• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

31 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Perkembangan Politik Pada Masa Pergerakan Nasional Tahun 1908- 1953

Perkembangan politik Belanda terjadi sekitar abad ke-20. Menurut Ricklefs (2007: 319) awal abad 20, kebijakan penjajahan Belanda mengalami perubahan ke arah yang paling mendasar dalam sejarahnya. Politik Etis muncul sebagai kebijakan baru yang mengurangi penderitaan rakyat Jawa yang tertindas (Galih, dkk, 2017:

752). Irigasi, edukasi, dan transmigrasi merupakan isi dari kebijakan politik etis.

Kebijakan dalam edukasi atau pendidikan membawa dampak yang besar bagi Hindia Belanda. Pendidikan memunculkan kaum intelek yang memikirkan nasib bangsanya yang dijajah dan dikuasai oleh golongan Eropa. Kaum intelek sebagai pembaharu di Hindia Belanda pada abad ke-20 melakukan perlawanan dengan mendirikan organisasi modern yang kemudian dikenal menjadi masa pergerakan nasional (Sudiyo, 2004: 9-14). Pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi tiga yaitu (Iramdhan, 2017: 81-83):

1. Masa awal Kebangkitan Nasional a. Boedi Oetomo

Boedi Oetomo ini didirikan pada 20 Mei 1908 di Jakarta (Kartodirdjo, 2005: 11). Tujuan awal dari Boedi Oetomo adalah tentang pengajaran berdasarkan dorongan dari dokter Wahidin Sudirohusodo pada tahun 1906 sampai 1907 (Pringgodigdo, 1994: 1). Tujuan didirikannya organisasi ini pada akhirnya tidak hanya mengenai pengajaran, tetapi juga kemajuan yang selaras untuk negeri dan bangsa dengan pengajaran, pertanian, peternakan, dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Politik Boedi Otomo adalah membangun masyarakat Hindia Belanda dengan label persaudaraan nasional tanpa adanya pandangan terhadap perbedaan yang ada.

Boedi Oetomo mengadakan rapat umum pada 1915 dilanjutkan dengan bergabungnya Indie Weebar pada tahun 1916. Indie Weebar

(2)

merupakan milisi Hindia Belanda yang mempunyai tugas untuk merencanakan diberlakukannya wajib militer untuk pribumi. Ketika Voolksraad akan diadakan, Boedi Oetomo mengusulkan untuk diadakannya Komite Nasional dan dilakukan pada bulan Juli 1917 (Pringgodigdo, 1994: 3). Boedi Oetomo telah mempersiapkan dengan menggunakan programnya yaitu mewujudkan pemerintahan parlementer yang berasaskan kebangsaan dan untuk mencapai cita-cita tersebut harus mendapat peraturan pemilihan yang baik dan perbaikan dalam aturan pengadilan agar Hindia Belanda mempunyai kedudukan sama dengan golongan lain.

Pada 26-28 September 1919 rapat umum Boedi Oetomo diadakan kembali, dalam rapat ini Boedi Oetomo pindah haluan dalam bidang politik yaitu dengan mendekati rakyat karena adanya ketentuan bahwa rakyat diberi hak untuk memilih parlemen. Boedi Oetomo juga menjadi organisasi yang netral terhadap agama, walaupun di Madura mengharuskan Boedi Oetomo memberikan perhatian khusus terhadap agama Islam (Nagazumi, 1989: 195-198). Politik yang diterapkan oleh Boedi Oetomo selalu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tergeserkan oleh organisasi-organisasi modern seperti Sarekat Islam, Indische Partij dan Muhammadiyah (Kartodirdjo, 2005: 3).

b. Sarekat Islam

Sarekat Islam mempunyai sifat demokratis dengan dasar agama serta adanya keinginan untuk melakukan pengajaran modern berdasarkan agama dan kebangsaan di luar politik (Pringgodigdo, 1994: 2). Sarekat Islam berdiri pada tahun 1911 dengan dipelopori oleh Hadji Samanhudi (Pringgodigdo, 1994: 4). Berbeda dengan Boedi Oetomo yang anggotanya dari kalangan atas, Sarekat Islam mempunyai anggota rakyat umum terutama pedagang dan kalangan agama. Sarekat Islam dengan kekuatannya dapat menggabungkan rakyat dari seluruh Jawa dan hal inilah yang membuat Belanda takut jika sewaktu-waktu Sarekat Islam menyerang Belanda.

(3)

Sheevliet bersama Adolf Baars pada tahun 1914 mendirikan Indisch Sociaal Democratische Vereniging atau ISDV yang bertujuan menyebarkan paham Marxis. ISDV berusaha mempengaruhi rakyat, akan tetapi tidak mendapat sambutan yang baik, oleh karena itu ISDV memasuki Sarekat Islam (Dimyati, 1951: 16). Sarekat Islam tidak melawan Belanda dan bukan merupakan partai politik, tetapi ketika Indisch Sociaal Democratische Vereniging atau ISDV berhasil masuk, Sarekat Islam menjadi berani terhadap pemerintah Belanda dan menentang kapitalisme. Semaoen sebagai ketua Sarekat Islam memberikan ide-ide pluralism yang secara tidak langsung mengusulkan perubahan asas Sarekat Islam dari Islam menjadi Komunis. Semaoen dan anggota yang menjadi komunis akhirnya dikeluarkan dari Sarekat Islam, dan Sarekat Islam pecah menjadi Sarekat Islam Merah yang berasaskan sosial komunis serta Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan dan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa Sarekat Islam mempunyai misi yang jelas dalam masalah politik, karena Sarekat Islam menjadi organisasi komunis yang berusaha untuk melawan pemerintahan Belanda. Adanya perkembangan politik diikuti dengan sekerja yang menginginkan perbaikan dalam kedudukannya. Sarekat Islam mempunyai misi politik yang menuntut pemerintahan Belanda mendirikan dewan-dewan daerah dan memperluas hak-hak Volksraad untuk memajukan lembaga perwakilan (Noer, 1985:

130).

c. Muhammadiyah

Berbeda dengan Sarekat Islam yang merupakan organisasi partai politik berdasarkan agama, sedangkan Muhammadiyah adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan asas agama (Pringgodigdo, 1994: 20).

Muhammadiyah mempunyai tujuan “menyebarkan pengajaran Igama Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk bumi putra di dalam residensi Yogyakarta” (Badawi, 1998: 1). Tahun 1914 cita-cita Muhammadiyah adalah memajukan pengajaran dan tidak masuk dalam dunia politik. Muhammadiyah tidak menentang politik, bahkan

(4)

anggotanya ada yang mengikuti perkumpulan politik. Muhammadiyah berhasil mengikuti arus politik dan akhirnya ikut terlibat didalamnya.

Politik di Hindia Belanda yang awalnya tidak mencampurkan agama, dalam perkembangan zaman akhirnya dapat berkembang berdampingan dengan agama. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang ikut serta dalam dunia politik yaitu KH. Mas Mansur (pendiri Partai Islam Indonesia, anggota PUTERA), Ki Bagus Hadikusumo (anggota BPUPKI, PPKI), dan Kasman Singodimedjo (Qodir, 2015: 16). Ki Bagus Hadikusumo berperan dalam BPUPKI dan PPKI mewakili nasionalis Islam dan pada saat itu Ki Bagus Hadikusumo menjadi pemimpin Muhammadiyah.

Gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh para anggota organisasi keagamaan berhasil mendobrak paham yang diciptakan penjajah bahwa agama harus dipisahkan dari sistem pemerintahan (Iskandar, 2000: 45).

Kolonial Belanda meyakini bahwa Islam adalah agama yang damai, akan tetapi mewaspadai kelompok Islam yang fanatik dan menjadi doktrin politik, sehingga membahayakan kekuasaannya (Suminto, 1985: 11).

Islam tidak hanya memandang masalah keagamaan, tetapi memandang masalah-masalah seperti politik pemerintahan, ekonomi, dan sosial budaya. Islam di Hindia Belanda merupakan agama yang dijadikan tonggak untuk melawan pemerintahan asing (Suminto, 1985: 12).

Muhammadiyah adalah organisasi yang menyadarkan rakyat untuk ikut serta dalam memperhatikan kondisi negeri pada saat di jajah bangsa Barat.

Alfian (1989: 4) dalam The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism mengatakan bahwa:

Sebagai gerakan sosial besar yang terorganisir terbaik di Indonesia, Muhammadiyah tampaknya tidak mampu menghindar untuk terlibat dalam politik. Ternyata, kadang- kadang, Muhammadiyah benar-benar bermain politik secara langsung dan terbuka. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda sikap dengan yang dinyatakan dengan karakter nyatanya yang nonpolitik.

(5)

Keinginan Muhammadiyah untuk tidak mencampurkan politik didalam organisasinya tidak berhasil, karena Muhammadiyah mempunyai tiga peranan yaitu (Alfian, 1989: 5):

1) Sebagai reformis keagamaan dengan melakukan gerakan memurnikan agama Islam dengan memberantas bid’ah, khurafat dan takhayul.

2) Sebagai agen perubahan sosial yang bertujuan memodernisasi umat muslim agar tidak tertinggal di tempat terhormat dalam dunia modern.

3) Sebagai kekuatan politik.

