BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Uji Asumsi Klasik
3. Uji Multikolinearitas
Artinya variabel indepen dengan dengan yang satu dengan yang lain dalam
model regresi berganda tidak saling berhubungan secara sempurna. Untuk
mengetahui ada tidaknya gejala multikololinearitas dapat dilihat dari
besarnya nilai Tolerance dan VIF (Varience Inflation Factor) melalui
program SPSS. Tolerance mengukur variabilitas variabel terpilih yang
tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai umum yang biasa
dipakai adalah nilai Tolerance > 0,1 atau nilai VIF < 5, maka tidak terjadi
multikolinearitas (Situmorang dkk, 2008:104).
10.Metode Analisis Data a. Metode Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah,
menyajikan dan menginterpretasikan data sehingga diperoleh gambaran yang
jelas mengenai masalah yang dihadapi dan hasil perhitungan.
b. Analisis Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui pengaruh atau hubungan variabel bebas (sikap, persepsi
nilai, dan persepsi peluang keberhasilan) dan variabel terikat (niat mengajukan
keluhan), maka untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, penulis menggunakan
bantuan program software SPSS 14.0 for Windows. Adapun model persamaan
Dimana:
Y = Keputusan menyampaikan keluhan pada Bank Sumut Cabang
Iskandar Muda
a = Konstanta
b1,b2,b3 = Koefisien Regresi
X1 = sikap
X2 = persepsi nilai
X3 = persepsi peluang keberhasilan
e = standar error
Suatu perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai
uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana H0 ditolak). Sebaliknya,
disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana H0
diterima. Dalam analisis regresi ada tiga jenis kriteria ketepatan, yakni:
1. Uji F hitung
Uji F hitung dilakukan untuk melihat secara serentak bagaimana
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Model hipotesa yang
digunakan dalam uji F hitung ini adalah:
H0 : b1, b2, b3 = 0, artinya variabel bebas (X1, X2, X3) secara serentak
tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
H0 : b1, b2, b3 ≠ 0, artinya variabel bebas (X1, X2, X3) secara serentak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
Kriteria pengambilan keputusan (KPK) yaitu:
H0 diterima jika Fhitung < Ftabelpada α = 5% H0 diterima jika Fhitung > Ftabelpada α = 5%
2. Uji t hitung
Uji t hitung dilakukan untuk nelihat secara parsial bagaimana pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat. Model hipotesis yang digunakan
dalam uji t hitung ini adalah sebagai berikut:
H0 : b1 = 0, artinya variabel bebas (X1, X2, X3) secara parsial tidak
berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
H0 : b2 ≠ 0, artinya variabel bebas (X1, X2, X3) secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
Kriteria pengambilan keputusan (KPK) yaitu:
H0 diterima jika t hitung < t tabelpada α = 5% H0 diterima jika t hitung > t tabelpada α = 5%
3. Uji Koefisien Determinan (R2)
Pengujian koefisien determinan (R2) digunakan untuk mengukur
proporsi atau persentase sumbangan variabel bebas yang diteliti yakni
sikap (X1), persepsi nilai (X2), dan persepsi peluang keberhasilan (X3)
terhadap variabel terikat (Y) yaitu keputusan menyampaikan keluhan
pada Bank Sumut Cabang Medan Iskandar Muda .
Koefisien determinan berkisar antara 0 sampai dengan 1 (0 < R2 < 1).
Hal ini berarti R2 = 0 menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh antara
variabel terikat, dan bila R2 mendekati 1 (satu) menunjukkan semakin
BAB II
URAIAN TEORITIS
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Burhanudin dengan judul “Analisis
Konsekuensi Kepuasan Dan Penyesalan Pada Niat Melakukan Pembelian Ulang
Dan Niat Melakukan Komplain”. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis
hubungan antara kepuasan, penyesalan, niat melakukan pembelian ulang, dan niat
melakukan komplain. Hasil penelitian ini adalah penyesalan berpengaruh negatif
terhadap niat melakukan pembelian ulang, artinya makin besar penyesalan yang
dirasakan maka makin kecil niat untuk melakukan pembelian ulang. Kepuasan
mempengaruhi secara positif niat untuk melakukan pembelian ulang, artinya
semakin tinggi kepuasan yang diterima maka semakin besar pula niat untuk
melakukan pembelian ulang. Penyesalan tidak mempengaruhi niat untuk
melakukan komplain karena konsumen akan melakukan perpindahan merek pada
saat dia membutuhkan kembali produk yang sama di masa mendatang. Kepuasan
memiliki pengaruh negatif terhadap niat melakukan komplain
Penelitian yang dilakukan Foedjiawati dan Hatane Samuel dengan judul
“Pengaruh Sikap, Persepsi Nilai Dan Persepsi Peluang Keberhasilan terhadap Niat
Menyampaikan Keluhan”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah
terdapat pengaruh antara sikap, persepsi nilai, dan persepsi peluang keberhasilan
Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada pengaruh yang positif antara
variabel sikap, persepsi nilai, dan persepsi peluang keberhasilan terhadap niat
untuk menyampaikan keluhan, dan faktor persepsi nilai keluhan memiliki
pengaruh yang lebih dominan terhadap niat menyampaikan keluhan.
