• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Pembahasan

2.1 Perilaku Merokok pada Pasien Diabetes Melitus

Seluruh responden dalam penelitian ini berusia diatas 36 tahun dengan jumlah 50 orang. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 20 responden (40%) adalah perokok dan 30 responden (60%) adalah non perokok. Pada penelitian ini ditemukan rata-rata responden sudah merokok lebih dari 10 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Munawaroh (2019) yang menyatakan bahwa mayoritas responden (46,2%) yang merokok mengaku sudah mengonsumsi rokok lebih dari 10 tahun.

Berdasarkan jenis rokok yang dihisap, dari 20 responden perokok seluruhnya mengaku mengisap rokok kretek atau tanpa filter. Hal ini sejalan dengan penelitian Adiputra (2015) yaitu berdasarkan jenis rokok yang dihisap sebanyak 88% responden yang merokok mengaku mengisap rokok dengan filter dan 12%

mengisap rokok tanpa filter.

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 10 responden merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang perhari, 7 responden perokok sedang yaitu orang yang merokok 11-20 batang perhari, dan 3 responden perokok berat yaitu orang yang merokok lebih dari 20 batang perhari.

Dengan rata-rata jumlah rokok yang dihisap dalam sehari kurang dari 10 batang per hari. Hal ini sejalan dengan penelitian Narayana dan Sudhana (2013) bahwa didapatkan 16 dari 23 responden (69,6%) yang merokok merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang per hari, dan 7 dari 23 responden

(30,4%) yang merokok merupakan perokok sedang yaitu orang yang merokok antara 10 – 20 batang per hari. Didapatkan pula rata-rata jumlah rokok yang dihisap responden sebanyak 6,52 batang atau jika dibulatkan menjadi 7 batang per hari. 2.2 Nilai Ankle Brachial Pressure Index pada Pasien Diabetes Melitus

Dari hasil penelitian didapatkan nilai ABPI normal pada responden perokok hanya berjumlah 1 orang (2%). Responden perokok dengan gangguan pembuluh vena berjumlah 12 orang (24%), gangguan pembuluh arteri-vena berjumlah 7 orang (14%) serta gangguan pembuluh arteri berjumlah 3 orang (6%). Sementara pada responden yang non perokok diketahui sebagian besar mengalami gangguan pembuluh vena yaitu sebanyak 21 orang (42%), gangguan pembuluh arteri berjumlah 2 (4%) orang dan gangguan pembuluh arteri-vena berjumlah 4 orang (8%).

Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai ankle brachial pressure index (ABPI) antara lain faktor usia, kebiasaan merokok, terapi insulin, terapi diet dan aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 20 responden perokok (40%) dan 30 responden non perokok (60%). Kumar, dkk. (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap nilai ABPI. Pada penderita diabetes melitus tipe 2, respon insulin dan C-peptida terhadap muatan glukosa oral secara signifikan lebih tinggi pada perokok dibandingkan non-perokok dan resistensi insulin berkorelasi positif dengan banyaknya batang rokok dikonsumsi setiap harinya (Ghadvi, M. dkk. 2019).

Beberapa kandungan racun berbahaya dalam rokok adalah nikotin, tar, dan

karbonmonoksida. Menurut Wang, Y. dkk. (2013) paparan nikotin dalam tubuh dapat menyebabkan penurunan kerja insulin yang berakibat pada resistensi insulin.

Disfungsi mitokondria, stres oksidatif, dan peradangan terlibat sebagai mekanisme yang mendasari hilangnya sel β pankreas akibat nikotin. Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok, dan bersifat karsinogen. Endapan padat tar di dalam tubuh dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Karbon monoksida (CO) masuk ke dalam tubuh melalui paru-paru. Gas CO dapat merusak parenkim paru tanpa perlu pengiriman hemoglobin melalui darah. CO menyebabkan kebocoran kapiler makromolekul dari paru-paru dan pembuluh darah sistemik sehingga mempercepat aterosklerosis.

