• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Perilaku Keberagamaan Anak

1. Pengertian Perilaku Keberagamaan Anak

Perilaku dalam kamus bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.7 Ini berarti pengertian tentang perilaku diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku adalah suatu perbuatari atau tindakan seseorang yang nyata dan dapat dilihat atau bersifat konkrit. Perilaku ini merupakan manifestasi dari pada sikap seseorang. Perilaku dapat terjadi secara spontanitas tanpa melalui pembentukan terlebih dahulu dalam jiwa dan juga dapat melalui pembinaan dalam jiwa seseorang terlebih dahulu.

Sedangkan pengertian agama, menurut Harun Nasution: berdasarkan asal kata yaitu al-Din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau hukuman. Kemudian dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Bertitik tolak dari pengertian tersebut menurut Harun Nasution intisarinya adalah ikatan. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang lurus dipegang dan diparuhi manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.8

Berdasarkan definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku keberagamaan adalah suatu kecenderungan atau keadaan pada diri seseorang yang berdasarkan pendirian, ketaatan dan keyakinan mengenai agamanya yang tampak dalam tingkah lakunya yang mencerminkan nilai-nilai ajaran agamanya.

7Kamus Besar Bahasa Indonesia…. H. 775

Agama yang ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak sehingga merupakan bagian dari unsur-unsur kepribadiannya, akan cepat bertindak menjadi pengendali dalam menghadapi segala keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang timbul. Karena keyakinan terhadap agama yang menjadi bagian dari kepribadian itu, akan mengatur sikap dan tingkah laku seseorang secara otomatis dari dalam.9 sebab perkembangan agama pada masa anak-anak terjadi melalui pengalaman hidupnya waktu kecil, didalam keluarga, di rumah dan di masyarakat lingkungannya. Semakin banyak pengalaman agama yang diperoleh, maka sikap, tingkah laku, kelakuan, dan cara menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama. 10

Jadi pengertian perilaku keberagamaan anak dapat dibentuk melalui pembinaan agama pada anak-anak yang dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat sehingga anak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan mengamalkan ajaran agamanya.Maka, Ruang lingkup perilaku keberagamaananaksejalandenganispendidikanagama Islam di sekolah dasar, yang menjadi materi pendidikanagama Islam di sekolah, meliputi empat unsur pokok yaitu:

1. Aqidah adalah kebutuhan akan adanya Tuhan tidak serta merta karena kebutuhan sesaat saja namun terus menerus secara kontinuitas.

2. Akhlak adalah perbuatan yang bisa dilakukan tanpa memerlukan pikiran. 3. Ibadah yaitu menyerahkan diri kepada Allah dan selalu mengikuti

perintah-Nya dan menuruti yang dikehendaki-Nya.

4. Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan olch Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai pedoman hidup manusia.

Ruang lingkup bahan pelajaran diatas merupakan usaha untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara :

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT

9

Zakiah Derajat, Peranan agama dalam kesehatan mental, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung, 1986), h.57

10

Zakiah Derajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang,2003), Cet. Ke-XXVI, h.66

2. Hubungan manusia dengan manusia 3. Hubungan manusia dengan alam sekitar11

Menurut istilah, aqidah adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang oleh orang yang mempercayainya.12

Manusia hidup berdasarkan kepercayaan terhadap suatu aqidah, tinggi rendahnya kepercayaan memberikan corak bagi kehidupan, karena itulah kehidupan pertama dalam Islam dimulai dengan iman. 2.2 Akhiak

Kata akhiak menurut bahasa berarti "perangai, sikap, perilaku, watak, dan budi pekerti".13 Sesuai dengan firman Allah SWT Qs. Al-Qalam:4 yang menggambarkan tentang akhiak terpuji yang terdapat pada Nabi Muhammad SAW:

Sedangkan secara istilah akhiak adalah "sikap yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.14

Definisi diatas memperlihatkan bahwa akhiak adalah sesuatu keadaan yang tertanam dalam jiwa berupa keinginan kuat yang melahirkan perbuatan secara langsung tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran. Keadaan jiwa itu ada kalanya merupakan sifat alami (thabi'at) yang didorong oleh fitrah manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya seperti rasa takut dan sebagainya. Selain itu, suasana jiwa ada kalanya juga di sebabkan oleh adat istiadat seperti yang membiasakan berkata benar secara terus menerus, maka jadilah suatu bentuk akhiak yang tertanam dalam jiwa. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa akhiak adalah suatu perbuatan baik dan buruk, yang

11

Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (CV. Karya Manunggal, 1982), h. 3

12

Masan Alfat, Aqidah Akhalak, (Semarang: PT. Karya Toha Putra,1987) h. 3

13

Mustofa, Akhalak Tasauf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), Cet. Ke-1, h. 11

seharusnya dilakukan oleh manusia kepada orang lain dengan menyatakan tujuan yang harus dituju dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Akhiak

merupakan sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya, yakni tidak dibuat-buat dan perdibuat-buatan yang dapat dilihat sebenarnya yang merupakan gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa.

