• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN INDUSTRI PAKAIAN JADI DI INDONESIA

4.2. Periode Pada Industri Pakaian Jadi

Selama tahun 1985 hingga tahun 1990, industri pakaian jadi juga berkembang sangat pesat, terutama akibat berdirinya perusahaan-perusahaan baru dengan kapasitas besar. Sebagian dari perusahaan-perusahaan tersebut didirikan oleh investor asing asal beberapa negara Asia seperti Taiwan, Korea Selatan, Hongkong dan Jepang yang merelokasi pabrik pakaian jadinya ke Indonesia, baik secara sendiri ataupun bekerjasama dengan mitra lokal. Banyak investor merelokasikan industrinya karena di negara mereka industri tersebut tidak lagi memiliki keunggulan komparatif disebabkan oleh mahalnya biaya tenaga kerja. Berdasarkan nilai, 70 persen investasi pada industri pakaian jadi di Indonesia adalah PMA, sedangkan PMDN hanya 30 persen. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara sasaran relokasi industri pakaian jadi yang menarik.

53

Pada tahun 1989 jumlah industri pakaian jadi di Indonesia adalah 513 perusahaan dengan kapasitas 71,7 juta lusin per tahun. Dari segi lokasi sebagian besar terletak di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Di kedua daerah tersebut masing-masing terdapat 277 perusahaan dengan kapasitas 33,0 juta lusin dan 120 perusahaan dengan kapasitas 25,5 juta lusin. Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pada tahun 1991 jumlah perusahaan pakaian jadi yang tergabung dalam asosiasi adalah 194 perusahaan dengan jumlah mesin 162.600 unit. Dengan asumsi satu unit mesin menghasilkan 2,80 lusin per hari, maka kapasitas seluruhnya adalah 136,6 juta lusin per tahun.

Walaupun pertumbuhan industri pakaian jadi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat akan tetapi perkembangan ekspor pada industri ini terhambat oleh adanya sistem kuota. Sementara ekspor ke negara non kuota menghadapi kendala antara lain tidak terjaminnya stabilitas permintaan dan kecilnya margin yang diperoleh dibanding non dengan ekspor kuota. Meskipun demikian, ekspor ke negara non kuota tetap perlu digalakkan.

Neraca perdagangan TPT Indonesia sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1985 menunjukkan defisit, namun mulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1990 menunjukkan surplus. Nilai surplus untuk tahun 1990 adalah US$ 125 Juta. Apabila dilihat per sub sektor, sumbangan devisa terbesar adalah dari ekspor tekstil yang meliputi benang dan kain serta pakaian jadi. Rata-rata pertumbuhan volume ekspor pakaian jadi sejak tahun 1983 sampai dengan 1990 adalah sebesar 27,75 persen per tahun. Peningkatan yang pesat terjadi pada tahun 1985 sampai dengan tahun 1986 yaitu mencapai pertumbuhan 59,03 persen sedangkan pada

tahun 1986 sampai dengan tahun 1987 mengalami penurunan sebesar -3,87 persen (Bank Bumi Daya, 1992).

4.2.2. Periode Krisis

Berdasarkan Tabel 4.1, perkembangan industri pakaian jadi mulai dari sebelum krisis di tahun 1995 hingga periode krisis bahkan pasca krisis, terus mengalami peningkatan jika didasarkan pada kapasitas dan produksinya. Pada tahun 1995 kapasitas produksi sebesar 441.168 ton meningkat terus bahkan dimasa krisis sekalipun, menjadi 572.026 ton di tahun 1999. Peningkatan kapasitas terpasang diikuti dengan peningkatan jumlah produksi dari 402.460 ton di tahun 1995 menjadi 543.150 ton di tahun 1999. peningkatan realisasi produksi tersebut meningkatkan utilisasi pada tahun 1995 hingga tahun 1999 dari 91 persen menjadi 95 persen.

Tabel 4.1. Utilisasi Produksi Industri Pakaian Jadi

Tahun Kapasitas (Ton) Produksi (Ton) Utilisasi (%)

1995 441.168 402.460 91 1996 469.000 427.740 91 1997 486.062 460.365 95 1998 564.900 535.034 95 1999 572.026 543.150 95 2000 573.502 554.436 97 2001 584.972 565.524 97 2002 591.231 462.343 78 2003 590.322 461.632 78 2004 666.748 516.987 78

Sumber: Departemen Perindustrian dan API, 2005

Selama periode krisis yang terjadi di Indonesia, untuk daerah jawa tengah setidaknya hampir 50 persen tenaga kerja di industri pakaian jadi tidak bisa

55

bekerja penuh, meskipun mereka tidak sampai mengalami PHK. Bahkan tingkat produksi yang diperoleh hanya tinggal 60 persen dari normal. Hal tersebut juga dikarenakan seluruh produksi adalah untuk konsumsi ekspor, sehingga masih bisa mempertahankan sekitar 300 pekerja.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh para produsen tersebut adalah dengan mengantisipasi pasar, misalnya dengan mencari pembeli baru dan tidak hanya berharap pada pelanggan tradisional. Selain itu, hal yang lain yang perlu dilakukan adalah melakukan diversifikasi usaha meskipun masih dalam satu bidang usaha. Sebagai contoh, seperti yang dilakukan oleh batik tobal, selain berusaha meningkatkan produksi pakaian jadi, sejak awal dilakukan diversifikasi dengan memproduksi sarung palekat. Upaya ini dilakukan sebagai cara untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja.