Sebagian besar responden merupakan lansia akhir yaitu 56-65 tahun sebanyak 23 responden (46%). Faktor usia berhubungan dengan nilai ABPI. Hal ini sejalan dengan penelitian Ishida, dkk. (2012) didapatkan hasil bahwa ABPI ≤0,9 pada pria meningkat seiring bertambahnya usia dan meningkat tajam menjadi 3,3%

pada ≥70 tahun. Suciartini (2018) dalam penelitiannya didapatkan hasil uji korelasi person terdapat hubungan antara usia dan nilai ABPI dengan korelasi terbalik yaitu semakin tinggi usia maka semakin rendah nilai ABPI (p=0.033, r=0,290).

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 11 responden menjalani terapi diet (22%) dan 39 responden tidak menjalani terapi diet (78%). Terapi diet merupakan hal yang penting dalam penatalaksanaan diabetes untuk mencapai kadar glukosa darah normal. Apabila kadar glukosa darah terkontrol maka aliran darah dalam tubuh tidak mengalami penyempitan pembuluh darah (arterosklerosis).

Aterosklerosis mengakibatkan vaskuler insufisiensi sehingga aliran darah ke dorsalis pedis, popliteal, dan tibialis juga akan menurun sehingga akan mempengaruhi nilai ABPI sebagai indikator komplikasi makrovaskular diabetes melitus (Sari, Awinda. dkk. 2019).

Berdasasarkan terapi DM yang dijalankan sebanyak 43 responden mengkonsumsi obat farmakologis (86%), 8 responden menjalani terapi insulin (16%), dan 23 responden mengkonsumsi obat tradisonal (46%). Pada pasien diabetes melitus yang mengalami kadar glukosa darah tidak terkontrol maka diberikan terapi farmakologis dengan pemberian obat hipoglikemik oral (OHO) atau injeksi insulin (PERKENI, 2015).

Dalam penelitian ini sebanyak 15 responden melakukan aktivitas fisik (30%) dan 35 responden tidak melakukan aktivitas fisik (70%). Aktivitas fisik merupakan faktor yang mempengaruhi nilai ABPI yang rendah pada pasien diabetes melitus. Selama satu sesi aktivitas fisik yang berkepanjangan, otot rangka yang berkontraksi meningkatkan pengambilan glukosa ke dalam sel. Efek ini meningkatkan aliran darah di otot dan meningkatkan transportasi glukosa ke dalam sel otot. Aktivitas fisik dapat mengurangi lemak intra-abdominal, yang merupakan faktor risiko resistensi insulin serta men cegah perkembangan komplikasi diabetes melitus tipe 2 (Sami, W, dkk. 2017)

2.3 Perbedaan Nilai Ankle Brachial Pressure Index pada Pasien Diabetes Melitus Perokok dan Non Perokok

Berdasarkan hasil uji Mann-Withney dengan menggunakan program IBM SPSS Statististics 25 didapatkan rerata klasifikasi ABPI non perokok (n = 30) adalah 13,13 dan perokok (n = 20) adalah 33,75 dengan nilai p-value = 0.00. Angka ini lebih kecil dari nilai α (alpha) = 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan nilai ankle brachial pressure index pada pasien diabetes melitus perokok dan non perokok di Klinik Asri Wound Care.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Oo, MM. dkk (2016), menjelaskan bahwa rata-rata ABPI bukan perokok (n = 30) adalah 1,08 dan perokok kronis (n = 60) adalah 0,97. Ditemukan bahwa nilai ABPI secara signifikan lebih rendah pada perokok kronis dibandingkan non perokok (P <0,01). Sementara hasil penelitian Dave, dkk. (2014) menunjukkan perbedaan signifikasi secara statistik nilai ABPI perokok lebih rendah dibandingkan ABPI non perokok (p <0,0001). Hal ini meningkat sejalan dengan intensitas dan durasi merokok. Nilai ABPI terendah terlihat pada perokok berat dibandingkan perokok sedang dan ringan.

