• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

B. Perilaku pasien Asma dalam

Senam Asma Indonesia merupakan salah satu jenis olahraga yang dianjurkan bagi pasien asma sebagai bagian dari pengobatan asma secara menyeluruh atau holistik. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Anwar (1998) dan Rogayah (1999) menyimpulkan bahwa pasien asma yang mengikuti sanam asma dapat memperbaiki gejala klinis yang dialami dan penggunaan obat – obatan berkurang. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Sahat (2008) di perkumpulan senam asma RSU Tangerang menyimpulkan bahwa senam asma berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru setelah dikontrol variabel usia, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Budi (2008) diperoleh hubungan yang bermakna antara kualitas senam asma dengan kualitas hidup pasien asma, dimana

62

pasien asma yang melakukan senam secara teratur dan melakukan sosialisasi lebih banyak mempunyai kualitas hidup yang baik.

Menurut Notoatmodjo (2003), untuk memperoleh data terkait perilaku pasien yang paling akurat adalah melalui pengamatan (observasi). Namun dapat juga dilakukan melalui wawancara dengan pendekatan recall atau mengingat kembali perilaku yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat ukur untuk mendapatkan data terkait perilaku pasien asma dalam melakukan senam asma.

Pada hasil penelitian ini diketahui sebagian besar pasien asma tidak melakukan senam asma. Adapun pasien asma yang dikategorikan tidak melakukan senam pada penelitian ini sebagian besar tidak pernah melakukan senam asma semenjak didiagnosa asma. Sedangkan pasien asma yang dikategorikan melakukan senam pada penelitian ini sebagian besar melakukan senam asma 1 kali seminggu dan sudah dijalani lebih dari 1 tahun.

Menurut Supriyantoro (2004), latihan dapat dilakukan satu kali seminggu dengan durasi latihan 60 menit. Namun, menurut Yayasan Asma Indonesia (YAI) (2008) senam asma yang efektif adalah apabila dilakukan secara rutin 3 – 4 kali seminggu, setiap kali senam 45 – 60 menit, dan akan menunjukkan hasilnya setelah dilaksanakan 6– 8 minggu.

C. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

63

indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Namun, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Pada penelitian ini, sebagian besar pasien asma memilik pengetahuan dasar asma dan senam asma yang baik. Menurut peneliti, hal ini terjadi karena pasien yang menjadi sampel penelitian adalah sebagian besar sudah menderita asma sejak kecil sehingga informasi terkait penyakit yang diderita sudah banyak didapat. Karena menurut Notoatmodjo (2007), pasien akan berusaha mencari informasi terkait penyakit yang diderita dan itu merupakan bagian dari perilaku peran sakit.

Analisis lebih lanjut yaitu dengan menghubungkan antara pengetahuan dan perilaku pasien, ternyata dari hasil analisis bivariat didapatkan proporsi pasien asma yang tidak melakukan senam asma lebih banyak mempunyai pengetahuan yang baik daripada pengetahuan yang kurang. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Namun, peningkatan pengetahuan tidak selalu mengambarkan perubahan perilaku. Pembentukan perilaku tidak semata-semata berdasarkan pengetahuan saja, tapi masih dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat kompleks.

Pada hasil uji statistik pula didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia (p-value = 0,143). Hal ini sejalan dengan penelitian Warsono (2000) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan

64

dengan kepatuhan melakukan olahraga yang dianjurkan pada pasien diabetes melitus type 2.

Berbeda dengan penelitian Pratiwi (2003), hasil analisa menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan latihan fisik pada pasien diabetes mellitus type 2. Latihan fisik yang dimaksud adalah olahraga dan aktivitas harian. Begitu pula dengan penelitian Hariyanti (2001) bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku kepatuhan menjalankan olahraga pada pasien diabetes mellitus type 2.

Menurut analisa peneliti, tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia mungkin dikarenakan kurangnya motivasi atau dorongan dari dalam diri pasien sendiri untuk melakukan senam asma. Walaupun pasien mengetahui besarnya manfaat senam asma bagi perbaikan kondisinya, namun jika tidak ada motivasi dari dalam diri untuk melakukan senam asma maka pasien tidak akan melakukan senam asma. Karena menurut Maulana (2009) motivasi terbaik datang dari dalam diri sendiri. Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2009 dalam Nursalam, 2008).