Ketiga peranan itu dijadikan kekuatan bagi Muhammadiyah dan menjadi alasan organisasi Muhammadiyah dianggap penting. Muhammadiyah dapat berhadapan dengan pemerintahan kolonial karena menggunakan politik kooperatif walaupun ada organisasi yang menggunakan politik nonkooperatif (Nashir, 2011: 53-54).

Muhammadiyah memiliki dampak yang signifikan dalam perkembangan politik Indonesia modern, karena adanya faktor-faktor yang menempatkan Muhammadiyah ke dalam situasi baru dalam politik Indonesia. Muhammadiyah berkembang pada saat Indonesia menggunakan politik baru dan banyaknya perkembangan partai politik sekuler serta organisasi seperti partai komunis (Alfian, 1989: 7).

Muhammadiyah telah bermain politik secara langsung dan terbuka terhadap administrasi kolonial pada waktu itu, karena adanya penghapusan Partai Komunis Indonesia setelah adanya pemberontakan yang gagal pada tahun 1927, oleh karena ini Muhammadiyah berkembang dengan pesat (Alfian, 1989: 8).

Adanya kebabasan dalam menjalankan ibadah haji membuat kolonial Belanda menganggap bahwa dengan diberikannya kebebasan dalam menjalankan agama Islam, maka para kyai dan ulama tidak melawan pemerintahan Belanda (Suminto, 1985: 51). Kebebasan yang diberikan kepada umat Islam nyatanya digunakan untuk membuka pemikiran terhadap penjajahan yang dilakukan Belanda dan muncul Islam fanatik yang ditakutkan oleh penjajah. Banyaknya Islam fanatisme

(6)

membuat kolonial Belanda membatasi gerak umat Islam dengan mengeluarkan ordonansi haji dan ordonansi guru agama. Muhammadiyah adalah salah satu organisasi sosial yang mengutamakan pendidikan, akan tetapi dengan munculnya ordonansi guru tidak menjadi masalah karena madrasah yang didirikan masih berada di kampung Kauman Yogyakarta dan ordonansi guru agama hanya berlaku di seluruh Jawa kecuali daerah Sultan yaitu Yogyakarta dan Surakarta (Staatsblad van Nederlansch Indie, 1905, nomor 550 pasal 6). Muhammadiyah tidak fanatisme dalam melawan penjajah karena memiliki prinsip kooperatif.

d. Indische Partij

Pada 1912 Douwes Dekker atau Setyabudi mendirikan organisasi politik Indische Partij (Suhartono, 2010: 50). Indische Partij adalah organisasi campuran antara orang Indo dan Bumiputra dengan program perjuangannya mengusung nasionalisme Hindia Belanda untuk mencapai kemerdekaan. Douwes Dekker melalui karangannya de Express melakukan propaganda yang berisi pelaksanaan program Hindia untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan penghapusan perhubungan kolonial serta menyadarkan golongan Indo dan penduduk bumi putra bahwa masa depannya terancam oleh kolonial (Utomo, 1995: 70-71).

Politik Indische Partij ditentang oleh Belanda dan anggotanya melakukan perlawanan. Kritik dilakukan oleh Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryadiningrat dan Douwes Dekker yang akhirnya ketiga tokoh ini dibuang ke Belanda (Suhartono, 2010: 53-56).

2. Masa Radikal

a. Perhimpunan Indonesia

Perhimpunan Indonesia awalnya bernama Indische Vereniging (1908). Tujuan dari Perhimpunan Indonesia adalah mencapai kemerdekaan penuh bagi Indonesia. Perhimpunan Indonesia berusaha supaya masalah Indonesia mendapat perhatian dari dunia Internasional (Utomo, 1995: 93).

Kegiatan politik Perhimpunan Indonesia yaitu ikut serta dalam Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Kolonial (Iramdhan, 2017: 82). Salah satu

(7)

tokoh dalam Perhimpunan Indonesia yaitu M. Hatta. Pemikiran M. Hatta yaitu mempersatukan partai-partai politik Indonesia dengan mengesampingkan perbedaan ideologi (Utomo, 1995: 97). M. Hatta, Nazir Pamuncak, Abdulmadjid Joyodiningrat, dan Ali Sastroamijoyo ditangkap pemerintah Belanda pada tahun 1927 (Sudiyo, 2004: 80-81).

b. Partai Komunis Indonesia

Sheevliet bersama Adolf Baars pada tahun 1914 mendirikan Indisch Sociaal Democratische Vereniging atau ISDV yang bertujuan menyebarkan paham Marxis. Berdasarkan Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990: 88) ISDV pada tahun 1920 berubah menjadi Partai Komunis Indonesia yang diketuai oleh Semaun. PKI pada 12 November 1926 melakukan pemberontakan yang menyebabkan pergerakan nasional mendapat kerugian dan tekanan dari pemerintah Belanda (Ricklefs, 2007: 272).

c. Partai Nasional Indonesia

Partai Nasional Indonesia (PNI) melanjutkan pandangan Indische Partij yang kemudian mengembangkannya menjadi Nasionalisme Indonesia (Surjomihardjo, 1979: 73). Tujuan utama PNI adalah bekerja demi tercapainya kemerdekaan Indonesia dengan asas berdasarkan kekuatan sendiri yang bersifat nonkooperatif (Ricklefs, 2007: 278). PNI dibubarkan April 1931 dengan peringatan dari Belanda bahwa PNI tidak diizinkan melanjutkan kegiatan politiknya. Sebagai gantinya dibentuk Partindo (Partai Indonesia) yang memiliki tujuan sama seperti PNI. Pada Desember 1931 Sjahrir membentuk organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI- Baru) (Ricklefs, 2007: 283). PNI-Baru dan Partindo memiliki pandangan yang berbeda untuk mencapai tujuannya, namun sama-sama menginginkan Indonesia merdeka (Suhartono, 2010: 99).

Pada masa radikal organisasi-organisasi yang sudah ada mendirikan federasi partai politik PPPKI atau Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia pada 17-18 Desember 1927 (Suhartono, 2010: 101).

Terbentuknya PPPKI menjadi simbol kesatuan aksi nasional dalam upaya mencapai kemerdekaan. Adanya persaingan antara Partindo dan PNI-Baru menyebabkan

(8)

PPPKI tidak banyak memainkan peranan politik (Suhartono, 2010: 103). Dalam PPPKI sering terjadi perpecahan seperti saat kongres kedua pada 25-27 Desember 1929 mengenai istilah “kebangsaan”. Golongan Islam merasa bahwa istilah

“kebangsaan” hanya ditujukan pada golongan nasionalis saja, padahal dalam PPPKI golongan Islam juga ikut serta. PPPKI berdiri dari tahun 1927 sampai 1935.

Kemudian pada tahun 1930an memasuki masa pergerakan nasional moderat.

3. Masa Moderat

a. Partai Indonesia Raya

Partai Indonesia Raya atau Parindra merupakan gabungan dari Boedi Oetomo dan Perhimpunan Bangsa Indonesia. Tujuan dari partai ini adalah mewujudkan Indonesia Raya dengan kooperatif terhadap pemerintahan Belanda. Tokoh-tokoh dalam Parindra yaitu Soetomo, Woeryaningrat, Soekardjo Wirjopranoto, Raden Mas Margono Djojohadikusumo, R. Panji Soeroso dan Mr. Soesanto Tirtoprodjo.

Parindra mendapat dukungan dari pemerintah Belanda pada awal berdirinya, namun pada tahun 1942 dicurigai karena Parindra bekerjasama dengan Jepang (Iramdhan, 2017: 83).

b. GAPI

Salah satu cara untuk memperkokoh kesatuan kaum nasionalis dengan organisasi politik adalah membentuk badan untuk menaungi berbagai macam organisasi agar saling menghargai dan bekerjasama dalam membela kepentingan rakyat (Kartodirdjo, 1990: 186). Pada Mei 1939 organisasi-organisasi nasional Indonesia, kecuali PNI-Baru membentuk GAPI (Gabungan Politik Indonesia) (Ricklefs, 2007: 291). GAPI berhasil menggabungkan organisasi-organisasi bentukan kaum nasionalis kooperatif maupun yang non kooperatif. GAPI adalah gerakan berdasarkan kesatuan nasional, demokrasi dan kesatuan aksi yang memiliki tujuan “Indonesia Berparlemen” (Poesponegoro, 1990: 90). GAPI membentuk aksi bersama Belanda dalam melawan fasisme (Ricklefs, 2007: 291). GAPI memiliki tujuan yaitu menganjurkan partai politik nasional untuk mengadakan kerjasama dan menyelenggarakan kongres Indonesia (Muljana, 2008: 65).

(9)

Organisasi-organisasi politik menjadi terbatas akibat kedatangan Jepang.

Jepang mempunyai rasa khawatir terhadap gerakan-gerakan yang dipelopori kaum nasionalis, karena dapat menghancurkan rencana Jepang, tetapi demi tercapainya tujuan dan agar kaum nasionalis tidak membentuk gerakan rahasia maka Jepang membiarkan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) (Rohman, 2018: 18). Gerakan politik ini tidak terbuka kepada pemerintah Jepang, ada beberapa anggota yang bekerja tanpa diketahui oleh pemerintah Jepang. MIAI tahun 1943 menggerakan pemuda Indonesia, karena cita-citanya untuk memerdekakan Indonesia. Keinginan MIAI dapat diketahui oleh Jepang, kemudian MIAI dibubarkan diganti dengan Majelis Syjura Muslimin Indonesia (Masjumi) dan pengurus tetap seperti MIAI (Benda, 1980: 180-182).

