• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apabila terdapat perjanjian timbal balik yang belum atau baru sebagian

terpenuhi, maka pihak dengan siapa si berutang atau debitor mengadakan

perjanjian tersebut dapat meminta kepada kurator untuk memberikan kepastian

tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian tersebut dalam jangka waktu yang

disepakati oleh kurator dan kedua belah pihak.24 Apabila tidak mencapai

kesepakatan terkait dengan jangka waktu, maka Hakim Pengawas yang akan

menentukan jangka waktu tersebut. Namun bila kurator tidak bersedia

melanjutkan perjanjian maka perjanjian tersebut akan berakhir dan pihak yang

mengadakan perjanjian dengan debitor dapat menuntut ganti rugi serta

25 berkedudukan sebagai kreditor konkuren. Hal ini sebagaimana yang diatur dalam

Pasal 36 ayat (1), (2) dan (3) UU Kepailitan.

Namun apabila kurator menyatakan kesanggupannya atas pelaksanaan

perjanjian tersebut, maka kurator dapat dimintakan atau wajib memberikan

jaminan atas kesanggpannya melaksanakan perjanjian tersebut. Pelaksanaan

perjanjian tersebut tidak berlaku terhadap perjanjian yang prestasinya diwajibkan

debitor untuk melakukan sendiri perbuatan yang telah diperjanjikan.

2) Perjanjian Kerja antara Debitor Pailit dengan Pekerja

Pekerja yang bekerja dengan debitor dapat memutuskan hubungan kerjanya

dan sebaliknya kurator juga dapat memberhentikan pekerja dengan mengindahkan

jangka waktu menurut ketentuan undang-undang yang berlaku dan persetujuan

bersama, dengan ketentuan pemberitahuan paling singkat 45 (empat puluh lima)

hari sebelumnya. Sejak putusan pernyataan pailit diucapkan, maka upah yang

terutang sebelum maupun sesudah pernyataan pailit diucapkan merupakan bagian

dari utang harta pailit. Dalam penjelasan Pasal 39 ayat (1) UU Kepailitan

menyatakan bahwa:

“Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja, Kurator tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.”

Maka dalam hal Pemutusan Hubungan Kerja, kurator tetap berpedoman dengan

peraturan perUndangan di bidang ketenagakerjaan pada

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Permasalahan yang selalu muncul akibat kepailitan dari adanya hubungan

26 perusahaan mengalami kesulitan dalam membahayar hak-hak normative yang

dimiliki oleh pekerja selama ia bekerja. Hal ini lah yang masih menjadi polemic

atas implikasi pemutusan hubungan kerja dikarenakan perusahaan mengalami

pailit, meskipun dalam UU Kepailitan telah secara jelas mengatur bahwa upah

yang terutang sebelum maupun sesudah dinyatakan pailit merupakan utang yang

dimasukkan dalam harta pailit. Sebagaimana diatur dalam Pasal 39

Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan.

Dalam penjelasannya Pasal 39 ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004 memberikan pengertian yang dimaksud dengan “upah” adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja

atas sutau pekerjaan atas jasa yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan

dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga.

Terkait dengan kedudukan pekerja dalam proses kepailitan, menurut

pendapat Joseph E. Stiglitz, Hukum Kepailitan itu sendiri harus mengandung tiga

prinsip. Prinsip pertama, peran pertama sebuah lembaga kepailitan di dalam

ekonomi kapitalis modern adalah untuk menggalakkan reorganisasi perusahaan.

Yaitu Hukum Kepailitan memberikan waktu yang cukuo bagi

perusahaan-perusahaan pailit untuk segera melakukan pembenahan. Prinsip kedua, meskipun

tidak dikenal Hukum Kepailitan yang berlaku universal dan ketentuan Kepailitan

telah berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan keseimbangan

politik diantara para pelaku, transformasi structural perekonomian dan

perkembangan sejarah masyarakat, namun setiap Hukum Kepailitan bertujuan

27 menghindari terjadinya likuidasi premature.25 Dan kemudian prinsip ketiga, dalam

Hukum Kepailitan mestinya tidak hanya memperhatikan Debitor dan Kreditor

saja, tetapi lebih mementingkan stakeholder dalam kaitannya yang terpenting

adalah pekerja. Dalam ketentuan kepailitan memang telah memberikan posisi hak

istimewa dalam hal pembayaran gaji buruh yang termasuk dalam utang pailit.