B. Perilaku Konsumen
Setiadi (2003:3) mendefenisikan Perilaku Konsumen sebagai tindakan
yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan
produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli
tindakan ini. Menurut Hawkins et al., dalam Suryani (2008:6), Perilaku
Konsumen merupakan studi tentang bagaimana individu, kelompok dan
organisasi dan proses yang dilakukan untuk memilih, mengamankan,
menggunakan dan menghentikan penggunaan produk atau jasa, pengalaman atau
pemikiran untuk memuaskan kebutuhannya dan dampak terhadap konsumen dan
masyarakat.
Berdasarkan kedua defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumen dalam memilih ataupun membeli melalui proses yang cukup rumit.
Dikatakan rumit karena banyak variasi produk ataupun jasa yang memungkinkan
C. Perilaku Keluhan Konsumen
Menurut Singh (dalam Burhanudin, 2006:18), perilaku keluhan konsumen
merupakan rangkaian ragam tanggapan yang sebagian atau keseluruhannya
disebabkan oleh ketidakpuasan yang dirasakan dalam episode pembelian. Keluhan
menurut Tjiptono (2004:455) adalah ungkapan ketidakpuasan atau kekecewaan.
Organisasi atau perusahaan dapat mengumpulkan keluhan konsumen melalui
sejumlah cara, di antaranya kotak saran, formulir keluhan konsumen, saluran
telepon khusus, website, kartu komentar, dan survei kepuasan pelanggan.
Dalam hal terjadi ketidakpuasan, paling tidak terdapat empat kemungkinan
respons konsumen, yakni:
1. Tidak melakukan apa-apa. Maksudnya, mereka tidak menyampaikan
keluhannya kepada siapapun. Namun, kebanyakan di anatara mereka praktis
sudah beralih ke produk atau jasa lain.
2. Berhenti membeli produk/jasa perusahaan bersangkutan dan/atau
menyampaikan negative/bad word-of-mouth kepada keluarga, rekan sejawat,
maupun orang dekat lainnya. Informasi negaif semacam ini biasanya mengalir
cepat dan berdampak negatif pada citra perusahaan maupun sikap pelanggan
terhadap produk/jasa tersebut. Akibatnya, perusahaan bisa kehilangan banyak
pelanggan potensial maupun pelanggan saat ini yang beralih ke pesaing.
3. Menyampaikan keluhan secara langsung dan/atau meminta kompensasi
kepada perusahaan yang bersangkutan. Bila ini terjadi, perusahaan mendapat
umpan balik yang berharga dari berbagai keluhan yang disampaikan dan ada
peluang untuk mengatasi masalah sebelum menyebar luas. Bila keluhan
tidak puas bisa berubah menjadi puas dan tetap akan membeli produk/jasa
perusahaan. Ini sangat kontras dengan konsumen yang langsung berhenti
memakai produk/jasa perusahaan tanpa menyampaikan keluhannya sehingga
perusahaan tidak akan bisa mengetahui penyebab kekecewaan mereka dan
melakukan perbaikan.
4. Mengadu lewat media massa (misalnya menulis di ‘Surat Pembaca’, surat
kabar), mengadu ke lembaga konsumen atau instansi pemertintah terkait,
dan/atau menuntut perusahaan secara hukum. Ini merupakan bentuk keluhan
yang paling ditakuti oleh setiap perusahaan. Komunikasi pemasaran dan
public relations memegang peranan penting dalam mengantisipasi dan
menangani kemungkinan terjadinya bentuk keluhan ini.