Perkembangan politik masa Jepang lebih baik, karena pemerintahan Jepang mempunyai maksud lain untuk memanfaatkan Indonesia dalam perang. Saat perang tiba, Jepang menggunakan Indonesia dengan membentuk Heiho, PETA (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) dan Seinendan serta Indonesia membentuk Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan untuk menyelidiki usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978: 228). Kaum nasionalis merasa diberikan kesempatan oleh pemerintah Jepang dengan adanya organisasi-organisasi yang dibentuk oleh Jepang. Kaum nasionalis kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk janji Jepang memerdekakan Indonesia, karena Jepang menyerah kepada Sekutu, akhirnya Indonesia memerdekakan sendiri dengan segala pertimbangan pada 17 Agustus 1945 (Notosusanto, 1975: 24).

Sesudah Indonesia menyatakan kemerdekaan, keadaannya belum stabil.

Indonesia merdeka tidak membuat penguasa Jepang meninggalkan begitu saja, pemuda Indonesia melakukan pertempuran guna menegakkan kedaulatan Republik (Notosusanto, 1993: 101). Sifat nasionalisme rakyat menjadi menggebu-gebu sehingga pemerintah Indonesia memberikan kepercayaan untuk potensinya sendiri.

Presiden membentuk berbagai macam gerakan untuk pertahanan negara, ada Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan

(10)

Keamanan Rakyat (BKR). Ketiga gerakan ini mendapat perhatian yang luar biasa dari rakyat, akan tetapi pemuda Indonesia yang pada masa Jepang sudah membentuk kelompok-kelompok politik menginginkan terbentuknya tentara nasional, karena kerja BKR yang tidak memuaskan (Notosusanto, 1993: 108).

Usulan ditolak, maka kelompok-kelompok politik ini membentuk Komite van Aksi.

Indonesia mengalami berbagai pertempuran karena banyak negara yang menginginkan Indonesia untuk menjadi jajahannya kembali. Rakyat Indonesia mempunyai peranan yang begitu besar dalam mempertahankan Indonesia. Politik di Indonesia mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Adanya politik Bebas Aktif untuk menjalin kerjasama dengan negara lain mulai dikenal dan Indonesia mulai bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1946.

Pada 2 November 1949 Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan jumlah 16 negara di dalamnya, RIS tidak bertahan lama pada 17 Agustus 1950 kembali menjadi Republik Indonesia (Notosusanto, 1993: 205-206).

Walaupun demikian, RIS berhasil memecahkan berbagai masalah yang diakibatkan dari kemerdekaan dan masalah intern.

Tahun 1950-an mulai terbentuk kabinet yang memimpin Indonesia, dari tahun 1950-1955 ada 4 kabinet yang memerintah, akan tetapi para kabinet ini tidak dapat melaksanakan berbagai program yang sudah direncanakan karena kabinet selalu dijatuhkan oleh parlemen. Tahun inilah yang menjadikan instabilitas politik tidak baik. Keadaan yang seperti ini menyebabkan dibentuknya Zaken Kabinet yang menggunakan tenaga-tenaga ahli pada bidangnya tanpa melihat partainya (Poesponegoro, 1993: 215). Politik yang tidak stabil membuat Indonesia berkembang karena banyak masyarakat yang berpartisipasi didalamnya.

B. Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dalam Muhammadiyah 1. Biografi Ki Bagus Hadikusumo

Ki Bagus Hadikusumo mempunyai nama kecil Raden Hidayat, lahir di kampung Kauman Yogyakarta pada Senin Pahing, 24 November 1890 atau 11 Rabi’ul Akhir tahun 1308 (Hadikusuma, 1979: 6). Kampung Kauman Yogyakarta adalah sebuah tempat yang berada di sekitar keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan merupakan kampung mutihan yang dominan dengan Islam. Peraturan istana

(11)

menetapkan bahwa Kauman dibatasi penduduk muslimnya, karena penamaan desa mencerminkan niat Sultan untuk memasukkan Islam ke dalam kekuasaannya dan untuk mengendalikan Islam di bawah kekuasaannya (Aryanti, 2015: 128). Ki Bagus Hadikusumo lahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai abdi dalem mutihan yaitu Raden Kaji Lurah Hasyim. Ayahnya mempunyai tugas menangani administrasi agama Islam atau sebagai Menteri Agamanya keraton pada masa Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (Hisyam, 2011: 5). Kakeknya bernama Raden Kaji Isma’il yang menjabat pula sebagai administrasi agama Islam. Keluarga Raden Hidayat merupakan keluarga priyayi-santri, karena keluarganya menjadi abdi dalem keraton dan mempunyai tugas dalam bidang keagamaan. Keluarga priyayi Jawa memiliki status sosial lebih tinggi karena keluarga para abdi dalem ini memiliki ikatan atau kedekatan dengan keluarga Sultan (Hakim, 2015: 3).

Raden Hidayat merupakan putera keempat dari delapan bersaudara, anak pertama dari Raden Kaji Lurah Hasyim yaitu Haji Yusak, anak kedua yaitu KH.

Syuja yang merupakan pelopor Perbaikan Perjalanan Haji Indonesia, pendiri Bagian Pusat Kesehatan Umum (PKU) dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Anak ketiga yaitu Kyai Haji Fakhruddin, yang merupakan seorang politikus dan wartawan. Keempat, yaitu Raden Hidayat, kelima Kyai Haji Zaini seorang pengusaha batik, keenam yaitu Siti Bariyah, ketujuh Siti Munjiyah yang merupakan tokoh dari pergerakan Aisyiah dan pergerakan wanita bangsa Indonesia.

Siti Walidah Muslim adalah anak terakhirnya (Suhatno, 1983: 21-22).

Nama kecilnya menggunakan nama Raden, tetapi ketika sudah dewasa, namanya dirubah menjadi Ki Bagus Hadikusumo yang jarang sekali orang Muhammadiyah memakai nama tersebut. Nama “Ki” dan “Hadikusumo” mulai dipakai ketika Ki Bagus Hadikusumo mempunyai hubungan dekat dengan Taman Siswa (Budiyanto, 2018: 21). Sedangkan kata “Bagus” atau “Gus” adalah sebutan untuk seorang laki-laki jika dalam tradisi pesantren menunjukan keluarga Kiai.

Muhammadiyah asing dengan panggilan-panggilan tersebut, karena tidak ada dalam tradisinya dan hanya Ki Bagus Hadikusumolah yang menggunakan nama

“Ki” dan “Bagus” (Budiyanto, 2018: 21).

(12)

Masa kanak-kanak Ki Bagus Hadikusumo dihabiskan untuk bermain dan belajar bersama teman-temannya. Anak-anak kauman mendirikan sebuah kelompok lakon sandiwara yang bernama Setambul, yang mempunyai arti dalam bahasa Malaya yaitu bangsawan (Hadikusumo, 1979: 8). Ki Bagus Hadikusumo mempunyai peran yang sangat penting dalam lakon sandiwara yaitu menjadi Pangeran atau Raja Muda (Suhatno, 1983: 23). Kelompok Setambul ini mempunyai jangkauan yang luas, tidak hanya bermain di Yogyakarta saja akan tetapi di pulau Jawa. Anak-anak kauman juga mendirikan kelompok sepakbola dan kelompok- kelompok seperti itu hanya untuk mencari kesenangan serta kesibukan, bukan karena uang (Hadikusumo, 1979: 8). Setelah kelompok Setambul bubar, anak-anak kauman memperbarui kelompok sepakbolanya dengan memberi nama Kauman Voetbal Club atau KVC, kemudian menjadi The Lion dan pada akhirnya setelah berdiri kepanduan Hizbul Wathan nama kelompoknya pun ikut berubah dan sering disingkat HW (Suhatno, 1983: 23-24).

Hidup di kampung Kauman membuat Ki Bagus Hadikusumo sangat dekat dengan agama Islam. Tidak memungkiri bahwa Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang keturunan santri dan sejak kecil sudah diajarkan tentang agama. Ki Bagus Hadikusumo juga menggunakan masa mudanya untuk belajar dengan mengenyam pendidikan formal hanya sampai pada Sekolah Rakyat atau Sekolah Ongko Loro (Suhatno, 1983: 31-32). Sekolah Rakyat ini pada zaman Hindia Belanda bisa dinikmati oleh semua kalangan, namun tidak semua rakyat mementingkan sekolah.

Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat, Ki Bagus Hadikusumo terus belajar sehingga ilmunya setara atau bahkan lebih tinggi dari orang-orang yang berpendidikan tinggi (Suhatno, 1983: 32). Ki Bagus Hadikusumo juga belajar mengaji kepada ayahnya dan ulama-ulama yang berada di sekitar kampung Kauman. Kampung Kauman terkenal dengan santri, maka Ki Bagus Hadikusumo pun pernah belajar di pesantren Wonokromo dan Pekalongan (Hadikusumo, 1979:

9).

Ki Bagus Hadikusumo sebagai seorang ulama mulai fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan agama, seperti berdakwah dan berakhlak mulia (Hadikusuma, 1979: 8-9). Ki Bagus Hadikusumo dalam buku karya Sutahno,

(13)

(1983: 25) mengatakan bahwa “Biarlah seni dan olahraga berkembang dengan wajar ala kadarnya. Yang wajib kita jaga ialah agar supaya perkembangan itu tidak menjadi gelanggang maksiyat”. Walaupun Ki Bagus Hadikusumo menganggap bahwa berlakon sandiwara dan sepak bola merupakan hal yang mubah, akan tetapi tidak mengharamkannya.