Namun bagaimana dengan hak-hak yang dimiliki pekerja/buruh yang lainnya.

Singkat kata, Kepailitan adalah ultimum remidium, atau dapat dikatakan upaya

terakhir dalam penyelamatan hak-hak kreditor.

Sehingga dalam hal ini, Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia berupaya

untuk melindungi hak-hak buruh/pekerja dengan mengajukan 2 (dua) kali

permohonan Judicial Riview terkait Pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun

2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan Nomor

putusan No. 2/PUU-VI/2008 tertanggal 6 Mei 2008 dan No. 18/PUU-VI/2018.

B. TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM KETENAGAKERJAAN DI

INDONESIA

1. Para Pihak Dalam Hukum Ketenagakerjaan

Dalam Hukum Ketenagakerjaan tidak hanya menyangkut tentang

pengusaha/majikan dan pekerja/buruh, melainkan juga menyangkut pihak-pihak

lain yang terkait. Luasnya keterlibatan dalam hubungan ketenagakerjaan karena

28 masing-masing pihak dalam hubungan industrial saling berinteraksi sesuai dengan

posisinya dalam hal penghasilan barang dan/atau jasa. Para pihak dalam Hukum

Ketenagakerjaan adalah sebagai berikut:

a. Pekerja/Buruh

Dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pasal 1 angka

3 memberikan pengertian terkait dengan pekerja/buruh yaitu:

“Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Dalam definisi pekerja/buruh yang dijelaskan dalam pasal tersebut

menggambarkan dua unsur yaitu unsur dari pihak yang melakukan pekerjaan dan

unsur pihak yang menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Berbeda halnya

dengan tenaga kerja yaitu mereka yang potensial untuk bekerja, berarti bahwa

mereka bisa saja belum bekerja.26 Sedangkan pada pekerja/buruh adalah potensi

yang sudah terikat hubungan pekerjaan dengan pengusaha dengan menerima upah

atau imbalan dalam bentuk lain.27 Maka pekerja/buruh merupakan bagian dari

tenaga kerja didalam sebuah hubungan kerja, dengan dibawah perintah dari

pemberi kerja baik badan hukum, pengusaha dan/atau perseorangan, dan atas jasa

dari pekerjaannya menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa pekerja/buruh adalah seorang yang menjalankan suatu

pekerjaan dibawah perintah pemberi kerja baik perorangan atau badan hukum

sehingga melahirkan suatu hubungan kerja dengan menerima suatu upah atau

imbalan dalam bentuk lain.

26 Koesparmono Irsan dan Armansyah, Hukum Tenaga Kerja: Suatu Pengantar, Jakarta, Penerbit Erlangga, 2016, hal., 27.

29 Istilah dari pekerja/buruh secara yuridis di dalam Undang-Undang Nomor

13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebenarnya sama dan tidak memiliki

perbedaan diantara keduanya. Pembedaan pekerja/buruh dalam Undang-Undang

Ketenagakerjaan hanya didasarkan pada jenis kelamin antara pekerja/buruh

laki-laki dengan pekerja/buruh perempuan, dan dibedakan berdasarkan usia yaitu

pekerja/buruh anak. Pembedaan ini dilakukan bukan dalam rangka diskriminatif

tetapi untuk melindungi pekerja/buruh yang lemah daya tahan tubuhnya dan untuk

menjaga norma-norma kesusilaan.28

b. Pengusaha/Majikan

Istilah pengusaha secara umum menunjukkan beberapa kelompok

sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 5 menyatakan, Pengusaha adalah:

a. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu

perusahaan milik sendiri.

b. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri

sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.

c. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di

Indonesia yang mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a

dan huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

Pada prinsipnya pengusaha merupakan pihak yang menjalankan perusahaan baik

miliknya sendiri ataupun bukan kepemilikannya. Yang mana secara umum

dikatakan sebagai orang yang melakukan suatu usaha yang melahirkan hubungan

kerja antara pengusaha dengan pekerja/buruh.