Sejumlah faktor dikemukakan sebagai determinan apakah seorang
konsumen yang tidak puas akan melakukan keluhan atau tidak (Engel, et al.,
dalam Tjiptono, 2004:458) antara lain:
1. Penting tidaknya konsumsi yang dilakukan, yakni menyangkut tingkat
kepentingan produk bagi pelanggan, harga, waktu yang dibutuhkan untuk
mengkonsumsi produk, dan pandangan sosial.
2. Pengetahuan dan pengalaman, yakni jumlah pembelian sebelumnya,
pemahaman mengenai produk, persepsi terhadap kapabilitas sebagai
konsumen, dan pengalaman keluhan sebelumnya.
3. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan ganti rugi, meliputi jangka waktu
penyelesaian masalah, gangguan terhadap aktivitas rutin, dan biaya.
Gambar 2.1 Tindakan Terbuka Bagi Keluhan Pelanggan
Sumber : Utami (2006:276)
Dalam kaitannya dengan keluhan, Denham dalam Tjiptono (2004:457)
mengidentifikasikan tiga tipe pelanggan, yakni active complainers, inactive
complainers, dan hyperactive complainers.
a. Active Complainers, yakni mereka yang memahami haknya, percaya diri, dan
tahu persis cara menyampaikan keluhan. Bila ekspektasi mereka akan
pelayanan dan nilai (value) tidak terpenuhi, mereka akan menyampaikan
keluhan ke perusahaan yang bersangkutan. Tipe pelanggan seperti ini sangat
berharga bagi perusahaan, karena mereka cenderung langsung Memutuskan untuk
menyampaikan keluhan
Menyampaikan keluhan pada kepala
kantor
Menyampaikan keluhan ke organisasi
lain Masalah telah
diselesaikan Melakukan tindakan hukum Masalah masih belum terselesaikan Memperbanyak keluhan Masala h Memperbanyak keluhan pada perusahaan di tingkat lokal Tidak mengambil tindakan apa pun
Menceritakan pengalaman negatif
pada teman
Berganti pemasok Berpindah ke toko lain Menyampaikan informasi negatif dari mulut ke mulut Masalah yang tidak
menginformasikan dan mencari solusi atas setiap keluhan yang mereka
rasakan. Dengan demikian, perusahaan masih berpeluang untuk melakukan
perbaikan dan memuaskan mereka.
b. Inactive Complainers, yakni mereka yang lebih suka menyampaikan keluhan
kepada orang lain (teman, keluarga, rekan kerja) daripada langsung kepada
perusahaan bersangkutan. Mereka cenderung langsung berganti pemasok dan
tidak pernah kembali lagi ke perusahaan yang mengecewakan mereka. Dengan
demikian, peluang perbaikan bagi perusahaan praktis tidak ada.
c. Hyperactive Complainers, yakni mereka yang selalu mengeluh terhadap
apapun. Tipe ini bisa disebut pula chronic complainers yang kadangkala
berlaku kasar dan agresif. Mereka ini hampir tidak mungkin dipuaskan karena
tujuan keluhannya lebih dilatarbelakangi keinginan untuk mencari ‘untung’.
Pada umumnya, studi-studi tentang perilaku pengaduan konsumen telah
mengidentifikasikan dua tujuan utama untuk mengadu. Pertama, konsumen akan
mengadu untuk memulihkan kembali sebagian kerugian secara eknomi, dengan
berusaha untuk mendapatkan pengembalian uang atau menyeluruh layanan itu
dijalankan lagi (misalnya, ketika membeli suatu produk yang segar di sebuah
supermarket dalam kondisi yang kurang segar, maka konsumen cenderung
menuntut penggantian berupa uang atau barang baru dengan kondisi yang baik).
Mereka mungkin melakukan tindakan hukum jika masalah itu tetap tidak
terpecahkan. Alasan kedua untuk mengadu adalah membangun kembali
penghargaan diri (self-esteem). Ketika seorang karyawan berbuat kasar, agresif,
dan dengan sengaja menakut-nakuti, atau tampak tidak peduli, harga diri atau rasa
bahwa para pelanggan dengan perlakuan tersebut seharusnya diperlakukan dengan
lebih hormat, mereka menjadi marah atau emosional (Utami, 2006:277).
Masalah layanan dan keluhan adalah sumber informasi yang sempurna
tentang bagaimana perusahaan menawarkan barang dagangan dan layanannya.
