• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH : YUDISTIRA L (Halaman 56-61)

A. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan di TPI Beba 1. Penggolongan Nelayan yang Beroperasi di TPI Beba

2. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan

kelompok dalam kegiatan produksi, (2) menyediakan modal, (3) menyediakan alat tangkap (fishing gear), termasuk (4) menyediakan kapal tangkap atau perahu. Sebagai bagian dari peranan pemimpin dan mengorganisasikan kelompok yang dilakukan oleh punggaha ialah : perekrutan anggota kelompok, pembagian hasil, pemberian pinjaman kepada para sawi dalam bentuk uang atau bahan sebagai biaya hidup (cost of living), termasuk keluarganya yang mereka tinggalkan selama mereka berada di laut.

Dalam perkembangannya punggawa pada kelompok kerja terbagi atas dua orang yaitu : (1) punggawa darat yang biasa juga digelar sebagai pa”palele, dan (2) punggawa kecil. Pa”palele adalah pemimpin tertinggi kelompok dan memimpin langsung berbagai kegiatan di darat khususnya kegiatan pemasaran. Sedang punggawa kecil , berperanan memimpin operasional penangkapan ikan.

2. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan

Masalah kelembagaan pasar pada masyarakat nelayan di Sulawesi Selatan (termasuk daerah penelitian), memilki kompleksitas hubungan yang hampir sama di berbagai wilayah kajian. Fenomena patronase, tengkulak, pelepas uang, merupakan mekanisme yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam menjembatani jaringan produksi dan pemasaran masyarakat nelayan/pesisir sebagai pihak produsen. Hasil produksi perikanan mengalami proses alih kepemilikan sejak dari nelayan/produsen sampai kepada masyarakat konsumen melalui wadah lembaga pasar yang terkonstruksi secara lokal. Konteks hubungan patronase masih sarat

 

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pelaku-pelaku ekonomi (transaksi jual-beli ikan) di desa ini terdiri dari, nelayan itu sendiri (punggawa laut dan sawi), punggawa darat atau pemberi modal (pappalele), pedagang pengecer (paggadeng), pedagang pengumpul, dan nelayan pa’bise-bise (broker) yang sangat menunjang daripada aktivitas masyarakat sebagai nelayan.

Pendaratan ikan di TPI terjadi sebanyak dua kali, yaitu pendaratan pertama terjadi pada pagi hari, sekitar jam 06.00 WITA, dari hasil tangkapan pa’lanra dan pa’rengge. Sedang pendaratan ikan kedua terjadi pada siang hari, sekitar jam 11.00 WITA dari hasil tangkapan pa’rere dan pa’jolloro. Kesibukan di TPI mulai terlihat pada pagi hari, jam 05.30 WITA,

untuk menunggu datangnya nelayan dari laut memasarkan hasil tangkapannya. Para pedagang ikan lokal maupun dari luar Desa Tamasaju, dari yang menggunakan kendaraan mobil sampai yang menggunakan sepeda “pa’gandeng juku”, mulai nampak sibuk bernegosiasi dengan pappalele dari masing-masing unit kelompok nelayan dalam menentukan transaksi harga yang ditawarkan berdasarkan jenis ikan yang ditangkap oleh kelompoknya. Sekitar jam 06.00 WITA, perahu-perahu nelayan dari berbagai unit kelompok baik pa’rengge maupun pa’lanra mulai berdatangan. Setibanya di TPI, masing-masing punggawa laut beserta sawi-sawinya membawa hasil tangkapan mereka

kepada pappalele (punggawa darat), yang telah menunggunya, dan selanjutnya segala urusan penjualan dan pemasaran hasil tangkapan

 

Mengenai pemasaran hasil tangkap, maka sesuai dengan pola hubungan kerja yang didasarkan atas fungsi masing-masing pihak di dalam organisasi penangkapan ikan di daerah penelitian, maka tugas penyaluran ikan di pelelangan (pasar) ditangani oleh pappalele. Masing-masing pappalele telah memiliki pedagang pengumpul tersendiri-sendiri yang telah menjadi langganannya, dan kadang pula bahwa pedagang pengumpul tersebut berfungsi sebagai punggawa modal atau pengusaha yang meminjamkan modal usaha kepada pappalele untuk menjalankan usahanya dengan berbagai konpensasi yang telah disepakati sebelumnya, termasuk kesepakatan penjualan hasil tangkapan yang hanya dapat dijual kepadanya (punggawa modal).

