• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

4.7. Perilaku Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah tak terlepas dari perilaku masyarakat terhadap sampah itu sendiri. Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dibedakan atas indikator perilaku masyarakat terhadap sampah yang mudah busuk dan yang tidak

membusuk, perilaku masyarakat untuk memilah sampah sampah yang mudah busuk dan yang tidak membusuk.

Perilaku dan pengetahuan masyarakat diperoleh berdasarkan jawaban responden pada data kuisioner. Perilaku dan pengetahuan masyarakat adalah responden yang menjawab Ya dan yang lebih dominan dilakukan. Perilaku dan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah diuraikan sebagai berikut.

1. Perilaku masyarakat untuk memilah sampah

Hasil penelitian di Desa Onolimbu menjawab 51 responden (46 %) melakukan pemilahan sampah sebelum dibuang ke tempat sampah. Sedangkan yang terbanyak adalah 59 responden (54 %) tidak memilah sampah. Hasil nya dapat dilihat pada Gambar 4.5.

51 Responden Memilah Sampah , 46%

59 Responden Tidak Memilah Sampah,

54%

Gambar 4.5. Jumlah Responden yang berperilaku Memilah Sampah (olah data, 2016)

Perilaku memilah sampah yang mudah membusuk dan yang tidak membusuk dilakukan oleh responden yang pendidikannya perguruan tinggi yaitu 28 responden, bekerja sebagai PNS dan pegawai yaitu 15 responden, berpenghasilan Rp. 2.000.000 - Rp. 3.000.000 yaitu 15 responden dan berpenghasilan Rp. 1.000.000 Rp. 2.000.000 yaitu 14 responden, berumur 30 -45 tahun yaitu 26 responden dan lebih banyak dilakukan oleh laki - laki yaitu 32

responden. Jumlah responden yang memilah sampah menurut demografi terdapat

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.6. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Memilah Sampah (olah data, 2016) 2. Alasan masyarakat untuk tidak memilah sampah

Berbagai alasan masyarakat yang tidak melakukan pemilahan sampah yang mudah membusuk dan yang tidak membusuk. Sebanyak 51 responden (85 %) menjawab karena tidak tersedianya fasilitas pemilahan sampah, 21 responden (19,1 %) mengatakan disebabkan faktor malas, dan 20 responden (18,2 %) mengatakan karena tidak tersedianya peraturan. Selain itu juga, 12 responden (10,9 %) mengatakan bahwa perilaku tidak memilah sampah bukan sesuatu yang penting dan 6 responden (5,5 %) mengatakan tidak menguntungkan. Jumlah responden yang memberikan alasan karena tidak memilah sampah terdapat pada Tabel 4.26.

Tabel 4.26. Alasan Responden Atas Perilaku Tidak Memilah Sampah No. Alasan Atas Perilaku Tidak

Melakukan Pemilahan Sampah

2 Tidak menguntungkan 6 5,5 %

3 Tidak ada fasilitas 51 46,4 %

4 Tidak ada peraturan 20 18,2 %

5 Tidak penting 12 10,9 %

Jumlah Responden 110 100,0 %

a. Malas

Responden yang berperilaku tidak memilah sampah beralasan bahwa malas yaitu 21 responden. Responden tersebut adalah yang berpendidikan perguruan tinggi dan SMA yaitu 7 responden, bekerja sebagai PNS dan pegawai yaitu 5 responden. Penghasilannya yaitu dibawah Rp. 500.000, Rp. 500.000 - Rp.

1.000.000, dan Rp. 1.000.000 - Rp. 2.000.000 yaitu 5 responden. Responden tersebut berumur 15 - 30 dan umur 30 - 45 tahun yaitu 7 responden serta lebih banyak dilakukan oleh perempuan yaitu 13 responden. Jumlah responden yang berperilaku malas memilah sampah menurut demografi terdapat pada Gambar 4.7.