Selain itu, dikarenakan ada faktor lain yang juga mempengaruhi seperti dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Berdasarkan teori motivasi bahwa dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga merupakan faktor motivasi eksternal yang juga menjadi pendorong sebuah perilaku seseorang

65

(Shaleh, 2004). Sehingga sebaiknya peran keluarga dan petugas kesehatan perlu ditingkatkan agar dapat membantu merubah perilaku pasien agar melakukan senam asma.

D. Hubungan Sikap dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia

Sikap merupakan kecenderungan merespons (secara positif atau negatif) orang, situasi, atau objek tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional atau afektif (senang, benci, dan sedih), kognitif (pengetahuan tentang suatu objek), dan konatif (kecenderungan bertindak) (Sarwono, 1997 dalam Maulana, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian, sikap pasien asma terhadap penyakitnya dan senam asma lebih banyak positif. Adapun dari hasil analisa bivariat diketahui proporsi pasien asma yang tidak melakukan Senam Asma Indonesia lebih banyak mempunyai sikap negatif daripada sikap positif namun tidak jauh berbeda. Artinya pasien yang mempunyai sikap positif pun mempunyai kecenderungan tidak melakukan Senam Asma Indonesia. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia. Menurut analisa peneliti, hal ini mungkin disebabkan karena informasi yang diberikan petugas kesehatan kepada pasien tentang penyakit asma dan manfaat senam asma masih belum cukup merubah perilaku pasien untuk melakukan senam asma. Sarwono (1997) yang dikutip Maulana (2009) menyatakan bahwa sikap seseorang dapat berubah selain dengan

66

diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu melalui persuasi, juga dapat dengan tekanan dari kelompok sosialnya.

Upaya yang dapat dilakukan kepada pasien untuk melakukan senam asma antara lain dengan cara memberikan contoh kepada pasien bahwa dengan melakukan senam asma akan mempengaruhi pengontrolan penyakitnya. Misalnya seorang perawat atau dokter yang sedang memberikan anjuran kepada pasiennya, ia menggambarkan bagaimana senam asma tersebut mempengaruhi pasien lainnya dalam memperbaiki gejala asmanya. Karena seorang yang telah bersikap positif terhadap sesuatu akan lebih mudah dipengaruhi untuk menjalankan hal tersebut, yang dibutuhkan adalah seseorang yang dapat memberikan contoh (role model), dan akan lebih baik bila yang memberikan contoh adalah orang yang berpengaruh atau dapat dipercaya (Notoatmodjo, 2007).

Sunaryo (2004) menyatakan bahwa sikap pada diri individu belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Karena menurut Notoatmodjo (2007) walaupun sikap merupakan faktor predisposisi terhadap perilaku seseorang namun masih merupakan respon tertutup sehingga belum pasti meramalkan perilaku seseorang. Individu seringkali memperlihatkan tindakan bertentangan dengan sikapnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hariyanti (2001), yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sikap pasien terhadap penyakit Diabetes Mellitus dan penatalaksanaannya dengan perilaku kepatuhan menjalankan olahraga. Namun, berbeda dengan hasil penelitian Pratiwi (2003),

67

yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan latihan fisik.

E. Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia

Fungsi hadirnya tenaga kesehatan adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang kesehatan. Tujuan dasar dari pelayanan kesehatan ini adalah memberikan layanan kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat (Sudarma, 2008). Aktivitas peningkatan kesehatan merupakan bagian dari berbagai peran perawat seperti motivator, pendidik atau penyuluh (Potter & Perry, 2005). Dukungan petugas kesehatan termasuk perawat merupakan salah satu faktor yang diduga dapat mempengaruhi perilaku pasien dalam melakukan Senam Asma Indonesia. Mengingat peran petugas kesehatan terhadap pengendalain penyakit asma amat besar.

