• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

4. Perilaku Narapidana

Untuk mengetahui perilaku narpiana, ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan Narapidana, karena hak dan kewajiban ini menjadi faktor yang mempengaruhi pemberian Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK) dan bentuk remisi lainnya.

Disamping berbagai upaya yang telah dilakukan oleh dinas terkait dalam mengantisipasi tingkat pelarian Narapidana, juga perlu diperhatikan mengenai hak dan kewajiban para Narapidana sebagai salah satu bentuk perwujudan pengakuan/perlindungan harkat martabat manusia yang dijatuhi pidana, yaitu adanya ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, menentukan bahwa seorang Narapidana berhak:

a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya; b. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani; c. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran;

d. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak; e. Menyampaikan keluhan;

f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang;

g. Mendapatkan upah atau premi atas pekekrjaan yang dilakukan;

h. Menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum, atau orang tertentu lainnya; i. Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);

j. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga; k. Mendapatkan pembebasan bersyarat;

l. Mendapatkan cuti menjelang bebas; dan

m. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan uraikan di atas, maka prinsip-prinsip dasar pada Sistem Pemasyarakatan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Prinsip-prinsip tersebut sinkron dengan prinsip yang dianut dalam Hukum Pidana Indonesia yang Berprikemanusiaan. Atas dasar itulah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan beserta berbagai peraturan pelaksanaannya yang merupakan dasar hukum pembinaan narapidana melalui sistem pemasyarakatan telah mengatur secara tegas tentang pengakuan dan perlindungan hak-hak narapidana salama

menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan.. Adapun ketentuan mengenai hak-hak narapidana di dalam RUU Sistem Pemasyarakatan 2005, ditentukan di dalam Pasal 28, di mana hak yang diberikan pada dasarnya sama dengan ketentuan pada Pasal 14 UU Nomor 12 Tahun 1995, hanya saja pada RUU Sistem Pemasyarakatan 2005 pada huruf h diberikan catatan mengenai penjelasan berkaitan dengan berapa kali seorang narapidana dapat dikunjungi dalam sebulan, hal apa saja yang harus dipenuhi/dipatuhi oleh tamu atau pengunjung berkaitan dengan besukan dan pembinaan. Selanjutnya di dalam RUU juga ditentukan secara spesifik kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap narapidana yang ditentukan dalam Pasal 29 RUU: Narapidana mempunyai kewajiban :

a. Mengikuti program pembinaan yang meliputi kegiatan perawatan jasmani dan rohani serta kegiatan tertentu lainnya dengan tertib.

b. Mengikuti bimbingan dan pendidikan agama sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

c. Mengikuti kegiatan latihan kerja yang dilaksanakan selama 7 (tujuh) jam sehari.

d. Mematuhi peraturan tata tertib lapas selama mengikuti program kegiatan. e. Memelihara sopan santun, bersikap hormat dan berlaku jujur dalam segala

perilakunya, baik terhadap sesama

f. Penghuni dan lebih khusus terhadap seluruh petugas.

g. Menjaga keamanan dan ketertiban dalam hubungan interaksi sesama penghuni.

h. Melaporkan kepada petugas segala permasalahan yang timbul dalam penyelenggaraan pembinaan narapidana, lebih

i. Khusus terhadap masalah yang dapat memicu terjadinya gangguan kamtib. j. Menghindari segala bentuk permusuhan, pertikaian, perkelahian, pencurian

dan pembentukan kelompok-kelompok solidaritas diantara penghuni didalam lapas.

k. Menjaga dan memelihara segala barang inventaris yang diterima dan seluruh sarana dan prasarana dalam

l. Penyelenggaraan pembinaan narapidana

m. Menjaga kebersihan badan dan lingkungan dalam lapas.

