• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. ANALISIS PERUBAHAN EKSPOR TPT INDONESIA

5.1. Perubahan Nilai Ekspor TPT Negara Produsen

5.1.4. Periode Tahun 2001-2004

Dekomposisi perubahan nilai ekspor TPT tahun 2001-2004 untuk negara- negara pengekspor TPT ditampilkan pada Tabel 12. Hasil dekomposisi tahap pertama dari metode CMS menunjukkan bahwa penurunan ekspor TPT Indonesia banyak disebabkan oleh kontribusi efek struktural. Penurunan ekspor TPT Indonesia tersebut juga dikarenakan penurunan produksi tekstil sebesar 14 persen dan juga produksi garmen sebesar 8 persen selama tahun 2001 sampai 2004. Keadaan ini dipicu antara lain karena harga garmen yang cenderung menurun hingga 12.67 persen per tahun.

Tabel 12. Dekomposisi CMS Perubahan Nilai Ekspor Negara Produsen TPT di Pasar USA dan Jerman Tahun 2001-2004

Indonesia India Komponen

Nilai (ribu USD) (%) Nilai (ribu USD) (%) Perubahan Ekspor -36 398.63 100.00 2 763 387.36 104.75 A. Tahap Pertama 1. Struktural 1 742 717.69 4787.87 2 413 484.97 91.48 2. Kompetitif -1 361 070.74 -3739.35 304 765.58 11.55 3. Ordo Kedua -418 045.58 -1148.52 45 136.81 1.71 B. Tahap Kedua 1. a. Efek Pertumbuhan 1 855 957.77 5098.98 2 364 097.12 89.61 b. Efek Distribusi Pasar -110 179.61 -302.70 61 697.85 2.34 c. Efek Komposisi Komoditas -83 683.30 -229.91 32 268.34 1.22 d. Efek Interaksi Struktural 80 622.84 221.50 -44 578.34 -1.69 2. a. Efek Kompetitif Umum -1 506 787.90 -4139.68 317 934.67 12.05 b. Efek Kompetitif Khusus 145 717.17 400.34 -13 169.08 -0.50 3. a. Ordo Kedua Murni 1 361 070.74 3739.35 -304 765.58 -11.55 b. Struktural Residual Dinamis -1 779 116.32 -4887.87 349 902.39 13.26

China Italia Komponen

Nilai (ribu USD) (%) Nilai (ribu USD) (%) Perubahan Ekspor 38 262 627.73 100.00 6 042 299.39 100.00 A. Tahap Pertama 0.00 1. Struktural 14 283 975.76 37.33 6 461 442.74 106.94 2. Kompetitif 18 811 818.36 49.16 -385 994.39 -6.39 3. Ordo Kedua 5 166 833.61 13.50 -33 148.96 -0.55 B. Tahap Kedua 1. a. Efek Pertumbuhan 12 675 783.89 33.13 6 117 288.89 101.24 b. Efek Distribusi Pasar 1 462 073.03 3.82 375 624.49 6.22 c. Efek Komposisi Komoditas 832 046.59 2.17 72 671.04 1.20 d. Efek Interaksi Struktural -685 927.75 -1.79 -104 141.67 -1.72 2. a. Efek Kompetitif Umum 20 373 512.60 53.25 -59 710.35 -0.99 b. Efek Kompetitif Khusus -1 561 694.23 -4.08 -326 284.04 -5.40 3. a. Ordo Kedua Murni -18 811 818.36 -49.16 385 994.39 6.39 b. Struktural Residual Dinamis 23 978 651.97 62.67 -419 143.36 -6.94 Sumber: COMTRADE (diolah), 2006.

Dekomposisi tahap kedua menunjukkan bahwa kontribusi negatif efek struktural terhadap penurunan ekspor Indonesia terutama karena kontribusi efek pertumbuhan sebesar 5 098.98 persen. Peningkatan ekspor TPT India, China, dan Italia selama tahun 2001 sampai 2004 dapat dikaitkan dengan peningkatan impor TPT dunia, yaitu sebesar 23.72 persen untuk tekstil dan 26.64 persen untuk garmen.