Gambaran dukungan petugas kesehatan yang dinilai secara objektif oleh pasien menunjukan lebih banyak positif. Menurut peneliti, dukungan positif yang diberikan petugas kesehatan adalah lebih banyak berupa dukungan informasi. Setelah dihubungkan dengan perilaku pasien diketahui proporsi pasien asma yang tidak melakukan senam asma lebih banyak mendapatkan dukungan negatif dari petugas kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia (p-value = 0,008). Ini sesuai dengan teori Green (1991) yang diacu Notoatmodjo (2007) bahwa dukungan petugas kesehatan merupakan

68

faktor pendorong yang dapat mempengaruhi terjadinya sebuah perilaku kesehatan.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Warsono (2000) dan Hariyanti (2001) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku kepatuhan menjalankan olahraga. Namun berbeda dengan penelitian Pratiwi (2003) yang sejalan dengan penelitian ini, hasil analisa menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara dukungan petugas kesehatan dengan latihan fisik.

Sikap petugas merupakan salah satu faktor yang penting dalam merubah perilaku pasien agar berperilaku sehat. Dukungan dari petugas kesehatan merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan. Dukungan petugas kesehatan ini berguna saat pasien menghadapi bahwa perilaku sehat yang baru tersebut merupakan hal yang penting. Perubahan perilaku seringkali memerlukan frekuensi yang sering antara pasien dan pemberi pelayanan kesehatan (Niven, 2000).

Jadi peran petugas kesehatan dalam mempengaruhi pasien asma untuk melakukan senam asma sangat penting. Sehingga perlu ditingkatkan dukungan yang diberikan petugas kesehatan kepada pasien asma untuk melakukan senam asma seperti selain pemberian pendidikan atau informasi tentang penyakit asma dan manfaat senam asma, juga informasi tempat klub-klub senam asma yang dekat dengan rumah pasien pun harus diberikan atau dapat pula dengan ikut mendampingi melakukan senam asma bersama pasien agar lebih memotivasi dan meyakinkan pasien bahwa senam asma merupakan olahraga yang tepat bagi

69

pasien asma. Sebab untuk berperilaku sehat, pasien kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan keteladanan dari petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

F. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia

Friedman (1998) yang diacu Suprajitno (2004) mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat sekitarnya. Struktur kekuatan keluarga sebagai salah satu elemen struktur keluarga menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang mendukung kesehatan.

Pada tabel 5.5 diketahui gambaran dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien asma lebih banyak positif. Adapun proporsi pasien asma yang tidak melakukan senam asma lebih banyak mendapatkan dukungan negatif dari keluarga daripada dukungan positif. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia (p-value = 0,001). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Hariyanti (2001) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan

70

yang bermakna antara dukungan keluarga dengan perilaku kepatuhan menjalankan olahraga.

Hasil penelitian Warsono (2000) menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan olahraga pada pasien diabetes mellitus. Ini sesuai dengan teori Green (1991) yang diacu Notoatmodjo (2007) bahwa dukungan keluarga merupakan salah satu faktor pendorong yang dapat mempengaruhi terjadinya sebuah perilaku kesehatan.

Keluarga adalah bentuk sosial yang utama yang merupakan tempat untuk peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit (Campbell, 1994 dalam Potter & Perry, 2005). Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat dari setiap anggota keluarganya (Potter & Perry, 2005). Keluarga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat menentukan program apa yang sebaiknya mereka terima. Keluarga juga memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang sakit (Niven, 2000). Menurut analisa peneliti, pasien yang tidak melakukan senam asma dikarenakan anggota keluarga tidak menganjurkan pasien melakukan senam asma yang mungkin disebabkan anggota keluarga tidak mendapat informasi tentang senam asma. Anggota keluarga juga tidak mengantar ke tempat senam asma atau menemani pasien melakukan senam asma sehingga kurang termotivasi. Sebaiknya itu dilakukan oleh anggota keluarga pasien karena dapat mendorongnya untuk melakukan senam asma.

71 BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Gambaran perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia

di RS Persahabatan adalah lebih banyak pasien asma yang tidak melakukan senam asma (75%) dibandingkan dengan pasien asma yang melakukan senam asma (25%).

2. Gambaran pasien asma di RS Persahabatan yang memiliki pengetahuan baik (64,7%) lebih banyak dibandingkan dengan pasien asma yang memiliki pengetahuan kurang (35,3%).

3. Gambaran pasien asma di RS Persahabatan yang memiliki sikap positif (52,9%) lebih banyak dibandingkan dengan pasien asma yang memiliki sikap negatif (47,1%).

