ANALISIS IKATAN PATRON-KLIEN TERHADAP PERILAKU NELAYAN DALAM PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI TPI BEBA, DESA
TAMASAJU, KECAMATAN GALESONG UTARA, KABUPATEN TAKALAR
SKRIPSI
OLEH :
YUDISTIRA L241 13 511
PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PERIKANAN DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2017
ANALISIS IKATAN PATRON-KLIEN TERHADAP PERILAKU NELAYAN DALAM PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI TPI BEBA, DESA
TAMASAJU, KECAMATAN GALESONG UTARA, KABUPATEN TAKALAR
SKRIPSI
YUDISTIRA L 241 13 511
Hasil Penelitian Ini
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi pada Jurusan Perikanan pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Hasanuddin Makassar
PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PERIKANAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
ABSTRAK
YUDISTIRA (L241 13 511) Analisis Ikatan Patron-Klien Terhadap Perilaku Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan Di TPI Beba Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Dibimbing Oleh Djumran Yusuf Sebagai Pembimbing Utama Dan Andi Adri Arief Sebagai Pembimbing Anggota.
Kondisi resiko dan ketidakpastian dalam penangkapan merupakan konsekuensi dari terbentuknya struktur sosial dalam masyarakat nelayan yang bercirikan patron-klien. Termasuk dalam hubungan yang terbangun dalam kegiatan pemasaran. Kondisi tersebut didorong dengan kebutuhan nelayan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya maupun kebutuhan dalam kegiatan produksinya. Penelitian ini bertujuan; untuk mengetahui perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan di TPI Beba; mengetahui dampak ikatan patron-klien terhadap perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif kualitatif melalui studi kasus yang bertujuan menjelaskan secara cermat suatu peristiwa, aktivitas, proses atau sekelompok individu dan kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas. Analisis data dilakukan dengan pendekatan conten analisis melalui serangkaian pengumpulan data kasar, reduksi data sampai pada penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku nelayan di TPI Beba dalam ikatan patron-klien yang mengandung unsur ketergantungan finansial (modal), aktivitas produksi bahkan juga menyentuh kepemimpinan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga dalam hasil pemasaran hanya menguntungkan sepihak bila di perhatiakan di tiga skenario. Dampak dari terjadinya ikatan patron-klien menyebabkan terjadinya pasar monopoli pada input produksi dan pasar monoksomi pada output produksi sehingga tidak pada posisi tawar yang menguntungkan.
Kata Kunci : Nelayan; Patron-Klien; Pemasaran
ABSTRACT
YUDISTIRA (L241 13 511) Analysis of patron-Client Bond Against Behavior of Fishermen In Marketing of Catch In TPI Beba Tamasaju Village North Galesong District Takalar Rigency. Guided By Djumran Yusuf As A Supervisor And Andi Adri Arief As A Member Advisor. Risk and uncertainty conditions in arrest are a consequence of the formation of social structures in fishing communities characterized by patrons-clients. Included in the relationship built in marketing activities. These conditions are driven by fishermen’s needs in supply their basic needs or in their production activities needs. The Purpose of this survey : to know the behavior of fishermen in the marketing of catches at Beba’s TPI ; know the impact of patron-client toward on the behavior of fishermen in the marketing of catches. This survey use qualitative descriptive method approach through case study that aims to explain carefully an event, activity, process or group of individuals and cases limited by time and activity. Data analysis was done by analysis conten approach through a series of rough data collection, data reduction until the conclusion. The results showed behavior of the fishermen in Beba TPI in patron-client bonds have contents elements of financial dependence (capital), production activities and even touch social leadership in public life. In the results of marketing only unilaterally profitable when the note in three scenario. The impact of patron-client bonding leads to a monopoly market on production inputs and monoxomic markets in output production as not to favorable bargaining positions.
RIWAYAT HIDUP
Yudistira lahir di Gowa pada tanggal 5 Juni 1995. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara, anak dari pasangan Sakari dan Rabiah. Pada tahun 2000 penulis memasuki sekolah dasar di SDI Biringkaloro Pallangga dan lulus pada tahun 2007, Kemudian penulis melanjut- kan pendidikan di SMP Askari Pallangga dan lulus pada tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 1 Pallangga dan lulus pada tahun 2013.
Pada tahun 2013 penulis melanjutkan pendidikan S1 Program Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin melalui jalur POSK. Selama masa studi, penulis aktif dalam organisasi HIPMA GOWA Kordinator PALLANGGA dan FC ANAK PANTAI.
Penulis menyelesaikan tugas akhir ini untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Univurersitas Hasanuddin, dengan menyusun skripsi berjudul “ Analisis Ikatan Patron-Klien Terhadap Perilaku Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan Di TPI Beba Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar”
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, pemilik segala kesempurnaan, pemilik segala ilmu dan kekuatan yang tak terbatas, sehingga atas hidayah-Nya yang telah memberikan penulis kekuatan, kesabaran, ketenangan, dan karunia selama ini sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis menyadari ada begitu banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan yang sangat berharga yang telah diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis. Oleh karena itu melalui laporan ini penulis menghaturkan penghormatan yang setinggi-tingginya dan terima kasih sebesar-sebesarnya kepada :
1. Kedua orang tua terkasihku yang tanpa henti-hentinya memanjatkan doa atas segala yang terbaik untuk ku, serta ketiga Saudaaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberi semangat kepada penulis.
2. Ibu Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin dan Merangkap Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
3. Bapak Dr. Ir. Gunarto Latama, M.Sc selaku ketua Jurusan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
4. Bapak Dr. Andi Adri Arief, S.Pi, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
5. Bapak Dr. Ir. Djumran Yusuf, M.P selaku panasehat akademik, dan pembimbing utama yang telah banyak meluangkan waktunya membimbing membantu serta memberikan saran dan kritik kepada penulis sehingga dapat menyusun tugas akhir dengan baik.
6. Bapak Dr. Andi Adri Arief, S.Pi, M.Si selaku pembimbing kedua yang telah banyak meluangkan waktunya membimbing membantu serta memberikan saran dan kritik kepada penulis sehingga dapat menyusun tugas akhir dengan baik.
7. Bapak Amiluddin, S.P, M.Si, Bapak M. Chasyim Hasani, S.pi., M.si dan Arie Syahruni Cangara, S.Pi, M.Si selaku tim penguji yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan kritikan yang membangun kepada penulis.
8. Riswiana RIdwan terima kasih telah membantu dan tetap memberikan semangat, kesabaran, dan bantuannya kepada penulis.
9. Seluruh teman SOSEK PERIKANAN 2013 yang tidak dapat disebut namanya satu persatu terima kasih tetap memberikan semangat, kesabaran, dan bantuannya kepada penulis.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak kesyukuran dan terima kasih atas saran, kritikan, pendapat, sanggahan dari berbagai pihak dan semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya kepada penulis
DAFTAR ISI HALAMAN HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACK ... v
RIWAYAT HIDUP ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pemasaran ... . 7
B. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ... 9
C. Perilaku Nelayan. ... 11
D. Relasi Punggawa Sawi ... 13
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu Dan Tempat ... 23
B. Pendekatan Dan Jenis Penilitian ... 23
C. Pengelolaan Peran Sebagai Peneliti ... 24
D. Sumber Data ... 24
E. Teknik Pengumpulan Data ... 25
F . Analisis Data ... 27
IV. KEADAAN UMUM LOKASI A. Letak Dan Kondisi Geografis Penelitian ... 29
B. Keadaan Demografi ... 31
1. Kependudukan ... 31
2. Mata Pencaharian ... 32
3. Keadaan Social Budaya ... 33
4. Sarana Dan Prasarana ... 35
5. Karakteristik Responden ... 36
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perilaku Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan Di TPI Beba 1. Penggolongan Nelayan yang beroperasi di TPI Beba ... 40
2. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan ... 42
3. Analisis ikatan patron-klien dalam kegiatan pemasaran ... 47
B. Dampak Ikatan Patron-Klien Terhadap Perilaku Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan ... 53
VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 56
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 32
2. Tabel 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencarian 33
3. Tabel 3 Sarana Dan Prasarana Di Tpi Beba 35
4. Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur 37
5. Tabel 5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan 38
6. Tabel 6 Karakterisktik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan 39 7. Tabel 7 Penggolongan Nelayan 41
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Lampiran 1. Peta Lokasi 62
2. Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan 63
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Masyarakat pesisir merupakan salah satu kelompok masyarakat yang hidup dan menetap pada wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya penuh pada hasil sumberdaya perairan yang berada pada sekitar wilayah pesisir tersebut. Secara normatif, kehidupan masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat pesisir masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat pesisir / nelayan telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini.
