• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.2 Tinjauan Pustaka

1.2.4 Perjalanan infeksi HIV

Perjalanan infeksi HIV memiliki pola yang unik dibandingkan dengan

infeksi lain. Perbedaannya dilihat dari masa inkubasi yang hanya beberapa

minggu atau beberapa hari saja, infeksi HIV memiliki masa inkubasi yang sangat

panjang yaitu sekitar 5 – 10 tahun. Masa inkubasi adalah masa antara masuknya

suatu bibit penyakit ke dalam tubuh (infeksi) sampai orang tersebut menunjukkan

tanda-tanda dan gejala sakit. Masa inkubasi disebut juga masa laten karena pada

masa itu tidak tampak gejala-gejala penyakit. Selama periode tanpa gejala virus

berkembang biak dan penghancuran sel-sel limfosit terus berlangsung. Pada masa

tersebut sistem kekebalan tubuh masih cukup mampu mempertahankan tubuh dari

berbagai macam penyakit.

7

Ketika penghancuran limfosit melebihi jumlah

produksi yang dihasilkan tubuh manusia, maka mulai timbul kelemahan sistem

kekebalan tubuh dan munculah HIV/AIDS sebagai akibat adanya infeksi

oportunistik

8

.

7

Materi pelatihan penggunaan data dalam pengembangan penanggulangan kebijakan HIV/AIDS. PKPM Unika Atma Jaya. 2002

Tabel. 1 Perjalanan infeksi HIV/AIDS dalam 4 (empat) stadium

6

:

Stadium

Keterangan

Gejala

I

Awal HIV

Infeksi dimulai dengan masuknya HIV

dan

diikuti

terjadinya

perubahan

serologi

9

ketika antibodi terhadap virus

tersebut berubah dari negatif menjadi

positif. Pada infeksi HIV, adanya zat

anti di dalam tubuh bukan berarti bahwa

tubuh dapat melawan infeksi HIV,

tetapi justru menunjukkan bahwa di

dalam tubuh tersebut terdapat HIV.

II

Asimptomatik

(tanpa

gejala)

Terjadi selama 3 – 7 tahun atau lebih.

Pada

stadium

ini,

terjadi

pengembakbiakan virus secara aktif di

dalam tubuh yang diikuti dengan

menurunnya T4 limfosit. ODHA tidak

menunjukkan gejala yang spesifik dan

tetap terlihat sehat, namun sudah dapat

menularkan HIV kepada orang lain.

III

Pembesaran

Kelenjar

Limfe

Ditandai dengan pembesaran kelenjar

limfe secara menetap dan merata selama

lebih dari 3 bulan tanpa sebab yang

9

Serologi (dalam KBBI) adalah tes untuk menentukan jika antibodies tertentu yang ada dalam darah bertindak melawan mikroorganisme tertentu.

jelas.

IV

Adanya gejala utama dan

gejala minor

Gejala utama :

- turunnya berat badan (>10% dalam 3

bulan) tanpa sebab yang jelas

- diare yang terus menerus atau

berulang selama lebih dari satu bulan

- demam yang terus menerus selama

lebih dari tiga bulan.

- penyakit pernapasan yang tidak biasa

- penyakit syaraf, khususnya dementia

Gejala minor:

- batuk kronis lebih dari 1 bulan

- infeksi mulut dan tenggorokan karena

Candida Albicans

- pembengkakan menetap kelenjar getah

bening

- munculnya herpes zooster berulang

- bercak-bercak gatal diseluruh tubuh

Dalam perjalanan HIV, jumlah virus dan gejala klinis melalui 3 (tiga) fase,

yaitu sebagai berikut:

a. Fase infeksi akut (Acute Retroviral Syndrome)

Setelah HIV menginfeksi sel darah, terjadi proses replikasi yang

menghasilkan virus-virus baru (virion) jumlah berjuta-juta virion. Begitu

banyaknya virion tersebut memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala

yang mirip sindrom semacam flu. Diperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 70%

orang yang terinfeksi HIV mengalami sindrom infeksi akut (ARS) selama 3

sampai 8 minggu setelah terinfeksi virus dengan gejala umum yaitu demam,

faringitis, limfadenopati, mialgia, malaise, nyeri kepala diare dengan penurunan

berat badan. HIV juga sering menimbulkan kelainan pada sistem saraf. Pada fase

akut terjadi penurunan limfosit T (CD4) yang dramatis yang kemudian terjadi

kenaikan limfosit T karena mulai terjadi respon imun. Jumlah limfosit T-CD4

pada fase ini di atas 500 sel/mm

3

dan kemudian akan mengalami penurunan

setelah 8 minggu terinfeksi HIV.

b. Fase infeksi laten

Pembentukan respon imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam

Sel Dendritik Folikuler (SDF) dipusat perminativum kelenjar limfe menyebabkan

virion dapat dikendalikan, gejala hilang dan mulai memasuki fase laten

(tersembunyi). Pada fase ini jarang ditemukan virion di plasma sehingga jumlah

virion di plasma menurun karena sebagian besar virus terakumulasi di kelenjar

limfe dan terjadi replikasi di kelenjar limfe sehingga penurunan limfosit T terus

terjadi walaupun virion di plasma jumlahnya sedikit. Pada fase ini jumlah limfosit

T-CD4 menurun hingga sekitar 500 sampai 200 sel/mm

3

. Meskipun telah terjadi

sero positif individu umumnya belum menunjukan gejala klinis (asintomatis) fase

ini berlangsung sekitar rata-rata 8-10 tahun (dapat juga 5-10 tahun)

c. Fase infeksi kronis

Selama berlangsungnya fase ini, didalam kelenjar limfe terus terjadi

replikasi virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus.