Penelitian yang dilakukan oleh Ghadvi, M. dkk. (2019) juga membandingkan ABPI antara laki-laki perokok dan laki-laki non perokok. Hasil penelitian menguraikan perbedaan signifikan antara ABPI perokok dan non perokok. Perokok 6 kali lebih berisiko terjadinya peningkatan penyakit arteri perifer (PAP). ABPI yang rendah menunjukkan beban aterosklerosis sehingga bisa bersifat independen prediktor kematian.Hasil penelitian Simanjutak (2016) menunjukkan

bahwa riwayat merokok mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap nilai ABPI pada pasien diabetes melitus tipe II (p=0.000). Merokok dapat memperburuk vaskularisasi di ekstremitas bawah. Berhenti merokok disarankan untuk mengurangi komplikasi kaki diabetik.

Pada penelitian Sumirat (2009) didapatkan hasil rata-rata nilai ABI kanan dan kiri perokok adalah 1,046 dan rata-rata nilai ABI kanan dan kiri non perokok adalah 1,117 (p=0,009). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai ABI pada perokok lebih rendah bila dibandingkan dengan non-perokok dan perbedaan ini bermakna secara statistik.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Dari hasil pengumpulan data didapatkan responden berjumlah 50 orang yaitu 20 perokok dan 30 non perokok. Responden perokok dengan gangguan pembuluh vena berjumlah 8 orang (16%), gangguan pembuluh arteri-vena berjumlah 8 orang (16%) serta gangguan arteri berjumlah 4 orang (8%). Mayoritas responden yang non perokok mengalami gangguan pembuluh vena yaitu sebanyak 25 orang (50%). Hasil analisa data menggunakan program IBM SPSS Statististics 25 dengan Uji Mann-Whitney dari kedua variable tersebut mendapatkan p-value 0.00 <α (0.05), maka keputusan Ho ditolak dan Ha diterima.

Jadi hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan nilai ankle brachial pressure index pada pasien diabetes melitus perokok dan non perokok di Klinik Asri Wound Care. Artinya semakin lama seseorang merokok dan semakin banyak jumlah batang rokok yang dihisap setiap hari maka semakin rendah nilai ankle brachial pressure index pada pasien diabetes melitus.

2. Saran

1. Pendidikan Keperawatan

Peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi tambahan sumber informasi bagi pendidikan keperawatan tentang perbedaan nilai ankle brachial pressure index pada pasien diabetes melitus perokok dan non perokok

2. Pelayanan Keperawatan

Peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi penuntun bagi pelayanan keperawatan saat melakukan asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus yang memiliki kebiasaan merokok

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Peneliti berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar acuan untuk melakukan penelitian berikutnya, namun sebaiknya peneliti selanjutnya mempertimbangkan faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai ankle brachial pressure index seperti usia, terapi farmakologis, terapi diet dan aktivitas fisik.

4. Bagi Masyarakat

Peneliti berharap agar masyarakat khususnya yang memiliki penyakit diabetes melitus agar tetap menjaga gaya hidup yang baik seperti jangan merokok, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga.

Daftar Pustaka

Aboyans V, Criqui MH, Abraham P, et al. Measurement and interpretation of the An kle-Brachial Index: A scientific statement from the American Heart Association.Circulation.2012;126(24):2890-2909.

doi:10.1161/CIR.0b013e318276fbcb

Adiputra A. (2015). Gambaran kebiasaan merokok masyarakat di wilayah kerja puskesmas pekutatan I Kabupaten Jembrana periode Juni 2013-Juli 2013.

Intisari Sains Medis

American Diabetes Association. (2016). Standart of Medical Care in Diabetes.

2010. Diabetes Care. 33(1), S11S61, DOI: 10.2337/dc10S011

American Diabetes Association. Diagnosis and classification of diabetes mellitus.

