• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

C. Perilaku Keluhan Konsumen

Menurut Singh (dalam Burhanudin, 2006:18), perilaku keluhan konsumen

merupakan rangkaian ragam tanggapan yang sebagian atau keseluruhannya

disebabkan oleh ketidakpuasan yang dirasakan dalam episode pembelian. Keluhan

menurut Tjiptono (2004:455) adalah ungkapan ketidakpuasan atau kekecewaan.

Organisasi atau perusahaan dapat mengumpulkan keluhan konsumen melalui

sejumlah cara, di antaranya kotak saran, formulir keluhan konsumen, saluran

telepon khusus, website, kartu komentar, dan survei kepuasan pelanggan.

Dalam hal terjadi ketidakpuasan, paling tidak terdapat empat kemungkinan

respons konsumen, yakni:

1. Tidak melakukan apa-apa. Maksudnya, mereka tidak menyampaikan

keluhannya kepada siapapun. Namun, kebanyakan di anatara mereka praktis

sudah beralih ke produk atau jasa lain.

2. Berhenti membeli produk/jasa perusahaan bersangkutan dan/atau

menyampaikan negative/bad word-of-mouth kepada keluarga, rekan sejawat,

maupun orang dekat lainnya. Informasi negaif semacam ini biasanya mengalir

cepat dan berdampak negatif pada citra perusahaan maupun sikap pelanggan

terhadap produk/jasa tersebut. Akibatnya, perusahaan bisa kehilangan banyak

pelanggan potensial maupun pelanggan saat ini yang beralih ke pesaing.

3. Menyampaikan keluhan secara langsung dan/atau meminta kompensasi

kepada perusahaan yang bersangkutan. Bila ini terjadi, perusahaan mendapat

umpan balik yang berharga dari berbagai keluhan yang disampaikan dan ada

peluang untuk mengatasi masalah sebelum menyebar luas. Bila keluhan

tidak puas bisa berubah menjadi puas dan tetap akan membeli produk/jasa

perusahaan. Ini sangat kontras dengan konsumen yang langsung berhenti

memakai produk/jasa perusahaan tanpa menyampaikan keluhannya sehingga

perusahaan tidak akan bisa mengetahui penyebab kekecewaan mereka dan

melakukan perbaikan.

4. Mengadu lewat media massa (misalnya menulis di ‘Surat Pembaca’, surat

kabar), mengadu ke lembaga konsumen atau instansi pemertintah terkait,

dan/atau menuntut perusahaan secara hukum. Ini merupakan bentuk keluhan

yang paling ditakuti oleh setiap perusahaan. Komunikasi pemasaran dan

public relations memegang peranan penting dalam mengantisipasi dan

menangani kemungkinan terjadinya bentuk keluhan ini.

Sejumlah faktor dikemukakan sebagai determinan apakah seorang

konsumen yang tidak puas akan melakukan keluhan atau tidak (Engel, et al.,

dalam Tjiptono, 2004:458) antara lain:

1. Penting tidaknya konsumsi yang dilakukan, yakni menyangkut tingkat

kepentingan produk bagi pelanggan, harga, waktu yang dibutuhkan untuk

mengkonsumsi produk, dan pandangan sosial.

2. Pengetahuan dan pengalaman, yakni jumlah pembelian sebelumnya,

pemahaman mengenai produk, persepsi terhadap kapabilitas sebagai

konsumen, dan pengalaman keluhan sebelumnya.

3. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan ganti rugi, meliputi jangka waktu

penyelesaian masalah, gangguan terhadap aktivitas rutin, dan biaya.

Gambar 2.1 Tindakan Terbuka Bagi Keluhan Pelanggan

Sumber : Utami (2006:276)

Dalam kaitannya dengan keluhan, Denham dalam Tjiptono (2004:457)

mengidentifikasikan tiga tipe pelanggan, yakni active complainers, inactive

complainers, dan hyperactive complainers.

