BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN PANDEGLANG DAN PCNU
D. Perilaku Memilih dan Tindakan Pengurus NU dalam Pilpres 2019
Dalam pedoman berpolitik bagi warga NU, NU memberikan kebebasan pada kader dan pengurusnya untuk berpartisipasi dalam politik. Pilihan berpolitik ditentukan oleh masing-masing individu, termasuk aktif dalam membahas permasalahan politik, menjadi pengamat politik, penasihat, relawan dan sebagainya, atau aktif di lembaga politik seperti partai politik.
Bagi pengurus Syuriah dan Tanfidziyah atau bisa disebut dengan pengurus harian NU (pelaksana kebijakan) bisa berpartisipasi dalam politik tetapi tidak diperbolehkan untuk memiliki jabatan politik seperti menjadi kader partai politik bahkan menjadi pimpinannya.
Larangan tersebut tertuang dalam Peraturan Organisasi (PO) BAB III tentang Rangkap Jabatan Pengurus di Lingkungan Nahdlatul Ulama dengan Jabatan Pengurus Harian Partai Politik atau Organisasi yang Berafiliasi pada Partai Politik dan Perangkapan Lainnya, pasal 5 yang berbunyi:
Ayat (1) Jabatan Pengurus Harian Syuriyah, Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Umum Badan Otonom pada semua tingkatan tidak dapat dirangkap dengan jabatan Pengurus Harian Partai Politik pada semua tingkatan, dan ayat (2) Jabatan Pengurus Harian Syuriyah, Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Umum Badan Otonom pada semua tingkatan tidak dapat dirangkap dengan jabatan Pengurus Harian Organisasi yang berafiliasi kepada Partai Politik.13
13 Hasil-hasil Munas Alim Ulama Konbes NU 2017, Jakarta: Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU, 2017.
55
Dede Kurniawan memberi pandangannya mengenai keterlibatan NU dalam politik dan perangkapan jabatan pengurus, menurutnya:
Setelah kembalinya NU ke khittah 1926, NU tak lagi menjadi partai politik tetapi menjadi organisasi kemasyarakatan saja. Nah, kemudian muncul gagasan Gus Dur bagaimana caranya agar orang NU bisa terjun ke politik, yaitu dengan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa. PKB ini wadah politik bagi orang NU yang ingin berpolitik. Tetapi tidak boleh dicampuradukkan antara partai dengan organisasi NU. Pengurus NU seharusnya fokus dalam kepungurusan NU tidak boleh merangkap jabatan, apalagi di politik. Kalau mau terjun ke politik, ya harus keluar dari kepengurusan.
Keterlibatan NU dalam politik sudah bukan hal yang aneh untuk dibahas, selain NU pernah menjadi sebuah partai politik kemudian kembali ke khittah 1926 yang difokuskan dalam bidang keagamaan, sosial dan lainnya. Di Zaman Reformasi kembali diberi ruang dalam politik dengan cara mendirikan partai politik (PKB) di bawah naungan NU, karena pendirinya memang tokoh NU yaitu Gus Dur.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Dede Kurniawan bahwa warga NU harus mempertegas peran mereka dan harus memilih salah satu, yaitu aktif di organisasi atau di partai politik.
Di PCNU Kabupaten Pandeglang misalnya, ada beberapa pengurus yang terjun ke dunia politik khususnya menjadi kader partai politik di DPC PKB Pandeglang, DPC PDI Perjuangan Pandeglang dan DPC Partai Demokrat Pandeglang. Inilah salah satu latar belakang yang membuat adanya perbedaan pilihan politik di kalangan pengurus PCNU Pandeglang.
Seperti halnya di PBNU, mayoritas pengurus PBNU adalah politikus maupun pejabat negara. Ada pengurus PBNU yang aktif di Partai Demokrat, Partai Golkar
56
dan PKB. Sehingga ini yang membuat adanya perbedaan preferensi politik di tingkat nasional pada pilpres tahun 2019, karena pengurus PBNU berasal dari latar belakang partai yang berbeda.
Seperti kita ketahui, dalam pilpres 2019 pasangan nomor urut 01 diusung oleh 6 Partai, yaitu: PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasdem, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hanura. Sedangkan untuk pasangan nomor urut 02 diusung oleh 4 Partai, yaitu: Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Di PCNU Pandeglang terdapat beberapa pengurus NU yang aktif di partai yang berbeda. H. Thoni misalnya aktif di PKB dan dalam pemilu 2019 mendukung penuh Kiai Ma’ruf Amin dengan cara mendirikan posko demi meraih kemenangan.