Sedangkan pada industri pakaian jadi untuk konsumsi domestik yang sangat tergantung pada produksi tekstil dalam negeri, mengalami penurunan sekitar 40 persen dari rata-rata produksi 600 potong seminggu. Penurunan ini bahkan belum pulih benar pasca krisis moneter. Apalagi pengaruh kenaikan nilai Rupiah tidak banyak berarti bagi kebutuhan bahan baku tekstil.

Industri pakaian jadi sebagai salah satu sub sektor dari industri TPT, berperan penting dalam menyerap tenaga kerja dan ekspor non-migas. Sumbangan industri pakaian jadi beserta tekstil dan sepatu dalam konfigurasi ekspor non migas dari industri padat karya (Unskilled Labour Intensive Industry/ULI) mencapai 86 persen, dengan nilai ekspor hampir US$ 8 Miliar. Namun, ekspor komoditas pakaian jadi di ikuti tekstil dan sepatu terus-menerus mengalami

penurunan sejak tahun 1994. Dilihat dari nilai ekspor memang mengalami kenaikan, tetapi pangsanya terhadap total ekspor ULI cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Ada beberapa faktor yang dituding sebagai penyebab utama menurunnya ekspor non migas. Pertama, menurunnya permintaan di negara-negara tujuan ekspor nonmigas dari Indonesia, yang bersamaan dengan faktor struktural terutama meningkatnya persaingan dan menurunnya produktivitas. Kedua, menurunnya ekspor ULI disebabkan banyaknya perusahaan yang menutup usahanya akibat krisis ekonomi maupun kalah bersaing dengan negara-negara pengekspor produk yang sama (Kuncoro, 2006).

4.2.3. Periode Pasca Krisis

Pada periode ini industri pakaian jadi atau garmen memiliki nilai ekspor yang jauh lebih tinggi daripada nilai ekspor industri-industri lain yang tergabung dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia (Gambar 4.1). Nilai ekspor dari industri pakaian jadi ditahun 2001 sebesar US$ 4.344 Juta meskipun kemudian mengalami sedikit penurunan ditahun-tahun berikutnya, akan tetapi nilai dari industri-industri lainnya yang tergabung pada industri TPT ini tidak ada yang mencapai US$ 4 Juta. Hal ini mengindikasikan bahwa produk pakaian jadi memiliki kualitas yang cukup tinggi.

57

Sumber: API, 2005 Keterangan :

Tanda (*) menunjukkan data Januari-Juni

Gambar 4.1. Nilai Ekspor Industri yang Terdapat Pada Industri TPT Nasional

Namun di sisi lain, terdapat permasalahan yang sedang dihadapi oleh industri pakaian jadi nasional sebagai bagian dari industri TPT di Indonesia. Masalah mengenai penyelundupan saat ini dirasakan sangat merugikan industri pakaian jadi bahkan bagi industri TPT nasional. Akibat penyelundupan tersebut, banyak produk-produk pakaian jadi dari Cina yang memenuhi pasar dalam negeri, sehingga hal ini merugikan para produsen pakaian jadi dalam negeri.

Menurut data dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia, impor ilegal pakaian jadi dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 terus meningkat sebesar 281 persen dari segi volume dan 136 persen dari segi nilai barang. Disamping itu bila diperhatikan antara volume impor dengan nilai impor dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 pada kenyataannya indikasi barang-barang yang diimpor merupakan kualitas rendah. Oleh karena itu, apabila tidak ada perlindungan dari pemerintah maka dapat dipastikan setengah dari jumlah pengusaha pakaian jadi

0 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 2001 2002 2003 2004 2004 *) 2005 *) Thous a nds

menengah-kecil akan gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan produk-produk dari Cina.

Tabel 4.2. Ekspor dan Impor Industri Pakaian Jadi

Tahun Unit Ekspor Impor Balance

Kg 339.627.367 7.878.191 331.749.176 1999 US$ 3.735.067.318 17.372.097 3.717.695.221 Kg 364.859.727 13.257.786 351.601.941 2000 US$ 4.561.846.704 25.458.645 4.536.388.059 Kg 317.514.266 11.946.656 305.567.610 2001 US$ 4.000.200.682 17.561.012 3.982.639.670 Kg 379.905.979 11.647.343 368.258.636 2002 US$ 3.805.458.457 27.635.883 3.777.822.574 Kg 314.613.600 3.623.365 310.990.235 2003 US$ 3.671.586.223 14.981.378 3.656.604.845 Kg 305.674.310 3.205.819 302.468.491 2004 US$ 4.037.110.492 27.708.497 4.009.401.995 Sumber: API, 2005

Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menunjukkan total pertumbuhan impor pakaian jadi dari Cina yang tercatat resmi, belum yang termasuk ilegal, dalam lima tahun terakhir tahun 2004 mencapai 380 persen. Akan tetapi sampai saat ini pakian jadi, termasuk industri TPT, masih menjadi sektor ekspor non migas yang terbesar dan tempat paling fleksibel untuk menampung luapan tenaga kerja. Berdasarkan pada tabel 4.2 mengenai ekspor dan impor pada industri pakaian jadi, dapat diketahui bahwa kinerja ekspor terus meningkat dari US$ 3,7 Miliar di tahun 1999 mengalami peningkatan terus hingga tahun 2001 sebesar US$ 4 Miliar. Akan tetapi penurunan sedikit terjadi pada tahun 2002 dan 2003 menjadi US$ 3,8 Miliar dan US$ 3,6 Miliar. Kemudian mengalami peningkatan kembali pada tahun 2004 menjadi US$ 4 Miliar.

59

Dokumen terkait