7 7

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya : SMA Lainnya : SMP < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.7. Jumlah Responden Menurut Demografi yang berperilaku Tidak Memilah Sampah Karena Malas (olah data, 2016) b. Tidak menguntungkan

Sebanyak 6 responden yang berperilaku tidak memilah sampah disebabkan tidak menguntungkan. Responden tersebut adalah yang berpendidikan SMA yaitu 4 responden, bekerja sebagai wiraswasta dan masih SMA/SMP yaitu 2 responden, penghasilannya dibawah Rp. 500.000 dan Rp. 3.000.000 – Rp. 4.000.000 yaitu 2 responden, berumur 15 - 30 tahun yaitu 3 responden, dan dilakukan oleh perempuan maupun laki – laki yaitu 3 responden. Jumlah responden menurut demografi yang beralasan tidak menguntungkan dapat dilihat pada Gambar 4.8.

1

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya : SMA Lainnya : SMP < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.8. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Tidak Memilah Sampah Karena Tidak Menguntungkan (olah data, 2016) c. Tidak ada fasilitas

Sebanyak 51 responden (46,4 %) beralasan bahwa tidak memilah sampah karena tidak adanya fasilitas. Responden tersebut adalah yang berpendidikan perguruan tinggi yaitu 23 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 12 responden, tingkat pendapatannya Rp. 1.000.000 - Rp. 2.000.000 yaitu 13 responden, berumur 30 - 45 tahun yaitu 22 responden, dan lebih banyak adalah laki - laki yaitu 30 responden. Jumlah responden menurut demografi yang beralasan tidak ada fasilitas dapat dilihat pada Gambar 4.9.

Di kawasan perkotaan Lahomi khususnya Desa Onolimbu tidak terdapat fasilitas pemilahan sampah. Tong sampah yang tersedia memang telah dibagi menurut jenis sampah yang mudah membusuk dan tidak membusuk, namun karena jumlah yang terbatas dan penanganan yang tidak optimal maka tong sampah tersebut menjadi tempat tumpukan sampah yang merugikan masyarakat.

23

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya : SMA Lainnya : SMP < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Gambar 4.9. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Tidak Memilah Sampah Karena Tidak Ada Fasilitas (olah data, 2016)

d. Tidak ada peraturan

Responden yang berperilaku tidak memilah sampah karena tidak ada peraturan sebanyak 20 responden. Responden tersebut berpendidikan perguruan tinggi yaitu 11 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 8 responden, tingkat pendapatannya Rp. 2.000.000 - Rp. 3.000.000 yaitu 6 responden, berumur 15 – 30 tahun dan berumur 30 - 45 tahun yaitu 9 responden, dan lebih banyak dilakukan responden perempuan yaitu 12 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku tidak memilah sampah karena tidak ada peraturan dapat dilihat pada Gambar 4.10.

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya : SMA Lainnya : SMP < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.10. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Tidak Memilah Sampah Karena Tidak Ada Peraturan (olah data, 2016)

Di Kabupaten Nias Barat secara umum tidak ada suatu aturan yang mengharuskan masyarakat untuk memilah sampah. Oleh karena masyarakat semakin kurang kesadaran akan kebersihan lingkungan dari dampak sampak.

Disamping itu juga perilaku masyarakat seperti ini semakin didukung dengan tidak tersedianya fasilitas dan peraturan di daerah.

e. Tidak penting

Masih terdapat 12 responden (10,9 %) yang tidak memilah sampah karena tidak penting. Responden yang berperilaku demikian adalah yang berpendidikan SMP yaitu 6 responden, bekerja sebagai petani yaitu 4 responden dan pedagang yaitu 3 responden, berpenghasilan dibawah Rp. 500.000 yaitu 5 responden, berumur 30 - 45 tahun yaitu 6 responden, serta lebih banyak adalah laki - laki yaitu 10 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku tidak memilah sampah karena tidak penting dapat dilihat pada Gambar 4.11. Tabulasi perilaku pemilahan sampah menurut demografi terdapat pada Lampiran 10.

3

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya : SMA Lainnya : SMP < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.11. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Tidak Memilah Sampah Karena Tidak Penting (olah data, 2016)

3. Perilaku masyarakat terhadap sampah yang mudah busuk (garbage)

Perilaku masyarakat terhadap sampah yang mudah busuk dibagi atas beberapa perilaku yaitu dibuat kompos/pupuk, diangkut petugas ke TPS/TPA, ditimbun/dikubur, dibakar, dibuang ke laut/sungai, dibuang ke parit, dibuang sembarangan, dan dijadikan makanan ternak. Perilaku masyarakat terhadap sampah yang mudah busuk diuraikan pada Tabel 4.27 dan Gambar 4.12.