Saya sebagai warga NU yang berada dalam struktur PCNU, saya juga aktif di Partai Kebangkitan Bangsa karena sudah belasan tahun juga hidup dalam dunia politik, dan dalam pemilu 2019 saya mendukung penuh Ma’ruf Amin sebagai mendukung Kiai Ma’ruf Amin dalam kontestasi politik terlebih warga NU yang berada dalam struktur. 14
Pengurus NU seperti H. Thoni yang aktif berpartisipasi dalam politik, dapat dikategorikan sebagai pemilih dengan model psikologis, karena dalam menentukan pilihannya yaitu berdasarkan pada perasaan dekat dengan tokoh atau kandidat dalam pilpres, sehingga dukungan yang diberikan adalah sebagai bentuk kecintaannya
14 Wawancara dengan Thoni, di DPC PKB Pandeglang pada 15 Oktober 2019 Pukul 20.07.
57
terhadap mantan pengurus PBNU, dan merasa tindakan yang diambil seperti mendirikan posko pemenangan dengan menggunakan dana pribadi dapat berpengaruh besar untuk kemenangan Ma’ruf Amin di Pandeglang.
Pengurus PCNU Pandeglang lainnya yang aktif berpartisipasi dalam lembaga politik yaitu Yoyon Sujana yang memiliki jabatan sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pandeglang. Yoyon memberikan keterangan mengenai dukungannya terhadap pasangan calon dalam pilpres 2019:
Dalam struktur PCNU saya sebagai A’wan, tetapi saya juga aktif di Partai Demokrat. Pilihan politik saya tadi sudah disampaikan ya bahwa mendukung pasangan yang partai kami usung yaitu Prabowo-Sandi pasangan nomor urut 02.
Bentuk dukungan saya dan partai dalam pilpres 2019 dengan cara melakukan kampanye ke berbagai tempat mulai dari Kecamatan Cadasari sampai Ujung Kulon, saya sendiri yang membuat tim pemenangan dan yang mendirikan posko pemenangan sebagai tempat berkumpulnya para tim untuk konsolidasi dan berkoordinasi.15
Pada kenyataannya, salah satu bentuk dukungan Yoyon Sujana terhadap pasangan Prabowo-Sandi bukan semata dorongan partai saja tetapi karena memiliki kepentingan pribadi juga dalam pemilu 2019. Tindakan yang paling menonjol yaitu sosialisasi melalui media sosial yang masif dengan mengkampanyekan pasangan Prabowo-Sandi dan juga mengkampanyekan dirinya karena tercatat sebagai calon legislatif atau calon DPRD tingkat provinsi dari Partai Demokrat nomor urut 01, seperti pada gambar berikut:
15 Wawancara dengan Yoyon, di DPC Demokrat Pandeglang pada 31 Januari 2020 Pukul 14.30.
58
Gambar IV.D.1 Stiker Yoyon Sujana dengan Pasangan Calon Prabowo-Sandi
Sumber: Akun media sosial Facebook dan Instagram milik Yoyon Sujana.
Stiker tersebut merupakan salah satu upaya untuk memenangkan dirinya dan pasangan calon Prabowo-Sandi dan juga ini adalah salah satu perintah dari Komandan Satuan Tugas Bersama atau bisa disebut dengan Kogasma Partai Demokrat yaitu Agus Harimurti Yudhoyono, bahwa Partai Demokrat harus mendapatkan dua keuntungan dalam pemilu 2019, yang pertama Prabowo menjadi presiden dan yang kedua Demokrat menjadi pemenang dalam pemilu, 16 sehingga Ketua DPC Demokrat tersebut harus melakukan berbagai upaya agar tujuannya di pemilu 2019 dapat tercapai.
Dilihat dari faktor yang mendorong dan bentuk dukungannya terhadap pasangan Prabowo-Sandi, maka Yoyon Sujana juga dapat dikategorikan sebagai
16 Engkos Kosasih, “Demokrat Pandeglang: Demokrat Menang, Prabowo Presiden!”, https://bantenhits.com pada tanggal 22 September 2019.
59
pemilih dengan model psikologis karena memilih kandidat politik berupa identifikasi partai. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Partai Demokrat adalah salah satu partai yang mengusung pasangan Prabowo-Sandi dalam pilpres 2019.