2.5. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Narapidana

Menurut Erlangga (2007) faktor yang mempengaruhi perilaku narapidana yaitu :

2.5.1. Lost of liberty (hilangnya kebebasan), setiap narapidana akan merasa kehidupannya semakin terkekang sempit dan terbatas, dimana mereka tidak hanya terkungkung pekatnya Bui, tetapi juga terbatasnya ruang spiritualnya 2.5.2. Lost of outonomy (hilangnya otonomi), setiap orang yang telah dikategorikan

sebagai narapidana secara tidak langsung akan kehilangan sebagian haknya, khususnya masalah pengaturan dirinya sendiri, dan mereka diharuskan untuk tunduk kepada aturan–aturan yang berlaku dilingkungan bui, akibatnya mereka menghadapi depersonalisasi

2.5.3. Lost of Good and service, Ketidak bebasan memiliki barang-barang tertentu secara pribadi dan pelayanan yang memadai dari petugas, akan memicu perilaku – perilaku baru, seperti mencurigai sesama narapidana dan negosiasi atau menyuap sipir penjara demi suatu tujuan tertentu, masuknya barang- barang terlarang (narkoba dan senjata)misalnya adalahkategori keinginan

tertentu itu.

2.5.4. lost of hetero seksual relationship, hilangnya kesempatan untuk menyalurkan nafsu seksual d engan lawan jenis sehingga mengakibatkan perilaku-perilaku seks yang menyimpang (homoseksual, perkosaan homoseksual dan pelacuran homoseksual)

2.5.5. lost of security, Suasana keterasingan sebagai akibat hilangnya komonikasi

Dengan keluarga, teman sehingga menimbulkan persaingan anatara narapidana pada giliranya akan berubah menjadi bentuk-bentuk kekwatiran dan kecemasan bagi individu-individu.

Muladi ( 2007) Menyatakan bahwa perilaku narapidana adalah cerminan budaya sebelum narapidana tersebut masuk penjara (Importansi Nilai) dalam pembinaan terhadap perilaku narapidana dilaksanakan berbagai upaya melalui ; bimbingan mental, bimbingan vocational dan bina spritual, disamping hal tersebut dalam rangka pembinaan yang lebih dalam besukan keluarga diberikan kepada narapidana agar dapat berinteraksi dengan baik dengan masyarakat.

2.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pemasyarakatan

Menurut Coyle ( 2002) dalam A Human Rights Approach to Prison

Management, King’s College London, sejumlah Kondisi Ideal Internal Manajamen

Penjara adalah : 2.6.1. Prinsip

Terkait dalam manajemen penjara, dalam masyarakat demokratis penjara merupakan sebuah pelayanan publik, dimana proses yang dilakukan di dalamnya harus ditujukan untuk kebaikan publik.

2.6.2. Peran Staf Penjara

a. Memperlakukan Narapidana sesuai aturan serta manusiawi b. Memastika semua narapidana dalam keadaan aman

c. Memastikan narapidana berbahaya tidak melarikan diri

d. Memastikan terciptanya kontrol serta ketertiban yang baik di penjara e. Menciptakan kesempatan yang baik bagi narapidana dalam menggunakan

waktunya secara positif, sehingga mereka nantinya mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat ketika sudah bebas

2.6.3. Pendidikan Publik tentang Penjara

Pemerintah dan administrator senior bidang pemasyarakatan (penjara) harus menyusun program pembelajaran publik tentang peran pemasyarakatan (serta bagaimana peran masyarakat dalam prosesnya), dengan memancing ketertarikan media massa.

2.6.4. Kualitas Personal Staf (SDM)

a. Memerlukan kombinasi yang unik antara kualitas personal dan keahlian teknis b. Diperlukan kualitas personal yang mampu berurusan dengan narapidana,

termasuk dalam situasi sulit dan berbahaya, dan secara manusiawi c. Diperlukan seleksi yang ketat

Sementara faktor-faktor yang menghambat proses adalah : 2.6.5. Faktor Internal

a. Over populasi (daya tampung bangunan Penjara) atau Over Capasitas

b. Kualitas pelayanan di Penjara c. Keterbatasan Dana

d. Kesemuanya dijelaskan secara konseptual oleh; problem of autonomy, problem of control, problem of technology

e. Deripasi Narapidana : Kondisi penjara dan pengalaman mengakibatkan derita tertentu

f. Importansi nilai : Perilaku narapidana merupakan cerminan nilai kultur/sub kulturnya sebelum masuk ke penjara.

2.6.6. Faktor Eksternal a. Peran Masyarakat :

1) Masyarakat belum terlibat dalam proses kemasyarakatan 2) Cenderung membentuk stigma

3) Penolakan terhadap eks narapidana yang ingin kembali kepada masyarakat.