Karena itu agama Islam sangat mengutamakan segi akhlak dalam ajarannya, sehingga Nabi Muhammad menjelaskan bahwa risalahnya hanya untuk menyempurnakan akhlak yang utama. Sabda Rasul:

"Sesungguhnya aku diutus di dunia ini untuk menyempurnakan akhlak"15 (HR. Ahmad)

2.3 Ciri-ciri Akhlak Yang Baik

1) "Jujur/ benar" memberitakan tentang sesuatu sesuai dengan hakekat keadaan yang sebenarnya. Benar atau jujur itu termasuk semulia sifat manusia yang terpuji. Sikap ini membawa keselamatan dan manfaat bagi orang yang bersangkutan dan bagi orang lain.16

2) "Sabar" yaitu sikap yang betah atau dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya. Tetapi tidak berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Maka sabar yang diumaksud adalah sikap yang diawali dengan ikhtiar, lalu diakhiri dengan sikap menerima dan ikhlas, bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan.17

3) "Amanah" menunaikan segala hak-hak Allah, dan tidak membuka rahasia yang dipercayakan kepadamu untuk menyimpannya. Termasuk pula contoh

15

Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf ….. h. 27

16

Abdurrahman Affandi Ismail, Pendidikan Budi Pekerti, (Semarang, CV. Toha Putra, 1982), h. 43

17

sifat amanah, yaitu tidak mengurangi isi janji dari yang diucapkan oleh orang yang berjanji; atau tidak mengurangi sesuatu barang yang dipercayakan kepadamu oleh pemiliknya untuk menjaganya.18

4) "Ikhlas" memumikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbagai tendensi pribadi. Ikhlas merupakan syarat diterimanya suatu amal saleh yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW.19

5) "Bersyukur" suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya; baik yang bersifat pisik maupun nonpisik. Lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada Yang memberi nikmat, yaitu Allah SWT.20

6) "Pemaaf' sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas.21

7) "Malu" pencegahan diri dari segala perbuatan jelek, atau pemeliharaan diri, karena rasa takut untuk melakukan hal-hal yang dibenci, yaitu hal-hal yang bersifat universal dari syari'at, atau rasional atau kebiasaan.22 Sifat malu adalah salah satu pendorong yang kuat bagi seseorang untuk berkelakuan baik dan menjauhi yang buruk dan jahat, sehingga ia menjadi orang yang tingkah lakunya dan sikapnya dalam bergaul bersih, sopan dan ramah tamah. Ia tidak akan berdusta dalam percakapan, tidak akan mengkhianati orang dan tidak memperturutkan bahwa nafsunya melakukan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah serta perbuatan- perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma moral dan akhlak yang luhur.

2.4 Ibadah

18 Abdurrahman Affandi Ismail ….. h. 36

19

Ahmad Faried, Menyucikan Jiwa, (Surabaya: Risalah Gusti, 19993), h. 1

20 Mahjuddin… h. 12

21

Yunahar Ilyas, kuliah Akhlak, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offest, 1999), h. 35

22

Ibadah, ahli lughat mengartikannya taat, menurut, mengikut, tunduk yang setinggi-tingginya, dan doa.23 Dalam pengertian yang luas, ibadah ialah segala bentuk pengabdian yang ditujukan kepada Allah semata yang diawali oleh niat. Scmua perbuatan baik dan terpuji menurut norma ajaran Islam, dapat dianggap ibadah dengan niat yang ikhlas karena Allah semata. Rupanya, niat itu merupakan warna yang dapat membedakan perbuatan biasa dengan perbuatan ibadah. Niat yang ikhlas karena Allah semata, membuat suatu pekerjaan berwarna ibadah, sehingga syari'at Islam melihat perbuatan itu sebagai suatu ibadat.

Ibadat dalam arti yang khusus ialah suatu upacara pengabdian yang sudah digariskan oleh syari'at Islam, baik bentuknya, caranya, waktunya, serta syarat dan rukunnya, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya24

Dengan demikian jelaslah bahwa cakupan ibadah sangat luas, shalat, zakat, puasa, haji dan segala aktifitas lahir batin yang diniatkan untuk mencari keridhaan-Nya dan mengikuti syari'at agama-Nya itu adalah ibadah. Ibadah bertujuan memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia. Ibadah juga bertujuan untuk mengingatkan manusia tentang rasa keagungan akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi. Selain itu juga mengingatkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan abadi telah menanti yaitu kehidupan akhirat. 2.5 Al-Qur'an

Al-Qur'an menurut bahasa berarti "bacaar? dan menurut istilah ushul fiqh Al-Qur'an berarti "kalam (perkataan) Allah yang diturunkannya dengan perantaraan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. dengan bahasa Arab serta dianggap beribadah membacanya".25 Al-Qur'an adalah kitab hidayah, yang berisi norma-norma yang menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia. Norma-norma tersebut tersusun

23

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Kuliah Ibadah, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000) h. 1

24

Zakiah Drajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam …. H. 73

25

Satria Effendi, M. Zein, MA, Ushul Fiqh, (Jakarta: UIN Kencana, 2005), Cet. Ke-1, h. 79

secara sistematis dalam suatu totalitas sehingga mempunyai hubungan fungsional dalam rangka mengarahkan manusia kepada pembentukan individu yang sempurna.26

Al-Qur'an merupakan pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.