Selain Yoyon dan H. Thoni, faktor kedekatan secara emosional atau pendekatan model psikologis memang sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan bagi sebagian besar kalangan pengurus PCNU Pandeglang. Faktanya KH. Munir juga memberikan informasi bahwa pengurus NU lainnya sangat berpartisipasi dalam politik khususnya untuk memenangkan pasangan yang mereka dukung dan memilih Ma’ruf Amin karena merasa dekat (sebagai warga NU):
Pengurus NU itu berasal dari latar belakang yang berbeda seperti banyak pengurus NU yang aktif di partai politik, aktif di lembaga pendidikan, menjadi tokoh agama dan sebagainya, tapi saya yakin mayoritas pengurus NU dukung Ma’ruf Amin karena merasa sesama warga NU. Dilihat dari banyaknya deklarasai dukungan yang dilakukan secara terang-terangan, tapi beberapa pengurus juga mendukung pasangan nomor urut 02 dengan berbagai bentuk dukungan yang mereka lakukan. Deklarasi dukungan untuk Ma’ruf Amin yang dilakukan oleh masing-masing individu pengurus PCNU itu sebanyak 4 kali, yaitu di Aula PCNU Pandeglang tapi dilakukan oleh individu bukan atas nama institusi, kemudian di lapangan sekitar Panimbang, di Pesantren Malnu, dan yang terakhir di Sohibul Barokah. Deklarasi dukungan juga dilakukan di kediaman Abuya Muhtadi di Cadasari, cuma Abuya kan bukan pengurus PCNU tapi pengurus Mustasyar PBNU.17
Dilihat dari beberapa tanggapan di atas, pengurus PCNU Pandeglang yang merangkap jabatan maupun yang hanya aktif menjadi pengurus NU, dalam pemilu 2019 melakukan beberapa tindakan yang dapat memengaruhi orang lain dalam artian untuk meraup suara bagi pasangan yang mereka dukung. Walaupun ada beberapa pengurus yang netral, dalam hal ini tindakan yang mereka lakukan hanya datang ke
17 Wawancara dengan Munir, di Aula PCNU Pandeglang pada 14 Oktober 2019 Pukul 17.30.
60
tps pada hari pencoblosan dan tidak berpartisipasi dalam masa kampanye karena untuk mempertahankan netralitas dirinya sebagai pengurus NU.
Pengurus NU yang netral tersebut, dalam pilpres 2019 dapat dikategorikan sebagai pemilih dengan model pilihan rasional karena telah memikirkan hal apa yang akan didapat dari memilih seorang kandidat, terlebih ketika mereka harus mendukung secara terang-terangan dan harus menanggung konsekuensinya di kemudian hari.
Latar belakang sebagai pendidik di Lembaga Pendidikan dan sebagai pengurus Pondok Pesantren menjadi faktor utama pengurus untuk tetap menjaga netralitasnya di kontestasi politik, sehingga pengurus merasa sebagai pedoman yang harus memberi contoh yang baik pada murid, santri atau masyarakat di lingkungannya, tetapi pengurus tetap berpartisipasi dalam pilpres 2019 dengan cara memberi hak pilihnya di bilik suara, ketika di bilik suara bisa saja seseorang menentukan pilihannya dengan berdasarkan model sosiologis, model psikologis atau tetap dengan model pilihan rasional.
Terlepas dari pembahasan perilaku memilih pengurus PCNU di pilpres 2019, dalam menentukan pilihan pengurus PCNU Pandeglang melakukan beberapa tindakan untuk mendukung kandidat pilihannya, ini bisa disebut sebagai bentuk tindakan sosial, karena diarahkan untuk mendapatkan tanggapan orang lain. Menurut Max Weber tindakan sosial manusia dibedakan menjadi empat tipe, seperti: tindakan
61
rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afektif dan tindakan tradisional.18
Menurut penulis, tindakan sosial masing-masing pengurus PCNU Pandeglang termasuk ke dalam tipe tindakan rasional instrumental, karena tindakannya ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu yaitu memenangkan pasangan pilihannya. Tindakan sosial yang dilakukan oleh pengurus NU yaitu membuat posko pemenangan, sosialisasi di media sosial, melakukan deklarasi dukungan, memberikan suara pada hari pencoblosan, dan sebagainya.
Tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh pengurus NU itu menimbulkan dampak, seperti dampak negatif dan dampak positif. Dede Kurniawan memberi pandangannya:
Dampak dari tindakan yang pengurus NU lakukan seperti terang-terangan mendukung pasangan 01 atau 02, melakukan deklarasi, membuat posko pemenangan, kampanye dan lain sebagainya, adalah masyarakat bisa menilai kekonsistenan sebuah organisasi, dampak negatifnya adalah terpecahnya suara NU, padahal Pandeglang ini basis NU seharusnya Ma’ruf Amin sebagai kader NU mendapatkan banyak suara, tetapi pada kenyataannya suaranya tertinggal jauh di Kabupaten Pandeglang ini. Bukan karena warga NU tidak mendukung penuh Ma’ruf Amin, tapi dikarenakan melihat pengurus NU yang ikut-ikutan terjun ke dunia politik terlalu jauh, padahal mereka sebagai pengurus ormas.19 Melihat hasil rekapitulasi suara di Kabupaten Pandeglang, memang suara untuk pasangan nomor urut 01 tertinggal jauh dari pasangan nomor urut 02, dengan perolehan suara Jokowi-Ma’ruf Amin 37,3% dan Prabowo-Sandi 62,7%, untuk hasil
18Yayuk Yuliati, Perubahan Ekologis dan Strategi Adaptasi Masyarakat di Wilayah Pegunungan Tengger (Suatu Kajian Gender dan Lingkungan), h. 64.
19 Wawancara dengan Dede, di Rumah Juice Umi, pada 14 Desember 2019 Pukul 10.45.
62
akhir suara pilpres 2019 di Kabupaten Pandeglang bisa dilihat dalam tabel hasil rekapitulasi yang dilakukan oleh KPUD Kabupaten Pandeglang.
Tabel IV.D.1. Hasil Rekapitulasi Suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 di Kabupaten Pandeglang 02 H. Prabowo Subianto - H. Sandiaga Salahuddin Uno 443.323 Jumlah Seluruh Suara Sah (01+02) 706.846
Jumlah Suara Tidak Sah 22.467
Jumlah Seluruh Suara Sah dan Suara Tidak Sah 729.313 Sumber: KPUD Kabupaten Pandeglang
Terpecahnya suara warga NU dalam pemilihan presiden bukan terjadi pada pemilu 2019 saja, khususnya di Kabupaten Pandeglang. Terpecahnya suara warga NU terjadi pada setiap kontestasi politik, banyak faktor tentunya yang mengakibatkan hal itu terjadi salah satunya beragamnya sikap politik pengurus NU. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga NU di Kabupaten Pandeglang, menurutnya:
Saya melihat Ma’ruf Amin sebagai pengurus dan tokoh NU yang sangat berpengaruh di kalangan warga NU tapi ketika terjun ke ranah politik, menurut saya tidak ada kewajiban untuk mendukungnya dalam pilpres kemarin, karena para pengurus NU di Pandeglang saja ada juga ko yang tidak mendukung Ma’ruf Amin bahkan tetap netral. Sikap warga NU kultural di Pandeglang beragam sama halnya dengan pengurus NU yang berada dalam struktur.20
Salah seorang pengurus Pondok Pesantres Salafi merasa aneh suara untuk pasangan nomor urut 01 kalah di Pandeglang dan di Banten tempat kelahiran Kiai Ma’ruf sendiri, menurutnya:
20 Wawancara dengan Oji, Warga kultural NU Pandeglang, di Talaga pada 14 Juni 2020 Pukul 19.00.
63
Saya aneh ya, ko Kiai Ma’ruf Amin kalah di Pandeglang padahal Pandeglang ini disebut sebagai kota seribu ulama. Padahal kami sebagai pengurus Pondok Pesantren menaruh harapan besar pada Kiai Ma’ruf Amin duduk di eksekutif, agar nantinya Pondok Pesantren dapat diperhatikan oleh pemerintah pusat. Jadi, sangat disayangkan masyarakat Pandeglang tidak solid dalam mendukung Kiai Ma’ruf Amin bahkan kalah ya di tempat kelahirannya oleh Pak Prabowo. Tapi memang saya tidak mendukung Kiai Ma’ruf Amin secara terang-terangan, karena untuk menjaga kondusifitas di masyarakat.21
Ma’ruf Amin yang merupakan tokoh NU kelahiran Banten, ternyata dalam kontestasi politik tidak memberikan pengaruh besar bagi suara Joko Widodo di tanah kelahirannya. Faktanya pasangan nomor urut 01 kalah di Banten dengan perolehan suara Prabowo-Sandi 4.059.514 suara atau 61,54% sedangkan Jokowi-Ma’ruf mendapatkan 2.537.524 suara atau setara dengan 38,46%,22 seperti kita ketahui bahwa wilayah tersebut (Banten) merupakan basis NU.