2.7. Pembebasan Bersyarat 2.7.1. Pengertian

Pembebasan bersyarat adalah pemberian pembebasan dengan beberapa syarat kepada narapidana yang telah menjalani pidana selama dua pertiga dari masa pidananya, di mana dua pertiga ini sekurang-kurangnya adalah selama sembilan bulan. Setelah bebas dari lapas selain dibebani oleh beberapa syarat, narapidana juga diberikan tambahan masa percobaan selama setahun dan langsung ditambahkan pada sisa pidananya (Suhardi, 2005).

Pembebasan bersyarat adalah pemberian pembebasan dengan beberapa syarat kepada narapidana yang telah menjalani pidana selama dua pertiga dari masa pidananya, di mana dua pertiga ini sekurang-kurangnya adalah selama sembilan bulan (Prayuda dkk, 2007)

2.7.2. Syarat-Syarat Pembebasan Bersyarat Syarat – syarat pembebasan bersyarat yaitu : 1. Syarat Substantif :

a. Telah menunjukkan kesadaran dan penyesalan atas kesalahan penyebab dijatuhi pidana;

b. Telah menunjukkan perkembangan budi pekerti dan moral positif

c. Berhasil mengikuti program kegiatan pembinaan dengan tekun dan semangat;

d. Masyarakat dapat menerima program kegiatan pembinaan Narapidana dan anak pidana yang bersangkutan;

e. Berkelakuan baik selama menjalani pidana dan tidak pernah mendapatkan hukuman disiplin sekurang-kurangnya sembilan bulan terakhir;

f. Telah menjalani masa pidana 2/3 dari masa pidananya, dengan ketentuan 2/3 masa pidana tersebut tidak kurang dari sembilan bulan.

2. Syarat administratif :

a. Kutipan putusan hakim (ekstrak vonis) ;

b. Laporan penelitian kemasyarakatan yang dibuat oleh Pembimbing kemasyarakatan atau laporan perkembangan pembinaan Narapidana dan anak didik permasyarakatan yang dibuat oleh Wali permasyarakatan; c. Surat pemberitahuan ke Kejaksaan negeri tentang rencana pemberian

pembebasan bersyarat terhadap Narapidana dan anak didik permasyarakatan yang bersangkutan ;

d. Salinan register F (daftar yang memuat tentang pelanggaran tata tertib yang dilakukan Narapidana dan anak didik permasyarakatan selama menjalani masa pidana ) dari Kepala Lapas atau Kepala Rutan ;

e. Salinan Daftar Perubahan atau Pengurangan Masa Pidana (grasi Grasi Presiden, remisi, dll) dari Kepala Lapas atau Kepala Rutan ;

f. Surat pernyataan kesanggupan dari pihak yang akan menerima Narapidana dan anak didik permasyarakatan (pihak keluarga, sekolah, instansi pemerintah, swasta,atau lain-lain).

2.7.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembebasan Bersyarat

Adapun permasalahan dalam pelaksanaan Pembebasan Bersyarat yaitu :

1. Proses pengusulan untuk memperoleh pembebasan bersyarat bagi narapidana, masih belum dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.;

2. Kebijakan pentahapan dalam proses pemberian pembebasan bersyarat pada kenyataannya membutuhkan waktu yang cukup lama;

3. Proses pengusulan untuk memperoleh pembebasan bersyarat bagi narapidana, masih belum dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.;

4. Kebijakan pentahapan dalam proses pemberian pembebasan bersyarat pada kenyataannya membutuhkan waktu yang cukup lama;

5. Hambatan dalam proses pemberian pembebasan bersyarat sudah sangat kompleks, kendala yang dihadapi bukan saja pada permasalahan SDM petugas Pemasyarakatan, namun juga terkendala pada ketidak konsistenan dalam menerapkan kebijakan yang ada terutama masalah mekanisme teknis maupun substantif dalam pemberian pembebasan bersyarat;

6. Kendala lain yang menjadi penghambat dalam proses pemberian PB adalah kurangnya kepedulian instansi terkait yang masih menekankan pada kebijakan masing-masing.