Kondisi resiko dan ketidakpastian dalam penangkapan merupakan konsekuensi dari terbentuknya struktur sosial dalam masyarakat nelayan yang bercirikan patron-klien. Kondisi tersebut didorong dengan kebutuhan nelayan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya maupun keluarganya serta mendapatkan pengakuan di lingkungan masyarakatnya, menyebabkan adanya dorongan para nelayan buruh untuk bisa bergabung dalam suatu kelompok yang dipimpin oleh seorang juragan dengan harapan dapat memenuhi keinginannya. Satria (2002), menjelaskan bahwa sebagian nelayan, karena status nelayan dianggap sebagai way of life, etika subsisten masih menjadi pegangan mereka, umumnya ikatan-ikatan
untuk menjaga kepentingan subsisten mereka, oleh karena itu jelaslah alasan sulit dilepaskannya ikatan patron-klien.
Struktur sosial yang terjadi di masyarakat pesisir tersebut merupakan tantangan masalah yang harus dapat diselesaikan dan dijawab oleh Pemerintah Indonesia sebagai bentuk keberpihakan Pemerintah terhadap masyarakat kecil. Ikatan patron klien dalam lingkup kehidupan masyarakat pesisir merupakan aktualisasi dari tidak adanya institusi yang mampu mewadahi pemenuhan kebutuhan masyarakat pesisir khususnya komunitas nelayan. Berdasarkan hal tersebut maka Pemerintah Indonesia menyediakan tempat khusus bagi nelayan sebagai wadah dalam proses perdagangan perikanan. Hal ini diharapkan, struktur sosial dalam hubungan kerja partron klien atau yang lebih dikenal dengan sistem punggawa sawi di kalangan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan dapat menciptakan persaingan usaha yang sehat serta adanya pasar terbuka komoditi perikanan tanpa ada ketergantungan pada satu pembeli atau penjual saja dan adanya keterlibatan langsung dalam proses jual beli baik antara pungggawa maupun sawi kepada konsumen.
Ketersediaan infrastruktur (tempat pelelangan ikan) bagi nelayan khususnya nelayan kecil (sawi) diharapkan mampu menggunakan fasilitas tersebut sebagai sarana penjualan hasil tangkapannya dan di sisi lain, adanya kemudahan Pemerintah dalam mendata dan mengevaluasi kinerja nelayan tersebut dari segi produksi dan kualitas hasil tangkapan. Pramitasari, Anggoro dan Susilowati (2006) menyebutkan bahwa TPI didirikan dan diselenggarakan oleh koperasi perikanan yang bertujuan
untuk: (1) melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak/pengijon, (2) membantu nelayan mendapatkan harga yang layak, dan (3) membantu nelayan dalam mengembangkan usahanya. Mengacu kepada delapan kategori kelembagaan, kelembagaan/institusi. Koentjaraningrat (1979), TPI tergolong ke dalam economic institution, dimana TPI berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia dalam mencari nafkah dan mendistribusikan hasil produksi perikanan, yaitu dengan pelelangan ikan.
Tempat pelelangan Ikan (TPI) merupakan turunan dari kebijakan Pemerintah melalui Undang-Undang No. 45 tahun 2009 tentang perikanan mengarah pada keberpihakan kepada nelayan kecil. Dalam Pasal 41 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah menyelenggarakan dan melakukan pembi-naan pengelolaan pelabuhan perikanan, selain itu Pemerintah berkewajiban untuk membangun dan membina prasarana perikanan (pelabuhan perikanan dan saluran irigasi tambak). Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan kelembagaan formal yang didirikan pemerintah untuk melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak/pengijon, dimana tengkulak merupakan kelembagaan informal. TPI berperan dalam produksi, tataniaga perikanan, dan sebagai pusat pengumpulan data. Tengkulak merupakan kelembagaan informal yang berperan dalam produksi, tataniaga perikanan, dan konsumsi/social security. Fungsi dari kedua kelembagaan tersebut berlawanan dalam hal kesejahteraan nelayan.
Salah satu Tempat Pelelangan Ikan terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan adalah TPI Beba Kabupaten Takalar. Tempat pelelangan ini berada pada di Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Tempat Pelelangan Ikan Beba merupakan TPI paling sibuk di kabupaten Takalar, dimana puluhan bahkan ratusan perahu silih berganti datang ke pusat pelangan ikan ini. Para pembeli berasal dari Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar hingga Kota Makassar. Hal ini menyebabkan TPI Beba merupakan lokasi konsentrasi dari pelelangan ikan di Kabupaten Takalar yang memiliki unsur kedinamisan sehingga dapat menstimulasi kehidupan ekonomi dikawasan tersebut, khususnya para nelayan.
Dalam proses pemasaran yang terjadi dalam lingkungan TPI Beba memiliki banyak unsur atau lembaga pemasaran yang berada dalam lokasi tersebut. Seyogyanya TPI Beba merupakan tempat bertemunya nelayan langsung kepada konsumen, tetapi senyatanya terdapat banyak pedagang pengumpul yang telah siap menunggu hasil tangkapan nelayan untuk langsung dibeli, tanpa menyentuh dengan konsumen langsung. Hal ini disebabkan karena adanya perjanjian sebelumnya antara punggawa dan pedagang pengumpul yang biasa diistilahkan sebagai papalele di Kabupaten Takalar. Papalele tersebut berperan sebagai saluran pGemasaran hasil tangkapan dan juga terkadang sebagai pemberi modal untuk melakukan proses produksi penangkapan di laut.
Secara tidak langsung model pemasaran yang dipengaruhi oleh struktur sosial atau ikatan patron klien dalam kelompok kerja punggawa sawi di Kabupaten Takalar yang menjual hasil tangkapannya di TPI Beba tidak memiliki posisi tawar ataupun pengetahuan harga sehingga posisi nelayan hanya akan pasrah dengan kondisi serta hasil penerimaan yang diberikan oleh papalele atau punggawa tersebut. Berdasarkan latar belakang ini maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Analisis Ikatan Patron Klien Terhadap Perilaku Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan di TPI Beba Desa Tamasaju, Kecamtan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.
B. Rumusan Masalah
Ikatan patron klien atau punggawa sawi dalam kelompok kerja nelayan di Kabupaten Takalar, menciptakan ketimpangan baik dari segi pendapatan maupun tingkat kesejahteraan karena tidak adanya keberdayaan di alami oleh para sawi (nelayan buruh). Hal ini disebabkan salah satunya karena adanya ketidakadilan dalam tataniaga atau pemasaran hasil tangkapan pada kelompok kerja punggawa sawi sehingga terjadi monopoli perdagangan dan tidak adanya kejelasan hasil pendapatan yang bisa diketahui oleh para sawi. Merujuk dari latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan di TPI Beba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ?
2. Bagaimana dampak ikatan patron-klien terhadap perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan di TPI Beba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan di TPI Beba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar
2. Mengetahui dampak ikatan patron-klien terhadap perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan di TPI Beba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penjelasan mengenai perilaku pemasaran para nelayan yang terbingkai dalam hubungan punggawa sawi atau patron-klien. Secara praktis penelitian ini diharapkan memberikan rekomendasi kepada berbagai pihak dalam rangka kesejahteraan masyarakat pesisir.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pemasaran
Menurut Kotler (1988), pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Pemasaran merupakan suatu proses di mana produsen menciptakan, menawarkan dan mempertahankan barang atau jasa yang bernilai prestasi kerjanya untuk mengetahui apakah telah/belum mencapai tingkat optimal. Aspek pemasaran meliputi kondisi permintaan, penawaran, harga, persaingan dan peluang pasar serta proyeksi pemasaran produk. Hal ini sejalan dengan pendapat Mubyarto (1983), yang mengatakan bahwa fungsi dan peranan pemasaran adalah untuk mengusahakan agar pembeli memperoleh barang yang diinginkannya pada tempat, bentuk, dan harga yang tepat.
Kotler (2002), menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial, dan melalui proses ini individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan dan menukar produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. Selanjutnya Kotler (2000), menegaskan bahwa tujuan pemasaran adalah untuk memahami dan mengetahui pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa tersebut cocok dengan pelanggan, atau dengan kata lain memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang menguntungkan.
Pemasaran merupakan aspek yang sangat mendasar dalam mencapai keuntungan. Pasar sangat penting untuk kelangsungan produksi. Jika kemampuan pasar untuk menyerap produksi sangat tinggi maka tidak menjadi masalah. Sebaliknya bila pasar tidak menyediakan kemungkinan menyerap produk, maka kemungkinan besar usaha akan mengalami kerugian atau pailit (Swadaya, 2007).
