POS PENGAMATAN/STASIUN METEOROLOGI MERAUKE
4.2 Perilaku Lek dan Perilaku Harian Burung Cendrawasih Hibrida
Perilaku lek cendrawasih raggiana (P. raggiana) dan cendrawasih kecil (P. Minor) sama dengan cendrawasih kuning besar (P. apoda), hal inilah yang menyebabkan ketiga spesies ini dapat berhibridisasi dengan baik di alam (Mayr 1962). Cendrawasih raggiana (P. raggiana) memiliki perbedaan lek dengan cendrawasih kuning besar (P. apoda) yaitu pada tahap dance dan wing pose. P. raggiana pada saat wing pose sayap digerakkan dengan cepat dan kedua sayap saling bersentuhan yang biasa disebut ‘flower pose’, sedangkan P. apoda kedua sayap terbuka dan tidak saling bersentuhan. Pada tahap dance, P. raggiana dalam posisi berdiri tegak, kepala lurus ke atas sayap dibentangkan lurus sejajar dengan tubuh, sedangkan P. apoda sayap dikakukan seakan-akan memeluk dahan (Lecroy 1981; Frith dan Beehler 1998; Cooper dan Forshaw 1977).
Pada burung cendrawasih hibrida, posisi sayap merupakan kombinasi dari
P. apoda dan P. raggiana. Pada tahap wing pose sayap terbuka lebar dan membentang sejajar dengan kepala dan gerakannya beritme, sayap tidak diletakkan di depan tubuh saling bersentuhan seperti P. apoda dan tidak diletakkan di atas kepala seperti pada P. raggiana. Pada tahap ini disebut “mixed leks”. Perilaku lek dilakukan dengan beberapa jantan dan sering ditampilkan sendirian di pohon yang berbeda.
Tampilan dari “inverted posture” pada hibrida merupakan mekanisme
isolasi dari spesies P. raggiana. Pada cendrawasih hibrida terdapat perilaku “inverted posture” yang mirip dengan P. raggiana yaitu bergantungan pada dahan dengan posisi sayap seperti pada tahap wing pose dan sayap dikepakkan. Perilaku ini merupakan mekanisme isolasi dari P. raggiana.
Menurut Gilliard (1969) jumlah hibrida intergenerik dan interspesifik diketahui dari alam pada famili Paradisaeidae, hal ini menunjukkan bahwa burung ini jauh lebih erat terkait genetik dari morfologi jantan dan perilaku lek
merupakan seleksi yang paling cepat pada spesies ini, terutama pada jantan. Postur display dianggap sebagai mekanisme isolasi yang penting dalam spesies
non-pair-bonding. Hal inilah yang menyebabkan banyak variasi perilaku lek
dalam genus Paradisaea, dimana dua spesies bertemu pada display untuk mencegah interbreeding. Namun demikian, perilaku “inverted posture” belum
sepenuhnya mencegah terjadinya hibridisasi, misalnya terjadi hibridisasi di alam antara P. guilielmi dan P. raggiana, P. guilielmi dan P. minor, dan P. raggiana
dan P. rudolphi yang telah diketahui. Kemungkinan induk jantan merupakan superspesies P. apoda dan betina anggota dari spesies dengan “inverted posture” P. raggiana.
Betina yang berada di ketinggian yang lebih rendah dari kisaran spesiesnya dan siap untuk kawin sesekali akan menerima tampilan lek dari jantan P. apoda
tanpa adanya jantan dari spesies P. raggiana (Lecroy 1981). Selama pengamatan
display dilakukan sebanyak 31 kali, tetapi mounting tidak pernah terjadi. Hasil penelitian Dinsmore (1970) selama sembilan bulan perilaku lek cendrawasih kuning besar (P. apoda) di Little Tobago dance dilakukan sebanyak 165 kali, tetapi mounting hanya terjadi enam kali. Perilaku display tidak selalu dimulai dari
wing pose, bow dan pump. Belum pernah ada deskripsi yang lebih jelas mengenai
38
lek adalah sistem kawin di mana (1) beberapa jantan ditampilkan di arena, (2) jantan tidak memberikan sumber daya untuk betina, (3) betina memilih di antara jantan (mereka dikawinkan secara paksa oleh salah satu laki-laki), dan (4) jantan tidak mengambil bagian dalam perawatan juvenil (Alcock 2005). Keberhasilan kawin sering berkaitan dengan perbedaan fenotipik antara jantan, misalnya variabilitas perilaku di arena lek atau durasinya. Tinggi vegetasi mempengaruhi terjadinya lek dan ada kemungkinan menghalangi penglihatan betina ketika jantan melakukan display (Seth et al 2004).
