• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.8 Remaja dan Perilaku Remaja

2.8.1 Perilaku Remaja

Setiap manusia memiliki perilaku. Perilaku merupakan cermin dari diri manusia itu sendiri. Perilaku timbul dari motif yang ada di dalam manusia. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu. Setiap individu pasti memiliki motif yang berbeda-beda dalam melakukan sesuatu. Perbedaan motif ini juga berlaku dalam perilaku penggunaan media. Berbedanya motif seseorang dalam menggunakan media menimbulkan

perbedaan pula dalam tingkat kepuasan yang didapat individu dalam menggunakan media. Semakin sesuai pesan komunikasi dengan motivasi semakin besar pula kemungkinan komunikasi tersebut dapat diterima dengan baik oleh komunikan (Ardianto, 2004:81).

Perilaku adalah aktivitas individu, perilaku yang ada pada diri individu itu tidak timbul dengan sendirinya tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh lingkungan baik internal maupun eksternal. Perilaku, lingkungan dan individu saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Perilaku sebagai manifestasi yang didorong oleh adalanya motif tertentu hingga manusia berlaku dan berbuat (Walgito, 11:2003).

Seseorang dapat bertingkah laku dan seseorang dapat termotivasi untuk bertingkah laku. Para individu bertindak karena adanya sejumlah kekuatan yang mendorong yang ada dalam diri mereka sendiri, yang diwakili oleh istilah-istilah misalnya (Winardi, 2001:6)

1) Keinginan-keinginan (wants) 2) Kebutuhan-kebutuhan (needs) 3) Perasaan takut (fears)

Ada orang yang menginginkan lebih banyak kekuasaan, adapula orang yang menginginkan ekspresi diri, sedangkan orang ketiga mungkin takut dikucilkan oleh masyarakat (social ostracism), atau kehilangan kedudukan yang mapan. Terlepas dari kebutuhan atau perasaan takut yang dirasakan, dibelakang setiap tindakan manusia yang dilaksanakan dengan tujuan tertentu senantiasa terdapat keinginan tertentu (some desire), baik yang disadari maupun yang tidak disadari yang menyebabkan orang yang bersangkutan bertindak atau melakukan sesuatu tindakan (Winardi, 2001:7)

Keinginan dan kebutuhan masing-masing individu berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat, sehingga motif juga berbeda-beda. Motif seseorang bisa bersifat tunggal bisa juga bergabung. Misalnya, motif seseorang menggunakan smartphone berbeda-beda, ada untuk memperoleh informasi (motif tunggal), tapi mungkin bagi seseorang lainnya adalah untuk memperoleh informasi, sekaligus juga sebagai pengisi waktu luang (motif bergabung). Bagi seseorang yang khusus menyediakan waktu untuk bermain game di aplikasi smartphone akan memiliki motif yang berbeda dengan seorang lainnya yang membaca informasi pada aplikasi smartphone atau membalas pesan di ruang tunggu dokter.

Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skinner disebut “S-O-R’’ atau Stimulus-Organisme-Respon. Berdasarkan teori “S–O–R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Perilaku tertutup (covert behavior) Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobservable behavior” atau “covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.

b. Perilaku terbuka (overt behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bilda respon terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan, atau praktek ini dapat diamati orang lain dari luar atau “observable behavior” (Notoatmodjo, 2003).

Peneliti mencoba menyimpulkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh interaksi, faktor lingkungan dan karakter individu itu sendiri. Sikap dan perilaku seperti dua mata uang yang saling mempengaruhi, yakni perilaku remaja juga mengalami masa sulit karena adanya perubahan emosional maupun fisik. Perilaku remaja biasanya dilihat sebagai tahap yang sulit, apalagi beranjak remaja orangtua menemukan masa sulit untuk menerima kenyataan bahwa anak kecil mereka yang berpegang kepada mereka untuk setiap kebutuhan kecil, tiba-tiba berkeinginan untuk sendirian atau dengan teman-temannya. Namun, pada fase remaja, mereka juga tidak menyadari adalah bahwa mereka juga melewati tahap yang sulit. Mereka mencoba untuk menghadapi perubahan emosional dan moral fisik yang terjadi kepada mereka dan sudah mulai mengamati dunia dengan cara yang sama sekali berbeda. Ini juga merupakan hal yang membingungkan bagi remaja dimana pada saat-saat mereka diperlakukan seperti orang dewasa, sementara pada saat berikutnya seperti anak kecil oleh orang tua mereka.