2. Keberagamaan

Pembentukan dan perubahan perilaku di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu: faktor Intren dan faktor Ekstren.

1) Faktor Intren, secara garis besarnya faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang.27

2) Faktor Ekstren, faktor ini yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana seseorang itu hidup. Umumnya lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga:

a) Lingkungan Keluarga, yang menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.

b) Lingkungan Institusional, baik formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal ikut memberi pengaruh dalam membantu perkembangan kepribadian anak. Melalui kurikulum yang berisi materi pengajaran, sikap dan keteladanan guru sebagai pendidik serta pergaulan antar temen di sekolah dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.

26

Abudin Nata, Pendidikan dalam Persektif Hadist, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h.64

27

c) Lingkungan Masyarakat, memiliki pengaruh pula dalam perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam bentuk positif maupun negatif Misalnya lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak.28 Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa perilaku keberagamaan seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri maupun dari luar diri seseorang.

3. Kerangka Berpikir

Pengertian hasil belajar adalah suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu dan merupakan umpan balik yang diberikan oleh peserta didik setelah ia mengetahui suatu proses belajar. Hasil belajar tersebut tidak hanya pengetahuan saja, tetapi dapat berbentuk perilaku yang di tunjukan oleh murid.

Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah pengaruh yang diberikan secara sadar oleh orang dewasa kcpada anak didik dengan cara bimbingan, pengajaran dan latihan-latihan. Sehingga memberikan perubahan pada pertumbuhan jasmani dan rohani si terdidik menuju kedewasaan dalam pola pikir dan memiliki sikap dan nilai yang bermanfaat bagi masyarakat dan kebudayaan yang sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dengan demikian yang menjadi sasaran pokok adalah bimbingan dan pimpinan kepada anak yang sedang berkembang, baik perkembangan jasmani maupun rohani menuju kesempurnaan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pendidikan agama Islam merupakan hasil belajar siswa dalam jangka waktu tertentu pada mata pelajaran pendidikan agama Islam yang dapat membentuk peserta didik mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

28

Sedangkan pengertian perilaku keberagamaan anak adalah suatu kecenderungan pada diri seseorang yang berdasarkan pendirian, ketaatan dan keyakinan mengenai agamanya yang tampak dalam tingkah lakunya yang mencerminkan nilai-nilai ajaran agamanya.

Para pendidik harus selalu membina moral perilaku dan kebiasaan melaksanakan ajaran agama dan juga membiasakan siswa untuk bersikap dengan baik agar tujuan pendidikan agama dapat tercapai dan tumbuh kemampuan siswa untuk melaksanakan ajaran agama dengan maksimal. Oleh karena itulah guru tidak cukup hanya menuangkan ilmu pengetahuan saja, atau hanya memikirkan peningkatan ilmiah saja dan kecakapan anak-

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat yang penulis jadikan objek dalam penelitian adalah SDN 02 Perigi Jagakarsa Jakarta Selatan. Adapun waktu penelitian mulai pada tanggal 7 Mei – 28 Mei 2013.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah : “Keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.1

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah : “Keseluruhan objek penelitian”.2

Populasi terdiri atas sekumpulan objek yang menjadi pusat perhatian, yang dari padanya terkandung informasi yang ingin diketahui. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa/siswi SDN 02 Jagakarsa Jakarta Selatan, yang berjumlah 771 siswa. Sedangkan populasi terjangkau adalah siswa/siswi kelas V yang berjumlah 144 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut :

1

Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Jakarta : Prenada Media, 2005), Ed- 1, h. 99

2

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta : PT. Rineka Cipta 1993), Cet. Ke-9, h. 108

Jumlah Siswa-siswi SDN 02 Pagi Jagakarsa Jakarta Selatan

Kelas Jumlah Jumlah

Keseluruhan L P 1 I A 28 15 43 I B 25 14 39 I C 23 18 41 JUMLAH 76 47 123 4 II A 27 14 41 5 II B 28 14 42 6 II C 33 11 44 JUMLAH 88 39 127 7 III A 27 21 48 8 III B 28 20 48 9 III C 29 19 48 JUMLAH 84 60 144 10 IV A 24 22 46 11 IV B 26 21 47 12 IV C 25 22 47 JUMLAH 75 65 140 13 V A 29 19 48 14 V B 18 30 48 15 V C 25 23 48 JUMLAH 72 72 144 16 VI A 20 28 48 17 VI B 21 24 45 JUMLAH 41 52 93 JUMLAH KESELURUHAN 436 335 771 2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.3 Sampel dalam penelitian ini berjunlah 48 siswa, yaitu 17% dari jumlah populasi. Penarikan sampelnya dilaksanakan dengan purposive random sampling.

Dokumen terkait