Kedatangan Jepang ke Indonesia dapat diterima dengan baik karena memberikan janji kemerdekaan. Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo berkunjung ke Jepang menghadap pemerintah Agung untuk mengucapkan rasa terimakasih karena penduduk Jawa diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pemerintahan sendiri (Pandji Poestaka, Nopember 1943).
Ki Bagus Hadikusumo sebelum berangkat ke Jepang, diberi pesan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX agar menggunakan pakaian adat khas Mataram saat di Jepang (Hadikusumo, 1979: 23-24).
Ketiga tokoh perwakilan Indonesia berangkat ke Jepang menggunakan pesawat terbang baling-baling yang dikawal oleh beberapa pesawat pemburu, pihak Jepang merasa was-was karena khawatir ditengah jalan Sekutu mengetahui rencananya dan akan mencegat pesawat (Budiyanto, 2018: 96). Akhirnya apa yang dikhawatirkan oleh Jepang tidak terjadi, para wakil dari Indonesia ini aman sampai di tempat. Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo mendapat sambutan hangat di Tokyo dan ditempatkan di hotel Imperial yang biasanya digunakan untuk tamu kenegaraan. Sesuai dengan permintaan Sri Sultan Hamengku Buwana IX, dalam setiap acara Ki Bagus Hadikusumo selalu mengenakan pakaian khas Mataram yaitu kain batik, blangkon, keris dipunggungnya dan rokok kreteknya (Hadikusumo, 1979: 24). Ketiga tokoh ini sebelum pulang ke Indonesia, di anugerahi Tenno Heiko Bintang Ratna Suci II kepada Ir. Soekarno dan Bintang Ratna Suci kelas III kepada Drs. Mohammad Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo (Budiyanto, 2018: 97).
Bertepatan dengan ulang tahun Kaisar Hirohito, pada tanggal 29 April 1945 diumumkan pula pembentukan Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan atau Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai (Suhatno, 1983: 79). Pembentukan Badan Penyelidik ini berdasarkan Maklumat Gunseikan Nomor 23 tanggal 29 April
1945, akan tetapi pelantikannya dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 dihadiri oleh wakil pemerintahan Jepang yaitu Jenderal Itagaki dan Laksamana Nagano. Dr.
K.R.T. Rajiman Wediodiningrat sebagai ketua dan jumlah anggotanya 60 orang.
Anggota Badan Penyelidik tidak hanya orang-orang Indonesia, akan tetapi ada pula orang-orang dari Jepang yang berjumlah delapan orang, salah satunya yaitu Yoshio Ichibangase seorang residen Cirebon yang dijadikan wakil ketua di Badan Penyelidik (Noer, 1987: 30).
Terdapat dua golongan yang selalu berbeda pandangan dalam Badan Penyelidik yaitu golongan nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Kedua golongan ini sama-sama menginginkan kemerdekaan Indonesia, namun golongan Nasionalis Islam dianggap mempunyai partisipasi yang kurang jika dilihat dari jumlah anggota dan partisipasi dalam berpendapat (Noer, 1987: 30). Jumlah anggota Badan Penyelidik ada 60 dan 15 diantaranya adalah golongan nasionalis Islam, mereka adalah (Noer, 1987: 31):
a. Abikusno Tjokrosujoso (dari PSII).
b. Kyai Haji Ahmad Sanusi (PUI Sukabumi).
c. Kyai Haji Abdul Halim (PUI Majalengka).
d. Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah).
e. Kyai Haji Masjkur (NU).
f. Kyai Haji Mas Mansur (Muhammadiyah).
g. Abdoel Kahar Moezakkir (Muhammadiyah).
h. Raden Rooslan Wongsokoesoemo (mantan anggota Parindra yang bergabung dengan Masyumi tahun 1945).
i. Haji Agus Salim (Penyadar).
j. Raden Sjamsudin (mantan Parindra dari PUI).
k. Sukiman (PII).
l. Kyai Haji Abdul Wahid Hasjim (NU).
m. Ny. Sunarjo Mangunpuspito (Aisyaiyah, mantan JIB).
n. Abdul Rahman Baswedan (mantan PAI).
o. Abdul Rahim Pratalykrama (residen Kediri).