Namun, pasangan Jokowi-Ma’ruf berhasil mendapat suara tertinggi di wilayah NU lainnya seperti di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut Pak Burhanuddin Muhtadi, NU menjadi faktor penentu kemenangan pasangan nomor urut 01 di daerah Jawa tersebut.23 Sedangkan untuk Jawa Barat sama halnya dengan Banten memiliki sosial budaya yang hamper mirip, menjadi daerah yang mayoritas muslim dan basis NU, Jokowi-Ma’ruf kalah telak dari pasangan Prabowo-Sandi yang meraih suara
21 Wawancara dengan Epi Hanapi, pengurus Pondok Pesantren Salafi, di Pondok Pesantren Darul Falah Yunusiyyah pada 14 Juni 2020 Pukul 16.35.
22 DC1 PPWP Banten.
23 Heru Guntoro, “NU Jadi Faktor Penentu Kemenangan Jokowi-Kiai Ma’ruf”
https://www.gesuri.id/ pada tanggal 30 Mei 2019.
64
16.077.446 atau setara dengan 59,93% dan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 10.750.568 suara atau sebesar 40,07%. 24
Sebagian warga NU Banten baik yang berada dalam struktural dan kultural, khususnya di Kabupaten Pandeglang tidak melihat identitas kedaerahan, popularitas dan ketokohan dalam memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf di pilpres 2019. Di daerah mayoritas Islam ini, berbagai isu seperti sentiment anti-Jokowi yang menjadi faktor utama warga tidak memilih pasangan nomor urut 01 sehingga membuat suara warga NU terpecah. Seperti yang diungkapkan oleh Epi Hasan:
Kekalahan Pak Jokowi dan Pak KH. Ma’ruf Amin di Banten khususnya di Kabupaten Pandeglang, ya karena bahasan anti-Jokowi begitu besar, juga banyak isu lainnya yang menyerang seperti Pak Jokowi adalah bagian dari PKI, keturunan China, belum lagi ketakukan mereka terhadap partai yang dipimpin ibu Mega PDI Perjuangan, tentunya peran media sosial begitu kuat untuk mengangkat isu seperti itu.
Jadi, keterlibatan Ma’ruf Amin dalam pilpres 2019 untuk di Kabupaten Pandeglang salah satunya dinilai tidak berpengaruh bagi Pak Jokowi, juga tidak merepresentasikan warga NU dalam politik praktis, sehingga suara warga NU wajar saja terpecah karena mereka punya asumsi sendiri dalam memilih kandidat politik.25
Kabupaten Pandeglang menjadi salah satu daerah yang menjadi sampel bahwa wilayah atau basis NU tidak dapat memenangkan mantan pengurus NU di pilpres https://m.cnnindonesia.com/ pada tanggal 16 Mei 2019.
25 Wawancara dengan Epi, di Pandeglang pada 30 Desember 2019 Pukul 14.45.
65
Manurut penulis, seharusnya NU benar-benar menjaga netralitasnya baik secara organisasi maupun secara pribadi, dalam hal ini pengurus NU harus menjaga netralitasnya, tidak memihak terhadap salah satu pasangan calon baik mendukung atau menolak secara terang-terangan, untuk membuat kepercayaan masyarakat terjaga, menjaga citra (nama baik organisasi).
Pengurus NU seharusnya bisa bersikap tegas, apabila ingin berpartisipasi dan aktif dalam lembaga politik, maka harus mengundurkan diri dari organisasi agar tidak melanggar aturan organisasi terkait perangkapan jabatan dimulai dari pengurus NU Pusat (PBNU), kemudian pengurus NU di tingkat Wilayah (PWNU) dan di tingkat Cabang (PCNU).
Konsistensi kebijakan organisasi mengenai larangan berpolitik praktis harus diberlakukan, ketika kebijakan yang dibuat tidak dipatuhi maka dampak negatif yang akan terjadi adalah masyarakat sulit membedakan antara organisasi kemasyarakatan dengan lembaga politik. Walaupun dengan tegas elite NU mengatakan bahwa NU secara organisasi netral dalam pilpres tahun 2019, tetapi pada kenyataannya masih memberi ruang bagi kegiatan politik seperti melakukan deklarasi dukungan atas nama individu, tapi diselenggarakan di aula PCNU Pandeglang yang akhirnya masyarakat meragukan netralitas organisasinya karena sudah terlalu jauh masuk dalam ranah politik.