Ki Bagus Hadikusumo belajar bahasa Jawa dan Melayu kepada Raden Ngabehi Sosrosugondo. Raden Ngabehi Sosrosugondo merupakan seorang penulis, dengan karyanya yaitu Yudhagama atau Perang Agama yang terdiri dari lima jilid (Suhatno, 1983: 32). Ki Bagus Hadikusumo menyukai karya tulis dari Raden Ngabehi Sosrosugondo, sehingga gaya penulisan Ki Bagus Hadikusumopun terpengaruhi (Suhatno, 1983: 33). Ki Bagus Hadikusumo juga pandai bahasa Inggris dan Belanda (Hadikusumo, 1979: 10). Bahasa Belanda diperolehnya dari seorang kenalan bangsa Belanda yaitu Jayasugita (Hadikusumo, 1979: 10). Bahasa Inggris dapat dipelajari karena ada seorang dari India bernama Mirza Wali Ahmad Beig yang tinggal di Kauman (Masruri, 2005: 27).

Kitab-kitab karangan Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah, Imam Ghazali dan Ibnu Rusyid dipelajari dengan sungguh-sungguh (Masruri, 2005: 27). Ada kitab-kitab yang dipelajari mendalam yaitu kitab fiqih dan tasawuf (Budiyanto, 2018: 3). Ki Bagus Hadikusumo mempunyai julukan kiai atau ulama walaupun umurnya masih muda karena Ki Bagus Hadikusumo seorang mubaligh yang tekun.

KH. Ahmad Dahlan juga menjadi guru agama Ki Bagus Hadikusumo dan menyadarkan bahwa pendalaman agama serta penyebaran agama Islam sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, Ki Bagus Hadikusumo sanggup memimpin kawan- kawannya untuk bertabligh kemanapun tanpa diberi imbalan (Hadikusumo, 1979:

11). Agama bagi Ki Bagus Hadikusumo adalah hal yang sakral, sehingga dipelajari dengan sungguh-sungguh dan mengikuti perkembangan ilmu.

Kampung Kauman sebagai tempat lahirnya membuat Ki Bagus Hadikusumo dekat dengan orang-orang keraton. Usia muda dihabiskan untuk belajar dan bekerja, memasuki umur 20 tahun Raden Hidayat meminang seorang wanita yang berasal dari Yogyakarta yaitu Siti Fatmah, puteri dari Raden Kaji Suhud yang merupakan abdi dalem Keagamaan Kesultanan Yogyakarta (Suhatno,

(14)

1983: 25). Pernikahannya tersebut dikaruniai 6 orang anak, akan tetapi pernikahannya tidak bertahan lama karena Siti Fatmah meninggal. Anak-anak dari Siti Fatmah dan Ki Bagus Hadikusumo, antara lain sebagai berikut:

a. Siti Muhayah, merupakan anak pertama dan bekerja sebagai guru di Alabiu.

b. Siti Nurmah, anak kedua dengan profesi sebagai guru di Malang, meninggal tahun 1947.

c. Zuhal, anak ketiga bekerja sebagai guru, ketua Muhammadiyah di Jombang dan pernah menjabat menjadi kepala Kantor Wilayah Departemen Agama, meninggal tahun 1976.

d. Moh Barmas, meninggal pada usia tiga tahun.

e. Djarnawi Hadikusumo, anak kelima yang pernah menjadi anggota DPRGR sampai tahun 1970, ketua Partai Muslimin Indonesia dan pada tahun 1975 sampai 1983 menjabat sebagai sekertaris jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan menjadi direktur PT Persatuan.

f. Siti Harikah, anak terakhir dan bekerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Ki Bagus Hadikusumo menikah kembali dengan pengusaha Yogyakarta yaitu Mursilah. Dari pernikahan keduanya ini dikaruniai 3 orang anak dan Mursilah meninggal ketika melahirkan anak ketiganya. Anak-anak dari pernikahan keduanya, antara lain:

1) Wasimah, yang menjadi isteri pengusaha.

2) Hibrizi, bekerja di Kantor Sosial.

3) Zuhri, bekerja menjadi pasukan khusus di bawah komando Angkatan Perang Sabil dan gugur di Sonosewu saat Belanda melakukan pembersihan pada Februari 1949.

Ki Bagus Hadikusumo memperistri Siti Suyatimah yang merupakan seorang pengusaha dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu (Suhatno, 1983: 26-27):

a) Dr. Jakfal, yang bekerja sebagai ahli penyakit dalam dan pernah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Jember.

b) Letnan Kolonel Laut Basmal.

c) Drs. Moh. Barkin, yang bekerja sebagai karyawan Bank Negara Indonesia.

d) Drs. Hatif, yang bekerja sebagai karyawan Bank Negara Indonesia.

e) Jumikah.

Ki Bagus Hasikusumo mempunyai 14 anak dari 3 pernikahannya. Ki Bagus Hadikusumo dalam mendidik anak-anaknya sangat tegas dan disiplin, semua

(15)

anaknya diajarkan bertanggungjawab. Anak-anaknya selalu diawasi dan setiap malam diwajibkan untuk belajar kecuali hari Jumat digunakan untuk membaca Al- Quran (Suhatno, 1983: 27). Anak-anak dilarang merokok sebelum mereka mendapatkan uang sendiri dan Ki Bagus Hadikusumo memerintahkan anak- anaknya untuk bekerja supaya mereka menyadari bahwa mencari uang adalah hal yang susah sehingga anak-anaknya dapat menghargai uang.

Ki Bagus Hadikusumo dianggap sebagai ulama kolot, karena Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang ulama yang memegang teguh hukum agama dan konsekuen dengan ilmu yang dipahaminya. Contohnya yaitu ketika rapat ada pria dan wanita tanpa tabir, Ki Bagus Hadikusumo tidak dapat memahaminya dan tidak mentolerir karena hukum Allah sudah jelas dan tidak bisa digantikan karena gengsi manusia. Ki Bagus Hadikusumo mengatakan bahwa (Hadikusumo, 1979: 11):

Saya marah bukan karena nafsu, melainkan karena Allah. Karena melihat hukum Allah dan keputusan kita diinjak-injak, justru oleh kita sendiri yang mengatakan akan menegakkan hukum Allah itu. Saya tahu bahwa saudara- saudara merasa dalam kesulitan, yaitu takut dikatakan kolot. Sebenarnya sikap saudara-saudara sendirilah yang mempersulit. Letaknya kolot atau modern adalah dalam cara berfikir dan bertindak, letaknya taqwa atau munafik adalah pada teguh atau tidaknya memegang hukum dan pendirian yang benar.

Tujuan dari apa yang dipelajarinya yaitu mengambil pokok-pokok pikiran yang kemudian dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dibaca tanpa adanya tindakan.

Berbekal akan ilmu dan pengetahuannya, Ki Bagus Hadikusumo pernah bekerja sebagai pengajar di Madrasah Mu’alimat Muhammadiyah Yogyakarta (Masruri, 2005: 27). Menurut Ki Bagus Hadikusumo jabatan yang mempunyai nilai paling tinggi adalah ulama, guru, mubaligh, dan pemimpin umat (Suhatno, 1983:

35). Oleh karena itu, Ki Bagus Hadikusumo selalu berusaha melakukan dan mengingatkan pada generasi muda untuk melanjutkan tugas Nabi sebagai pemimpin umat dan melakukan dakwah. Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang Islam yang nasionalis serta berkarakter baik, sehingga rela berkorban dan mau menanggung segala resiko untuk kepentingan umum (Hakiem, 2013: 40).

(16)

Ki Bagus Hadikusumo sebagai seorang pengajar dan ulama, juga bekerja sebagai pedagang yang selalu membawa barang dagangannya ketika ada acara tabligh di kota lain. Orang yang sederhana dan tidak mengharapkan imbalan apapun dalam tablighnya. Walaupun kenyataannya dalam bidang usaha tidak behasil, namun Ki Bagus Hadikusumo mencoba peruntungan lain yaitu menjadi pengusaha batik yang berdagang dan sebagai saudagar batik tetapi gagal. Setelah itu Ki Bagus Hadikusumo menjadi agen dari apotek J. Van Gorkhom milik seorang Belanda dan mengalami kegagalan lagi (Suhatno, 1983: 29). Tidak menyerah, kemudian mencoba berdagang kembali dengan seorang Belanda bernama H. Muller, Ki Bagus Hadikusumo menjual piringan hitam dan gramapon, tidak bertahan lama akhirnya gagal. Usaha-usaha yang dilakukannya selalu gagal, kemudian Ki Bagus Hadikusumo mencoba bekerja sesuai dengan passionnya yaitu seorang penulis dan berhasil (Hadikusumo, 1979: 12-13).

Keahlian dalam berbahasa Jawa, disalurkan melalui karya-karyanya yaitu sebuah kitab yang diterbitkan (Hadikusumo, 1979: 12-13). Tulisan-tulisannya sudah diterbitkan sejak tahun 1925, dan karya pertamanya adalah buku Poestaka Iman (Masruri, 2005: 36). Kitab-kitab ini tidak hanya diminati murid, pensiunan priyayi dan pegawai negeri saja, tetapi banyak pelanggan yang berasal dari tempat- tempat yang jauh datang kerumah Ki Bagus Hadikusumo untuk mendapatkan kitabnya (Hadikusumo, 1979: 13). Karya-karya Ki Bagus Hadikusumo yaitu Poestaka Iman, Risalah Katresnan Jati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ihsan (1941), dan Ruhul Bayan (Tafsir Quran), Islam sebagai Dasar Negara dan Akhlak Pemimpin (tanpa tahun) (Budiyanto, dkk, 2018:

5).