Tokoh-tokoh yang bergabung dalam golongan nasionalis Islam, banyak di antaranya yang merupakan generasi tua dan pendidikannya hanya tradisional pesantren. Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang dengan pendidikan formal sebatas Sekolah Rakyat, bukan seorang politikus bahkan tidak pernah mempelajari tentang ketatanegaraan tetapi Ki Bagus Hadikusumo bukan orang yang tidak mau berpolitik karena sejak muda juga sudah bergemelut dengan politik (Hadikusumo, 1979: 26).
Politik diartikan sebagai proses penegakan hukum kebenaran dan keadilan, oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo berani berpendapat dalam sidang-sidang Badan Penyelidik dan berargumentasi dengan tokoh nasionalis sekuler. Badan Penyelidik melakukan sidang dua kali, dengan pembagian sebagai berikut (Bahar, 1998:
xxxii):
1) Sidang pertama Badan Penyelidik tanggal 28 Mei sampai tanggal 1 Juni 1945 (Bahar, 1998: 2).
Sidang pertama membahas tentang dasar negara (Aning, 2017: 4) dan dilaksanakan di gedung Pejambon Jakarta. Dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat menyampaikan pembukaan dalam sidang untuk pertama kalinya yaitu tanggal 29 Mei 1945, jadi rapat besar dilakukan pada hari kedua karena pada tanggal 28 Mei diadakan upacara pembukaan (Aning, 2017:1-3) dengan susunan acara terlampir pada halaman 76.
Muhammad Yamin pada 29 Mei 1945 menyampaikan pendapatnya bahwa dasar negara terdiri dari Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat (Aning, 2017: 4-6). Rapat yang selanjutnya masih membicarakan mengenai dasar negara Indonesia sampai pada tanggal 1 Juni 1945. Ki Bagus Hadikusumo dalam sidang pertama mengusulkan supaya Indonesia dibangun atas dasar ajaran Islam (Syaifullah, 2015: 72), pendapat ini disampaikan pada tanggal 31 Mei 1945 pukul 15.00 WIB dengan pidatonya sebagai berikut (Bahar, 1998: 33-48):
Marilah kita kembali kepada pembicaraan semula, yaitu: Jika tuan-tuan bersungguh-sungguh menghendaki negara Indonesia mempunyai rakyat yang kuat bersatu padu berdasar persaudaraan yang erat dan kekeluargaan serta gotong-royong, di dirikanlah negara kita di atas petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits seperti yang sudah saya terangkan tadi…. maka banyak sekali hukum-hukum Islam tadi yang sudah menjadi adat-istiadat bangsa Indonesia; sehingga tidak akan salah lagi bila dikatakan bahwa hukum Islam itu sudah menjadi adat bangsa Indonesia, karena memang sudah menjadi adat-istiadat kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan dasar negara Indonesia dengan jiwa rakyatnya, tuan-tuan harus mengetahui betul-betul adanya jiwa keislaman rakyat.
Alasan Ki Bagus Hadikusumo menjadikan Islam sebagai dasar negara, karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah Islam dan hal ini didasarkan pada alasan pemahaman atas ajaran Islam. Ki Bagus Hadikusumo menganggap bahwa agama Islam memiliki nilai-nilai seperti: mengajarkan persatuan atas dasar persaudaraan yang kukuh, mementingkan perekonomian dan mengatur pertahanan negara, membangun pemerintahan yang adil dan menegakkan keadilan, tidak bertentangan bahkan sangat sesuai dengan kebangsaan, serta membentuk potensi kebangsaan lahir dan batin serta menabur semangat kemerdekaan yang menyala-nyala (Hakiem, 2013: 10). Pendapat Ki Bagus Hadikusumo mendapat penolakan dari golongan nasionalis sekuler karena menganggap urusan negara tidak dapat dicampurkan dengan urusan agama, politik merupakan hal yang kotor sedangkan agama adalah hal suci (Hadikusumo, 1979: 28).