Perilaku manusia merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar. Disamping perilaku manusia dapat dikendalikan atau terkendali, yang berarti bahwa perilaku itu dapat diatur oleh individu yang bersangkutan, perilaku manusia juga merupakan perilaku yang terintegrasi, yang berarti bahwa

keseluruhan keadaan individu atau manusia itu terlibat dalam perilaku yang bersangkutan bukan bagian demi bagian.

Menurut Walgito (2003:18) pembentukan perilaku ada tiga cara yakni:

1. Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan. Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuk perilaku tersebut. Cara ini didasarkan atas teori belajar kondisioning baik

2. Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight) pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau insight. Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian.

3. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Kalau orang bicara bahwa orang tua sebagai contoh anak- anaknya, pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. ini didasarkan atas teori belajar sosial (Social Learning Theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura, (1977).

Perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi, perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri. Oleh karena itu, perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal sendiri, seperti berpikir,

persepsi, dan emosi, juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik yang tidak diamati secara langsung atau pun yang dapat diamati secara tidak langsung (Notoatmodjo, 2003).

a. Responden respon atau reflexive, ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. Respondent respon (respondent behavior) juga mencakup perilaku emosional.

b. Operant response atau instrumental respons, adalah respon yang timbul dan berkembangnya kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena berfungsi memperkuat respon (Notoatmodjo, 2003).

Di dalam kehidupan sehari-hari, respon jenis pertama (respondent response atau respondent behavior) sangat terbatas keberadaannya pada manusia. Hal ini disebabkan karena hubungan yang pasti antara stimulus dan respon memiliki kemungkinan untuk memodifikasikannya sangat kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar dari perilaku manusia, dan kemungkinan untuk memodifikasikannya sangat besar, bahkan dapat dikatakan tidak terbatas (Notoatmodjo, 2003).

Perilaku manusia terjadi melalui suatu proses yang berurutan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu:

1) Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari atau mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

2) Interest (tertarik), yaitu orang mulai tertarik kepada stimulus.

3) Evaluation (menimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4) Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

5) Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Kebanyakan orang mengasosiasikan remaja dengan pemberontak, hal ini bukan gejala umum dari remaja. Tidak semua remaja menjadi pemberontak, tetapi mungkin menunjukkan tanda-tanda tertentu ketika orang tua mereka menolak apa yang mereka inginkan. Namun, salah satu hal yang paling umum yang terlihat di semua remaja adalah kebutuhan untuk merasakan kebebasan. Mereka melihat pertanyaan-pertanyaan orang tua tentang apa yang mereka lakukan, kemana mereka akan pergi, bertanya tentang teman-teman, dan lainnya merupakan halangan dan privasi mereka.

Remaja akan siap untuk melakukan apa saja hanya untuk menyenangkan teman-teman mereka dan menjadi bagian dari kelompok. Ini adalah beberapa perubahan perilaku yang terlihat pada masa remaja dan dapat ditangani dengan dukungan yang tepat dari orang tua mereka. Menurut Rest (Dariyo, 64:2004) menyatakan pendapat tentang perilaku remaja, yaitu :

1) Sensitifitas adalah kemampuan untuk menginterpretasikan dan menyadari akibat-akibat perilaku terhadap orang lain. Kemampuan ini berasal dari pertimbangan pemikiran maupun perasaan.

2) Keputusan adalah kemampuan untuk memutuskan suatu tindakan benar atau salah. Dalam diri individu memiliki kesadaran, dengan berbagai pertimbangan pemikiran serta nilai etika akhirnya diterima oleh semua pihak.

3) Motivasi adalah kemampuan individu untuk melakukan tindakan di atas standart nilai-nilai diri sendiri. Individu bertindak atas pertimbangan hati nurani, nilai kesadaran hingga individu berani bertindak. Motivasi ini tak tergoyahkan, walaupun menghadapi hambatan dan tantangan dari banyak orang.

4) Karakter adalah sifat yang tumbuh dan berkembang dalam diri individu, hingga dengan keberanian dapat melakukan tindakan yang sesuai nilai. Ia akan berupaya mematuhi walaupun dianggap akan merugikan diri sendiri.

Hanya orang yang memiliki kepribadian dewasa yang dimungkinkan memiliki integritas dengan kadar pertimbangan pemikiran, nilai estetika dan spiritual yang baik akan dapat melakukan tindakan yang baik pula. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (Notoatmodjo: 2003).

Perilaku hadir dan dibentuk dengan adanya kebiasaan, pengertian dan pembelajaran. Tiap perilaku didorong oleh adanya motif tertentu dan hal tersebut

tidak bisa terlepas dari lingkungan dan diri sendiri. Menurut Walgito (2003) perilaku hadir berdasarkan hal berikut, yaitu :

1) Insting, merupakan perilaku bawaan dan akan mengalami perubahan karena pengalaman, dan pengalaman tersebut disebabkan karena beberapa faktor yaitu lingkungan sekitarnya dan berilakunya.

