Kepemimpinan merupakan proses yang pada intinya dapat mempengaruhi dan menggerakan orang lain atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu atau berperilaku sebagaimana yang diharapkan oleh pimpinan. Senada dengan itu Hugges dkk (2012:1) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah proses bukan jabatan.
Stogdill mengemukakan secara singkat definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli bahwa kepemimpinan itu sebagai fokus proses dari suatu kelompok, kepemimpinan sebagai kepribadian dan pengaruhnya, kepemimpinan sebagai seni untuk mendorong kepatuhan, kepemimpinan sebagai pelaksanaan pengaruh, kepemimpinan sebagai tindakan atau perilaku, kepemimpinan sebagai bentuk persuasi, kepemimpinan sebagai instrumen pencapaian tujuan, kepemimpinan sebagai efek interaksi, kepemimpinan sebagai peran diferensial dan kepemimpinan sebagai inisiasi struktur (Hanson. 1991: 179). Dengan demikian, kepemimpinan di sekolah bukan hanya dimiliki oleh kepala sekolah, akan tetapi juga dimiliki oleh pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan dan juga masyarakat, sebab para peserta didik akan berinteraksi dengan semua komponen tersebut dan akan mendapatkan dampak atas interaksinya itu. Interaksi yang terjadi dapat dilakukan secara sengaja maupun juga tidak disengaja. Dalam konteks ini untuk dapat mempengaruhi terbentuknya karakter peserta didik sebagaimana yang diinginkan tidak cukup jika hanya dilakukan oleh kepala sekolah akan tetapi juga harus dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, masyarakat bahkan para peserta didik itu sendiri.
McCraae (1992), Seifert & Sutton (2009) dan Matsumoto menyatakan bahwa lingkungan memiliki peran dalam membentuk kepribadian. Pembentukan karakter tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh kehidupan luar sekolah yang mempunyai latar belakang budaya, agama dan lingkungan para peserta didik, yaitu lingkungan dimana seorang peserta didik dibesarkan dengan norma dalam keluarga, teman dan kelompok sosial. Perilaku yang ditampilkan oleh orang-orang yang berada di sekitar peserta didik baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat ikut andil dalam membentuk karakter para peserta didik. Meskipun demikian, sekolah mempunyai tanggung jawab yang cukup besar bagi pembentukan dan penguatan karakter peserta didik baik dari aspek karakter spiritual maupun karakter sosial peserta didik sehingga perlu gerakan bersama antara kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan dan juga peserta didik dalam upaya mempengaruhi terbentuknya karakter seluruh peserta didik yang multikultural.
Situs satu, situs dua dan situs tiga masing-masing memiliki warga sekolah yang multikultural baik dari apek agamanya, sukunya dan budayanya. Dalam hal penguatan karakter para peserta didik yang berbeda terutama agamanya tidak bisa dilakukan pendekatan dengan hanya satu agama saja, melainkan harus dilakukan sesuai dengan agama yang dianut para peserta didik. Artinya, aspek-aspek multikultural dalam pembentukan karakter peserta didik harus menjadi perhatian utama. Semua peserta didik harus diperlakukan sama entah berasal dari kelompok mayoritas ataupun minoritas. Sonhadji (2015) menyatakan bahwa pendidikan berbasis multikultural adalah proses transmisi nilai, pengetahuan, sikap dan perilaku yang diarahkan kepada individu atau kelompok dalam suatu masyarakat agar tetap menghormati keragaman kultur yang bersumber dari perbedaan etnik, agama, budaya dan wilayah pada saat yang sama mendukung kebijakan yang disepakati bersama.
Dalam rangka membentuk dan menguatkan karakter peserta didik yang memiliki latar belakang yang beragam pihak sekolah harus melayani dan memperlakukan semua peserta didik secara adil entah peserta didik dari kelompok minoritas maupun mayoritas.
Pendidikan di tengah multikultural pada satu sisi merupakan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, akan tetapi pada sisi lainnya juga harus menjadi perhatian serius karena kemungkinan ada kelompok minoritas yang terabaikan. Oleh karena itu, perlakuan-perlakuan terhadap perbedaan harus ditunjukan dengan sikap, pelayanan dan interaksi dengan para peserta didik secara adil dan merata.
Situs satu, situs dua dan situs tiga merupakan lembaga atau organisasi yang resmi menjalankan proses pendidikan yang memiliki struktur organisasi yang masing-masing memiliki tugas dalam proses kegiatan di sekolah. Selain itu, kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan masyarakat berinteraksi dan menunjukan perilaku yang harus disesuaikan dengan warga sekolah yang multikultural. Pada penelitian ini ditemukan perilaku kepemimpinan kepala sekolah, perilaku kepemimpinan pendidik, perilaku kepemimpinan peserta didik, perilaku kepemimpinan tenaga kepemdidikan dan perilaku kepemimpinan masyarakat.