Mounting dilaporkan jarang terjadi pada saat display, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pemilihan pasangan oleh betina (female choice), kehadiran manusia, faktor lingkungan dan susunan vegetasi (Anderson dan Simons 2006; Prum et al. 1997). Menurut Mackenzie et. al (1994) betina bersedia untuk kawin dengan jantan yang memiliki suara paling merdu, bulu yang indah, dan jantan yang belum pernah kawin dengan betina lain. Kecepatan pada saat display dengan perbedaan puluhan mili detik sangat mempengaruhi keinginan betina untuk melakukan mounting. Pembuatan sarang yang dilakukan oleh betina memberikan indikasi akan dimulainya courtship, ketika sarang belum selesai maka mounting tidak akan terjadi (Dudley et al. 1984).
Pemilihan pasangan kawin oleh betina dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain intensitas dan durasi courtship, jantan yang memiliki sumber daya lebih banyak akan mengalami kesuksesan kawin lebih tinggi, bertubuh besar, memiliki pertahanan dari predasi yang kuat (Bischoff et al. 1984; Nolan dan Hill 2004). Betina yang kawin dengan jantan yang sering melakukan display
cenderung menghasilkan lebih banyak keturunan dengan kemampuan bertahan hidup lebih besar (Seth et al. 2004). Menurut Payne (1984) betina memilih jantan dilihat dari ukuran wilayah, ciri-ciri morfologi, usia jantan, intensitas tampilan pacaran, ukuran tubuh, suara, dan lebih agresif.
Tingkat sirkulasi testoteron pada jantan meningkat sepanjang musim kawin dan mencapai maksimum ketika betina sedang berovulasi. Pada burung jantan keberhasilan reproduksi tergantung pada jumlah betina, sehingga jantan akan mencoba kawin dengan betina sebanyak mungkin. Pada burung betina, akan mencoba untuk memilih jantan yang terbaik untuk investasi telur yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan sperma pada burung jantan (Fusani 2008; Ball dan Balthazart 2007).
Komponen perilaku lek pada jantan sangat dipengaruhi oleh hormon androgen (testoteron) yang disekresi testis. Perilaku lek merupakan kumpulan dari beberapa pola perilaku yang berbeda dan dikontrol oleh beberapa hormon yang terpisah. Hormon testosteron meningkat akan mengaktifkan perilaku reprodusi termasuk daerah teritorial dan courtship (Wingfield et al. 2001). Dengan demikian,
courtship merupakan salah satu indikator bahwa burung telah siap kawin dengan peningkatan sirkulasi hormon testosteron.
Tahapan dan postur display (wing pose, pump, bow, dan dance) pada habitat hutan primer dan habitat kebun tidak berbeda. Faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu adanya rangsangan dari luar (lingkungan) dan dari dalam tubuh hewan tersebut (genetik). Burung cendrawasih dapat meyesuaikan diri di hutan basah tertutup, hutan sekunder, hutan primer, dekat perkampungan, kebun dan tanah pertanian bahkan hutan yang mengalami kerusakan (Kartikasari et al. 2012).
Perilaku lek merupakan salah satu perilaku yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dipengaruhi oleh genetik. Kondisi lingkungan baik dari cuaca, kehadiran manusia, dan susunan vegetasi pada dua habitat berbeda. Namun, hal ini hanya berpengaruh terhadap frekuensi dan durasi perilaku lek. Perilaku lek
pada habitat hutan primer lebih sering dilakukan dengan durasi yang lama dibandingkan dengan habitat kebun, tetapi tahapan dan postur display pada dua habitat tidak berbeda. Perilaku lek dipengaruhi oleh faktor genetik, perubahan kondisi lingkungan tidak berpengaruh terhadap terbentuknya tingkah laku hewan. Perilaku yang muncul tidak mengalami perubahan (stereotipe), walaupun berada pada kondisi yang berbeda (McGarty et al. 2002).