Dalam banyak kasus, penyebab masalah mungkin adalah kesulitan dalam
mengidentifikasikan perilaku pembeli dan sekaligus bagaimana perusahaan harus
menanggapi perilaku tersebut. Dalam hal ini, perbaikan layanan menjadi lebih
sulit. Langkah-langkah dalam perbaikan layanan efektif adalah dengan cara
berikut:
1. Mendengarkan Pelanggan
Pelanggan dapat menjadi sangat emosional dalam masalah yang tidak masuk
akal dengan perusahaan. Sering reaksi yang emosional ini dapat dikurangi
dengan hanya memberi pelanggan kesempatan untuk menyampaikan keluhan.
Karyawan perlu mengizinkan para pelanggan menyampaikan keluhan mereka
tanpa gangguan. Karyawan juga harus mendengarkan secara seksama untuk
menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencari solusi yang adil.
2. Kewajaran Distributif
Kewajaran distribusi adalah persepsi pelanggan terhadap manfaat yang
diterima dibandingkan dengan pengorbanan mereka (berupa hal yang tidak
menyenangkan atau merugikan pelanggan).
3. Memecahkan Masalah dengan Cepat
Pelanggan harus diberitahu dengan jelas dan tepat apa yang mereka perlukan
Gambar 2.2 Komponen Efektif Sistem Perbaikan Jasa
Sumber : Utami (2006:281)
D. Pengambilan Keputusan
Menurut Davis (dalam Syamsi, 2003:3), keputusan merupakan hasil
pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus dilakukan’ dan
seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa
keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa
pemilihan satu di antara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya.
Menurut Daft (2007), pengambilan keputusan merupakan proses
identifikasi permasalahan dan peluang, kemudian menyelesaikannya.
Pengambilan keputusan yang baik merupakan bagian penting dari manajemen
yang baik, karena keputusan menentukan bagaimana organisasi menyelesaikan
masalah mereka, mengalokasikan sumber daya, dan mencapai tujuannya. Pekerjaan apa yang
benar saat pertama
Mengidentifikasikan keluhan
Memecahkan keluhan secara efektif
Menangani keluhan secara efektif
Menambah kepuasan dan kesetiaan
Belajar kembali dari pengalaman
• Melakukan riset
• Mengembangkan keluhan sebagai budaya
Mengembangkan sistem secara efektif dan belajar
mengenai keluhan
Mencari sebab utama masalah
Persoalan pengambilan keputusan pada dasarnya merupakan bentuk
pemilihan alternatif-alternatif tindakan yang mungkin dipilih yang prosesnya
merupakan mekanisme tertentu. Penyusunan model keputusan adalah suatu cara
untuk mengembangkan hubungan-hubungan logis yang mendasari persoalan
keputusan ke dalam suatu model keputusan matematis, yang mencerminkan
hubungan yang terjadi di antara factor-faktor yang terlihat.
Menurut Simon (dalam Suryadi, dkk, 2005:15), proses pengambilan
keputusan terdiri dari tiga fase, yakni:
a. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkungan
masalah serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses,
dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
b. Design
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan dan menganalis
alternatif tindakan yang biasa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk
mengerti masalah, menemukan solusi dan menguji kelayakan solusi.
c. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan di antara berbagai alternatif
tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian di
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Bank Sumut
Pada tanggal 4 November 1961 hadir tiga orang warga Sumatera Utara
menghadap notaris Roesli di Medan. Mereka adalah Adnan Nur, James Warren
Harahap serta H.Abu Bakar Hasibuan yang hadir berdasarkan surat kuasa
Gubernur KSH Swantantra tingkat I Sumatera Utara yang saat itu dijabat Radja
Djunjungan Lubis untuk mendirikan suatu perseroan terbatas yang
kepemilikannya merupakan Joint pemerintahan daerah Sumatera Utara yang
disingkat dengan BPDSU. Maka pada tanggal 4 November 1961 BPDSU
didirikan dengan akte notaris Roesli no.22 dalam bentuk Perseroan Terbatas.
Berdasarkan Undang-Undang no.13 tahun 1962 tentang ketentuan pokok Bank
Pembangunan Daerah, bentuk usaha dirubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) sesuai dengan peraturan Daerah Tingkat II se-Sumatera Utara. Dalam
perkembangan selanjutnya, sesuai ketentuan terjadi beberapa kali perubahan
sesuai dengan kebutuhan daerah untuk meningkatkan modal disetor.