Said dan Intan (2001), pemasaran pertanian didefinisikan sebagai sejumlah barang dan jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang pertanian, baik input maupun produk pertanian. Pendekatan dalam studi dan analisis pemasaran digunakan sebagai sarana untuk pengambilan keputusan oleh pelaku yang terkait dengan proses pemasaran. Pendekatan tersebut adalah pendekatan fungsional, pendekatan kelembagaan, pendekatan produk, pendekatan manajerial dan pendekatan sistem. Pendekatan fungsional digunakan untuk menelah dan menganalisis kegiatan-kegiatan fungsional yang akan dilakukan oleh setiap pelaku dalam proses pemasaran suatu komoditas. Pendekatan lembaga digunakan untuk menjawab mengenai siapa yang akan melakukan fungsi pemasaran dalam proses pemasaran suatu produk secara efektif dan efisien.
Hanafiah dan Saefuddin (1986), menyatakan bahwa pemasaran hasil produk perikanan memiliki 2 fungsi yakni sebagai barang konsumsi dan sebagai bahan mentah. Barang konsumsi adalah produk perikanan yang langsung digunakan konsumsi akhir sedangkan bahan
mentah adalah produk perikanan yang dipergunakan oleh pabrik atau pengolah untuk dijadikan barang jadi.
B. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor : 139 Tahun 1997; 902/Kpts/PL.420/9/97; 03/SKB/M/IX/1997 tertanggal 12 September 1997 tentang penyelengaraan tempat pelelangan ikan, bahwa yang disebut dengan Tempat Pelelangan Ikan adalah tempat para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan melalui pelelangan dimana proses penjualan ikan dilakukan di hadapan umum dengan cara penawaran bertingkat. Tempat Pelelangan Ikan adalah disingkat TPI yaitu pasar yang biasanya terletak di dalam pelabuhan / pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang maupun tidak (tidak termasuk TPI yang menjual/melelang ikan darat). Biasanya TPI ini dikoordinasi oleh Dinas Perikanan, Koperasi atau Pemerintah Daerah.
TPI tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut: tempat tetap (tidak berpindah-pindah), mempunyai bangunan tempat transaksi penjualan ikan, ada yang mengkoordinasi prosedur lelang/penjualan, mendapat izin dari instansi yang berwenang (Dinas Perikanan/Pemerintah Daerah 1999). Berdasarkan Ditjen. Perikanan (1994a), setelah ditimbang ikan diletakkan ditempat pelelangan ikan. Juru lelang
urutan nomor bongkar. Menurut Anonimous (1994), kegiatan pelelangan ikan diadakan setiap hari pada jam-jam tertentu yang diatur oleh kepala pelelangan. Pelelangan ikan dapat dimulai setelah memenuhi syarat. Pelelangan ikan dilakukan dengan sistem penawaran meningkat yaitu penawaran dimulai dari harga awal yang telah ditetapkan sebelum dilakukan pelelangan sampai mencapai harga penawaran tertinggi dari calon pembeli. Apabila pada harga penawaran awal tidak ada calon pembeli, maka juru lelang menurunkan harga penawaran secara bertahap dibawah harga awal sampai ada penawaran dari calon pembeli.
Menurut UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, pada pasal 41 disebutkan bahwa Pemerintah mengatur tata niaga ikan dan melaksanakan pembinaan mutu hasil perikanan. Tujuan pengaturan tata niaga oleh Pemerintah agar proses tata niaga ikan berjalan tertib sehingga nelayan sebagai produsen dan pembeli akan memperoleh manfaat dan saling menguntungkan. Salah satu bentuk pengaturan yang telah diatur oleh Pemerintah adalah mewajibkan semua ikan hasil tangkapan agar dilakukan proses pelelangan ikan kecuali ikan-ikan untuk ekspor, ikan-ikan dalam jumlah kecil untuk konsumsi nelayan, ikan-ikan hasil tangkapan untuk penelitian.
Dengan demikian proses pelelangan ikan ini ditujukan untuk pengaturan tata niaga ikan di dalam negeri. Sistem pelelangan ini ditujukan untuk hasil tangkapan ikan yang dijual bukan untuk tujuan ekspor. Dari aspek ekonomi, dengan proses pelelangan ikan maka nelayan dapat diuntungkan dengan adanya harga jual ikan standar. Selain
itu pembeli memperoleh keuntungan karena harga beli ikan yang cukup wajar. Sedangkan Pemerintah Daerah mendapat keuntungan berupa Pendapatan Asli Daerah. Kemudian masyarakat secara tidak langsung juga akan merasakan denyut nadi perekonomian yang meningkat akibat adanya aktivitas kegiatan pelelangan ikan. Di dalam transaksi penjualan ikan antara nelayan dengan pedagang ikan pada umumnya posisi nelayan lemah dan harga ikan biasanya ditentukan oleh pedagang ikan sehingga harga ikan menjadi lebih rendah atau murah.
C. Perilaku Nelayan
Perilaku manusia pada umumnya terbagi atas dua macam,yaitu perilaku yang telah direncanakan dalam gen nya dan merupakan milik dirinya tanpa belajar, Seperti refleksi, kelakuan nurani, dan kelakuan membabi buta. Yang keduanya adalah prilaku yang manusia yang prosesnya tidak terencana dalam gen-nya tetapi yang harus dijadikan milik dirinya dengan belajar (Koentjaraningrat,1990).
Parson dalam Soekanto (1996). Mengemukakan bahwa perilaku manusia dalam kehidupan sosial kemasyarakat di tentukan oleh paling kurangnya empat faktor, yaitu norma, motivasi, tujuan, dan situasi/kondisi. Norma adalah aturan yang di gunakan dalam hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat yang terdiri atas 4 tingkat dan masing-masing mempunyai kekuatan menginkat yang berbeda, yakni: cara (usage). Kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (costum) kemudian motivasi kadang-kadang di pakai dalam arti kebutuhan
situasi/kondisi menurut Mattulada (1997), biasanya ditentukan oleh adanya kesamaan geografis atau hasil intraksi dangan lingkungan fisik sekitarnya. Dengan demikian, maka lahirlah pola perilaku yang tercermin dari platform budaya dan merupakan kekhasan dari masyarakat tersebut, yang dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan.
Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme dalam hal ini manusia terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan yang menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. (Notoatmojdo,1997). Perilaku atau aktfitas individu dalam pengertian yang lebih luas mencakup perilaku yang nampak (over behavior) dan perilaku yang tidak nampak (inert behavior). Perilaku manusia tidak muncul dengan sendirinya tanpa pengaruh stimulus yang diterima baik stimulus yang bersifat eksternal maupun internal. Namun demikian, sebagian besar perilaku manusia adalah akibat respon terhadap stimulus eksternal yang diterima (Bimo, 1999).
Ketergantungan sawi terhadap para punggawa bukan hanya sebagai ikatan ekonomi saja, tetapi telah sampai pada tahap emosional dan kepercayaan tinggi menjalani hidup bersama-sama. Ketidakmampuan sawi dalam posisi tawar dan jaringan patron klien tersebut merupakan wadah dan sarana yang menyediakan sumber daya sebagai jaminan social secara tradisional yang dapat menjaga kelangsungan hidup nelayan buruh tersebut menyebabkan nelayan masih tetap pada ranah ketergantungan yang tinggi sehingga pergerakan social menuju yang lebih
baik tidak dapat dilakukan. Bourdieu (Jenkins 2004;135) menjelaskan bahwa dalam suatu komunitas masyarakat terdapat deretan asusmsi dan kepercayaan yang berkembang tanpa tidak pernah mereka pertanyakan sehingga didominasi oleh suatu situasi yang sulit karena pengaruh yang kuat dari hirarki social tersebut yang disebut sebagai doxa. Dengan kepercayaan yang tinggi dalam pola hirarki social yang bukan hanya dalam ekonomi saja.
D. Relasi Punggawa Sawi
Suatu masyarakat maupun individu sebagai makhluk sosial memiliki kebutuhan akan membangun hubungan dengan individu lainnya dengan cara menciptakan relasi dan interaksi antar sesama, sebagai kebutuhan untuk dapat beraktualisasi diri dan berafiliasi dengan kelompok atau masyarakat tertentu. Siagian (2012) menjelaskan kebutuhan akan afiliasi pada umumnya tercermin pada keinginan berada pada situasi yang bersahabat dalam interaksi seseorang dengan orang lain dalam organisasi, apakah orang lain itu teman sekerja yang setingkat atau atasan dan kebutuhan akan afiliasi biasanya diusahakan agar terpenuhi melalui kerjasama dengan orang lain.