Ki Bagus Hadikusumo jatuh sakit pada saat memimpin Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo dirawat di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada Pugeran selama dua minggu. Ki Bagus Hadikusumo wafat pada Jumat, 3 September 1954 pukul 01.00 WIB dan dimakamkan hari Jumat, di makam Kuncen (Suhatno, 1983:

31).

2. Ki Bagus Hadikusumo dalam Muhammadiyah

(17)

Muhammadiyah berdiri pada tanggal 18 Nopember 1912 di Yogyakarta, dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan (Suhatno, 1983: 37). Lahirnya Muhammadiyah karena Yogyakarta pernah diperintah oleh kolonial Belanda dan dominasi ekonomi kelompok Cina, adanya tempat ibadah Cina di Malioboro dan Societeit dari Belanda sebagai tempat ibadah, tidak membuat umat Islam mempunyai tempat ibadah pula (Binfas, 2018: 181). Pemerintah Hindia Belanda mengakui Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan pada 22 Agustus 1914 dengan ditetapkannya melalui peraturan Besluit No. 81 (Jurdi, 2010: 27). Awal berdirinya Muhammadiyah mempunyai anggota Pengurus Besar, seperti KH. Ahmad Dahlan sebagai ketua, Haji Abdullah Sirat dan Mas Ngabehi Joyosugito sebagai sekretaris, Muhammad Husni sebagai komisaris, Haji Ahmad, Haji Abdurrahman, Raden Haji Sarkawi, Haji Muhammad, Raden Haji Jaelani, Haji Anies, serta Haji Muhammadiyah Pakih (Suhatno, 1983: 37). Mengurus Muhammadiyah tidak hanya dilakukan oleh para tetua saja, banyak pemuda pula yang ikut bergabung didalamnya seperti Haji Mukhtar yang akhirnya menjadi wakil ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (Suhatno, 1983: 37).

Beberapa tahun setelah Muhammadiyah berdiri, Ki Bagus Hadikusumo sudah mempunyai peran yang besar dalam bidang kegamaan. Pada tahun 1922 Ki Bagus Hadikusumo menjadi anggota Komisi Perbaikan Pengadilan Agama seluruh Jawa dan Madura yang diangkat oleh Gubernur Jenderal (Suhatno, 1983: 39).

Tugasnya adalah melihat seberapa jauh hukum Islam dan hukum adat berpengaruh dalam hukum waris. Ki Bagus Hadikusumo dalam kurun waktu yang sama mempunyai tanggungjawab lain bersama Husein Jayadiningrat untuk menyusun Mahkamah Islam Tinggi.

Ki Bagus Hadikusumo merupakan murid KH. Ahmad Dahlan, dengan berdirinya Muhammadiyah diyakini oleh Ki Bagus Hadikusumo sebagai gerakan penghimpun umat. Masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo mempunyai tugas sebagai ketua Majlis Tabligh (Hadikusumo, 1979:

17). Jabatan sebagai ketua Majlis Tabligh berakhir pada 25 Nopember 1922.

Adapun tugas-tugasnya, sebagai berikut:

(18)

a. Memberikan saran dan pemikiran kepada para pemimpin Muhammadiyah di masing-masing tingkat tentang dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar.

b. Menjalankan operasi dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar atas nama Muhammadiyah terhadap obyek yang belum atau tidak tercakup oleh tabligh yang dilakukan oleh mubaligh-mubalighat anggota Muhammadiyah (Suhatno, 1983: 38).

Ki Bagus Hadikusumo menjadi ketua Majlis Tabligh saat orang-orang masih percaya akan hal-hal yang menyesatkan. Inilah yang menjadi alasan mengapa saat menjadi ketua Majlis Tabligh, Ki Bagus Hadikusumo mempunyai tugas untuk berdakwah sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Sikap Ki Bagus Hadikusumo yang demikian, membuat masyarakat takluk, dan menganggap bahwa Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang muslim yang yang pantas akan gelarnya sebagai ulama yang tegas dan istiqomah sehingga dihormati.

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII tahun 1923 mengangkat Ki Bagus Hadikusumo menjadi anggota Panitia Pengawas Pondok Pesantren seluruh Yogyakarta (Suhatno, 1983: 39). KH. Ahmad Dahlan wafat pada 1923 dan pada tahun yang sama Muhammadiyah mengadakan sidang tahunan, Ki Bagus Hadikusumo mempunyai jabatan baru sebagai Juru Priksa (Commisaris) bersama Muhammad Basiran, Haji Hajid, Haji Syujak, dan Haji Abdulhamid (Suhatno, 1983: 40). Majlis Tarjih dibentuk pada tahun 1927 dengan ketuanya yaitu Hadji Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sebagai wakil ketua (Algemeene rijksarchief, a11: 16-17). Tugas dari Majlis Tarjih adalah menyatukan pandangan tentang Islam di kalangan Muhammadiyah dan melalui Majlis Tarjih ini Muhammadiyah dipurifikasi, artinya menjalankan syariat Islam dilakukan semurni-murninya (Budiyanto, 2018: 26). Walaupun diadakan purifikasi, tetapi Muhammadiyah tetap memberikan tempat untuk pengembangan ilmu modern dan tafsir secara rasional seperti yang dilakukan oleh Rasyid Ridla dan Muhammad Abduh (Budiyanto, 2018: 27). Ki Bagus Hadikusumo mempunyai peran yang penting sebagai ulama karena meminimalisir masyarakat Muhammadiyah untuk tidak tersesat dalam keagamaan dan sosial serta tetap majunya ilmu pengetahuan modern. Peran paling utama yang dilakukannya ialah menetapkan metode Istinbath al-Hukm yang berarti

(19)

cara mengungkapkan suatu dalil hukum untuk menjawab persoalan-persoalan yang terjadi (Farahidi, 2003: 184).

Masa kepemimpinan KH. Ibrahim pada tahun 1926, Ki Bagus Hadikusumo dipilih untuk menjadi anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (Soeara Moehammadijah, nomor 9: 291). Ki Bagus Hadikusumo bersama empat belas orang mempunyai tugas untuk melengkapi putusan Konggres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya yang mengkhusukan tentang pendidikan (Budiyanto, 2018: 28). Membahas tentang pendidikan karena ada masalah sarana prasarana padahal sekolah Muhammadiyah mulai berkembang. Mas Kartosoedarmo dalam pertemuan tanggal 19 Februari menyampaikan dua topik dalam pidatonya yaitu mengenai Muhammadiyah dan Pendidikan Islam. Mas Kartosoedarmo mengatakan bahwa (Algemeene rijksarchief, a11: 17-18):

Muhammadiyah bagaimanapun mulai mendirikan sekolah sendiri. Tujuan pendidikan untuk menghasilkan cinta yang benar (halal) dan keengganan untuk yang durhaka. Pendidikan pemerintah terutama menyediakan pendidikan intelektual. Namun, pikiran juga membutuhkan pendidikan.

Pendidikan juga harus mempromosikan pengendalian diri. Dalam hal apapun, Alquran harus menjadi dasar pendidikan.

Sejak berdirinya Muhammadiyah sampai tahun 1926, Muhammadiyah mempunyai 51 sekolah yang terbagi di daerah Jawa dan Madura, ada 4 sekolah di Jawa Barat, 24 di Jawa Tengah, 18 di Jawa Timur, dan 5 di Madura (Alfian, 1969: 304).

Sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah berbeda dengan sekolah pemerintah, karena sekolah Muhammadiyah mengutamakan keagamaan. Masalah pendidikan ini berlanjut sampai masa pemimpin Muhammadiyah yang selanjutnya.

Tahun 1934 Kongres Muhammadiyah dilakukan di Yogyakarta dan Kyai Hisyam terpilih sebagai ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang ketiga (Suhatno, 1983: 41). Kelebihannya dalam bidang pendidikan dan sosial mengalami kemajuan yang pesat, tetapi dalam dakwah dan amal tabligh tidak terlalu diperhatikan. Kyai Hisyam adalah anggota kelompok tua dalam Muhammadiyah, dengan tanggungjawabnya menjadi ketua ternyata banyak anggota muda yang tidak menyukai gaya kepemimpinannya. Anggota Muda seperti Haji A. Badawi, Haji Hisyam, Haji Basiran, Haji Abdulhamid dan haji MH. Farid Maruf menganggap

(20)

bahwa kelompok tua yaitu Kyai Hisyam, Kyai Haji Mukhtar dan Kyai Haji Syujak merupakan Pengurus Besar Muhammadiyah yang menguasai segala hal yang ada di dalamnya (Suhatno, 1983: 42).

Ki Bagus Hadikusumo mencoba untuk menyampaikan aspirasi dari kelompok muda kepada kelompok tua dengan cara mengajak Haji Hajid mencari jalan keluar. Akhirnya mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut karena Ki Bagus Hadikusumo dan Haji Hajid menghubungi Sutan Mansyur yang merupakan seorang Konsul Daerah Minangkabau, Citrosuwarno seorang Konsul Daerah Pekalongan, dan Mukyadi Joyomartono seorang Konsul Daerah Surakarta untuk berdiskusi dan menyalurkan aspirasi kelompok muda, hal ini dilakukan sebelum kongres ke-26 (Suhatno, 1983: 42).