Fungsi kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan

virus dicurahkan kedalam darah. Pada fase ini terjadi peningkatan jumlah virion

secara berlebihan didalam sirkulasi sitemik respon imun tidak mampu meredam

jumlah virion yang berkebihan tersebut. Limfosit semakin tertekan karena

intervensi HIV yang semakin banyak. Terjadi penurunan limfosit T ini

mengakibatkan sistem imun menurun dan pasien semakin rentan terhadap

berbagai macam penyakit infeksi sekunder. Perjalanan penyakit semakin progesif

yang mendorong ke arah AIDS, infeksi sekunder yang sering menyertai adalah

penomonia, TBC, sepsi, diare, infeksi virus herpes, infeksi jamur kadang-kadang

juga ditemukan beberapa jenis kanker yaitu kanker kelenjar getah bening.

(Nasruddin, 2007)

Virus HIV mempunyai masa inkubasi antara 5 – 10 tahun. Orang yang

terinfeksi HIV masih nampak sehat dan selama itu dapat menularkan pada orang

lain tanpa disadarinya. Untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV atau tidak

maka harus dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah dilakukan minimal

2 kali, kalau pemeriksaan pertama negatif, maka 6 bulan kemudian diperiksa

ulang sebab antibody dalam tubuh baru terbentuk dalam 6 bulan (berdasarkan

window periods), jika pemeriksaan kedua negatif lagi berarti orang itu bebs

HIV.

10

Transmisi virus HIV pada penderita melalui cara-cara sebagai berikut:

a)

Transmisi melalui kontak seksual

Kontak seksual merupaakn salah satu cara utama transmisi HIV di

berbagai belahan dunia. Virus ini dapat ditemukan dalam semua cairan

tubuh tapi yang berpotensi kuat, misalnya: cairan mani, cairan vagina, dan

cairan ASI. Transmisi infeksi HIV melalui hubungan seksual lewat anus

lebih mudah karena hanya terdapat membran mukosa rektum yang tipis

dan mudah robek, anus sering terjadi lesi.

b)

Transmisi melalui darah

Diperkirakan 90 sampai 100% orang yang mendapat transfusi darah yang

tercemar HIV akan menagalami infeksi. Suatu penelitian di Amerika

Serikat melaporkan resiko infeksi HIV-1 melalui transfusi darah dari

donor yang terinfeksi HIV berkisar antara 1 per 750.000 hingga 1 per

835.000. Pemeriksaan antibodi HIV pada darah sangat mengurangi

transmisi melalui transfusi darah.

c)

Transmisi secara vertikal

Transmisi secara vertikal dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada

janinnya sewaktu hamil, persalinan, dan setelah melahirkan melaluui

pemberian Air Susu Ibu (ASI). Angka penularan selama kehamilan sekitar

5-10%, sewaktu persalinan 10-20%. Alternatif yang layak tersedia, ibu-ibu

positif HIV-1 boleh menyusui bayinya tetapi dengan perantara. Selama

beberapa tahun terakhir, ditemukan bahwa penularan HIV dapat dikaitkan

lebih akurat dengan pengukuran jumlah RNA virus di dalam plasma.

Penularan vertikal lebih sering terjadi pada kelahiran, terutama yang

berkaitan dengan ketuban pecah dini.

d)

Transmisi melalui cairan tubuh lain

Walaupun air liur pernah ditemukan pada sebagian kecil orang yang

terinfeksi, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat

menularkan infeksi HIV. Air liur dibuktikan mengandung inhibitor

terhadap aktivitas HIV. Demikian juga belum ada bukti bahwa cairan

tubuh lain misalnya air mata, keringat dan urin dapat merupakan media

transmisi HIV.

e)

Transmisi pada petugas kesehatan dan petugas laboratorium

Berbagai penelitian multi institusi menyatakan bahwa resiko penularan

HIV setelah kulit tertusuk jarum atau benda tajam lainnya yang tercemar

oleh darah seseorang yang terinfeksi HIV adalah sekitar 0,3% , sedangkan

resiko penularan HIV ke membran mukosa atau kulit yang mengalami

erosi adalah sekitar 0,09% . Di rumah sakit Dr.Sutomo dan rumah sakit

swasta di surabaya terdapat 16 kasus kecelakaan kerja pada petugas

kesehatan dalam 2 tahun terakhir. Pada evaluasi lebih lanjut tidak terbukti

terpapar HIV.

Dokumen terkait