4. Gambaran petugas kesehatan di RS Persahabatan yang memiliki dukungan positif (51,5%) lebih banyak dibandingkan dengan petugas kesehatan yang memiliki dukungan negatif (48,5%).

5. Gambaran keluarga pasien asma di RS Persahabatan yang memiliki dukungan positif (52,9%) lebih banyak dibandingkan dengan keluarga pasien asma yang memiliki dukungan negatif (47,1%).

6. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan (p-value = 0,143).

72

7. Tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan (p-value = 0,161).

8. Ada hubungan yang bermakna antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan (p-value = 0,008, OR = 6,667).

9. Ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan (p-value = 0,001, OR = 24,8).

B. Saran

1. Bagi RS Persahabatan

a. Petugas kesehatan agar lebih meningkatkan perannya yang sudah dinilai baik agar jauh lebih baik dalam merubah perilaku pasien asma untuk melakukan senam asma dengan ikut terlibat dalam senam asma agar pasien termotivasi.

b. Petugas kesehatan agar menyarankan anggota keluarga pasien juga untuk membantu merubah perilaku pasien baik hanya dengan mengantar pasien ke tempat senam atau ikut melakukan senam.

2. Bagi Profesi Keperawatan

Membuat klub-klub asma baru yang bekerja sama dengan rumah sakit atau puskesmas setempat mengingat masih sedikitnya jumlah klub asma di Indonesia.

73

3. Peneliti Selanjutnya

Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa yang terbukti berhubungan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia yaitu dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Peneliti menyarankan perlu dilakukan penelitian sejenis dengan meneliti variabel-variabel lain yang diduga berhubungan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia yang tidak diteliti dalam penelitian ini karena belum banyak diketahui variabel-variabel yang berhubungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Joni. 1998. Pengaruh Senam Asma Indonesia terhadap Penderita Asma. Tesis. Jakarta: FK UI.

Ayubi, Dian, dkk. 2006. Modul Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: UIN Jakarta Press.

Black & Hawk. 2005. Medical Surgical Nursing: Clinical Management For Positive Outcome (7thEd). St. Louis: Elsvier. Inc

Budi, Hendra. 2008. Hubungan Kualitas Senam Asma dengan kualitas Hidup Pasien Asma di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Tesis. Jakarta: FIK UI.

Depkes RI. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma, http://www.depkes.go.id, diperoleh tanggal 16 Desember 2009.

. 2008.Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Dewan Asma Indonesia. 2009. "You Can Control Your Asthma": ACT NOW!, http://indonesianasthmacouncil.org/index.php?option=com_content&task=vie w&id=13&Itemid=1, diperoleh tanggal 29 April 2010

Dianiati. 2002. Hidup Nyaman, Aktif dan Berkualitas. Target Penanganan Asma, Simposium. Jakarta: YAI

Friedman, Marilyn M. 1998.Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. Jakarta: EGC Heriyanti, Endang Taat Uji. 2001.Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Kepatuhan Penderita Diabetes Mellitus Type II Rawat Jalan dalam Menjalani

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.

Hudoyo, A. 2008. Info Asma Media Informasi dan Edukasi, Ed. 7. Jakarta: Yayasan Asma Indonesia.

Lemon-Burke. 2000.Medical Surgical Nursing. New Jersey: Mosby Company. Mangunnegoro, Hadiarto, dkk. 2004. Asma: Pedoman Diagnosis Dan

Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Mansjoer, A, dkk (editor). 1999. Kapita Selekta Kedokteran Ed.3. Jakarta: Media

Aesculapius

Maulana, Heri D. J. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC, http://books.google.co.id/books?id=sDKnWExH6tQC&printsec=frontcover& dq=promosi+kesehatan&cd=2#v=onepage&q&f=false, diperoleh tanggal 26 Maret 2010.

Niven, Neil. 2000. Psikologi Kesehatan: Pengantar untuk Perawat & Professional Kesehatan Lain, Ed. 2. Alih Bahasa: Agung Waluyo. Jakarta: EGC

Noorkasiani, dkk. 2007.Sosiologi Keperawatan. Jakarta. EGC

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.Prinsip-Prinsi Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2005.Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba medika, http://books.google.co.id/books?id=OPyf0ArEccMC&pg=PT24&dq

=motivasi+adalah&hl=id&ei=ldTgTO3pOIKougPwoKGzDg&sa=X&oi=boo k_result&ct=result&resnum=8&ved=0CEoQ6AEwBw#v=onepage&q=motiv asi%20adalah&f=false, diperoleh tanggal 15 Nopember 2010.