Perilaku besuara pada saat lek antara P. apoda dan P. raggiana tidak jauh berbeda mulai dari wing pose, pump, bow, dan dance. Pada P. apoda bersuara yang disebut Rising call. interval sekitar 1 detik “wauks”, suara pertama intensitasnya sama dan berikutnya semakin tinggi dan keras. Perilaku bersuara sering dilakukan di pagi hari dari dan sore hari. Rapid Wauk call, panggilan singkat "wauk" disertai ketukan sayap, ujung sayap dipindahkan sekitar 2 inci dari sisi burung. Biasanya ketika betina hadir di arena courtship. Wing Pose call, "eee- ak" melengking, sering diulang beberapa kali. Pump call, panggilan lebih cepat dari “wauk” berlangsung hingga 10 detik sehingga terdengar “wa-wa-wa”. Selain itu suara dikeluarkan keras dari hidung “baa”. Click call, selama courtship, penggilan lambat dan berirama klik dengan interval 1 detik seperti suara ketika seseorang mengklik lidahnya pada langit-langit mulut. Nassal call, setelah
courtship, panggilan dari hidung “Baa” perlahan dengan melompat dari satu
dahan ke dahan lain. Chugich cal. hanya beberapa kali, agak keras, "chug'-ich," "chug'-a," atau "chug'-a-la". Jantan bersuara ketika meninggalkan arena display
dan pindah ke tempat bertengger (Dinsmore 1970; Cooper dan Forshaw 1977; Frith dan Beehler 1998).
Pada cendrawasih raggiana (P. raggiana) suara yang sering muncul pada saat lek yaitu advertisement call, suara keras semakin lama semakin keras “wau wau waauu waauu waaauuu”. Hight-pitched call, panggilan lebih cepat dan keras “wok wok wok wok waagh waagh”. Bill-click-call, suara lebih keras dan tegas “kss kss kuss”. Click call, selama courtship, penggilan lambat dan berirama klik dengan interval 1 detik mirip P. apoda (Frith dan Beehler 1998; Cooper dan Forshaw 1977).
Pada burung hibrida hanya sedikit yang terdeskripsi pada saat pengamatan. Pada saat wing pose suara yang dikeluarkan “waak” interval sekitar 3 detik “wauks”, suara pertama intensitasnya sama dan berikutnya semakin tinggi dan keras. Pump call, panggilan lebih cepat dari “wauk” berlangsung hingga 10 detik sehingga terdengar “wa-wa-wa”. Pada saat bow suara semakin cepat dan keras dengan badan memutar pada dahan. Pada saat dance penggilan lambat dan berirama klik dengan interval 1 detik dengan suara hentakan kaki burung hibrida pada dahan.
Perilaku lek pada habitat hutan primer dilakukan mulai pukul 08.00 sampai 14.00, sedangkan pada habitat kebun hanya dilakukan pada pagi hari. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya aktivitas penduduk yang kesehariannya berkebun, menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari dikebun. Beberapa tanaman perkebunan milik warga diantaranya kelapa (Cocos nucifera), kemiri (Aleurites moluccana), bambu (Bambosa sp.), jambu hutan (Syzygium cadiflora),
40
sagu (Metroxylon sagu), pisang (Musa paradisiaca), dan ubi kayu (Manihot utilisima). Selain adanya aktivitas warga, terdapat beberapa populasi burung kakak tua jambul kuning (Cacatua sulphurea), kakak tua raja (Probosciger
aterrimus), dan nuri (Lorius lory) (Beehler et al. 2001). Populasi burung tersebut memiliki jenis yang sama dengan burung cendrawasih yaitu dari ordo Moraceae genus Ficus. Kedua habitat memiliki suhu dan kelembaban yang berbeda. Faktor lingkungan seperti cahaya dan suhu sangat berpengaruh terhadap perilaku lek. Habitat hutan primer rata-rata suhu pagi hari 24.5°C dengan kelembaban 97.7%, sedangkan habitat kebun 29.1°C kelembaban udara 87.7%.
Perilaku lek dapat dilakukan sepanjang hari, kegiatan tampilan memuncak sekitar matahari terbit dan terbenam, jarang terjadi pada siang hari (Jiguet dan Bretagnolle 2001). Pada pagi dan sore hari beberapa jantan berkumpul untuk mencari makan pada tempat yang sama, sehingga perilaku lek terjadi bersamaan dengan aktivitas makan. Hal tersebut untuk memikat burung betina dan memaksimalkan jumlah energi yang terpakai pada saat display (Anegay 1994). Pada siang hari waktu yang tersedia digunakan untuk beristirahat, perawatan tubuh, dan sedikit melakukan aktivitas makan. Pada vertebrata, memiliki insting berupa rangsangan dari luar yaitu sinar mahari, matahari terbit menandakan dimulainya segala aktivitas dan terbenamnya matahari berakhirnya aktivitas (Alcock 2005).