Ir. Soekarno akhirnya menyampaikan pidatonya yang berpengaruh terhadap dasar negara yang kemudian dikenal dengan Lahirnya Pancasila (Noer, 1987: 34). Pidato Ir. Soekarno beberapa kali menyebut nama Ki Bagus Hadikusumo, seperti:
Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan macam-macam, tetapi alangkah benarnya perkataan Dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham…saya katakana lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui…saya minta Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkan saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam.
Terjadi perdebatan dalam sidang pertama Badan Penyelidik, Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya bahwa ketuhanan diletakkan di sila kelima atau sila terakhir (Budiyanto, 2018: 98). Ki Bagus Hadikusumo yang seorang nasionalis Islam tidak setuju dengan pendapat Ir. Soekarno dan akhirnya ketuhanan di letakkan di sila pertama (Hakim, 1986: 9).
Menurut Ki Bagus Hadikusumo agama dapat dijadikan obat untuk menyehatkan politik yang dianggap kotor. Ki Bagus Hadikusumo
menyampaikan pidatonya dengan diawali surat Al-Fatihah dan membawa kertas kuning yang berisi teks ketikan (Suhatno, 1983: 82). Badan Penyelidik memberikan kebebasan untuk berpendapat dan pada saat itu mulai muncul pertikaian antara kalangan Islam yang ingin menegakkan ideologi Islam dan kalangan nasionalis yang netral agama (Noer, 1987: 34-35). Selain Ki Bagus Hadikusumo dan Ir. Soekarno, ada tokoh-tokoh lain juga yang menyampaikan pidatonya mengenai dasar negara seperti Prof. Supomo (Suhatno, 1983: 104-105).
Perbedaan pendapat menyebabkan Badan Penyelidik membentuk suatu panitia kecil atau yang dikenal dengan panitia delapan. Panitia delapan mempunyai anggota antara lain Ir. Soekarno (ketua), Ki Bagus Hadikusumo, Kyai Haji Wahid Hasyim, Muhammad Yamin, M. Sutardjo Kartohadikusumo, A.A. Maramis, Otto Iskandardinata, dan Mohammad Hatta (Bahar dkk, 1995: 88). Mereka mempunyai tugas untuk mengumpulkan usul dari para anggota yang akan disampaikan dalam sidang kedua Badan Penyelidik (Hakiem, 2013: 11).
Selanjutnya dibentuk panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang yaitu Haji Agus Salim, Kyai Wahid Hasyim, Abikusno, Abdoel Kahar Moezakkir dari kalangan Islam dan Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Achmad Soebardjo, Muhammad Yamin dari kalangan nasionalis (Hadikusumo, 1979: 29).
Panitia sembilan ini menghasilkan Piagam Jakarta yang tercantum dalam Muqaddimah UUD 1945. Hasil dari rapat panitia 9 yaitu sebagai berikut (Hadikusumo, 1979: 29):
Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada:
ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syaria’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pada saat perencanaan tersebut semua pihak setuju, begitupun A.A Maramis dengan konsep bahwa di Indonesia orang Islam berkewajiban menjalankan syariat Islam, tanpa rasa ragu ataupun merasa kaum minoritas tidak mempunyai kedudukan
penting di Indonesia. Kalangan nasionalis tidak menyetujuinya, tetapi kalangan Islam tetap kokoh pada prinsipnya (Noer, 1987: 35-36).
Suasana rapat penuh dengan perdebatan mengenai kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” karena ada beberapa orang yang tidak menyetujuinya. Ki Bagus Hadikusumo pada awalnya merasa kecewa, Kyai Sanusi mengusulkan kata “bagi pemeluk-pemeluknya”
dihapuskan, oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo mengusulkan supaya dihapuskan seluruhnya supaya agama tidak dicampurkan dengan politik, menurutnya lebih baik begitu daripada dikaitkan hanya setengah-setengah yang dapat menimbulkan salah pengertian dikemudian hari (Hadikusumo, 1979: 29).
Melihat Ki Bagus Hadikusumo menyatakan hal demikian, Abikusno memberikan pendapatnya kepada Ki Bagus Hadikusumo bahwa dalam rapat jikalau ada perselisihan paham sebaiknya jangan sampai di dengar oleh pihak luar. Akhirnya sidang selesai dengan keputusan kalimat tersebut tidak dipakai dalam Muqaddimah (Noer, 1987: 37).