Kongres ke-26 berlangsung, pemilihan anggota Pengurus Besar Muhammadiyah dilakukan secara langsung dengan cara dipilih dalam rapat anggota di setiap ranting (Suhatno, 1983: 43). Ketiga anggota tua terpilih kembali, dan angkatan muda melakukan rapat dengan dihadiri oleh Sutan Mansyur, Citrosuwarno dan Mulyadi Joyomartono. Sebenarnya dalam rapat tersebut ketiga tokoh tua diundang dan mereka juga dapat menerima usulan dari angkatan muda dengan bijaksana. Ketiga tokoh ini ikhlas apabila tidak menjadi anggota Pengurus Besar Muhammadiyah dan siap untuk di tempatkan dimanapun asalkan masih dalam tubuh Muhammadiyah (Suhatno, 1983: 44).

Selanjutnya untuk menggantikan anggota Pengurus Besar Muhammadiyah maka dibentuk calon-calon anggota dan menentukan ketuanya. Awalnya Ki Bagus Hadikusumo terpilih menjadi anggota dan ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, tetapi Ki Bagus Hadikusumo menolaknya karena merasa dirinya belum siap, serta tidak ingin dianggap sebagai orang yang mencari panggung setelah memecahkan masalah yang ada di Muhammadiyah (Suhatno, 1983: 44). KH. Mas Mansur akhirnya yang dipilih menjadi ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dengan wakilnya Haji A. Badawi (Suhatno, 1983: 44). KH. Mas Mansur menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada tahun 1937-1939 dan pada tahun 1939-1942 Ki Bagus Hadikusumo menjadi wakil ketua (Budiyanto, 2018: 30).

(21)

KH. Mas Mansur, Dr. Sukiman Wiryosanjoyo, Abdul Kahar Muzakir dan Ki Bagus Hadikusumo mendirikan Partai Islam Indonesia pada tahun 1938, (Qodir, 2015: 59). Partai Islam Indonesia dibentuk karena adanya ketidakselarasan antara Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dengan Muhammadiyah. Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) melarang keanggotaan rangkap dan politiknya bersifat nonkooperatif. Muhammadiyah sebagai organisasi dengan politik kooperatif keluar dari PSII dan membentuk Partai Islam Indonesia (PII). Ki Bagus Hadikusumo tahun 1938 berperan menjadi wakil ketua Muhammadiyah dan anggota Partai Islam Indonesia (Hadikusumo, 1979: 15).

Muhammadiyah saat dipimpin KH. Mas Mansur, Jepang datang ke Indonesia karena Belanda tidak lagi menguasai Indonesia (Suhatno, 1983: 50).

Masa Jepang tanggal 20 Mei 1942, keluar sebuah Undang-Undang Nomor 3 dan 4 yang isinya melarang organisasi pergerakan rakyat Indonesia aktif kembali, tidak boleh mengibarkan bendera Merah Putih dan tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya (Hadikusumo, 1979: 17). Akhirnya pemerintahan Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang mempunyai tugas sebagai penampung semua kegiatan rakyat Indonesia (Suhatno, 1983: 50). PUTERA dipimpin oleh Empat Serangkai yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Kyai Haji Mas Mansur dan Ki Hajar Dewantara. Ketika KH. Mas Mansur menjabat sebagai ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ternyata menjadi pemimpin PUTERA juga yang menyebabkan harus pindah wilayah dalam bertugas. Akhirnya Ki Bagus Hadikusumo naik jabatan sebagai ketua Muhammadiyah menggantikan KH. Mas Mansur (Budiyanto, 2018: 33).

Ki Bagus Hadikusumo menjabat sebagai Pemimpin Muhammadiyah pada tahun 1942 -1953 dengan wakil ketuanya yaitu Haji A, Badawi (Budiyanto, 2018:

33). Masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo bersamaan dengan kedatangan Jepang ke Indonesia, oleh karena itu Jepang harus berurusan dengan Ki Bagus Hadikusumo apabila ada hal yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Tantangan bagi Ki Bagus Hadikusumo dalam Muhammadiyah adalah mengawasi perilaku Jepang, karena umat Islam diperhatikan oleh pemerintahan Jepang dan diberi

(22)

kesempatan untuk ikutserta dalam politik padahal saat pemerintahan Belanda hal semacam ini tidak pernah ada (Budiyanto, 2018: 33).

Kedatangan Jepang sebenarnya memberikan penderitaan bangsa Indonesia dan merosotnya kegiatan keagamaan serta sosial karena rakyat Indonesia harus mematuhi aturan pemerintahan Jepang (Hadikusumo, 1979: 18). Ki Bagus Hadikusumo menyusun kembali organisasi dan keanggotaan Muhammadiyah supaya tidak terus menerus mengalami kemunduran (Masruri, 2005: 32).

Pemerintahan Jepang berupaya untuk menjalankan politik Japanisasi, dengan begitu Muhammadiyah dibawah kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo menekankan ajaran tauhid supaya doktrin Jepang atau Dai Nippon dapat dicegah.

Muhammadiyah membentuk suatu program mubaligh yang mengobarkan semangat tauhid, amal, dan perjuangan di seluruh Jawa dan Madura (Masruri, 2005: 33).

Jepang melakukan penindasan dengan cara mewajibkan para siswa dan pegawai negeri untuk melakukan Taisyo yang merupakan senam Jepang, menyanyikan lagu Kimigayo dan melakukan penghormatan kearah Tenno Heiko dengan cara membungkukkan badan atau Saikirei. Saikirei dilakukan seperti sedang ruku dalam gerakan sholat, oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo menentangnya karena dianggap menyimpang dari tauhid (Suhatno, 1983: 51-52).

Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo mewakili Muhammadiyah dan umat Islam lainnya, karena orang Islam dilarang melakukannya kecuali pada Allah.

Era kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo membuat Muhammadiyah menekan kembali persoalan ideologi, politik dan militer. Pemuda dianggap sebagai penerus bangsa yang mempunyai tugas membela negara. Muhammadiyah menjadi organisasi yang dapat melunakkan pemerintahan Tentara Jepang. Saat pembentukan Pembela Tanah Air (PETA), orang-orang Muhammadiyah diminta untuk menjadi pemimpin didalamnya. Abdul Hamid Ono seorang perantara dari Jepang meminta Ki Bagus Hadikusumo untuk menyerahkan anggota Muhammadiyah untuk bergabung dengan PETA (Suhatno, 1983: 53). Masa Ki Bagus Hadikusumo, para pemuda Muhammadiyah diajak oleh tentara Jepang untuk dilatih menjadi PETA. Keterlibatan anggota Muhammadiyah pada masa Jepang sangat penting, karena Jepang membutuhkan pemuda untuk melawan Sekutu.

(23)

Muhammadiyah bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sejak 1937 yang akhirnya dibubarkan oleh pemerintahan Jepang, karena organisasi ini dibentuk atas prakarsa kaum muslimin sendiri sebagai federasi organisasi- organisasi Islam (Budiyanto, 2018: 33). Pemerintahan Jepang mempunyai kekhawatiran terhadap MIAI karena para pemimpinnya adalah orang-orang yang tidak mau bekerjasama dengan pemerintahan kolonial (Bollland, 1985: 10).

Mayumi dibentuk menggantikan MIAI, pembentukan Masyumi oleh pemerintahan Jepang dianggap sebagai kesempatan untuk orang-orang Islam mencapai cita- citanya. Oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo setuju dengan adanya Masyumi, selain itu ada tokoh lain yang mendukung dibentuknya Masyumi yaitu KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan Mr. Kasman Singodimedjo (Siregar: 2013: 91).

Pada tanggal 7 Nopember 1945 seluruh organisasi Islam mengadakan kongres di gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah (Kweekschool) Yogyakarta (Suhatno, 1983: 74). Ki Bagus Hadikusumo mendapat tanggung jawab baru yaitu menjadi wakil ketua Majlis Syura di Masyumi. Tahun 1950 kembali diadakan Mukhar Partai Masyumi, dan Ki Bagus Hadikusumo terpilih menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat. Kemudian pertengahan 1950, seorang Dewan Perwakilan Rakyat dalam Partai Masyumi yaitu Kyai Haji Bunyamin meninggal dunia, Ki Bagus Hadikusumo ditunjuk untuk menggantikan posisinya (Darban, 2001; 93).

Ki Bagus Hadikusumo adalah orang yang mencetuskan Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (Budiyanto, 2018: 35). Ki Bagus Hadikusumo menyoroti pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan yang kemudian disalurkan dengan Muqadimah. Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah diharapkan dapat menjaga Muhammadiyah.

Masa jabatan Ki Bagus Hadikusumo sebagai ketua di Muhammadiyah sampai tahun 1953. Ki Bagus Hadikusumo saat mukhtar ke-32 di Purwokerto menolak untuk melanjutkan jabatannya, karena masalah kesehatan dan umurnya menginjak 62 tahun (Suhatno, 1983: 55). Ki Bagus Hadikusumo meninggalkan jabatan ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dan berpesan bahwa “janganlah Muhammadiyah dianiaya karena Muhammadiyah tidak akan mati karena aniaya

(24)

itu, bahkan penganiayaannya akan menyesal di kemudian hari” (Suhatno, 1983:

56). Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode selanjutnya yaitu tahun 1953- 1958 dilanjutkan oleh AR. Sutan Manyur.

C. Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dalam Politik

Kedatangan Jepang ke Indonesia dapat diterima dengan baik karena memberikan janji kemerdekaan. Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo berkunjung ke Jepang menghadap pemerintah Agung untuk mengucapkan rasa terimakasih karena penduduk Jawa diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pemerintahan sendiri (Pandji Poestaka, Nopember 1943).

Ki Bagus Hadikusumo sebelum berangkat ke Jepang, diberi pesan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX agar menggunakan pakaian adat khas Mataram saat di Jepang (Hadikusumo, 1979: 23-24).

Ketiga tokoh perwakilan Indonesia berangkat ke Jepang menggunakan pesawat terbang baling-baling yang dikawal oleh beberapa pesawat pemburu, pihak Jepang merasa was-was karena khawatir ditengah jalan Sekutu mengetahui rencananya dan akan mencegat pesawat (Budiyanto, 2018: 96). Akhirnya apa yang dikhawatirkan oleh Jepang tidak terjadi, para wakil dari Indonesia ini aman sampai di tempat. Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo mendapat sambutan hangat di Tokyo dan ditempatkan di hotel Imperial yang biasanya digunakan untuk tamu kenegaraan. Sesuai dengan permintaan Sri Sultan Hamengku Buwana IX, dalam setiap acara Ki Bagus Hadikusumo selalu mengenakan pakaian khas Mataram yaitu kain batik, blangkon, keris dipunggungnya dan rokok kreteknya (Hadikusumo, 1979: 24). Ketiga tokoh ini sebelum pulang ke Indonesia, di anugerahi Tenno Heiko Bintang Ratna Suci II kepada Ir. Soekarno dan Bintang Ratna Suci kelas III kepada Drs. Mohammad Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo (Budiyanto, 2018: 97).

Bertepatan dengan ulang tahun Kaisar Hirohito, pada tanggal 29 April 1945 diumumkan pula pembentukan Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan atau Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai (Suhatno, 1983: 79). Pembentukan Badan Penyelidik ini berdasarkan Maklumat Gunseikan Nomor 23 tanggal 29 April

(25)

1945, akan tetapi pelantikannya dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 dihadiri oleh wakil pemerintahan Jepang yaitu Jenderal Itagaki dan Laksamana Nagano. Dr.

K.R.T. Rajiman Wediodiningrat sebagai ketua dan jumlah anggotanya 60 orang.

Anggota Badan Penyelidik tidak hanya orang-orang Indonesia, akan tetapi ada pula orang-orang dari Jepang yang berjumlah delapan orang, salah satunya yaitu Yoshio Ichibangase seorang residen Cirebon yang dijadikan wakil ketua di Badan Penyelidik (Noer, 1987: 30).

Terdapat dua golongan yang selalu berbeda pandangan dalam Badan Penyelidik yaitu golongan nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Kedua golongan ini sama-sama menginginkan kemerdekaan Indonesia, namun golongan Nasionalis Islam dianggap mempunyai partisipasi yang kurang jika dilihat dari jumlah anggota dan partisipasi dalam berpendapat (Noer, 1987: 30). Jumlah anggota Badan Penyelidik ada 60 dan 15 diantaranya adalah golongan nasionalis Islam, mereka adalah (Noer, 1987: 31):

a. Abikusno Tjokrosujoso (dari PSII).

b. Kyai Haji Ahmad Sanusi (PUI Sukabumi).

c. Kyai Haji Abdul Halim (PUI Majalengka).

d. Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah).

e. Kyai Haji Masjkur (NU).

f. Kyai Haji Mas Mansur (Muhammadiyah).

g. Abdoel Kahar Moezakkir (Muhammadiyah).

h. Raden Rooslan Wongsokoesoemo (mantan anggota Parindra yang bergabung dengan Masyumi tahun 1945).

i. Haji Agus Salim (Penyadar).

j. Raden Sjamsudin (mantan Parindra dari PUI).

k. Sukiman (PII).

l. Kyai Haji Abdul Wahid Hasjim (NU).

m. Ny. Sunarjo Mangunpuspito (Aisyaiyah, mantan JIB).

n. Abdul Rahman Baswedan (mantan PAI).

o. Abdul Rahim Pratalykrama (residen Kediri).

Tokoh-tokoh yang bergabung dalam golongan nasionalis Islam, banyak di antaranya yang merupakan generasi tua dan pendidikannya hanya tradisional pesantren. Ki Bagus Hadikusumo adalah seorang dengan pendidikan formal sebatas Sekolah Rakyat, bukan seorang politikus bahkan tidak pernah mempelajari tentang ketatanegaraan tetapi Ki Bagus Hadikusumo bukan orang yang tidak mau berpolitik karena sejak muda juga sudah bergemelut dengan politik (Hadikusumo, 1979: 26).

(26)

Politik diartikan sebagai proses penegakan hukum kebenaran dan keadilan, oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo berani berpendapat dalam sidang-sidang Badan Penyelidik dan berargumentasi dengan tokoh nasionalis sekuler. Badan Penyelidik melakukan sidang dua kali, dengan pembagian sebagai berikut (Bahar, 1998:

xxxii):

1) Sidang pertama Badan Penyelidik tanggal 28 Mei sampai tanggal 1 Juni 1945 (Bahar, 1998: 2).

Sidang pertama membahas tentang dasar negara (Aning, 2017: 4) dan dilaksanakan di gedung Pejambon Jakarta. Dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat menyampaikan pembukaan dalam sidang untuk pertama kalinya yaitu tanggal 29 Mei 1945, jadi rapat besar dilakukan pada hari kedua karena pada tanggal 28 Mei diadakan upacara pembukaan (Aning, 2017:1-3) dengan susunan acara terlampir pada halaman 76.

Muhammad Yamin pada 29 Mei 1945 menyampaikan pendapatnya bahwa dasar negara terdiri dari Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat (Aning, 2017: 4-6). Rapat yang selanjutnya masih membicarakan mengenai dasar negara Indonesia sampai pada tanggal 1 Juni 1945. Ki Bagus Hadikusumo dalam sidang pertama mengusulkan supaya Indonesia dibangun atas dasar ajaran Islam (Syaifullah, 2015: 72), pendapat ini disampaikan pada tanggal 31 Mei 1945 pukul 15.00 WIB dengan pidatonya sebagai berikut (Bahar, 1998: 33-48):

Marilah kita kembali kepada pembicaraan semula, yaitu: Jika tuan- tuan bersungguh-sungguh menghendaki negara Indonesia mempunyai rakyat yang kuat bersatu padu berdasar persaudaraan yang erat dan kekeluargaan serta gotong-royong, di dirikanlah negara kita di atas petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits seperti yang sudah saya terangkan tadi…. maka banyak sekali hukum-hukum Islam tadi yang sudah menjadi adat-istiadat bangsa Indonesia; sehingga tidak akan salah lagi bila dikatakan bahwa hukum Islam itu sudah menjadi adat bangsa Indonesia, karena memang sudah menjadi adat-istiadat kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan dasar negara Indonesia dengan jiwa rakyatnya, tuan-tuan harus mengetahui betul-betul adanya jiwa keislaman rakyat.

(27)

Alasan Ki Bagus Hadikusumo menjadikan Islam sebagai dasar negara, karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah Islam dan hal ini didasarkan pada alasan pemahaman atas ajaran Islam. Ki Bagus Hadikusumo menganggap bahwa agama Islam memiliki nilai-nilai seperti: mengajarkan persatuan atas dasar persaudaraan yang kukuh, mementingkan perekonomian dan mengatur pertahanan negara, membangun pemerintahan yang adil dan menegakkan keadilan, tidak bertentangan bahkan sangat sesuai dengan kebangsaan, serta membentuk potensi kebangsaan lahir dan batin serta menabur semangat kemerdekaan yang menyala-nyala (Hakiem, 2013: 10). Pendapat Ki Bagus Hadikusumo mendapat penolakan dari golongan nasionalis sekuler karena menganggap urusan negara tidak dapat dicampurkan dengan urusan agama, politik merupakan hal yang kotor sedangkan agama adalah hal suci (Hadikusumo, 1979: 28).

Ir. Soekarno akhirnya menyampaikan pidatonya yang berpengaruh terhadap dasar negara yang kemudian dikenal dengan Lahirnya Pancasila (Noer, 1987: 34). Pidato Ir. Soekarno beberapa kali menyebut nama Ki Bagus Hadikusumo, seperti:

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan macam-macam, tetapi alangkah benarnya perkataan Dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham…saya katakana lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui…saya minta Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkan saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam.

Terjadi perdebatan dalam sidang pertama Badan Penyelidik, Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya bahwa ketuhanan diletakkan di sila kelima atau sila terakhir (Budiyanto, 2018: 98). Ki Bagus Hadikusumo yang seorang nasionalis Islam tidak setuju dengan pendapat Ir. Soekarno dan akhirnya ketuhanan di letakkan di sila pertama (Hakim, 1986: 9).