Perilaku lek dan perilaku harian sering dilakukan pada pagi dan sore hari bertujuan untuk menjaga agar tubuh tetap dalam keadaan homeostatis karena energi yang digunakan untuk mencari makan dan aktivitas lainnya tidak banyak. Pada siang hari suhu bisa mencapai 27°C dan kelembaban 67.7%, dengan cuaca yang panas memungkinkan energi yang terbuang lebih banyak sehingga aktivitas yang sering dilakukan adalah istirahat dan menggunakan ruang. Suhu lingkungan yang semakin tinggi mengakibatkan aktivitas burung akan berkurang untuk menyeimbangkan pengeluaran energi (Dawson dan Bennet 1980).
Burung cendrawasih sebagian besar menghabiskan waktunya untuk makan dengan waktu yang singkat per harinya, konsekuensinya makanan yang dipeoleh harus mencukupi kebutuhannya dengan nutrisi yang cukup tinggi (Beehler 1983a). Buah adalah bagian penting dalam pola makan burung cendrawasih walaupun terdapat beberapa genus dari Paradisaea ini yang makan serangga dan biji-bijian (Gilliard 1969). Burung cendrawasih mencari makan secara soliter, mereka secara bergantian mengambil buah terdiri dari dua sampai tiga ekor jantan dalam satu pohon. Biji yang telah dikuliti akan dibuang secara vertikal ke tanah, sekali makan cendrawasih dapat menghabiskan dua sampai lima buah kuning (Diospyros sp.).
Menurut Short (1993) Individu jantan banyak melakukan aktivitas yang memerlukan energi besar, sehingga banyak melakukan aktivitas makan. Jenis penggunaan lahan sangat bervariasi sehubungan dengan komposisi spesies dan distribusi spasial sumber makanan, sehingga waktu yang dihabiskan untuk makan tidak sama antara pada habitat yang berbeda. Perbedaan pola pergerakan antara penggunaan lahan dalam mencari makan tergantung pada sifat dan kepadatan makanan (Puttick 1979; Hafner et al. 1982; Pienkowski 1983).
Ketersediaan sumber pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lamanya musim berbuah, pematangan buah, dan ketergantungan penyerbukan terhadap pohon lain (Beehler 1983a). Selain tumbuhan F. nodosa, F. benjamina,
Ficus sp., ditemukan beberapa jenis pohon yang digunakan untuk makan dan bermain antara lain Acacia auriculiformis., Diosphyros sp., Rhodamnia sp.,
sedangkan untuk mencari pasangan dan kawin Mangifera gedebe.
Menurut Beehler (1983a) pada burung yang diamati ketika makan sebagian besar dari mereka menjatuhkan biji hampir vertikal ke tanah kemudian membelok. Pada beberapa kali pengamatan pohon buah kuning (Diospyros sp.) yang merupakan makanan cendrawasih dimakan juga oleh beberapa spesies burung. Spesies yang berbeda dari burung cendrawasih jarang atau tidak pernah beristirahat dan berpindah dari pohon yang digunakan untuk makan. untuk melakukan aktivitas lainnya mereka selalu pindah pada pohon yang lain.
Cendrawasih hibrida biasanya berkumpul pada satu pohon buah. Cendrawasih hibrida mengambil makanannya dengan mematuk buah langsung dari pohonnya, biji diambil dan dikumpulkan pada paruhnya kemudian terbang pada pohon yang lebih dekat, kadang buah utuh yang diambil langsung dari pohon dibawa menggunakan paruh pada pohon terdekat kemudian buah dikupas dengan paruh untuk diambil bijinya. Sering kali biji yang telah dimakan dijatuhkan ke tanah. Burung cendrawasih biasanya makan pada pohon yang letaknya berbeda dengan pohon buah.
Habitat hutan primer memiliki beberapa pohon buah yang lebih banyak dan persaingan antar populasi burung yang lain lebih sedikit dibandingkan dengan di habitat kebun. Burung cendrawasih memiliki jenis pakan yang sama dengan jenis burung yang lain. Menurut Beehler (1983b) burung cendrawasih lebih suka makan di pohon yang sudah diduduki oleh pemakan buah lainnya.