Pada tanggal 16 April 1999 bentuk Badan Usaha Hukum dirubah kembali
menjadi Perseroan Terbatas sesuai dengan akte pendirian no.38 tahun 1999,
Notaris Alina Hanum Nasution, SH yang telah mendapatkan pengesahan dari
Menteri Kehakiman Republik Indonesia no.C-8224 HT.01.01 TH’99, dan telah
diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia no.54 tanggal 6 Juli 1999,
dengan modal dasar sebesar Rp 400 Miliyar. Dasar perubahan bentuk Hukum dan
Modal Dasar sebelumnya telah dituangkan dalam peraturan daerah tingkat I
selanjutnya akte no.31 tanggal 15 Desember 1999 modal dasar ditingkatkan
menjadi 500 Milyar.
Dalam perjalanan selanjutnya BPDSU mengawali usahanya dengan
berkantor menyewa satu lantai rumah tool (ruko) di sebuah gedung milik Sutan
Naga di Jalan Palang Merah No.64-66, dimana pada saat itu lantai 2 masih dipakai
pemilik sebagai kantornya.
Tidak ada merek BPDSU di dinding depan ruko tersebut, yang ada hanya
tulisan “Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara” yang ditulis dengan
kapur tulis dan digantung dekat pintu masuk.
Baru dalam pertengahan tahun 1967 sebuah BPDSU berlaba, gudang
kantor yang disewa tersebut dibeli dan menjadi milik sendiri.
Presiden direktur BPDSU pertama kali dijabat oleh Drs. Diapri Panusunan
Siregar dan Ketua Dewan Pengurus dijabat oleh Radja Djunjungan Lubis. Pucuk
pimpinan BPDSU berganti seiring waktu yaitu James Warren Harahap
(1965-1984), W.M.D Hutabarat (1966-1967), Drs. Yahfin Siregar (1984-1991), Drs.
Army (1991-1999), Drs. Abdul Rachman Butar-Butar (1999-2000), dan saat ini
Bank SUMUT dipimpim oleh Gus Irawan sebagai Direktur Utama. Dan saat itu
Dewan Komisaris dipimpin oleh Drs. Kasim Siyo, M.Si sebagai komisaris utama.
Pada tahun 1969 kantor cabang yang pertama didirikan di Rantau Parapat.
Saat ini Bank SUMUT telah memiliki 21 kantor cabang, 4 cabang pembantu, 19
kantor kas dan 16 unit kas mobil beroperasi di seluruh wilayah Sumatera Utara.
Setelah lebih kurang 13 tahun berkantor di Jalan Palang Merah, maka pada tahun
1975 gedung baru kantor pusat BPDSU yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.7
Pada tahun 1984 atas petunjuk Gubernur Kaharuddin Nasution, dilakukan
pembelian tanah eks konsultan Inggris di Jalan Imam Bonjol No.18 Medan. Dan
telah menghabiskan waktu pembangunan lenih kurang 29 bulan maka 20 April
1989 Menteri Dalam Negeri telah diresmikan gedung baru berkantor pusat dan
kantor cabang utama Medan yang berlantai cukup megah dan representative yang
terletak di jantung bisnis Kota Medan (Wall Street).
B. Visi dan Misi Bank Sumut
Visi Bank Sumut: menjadi bank andalan untuk membantu dan mendorong
pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang serta
sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf
hidup rakyat.
Misi Bank Sumut: mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara
professional yang didasarkan pada slogan budaya yang diusung oleh Bank
SUMUT, yaitu: Memberikan Pelayanan Terbaik.
C. Logo Bank Sumut
Gambar 3.1
D. Makna Logo Bank Sumut
Bentuk logo menggambarkan dua elemen dalam bentuk huruf “U” yang
saling berkait ber-sinergy membentuk huruf “S” yang merupakan kata awal
“Sumut”. Sebuah penggambaran bentuk kerjasama yang sangat erat antara Bank
Sumut dengan masyarakat Sumatera Utara sebagaimana visi Bank Sumut
“Menjadi bank andalan bagi membantu dan mendorong pertumbuhan
perekonomian dan pembangunan daerah disegala bidang serta sebagai salah satu
sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat”.
Warna oranye sebagai simbol suatu hasrat untuk terus maju yang
dilakukan dengan energik yang dipadu dengan warna biru yang sportif dan
profesional sebagaimana misi Bank Sumut “Mengelola dana pemerintah dan
masyarakat secara profesional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance”.
Warna putih sebagai ungkapan ketulusan hati untuk melayani sebagaimana
statement Bank Sumut “Memberikan pelayanan terbaik”.