Diabetes Care 2016;37(Suppl. 1):S81–S90

Ankle Brachial Index: Quick Reference Guide for Clinicians, Journal of Wound, Ostomy and Continence Nursing: March/April 2012 - Volume 39 - Issue 2S - p S21-S29 doi: 10.1097/WON.0b013e3182478dde

Aula, Lisa Ellizabet. 2010. Stop Merokok (Sekarang atau Tidak Sama Sekali).

Jogjakarta: Graha ilmu

Bajaj M. (2012). Nicotine and insulin resistance: when the smoke clears. Diabetes, 61(12), 3078–3080. https://doi.org/10.2337/db12-1100

Baker, D. (2005). Smoking and peripheral arterial disease. Retrieved from http://ash.org.uk/files/documents/ASH_190.pdf

Bergman, B. C. dkk. (2012). Novel and reversible mechanisms of smoking-induced insulin resistance in humans. Diabetes, 61(12), 3156–3166.

https://doi.org/10.2337/db12-0418

Bryant, R., & Nix, D. (2007). Acute and chronic wound current concept (3rd ed.).

St. Louis: Mosby Elsevier.

Brunner & Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th Edition.

China : LWW

Carville. (2012). Wound Care Manual. (6th ed). Western Australia: Silver Chain Foundatio

Creager, M., Dzau, V., & Loscalzo J.(2006). The Epidemiology of Peripheral Arterial Disease. Elsevier : 223-238.

Dave, US. dkk. (2014). Early Diagnosis Of Asymptomatic Peripheral Arterial Disease By Ankle- Brachial Pressure Index Method In Smokers.

International Journal of Basic & Applied Physiology

Fransiska, M, & Firdaus, P. A (2019). Faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja putra sma x kecamatan payakumbuh. Jurnal Kesehatan : Stikes Prima Nusantara Bukittinggi - vol. 10 no. 01

Ghadvi, M. dkk. (2019). Comparative study of ankle-brachial pressure index in male smokers of Western India. National Journal of Physiology, Pharmacy and Pharmacology

Ginting, Daniel. (2017). Efektivitas Terapi Akupresur Terhadap Peningkatan Ankle Brakhial Indeks (Abi) Pada Pasien Diabetes Militus Tipe 2 Di Rsud Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Tahun 2017 (skripsi). Mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas Tanjungpura

Harding, JL. (2019). Global trends in diabetes complications: a review of current evidence. Diabetologia. doi:10.1007/s00125-018-4711-2

Hoe, J. et al.(2012). “Predictors of Decrease In Ankle-Brachial Index among Patients with Diabetes Mellitus‟. Available at:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22587456.

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2017). Metodologi Penelitian dan Kesehatan. Jakarta:

Salemba Medika

International Diabetes Federation. (2015). IDF Diabetes Atlas Seventh Edition 2015. Dunia : IDF

Ishida, dkk. (2012). Age- and sex-related effects on ankle–brachial index in a screened cohort of Japanese: the Okinawa Peripheral Arterial Disease Study (OPADS). European Journal of Preventive Cardiology . Volume: 21 issue:

6, page(s): 712-718

Jaya, Muhammad. 2009. Pembunuh Berbahaya Itu Bernama Rokok. Yogyakarta:

Riz’ma

Kemenkes RI. (2018). Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id

Kamil, S. dkk. (2019). Diabetes and risk of peripheral artery disease in patients undergoing first-time coronary angiography between 2000 and 2012 - A nationwide study. BMC Cardiovasc Disord. doi:10.1186/s12872-019-1213-1

Khan TH, Farooqui FA, Niazi K, 2008. Critical review of the Ankle Brachial Index.