Perilaku perawatan tubuh merupakan aktivitas yang sering dilakukan selain gerak pindah hal ini bertujuan untuk merapikan bulu. Menurut Prijono dan Handini (1998) bulu memiliki peranan penting untuk terbang, penghangat tubuh, dan untuk menarik perhatian pasangannya.
Habitat hutan primer merupakan dataran rendah yang masih alami belum terjamah oleh manusia. Pada pagi hari pukul 05.00 WIT belum ada aktivitas burung karena arah datangnya sinar matahari terhalang oleh tutupan hutan. Oleh karena itu, aktivitas cendrawasih di habitat hutan primer lebih sering dilakukan pada pukul 08.00 sampai 11.00 WIT. Habitat hutan primer belum terjamah oleh manusia dan persaingan untuk mendapatkan makanan kecil, sehingga durasi waktu yang digunakan untuk aktivitas lebih lama. Kondisi cuaca mengakibatkan perubahan waktu kawin dan komposisi vegetasi menimbulkan perubahan dalam strategi kawin sehingga mengarah pada modifikasi dalam sistem perkawinan. Pada musim kemarau tumbuhan banyak mengugurkan daun, jumlah buah sedikit bahkan tidak berbuah, kondisi tanah dan air yang kering berdampak pada kebutuhan sumber daya alam yang semakin sedikit. Pada beberapa jantan membutuhkan sumber daya alam untuk menarik perhatian betina (Caranza et al.
2011).
Papua membentang dari khatulistiwa hingga 12° lintang selatan menyebabkan iklim tropisnya secara musiman dipengaruhi oleh angin musim barat laut dan angin pusat tenggara. Angin pusat tenggara cenderung menghasilkan cuaca sejuk dan kering yang berlangsung bulan April hingga September. Pada burung cendrawasih perilaku lek sering dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober (Beehler 1983a; Lecroy 1981).
42
4.3 Karakteristik Pohon Lek di kedua habitat
Pohon lek pada habitat hutan primer dan kebun memiliki karakteristik yang sama. Pada habitat hutan primer perilaku lek ditampilkan pada pohon dari famili Anacardiaceae yaitu Mangga hutan (Mangifera gedebe). Pohon yang tinggi dengan percabangan yang sedikit menjadikan pohon ini disukai oleh cendrawasih. Pada habitat hutan primer display dilakukan pada dua dahan yang saling berdekatan. Dahan yang digunakan untuk lek memiliki tutupan tajuk lebih rapat sehingga mendapatkan cahaya yang optimal dibandingkan di habitat kebun. Pohon lek di habitat kebun merupakan famili Moraceae jenis Ficus nodosa. Jenis
Ficus sp. memiliki karakteristik yang disukai burung cendrawasih, karena musim berbuah yang relatif singkat, jumlah buah yang banyak, pohon besar dan lebat, percabangan mendatar (Beehler 1983b). Pohon ini digunakan untuk tempat bermain, makan, mencari pasangan dan kawin.
Burung cendrawasih ketika display sering berada pada dahan kedua dari permukaan tanah, karena memiliki diameter 8 cm hal ini untuk memudahkan pijakan kaki pada saat display. Perilaku lek sering dilakukan pada pagi hari menunggu datangnya fajar. Daun lebar dan besar memungkinkan gerakan lek
dapat dilihat cendrawasih betina dari kejauhan. Pohon Ficus nodosa berbuah lebat dan bergerombol jika musimnya tiba. Buah dari Famili Moraceae merupakan salah satu sumber pakan cendrawasih. Sumber daya pakan yang melimpah merupakan daya tarik tersendiri bagi cendrawasih betina. Pada beberapa jantan akan bertengger pada pohon yang sama dengan sumber daya yang melimpah adalah salah satu strategi untuk menarik pasangannya (Alcock 2005). Karakteristik pohon yang digunakan untuk lek yaitu pohonnya tinggi besar, daun lebar dan jarang dengan jumlah cabang sedikit. Hal ini bertujuan agar memudahkan gerakan display dan mudah dilihat oleh pasangan betina dengan jarak yang jauh (Lecroy 1981). Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa burung cendrawasih terlihat bertengger di atas puncak pepohonan atau pada tajuk-tajuk pohon bagian atas dengan ketinggian 20 m.