30 Selain pengusaha UU Ketengakerjaan juga menyebutkan adanya pihak

pemberi kerja, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 4, yaitu orang

perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang

mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk

lain. Adanya ketentuan terkait dengan pemberi kerja ini dimaksudkan agar

menghindari orang yang bekerja pada pihak lain yang tidak digolongkan sebagai

pengusaha, khususnya bagi pekerja yang bekerja pada sector informal.

Sedangkan pengertian perusahaan sebagaimana disebutkan dalam

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tertuang pada Pasal 1

ayat (6), yaitu:

a. Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang

perseorangan, milik perksekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta

maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar

upah atau imbalan dalam bentuk lain.

b. Usaha-usaha social dan usaha-usaha yang mempunyai pengurus dan

memperkerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam

bentuk lain.

c. Organisasi Buruh/ Serikat pekerja

Serikat pekerja/buruh merupakan syarat untuk memperjuangkan,

melindungi, dan membela kepentingan dan kesejahteraan pekerja/buruh beserta

keluarganya, serta mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan

berkeadilan.29 Undang-Undang Hubungan Industrial menjelaskan bahwa serikat

31 pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk

pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas,

terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan,

membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan

kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.30

Organisasi Buruh di perusahaan didirikan oleh para pekerja/buruh di dalam

perusahaan tersebut untuk memperjuangkan hak dan kepentingan mereka,

sehingga menghindari perlakuan sewenang-wenang oleh pihak pengusaha.

Pekerja/buruh sebagai warga negara mempunyai persamaan kedudukan dalam

hukum, memiliki hak untuk mendapatkan suatu pekerjaan serta penghidupan yang

layak, memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya, berkumpul dalam suatu

organisasi, serts berhak untuk mendirikan dan menjadi anggota organisasi buruh

atau serikat pekerja/buruh. Hak untuk menjadi anggota serikat tersebut dijamin

oleh Undang-Undang Dasar 1945 dalam Pasal 28.

Dalam Lampiran Kepmenaker No. KEP-438/MEN/1992, Bab II tentang

Serikat Pekerja Perusahaan menjelaskan fungsi dan peran serta tugas pokok dalam

serikat pekerja, yaitu:

a. Sebagai wadah penyalur aspirasi anggota dalam masalah yang menyangkut

pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai pekerja maupun sebagai warga

negara.

b. Memberikan perlindungan serta memperjuangkan hak-hak dan kepentingan

anggota dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja.

30 Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.

32 c. Meningkatkan keterampilan dan pengabdian para anggota bagi kelangsungan

hidup perusahaan.

d. Meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab untuk terpeliharanya

ketenangan kerja dan ketenangan usaha.31

d. Organisasi Pengusaha/Majikan

Dasar dan tujuan Organisasi Pengusaha adalah kerja sama antara

anggota-anggotanya berkaitan dengan soal teknis dan ekonomi. Dalam sejarah Indonesia

terdapat berbagai organisai pengusaha salah satunya di bidang perkebunan yang

didirikan pada tahun 1853, yaitu Nederlandsch Indische Maatschappij voor

Nijverheid. Berjalannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia organisasi pengusaha semakin tumbuh dan berkembang sangat pesat.

Organisasi Pengusaha yang bergerak dalam bidang sosial ekonomi yang

termasuk dalam ketenagakerjaan saat ini adalah Assosiasi Pengusaha Indonesia

(APINDO). Organisasi pengusaha yang berbadan hukum merupakan mitra dari

gabungan serikat buruh. APINDO merupakan contoh dari Perkumpulan

Majikan/Assosiasi Pengusaha yaitu bersama dengan serikat pekerja dan

Pemerintah DKI menentukan batas upah minimum di Jakarta. Dalam Pasal 105

UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengisyaratkan adanya

organisasi pengusaha, yaitu:

(1) Setiap pengusaha berhak untuk membentuk dan menjadi anggota organisasi

pengusaha.

