BAB IV : HAMBATAN DAN UPAYA DALAM PENERAPAN GOOD
A. Instrumen Hukum Pidana dan Penggunaannya Dalam Konflik
3. Periode Pasca Reformasi
Periode terakhir adalah periode dimana perusahaan terus melakukan peningkatan produksi, penjajagan pencarian investor baru, serta perpanjangan HGU dan perluasan lahan. Pada periode ini, aksi-aksi menuntut pengembalian lahan oleh penduduk semakin membesar, terutama sejalan dengan gelombang reformasi setelah kejatuhan Rezim Orde Baru, Soeharto pada bulan Mei 1998. Dalam beberapa kasus, para petani melakukan aksi reclaiming atas kebun-kebun perusahaan karena proses penyelesaian kasus sengketa mereka berjalan lambat. Pada periode inilah biasanya penangkapan dan kriminalisasi terhadap petani/masyarakat terjadi. Padahal upaya-upaya yang dilakukan masyarakat/petani ini merupakan bentuk ekspresi dalam upayanya mempertahankan hak dan salah satu bentuk komunikasi masyarakat (adat) dalam mencoba mengkomunikasikan hak mereka yang dinilainya telah dirampas oleh negara yang berkelindan dengan kelompok kapitalis.212
Terlebih kepercayaan petani akan jaminan subsistensi mulai menurun dan petani tidak mempunyai pilihan lain kecuali melawan. Keadaan inilah yang memicu timbulnya protes dan kekerasan sebagai manifestasi dari ketidakpuasan petani akibat hubungan eksploitatif yang dirasakan tidak adil.213 Sementara perusahaan perkebunan menilai apa yang dilakukan masyarakat/petani merupakan suatu tindakan yang
212 Keterangan Ahli, Hermansyah berkenaan dengan Permohonan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 26 Mei 2011.
213 Sichmen Pandiangan, “Bentuk-bentuk Perlawanan Petani terhadap Negara”, Jurnal Pemberdayaan Komunitas,Volume 5 No. 3, hlm. 302-323.
merugikan perusahaan dan “berakibat pada kerusakan kebun dan/atau aset lainnya, penggunaan lahan perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya usaha perkebunan”.214
Kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani/masyarakat merupakan “buah”
dari konflik lama yang berulang-ulang dan tidak terselesaikan. Penangkapan dan pemenjaraan yang konsisten tiap tahunnya dilakukan oleh kepolisian terhadap petani/masyarakat yang melakukan perlawanan terhadap pihak perusahaan perkebunan merupakan salah satu strategi perusahaan dalam menaklukan perjuangan masyarakat/petani.215
Dalam hal ratusan konflik yang terjadi, dengan berbagai pelanggaran baik yang dilakukan perusahaan maupun petani ataupun masyarakat, proses pidana hanya dilakukan terhadap petani ataupun masyarakat. Sementara pihak perusahaan (ataupun staf perusahaan perkebunan) sedikit sekali atau kalau boleh dikatakan tidak pernah diajukan sebagai pihak yang terkena instrumen pidana ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa selain telah terjadi kedekatan yang sulit dibantah mengenai keterlibatan dan
214 Persoalan ini yang kemudian direspon dan ditindaklanjuti Pemerintah dan DPR dengan memasukkannya sebagai salah satu perbuatan yang dilarang. Rasionalitas dari “dilarangnya” perbuatan ini adalah murni kepentingan negara yang berkelindan kepentingan perusahaan. Penetapan sebagai perbuatan yang dilarang ini disebut sebagai Mala in Prohibita, yaitu penetapan perbuatan pidana dengan dasar kepentingan negara untuk mengatur bagaimana warganegaranya harus berperilaku dengan menetapkan sebuah perilaku melalui hukum pidana. Dalam konteks inilah berbagai macam pertimbangan, seperti pertimbangan ekonomi, politik, dan lain sebagainya masuk dalam hukum pidana.
215 Lengkapnya lihat dalam “Karang Mendapo Melawan Ketidakadilan”, Elsam-Pilnet-Sawit Watch, 2012; Pelanggaran hak asasi manusia di kawasan perkebunan kelapa sawit PT PP Lonsum Tbk-Sumatera Utara, Kertas Posisi No.1/2010, ELSAM; Pledooi (Nota Pembelaan) Penasehat Hukum Terdakwa Japin Anak Linjar & Vitalis Andi, S.Pd Anak Atai : Masyarakat Adat Menggugat Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Ketidakadilan, Dalam Perkara Pidana Nomor: 151/Pid.B/2010/PN.KTP, 08 Februari 2011.