Tabel 4.27.Perilaku Responden Terhadap Sampah yang Mudah Busuk (Garbage)

1 Dibuat kompos/pupuk 14 12,7 %

2 Diangkut petugas ke TPS/TPA 2 1,8 %

3 Ditimbun/dikubur 8 7,3 %

4 Dibakar 11 10,0 %

5 Dibuang ke laut/sungai 5 4,5 %

6 Dibuang ke parit 0 0 %

7 Dibuang sembarangan 27 24,5 %

8 Dijadikan makanan ternak 43 39,1 %

Jumlah Responden 110 100 %

Sumber : Olah data, 2016

Dibuat

Gambar 4.12. Perilaku Masyarakat Terhadap Sampah yang Mudah Busuk (olah data, 2016)

Berdasarkan pada hasil kuisioner bahwa perilaku masyarakat terhadap sampah yang mudah membusuk (garbage) yang lebih banyak dilakukan adalah dijadikan makanan ternak yaitu 43 responden (39,1 %) dan membuang sembarangan yaitu 27 responden (24,5 %). Sebanyak 14 responden (12,7 %) yang membuat kompos/pupuk dan 11 responden (10 %) yang membakar sampah yang mudah membusuk. Sedangkan perilaku responden yang tidak banyak dilakukan yaitu ditimbun/dibakar yaitu 8 responden (7,3 %), dibuang ke laut yaitu 5 responden (4,5 %), diangkut petugas ke TPS/TPA yaitu 2 responden (1,8 %) dan tidak terdapat yang membuang ke parit (0 %).

Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah yang mudah membusuk menurut demografi diuraikan sebagai berikut :

a. Dibuat kompos/pupuk

Berdasarkan hasil kuisioner diketahui bahwa responden yang berperilaku membuat kompos/pupuk dari sampah yang mudah membusuk adalah 14 responden. Perilaku membuat kompos/pupuk lebih banyak dilakukan oleh responden yang berlatar pendidikan SMA (8 responden), dan masih berstatus sebagai pelajar SMA/SMP (6 responden), tingkat pendapatannya dibawah Rp.

500.000 (6 responden), berumur 15 - 30 tahun, dan lebih banyak dilakukan oleh responden perempuan (8 responden). Secara umum di Kabupaten Nias Barat masih belum menerapkan pembuatan kompos/pupuk. Teknologi untuk pembuatan nya masih belum tersedia sehingga masih bersifat tradisional dan masih dalam lingkup keluarga. Jumlah responden menurut demografi yang membuat kompos/pupuk dapat dilihat pada Gambar 4.13.

3

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.13. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Membuat Kompos/Pupuk dari Sampah yang Mudah Busuk (olah data, 2016) b. Diangkut petugas ke TPS/TPA

Sebagian besar responden berperilaku untuk tidak diangkut petugas ke TPS/TPA yaitu 2 responden. Perilaku untuk tidak diangkut petugas ke TPS/TPA

dan SMA yaitu 1 responden, bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta yaitu 1 responden, tingkat pendapatannya Rp. 1.000.000 - Rp. 2.000.000 yaitu 2 responden, berumur 15 - 30 tahun yaitu 2 responden, dan dilakukan oleh responden perempuan dan laki – laki yaitu 1 responden.

Di Kabupaten Nias Barat belum tersedia tempat penampungan sampah sementara maupun tempat pembuangan akhir sampah, sehingga petugas pengangkut sampah juga tidak tersedia. Oleh karena itu sebagian besar berbuat untuk tidak diangkut sampah organik oleh petugas ke TPS/TPA. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku diangkut petugas ke TPS/TPA dapat dilihat pada Gambar 4.14.