Relasi sosial yang biasa dikatakan juga sebagai hubungan sosial adalah merupakan hasil dari komunikasi ataupun interaksi yang merupakan perwujudan dari tingkah laku dengan sistem sistematik antara dua orang atau lebih. Relasi sosial juga dapat dikatakan sebagai hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu lainnya dan saling mempengaruhi. Relasi sosial merupakan bagian yang
dan berulang kali dengan pola yang sama. Relasi sosial dan ekonomi dalam masyarakat terdiri dari berbagai macam bentuk yaitu :
a. Relasi atau hubungan yang bersifat assosiatif yang merupakan proses yang berbentuk kerjasama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi serta proses interaksi yang cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkankan solidaritas anggota kelompok.
b. Relasi atau hubungan yang bersifat dissassosiatif adalah proses yang berbentuk persaingan, pertentangan dan perselisihan.
Dalam kelompok nelayan yang terdapat pada masyarakat pesisir di Indonesia khususnya Sulawesi selatan, terbentuk suatu kerjasama yang terdiri dari para pemilik modal dan alat produksi yaitu punggawa dan para pekerja yang menyumbangkan tenaganya yaitu para sawi. Bentuk hubungan kerja ini kemudian berkembang menjadi suatu hubungan ikatan yang bukan hanya bersifat ekonomi saja tetapi lebih kepada ikatan emosional. Hal ini kemudian yang menciptakan adanya relasi sosial ekonomi antar kedua pelaku hubungan kerja tersebut atau punggawa dan sawi.
Relasi sosial ekonomi punggawa dan sawi tercipta karena adanya model interaksi yang baik dan memiliki aturan mengikat antara keduanya. Interaksi tersebut dilandaskan akan kepentingan keduanya sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Fukuyama (2002) menjelaskan bahwa terjadinya penguatan hubungan yang erat antara dua individu diawali dengan adanya interaksi antara keduanya, yang kemudian berlanjut kepada kepercayaan, kerjasama, dan diakhiri dengan adanya resiprositas (timbal balik) antara keduanya.
E. Masyarakat Pesisir
Pengertian masyarakat adalah kelompok-kelompok individu yang teratur, dimana setiap kelompok manusia saling bergaul dan berinteraksi dan bekerjasama dalam jangka waktu yang cukup lama (Linton 1973 dalam Sunarto, 1993). Menurut Mattulada (1997), masyarakat pesisir adalah sekelompok manusia yang hidup bekerjasama di suatu daerah tertentu yang disebut pantai. Sementara itu orang yang bertempat tinggal di pesisir pantai dan mempunyai mata pencaharian pokok sebagai penangkap ikan dan hasil laut lainnya disebut nelayan. Sebagai masyarakat nelayan dalam melakukan penangkapan ikan di laut bergantung pada kemudahan bersama karena tempat usahanya tergolong liar, berpindah-pindah, dan ikan yang ditangkap berkembang biak secara alamiah.
Arti nelayan dalam buku statistik perikanan Indonesia disebutkan nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam
hanya melakukan pekerjaan, seperti membuat jaring, mengangkut alat-alat/perlengkapan kedalam perahu/kapal, mengangkut ikan dari perahu/kapal tidak dimasukkan sebagai nelayan. Tetapi ahli mesin, juru masak yang bekerja diatas kapal penangkap ikan dimasukkan sebagai nelayan. Dari pengertian itu tersirat jelas, nelayan dipandang tidak lebih sebagai kelompok kerja yang tempat bekerjanya di air; yaitu sungai, danau atau laut.Karena mereka dipandang sebagai pekerja, maka kegiatan-kegiatannya hanya refleksi dari kerja itu sendiri dan terlepas dari filosofi kehidupan nelayan, bahwa sumber penghidupannya terletak dan berada dilautan.
Sumber kehidupan yang berada di laut mempunyai makna bahwa manusia yang akan memanfaatkan sumber hidup yang tersedia dilaut tidak mempertentangkan dirinya dengan hukum-hukum alam kelautan yang telah terbentuk dan terpola seperti yang mereka lihat dan rasakan. Tindakan yang harus dilakukan dan perlu dilaksanakan adalah mempelajari melalui penglihatan, pengalaman sendiri atau orang lain guna melakukan penyesuaian alat-alat pembantu penghidupan sehingga sumber penghidupan itu dapat berguna dan berdaya guna bagi kehidupan selanjutnya (Raharjo, 2002).
Menurut Arief (2002) laut sebagai bagian dari alam semesta mempunyai kecirian tersendiri dibandingkan dengan bagian alam semesta lainnya seperti tanah, udara dan panas matahari. Kecirian yang berbeda nyata dan sangat besar antara laut dengan tanah telah memberikan kesempatan pada manusia untuk mengenalinya lebih dalam, terutama
setelah dikaitkan dengan udara dan panas matahari diantara keduanya, agar dapat bermanfaat bagi sumber penghidupan.
Ternyata dari pengalaman yang berlangsung berabad-abad lamanya telah memberikan pengetahuan pada mereka bahwa perlakukan terhadap laut dan tanah harus berbeda, karena keduanya itu mempunyai sifat-sifat alam yang berbeda. Pengenalan sifat-sifat alam tersebut telah mendorong manusia untuk bersikap dan berbuat terhadapnya selaras dengan sifat-sifat alam itu. Dari hasil pengenalan sifat alam tadi, peleburan manusia terhadap laut dan tanah telah pula menciptakan sikap hidup yang berbeda diantara keduanya. Dapat dilihat dari hasil hidup itu dari peralatan hidup yang mereka ciptakan. Manusia yang bergelut dengan laut; peralatan hidup utamanya seperti perahu dengan segala atributnya. Sedangkan, manusia yang bergelut dengan tanah; peralatan hidup utamanya seperti bajak tanah, dengan segala atributnya pula.
Dari pendapat Fernando, dkk, (1985) menyatakan bahwa ada bentuk-bentuk kebiasaan pengaturan penangkapan (fishing rights) di “Masyarakat Perikanan” (Fishing Communities), bahwa orang diluar masyarakat perikanan tersebut tidak dibolehkan menangkap ikan di daerah-daerah penangkapan masyarakat nelayan (Community fishing ground) dan tenaga kerja penangkapannya juga tidak diambil dari
masyarakat diluar mereka.
Pada mulanya, seperti daerah-daerah penangkapan yang tertutup bagi anggota masyarakat lainnya mulai terbuka, karena sebab-sebab
yang selama ini sifatnya tertutup. Kecenderungan tersebut makin tampak jelas, setelah alat penang-kapan nelayan secara tekhnik makin meningkat kemampuannya. Dan pemakaian istilah ‘Masyarakat Perikanan’ tidak hanya digunakan oleh Fernando, tetapi didalam buku yang sama itu, telah dipakai juga oleh Frederichs and Nair (1985) pada penelitian nelayan pantai di Peninsular Malaysia, maka istilah nelayan, secara fungsional tidak dapat lagi hanya dipandang sebagai kelompok kerja statis, tetapi mereka ada-lah bagian dari masyarakat tersendiri yang dinamis yang mampu mengatur dirinya sendiri dan beradaptasi atau saling tergantung dan mempengaruhi masyarakat lain yang berada diluar sistem kemasyarakatan mereka.
Aspek budaya dalam suatu masyarakat tidak terlepas atau erat kaitannya dengan kondisi pekerjaan/mata pencaharian masyarakatnya. Soemardjan (1974) dalam Sunarto (1993), mengemukakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan, sehingga setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa ikatan yang membuat satu kesatuan manusia menjadi satu masyarakat adalah pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupan dalam batas-batas kesatuannya termasuk matapencahariannya.
Dalam masyarakat mempunyai struktur dan seringkali memiliki perbedaan masyarakat etnik tertentu dengan masyarakat etnik lainnya. Sehubungan dengan itu Mubyarto (1984), mengemukakan bahwa masyarakat nelayan ditinjau dari aspek ekonomi memiliki stratifikasi
sebagai berikut: (1) nelayan kaya yang mempunyai kapal yang mempekerjakan nelayan lain sebagai pendega tanpa dia sendiri ikut bekerja, (2) nelayan kaya yang mempunyai kapal tetapi dia sendiri masih ikut bekerja sebagai awak kapal; (3) nelayan sedang yang kebutuhan hidupnya dapat ditutupi dengan pendapatan pokoknya dari bekerja sebagai nelayan, dan mempunyai perahu tanpa mempekerjakan tenaga dari luar keluarga; (4) nelayan miskin yang pendapatan dari perahunya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga harus ditambah dengan bekerja lain untuk kebutuhannya beserta istri dan anaknya; (5) nelayan pendega atau Nelayan Sawi yang tidak mempunyai perahu, sehingga kebutuhan hidupnya dipenuhi dengan bekerja sebagai awak kapal.