Current Cardiology Reviews; 4: 101-106

Kumar, dkk. (2018). Determination of Peripheral Artery Disease using Ankle-Brachial Index. Asian Journal of Pharmaceutics

Laurel. (2005). Ankle Brachial Index : Best Practice for Clinicans Suite C. Australia : Wound Ostomy and Continence Nursing Society

Leardini-Tristao M. dkk. (2019). Beneficial Effect of Exercise on Cognitive Function during Peripheral Arterial Disease: Potential Involvement of Myokines and Microglial Anti-Inflammatory Phenotype Enhancement. J Clin Med. doi:10.3390/jcm8050653

Lotfy M , Adeghate J , Kalasz H , Singh J , Adeghate E. Chronic Complications of Diabetes Mellitus: A Mini Review. Curr Diabetes Rev. 2017;13(1):3-10.

doi: 10.2174/1573399812666151016101622.

Munawaroh. (2019). Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Penderita TB Paru di Kecamatan Banjarsari Surakarta. Diploma/Sarjana thesis. Stikes Aisyiyah Surakarta.

Narayana, I Putu Arya. Sudhana, I Wayan. (2013). Gambaran Kebiasaan Merokok dan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Dewasa di Wilayah Kerja Puskesmas Pekutatan I. Jurnal, Universitas Udayana

Nasution, I.K. (2007). Perilaku Merokok Pada Remaja. Jurnal. Medan: Fak.

Kedokteran Univ. Sumatera Utara.

Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.

Edisi IV. Jakarta: Salemba Medika

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Omar SM, Musa IR, ElSouli A, Adam I. Prevalence, risk factors, and glycaemic

control of type 2 diabetes mellitus in eastern Sudan: a community-based study. Ther Adv Endocrinol Metab. 2019;10:1-8.

doi:10.1177/2042018819860071

Oo MM, dkk. (2016). Ankle brachial pressure index in chronic cigarette smokers and chronic cheroot smokers. Myanmar Medical Journal, June 2016 Vol: 58, No.2

PAPDI, 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). 2015. Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta

Polit, D. F, & Beck, C.T. (2018). Nursing Research : Generating and Assesing Evidence for Nursing Practice, Ninth Edition. Lippincott Williams and Winlkins.

Price, S.A., dan Wilson, L. M., 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis Prosesproses Penyakit, Edisi 6, Vol. 2, diterjemahkan oleh Pendit, B. U., Hartanto, H., Wulansari, p., Mahanani, D. A.,Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Purwanti, L.E & Maghfirah, S. (2016). Faktor risiko komplikasi kronis (kaki diabetik) dalam diabetes mellitus tipe 2. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Rahmalia Akbar, Fitri (2017) Efek Usia, Jenis Kelamin dan Merokok terhadap Nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada Populasi dengan Risiko Penyakit Arteri Perifer (PAP). S1 thesis, Universitas Mataram.

Riyadi S & Sukarmin. (2008). Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Gangguan Eksokrin & Endokrin pada Pankreas. Graha Ilmu, Yogyakarta Sami, W, dkk. (2017). Effect of diet on type 2 diabetes mellitus: A review.

International journal of health sciences, 11(2), 65–71.

Short SE, Mollborn S. Social determinants and health behaviors: Conceptual frames and empirical advances. Curr Opin Psychol. 2015;5:78-84.

doi:10.1016/j.copsyc.2015.05.002

Simanjuntak, G. V. (2016). PERUBAHAN ANKLE BRACHIAL INDEX AKIBAT MEROKOK DAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II. Idea Nursing Journal

Smeltzer, S., & Bare, B. G. (2008). Brunner & Suddarth’s textbook of Medical Surgical Nursing (12th ed). USA : Elsevier inc

Suciartini, Ni Kadek. (2018). Hubungan Karakteristik Umur dan Jenis Kelamin pada Populasi Lanjut Usia dengan Abnormalitas Nilai Ankle Brachial Index Sebagai Prediktor Penyakit Arteri Perifer. S1 thesis, Universitas Mataram

Sumirat, Ratih Nurdiany. (2009). Perbedaan Ankle Brachial Index (ABI) Pada Perokok dan Non-Perokok. Undergraduate thesis, Universitas Kristen Maranatha.

Wang, Y. dkk. (2013). Passive smoking and risk of type 2 diabetes: a meta-analysis of prospective cohort studies. PloS one, 8(7), e69915.

https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069915

Xie, X. dkk. (2009). Impact of cigarette smoking in type 2 diabetes development.