1 1

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.14. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Sampah yang Mudah Busuk Diangkut Petugas ke TPS/TPA (olah data, 2016) c. Ditimbun/dikubur

Sebanyak 8 responden yang menimbun/mengubur sampah organik, yang terdiri dari latar belakang pendidikan SMA yaitu 4 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 3 responden, berpenghasilan Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000 dan Rp.

3.000.000 – Rp. 4.000.000 yaitu 3 responden, berumur 15 – 30 tahun yaitu 3 responden, dan lebih banyak dilakukan oleh responden perempuan yaitu 5 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku menimbun/

mengubur sampah yang mudah membusuk dapat dilihat pada Gambar 4.15.

3

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.15. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Menimbun Sampah yang Mudah Busuk (olah data, 2016) d. Dibakar

Sebanyak 11 responden yang membakar sampah organik yang mudah membusuk. Perilakau tersebut lebih banyak dilakukan oleh responden yang latar belakang pendidikannya perguruan tinggi yaitu 6 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 5 responden, tingkat pendapatannya Rp. 500.000 - Rp. 1.000.000 yaitu 4 responden, berumur 15 30 tahun yaitu 6 responden, dan berjenis kelamin laki -laki yaitu 7 responden. Masyarakat yang membakar sampah organik biasanya bersamaan dengan sampah non organik tanpa dipilah terlebih dahulu. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku membakar sampah yang mudah membusuk dapat dilihat pada Gambar 4.16.

6

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.16. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Membakar Sampah yang Mudah Busuk (olah data, 2016)

e. Dibuang ke laut/sungai

Terdapat 5 respondenyang berperilaku membuang sampah organik ke laut/sungai. Responden tersebut berpendidikan SMA yaitu 4 responden, bekerja sebagai pegawai sebanyak 3 responden, dengan pendapatan Rp. 1.000.000 - Rp.

2.000.000 sebanyak 3 responden, berumur 15 - 30 tahun sebanyak 3 responden dan lebih banyak dilakukan perempuan (3 responden). Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku membuang sampah mudah membusuk di laut/sungai dapat dilihat pada Gambar 4.17.

1

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.17. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Membuang Sampah yang Mudah Busuk ke Laut/Sungai (olah data, 2016) f. Dibuang ke parit

Berdasarkan hasil kuisioner tidak terdapat responden yang berperilaku membuang sampah organik yang mudah busuk ke parit.

g. Dibuang sembarangan

Sebanyak 27 responden membuang sampah organik yang mudah membusuk secara sembarangan. Perilaku tersebut lebih banyak dilakukan oleh responden yang pendidikan SMP yaitu 12 responden, bekerja sebagai petani 7 responden dan masih berstatus SMP/SMA yaitu 6 responden. Jika menurut tingkat pendapatan lebih banyak dilakukan yang pendapatannya dibawah Rp. 500.000 yaitu 11 responden. Menurut umur dan jenis kelamin, maka responden yang berumur 30

-45 tahun lebih banyak membuang sampah organik sembarangan yaitu 16 responden, dan lebih banyak dilakukan laki-laki yaitu 16 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku membuang sampah mudah membusuk secara sembarangan dapat dilihat pada Gambar 4.18.

7

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.18. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Membuang Sembarangan Sampah yang Mudah Busuk (olah data, 2016)

h. Dijadikan makanan ternak

Sebanyak 43 responden yang menjadikan sampah organik yang mudah membusuk sebagai makanan ternak. Perilaku tersebut lebih banyak dilakukan oleh responden yang berpendidikan perguruan tinggi yaitu 24 responden) dan bekerja sebagai PNS yaitu 13 responden. Menurut tingkat pendapatan lebih banyak dilakukan oleh responden yang pendapatannya Rp. 3.000.000 - Rp. 4.000.000 yaitu 11 responden dan yang pendapatannya Rp. 2.000.000 - Rp. 3.000.000 yaitu 10 responden. Menurut umur lebih banyak dilakukan yang berumur 30 - 45 tahun yaitu 20 responden dan lebih banyak dilakukan laki - laki yaitu 24 responden.

Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku menjadikan sampah mudah membusuk sebagai makanan ternak dapat dilihat pada Gambar 4.19.