F. Kerangka Pikir
Perilaku sosial masyarakat merupakan sebuah konstalasi dari sikap, pengetahuan dan keterampilan individu yang mendiami suatu masyarakat tertentu. Perilaku seorang nelayan dalam lingkungan masyarakat pesisir terjadi karena adanya pola-pola interaksi serta merupakan warisan budaya yang secara turun temurun dipercayai masyarakat pesisir tersebut. Sebagai konteks warisan dari perilaku masyarakat sebelumnya dan masyarakat pesisir tergolong sebagai masyarakat homogen menciptakan kebiasaan-kebiasaan perilaku yang menjadi dasar interaksi masyarakat pesisir. Model pemasaran hasil tangkapan pada kelompok punggawa sawi juga merupakan aturan yang bersifat warisan terdahulu yang terbingkai dalam hubungan punggawa
pengumpul yang terdapat di lokasi tempat pelelangan ikan. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka penelitian ini tersaji dalam gambar berikut ini :
Gambar 1. Kerangka Penelitian KELOMPOK KERJA PUNGGAWA SAWI PEDAGANG PENGUMPUL (PAPALELE) PATRON-KLIEN PERILAKU NELAYAN DALAM SALURAN PEMASARAN
IMPLIKASI HUBUNGAN PATRON-KLIEN DALAM KEGIATAN
PEMASARAN
KESEJAHTERAAN NELAYAN
G. Konsep Operasional
1. Nelayan : orang yang secara aktif melakukan kegiatan menangkap ikan, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung (seperti juru mudi perahu layar, nakhoda kapal ikan bermotor, juru mesin kapal, juru masak kapal penangkap ikan) sebagai mata pencaharian.
2. Perilaku Sosial : suatu aksi-reaksi manusia terhadap lingkungannya yang muncul karena adanya saling bergaul dan intraksi yang mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur dalam pencapaian kebutuhan bersama
3. Punggawa-Sawi : bentuk kelembagaan lokal masyarakat nelayan yang terdapat di Sulawesi Selatan yang berbasis yang dalam sistem kerjanya dibangun atas dasar kepentingan bersama antara individu yang disebut ”punggawa” dengan seorang atau beberapa individu yang disebut ”sawi”.
4. Punggawa Besar : pemilik usaha produksi (modal, perahu/kapal dan alat tangkap) yang mempekerjakan sekelompok orang sebagai tenaga kerja dalam kegiatan produksi atau memberikan pinjaman produksi. 5. Punggawa kecil atau Juragan lopi : salah seorang anggota
kelompok kerja yang diberi kepercayaan oleh punggawa darat untuk memimpin kegiatan produksi karena kepadanya memiliki kelebihan atau kedekatan khusus dengan punggawa darat dibanding anggota kelompok yang lain.
6. Nelayan sawi : orang-orang yang tidak memiliki sarana produksi dan hanya mengandalkan tenaga fisik untuk terlibat sebagai tenaga kerja dalam satu kelompok kerja (working group).
7. Saluran Pemasaran : Sekelompok lembaga yang terdapat di TPI Beba yang mengadakan kerjasama untuk melakukan kegiatan atau fungsi-fungsi pemasaran komoditi perikanan dari pihak produsen sampai pihak konsumen.
8. Informasi Harga : Perilaku nelayan dalam mengetahui tentang kondisi harga terbaru terhadap suatu komoditi ikan tertentu yang diperdagangkan di TPI Beba Kabupaten Takalar.
9. Kualitas Komoditi : Perilaku nelayan dalam menjaga kondisi hasil tangkapan sehingga mendapatkan harga yang sesuai dengan harga sebenarnya yang berlaku di TPI Beba.
10. Proses Jual Beli : Perilaku nelayan yang mengikuti prose jual beli hasil tangkapan di TPI Beba Kabupaten Takalar.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Agustus-Oktober 2017 di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purpossive). Hal ini didasarkan bahwa di Desa ini terdapat lokasi Tempat
Pelelangan Ikan Beba yang terbesar dan tersibuk di Kabupaten Takalar. mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya dalam bidang perikanan (nelayan), beraktivitas secara berkelompok serta dalam perkembangannya, dan melakukan transaksi jual beli di TPI Beba.
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Metode dasar dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini didasarkan pada bahwa untuk mengungkapkan proses-proses perilaku nelayan serta mengkaji dampak hubungan patron klien terhadap perilaku pemasaran nelayan dalam kelompok kerja punggawa sawi sehingga tidak cukup untuk dapat dijelaskan dengan kecenderungan yang dilakukan secara kuantitatif.
Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Creswell (2010) menjelaskan bahwa dalam studi kasus adalah penelitian di dalamnya peneliti menyelediki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses atau sekelompok individu dan kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas sehingga peneliti mengumpulkan
informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
C. Pengelolaan Peran sebagai Peneliti
Rancangan dan pelaksanaan penelitian bersifat responsif dan kreatif sesuai dengan bentuk ritme dan kemungkinan yang ada di lapangan. Dalam kajian ini, peneliti melakukan pengamatan terlibat aktif dengan cara menggali informasi kepada masyarakat, mengintensifkan observasi dan wawancara yang dilakukan sedalam mungkin (in-depth). Untuk menghindari subyektifitas jawaban informan karena interaksi langsung dengan peneliti, materi pertanyaan yang diberikan sifatnya tidak menilai atau mengintervensi, tetapi lebih kepada materi pertanyaan yang mengarahkan informan untuk mengungkapkan pengalaman yang dialami atau pernah dialami yang diantaranya melalui life-history (Koentjaraningrat, 1994).
D. Sumber Data
Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi, sedang data sekunder bersumber dari instansi-instansi terkait serta hasil-hasil laporan, penelitian sebelumnya yang dapat mendukung kajian penelitian.
Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui penentuan informan didasarkan pada informasi awal tentang warga komunitas yang terlibat dalam usaha perikanan tangkap (penangkapan ikan), baik yang berposisi sebagai punggawa darat (pemberi modal), punggawa atau juragan (pemilik usaha), sawi (pekerja) dan nelayan mandiri. Kepada informan
sebagai peneliti yang telah diwawancarai ditanyakan tentang warga komunitas yang dapat dijadikan informan berikutnya (teknik bola salju; efek snowball). Disamping itu ada juga informan yang ditentukan sendiri oleh peneliti, seperti tokoh masyarakat, pemuka agama, tokoh pemuda dan sebagainya.
Demikian proses ini berlangsung sehingga data yang terkumpul mencapai tingkat kecukupan. Perulangan wawancara untuk informan tertentu dapat dilakukan, apabila informan tersebut dianggap potensil mengungkap banyak hal yang berkaitan dengan penelitian ini. Prinsip triangulasi pengumpulan data juga dipraktekkan, dalam arti suatu tema pertanyaan tidak hanya diandalkan pada satu sumber informasi saja, melainkan kebenaran informasi disandarkan pada beberapa informan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari subyektifitas jawaban yang diberikan oleh informan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam studi kasus, sejumlah data tertentu dikumpulkan dan dipadukan dalam proses analisis, serta disajikan sedemikian rupa untuk mendukung tema utama yang menjadi fokus penelitian, sehingga merupakan suatu konstruksi tersendiri sebagai suatu produk interaksi antara responden atau informan dengan peneliti. Selama dalam penelitian ini ditemukan sejumlah informan sebanyak 15 orang di TPI Beba Desa Tamasaju yang masing-masing terdiri dari; 5 orang nelayan, 3 orang punggawa, 5 orang pappalele, 2 orang nelayan mandiri. Adapun teknik
1. Wawancara Mendalam (In-depth Interview)
Wawancara mendalam (in-depth interview) dilakukan melalui sejumlah pertemuan dengan informan yang didalamnya berlangsung tanya jawab dan pembicaraan terlibat mengenai berbagai aspek permasalahan yang akan dicari dalam penelitian. Dalam prosesnya, selain informan menjelaskan informasi mengenai dirinya, seperti riwayat usaha, aktivitas usaha, kehidupan keluarga, atau pandangan hidupnya; juga dituntun untuk menjelaskan hal di luar dirinya seperti kondisi komunitas, hubungan produksi dalam kelompok kerja maupun hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat terutama pada penekanan relasi social ekonomi yang dibangun baik dalam kelompok maupun di luar kelompok. Penggunaan life-history dipraktekkan untuk beberapa informan kunci. Pencatatannya dilakukan pada saat wawancara berlangsung.