Acta pharmacologica Sinica, 30(6), 784–787.

https://doi.org/10.1038/aps.2009.49

Lampiran 1

Lampiran 2 PERSETUJUAN SEBAGAI RESPONDEN

(INFORMED CONSENT) Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama :……….

Usia :……….

Alamat :……….

Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian:

Nama : Putri Anjeli Situmeang NIM : 161101118

Program studi : Ilmu Keperawatan

Judul : Perbedaan Nilai Ankle Brachial Pressure Index pada Pasien Diabetes Melitus Perokok dan Non Perokok di Klinik Asri Wound Care

Setelah saya membaca penjelasan informasi dengan jelas,maka saya telah memahami prosedur penelitian ini tidak memberikan dampak dan resiko apapun pada saya. Dengan ini, saya menyatakan persetujuan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa ada paksaan.

Medan,…… 2020 (………...)

Nama terang dan tanda tangan

Lampiran 3 LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Putri Anjeli Situmeang NIM : 161101118

Judul Penelitian : Perbedaan Nilai Ankle Brachial Pressure Index pada Pasien Diabetes Melitus Perokok dan Non Perokok di Klinik Asri Wound Care

Peneliti adalah mahasiswa program studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan nilai ankle brachial pressure index pada pasien diabetes melitus perokok dan non perokok di Klinik Asri Wound Care

Penelitian ini akan menggunakan desain deskriptif komparatif. Saya harap Anda dapat berpartisipasi dalam penelitian ini. Partisipasi ini sepenuhnya bersifat sukarela. Saudara boleh memutuskan untuk berpartisipasi atau mengajukan keberatan atas penelitian ini tanpa ada konsekuensi dan dampak tertentu. Sebelum Anda memutuskan, saya akan menjelaskan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan untuk ikut serta dalam penelitian, sebagai berikut:

1. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di program studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Jika Anda bersedia ikut dalam penelitian ini, peneliti akan membagikan kuesioner & melakukan pemeriksaan nilai ankle brachial pressure index pada waktu dan tempat sesuai kesepakatan. Jika anda mengizinkan, kegiatan ini akan dilakukan satu kali selama lebih kurang 15 menit.

3. Penelitian ini tidak menimbulkan resiko. Semua catatan yang berhubungan dengan penelitian akan dijamin kerahasiannya. Peneliti akan memberikan hasil penelitian jika Anda menginginkannya.

4. Hasil penelitian Akan diberikan kepada institusi tempat peneliti belajar dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas.

5. Jika ada yang belum jelas, silahkan Anda tanyakan kepada peneliti.

6. Jika Anda sudah memahami dan bersedia ikut berpartisipasi dalam penelitian ini, silahkan menandatangani lembar persetujuan yang akan dilampirkan.

Terimakasih atas partisipasi Anda dalam penelitian ini.

Peneliti,

Putri Anjeli Situmeang 161101118

Lampiran 4 LEMBAR PENGUMPULAN DATA PENELTIAN

A. Petunjuk pengisian

Baca dan pahamilah setiap pertanyaan berikut ini, kemudian jawablah sesuai dengan kondisi Anda dengan cara memberi tanda silang (√) pada jawaban yang Anda anggap sesuai . Pada kuesioner ini tidak ada jawaban benar dan salah.

Oleh karena itu, diharapkan Anda dapat mengisi semua pertanyaan. Usahakan agar Anda memberikan jawaban sejujur-jujurnya sesuai dengan kondisi anda.