Sedangkan, dampak positif dari partisipasi pengurus NU dalam pilpres 2019 adalah masyarakat awam di Pandeglang yang tidak melek terhadap politik setidaknya
66
dapat mengenali calon atau peserta pemilu dari elite NU, karena pengurus NU turun langsung ke masyarakat dengan cara door to door, kampanye di berbagai tempat dan mendirikan posko di berbagai daerah.
Karena pada dasarnya, masyarakat Pandeglang terdiri dari masyarakat perkotaan yang mayoritas masyarakatnya berpartisipasi dalam politik dan masyarakat yang ada di pedesaan, dengan tingkat partisipasi politiknya sangat rendah dan hanya mengandalkan ulama atau tokoh dalam menentukan pilihan politiknya.
Selain itu, beberapa tindakan sosial yang dilakukan oleh pengurus PCNU Pandeglang untuk memenangkan masing-masing pasangan yang mereka dukung seperti melakukan kampanye, membuat tim pemenangan, menjadi relawan, membuat posko pemenangan atau pengurus yang sekedar memberikan suara di tps, itu semua tidak membuat para pengurus berkonflik, jadi terpecahnya suara dalam pilpres 2019 tidak menyebabkan konflik internal di kalangan pengurus PCNU, masing-masing pengurus menghargai perbedaan pandangan politik atau sikap politik.
Hal ini juga diungkapkan oleh Utoh, menurutnya: “tidak ada itu yang namanya konflik internal, saling menghargai saja kalau berbeda pandangan, toh tidak menyalahi aturan organisasi. Walaupun saya netral, dalam hal ini saya tidak bisa memaksa pengurus yang lain harus sesuai dengan pilihan saya”.26
Menurut penulis, tidak adanya konflik internal di organisasi juga bisa disebabkan karena masing-masing pengurus memiliki kepentingan pribadi. Seperti pengurus NU yang aktif dalam partai politik, cenderung terbuka dalam mendukung
26 Wawancara dengan Utoh, di Perumahan Kuranten pada 28 Januari 2020 Pukul 15.00.
67
atau memenangkan calon pasangan presiden dan wakil presiden yang mereka dukung karena memiliki kepentingan di dalamnya, sedangkan pengurus yang netral, tetap konsisten menjadi pengurus sesuai dengan bidangnya.
68
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dalam penelitian Budaya Politik dan Elite: Sikap Politik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pandeglang Banten Terhadap Pencalonan Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 yang telah dijelaskan di atas, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Sikap politik pengurus PCNU Pandeglang yang dapat dikategorikan dalam tiga varian sikap sebagai berikut: pertama, sebanyak 82% pengurus PCNU Pandeglang mendukung Ma’ruf Amin dalam pilpres tahun 2019, kedua, sebanyak 7% pengurus NU memilih untuk tidak mendukung Ma’ruf Amin dan ketiga, sikap politik pengurus netral terhadap pencalonan Ma’ruf Amin dalam pilpres 2019 sebanyak 11% pengurus.
2) Faktor-faktor yang menyebabkan pengurus PCNU Pandeglang berbeda dukungan atau adanya perbedaan preferensi politik dalam pilpres tahun 2019 adalah faktor internal NU yang memberi kebebasan penuh bagi kader atau pengurus NU untuk berpartisipasi dalam politik praktis, karena tidak mengeluarkan kebijakan untuk mendukung salah satu pasangan calon. Faktor lainnya yaitu beberapa pengurus NU aktif dan memiliki jabatan di partai politik sehingga wajar terjadi perbedaan sikap politik, kemudian kepentingan pribadi juga termasuk ke dalam faktor yang menyebabkan adanya perbedaan sikap politik, karena pengurus memiliki kepentingan yang nantinya untuk
69
menguntungkan organisasi atau dirinya ketika mendukung atau tidak mendukung Ma’ruf Amin dalam pilpres.
3) Strategi yang dilakukan atau bentuk dukungan masing-masing pengurus dalam memenangkan pasangan yang mereka dukung dalam hal ini pengurus PCNU baik yang mendukung Ma’ruf Amin atau yang mendukung pasangan nomor urut 02 yaitu melakukan kampanye atau sosialisasi di media sosial, turun langsung ke masyarakat dengan cara door to door, melakukan deklarasi di berbagai tempat termasuk di pesantren serta mendirikan posko pemenangan.
Sedangkan untuk pengurus yang netral tetap menggunakan hak pilihnya
Sedangkan untuk pengurus yang netral tetap menggunakan hak pilihnya