Pada situs satu, situs dua dan situs tiga diperoleh hasil sebagai berikut:
Perilaku kepemimpinan kepala sekolah menunjukan:
1. berperilaku akrab dan peduli/sensitif multikultural 2. mengayomi/ membimbing
3. menghormati orang lain, 4. Berjiwa pancasilais.
Perilaku kepemimpinan pendidik menunjukan perilaku 1. akrab dan hangat,
2. menghargai perbedaan dan saling percaya,
3. konsisten antara perkataan dengan perbuatan, 4. peduli dan mengayomi.
5. berjiwa pancasilais.
Perilaku kepemimpinan peserta didik menunjukan:
1. perilaku kebersamaan/membaur,
2. peduli untuk kemajuan bersama, saling bantu membantu, 3. menghargai perbedaan.
Perilaku kepemimpinan tenaga kependidikan
1. Rasa tanggung jawab sebagai orang dewasa untuk ikut membantu membentuk karakter para peserta didik.
2. berperilaku adil, rasa hormat dan menghargai perbedaan.
3. memberi contoh dan melakukan pelayan yang baik kepada setiap peserta didik ataupun pendidik membuat para peserta didik menjadi segan dan segala saran, nasehat dan motivasi sering didengar oleh para peserta didik.
Perilaku kepemimpinan masyarakat menunujukan 1. saling tolong menolong
2. menjaga sikap dan saling menghargai, 3. penuh kekeluargaan dan tanggung jawab.
Perilaku kepemimpinan pendidikan karakter berbasis multikultural di sekolah, utamanya terhadap suku, agama dan kebudayaan yang beragam tentu berbeda dengan perilaku kepemimpinan pendidikan karakter dengan peserta didik yang homogen. Hal itu dikemukakan oleh Robbins bahwa:
Seandainya orang-orang sedang menjadi lebih homogen, dapatlah kita mengambil suatu pendekatan bebas-budaya ke prilaku organisasi. Namun pendekatan semacam itu tampak tidak dibenarkan dimasa kini, karena alasan-alasan berikut:
(1) Ada perbedaan-perbedaan dalam budaya-budaya nasional
yang berlainan. (2) Perbedaan-perbedaan ini menjelaskan sebagian besar dari perbedaan sikap dan perilaku. (3) Dan sekurangnya untuk sekarang ini, dan agaknya untuk sejumlah tahun mendatang (Robbins, 2006:49).
Dalam perilaku organisasi juga perlu komitmen organisasi, yaitu komitmen kerja yang mencerminkan identifikasi dan ikatan seseorang individu pada organisasi. Seorang yang sangat berkomitmen mungkin akan melihat dirinya sebagai anggota sejati dari lembaga. Tetapi perlu diingat bahwa individu dalam organisasi memiliki kepribadian yang termanifestasi dalam perilaku.
Kepribadian adalah serangkaian atribut psikologis yang relatif stabil yang membedakan satu orang dengan yang lain. Moorhead, dkk.
(2013 : 63) mengemukakan lima besar perilaku kepribadian, yaitu:
keramahan, kehati-hatian, emosionalitas negatif, ekstraversi dan keterbukaan.
Kepala sekolah harus menjadi model yang dapat dicontoh oleh warga sekolah multikultural. Moos (2017: 22) menyatakan bahwa kepala sekolah dan pendidik harus melakukan dengan sebenarnya dan nyata serta selalu menjalin kontak dan interaksi dengan para peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan dapat memahami, mengidolakan dan mengimitasi segala tampilan perilaku kepala sekolah dan pendidik. Kepribadian pendidik merupakan salah satu yang paling menonjol sehingga dengan dengan cepat mempengaruhi peserta didik (Warnick, 2008).
Pada sisi lain Pidarta (2013) mengungkapkan bahwa sangat penting berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila bagi para personalia pendidikan baik secara individu maupun kelompok serta antar hubungan mereka dalam menunaikan tugas antara lain ialah nilai persatuan dan kesatuan, kerukunan, semangat kekeluargaan, kegotongroyongan, saling menghormati dan toleransi satu dengan yang lain, bekerja sama,kerja keras, membela kebenaran dan keadilan, keputusan diambil secara musyawarah, adanya keseimbangan antara
hak dan kewajiban, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Kompetensi perilaku yang dikembangkan oleh McCall dan Hollenbeck untuk pemimpin multikultural adalah fleksibel dalam strategi dan taktik, sensitivitas budaya, kemampuan untuk menangani kompleksitas, ketahanan dan akal, kejujuran dan integritas, stabilitas pribadi, memiliki keterampilan teknis (Connerley & Padersen, 2006 : 73). Apabila suatu perilaku itu dapat dipertahankan relatif lama, maka ia akan menjadi tradisi atau kebiasaan sehingga terciptalah iklim yang baik. Hal itu akan menjadi contoh bagi peserta didik di sekolah terkait yang mengembangkan pendidikan karakter berbasis multikultur. Untuk itulah semua personel harus memiliki prinsip bahwa ”hidupku telah menjadi cermin cinta di sekelilingku”
(Warnick, 2008).
B. Strategi Kepemimpinan Pendidikan Karakter Berbasis