2. Pengamatan (observation)
Pengamatan dilakukan dengan dua cara yaitu, pengamatan biasa dan berpartisipasi. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan biasa adalah data yang dapat diamati oleh peneliti tanpa menuntut keterlibatan secara langsung. Jenis data yang diperoleh dengan cara ini adalah antara lain, keadaan pemukiman penduduk, jenis peralatan dalam aktifitas usahanya, pola aktivitas dan kegiatan sehari-hari penduduk. Sedangkan pengamatan berpartisipasi (full observation participation) dilakukan untuk memperoleh data yang menuntut keterlibatan peneliti dalam setting yang diteliti, seperti perilaku dan aktivitas nelayan, pola operasi penangkapan,
hubungan produksi dalam kelompok usaha serta hal-hal yang menyangkut substansi permasalahan dalam penelitian.
F. Teknik Analisis Data 1. Validitas (Keabsahan) Data
Dalam penilaian keabsahan atau validitas data dalam penelitian ini dilaksanakan selama proses penelitian dilakukan. Pada penelitian ini memvalidasi (keabsahan) data menggunakan metode triangulasi. Dalam Creswell (2012) menjelaskan strategi yang digunakan untuk melakukan validitas (keabsahan data) adalah dengan mengtriangulasi (triangulate) sumber-sumber data yang berbeda dengan memeriksa bukti-bukti yang berasa dari sumber-sumber tersebut dan menggunakannya untuk membangun justifikasi tema-tema secara koheren. Selanjutnya Creswell (2012) menjelaskan menerapkan member cheking untuk mengetahui akurasi hasil penelitian dengan membawa laporan akhir atau deskripsi-deskripsi spesifik ke hadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa deskripsi tersebut sudah akurat. Pada penelitian ini, member cheking di croscek kepada masing-masing informan yang sudah
terpilih sebelumnya. Jawaban-jawaban yang berulang disampaikan oleh masing-masing informan dianggap bahwa data tersebut sudah valid. Dengan demikian prinsip triangulasi terpraktekkan melalui penulusuran kejenuhan (perulangan) jawaban-jawaban yang berikan.
2. Analisis Data
sistematis yang dilakukan secara reduksi data dimana data yang diperoleh diseleksi, difokuskan, disederhanakan dan diabstraksikan sesuai catatan lapangan yang didapatkan. Kemudian penyajian data diklasifikasikan sesuai dengan kategori berdasarkan variabel yang dilihat dan terakhir adalah penarikan kesimpulan atau interpretasi serta verivikasi data dari hasil penyajian data yang diklasifikasikan. Miles dan Haberman dalam Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa aktivitas data dalam analsisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus dimana langkah-langkah analisis datanya sebagai berikut :
1. Reduksi data, mengidentifikasi satuan (unit) dari bagian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan fokus dan masalah penelitian.
2. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, hubungan antar kategori dan teks yang bersifat naratif, sehingga mengetahui apa isi yang disajikan.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, kesimpulan-kesimpulan final mungkin tidak muncul sampai pengumpulan data berakhir, tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodean, penyimpanan data, dan metode pencarian ulang yang digunakan.
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Kondisi Geografis Penelitian
Kabupaten Takalar berada antara 5.3 - 5.33 derajat Lintang Selatan dan antara 119.22-118.39 derajat Bujur Timur. Kabupaten Takalar dengan ibukota Pattalasang terletak 29 km arah selatan dari Kota Makassar ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kabupaten Takalar adalah sekitar 566,51 km2, dimana 240,88 km2 diantaranya merupakan wilayah pesisir dengan panjang garis pantai sekitar 74 km.
Batas Wilayah Kabupaten Takalar Yaitu :
Bagian Utara Kabupaten Takalar berbatasan dengan Kota
Makassar dan Kabupaten Gowa,
Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto dan
Kabupaten Gowa,
Bagian Selatan dibatasi oleh Laut Flores, sementara bagian
Barat dibatasi oleh Selat Makassar.
Wilayah Kabupaten Takalar terdiri dari 9 (sembilan) Kecamatan masing-masing : Kecamatan Manggarabombang; Kecamatan Mappakasunggu; Kecamatan Polombangkeng Selatan; Kecamatan Polombangkeng Utara; Kecamatan Galesong Selatan; Kecamatan Galesong Utara; Kecamatan Pattalassang; Kecamatan Galesong dan Kecamatan Sanrobone.
Di Kabupaten Takalar terjadi 3 musim yaitu musim timur berlangsung pada bulan Mei sampai pada bulan september, dan ditandai dengan angin
kecepatan 5-36 km/jam. Selain itu, angin juga bertiup dari arah Tenggara sampai ke arah Barat daya dan Tenggara sampai ke Selatan serta Timur sampai ke Selatan. Sedang peralihan dari Musim Timur (musim kemarau) ke musim Barat (musim penghujan) berlangsung dari bulan oktober hingga bulan November. Pada saat itu, ditandai dengan adanya dominasi angin dari arah Tenggara hingga Barat daya dengan kecepatan yang semakin meningkat berkisar pada 7 – 45 km/jam. Selanjutnya musim barat (musim hujan) berlangsung dari bulan desember sampai bulan Februari yang ditandai dengan dominasi angin dari arah Barat Laut dan dari arah Barat Daya sampai ke arah Barat Laut, dengan kecepatan rata-rata 7-50 km/jam.
Musim peralihan dari musim Barat ke Musim Timur, berlangsung dari bulan Maret hingga Bulan April yang ditandai dengan adanya arah angin yang berubah-ubah, serta adanya dominasi angin dari arah Barat hingga Barat Laut, dan dari Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan rata-rata 7-40km/jam, dan 7-45km/jam. Kemudian ketika semakin mendekati musim Timur, maka kecepatan angin yang disebutkan diatas, semakin berkurang kecepatannya hingga rata-rata 5-35km/jam.
Desa Tamasaju termasuk dalam wilayah Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Tamasaju memiliki luas sekitar 179,6 Ha.. Adapun batas-batas Desa Tamasaju, adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Baramamase b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa tamalate
c. Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Parammata d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Desa Tamasaju merupakan Desa dari kecamatan Galesong Utara yang memiliki luas daratan 97,3 Ha. Secara Geografis Desa Tamasaju berbatasan dengan Desa Bontosungguh di sebelah Utara, Desa Sampulungan di sebelah Selatan, Parammata di sebelah Timur, dan Selat Makassar di sebelah Barat. Berdasarkan letak geografisnya Desa Tamasaju merupakan Desa yang memiliki letak terdekat dengan Kota Makassar.
Secara geografis Desa Tamasaju terdiri atas 5 (lima) Dusun, yang kelimanya menempati wilayah pesisir selat Makassar. Kelima Dusun yaitu
a. Dusun Campagayya b. Dusun Campagayya Baru c. Dusun Borong Calla d. Dusun Beba
e. Dusun Sawakung
Desa Tamasaju dapat di jangkau dengan menggunakan transportasi darat dari Kota Makassar dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan, sedangkan bila dari arah Kabupaten Gowa di tempuh dalam waktu 30 menit dengan menggunakan transportasi darat.
B. Keadaan Demografi 1. Kependudukan
hasil interaksi kehidupan sehari-hari. Dalam pembagiannya, secara umum penduduk dibagi atas penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Hal ini juga berlaku dalam perhitungan jumlah penduduk di Desa Tamasaju.
Berikut ini akan disajikan Tabel 1 mengenai jumlah penduduk Desa Tamasaju. Data berikut merupakan data tersaji dari pemerintah setempat. Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Desa
Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. No. Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Persentase (%)
1 Laki-laki 2.438 48 %
2 Perempuan 2.681 52 %
Jumlah 5.119 100 %
Sumber: Data Sekunder, 2017
Tabel 1 menjelaskan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah 2.438 jiwa dan penduduk wanita 2.681 jiwa. Jadi, jumlah total penduduk Desa Tamasaju adalah 5119 jiwa yang terdiri atas 1.400 Kepala Keluarga (KK) 2. Mata pencaharian
Mata pencaharian penduduk Desa Tamasaju umumnya adalah sebagai Petani, Pedagang Keliling, dan nelayan. Hal ini dikarenakan kondisi geografis dari Desa Tamasaju yang sangat potensial untuk pengembangan di sektor Pertanian dan perikanan. Sedangkan sebagian kecilnya berprofesi sebagai peternak, pegawai, buruh tani, Karyawan perusahaan swasta dan ada pula berprofesi TNI/POLRI.