33 (2) Ketentuan mengenai organisasi pengusaha diatur sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

e. Pengawasan

Pengawasan ketenagakerjaan merupakan kegiatan untuk mengawasi dan

menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan dalam bidang

ketenagakerjaan. Semua peraturan perundang-undangan yang ditujukan untuk

melindungi buruh perlu diawasi oleh sekelompok ahli pengawasan agar

perlindungan tersebut dapat berjalan sesuai dengan ketentuannya. Pasal 176

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan

bahwa:

“Pengawasan ketenagakerjaan dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai kompetensi dan independent guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan”

Pengertian pengawasan tersebut bukan merupakan alat bagi perlindungan

buruh melainkan cara untuk menjamin bahwa pelaksanaan peraturan maupun

perundang-undangan yang berlaku dijalankan dengan baik, serta sangat

diperlukan adanya pengawasan agar norma-norma perlindungan kerja dapat

dijalankan sebagaimana mestinya. Sehingga setiap pengusaha wajib untuk

menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja seara

menyeluruh bagi pekerja/buruh yang terintegrasi dengan sistem manajemen di

34 2. Hubungan Kerja

Ditegaskan dalam Pasal 1 angka 15 bahwa hubungan kerja adalah hubungan

antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang

mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Maka berdasarkan pengertian

hubungan kerja dalam pasal tersebut ditegaskan hal-hal yang melekat dalam suatu

hubungan kerja yaitu sebagai berikut.

Pertama, subjek hukum dalam suatu hubungan kerja adalah pihak pengusaha

dan pihak pekerja/buruh. Kedudukan subjek hukum antara kedua pihak tersebut

merupakan hubungan kerja yang khusus. Tidak ada hubungan kerja apabila

subjek pendukungnya bukan pihak-pihak tersebut. Kedua, adanya sebuah

hubungan kerja didasarkan oleh suatu perjanjian kerja. Tepatnya dalam hal ini

adalah hubungan hukum antara pengusaha dengan pekerja/buruh yang didasarkan

atas perjanjian kerja. Dilihat pada Pasal 1 angka 14 UU Ketenagakerjaan

menyatakan bahwa:

“Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.”

Sementara itu, yang dimaksud dengan pemberi kerja adalah orang perorangan,

pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga

kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.32

Ketiga, hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan

pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur diantaranya

32 Abdul R. Budiono, Hukum Perburuhan, Cetakan Kedua, Jakarta Barat, Permata Puri Media, 2011, hal., 22.

35 pekerjaan, upah dan perintah. Ketiga unsur tersebut bersifat kumulatif yang

berarti ketiadaan atas salah satu unsur tersebut menyebabkan tidak adanya

hubungan kerja. Oleh karena itu, yang menjadi dasar hubungan kerja memuat 4

(empat) unsur, yaitu:

a. Adanya pekerjaan (termuat dalam Pasal 1601 a KUHPerdata dan Pasal 341

KUHDagang).

b. Adanya perintah orang lain (dalam ketentuan Pasal 1603 b KUHPerdata).

c. Adanya Upah (dalam ketentuan Pasal 1603 p KUHPerdata)

d. Terbatas waktu tertentu, karena tidak ada hubungan kerja yang berlangsung

terus-menerus.33

Sehingga pada dasarnya suatu hubungan kerja merupakan hubungan yang

menagtur hak dan kewajiban pengusaha dengan pekerja/buruh. Dapat

digambarkan dalam sebuah skema yang akan memperjelas uraian tentang makna

hubungan kerja.