2) Dorongan, berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendorong untuk berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya.

3) Insentif, mendorong untuk berbuat atau berperilaku, hal ini bisa negatif dan positif. jika positif maka akan berhubungan dengan hadiah, namun jika negatif maka akan berhubungan dengan hukuman dalam berperilaku.

4) Perilaku atribusi, dimana disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Perilaku ini mencari jalan untuk mengelabui orang lain, hingga apa yang ada didirinya tertutupi dan orang lain akan terkecoh.

5) Perilaku kognitif, memilih mana yang mesti dilakukan, maka yang bersangkutan akan memilih yang membawa manfaat baginya.

Perihal di atas merupakan perilaku-perilaku yang didorong oleh motif tertentu. Beberapa penyebab perilaku di atas merupakan salah satu alasan seseorang menggunakan smartphone . Namun pada penelitian ini, berfokus pada smartphone yang sama halnya memiliki jaringan internet, apalagi smartphone sangat diminati oleh para pelajar sekarang ini karena kemudahan mengakses, mengubah suasana hati, kontrol yang membuat pengguna smartphone menambah keinginan untuk berkutat dengan smartphone .

Berdasarkan hasil penelitian Richard Balding, psikolog di Department of Psychology University of Worcester, ponsel cerdas makin sering digunakan untuk membantu orang tetap bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan mereka. Namun makin sering menggunakannya, kita akan makin merasakan sedikit ketergantungan terhadap alat tersebut, dan sebenarnya malah menimbulkan stres. Mulai dari smartphone iPhone dan BlackBerry, hingga tablet Kindle dan iPad. (http://ictwatch.com/internetsehat).

Beberapa pengertian di atas menyatakan bahwa remaja begitu rentan dengan hal-hal yang baru, karena pada masa remaja merupakan masa dimana disebutkan sebagai masa peralihan dan pencarian jati diri, maka penelitian ini mencari motif para remaja dalam menggunakan smartphone . Namun jika tidak dibatasi dengan bijak, pararemaja akan mencadi kecanduan akan smartphone . Seperti yang diutarakan oleh Dr Kimberly Young dari Center for Internet Addiction Recovery yaitu orang yang mulai kecanduan internet merasa internet sangat mengasyikkan, lalu lama-kelamaan durasi berkutat di internet pun bertambah dan tak bisa mengontrol kebiasaannya. Kehidupan mereka pun mulai terganggu karena setiap ada waktu pasti dihabiskan untuk bermain internet (www.kesehatan.kompas.com).

Lain halnya dengan menurut Wayne Buente dan Alice Robbin (2008) lebih lanjut juga melakukan studi atau investigasi tentang trend aktivitas-aktivitas informasi internet warga Amerika antara Maret 2000 hingga Nopember 2004 dan telah berhasil mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas internet menjadi empat dimensi kepentingan penggunaan internet. Dimensi-dimensi ini adalah informasi (information utility), kesenangan (leisure/fun activities), komunikasi

(communication), dan transaksi (transaction). Menurut mereka dimensi-dimensi tersebut pantas mendapatkan perhatian yang lebih sebab merupakan penyebab dari kebanyakan kepentingan penggunaan internet. Klasifikasi dimensi–dimensi kepentingan penggunaan internet yang paling populer adalah sebagai berikut :

1) Informasi : Memperoleh informasi atau berita online

2) Kesenangan :Online untuk alasan yang tidak istimewa hanya untuk kesenangan atau untuk menghabiskan waktu.

3) Komunikasi : Mengirin atau menerima pesan, misalnya email

4) Transaksi : Membeli produk secara online, misalnya buku, musik, mainan atau pakaian.

Seperti yang dirangkum dalam situs www.simplypsychology.org oleh Edward Thorndike dengan Teori Behaviorisme adalah perilaku yang memiliki tingkat kesenangan akan di ulangi dan setiap perilaku yang tidak mendatangkan kesenangan maka cenderung akan dihentikan dan tidak diulangi lagi. Artinya seseorang tidak akan menggunakan sesuatu hal temasuk pada penelitian ini adalah smartphone bila smartphone tidak memberikan pemuasan pada kebutuhan seseorang.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Leung (2000) tentang penggunaan telepon seluler yaitu :

1) Status yang menandai penggunaan telepon seluler untuk mencari gaya, style dan sebagainya sebagai simbol status dinamakan fashion dan status.