Tabel 2. Jenis Mata Pencaharian Penduduk Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
No. Jenis Pekerjaan Jumlah Penduduk
1 Nelayan 138
2 Pedagang keliling 225
3 Pegawai Negeri Sipil 40
4 TNI 40 5 Petani 581 6 Karyawan swasta 21 7 POLRI 3 8 Peternak 27 Jumlah 1075 Sumber: Data Sekunder, 2017
Data table 2 di atas menunjukkan bahwa masyarakat Desa Tamasaju umumnya bekerja sebagai nelayan dengan jumlah sebanyak 138 orang,Petani dengan jumlah 581 orang, peternak 27 orang, pedagang 225 orang, pegawai Negeri Sipil 40 orang, Karyawan swasta 21 orang, TNI 40 orang dan profesi yang paling sedikit digeluti adalah sebagai POLRI 3 orang.
3. Keadaan Sosial Budaya
Pemukiman penduduk di Desa Tamasaju umumnya didominasi oleh bangunan Semi permanen dan permanen. Pola penataan sudah tampak teratur meskipun terlihat sangat padat dan jarak antar bangunan cukup dekat.
Tamasaju sudah lebih mementingkan sekolah ketimbang bekerja, adapun mereka yang kadang tidak melanjutkan lagi pendidikannya. Namun, bagi masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi, mereka umumnya masih melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Untuk aspek kepercayaan, penduduk Desa Tamasaju semuanya beragama Islam. Nuansa keagamaan masih sangat kental di Desa Tamasaju. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme masyarakat yang masih sangat tinggi pada berbagai aktivitas keagamaan. Selain itu, di Desa ini kita juga dapat menemukan rumah-rumah penduduk yang berfungsi sebagai tempat pendidikan keagamaan yaitu pengajian dasar Al-Quran. Kebanyakan penduduk memilih untuk memberikan pendidikan ekstrakurikuler keagamaan kepada anak-anak yang masih tingkat SD dengan memasukkannya ke TPA yang dibuat sendiri oleh masyarakat.
Dalam kehidupan sosial masyarakat juga terdapat strata sosial yang ditentukan oleh nilai ketokohan seseorang, kekayaannya, garis keturunannya, dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan. Status sosial ini sangat berpengaruh dalam banyak hal, termasuk dalam memutuskan sebuah perkara (termasuk urusan politik). Mayoritas masyarakat menyerahkan sepenuhnya berbagai macam urusan-urusan termasuk urusan keluarga kepada para elit desa (masyarakat yang dianggap memiliki strata sosial yang tinggi). Adapun bahasa pengantar yang paling sering digunakan adalah Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang ada di Desa Tamasaju sangat mendukung semua kegiatan masyarakat Desa tersebut, terutama untuk kegiatan perekonomian. Sarana dan prasarana yang ada di Desa Tamasaju dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut:
Tabel 3. Sarana dan Prasarana di Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
No. Sarana dan Prasarana Jumlah Kondisi
1 Sekolah Dasar 3 Baik
2 SMA 1 Baik
3 TK 5 Baik
4 Masjid 6 Baik
5 Posyandu 5 Baik
6 Postu 1 Baik
7 Lapangan Bulu Tangkis 1 Baik
8 MCK 11 Baik
9 Tempat Pelelangan Ikan 1 Baik
Sumber: Data Sekunder, 2017
Berdasarkan Data Tabel 3 dapat dilihat bahwa sarana dan prasarana yang ada di Desa Tamasaju Belum lengkap, khususnya untuk sarana pendidikan yang belum lengkap. Kondisi seperti ini sering ditemui apabila berkunjung ke daerah-daerah Pedesaan yang ada di Indonesia.
Di Desa Tamasaju terdapat TK 5 unit, Sekolah Dasar yang berjumlah 3 unit, SMA 1 unit. Sarana kesehatan seperti Posyandu berjumlah 5 unit,
olahraga yang ada lapangan bulu tangkis yang juga berjumlah 1 unit. Dari data di atas juga dijelaskan bahwa di Desa Tamasaju juga terdapat MCK yang berjumlah 11 unit. Tempat pelelangan ikan 1 unit.
5. Karakteristik Informan
Responden yang dijadikan sampel pada penelitian ini adalah masyarakat Desa Tamasaju dengan jumlah 15 orang dimana Pa’palele 3 orang punggwa Kecil 4 orang dan selebihnya adalah sawi/klien yang melakukan usaha dalam bidang perikanan yang hasil tangkapannya berupa ikan-ikan yang di jual di TPI Beba. Sehingga nelayan yang dinilai tepat untuk menjadi responden dalam penelitian ini adalah nelayan-nelayan yang dalam aktivitasnya menjual hasil tangkapannya di TPI Beba. Berikut akan dijelaskan identitas dari responden seperti tingkat umur, tingkat pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarganya.
A. Tingkat Umur
Produktivitas seseorang dapat dilihat dari beberapa faktor diantaranya adalah umur, karena dengan umur terdapat kemampuan fisik dan kesehatan mental dan spiritual dalam melakukan aktivitas. Seseorang yang lebih muda cenderung lebih muda menerima hal-hal baru, dari pada orang yang memiliki umur yang tua. Pada umumnya, nelayan yang memiliki umur lebih muda memiliki kondisi fisik yang prima, sangat jauh berbeda dengan nelayan yang sudah tua, yang mana kondisi fisik mereka sudah jauh menurun tetapi mereka lebih unggul dari segi pengalaman kerja sebagai nelayan. Namun demikian, keberhasilan suatu usaha bukan
saja ditentukan oleh umur seseorang. Persentase jumlah informan berdasarkan jumlah tanggungan dapat dilihat pada tabel
Tabel 4. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur di Desa Beba Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar.
No.
Tingkat Umur (Tahun)
Jumlah Informan (Orang)
Punggawa Papalele Nelayan
Nelayan Mandiri 1 23 – 32 1 1 2 33 – 42 1 2 3 2 3 43 – 53 2 2 1 Jumlah 3 5 5 2
Sumber: Data Primer, 2017
Tabel 4 menunjukkan bahwa informan berusia antara berusia antara 33 – 42 berjumlah 1 orang, dan informan yang berusia antara 43 - 53 tahun yaitu hanya berjumlah 2 orang. Sedangkan informan papalele yang berusia antara 23 – 32 tahun yaitu berjumlah 1 orang, informan yang berusia 33 – 42 tahun yaitu berjumlah 2 orang, dan informan yang berusia 43 – 53 tahun yaitu berjumlah 2 orang. Informan Nelayan yang berusia yang berusia antara 23 – 32 tahun yaitu berjumlah 1 orang, informan yang berusia 33 – 42 tahun yaitu berjumlah 3 orang, dan informan yang berusia 43 – 53 tahun yaitu berjumlah 1 orang. Yang terakhir adalah informan nelayan mandiri berusia 33 – 42 tahun berjumlah 2 orang.
B. Tingkat Pendidikan
Selain umur, pendidikan juga merupakan faktor yang mempengaruhi produktivitas. Informan yang berpendidikan, lebih dinamis
dan pasar. Selain itu menurut (Salamba dalam Polhaupessy, 2004) yang menyatakan bahwa pendidikan juga berfungsi dalam menyiapkan salah satu input dalam proses produksi yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena memiliki kualitas yang baik. Persentase jumlah informan berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel
Tabel 5. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendidikan di Desa Tamasaju Kecamatan Kabupaten Takalar.
No. Tingkat Pendidikan
Jumlah Responden (Orang)
Punggawa Papalele Nelayan
Nelayan Mandiri 1 Tamat SD 2 3 4 2 2 Tamat SMP 1 2 1 3 Tamat SMA Jumlah 3 5 5 2
Sumber: Data Primer, 2017
Berdasarkan tabel 5 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan informan punggawa di Desa Beba adalah responden yang tamat SD sebanyak 2 orang, dan informan yang tamat SMP sebanyak 1 orang, sedangkan untuk informan papalele yang tamat SD sebanyak 3 orang, dan informan papalele yang tamat SMP sebanyak 2 orang, dan informan nelayan yang tamat SD sebanyak 4 orang, dan nelayan yang tamat SMP sebanak 1 orang. Kemudian informan nelayan mandiri yang tamat SD sebanyak 2 orang. Salah satu penyebab rendahnya tingkat pendidikan informan dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat Desa Tamasaju
C. Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang biaya hidupnya ditanggung oleh kepala keluarga yang terdiri dari informan itu sendiri, sedangkan istri, anak – anak dan tanggungan lainnya yang tinggal seatap dan sedapur adalah anggota keluarga. Persentase jumlah informan berdasarkan jumlah tanggungan dapat dilihat pada tabel
Tabel 6. Karakteristik Informan Berdasarkan Jumlah Tanggungan di Desa Tamasaju Kecamatan Kabupaten Takalar
No.