B. Identitas Responden

11. Terapi DM yang dijalankan :

▭ Obat Oral

▭ Obat / Ramuan Tradisional 1. Apakah Anda pernah merokok?

a. Ya (Jika ya, lanjut ke pertanyaan no 2) b. Tidak (Jika tidak, lanjut ke pertanyaan no 5) 2. Apakah saat ini Anda masih aktif merokok?

a. Ya ; sudah berapa lama Anda merokok ? ( Sebutkan )

± ……….tahun

b. Tidak ; sudah berapa lama Anda berhenti merokok? ( Sebutkan )

± ……….tahun 3. Apakah jenis rokok yang Anda hisap?

a. Rokok dengan filter rokok putih b. Rokok tanpa filter rokok kretek

4. Berapa batang rata-rata rokok yang Anda konsumsi dalam 1 hari?

... batang/hari

5. Apakah Anda sering terpapar asap rokok ? a. Ya

b. Tidak

6. Sudah berapa lama Anda sering berada 1 ruangan dengan orang yang merokok?

± ……….tahun

Lampiran 5 Instrumen Pemeriksaan Nilai Ankle Brachial Pressure Index

Spigmomanometer Vascular Doppler 8 mHz

Gel

Lampiran 6 Persetujuan Komite Etik

Lampiran 7 Persetujuan Validitas

Lampiran 8 Hasil Uji Validasi

Koefisien Validitas Isi Aiken’s V

Keterangan :

V = Indeks Kesepakatan ahli mengenai butir validitas.

S = r – lₒ

r = Angka yang diberikan oleh seorang ahli.

lₒ = Angka penilaian validitas terendah (1).

n = Jumlah ahli

C = Angka penilaian validitas teringgi (4).

Pernyataan R s Indeks validas

V = ∑S/ n (C-1)

Item 1 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 2 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 3 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 4 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 5 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 6 4 3 V = 3/1(3) = 1

Item 7 3 2 V = 2/1(3) = 0,67

Item 8 2 1 V = 1/1(3) = 0,33

Total 7/8 = 0,875

Kesimpulan nilai CV1 kuisioner penelitian adalah 0,875 Validator

1. Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes, Ph.D V = ∑S/ n (C-1)

Lampiran 9

Cronbach's Alpha N of Items

.936 8

Lampiran 10 Hasil Penelitian

Frequencies Status

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Total 50 100.0 100.0

Lama Merokok * Interpretasi ABPI Crosstabulation

Interpretasi ABPI

Banyak Rokok * Interpretasi ABPI Crosstabulation

Mann-Whitney Test

Ranks

Status N Mean Rank Sum of Ranks

Nilai ABPI Perokok 20 13.13 262.50

Non Perokok 30 33.75 1012.50

Total 50

Test Statisticsa

Nilai ABPI

Mann-Whitney U 52.500

Wilcoxon W 262.500

Z -4.908

Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Grouping Variable: Status

Lampiran 11 Surat Izin Penelitian

Lampiran 12 Surat Selesai Penelitian

Lampiran 13 Rincian Dana Penelitian

No. Keperluan

Harga (Rp) 1. Pembuatan Proposal

- Print literatur (sumber pustaka) 100.000,-

- Print proposal 50.000,-

- Penggandaan proposal dan penjilidan 100.000,- 2. Pengumpulan Data Penelitian

- Penggandaan instrument penelitian (lembar observasi dan lembar kuesioner data responden) dan lembar persetujuan

150.000,-

- Pengurusan Ethical Clearance 100.000,-

- Biaya souvenir penelitian 300.000,-

3. PembuatanSkripsi

- Print skripsi 50.000,-

- Penggandaan skripsi dan penjilidan 150.000,-

- CD 30.000,-

Total (Rp) 1.030.000,-

Lampiran 14 Riwayat Hidup

Nama : Putri Anjeli Situmeang Tempat, tanggal lahir : Medan, 23 Oktober 1998 Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Kristen

Email : [email protected]

Alamat : Jalan Rotan 9 no 16 perumnas simalingkar Riwayat Pendidikan :

a. SD Inpres Laumil (2003-2009)

b. SMP Budi Murni 2 Medan (2009-2012) c. SMA Negeri 2 Medan (2012-2015) d. Universitas Sumatera Utara (2016-2020)

Lampiran 15

Hasil Uji Turnitin

Dokumen terkait