2) Kasih sayang dan keramahan mencerminkan motivasi menggunakan telepon seluler sebagai alat untuk menunjukkan kasih sayang. Perasaan seperti lebih dekat dengan anggota keluarga, meningkatkan hubungan keluarga dan menjalankan tanggung jawab keluarga sementara di tempat kerja, peduli terhadap orang lain dan membuat diri selalu tersedia untuk anak-anak mereka melalui penggunaan telepon seluler.

3) Relaksasi, mencerminkan kesenangan menggunakan telepon seluler untuk berbicara, gosip, mengurangi kebosanan, bersantai dan membantu mengisi waktu. Tampaknya telepon seluler dianggap sebagai kesenangan baru.

4) Mobilitas, ditandai dengan penghapusan perlunya perubahan dan antri untuk telepon umum karena penggunaan telepon selular. Berarti menunjukkan mobilitas sebagai gratification kuat yang dicari dalam penggunaan telepon selular.

5) Yang dihasilkan, menunjukkan bahwa telepon seluler memungkinkan akses langsung oleh siapapun dimanapun anda berada untuk menyediakan akses segera kepada orang lain di mana saja dan kapan saja terlepas dari waktu dan lokasi, khususnya yang tersedia untuk anggota keluarga yang sakit misalnya. 6) Faktor perantara dalam melakukan transaksi bisnis dan dalam penggunaannya. 7) Kepastian yang mencerminkan rasa aman dan keselamatan dalam memiliki ponsel dalam keadaan darurat. Singkatnya temuan dalam penelitian mencakup faktor kepuasan-kepuasan seperti sosialisasi, relaksasi atau hiburan, perantaraan atau jaminan keselamatan.

Dari pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa dunia digital termasuk pengguna smartphone memberikan banyak informasi, kesenangan, kebutuhan

dengan mempermudah komunikasi dan transaksi namun interaksi yang terjadi di lingkungan terdekat justru memberikan jarak, tetapi akan berdampak positif jika pengguna sudah mulai cerdas dalam menggunakan dan memenuhi kebutuhan di dalam media smartphone . Hal tersebut juga mempengaruhi perubahan perilaku remaja itu sendiri.

Istilah perubahan berarti serangkaian perkembangan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Berbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri atau yang biasanya disebut “aktualisai-diri” adalah sangat penting.

Namun tujuan ini tidak pernah statis. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan suatu yang tepat untuk dilakukan, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikologis. Walaupun selalu terjadi perubahan-perubahan yang sifatnya fisik atau psikologis, banyak orang tidak sepenuhnya menyadari kecuali apabila perubahan-perubahan itu terjadi secara mendadak atau jelas mempengaruhi pola kehidupan mereka.

Perubahan-perubahan pada usia lanjut misalnya, biasanya terjadi jauh lebih lambat daripada perubahan-perubahan pada anak-anak atau remaja. Meskipun demikian, perubahan-perubahan itu tetap memerlukan penyesuaian-penyesuaian kembali dari pihak individu. Akan tetapi, bila individu-individu itu secara relatif dapat memperlambat penyesuaian-penyesuaian tersebut, mereka sendiri atau orang lain mungkin tidak menyadari perubahan-perubahan itu. (Hurlock, 1997:2-4).

Perubahan dalam sikap dan perilaku yang terjadi pada saat ini merupakan akibat dari perubahan sosial daripada akibat perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh. Semakin sedikit simpati dan perhatian yang diterima anak dari orang tua, kakak-adik,guru-guru, dan teman-teman dan semakin besar harapan-harapan sosial pada periode ini maka semakin besar akibat psikologis dari perubahan-perubahan fisik. Seberapa serius perubahan masa puber akan mempengaruhi perilaku sebagian besar bergantung pada kemampuan dan kemauan anak untuk mengungkapkan keprihatinan dan kecamasannya kepada orang lain sehingga dengan begitu ia dapat memperoleh pandangan yang baru dan yang lebih baik. Seperti dijelaskan oleh Dunbar, reaksi efektif, terhadap perubahan terutama ditentukan oleh kemauan untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah cara untuk mengatasi kecemasan yang selalu disertai tekanan. Anak yang merasa sulit atau tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain lebih banyak berperilaku negatif daripada anak yang mampu dan mau berkomuniasi. Akibat psikologis juga timbul karena kebingungan yang berasal dari harapan sosial orang tua, guru, dan orang lain. Anak laki-laki dan perempuan diharapkan berbuat sesuai dengan standar yang pantas untuk usia mereka. Hal ini mereka anggap relatif mudah kalau pola perilaku mereka terletak pada tingkat perkembangan yang sesuai.

Dokumen terkait