2.8. Cuti Mengunjungi Keluarga 2.8.1. Pengertian

Menurut Suryobroto (2006) Cuti Mengunjungi Keluarga adalah pemberian cuti bagi narapidana dana anak didik pemasyarakatan yaitu kesempatan berkumpul dengan keluarga ditempat kediamannya dimana lama cuti tersebut diatur oleh undang- undang.

2.8.2. Syarat Cuti Mengunjungi Keluaraga

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.32 tahun 1999 tentang syarat dan tata cara Pelaksanaan hak Warga Binaan Pemasyarakatan pasal 41-42 (Suhardi , 2005)dinyatakan bahwa :

1. Setiap Narapidana dan anak didik pemasyarakatan dapat diberikan cuti berupa : a. Cuti mengunjungi keluarga

b. Cuti menjelang bebas

2. Ketentuan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b tidak berlaku bagi Anak Sipil

3. Cuti mengunjungi keluarga dapat diberikan kepada narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan, berupa kesempatan berkumpul bersama keluarga di temapt kediamannya.

4. Cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan paling lama 2 (dua) hari atau 2 x 24 jam (dua kali dua puluh empat) jam.

5. Izin cuti mengunjungi keluarga diberikan oleh Kepala LAPAS dan wajib diberitahukan kepada Kepala BAPAS setempat

6. Ketentuan mengenai cuti mengunjungi keluarga diatur lebih lanjut dengan 2.8.3. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Cuti Mengunjungi Keluarga

Muladi (2005), Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Cuti mengunjungi keluarga adalah :

1. Proses pengusulan untuk memperoleh Cuti Mengunjungi Keluarga bagi narapidana, masih belum dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.;

2. Kebijakan pentahapan dalam proses pemberian Cuti Mengunjungi Keluarga pada kenyataannya membutuhkan waktu yang cukup lama;

3. Jaminan yang susah untuk mendapatkanya diakibatkan oleh jarak rumah yang

cukup lama

4. Animo Narapidana melarikan diri cukup signifikan bagi Narapidana yang memperoleh Cuti mengunjungi keluarga

5. Cenderung Narapidana yang memperoleh Cuti mengunjungi keluarga hanya bagi narapidana yang mengalami musibah misalnya meninggal orang tua.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan di Jalan Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Juni 2009

3.2. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptip kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah studi kasus yang didukung oleh survei dengan mengumpulkan data melalui wawancara dan pemberian daftar pertanyaan(Questionaire), kepada responden. Adapun sifat penelitian ini adalah penelitian penjelasan (ekplanatory), yaitu suatu penelitian yang mencoba menjelaskan fenomena yang terjadi di objek penelitian.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh Narapidana yang telah turun Surat Keputusan Pembebasan bersyaratnya oeh Menteri Hukum dan HAM serta mendapatkan Cuti mengunjungi keluarga sebanyak 148 orang narapidana di bulan Februari 2009 sampai dengan juni 2009

3.3.1. Sampel

Sampel adalah bagian atau representatif yang dapat mewakili sebuah populasi (Kountur, 2004)

Untuk penentuan sampel, penulis cukup memilih sampel dari populasi yaitu narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan dengan ketentuan sebagai berikut :

Untuk menentukan banyaknya jumlah sampel digunakan rumus Slovin umus tersebut dituliskan sebagai berikut(Sevilla dkk 1993) :

n = ) N( 1 N 2 e + Dimana : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

e = Tingkat kesalahan yaitu (0,05%)

n = ) 05 , 0 ( 148 1 148 2 + n = 37 , 1 148 = 108 orang

3.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Wawancara (interview) yang dilakukan kepada kepala Lembaga Pemasyarakatan

Klas I Medan atau pihak-pihak lain yang ditunjuk oleh instansi tersebut untuk memberikan informasi dan keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian ini. b. Daftar pertanyaan (questionaire) yang diberikan kepada responden yang dijadikan

sampel pada penelitian ini

c. Studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari dokumen- dokumen yang diperoleh dari Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan berupa sejarah singkat berdirinya organisasi, struktur organisasi, dan jumlah pegawai Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan .

3.5. Jenis dan Sumber Data 3.5.1. Jenis data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Data primer yang diperoleh dengan melakukan wawancara (interview) dan menyebarkan daftar pertanyaan (questionaire).

b. Data sekunder diperoleh dari studi dokumentasi berupa dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan Lembaga Pemasyarakatan Klas Klas I Medan.

3.6. Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat diklasifikasi sebagai berikut :

1. Variabel Independen (Variabel bebas) 1) Pembebasan Bersyarat, (X1)

2) Cuti Mengunjungi Keluarga (X2)

2. Variabel Dependent (Variabel Terikat) : Perilaku Narapidana (Y)

3.7. Definisi Operasional Variabel

Untuk memperoleh persepsi yang sama sehingga memudahkan penelitian, maka perlu penjelasan definisi yaitu :

1. Pembebasan Bersyarat adalah :

Pemberian pembebasan kepada narapidana yang telah menjalani pidana selama dua pertiga dari masa pidananya, di mana dua pertiga ini sekurang- kurangnya adalah selama sembilan bulan

2. Cuti Mengunjungi Keluarga adalah :

Cuti mengunjungi keluarga diberikan kepada narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan, berupa kesempatan berkumpul bersama keluarga di tempat kediamannya. Cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan paling lama 2 (dua) hari atau 2 x 24 jam (dua kali dua puluh empat) jam.

3. Perilaku Narapidana

Perbuatan narapidana yang tidak pernah melanggar peraturan atau membuat keributan didalam Lembaga Pemasyarakatan selama menjalani pidana 3.7.1. Aspek Pengukuran Variabel bebas dan Terikat

Tabel 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Bebas Dan Terikat

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala pengukuran

1. Pembebasan Bersyarat

Pembebasan bersyarat adalah pemberian pembebasan dengan beberapa syarat kepada narapidana yang telah menjalani pidana selama dua pertiga dari masa pidananya, di mana dua pertiga ini sekurang- kurangnya adalah selama sembilan bulan 1. Remisi 2. Masa Tahanan 3. Jaminan 4. Ketepatan usul turun 5. Masa percobaan Likert 2. Cuti Mengunjungi Keluarga

Cuti mengunjungi keluarga diberikan kepada narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan, berupa kesempatan berkumpul bersama keluarga di tempat kediamannya. Cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan paling lama 2 (dua) hari atau 2 x 24 jam (dua kali dua puluh empat) jam. 1. Pengawalan 2. Jaminan 3. Jarak rumah dengan lapas 4. Lama Cuti 5. Ketepatan kembali ke Lapas Likert 3. Perilaku narapidana

Perbuatan narapidana yang tidak pernah melanggar aturan, membuat keributan, perkelahian didalam Lembaga Pemasyarakatan 1. Hak Narapidana 2. Budaya Narapidana 3. Peraturan Lapas 4. Besukan keluarga narapidana 5. Bimbingan Mental Likert

3.8. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Uji validitas dan realibilitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan pada 30 orang responden yang tidak termasuk dalam sampel penelitian.

3.8.1. Uji Validitas

Validitas data penelitian ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat. Suatu instrumen pengukur dikatakan valid jika instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dengan perkataan lain, instrumen tersebut dapat mengukur

countruct sesuai dengan yang diharapkan peneliti.

Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai Correlated item-Total Correlation pada setiap butir pertanyaan dengan nilai r Tabel. Jika nilai Correlated item-Total Correlation ( r- hitung ) > nilai r Tabel dan nilainya positif, maka butir pertanyaan pada setiap variable penelitian dinyatakan valid

3.8.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas sebenarnya adalah alat untukmengukur suatu koesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu koesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah konsisiten atau stabil dari waktu ke waktu. Jawaban responden terhadap pertanyaan dikatakn realibel jika masing-masing pertanyaan dijawab secara konsisten.