Jenis huruf “Palatino Bold” sederhana dan mudah dibaca.Penulisan Bank
dengan huruf kecil dan Sumut dengan huruf kapital guna lebih mengedepankan
Sumatera Utara, sebagai gambaran keinginan dan dukungan untuk membangun
E. Struktur Organisasi Bank Sumut Kantor Cabang Medan Iskandar Muda
Gambar 3.2
Sumber: Bank Sumut Cabang Medan Iskandar Muda
F. Produk dan Jasa Layanan Bank Sumut 1. Penghimpunan Dana
a. Deposito Bank Sumut
Merupakan simpanan yang mengandung unsur jangka waktu (jatuh
tempo) lebih panjang, suku bunga yang relatif lebih tinggi dari
tabungan dan giro, yang dapat ditarik atau dicairkan setelah jatuh
b. Tabungan Simpeda
Produk tabungan ini merupakan gabungan antara Bank-Bank Daerah
yang ada di Indonesia.
c. Tabungan Martabe
Martabe merupakan singkatan dari Mari Tingkatkan Aktivitas
Bersama. Tabungan Martabe merupakan produk unggulan Bank
Sumut.
d. Giro Bank Sumut
Merupakan simpanan yang penarikannya dapat dilakukan dengan
menggunakan cek, bilyet giro, sarana pembayaran pemerintah yang
lain atau pemindahbukuan.
2. Penyaluran Dana
a. Kredit Umum
Kredit Umum adalah kredit dengan sistem rekening koran yang
diberikan kepada perorangan / badan usaha untuk menambah modal
kerja, usaha yang layak dibiayai oleh bank.
Sektor usaha yang dibiayai anatara lain:
1) Sektor perdagangan, restoran dan hotel
2) Sektor pertanian
3) Sektor industri
4) Sektor pengangkutan, pergudangan dan komunikasi
5) Jasa-jasa sosial masyarakat seperti hiburan, kesehatan, kebudayaan,
pendidikan.
b. Kredit SPK (Surat Perintah Kerja)
Kredit SPK adalah kredit modal kerja dalam bentuk rekening koran
untuk membantu pengusaha dalam pembiayaan melaksanakan
pekerjaan/proyek dari pemerintah dan swasta.
c. Kredit Angsuran Lainnya (KAL)
Kredit angsuran yang diberikan kepada perorangan atau badan usaha
yang bertujuan untuk membiayai:
1) Membangun/membeli/merehab rumah tempat tinggal
2) Membeli kendaraan
3) Membeli peralatan perlengkapan usaha
4) Membiayai pendidikan anak
d. Kredit Multi Guna (KMG)
Fasilitas kredit yang diberikan secara perorangan kepada pegawai yang
sumber pengembaliannya dari penghasilan tetap dan pemberiannya
melalui dinas/instansi/koperasi/pegawai/lembaga/perusahaan tempat
yang bersangkutan bekerja dengan tujuan membiayai keperluan yang
bersifat konsumtif investasi dan modal kerja.
e. Kredit Peduli Usaha Mikro
Kredit ini diperuntukkan kepada orang-orang yang membutuhkan
modal tambahan untuk sektor usaha mikro. Kredit ini diberikan tanpa
agunan dan besar pinjaman yang diberikan hanya Rp 1.000.000,-
dengan syarat peminjam harus dijamin oleh seseorang yang
3. Jasa dan Layanan
a. Pembayaran pajak dan telepon online
Pembayaran dapat dilakukan di Bank Sumut dengan men-debet
tabungan nasabah.
b. Transfer dan Inkasso
Transfer kiriman uang termasuk hasil inkasso yang ditagih melalui
suatu bank yang diteruskan ke bank lain yang dibayarkan kepada
nasabah.
c. Bank Garansi
Suatu jaminan yang diberikan kepada nasabah yang sudah
memenangkan tender atas permintaan bouwher yang ingin memastikan
bahwa proyek tersebut akan dilaksanakan dengan ketentuan yang telah
ditentukan sebelumnya dan ingin memastikan agar nasabah tersebut
tidak melakukan wanprestasi dalam pelaksanaan proyek tersebut.
d. Surat Keterangan Bank (SKB)
Surat Keterangan Bank dipergunakan oleh nasabah yang ingin
mengikuti tender proyek. SKB ini berisi bahwa si pemohon adalah
nasabah dari Bank Sumut.
e. Surat Keterangan Dukungan Dana
SKDD ini dipergunakan nasabah yang ingin mengikuti tender proyek.
SKDD ini menunjukkan bahwa si pemohon memiliki saldo di PT.