Jumlah Tanggungan
(Orang)
Jumlah Informan (Orang)
Punggawa Papalele Nelayan Nelayan Mandiri
1 1 – 2 1
2 3 – 4 3 3 4 2
3 5 – 6 1 1
Jumlah 3 5 5 2
Sumber : Data Primer, 2017
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan informan yang paling banyak berkisar 3 sampai 4 orang sementara jumlah tanggungan yang berjumlah jauh lebih sedikit yaitu berada pada 1 sampai 2 orang dan 5 sampai 6 orang.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan di TPI Beba 1. Penggolongan Nelayan yang Beroperasi di TPI Beba
Kategorisasi nelayan yang beroperasi di TPI Beba terbagi dalam 4 pengkategorian nelayan yaitu Palanra’ dengan jenis alat tangkap Jaring (Lanra’), parengge dengan jenis alat tangkap Jaring (Gae’), Kapal piber dengan jenis alat tangkap Pancing (rinta’) dan kapal jolloro’ dengan jenis alat tangkap Pancing (Rinta’) dengan target tangkapan ikan demersal dan ikan karang.
Dalam penggolongan nelayan tersebut sangat dipengaruhi oleh modal (kapital) untuk menjalankan kegaitan produksi. Punggawa yang memiliki modal besar cenderung akan memiliki kapal besar (pure sine) dan sawi yang banyak sedangkan punggawa atau nelayan memiliki modal sedikit akan cenderung memiliki kapal yang kecil seperti kapal jolloro’ dan kapal Piber.
Di TPI Beba terdapat beberapa kelompok nelayan berdasarkan cara penangkapan ikan, seperti contohnya pada tabel di bawah ini
Tabel 7. Penggolongan Nelayan, Jenis Alat Tangkap dan Hasil Tangkapan
No Jenis Nelayan
Jenis Alat
Tangkap Jenis Hasil Tangkpan
1 Palanra Jaring (lanra’) Ikan Tembang
2 Parengge Jaring ( gae’ ) Ikan Layang, ikan
Cakalang, Ikan Kue 3 Kapal Piber Pancing ( rinta’ ) Ikan kembung 4 Kapal Jolloro Pancing ( rinta’ ) Ikan kembung
Struktur-struktur kelompok-kelompok nelayan yang terbangun di lokasi penelitian, tergambarkan struktur-struktur berdasarkan produksi yang hampir sama atau sama dengan struktur kelompok kerja yang pada umumnya terdapat di pesisir dan pulau-pulau kecil Sulawesi Selatan. Di Desa Tamasaju terdiri atas kelompok-kelompok sosial (social groups) dalam berbagai jenis dan dalam jumlah yang banyak. Namun, yang dominan diantaranya ialah ”kelompok nelayan” (working groups) yang seluruh anggotanya adalah nelayan. Pemimpin kelompok ini disebut “punggawa”, sedang warga lainnya yang merupakan pengikut dalam kelompok, disebut “sawi”. Kelompok punggaha-sawi di desa ini yang merupakan “kelompok kerja” (working groups) pada umumnya menamakan dirinya sesuai dengan nama alat yang dipergunakan seperti; kelompok pa’gae/pa’rengge, perahu piber, pa’lanra dan sebagainya dengan aktivitas utama menangkap ikan.
Kelompok kerja (working groups) berdasarkan dengan jenis atau alat tangkap (fishing gear) yang mereka gunakan atau operasikan seperti unit kelompok : pa’rengge (purse seine) dengan jumlah anggota kelompok (punggawa dan sawi) 10 –15 orang, pa’lanra (gill net) jumlah anggota kelompok 4 - 6 orang, perahu jolloro (motor tempel dengan alat tangkap pancing) jumlah anggota kelompok 2 orang serta Kapal Piber dengan alat tangkap Rinta’ (Pancing) dengan jumlah anggota kelompok 1 – 2 orang.
kelompok dalam kegiatan produksi, (2) menyediakan modal, (3) menyediakan alat tangkap (fishing gear), termasuk (4) menyediakan kapal tangkap atau perahu. Sebagai bagian dari peranan pemimpin dan mengorganisasikan kelompok yang dilakukan oleh punggaha ialah : perekrutan anggota kelompok, pembagian hasil, pemberian pinjaman kepada para sawi dalam bentuk uang atau bahan sebagai biaya hidup (cost of living), termasuk keluarganya yang mereka tinggalkan selama mereka berada di laut.
Dalam perkembangannya punggawa pada kelompok kerja terbagi atas dua orang yaitu : (1) punggawa darat yang biasa juga digelar sebagai pa”palele, dan (2) punggawa kecil. Pa”palele adalah pemimpin tertinggi kelompok dan memimpin langsung berbagai kegiatan di darat khususnya kegiatan pemasaran. Sedang punggawa kecil , berperanan memimpin operasional penangkapan ikan.
2. Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan
Masalah kelembagaan pasar pada masyarakat nelayan di Sulawesi Selatan (termasuk daerah penelitian), memilki kompleksitas hubungan yang hampir sama di berbagai wilayah kajian. Fenomena patronase, tengkulak, pelepas uang, merupakan mekanisme yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam menjembatani jaringan produksi dan pemasaran masyarakat nelayan/pesisir sebagai pihak produsen. Hasil produksi perikanan mengalami proses alih kepemilikan sejak dari nelayan/produsen sampai kepada masyarakat konsumen melalui wadah lembaga pasar yang terkonstruksi secara lokal. Konteks hubungan patronase masih sarat
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pelaku-pelaku ekonomi (transaksi jual-beli ikan) di desa ini terdiri dari, nelayan itu sendiri (punggawa laut dan sawi), punggawa darat atau pemberi modal (pappalele), pedagang pengecer (paggadeng), pedagang pengumpul, dan nelayan pa’bise-bise (broker) yang sangat menunjang daripada aktivitas masyarakat sebagai nelayan.
Pendaratan ikan di TPI terjadi sebanyak dua kali, yaitu pendaratan pertama terjadi pada pagi hari, sekitar jam 06.00 WITA, dari hasil tangkapan pa’lanra dan pa’rengge. Sedang pendaratan ikan kedua terjadi pada siang hari, sekitar jam 11.00 WITA dari hasil tangkapan pa’rere dan pa’jolloro. Kesibukan di TPI mulai terlihat pada pagi hari, jam 05.30 WITA,
untuk menunggu datangnya nelayan dari laut memasarkan hasil tangkapannya. Para pedagang ikan lokal maupun dari luar Desa Tamasaju, dari yang menggunakan kendaraan mobil sampai yang menggunakan sepeda “pa’gandeng juku”, mulai nampak sibuk bernegosiasi dengan pappalele dari masing-masing unit kelompok nelayan dalam menentukan transaksi harga yang ditawarkan berdasarkan jenis ikan yang ditangkap oleh kelompoknya. Sekitar jam 06.00 WITA, perahu-perahu nelayan dari berbagai unit kelompok baik pa’rengge maupun pa’lanra mulai berdatangan. Setibanya di TPI, masing-masing punggawa laut beserta sawi-sawinya membawa hasil tangkapan mereka
kepada pappalele (punggawa darat), yang telah menunggunya, dan selanjutnya segala urusan penjualan dan pemasaran hasil tangkapan
Mengenai pemasaran hasil tangkap, maka sesuai dengan pola hubungan kerja yang didasarkan atas fungsi masing-masing pihak di dalam organisasi penangkapan ikan di daerah penelitian, maka tugas penyaluran ikan di pelelangan (pasar) ditangani oleh pappalele. Masing-masing pappalele telah memiliki pedagang pengumpul tersendiri-sendiri yang telah menjadi langganannya, dan kadang pula bahwa pedagang pengumpul tersebut berfungsi sebagai punggawa modal atau pengusaha yang meminjamkan modal usaha kepada pappalele untuk menjalankan usahanya dengan berbagai konpensasi yang telah disepakati sebelumnya, termasuk kesepakatan penjualan hasil tangkapan yang hanya dapat dijual kepadanya (punggawa modal).
Dari hubungan atau sistem kerja yang terjadi antara pappalele dengan punggawa modal, memiliki unsur untung rugi bagi pappalele yaitu bahwa keuntungannya dari segi jaringan pemasaran dan pinjaman modal untuk kegiatan usaha mereka dapat dikatakan sudah terjamin akan kelangsungannya. Namun dari sisi harga jual ikan hasil tangkapan mereka terkadang dipermainkan dan tidak memberikan keuntungan yang banyak bagi kelompok pappalele oleh punggawa modal yang merangkap pula sebagai pedagang pengumpul. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan modal pinjaman pappalele terhadap punggawa modal demi lancarnya usaha penangkapan mereka.
Mekanisme lain yang juga didapatkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh keterangan mengenai skenario-skenario pedagang dalam melakukan transaksi harga ikan yang terjadi di