Potter & Perry. 1989.Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (2th Ed). St. Louis. Baltimore. Toronto: Mosby Company.

Pradono, J, dkk. 2005. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004 Volume 3. Jakarta: Depkes RI

Pratiwi, Dahlia Annisa. 2003. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Latihan Fisik Penderita Diabetes Mellitus Type II Rawat Jalan di RSPAD Gatot

Soebroto Jakarta.Skripsi. Depok: FKM UI.

Rogayah. 1999. Pengaruh Penyuluhan dan Senam Asma Indonesia Terhadap Pengetahuan, Sikap, Perilaku dan Gejala Klinik Pasien Asma, Jurnal Respir Ind, 116– 124.

Rubenstein, David dkk. 2003.Lecture Notes: Kedokteran Klinis Ed. VI. Alih bahasa: Annisa Rahmalia. Jakarta: Erlangga Medical Series.

Sahat, C. 2008. Pengaruh Senam Asma terhadap peningkatan Kekuatan Otot Pernapasan dan Fungsi Paru Pasien Asma di Perkumpulan Senam Asma RSU

Tangerang. Tesis. Jakarta. FIK UI.

Setiadi. 2007.Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Setiawan, S dan Agus C. D. 2008.Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga.

Smeltzer, Suzenne C. 2001. Buku Ajar Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Vol.1 Ed.8. Jakarta: EGC.

Smet, Bart. 1994.Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Grasindo.

Sudarma, Momon. 2008.Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. Sudoyo, A.W, dkk (Editor). 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Ed. IV.

Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Sunaryo. 2004.Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Sundaru, Heru. 2007. Kontrol Asma Sebagai Tujuan Pengobatan Asma Masa Kini, http://staff.ui.ac.id/internal/140053451/publikasi/PidatopengukuhanProfHeru Ringkasan.pdf, diperoleh tanggal 22 April 2010.

Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC.

Supriyantoro. 2004.Asma dan Kehidupan Sehari - Hari. Jakarta: YAI

Warsono. 2000. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Menjalai Pengobatan Penderita Diabetes Mellitus Type II Rawat Jalan di RSUP Dr.

Cipto Mangunkusumo Jakarta.Skripsi. Depok: FKM UI.

Yayasan Asma Indonesia. 2008.Senam Asma Indonesia, Info Asma Media Informasi dan Edukasi, Ed. 8. Jakarta: YAI

Yunus, Faisal. 1999. Profil Penderita Asma yang Mengikuti Senam Asma Indonesia di Klub Asma Cabang Surakarta Tahun 1998, Kongres Nasional VIII PDPI. Malang.

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

PASIEN ASMA DALAM MELAKUKAN SENAM ASMA INDONESIA DI RS PERSAHABATAN TAHUN 2010

Assalamualaikum. Wr. Wb Salam sejahtera.

Nama : Muh. Ibnu Firdaus

NIM : 106104003491

Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan sedang melaksanakan penelitian untuk penulisan skripsi sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Keperawatan (S.Kep).

Dalam lampiran ini terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian. Untuk itu saya harap dengan segala kerendahan hati agar kiranya bapak / ibu bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner yang telah disediakan. Kerahasiaan jawaban bapak/ibu akan dijaga dan hanya diketahui oleh peneliti.

Kuesioner ini saya harap diisi dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang dipertanyakan. Sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran yang baik untuk penelitian ini.

Saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasi bapak/ibu dalam pengisian kuesioner ini.

Apakah bapak/ibu bersedia menjadi responden?

YA / TIDAK Tertanda

Nomor Responden

LEMBAR KUESIONER

Petunjuk Pengisian:

1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap item pertanyaan 2. Pertanyaan di bawah ini mohon diisi semuanya

3. Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling sesuai dengan kondisi yang dialami dengan memberikan tanda cek list (√ )

4. Isilah titik yang tersedia dengan jawaban yang benar

A. Karakteristik Responden

1. Nama Inisial : ……….

2. Jenis Kelamin : a. Laki– Laki b. Perempuan

B. Pengetahuan

No. Pernyataan Benar Salah

1 Asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan

Dokumen terkait