24

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Jumlah Responden

Demografi

Gambar 4.19. Jumlah Responden Menurut Demografi Berperilaku Menjadikan Sampah yang Mudah Busuk Sebagai Makanan Ternak (olah data, 2016)

4. Perilaku masyarakat terhadap sampah yang tidak membusuk (rubbish) Perilaku masyarakat untuk membuang sampah non organik dibagi atas beberapa perilaku yaitu didaur ulang, diangkut petugas ke TPS/TPA, dijual ke pengumpul barang bekas, ditimbun/dikubur, dibakar, dibuang ke laut/sungai, dibuang ke parit, dibuang sembarangan. Berdasarkan pada hasil kuisioner bahwa perilaku masyarakat tentang pengelolaan sampah yang paling dominan dilakukan adalah dibakar dan dibuang sembarangan.

Sebanyak 47 responden (42,7 %) berperilaku membakar sampah yang tidak membusuk, dan masih terdapat 23 responden (20,9 %) yang membuang sembarangan. Sebanyak 17 responden (15,5 %) yang menimbun/mengubur, yang mendaur ulang yaitu 7 responden (6,4 %), yang membuang ke lau/sungai yaitu 6 responden (5,5 %), yang menjual ke pengumpul barang bekas yaitu 5 responden (4,5 %), diangkut petugas ke TPS/TPA yaitu 3 responden (2,7 %) dan dibuang ke parit yaitu 2 responden (1,8 %). Tabulasi data selengkapnya pada Tabel 4.28 dan Gambar 4.20.

Tabel 4.28. Perilaku Responden Membuang Sampah yang Tidak Membusuk (Rubbish)

No. Perilaku Responden Jawaban

Responden (Ya)

Persentase Jawaban Responden

1 Didaur ulang 7 6.4%

2 Diangkut petugas ke TPS/TPA 3 2.7%

3 Dijual ke pengumpul barang bekas 5 4.5%

4 Ditimbun/dikubur 17 15.5%

5 Dibakar 47 42.7%

6 Dibuang ke laut/sungai 6 5.5%

7 Dibuang ke parit 2 1.8%

8 Dibuang sembarangan 23 20.9%

Jumlah Responden 110 6.4%

Sumber : Olah data, 2016

Didaur ulang

Gambar 4.20. Persentase Perilaku Masyarakat Terhadap Sampah yang Tidak Membusuk (olah data, 2016)

Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah organik menurut demografi diuraikan sebagai berikut :

a. Didaur ulang

Responden yang mendaur ulang sampah yang tidak membusuk adalah 7 responden (6,4 %). Responden tersebut yang lebih banyak dilakukan oleh yang berlatar pendidikan SMA yaitu 4 responden, bekerja sebagai pegawai yaitu 3 responden dan masih berstatus SMA/SMP yaitu 2 responden. Responden dengan tingkat pendapatan dibawah Rp. 500.000 dan pendapatan Rp. 1.000.000 - Rp.

2.000.000 yaitu 3 responden juga mendaur ulang sampah yang tidak membusuk.

Responden tersebut berumur diatas 45 tahun yaitu 3 responden dan yang ada juga

berumur 15 – 30 tahun yaitu 2 responden. Responden laki – laki lebih banyak melakukan daur ulang sampah. Secara umum di Kabupaten Nias Barat masih belum menerapkan proses daur ulang terhadap sampah non organik. Teknologi untuk pembuatan nya masih belum tersedia sehingga masih bersifat tradisional dan masih dalam lingkup keluarga. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku mendaur ulang sampah dilihat pada Gambar 4.21.

1

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.21. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Mendaurulang Sampah yang Tidak Membusuk (olah data, 2016)

b. Diangkut petugas ke TPS/TPA

Terdapat 3 responden (2,7 %) yang berperilaku untuk tidak diangkut petugas ke TPS/TPA. Responden tersebut berpendidikan SMA yaitu 2 responden, bekerja sebagai PNS, pegawai, dan berstatus SMA yaitu 1 responden. Selanjutnya tingkat pendapatannya dibawah Rp. 500.000, pendapatan Rp. 500.000 – Rp.

1.000.000, dan pendapatan Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 yaitu 1 responden.