33 Abdul Khakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung, PT Citra Aditya Bakti, 2003, hal., 25-26.

Hubungan Hukum antara Buruh dan Pemberi Kerja Hubungan Hukum antara Buruh dan Pengusaha

Hubungan Hukum karena Perjanjian Kerja

36

3. Hak dan Kewajiban atas Hubungan Kerja

Adanya Hubungan hukum antara pengusaha dengan pekerja/buruh secara

otomatis melahirkan hak dan kewajiban diantara keduanya. Apabila pekerja/buruh

telah menyelesaikan kewajibannya maka sudah seharusnya perusahaan memenuhi

hak-hak yang dimiliki pekerja sesuai dengan perjanjian kerja serta peraturan

perundang-undangan. Adapun hak-hak pekerja/buruh telah diuraikan dalam

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yaitu:

a. Dalam Pasal 6, tenaga kerja memiliki kesempatan tanpa adanya diskriminasi

untuk mendapatkan pekerjaan.

b. Dalam Pasal 11, Pasal 18 ayat (1), dan Pasal 23, Pekerja/buruh berhak untuk

memperoleh pelatihan terkait dengan pembekalan, pelatihan, dan bentuk

kegiatan lain dalam rangka meningkatkan keterampilan (kompetensi) untuk

menunjang bidang kerjanya.

c. Dalam Pasal 31, Tenaga kerja diberikan keleluasaan untuk berpindah kerja

sesuai dengan kualifikasi dan kompetensinya.

d. Dalam Pasal 82, Pekerja/buruh perempuan diperbolehkan mendapatkan waktu

istirahat pada saat melahirkan dan/atau keguguran.

e. Dalam Pasal 86, Pekerja/buruh mendapatkan hak atas keselamatannya dan

kesehatan kerja.

f. Dalam Pasal 88, Pekerja/buruh berhak mendapatkan penghasilan atau upah

yang layak.

g. Dalam Pasal 99, Pekerja/buruh beserta dengan keluarganya mendapatkan

37 Hak-hak tersebut harus dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan terhadap

pekerja-pekerja yang telah melaksanakan kewajibannya. Berkaitan dengan hal

tersebut kewajiban yang dimiliki oleh Pekerja/buruh adalah:

1) Melaksanakan tugas maupun pekerjaannya sesuai dengan apa yang sudah

disepakati dalam perjanjian kerja dengan sungguh-sungguh.

2) Melaksanakan tugas maupun pekerjaannya sendiri, tidak digantikan dengan

orang lain tanpa sepengetahuan pengusaha.

3) Pekerja/buruh menaati peraturan dalam pekerjaannya sesuai dengan perjanjian

kerja.

4) Menaati tata tertib yang ada di Perusahaan dimana pekerja/buruh itu bekerja.

5) Membayar ganti rugi atau denda apabila pekerja lalai mengerjakan tugasnya,

sesuai dengan yang disepakati dalam perjajian kerja.

Setelah pemenuhan kewajiban-kewajiban oleh pekerja/buruh, maka

Pengusaha juga diwajibkan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam

suatu hubungan kerja, yaitu sebagai berikut:

a) Pengusaha berkewajiban membayar upah kepada pekerja/buruh sesuai dengan

Upah Minimum yang telah ditetukan.

b) Mengatur pekerjaan dan tempat kerja sesuai dengan apa yang telah

diperjanjikan dalam perjanjian kerja.

c) Memberikan cuti dan hari libur sesuai dengan ketentuan dalam peraturan

undang-undang yang bersangkutan.

d) Memberikan perawatan dan pengobatan terhadap pekerja/buruh apabila terjadi

kecelakaan dalam bekerja.

38

4. Perlindungan Buruh

Pekerja/buruh di dalam menjalankan pekerjaannya di dasari atas suatu hak

dan kewajiban, sehingga dalam pemenuhan atas hak beserta dengan kewajibannya

diperlukan suatu perlindungan hukum yang berimplikasi terhadap adanya

kepastian hukum di antara para pihak yang terikat dalam hubungan industrial.

Perlindungan hukum terhadap pekerja/buruh tercermin berdasarkan ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta melindungi beberapa aspek

atas adanya hak maupun kewajiban yang dimiliki oleh pekerja/buruh, yang mana

perlindungan hukum merupakan hak konstitusional bagi seluruh warga negara

dalam menjalankan kehidupannya.

