobatan modern dengan membeli obat generik diwarung atau toko obat. (3) pengobatan dengan mengunjungi penyedia pelayanan kesehatan yang dibagi menjadi dua yakni penyedia pelayanan kesehatan tradisional (dukun, alkubuntur, paranormal, dan

sebagainya) dan penyedia pelayanan kesehatan dengan tenaga medis terlatih (puskesmas, dokter, bidan, dan sebagainya).

3. Perilaku peran orang sakit (the sick role behvior)

Dilihat dari segi sosiologi, orang yang sakit memiliki peran, kewajiban, serta hak-haknya. Kewajiban dan hak orang sakit merupakan bagian dari perilaku peran orang sakit tersebut. Adapun perilaku peran dari orang sakit adalah tindakan dalam mendapatkan kesembuhan, tidakan dalam mengenal dan memilih fasilitas pelayanan kesehatan dalam usaha kesembuhan, melaksanakan kewajiban sebagai pasien diantaranya mengikuti anjuran dari dokter, serta kewajiban dalam menjaga kondisi tubuh agar penyakit tidak kambuh lagi.

Pada penelitian ini, teori yang digunakan adalah teori Health Belief Model yang dikembangkan oleh Rosenstock (1992). Teori perubahan perilaku ini digunakan karena melihat perilaku masyarakat yang ditentukan oleh motif kepercayaan. Adapun karangka teori HBM adalah :

Gambar 2.1Karangka Teori Berdasarkan Teori Health Belief Model

Berdasarkan teori diatas, perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan ditentukan oleh motif serta kepercayaan yang dipengaruhi oleh lima unsur (Sarwono, 2007) diantaranya :

1.Perceived susceptibility yakni persepsi individu akan kemungkinan terkena

suatu penyakit. Variabel demografis dan sosio-psoko Besarnya manfaat dikurangi besarnya kerugian tindakan yang dianjurkan Persepsi tentang kemungkinan kena penyakit. Persepsi tentang berat/seriusnya penyakit Dilakukannya tindakan yang dilakukan Besarnya ancaman penyakit Faktor pencetus tindakan

2.Perceived seriousness merupakan pandangan individu akan beratnya suatu penyakit serta risiko yang dialami oleh penyakit tersebut.

3.Perceived threats yakni semakin berat risiko dan kesulitan yang dialami maka

semakin besar pula ancaman yang dirasakan.

4.Perceived benefits and barriers adalah tindakan atau alternatif yang diberikan

petugas kesehatan dalam mengurangi ancaman tehadap suatu penyakit yang dirasakan. Ancaman yang besar mendorong individu untuk melakukan pencegahan atau pengobatan. Namun alternatif yang diberikan seringkali menimbulkan penolakan karena masyarakat akan mempertimbangkan mengenai manfaat serta hambatan mengenai alternatif yang dianjurkan. 5.Cues to action merupakan faktor pencetus dari suatu pengambilan keputusan

dengan berbagai pertimbangan.

Supriadi, 2014 mengungkapkan dalam penelitiannya dimana perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan apabila sakit adalah :

1. Perilaku tidak melakukan apa-apa (no action) yangdikarenakan bahwa kondisi demikian tidak berpengaruh dalam menganggu kondisi mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kemungkinan anggapan dari mereka dengan tanpa melakukan apapun, gejala penyakit yang dideritanya akan menghilang dengan sendirinya.

2. Tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) dengan alasan yang sama serta masyarakat sudah percaya terhadap dirinya sendiri dan pengalaman masa lalu yang dengan usaha sendiri dapat mencapai kesembuhan. Hal ini menyebabkan pengobatan keluar tidak diperlukan.

3. Pencarian pengobatan ke fasilitas-fasilitas penyedia pengobatan tradisional (traditional remedy).

4. Mencari pengobatan denganmembeli obat-obatan yang terjual diwarung-warung (chemist shop).

5. Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern baik yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta dan puskesmas.

Dokumen terkait