Responden yang menyatakan untuk diaingkut petugas ke TPS/TPA berumur 15 – 30 tahun yaitu 2 responden dan lebih banyak laki – laki yaitu 2 responden.

Di Kabupaten Nias Barat belum tersedia tempat penampungan sampah sementara maupun tempat pembuangan akhir sampah, sehingga petugas

pengangkut sampah juga tidak tersedia. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku mendaur ulang sampah dilihat pada Gambar 4.22.

1

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.22. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Sampah yang Tidak Membusuk Diangkut Petugas ke TPS/TPA (olah data, 2016)

c. Dijual ke pengumpul barang bekas

Terdapat 5 responden (4,5 %) yang menjual sampah yang tidak membusuk ke pengumpul barang bekas. Responden tersebut adalah yang berpendidikan perguruan tinggi yaitu 3 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 2 responden.

Responden tersebut berpendapatan Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000 dan berpendapatan Rp.3.000.000 – Rp. 4.000.000 yaitu 2 responden. Perilaku tersebut dilakukan responden yang berumur 15 – 30 tahun yaitu 4 responden dan berjenis kelamin laki – laki yaitu 3 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku mendaur ulang sampah dilihat pada Gambar 4.23.

Sampah yang tidak membusuk akan dipilah dari sampah yang membusuk dan dikumpulkan untuk dijual kepada pengumpul barang bekas. Jenis sampah tersebut adalah kaleng, kardus, botol plastik. Di wilayah perkotaan Lahomi tidak terdapat pengumpul barang bekas. Sehingga penduduk harus menunggu untuk beberapa waktu hingga pengumpul barang bekas datang untuk mengumpulkan

sampah yang tidak membusuk. Sampah – sampah tersebut akan dikumpulkan dan ada juga yang langsung dibuang dan dibakar.

3

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.23. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Menjual Sampah yang Tidak Membusuk ke Pengumpul

Barang Bekas (olah data, 2016) d. Ditimbun/dikubur

Sebanyak 17 responden (15,5 %) yang menimbun/mengubur sampah yang tidak membusuk. Responden yang berperilaku tersebut berpendidikan SMA yaitu 9 responden dan perguruan tinggi yaitu 8 responden, bekerja sebagai PNS dan wiraswasta yaitu 5 responden dan sebagai pegawai yaitu 4 responden. Perilaku tersebut dilakukan responden yang pendapatannya Rp. 1.000.000 - Rp. 2.000.000 dan yang pendapatannya Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 yaitu 4 responden, berumur 15 – 30 tahun yaitu 11 responden, dan lebih banyak dilakukan oleh kelamin laki-laki yaitu 10 responden. Jumlah responden menurut demografi yang berperilaku mendaur ulang sampah dilihat pada Gambar 4.24.

Perilaku menimbun/mengubur sampah yang tidak membusuk seperti kaleng, plastik, kertas banyak dilakukan oleh masyarakat. Namun sampah tersebut tidak akan terurai oleh alam, oleh karena itu perilaku tersebut hanya dilakukan

8 9

PT SMA SMP SD Belum Sekolah PNS Pegawai Petani Pedagang Wiraswasta Lainnya < 500rb 500rb-1jt 1jt-2jt 2jt-3jt 3jt-4jt > 4jt < 15 th 15-30 th 30-45 th > 45 th Laki-Laki Perempuan

Demografi

Jumlah Responden

Gambar 4.24. Jumlah Responden Menurut Demografi yang Berperilaku Menimbun/Mengubur Sampah yang Tidak Membusuk (olah data, 2016)

e. Dibakar

Perilaku masyarakat yang sering dilakukan terhadap sampah yang mudah membusuk adalah dengan cara dibakar yaitu 47 responden (42,7 %). Responden tersebut berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi yaitu 28 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 17 responden, berpenghasilan Rp. 3.000.000 – Rp.

Perilaku masyarakat yang sering dilakukan terhadap sampah yang mudah membusuk adalah dengan cara dibakar yaitu 47 responden (42,7 %). Responden tersebut berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi yaitu 28 responden, bekerja sebagai PNS yaitu 17 responden, berpenghasilan Rp. 3.000.000 – Rp.