Sebelum Muqaddimah disetujui secara penuh, ada yang menjadi permasalahan lagi yaitu kalangan Islam menginginkan kepala negara hendaknya seorang Islam dan tentu saja kalangan nasionalis serta yang beragama Kristen menolaknya (Noer, 1987: 36-37). Ir. Soekarno memberikan penjelasan kepada kalangan Islam bahwa masyarakat pasti dengan sadar akan memilih kepala negara yang beragama Islam, jadi dalam masalah kepala negara biarlah menjadi kebijakan rakyat (Syarif, 2016: 20). Alasan Ir. Soekarno ditolak oleh Wahid Hasyim, Kyai Mansyur dan Abdoel Kahar Moezakkir, oleh karena itu Ir. Soekarno menuruti kalangan Islam.
2) Sidang Badan Penyelidik yang kedua pada 10 sampai 16 Juli 1945 dengan agenda sebagai berikut (Suhatno, 1983: 82-114):
a) Sidang tanggal 10 dan 11 Juli 1945 merupakan sidang pleno.
Pada sidang tanggal 10 Juli diambil keputusan mengenai bentuk negara. Ketua Badan Penyelidik memulai dengan memperkenalkan anggota baru, yaitu Abdul Fatah Hasan, Asikin Natanegara, Soerjo Hamidjojo, Mohammad Noor, Tuan Besar, Abdul Kaffar (Bahar, 1998:
107). Ki Bagus Hadikusumo pun memberikan usulannya (Bahar, 1998:
127-128):
Tuan-tuan yang terhormat, dengan tegas, dengan pendek dan tegas, maka tentang bentuk negara Indonesia yang akan datang, dalam perkataan republic atau monarkhi, menurut pendapat saya, sudah tersembunyi setan, artinya dua buah perkataan itu bisa menimbulkan perbantahan dan perdebatan yang dahsyat dan memuncak sekali sehingga menyenangkan musuh…Tentang maksudnya saya mufakat, apalagi untuk mempercepat datangnya kemerdekaan, yang pemerintah sendiri juga sudah mengharap-harapkan dan kita minta, supaya kita segera bersatu. Hendaklah tujuannya saja diambil, dan jangan dditambahi dengan “republik” yang tidak tuan sukai.
Gambarkan saja apa yang tuan sukai yaitu bahwa Negara dikepalai oleh seorang pemimpin yang tidak turun-temurun dan dimufakati oleh rakyat, dengan pemerintah yang berdasarkan rakyat dan permusyawaratan. Adapun nama “republik” itu, dapat juga disebutkan dalam bahasa Indonesianya dengan singkat, ialah
“kedaulatan rakyat”.
Pidato Ki Bagus Hadikusumo dapat diterima oleh tokoh lainnya yang menghadiri sidang. Jumlah anggota sidang ada 64 suara dan 55 suara memilih bentuk republik, 6 suara memilih bentuk kerajaan, 2 suara memilih bentuk lain, dan 1 suara blanko.
b) Sidang tanggal 11 dan 13 Juli 1945 adalah sidang Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.
Pada sidang tanggal 11 diambil keputusan mengenai wilayah negara baru (Bahar, 1998: 166). Dari 66 suara, yang setuju daerah Hindia Belanda dahulu 19 suara, 6 suara memilih Hindia Belanda ditambah Malaya tetapi dikurangi Irian Barat, ada 39 suara yang memilih Hindia Belanda ditambah Malaya, Borneo Utara, Irian Timur, Timor Portugis dan pulau-pulau sekitarnya, 1 suara daerah lain, dan 1 suara blanko. Sidang kedua tanggal 11 Juli ketua Badan Penyelidik membentuk panitia atau Bunkakai yang disebutkan dalam pidatonya, yaitu sebagai berikut (Bahar, 1998: 224):
(1) Bagian Undang-undang Dasar: Soekarno sebagai ketua, Maramis, Oto Iskandardinata, Poerbojo, Salim, Soebardjo, Soepomo, Maria Ulfah Santoso, Wachid Hasjim, Harahap, Latuharhary, Soesanto, Sartono, Wongsonehoro, Woerjaningrat, Singgih, Tan Eng Hoa, Hoesein Djajadiningrat, Soekiman dan Tuan Miyano sebagai anggota istimewa.