4.4 Habitat Cendrawasih Hibrida
Dari hasil analisis indeks kesamaan Jaccard (ISj) yaitu sebesar 25 %, vegetasi dianggap sama jika indeks kesamaannya di atas 80% (Sutisna dan Suyatman 1984). Dengan demikian habitat burung cendrawasih dari kedua lokasi berbeda. Keberadaan pohon-pohon dari kedua lokasi dari tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon masih cukup tersedia secara alami apabila tetap terjaga selama tidak ada ancaman yang dapat merusak habitat tersebut.
Indeks keanekaragaman spesies merupakan informasi penting tentang suatu komunitas. semakin luas areal sampel dan semakin banyak spesies yang dijumpai, maka nilai indeks keanekaragaman spesies cenderung akan lebih tinggi. Nilai indeks keanekaragaman dapat berkisar antara 0-7, dengan kriteria: 0-2 (rendah), 2-3 (sedang), dan > 3 (tinggi) (Barbour et al. 1987). Dengan demikian indeks keanekaragaman spesies tingkat pohon di dua habitat tergolong rendah.
Keanekaragaman tumbuhan pada habitat kebun lebih sedikit dibandingkan habitat kebun. Kedua habitat cendrawasih masih dalam satu kawasan, tetapi keduanya berada dalam ekosistem yang berbeda. Taman Nasional Wasur memiliki sembilan jenis ekosistem salah satunya hutan dataran rendah (Kartikasari et al. 2012). Pada habitat hutan primer merupakan hutan dataran rendah yang tersusun atas tumbuhan homogen, jenis tumbuhannya sedikit dan jumlah yang sedikit. Sedangkan pada habitat kebun merupakan hutan heterogen, jenis tumbuhannya banyak dengan jumlah yang lebih banyak. Vegetasi yang menjadi habitat cendrawasih di habitat kebun tampak lebih terbuka karena adanya kegiatan masyarakat berupa pembukaan hutan untuk dijadikan kebun. Habitat burung cendrawasih adalah tempat melakukan segala aktivitas harian mencari makan, bermain, dan bertengger. P. raggiana dan P. apoda merupakan spesies dari genus Paradisaea ditemukan paling banyak pada area yang secara ekologi terganggu dibandingkan ditengah hutan (Diamond 1972).
Komponen penting flora yang menyusun hutan terdiri dari famili Podocarpaceae, Fagaceae, Moraceae, Lauraceae, Meliaceae, Myristicaceae, Sapin daceae, Euphorbiaceae, Combreta ceae, Sapotaceae, Annonaceae, Clusiaceae, dan Rubiaceae (Kartikasari et al. 2012). Semua famili tersebut terdapat pada kedua habitat pengamatan. Tingkat pertumbuhan dan keanekaragaman tumbuhan pada kedua habitat mulai dari semai, pancang, tiang, dan pohon berbeda. Hal ini berpengaruh terhadap perilaku harian dan lamanya perilaku lek berlangsung. Fenomena ini memberikan indikasi bahwa kehadiran spesies yang berbeda pada tingkat ketinggian yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan cenderung berbeda pula. Oleh karenanya spesies tumbuhan dapat digunakan sebagai indikator suatu lingkungan (Setiadi 2005).
Jenis tumbuhan yang memiliki nilai INP tertinggi pada habitat kebun diantaranya Cocos nucifera, Planchonela, Gahnia aspera. Sedangkan habitat hutan primer sebagian besar tumbuhan yang memiliki nilai INP tertinggi adalah jenis tumbuhan yang digunakan untuk aktivitas cendrawasih yaitu Diospyros sp., Mangifera gedebe, Rhodamnia sp., Fagraea sp., dan Alloxylon sp. Habitat yang tidak mengalami gangguan dari manusia akan memiliki banyak jenis tumbuhan yang digunakan untuk burung beraktivitas dibandingkan habitat yang mengalami gangguan (Jankowski et al. 2012).
Perbedaan habitat lek burung cendrawasih selain dilihat dari kerapatan vegetasi juga dari jarak terdekat dengan pohon yang lain. Pada habitat kebun jarak antar pohon lebih rapat dibandingkan habitat hutan primer. Perilaku lek salah satunya dipengaruhi oleh tutupan tajuk, semakin rapat tutupannya maka akan semakin sulit pandangan betina untuk melihat display cendrawasih jantan (Shekib
et al. 1997). Faktor lain yang menentukan kehadiran suatu tumbuhan atau komunitas tumbuhan tidak hanya mencakup kondisi fisik dan kimia, tetapi juga hewan dan manusia yang mempunyai pengaruh besar terhadap tumbuhan (Loveless 1983).
44
5 SIMPULAN DAN SARAN