Dari hubungan atau sistem kerja yang terjadi antara pappalele dengan punggawa modal, memiliki unsur untung rugi bagi pappalele yaitu bahwa keuntungannya dari segi jaringan pemasaran dan pinjaman modal untuk kegiatan usaha mereka dapat dikatakan sudah terjamin akan kelangsungannya. Namun dari sisi harga jual ikan hasil tangkapan mereka terkadang dipermainkan dan tidak memberikan keuntungan yang banyak bagi kelompok pappalele oleh punggawa modal yang merangkap pula sebagai pedagang pengumpul. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan modal pinjaman pappalele terhadap punggawa modal demi lancarnya usaha penangkapan mereka.

Mekanisme lain yang juga didapatkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh keterangan mengenai skenario-skenario pedagang dalam melakukan transaksi harga ikan yang terjadi di

tempat- 

tempat pendaratan ikan (TPI Beba) sebagai wilayah kajian adalah sebagai berikut :

Skenario I : Pematokan harga awal. Pematokan harga awal dimaksudkan bahwa ketika kapal pertama bersandar di TPI Beba dan ikan diturunkan ke dermaga, seorang tengkulak (pappalele) segera datang menghampiri dan mematok harga per kilogram untuk ikan tersebut. Pappalele-pappalele lain hanya menyaksikan dan tidak pernah ikut memberikan penawaran harga baru, misalnya sedikit lebih tinggi dari patokan harga awal. Ada budaya pasar yang berlaku diantara mereka, bahwa harga dasar harus diikuti oleh pematok harga pertama, sehingga harga ikan yang berlaku adalah standar yang telah ditentukan oleh patokan harga yang dijatuhkan oleh pappalele pertama.

Skenario II : Patokan harga lanjutan. Patokan harga lanjutan berlaku untuk kapal-kapal yang berlabuh kemudian. Patokan harga yang ditawarkan oleh pappalele adalah harga yang lebih rendah dari harga patokan awal. Tidak boleh ada harga di atas harga yang sudah dipatok sebelumnya.

Skenario III : Terjun bebas. Nelayan yang datang pada pase ini, akan dipatok harganya oleh pappalele, jauh dari harga patokan harga awal dan lanjutan. Untuk ikan yang dibawa seluruh kapal pada gelombang ketiga harga yang berlaku adalah harga terendah.

Skenario IV: Yang penting laku. Untuk ikan yang dibawa kapal-kapal yang datang belakangan, atau pada hari yang semakin siang,

 

ditaksir per kilogramnya, tetapi langsung ditawar/dipatok berdasarkan borongan sesuai yang dibawa oleh nelayan

Berdasarkan scenario-skenario yang dilakukan oleh pedagang, dengan sendirinya sangat mempengaruhi perilaku nelayan dalam memasarkan hasil produksinya (hasil tangkapan ikan). Hal ini dimaksudkan bahwa nelayan dalam perilakunya memasarkan ikan sangat tergantung kepada pappalele (penawar pertama). Meskipun harga pertama yang ditawar oleh pappalele dengan harga murah dengan terpaksa nelayan pasti akan menjualnya dengan pertimbangan bahwa tawaran berikut diasumsikan pasti lebih rendah dari harga sebelumnya, sehingga posisi tawar dari nelayan dalam menjual hasil produksinya tidak dimiliki dengan kata lain nelayan tidak dengan luasa menawarkan hasil tangkapannya melalui pencarian harga yang paling tinggi. Oleh karena peran TPI dalam melelang hasil tangkapan ikan nelayan, sesungguhnya sangat dibutuhkan. Namun sistem pelelangan itu tidak pernah dapat terjadi karena fenomena hubungan ketergantungan antara pappalele, punggawa dan sawi masih sangat kuat.

Dapat disimpulkan sementara dengan melihat skenario diatas bahwa, harga ikan atau mekanisme transaksi jual beli yang terjadi di tempat-tempat pendaratan ikan sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak/pappalele.

Dari skenario mekanisme transaksi yang ada memperlihatkan gambaran bahwa untuk saat ini rantai tataniaga pemasaran masih terkontruksi secara lokalitas.

 

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH : YUDISTIRA L (Halaman 56-61)

Dokumen terkait