(2) Bagian urusan keuangan dan perekonomian: Hatta sebagai ketua, Soeracham, Margono, Soetardjo, Samsi, Roosseno, Soerjohamidjojo, Dewantara, Koesoema Atmadja, Dassat, Oei Tiong Haw, Besar, Zainal Asikin Dahler, Yamin, Baswedan, Hadikoesoemo, Sastromoeljono, Abdul Patah Hasan, Haji Mansoer, Oei Tiang Tjoei, Wiranata Koesoema, Soewandi dan Tuan Tokonami.
(3) Bagian pembelaan: Ketua Abikoesno, anggota-anggota: Abdul Kadir, Asikin Natanegara, Bintoro, Hendro Martono, Moezakkir, Sanoesi, Moenandar, Samsoedin, Soekardjo Wirjopranoto, Soerjo, Abdul Kaffar, Maskoer, Halim, Kolopaking, Soedirman, Aris, M. Noor, Pratalykrama, Lim Koen Hian, Buntaran dan Rooslan Wongsokoesoemo, Nyonya Soenarjo masuk bagian pembelaan. Lalu sebagai anggota istimewa Tuan Tanaka
Panitia Perancang Undang-Undang Dasar pada tanggal 11 mengadakan sidang dengan bahasan tentang Pembukaan Undang-Undang Dasar, bentuk negara, pemimpin negara dan tentang warganegara. Pada sidang tanggal 13, Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar menyerahkan Rancangan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia kepada Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.
c) Sidang tanggal 14 sampai dengan 16 Juli 1945 merupakan sidang pleno.
Sidang tanggal 14 membicarakan tentang pernyataan kemerdekaan.
Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar menyerahkan rancangannya dalam sidang Badan Penyelidik dan mendapat respon dari para anggota Badan Penyelidik. Ki Bagus Hadikusumo menyatakan pendapatnya (Bahar, 1998: 264):
Di dalam segala keterangan Tuan Syusa tadi hanya satu, perkara yang kecil sekali, yang saya minta dicabut atau dihilangkan: saya menguatkan voorstel Kiyai Sanoesi dalam pembukaan di sini yang mengatakan, bahwa perkataan dengan kewajiban umat Allah swt,
“bagi pemeluk-pemeluknya”, adalah menurut keterangan Kiyai Sanoesi, tidak ada haknya dalam kata-kata Arab, dan menambah janggalnya kata-kata. Jadi, tidak ada artinya, dan hanya menambah kejanggalan, menambah perkataan yang kurang baik, menunjukkan pemecahan kita. Saya harap supaya “bagi pemeluk-pemeluknya” itu dihilangkan saja. Saya masih ragu-ragu, bahwa di Indonesia banyak perpecahan-perpecahan dan pada praktiknya maksudnya sama saja.
Itulah pendapat saya yang menguatkan permintaan Kiyai Sanoesi.
Sekianlah.
Rancangan ini dibahas dalam rapat-rapat selanjutnya yaitu tanggal 14, 15 dan akhirnya disepakati pada 16 Juli 1945 dengan kata-kata dari ketua Badan Penyelidik bahwa Preambule dan batang tubuh Undang-Undang Dasar diterima “dengan sebulat-bulatnya” (Bahar, 2013: 361).
Sidang Badan Penyelidik selesai pada 16 Juli 1945, kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945 dan terbentuk Panitia Perseiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dookuritsu Junbi Inkai pada tanggal 7 Agustus 1945 (Budiyanto, 2018:
99). PPKI beranggotakan 27 orang dengan 4 anggota dari kalangan Islam yaitu Ki Bagus Hadikusumo, K.H. A. Wahid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, Mr. T.M.