Pengujian relibilitas instrumen dalam penelitian ini mmenggunakan one shot

atau pengukuran sekali saja dan untuk menguji relibilitasnya digunakan uji stasistik

Cronbach alpha. Suatu konstruk atau variabel dikatakan realibel jika memberikan nilai Cronbach alpha > 0,60 ( Ghozali,2005)

3.9. Model Analisis data

Penelitian ini menggunakan analisa :

a. Regresi berganda dilakukan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dimana variabel bebasnya lebih dari satu variabel. Untuk itu akan dilakukan uji regresi linear berganda dengan rumus:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + + έ Dimana : Y = Perilaku Narapidana a = Konstanta b1-b2 = Koefisien Regresi X1 = Pembebasan Bersyarat (PB)

X2 = Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK)

έ = Standar Error

Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen diuji dengan tingkat kepercayaan (confidence interva) 95 % atau α =5%. Kriteria pengujian hipotesis untuk uji serempak adalah:

1. Ho : B1 = B2 = 0 (Pembebasan Bersyarat, Cuti Mengunjungi keluarga tidak

berpengaruh terhadap Perilaku Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan)

2. Ha :B1= B 2 ≠ 0. (Pembebasan Bersyarat, Cuti Mengunjungi keluarga berpengaruh

terhadap Perilaku Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan).

3. Untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik F (Uji F)Jika F hitung < FTabel maka Ho diterima dan Ha ditolak,sedangkan

jika Fhitung > F Tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Sedangkan secara parsial kriteria pengujian hipotesis adalah :

1. Ho : B1= 0 (Pembebasan Bersyarat tidak berpengaruh terhadap Perilaku

Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan).

2. Ho :B1 ≠ 0 (Pembebasan Bersyarat berpengaruh terhadap Perilaku Narapidana di

Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan).

3. Ho : B2 = 0 (Cuti Mengunjungi keluarga tidak berpengaruh terhadap Perilaku

Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan).

4. Ho : B2 ≠ 0 (Cuti Mengunjungi keluarga berpengaruh terhadap Perilaku

Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan).

5. Untuk menguji hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik t (uji t). Jika thitung < tTabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak,sedangkan jika thitung>

tTabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pengujian-pengujian diatas dilakukan

dengan menggunakan software pengolahan data Statistical Package for Social Sciences (SPSS) dengan versi 15.0

3.10.Uji Asumsi Klasik

Untuk menjaga akurasi model hasil regresi yang diperoleh, maka dilakukan beberapa tahapan uji syarat klasik. Uji asumsi klasik dibutuhkan untuk mengetahui sah atau tidaknya suatu model regresi yang akan dipakai sebagai model penjelasan bagi pengaruh antar variabel. Uji syarat klasik dilakukan untuk menjawab pertanyaan bahwa apakah model analisis regresi tersebut sudah memenuhi syarat-syarat yang berlaku.

3.10.1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Dalam uji t dan uji F diasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Ghozali (2005) menyatakan bahwa, ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji stasistik 3.10.2. Uji Multikolonearitas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi dietemukan adanya korelasi antar variabel bebas ( independen ). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Menurut Ghozali (2005) bahwa ; jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolonieritas didalam model regresi

dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance Inlation Factor ( VIF), jika nilai

tolerance <0,10 berarti terdapat multikolinieritas 3.10.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedasitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dan residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedasitas dan jika berbeda disebut heterokedasitas.

Untuk uji heterokeadasitas pada penelitian ini melihat garafik plot antara nilai predeksi variable dependen dengan residualnya, dengan dasar analisis sebagai berikut :

1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur(bergelombang, melebar, menyempit), maka mengidenfikasikan telah terjadi heterokedasitas

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan ibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedasitas.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Sejarah berdirinya Lembaga Pemasyarakatan Klas I Medan

Bagi Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, pemikiran–pemikiran mengenai fungsi Pemasyarakatan tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan telah melahirkan suatu sistem pembinaan yang di namakan dengan sistem Pemasyarakatan.

Pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Bandung dilakukan sebagai pengganti kepenjaraan. Pemasyarakatan dalam Konferensi ini dinyatakan sebagai suatu sistem Pembinaan terhadap para pelanggar Hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi social atau pulihnya kesatuan hubungan Warga Binaan Pemasyarakatan dengan masayarakat.

Dalam pengembangan selanjutnya, pelaksanaan sistem Pemasyarakatan yang telah dilaksanakan sejak tahun 1964 semakin mantap dengan diundangkannya Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.

Dengan Undang–Undang Pemasyarakatan ini maka makin kokoh usaha – usaha dalam mewujutkan suatu sistem Pemasyarakatan. Sebagai tatanan mengenai arah dan batas serta cara Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan

Dokumen terkait