Efek distribusi pasar TPT berkontribusi negatif berkontribusi negatif untuk Indonesia. Dengan kata lain Indonesia tidak mengonsentrasikan ekspornya ke

92

pasar yang tumbuh relatif cepat, baik di pasar Amerika maupun Jerman. Tekstil dan garmen China kembali mendominasi pasar Amerika, masing-masing sebesar 18.19 persen dan 16.49 persen. Sedangkan di pasar Jerman, tekstil dan garmen China bersaing dengan Italia. Adapun pangsa pasar tekstil dan garmen Italia di pasar tujuan Jerman, masing-masing sebesar 17.60 persen dan 7.47 persen. India dan Indonesia tidak menunjukkan perbedaan pangsa pasar yang terlalu jauh. Tekstil dan garmen India di pasar Amerika Serikat, masing-masing sebesar 6.10 persen dan 3.23 persen. Tidak jauh berbeda untuk di pasar Jerman, masing-masing sebesar 2.46 persen dan 2.93 persen. Komoditas garmen Indonesia, baik di pasar Amerika Serikat maupun di Jerman, masing-masing sebesar 3.62 persen dan 2.45 persen. Pangsa pasar tekstil Indonesia di pasar Amerika sebesar 1.03 persen dan di pasar Jerman sebesar 0.51 persen. Meskipun efek distribusi pasar India adalah positif, namun mempunyai nilai efek distribusi pasar yang lebih rendah dibandingkan dengan China dan Italia. Keadaan ini tidak terlepas dari sangsi ekonomi yang ditetapkan Uni Eropa terhadap komoditas TPT India. Pada tahun 2001, sangsi ekonomi berupa tuduhan dumping mulai diberlakukan oleh WTO terhadap India, khususnya produk bed linen. Nilai ekspor bed linen India turun drastis dari 127 juta USD pada tahun 1998 menjadi hanya 91 juta USD pada tahun 2001. Perusahaan India ’Anglo-French Textiles’, salah satu perusahaan yang terkena dampak kebijakan tersebut, mengatakan bila penerimaan perusahaan menurun lebih dari 60 persen selama kebijakan anti dumping diimplementasikan. Hal ini memaksa perusahaan TPT merumahkan lebih dari 1 000 pekerjanya (Adhikari and Chatrini. 2006).

Efek komposisi komoditas TPT berkontribusi negatif untuk Indonesia. Hal ini mengimpilikasikan bila Indonesia tidak mengosentrasikan ekspornya pada TPT yang permintaan impornya meningkat dengan cepat.

Pada periode 2001 sampai 2004, daya saing ekspor TPT India dan China menunjukkan peningkatan (Gambar 11). Hal ini diindikasikan oleh kontribusi efek kompetitif yang positif, yaitu sebesar 11.55 persen dan 49.16 persen. Sebaliknya ekspor Indonesia dan Italia mengalami penurunan daya saing. China mempunyai daya saing tertinggi daripada India. Hal ini tidak terlepas dari masuknya China menjadi anggota WTO pada 17 September tahun 2001. Disebutkan, pada saat China masuk menjadi anggota WTO, China menyetujui untuk menaikkan angka kuota berbagai macam jenis synthetic fiber dan produk lainnya yang memiliki potensi ekspor di pasar Amerika Serikat. Sedangkan polyester fiber akan dihapus kuotanya setahun setelah masuk menjadi anggota WTO.

11.55 49.16 -6.39 -3739.35 -4000 -3500 -3000 -2500 -2000 -1500 -1000 -500 0 500 Pe rs e n ta s e

Indonesia India China Italia

Gambar 11. Besaran Efek Kompetitif dari Negara Produsen TPT di Pasar USA dan Jerman Tahun 2001-2004

India dalam rangka menghadapi tantangan dan kesempatan dari perubahan lingkungan perdagangan TPT dunia telah menyusun kebijakan tekstil nasional 2000 (NTP 2000) pada tanggal 2 November 2000. Adapun tujuan utama kebijakan ini sangat jelas, adalah untuk meningkatkan daya saing industri tekstil dengan pertumbuhan ekspor tekstil dan garmen sebesar 50 miliar USD per tahun dari tahun 2010. Bentuk konkritnya adalah dengan membuka kesempatan

94

Foreign Direct Investment mengalir ke dalam negara India dan sekaligus membuat aturan main yang jelas, khususnya perpajakan dan birokrasi. Investasi dan join ventura sangat diperlukan untuk mengembangkan produk-produk baru dan mengintegrasikan antara mesin-mesin tekstil dan proses produksinya.

Sedangkan di sisi lain industri garmen India mempunyai kelemahan pada keterbatasan penggunaan kain dan rendahnya diversifikasi produk. Produksi garmen India untuk ekspor didominasi oleh produk-produk dengan bahan baku kapas (cotton base). Padahal harga kapas secara rata-rata lebih mahal dari pada serat sintetis ataupun campuran kapas (cotton blends). Ditambahkan pula bea masuk dan perpajakan terhadap serat sintetik, benang, dan kain adalah lebih tinggi dari pada serat, benang, dan kain yang berbahan dasar kapas. Hal ini menjadi batasan India untuk tumbuh dan berkembang di dalam pasar dunia dibandingkan dengan China. Belum lagi ditambah permasalahan kualitas dan diversikasi produk India yang relatif rendah. India secara historis, jarang berhasil bekerja sama dengan negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi bisnisnya, Oleh sebab itu, ketergantungan pada pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat menjadi sangat tinggi.

Dokumen terkait