Hasan (Hakiem, 2013: 14-15). Jumlah anggota dari kalangan Islam mengalami kemerosotan, walaupun demikian mereka tetap memberikan konstribusi dalam setiap sidangnya.
Dibentuk PPKI Karena Jepang menyerah pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Awalnya Badan Penyelidik dibentuk oleh pemerintah Jepang atas janji kemerdekaannya, kemudian setelah kalah Jepang tidak dapat lagi meneruskan janjinya dan rakyat Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk memerdekaan Indonesia. Rapat PPKI pertama pada tanggal 16 Agustus 1945, dilaksanakan dirumah Laksamana Muda Maeda dan dihadiri oleh Angkatan Muda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, B.M. Diah serta golongan tua seperti Dr. Buntaran dan Semaun Bakri (Suhatno, 1983: 116). Hasil rapat pertama PPKI menghasilkan tersusunnya teks Proklamasi yang ditanda tangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta mewakili bangsa Indonesia.
PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 mengadakan sidang di Pejambon dan sebelum sidang banyak yang mengusulkan tentang klausul tujuh kata dalam Piagam Jakarta untuk dihapuskan. Tentu saja hal ini dapat menjadi perdebatan hebat, karena kalangan Islam tidak akan menyetujuinya. Pada saat itu ada seorang yang beragama non Islam menyampaikan pesannya kepada Mohammad Hatta bahwa kalimat tersebut diskriminasi terhadap kaum minoritas, dan jikalau tetap dipakai maka mereka akan membuat negara sendiri. Mendengar ancaman seperti itu membuat Ir.
Soekarno meminta kepada Mohammad Hatta untuk membicarakan hal tersebut kepada Ki Bagus Hadikusumo (Hakiem, 2013: 16-17). Sebelum sidang PPKI
dimulai, Mohammad Hatta mengundang kalangan Islam yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kiai Wahid Hasjim, Kasman Singodimedjo, dan Mohammad Hasan.
Mohammad Hatta menyampaikan bahwa kaum non Islam tidak menyetujui dengan adanya tujuh klausah kata dalam Piagam Jakarta, dan Mohammad Hatta menyarankan agar dihapus demi terjaganya Indonesia yang baru diproklamasikan (Noer, 1987: 40). Ki Bagus Hadikusumo adalah kalangan Islam yang sulit menerima usulan tersebut , setelah bujukan Mohammad Hata gagal, Mr. Kasman Singodimedjo mencoba untuk berbicara dengan Ki Bagus Hadikusumo (Suhatno, 1983: 117). Mulanya Ki Bagus Hadikusumo tetap kokoh pada pendiriannya, lalu Mr. Kasman Singodimedjo menjelaskan dengan bahasa Jawa halus mengenai kebijksanaan Ki Bagus Hadikusumo jika menyetujui usulannya. Kalimat
“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di hapus dan diganti sesuai dengan usulan Mohammad Hatta yaitu
“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Mohammad Hatta mengusulkan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” karena menurut Wahid Hasjim kalimat tersebut sesuai dengan tauhid Islam (Noer, 1987: 41). Perubahan kalimat ini mencakup semua agama jadi tidak ada lagi yang merasa terdiskriminasi. Saat berbicara dengan Mr. Kasman Singodimerdjo, Ki Bagus Hadikusumo meminta kalimat “menurut dasar” di dalam Preambule Undang-Undang Dasar dihapus, sehingga langsung pada “dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa dan seterusnya” (Hakiem, 2013: 17).
Sidang dimulai setelah selesai dengan tujuh kalimat yang menjadi perdebatan. Mohammad Hata menyampaikan usul perubahan terhadap Muqaddimah dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar hasil keputusan Badan Penyelidik, sebagai berikut (Suhatno, 1983: 118):
a. Istilah Muqaddimah diganti menjadi Pembukaan.
b. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
c. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ditiadakan dari pasal 29 ayat 1.
Sidang PPKI berjalan dengan lancar, dan berhasil mengesahkan Undang-Undang Dasar serta pembukaannya yang sekarang menjadi Undang-Undang-Undang-Undang Dasar
1945 serta Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta menjadi presiden dan wakil presiden negara Republik Indonesia.