Perlindungan terhadap tenaga kerja merupakan suatu jaminan

keberlangsungan hubungan kerjasama secara harmonis tanpa disertai dengan

adanya suatu tekanan-tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah.

Pada dasarnya setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa adanya

suatu diskreminasi untuk memperoleh suatu pekerjaan. Setiap pekerja berhak pula

mendapatkan hasil atas jerih payah mereka selama satu bulan untuk menerima

upah yang layak sesuai dengan upah minimum yang telah diatur dalam peraturan

perundang-undangan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Soepomo membagi perlindungan

pekerja ini menjadi 3 (tiga) macam yaitu:34

a. Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan

usaha-usaha untuk memberikan kepada pekerja suatu penghasilan yang cukup

34 Zainal Asikin, Agusfian Wahab, Lalu Husni, Zaeni Asyhadei, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, Cetakan Kesemilan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2012, hal., 97.

39 memenuhi keperluan sehari-hari baginya beserta keluarganya, termasuk dalam

hal pekerja tersebut tidak mampu bekerja karena sesuatu di luar kehendaknya.

Perlindungan ini disebut dengan jaminan sosial;

b. Perlindungan sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha

kemasyarakatan, yang tujuannya memungkinkan pekerja itu mengenyam dan

memperkembangkan perikehidupannya sebagai manusia pada umumnya, dan

sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga; atau yang biasa disebut:

kesehatan kerja;

c. Perlindungan Teknis, yaitu sutau jenis perlindungan yang berkaitan dengan

usha-usaha untuk menjaga pekerja dari bahaya kecelakaan yang dapat

ditimbulkan oleh pesawat-pesaat atau alat kerja lainnya atau oleh badan yang

diolah atau dikerjakan perusahaan. Di dalam pembicaraan selanjutnya,

perlindungan jenis ini disebut dengan keselamatan kerja.

Dalam penulisan ini lebih membahas tekait dengan perlindungan ekonomis

bagi pekerja/buruh yaitu berupa jaminan sosial yang salah satunya adalah

jamsostek. Jamsostek adalah suatu perlindungan yang diperuntukkan bagi tenaga

kerja berupa santunan uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang

hilang atau berkurang maupun sebagai akibat dalam peristiwa yang dialami oleh

para tenaga kerja berupa kecelakaan, sakit, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.

Jamsostek tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993, yang

40 1) Jaminan berupa uang

a) Jaminan kecelakaan kerja

b) Jaminan kematian

c) Jaminan hari tua

2) Jaminan berupa pelayanan

a) Jaminan pemeliharaan kesehatan

b. Pemutusan Hubungan Kerja

Dalam permasalahan pemutusan hubungan kerja, tenaga kerja selalu

menjadi pihak yang lemah apabila dihadapkan dengan pengusaha ataupun pihak

pemberi kerja yang memiliki kekuatan leih disbanding dengan pekerja/buruh.

Maka dalam hal ini, pemutusan hubungan kerja (PHK) telah memiliki

pengaturannya sendiri. Maka dalam hal ini, prosedur Pemutusan Hubungan Kerja

yaitu sebagai berikut:35

a. Wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja atau dengan pekerja,

maksud Pemutusan Hubungan Kerja tersebut.

b. Bila perundingan gagal atau tidak menghasilkan persetujuan, maka pengusaha

hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja setelah memperoleh

penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial,

permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis

kepada lembaga penyelesaian perelisihan hubungan industrial dengan disertai

alasan yang menjadi dasarnya.

41 c. Permohonan penetapan dapat diterima bila telah dirundingkan terlebih dahulu

dan perundingan itu gagal. PHK tanpa penetapan adalah batal demi hukum

dan pengusaha wajib memperkerjakan pekerja yang bersangkutan serta

membeyar seluruh upah dan hak yang seharusnya diterima, serta selama

putusan belum ditetapkan, maka baik pengusaha maupun pekerja harus tetap

Dokumen terkait