saling dukung aparat kepolisian dengan pihak perusahaan perkebunan,216 juga merupakan strategi dari perusahan untuk selalu menggunakan aparat kepolisian setempat dalam proses penyelesaian kasus. Dalam banyak kasus, jika terjadi konflik terbuka antara petani dan perusahaan perkebunan, maka pihak-pihak yang berhadapan biasanya adalah polisi dengan para petani atau petani berhadapan dengan kelompok sipil yang dibayar oleh perusahaan perkebunan bersama-sama dengan polisi.217
Sebagian besar kasus-kasus yang terjadi dalam konflik perkebunan juga menunjukkan adanya pola yang konsiten dalam penerapan instrumen hukum pidana terhadap masyarakat/petani yang berkonflik dengan perusahaan perkebunan. Pertama, dalam beberapa kasus konflik perkebunan, penggunaan hukum pidana biasanya dilakukan pada saat-saat dimana proses penyelesaian secara damai antara dua belah pihak tidak terjadi. Walaupun pada umumnya bahwa penyelesaian yang dimaksud adalah selalu pihak masyarakat yang menderita kerugian.218
Kedua, dalam praktiknya masyarakat dan petani selalu sengaja dipancing untuk melakukan kekerasan atau paling tidak membalas dengan kekerasan. Metode pancingan ini biasanya kerap dilakukan oleh para preman atau sipil yang dipersenjatai oleh perusahaan (intimidasi atau teror) atau oleh perusahaan dengan berbagai cara,
216 Misalnya dalam penembakan petani Karang Mendapo, 15 Januari 2011; penggusuran dan kekerasan terhadap Suku Anak Dalam (SAD) dusun Sungai Beruang, Desa Tanjung Lebar, Kabupaten Muaro Jambi Pada tanggal 7-8 Agustus 2011, dan penembakan Petani Batang Kumu, Rokan Hulu, Riau, 2 Februari 2012.
217 Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji misalnya menemukan keterlibatan Pamswakarsa dalam kekerasan yang terjadi di Mesuji, Wawancara Denny Indrayana Soal Temuan Baru Mesuji, TEMPO.CO – Jumat, 20 Jan 2012.
218 Andi Muttaqien, dkk., Op.cit., hlm. 44.
misalnya dengan cara menghancurkan tanaman milik masyarakat, pembuatan pagar dan batas lahan yang sengaja memprovokasi masyarakat sekitar, pelarangan masuk ke areal perkebunan bagi pengembala atau pencari kayu bakar, dan lain sebagainya.
Masyarakat yang membalas atas peritiwa tersebut kemudian ditangkap dan dipidana.219 Ketiga, kriminalisasi selalu dilakukan sebagai shock therapy bagi masyarakat yang menyuarakan hak-hak-nya dan menentang perusahaan perkebunan. Tidak jarang ketika kelompok-kelompok tani, masyarakat yang mencari dukungan bagi pembebasan lahan perkebunan mereka sudah terkonsolidasi, maka ancaman kriminalisasi dilakukan oleh perusahaan perkebunan. Dengan melakukan penangkapan-penangkapan, konsolidasi petani bisa dilemahkan.220
Keempat, dalam proses awal penggunaan instrumen pidana. Pihak pelapor biasanya adalah wakil dari perusahaan perkebunan yang berkonflik dengan masyarakat, atau penangkapan di tempat, dalam hal terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat petani, baik di ruang publik atau di areal lahan sengketa. Sedangkan laporan-laporan dari petani atas perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh pihak peruahaan perkebunan atau oleh orang-orang sewaan perusahaan perkebunan justru jarang ditanggapi atau tidak ditindaklajuti oleh pihak kepolisian.221
219 Misalnya dalam kasus yang terjadi antara masyarakat desa Karang Mendapo, Sarolangun, Jambi dengan PT. Krisna Duta Agroindo (PT. KDA).
220 Misalnya dalam kasus Pargulaan. 11 orang pengurus Badan Perjuangan Masyarakat Pargulaan (BPMP) dikriminalisasi dan diajukan ke Pengadilan oleh PT. PP Lonsum. Demikian juga dengan pemimpin dan anggota Paguyuban Petani Aryo Blitar (PPAB) Desa Soso, Blitar yang diajukan ke Pengadilan karena dianggap mengganggu jalannya usaha perkebunan PT. Kismo Handayani.
221 Hal ini bisa dari kasus yang terjadi antara masyarakat desa Karang Mandapo, Sarolangun, Jambi dengan PT. KDA dan kasus masyarakat adat Jelai Kendawangan Ketapang melawan PT. Bangun Nusa Mandiri.
Sebelum tahun 2004 instumen hukum pidana yang paling sering dijadikan rujukan untuk mempidana petani dan masyarakat dalam konflik perkebunan adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun, setelah dilahirkannya Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, maka pasal-pasal pidana dalam undang-undang tersebut menjadi primadona baru bagi para perusahaan perkebunan dan Polisi untuk melakukan kriminalisasi terhadap petani atau masyarakat. Sebagian besar perlawanan petani/masyarakat memang dapat dilumpuhkan dengan menggunakan instrumen pidana yang terdapat dalam UU Perkebunan ini.222
B. Hambatan Penerapan Good Corporate Governance (GCG) di Bidang