a. Active Complainers, yakni mereka yang memahami haknya, percaya diri, dan

tahu persis cara menyampaikan keluhan. Bila ekspektasi mereka akan

pelayanan dan nilai (value) tidak terpenuhi, mereka akan menyampaikan

keluhan ke perusahaan yang bersangkutan. Tipe pelanggan seperti ini sangat

berharga bagi perusahaan, karena mereka cenderung langsung Memutuskan untuk

menyampaikan keluhan

Menyampaikan keluhan pada kepala

kantor

Menyampaikan keluhan ke organisasi

lain Masalah telah

diselesaikan Melakukan tindakan hukum Masalah masih belum terselesaikan Memperbanyak keluhan Masala h Memperbanyak keluhan pada perusahaan di tingkat lokal Tidak mengambil tindakan apa pun

Menceritakan pengalaman negatif

pada teman

Berganti pemasok Berpindah ke toko lain Menyampaikan informasi negatif dari mulut ke mulut Masalah yang tidak

menginformasikan dan mencari solusi atas setiap keluhan yang mereka

rasakan. Dengan demikian, perusahaan masih berpeluang untuk melakukan

perbaikan dan memuaskan mereka.

b. Inactive Complainers, yakni mereka yang lebih suka menyampaikan keluhan

kepada orang lain (teman, keluarga, rekan kerja) daripada langsung kepada

perusahaan bersangkutan. Mereka cenderung langsung berganti pemasok dan

tidak pernah kembali lagi ke perusahaan yang mengecewakan mereka. Dengan

demikian, peluang perbaikan bagi perusahaan praktis tidak ada.

c. Hyperactive Complainers, yakni mereka yang selalu mengeluh terhadap

apapun. Tipe ini bisa disebut pula chronic complainers yang kadangkala

berlaku kasar dan agresif. Mereka ini hampir tidak mungkin dipuaskan karena

tujuan keluhannya lebih dilatarbelakangi keinginan untuk mencari ‘untung’.

Pada umumnya, studi-studi tentang perilaku pengaduan konsumen telah

mengidentifikasikan dua tujuan utama untuk mengadu. Pertama, konsumen akan

mengadu untuk memulihkan kembali sebagian kerugian secara eknomi, dengan

berusaha untuk mendapatkan pengembalian uang atau menyeluruh layanan itu

dijalankan lagi (misalnya, ketika membeli suatu produk yang segar di sebuah

supermarket dalam kondisi yang kurang segar, maka konsumen cenderung

menuntut penggantian berupa uang atau barang baru dengan kondisi yang baik).

Mereka mungkin melakukan tindakan hukum jika masalah itu tetap tidak

terpecahkan. Alasan kedua untuk mengadu adalah membangun kembali

penghargaan diri (self-esteem). Ketika seorang karyawan berbuat kasar, agresif,

dan dengan sengaja menakut-nakuti, atau tampak tidak peduli, harga diri atau rasa

bahwa para pelanggan dengan perlakuan tersebut seharusnya diperlakukan dengan

lebih hormat, mereka menjadi marah atau emosional (Utami, 2006:277).

Masalah layanan dan keluhan adalah sumber informasi yang sempurna

tentang bagaimana perusahaan menawarkan barang dagangan dan layanannya.

Dalam banyak kasus, penyebab masalah mungkin adalah kesulitan dalam

mengidentifikasikan perilaku pembeli dan sekaligus bagaimana perusahaan harus

menanggapi perilaku tersebut. Dalam hal ini, perbaikan layanan menjadi lebih

sulit. Langkah-langkah dalam perbaikan layanan efektif adalah dengan cara

berikut:

1. Mendengarkan Pelanggan

Pelanggan dapat menjadi sangat emosional dalam masalah yang tidak masuk

akal dengan perusahaan. Sering reaksi yang emosional ini dapat dikurangi

dengan hanya memberi pelanggan kesempatan untuk menyampaikan keluhan.

Karyawan perlu mengizinkan para pelanggan menyampaikan keluhan mereka

tanpa gangguan. Karyawan juga harus mendengarkan secara seksama untuk

menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencari solusi yang adil.

2. Kewajaran Distributif

Kewajaran distribusi adalah persepsi pelanggan terhadap manfaat yang

diterima dibandingkan dengan pengorbanan mereka (berupa hal yang tidak

menyenangkan atau merugikan pelanggan).

3. Memecahkan Masalah dengan Cepat

Pelanggan harus diberitahu dengan jelas dan tepat apa yang mereka perlukan

Gambar 2.2 Komponen Efektif Sistem Perbaikan Jasa

Sumber : Utami (2006:281)

Dokumen terkait