Menurut Ki Bagus Hadikusumo agama dapat dijadikan obat untuk menyehatkan politik yang dianggap kotor. Ki Bagus Hadikusumo

(28)

menyampaikan pidatonya dengan diawali surat Al-Fatihah dan membawa kertas kuning yang berisi teks ketikan (Suhatno, 1983: 82). Badan Penyelidik memberikan kebebasan untuk berpendapat dan pada saat itu mulai muncul pertikaian antara kalangan Islam yang ingin menegakkan ideologi Islam dan kalangan nasionalis yang netral agama (Noer, 1987: 34-35). Selain Ki Bagus Hadikusumo dan Ir. Soekarno, ada tokoh-tokoh lain juga yang menyampaikan pidatonya mengenai dasar negara seperti Prof. Supomo (Suhatno, 1983: 104- 105).

Perbedaan pendapat menyebabkan Badan Penyelidik membentuk suatu panitia kecil atau yang dikenal dengan panitia delapan. Panitia delapan mempunyai anggota antara lain Ir. Soekarno (ketua), Ki Bagus Hadikusumo, Kyai Haji Wahid Hasyim, Muhammad Yamin, M. Sutardjo Kartohadikusumo, A.A. Maramis, Otto Iskandardinata, dan Mohammad Hatta (Bahar dkk, 1995: 88). Mereka mempunyai tugas untuk mengumpulkan usul dari para anggota yang akan disampaikan dalam sidang kedua Badan Penyelidik (Hakiem, 2013: 11).

Selanjutnya dibentuk panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang yaitu Haji Agus Salim, Kyai Wahid Hasyim, Abikusno, Abdoel Kahar Moezakkir dari kalangan Islam dan Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Achmad Soebardjo, Muhammad Yamin dari kalangan nasionalis (Hadikusumo, 1979: 29).

Panitia sembilan ini menghasilkan Piagam Jakarta yang tercantum dalam Muqaddimah UUD 1945. Hasil dari rapat panitia 9 yaitu sebagai berikut (Hadikusumo, 1979: 29):

Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada:

ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syaria’at Islam bagi pemeluk- pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada saat perencanaan tersebut semua pihak setuju, begitupun A.A Maramis dengan konsep bahwa di Indonesia orang Islam berkewajiban menjalankan syariat Islam, tanpa rasa ragu ataupun merasa kaum minoritas tidak mempunyai kedudukan

(29)

penting di Indonesia. Kalangan nasionalis tidak menyetujuinya, tetapi kalangan Islam tetap kokoh pada prinsipnya (Noer, 1987: 35-36).

Suasana rapat penuh dengan perdebatan mengenai kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” karena ada beberapa orang yang tidak menyetujuinya. Ki Bagus Hadikusumo pada awalnya merasa kecewa, Kyai Sanusi mengusulkan kata “bagi pemeluk-pemeluknya”

dihapuskan, oleh karena itu Ki Bagus Hadikusumo mengusulkan supaya dihapuskan seluruhnya supaya agama tidak dicampurkan dengan politik, menurutnya lebih baik begitu daripada dikaitkan hanya setengah-setengah yang dapat menimbulkan salah pengertian dikemudian hari (Hadikusumo, 1979: 29).

Melihat Ki Bagus Hadikusumo menyatakan hal demikian, Abikusno memberikan pendapatnya kepada Ki Bagus Hadikusumo bahwa dalam rapat jikalau ada perselisihan paham sebaiknya jangan sampai di dengar oleh pihak luar. Akhirnya sidang selesai dengan keputusan kalimat tersebut tidak dipakai dalam Muqaddimah (Noer, 1987: 37).

Sebelum Muqaddimah disetujui secara penuh, ada yang menjadi permasalahan lagi yaitu kalangan Islam menginginkan kepala negara hendaknya seorang Islam dan tentu saja kalangan nasionalis serta yang beragama Kristen menolaknya (Noer, 1987: 36-37). Ir. Soekarno memberikan penjelasan kepada kalangan Islam bahwa masyarakat pasti dengan sadar akan memilih kepala negara yang beragama Islam, jadi dalam masalah kepala negara biarlah menjadi kebijakan rakyat (Syarif, 2016: 20). Alasan Ir. Soekarno ditolak oleh Wahid Hasyim, Kyai Mansyur dan Abdoel Kahar Moezakkir, oleh karena itu Ir. Soekarno menuruti kalangan Islam.

2) Sidang Badan Penyelidik yang kedua pada 10 sampai 16 Juli 1945 dengan agenda sebagai berikut (Suhatno, 1983: 82-114):

a) Sidang tanggal 10 dan 11 Juli 1945 merupakan sidang pleno.

Pada sidang tanggal 10 Juli diambil keputusan mengenai bentuk negara. Ketua Badan Penyelidik memulai dengan memperkenalkan anggota baru, yaitu Abdul Fatah Hasan, Asikin Natanegara, Soerjo Hamidjojo, Mohammad Noor, Tuan Besar, Abdul Kaffar (Bahar, 1998:

(30)

107). Ki Bagus Hadikusumo pun memberikan usulannya (Bahar, 1998:

127-128):

Tuan-tuan yang terhormat, dengan tegas, dengan pendek dan tegas, maka tentang bentuk negara Indonesia yang akan datang, dalam perkataan republic atau monarkhi, menurut pendapat saya, sudah tersembunyi setan, artinya dua buah perkataan itu bisa menimbulkan perbantahan dan perdebatan yang dahsyat dan memuncak sekali sehingga menyenangkan musuh…Tentang maksudnya saya mufakat, apalagi untuk mempercepat datangnya kemerdekaan, yang pemerintah sendiri juga sudah mengharap-harapkan dan kita minta, supaya kita segera bersatu. Hendaklah tujuannya saja diambil, dan jangan dditambahi dengan “republik” yang tidak tuan sukai.

Gambarkan saja apa yang tuan sukai yaitu bahwa Negara dikepalai oleh seorang pemimpin yang tidak turun-temurun dan dimufakati oleh rakyat, dengan pemerintah yang berdasarkan rakyat dan permusyawaratan. Adapun nama “republik” itu, dapat juga disebutkan dalam bahasa Indonesianya dengan singkat, ialah

“kedaulatan rakyat”.

Pidato Ki Bagus Hadikusumo dapat diterima oleh tokoh lainnya yang menghadiri sidang. Jumlah anggota sidang ada 64 suara dan 55 suara memilih bentuk republik, 6 suara memilih bentuk kerajaan, 2 suara memilih bentuk lain, dan 1 suara blanko.

b) Sidang tanggal 11 dan 13 Juli 1945 adalah sidang Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.

Pada sidang tanggal 11 diambil keputusan mengenai wilayah negara baru (Bahar, 1998: 166). Dari 66 suara, yang setuju daerah Hindia Belanda dahulu 19 suara, 6 suara memilih Hindia Belanda ditambah Malaya tetapi dikurangi Irian Barat, ada 39 suara yang memilih Hindia Belanda ditambah Malaya, Borneo Utara, Irian Timur, Timor Portugis dan pulau-pulau sekitarnya, 1 suara daerah lain, dan 1 suara blanko. Sidang kedua tanggal 11 Juli ketua Badan Penyelidik membentuk panitia atau Bunkakai yang disebutkan dalam pidatonya, yaitu sebagai berikut (Bahar, 1998: 224):

(1) Bagian Undang-undang Dasar: Soekarno sebagai ketua, Maramis, Oto Iskandardinata, Poerbojo, Salim, Soebardjo, Soepomo, Maria Ulfah Santoso, Wachid Hasjim, Harahap, Latuharhary, Soesanto, Sartono, Wongsonehoro, Woerjaningrat, Singgih, Tan Eng Hoa, Hoesein Djajadiningrat, Soekiman dan Tuan Miyano sebagai anggota istimewa.

(31)

(2) Bagian urusan keuangan dan perekonomian: Hatta sebagai ketua, Soeracham, Margono, Soetardjo, Samsi, Roosseno, Soerjohamidjojo, Dewantara, Koesoema Atmadja, Dassat, Oei Tiong Haw, Besar, Zainal Asikin Dahler, Yamin, Baswedan, Hadikoesoemo, Sastromoeljono, Abdul Patah Hasan, Haji Mansoer, Oei Tiang Tjoei, Wiranata Koesoema, Soewandi dan Tuan Tokonami.

(3) Bagian pembelaan: Ketua Abikoesno, anggota-anggota: Abdul Kadir, Asikin Natanegara, Bintoro, Hendro Martono, Moezakkir, Sanoesi, Moenandar, Samsoedin, Soekardjo Wirjopranoto, Soerjo, Abdul Kaffar, Maskoer, Halim, Kolopaking, Soedirman, Aris, M. Noor, Pratalykrama, Lim Koen Hian, Buntaran dan Rooslan Wongsokoesoemo, Nyonya Soenarjo masuk bagian pembelaan. Lalu sebagai anggota istimewa Tuan Tanaka

Panitia Perancang Undang-Undang Dasar pada tanggal 11 mengadakan sidang dengan bahasan tentang Pembukaan Undang-Undang Dasar, bentuk negara, pemimpin negara dan tentang warganegara. Pada sidang tanggal 13, Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar menyerahkan Rancangan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia kepada Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.

c) Sidang tanggal 14 sampai dengan 16 Juli 1945 merupakan sidang pleno.

Sidang tanggal 14 membicarakan tentang pernyataan kemerdekaan.

Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar menyerahkan rancangannya dalam sidang Badan Penyelidik dan mendapat respon dari para anggota Badan Penyelidik. Ki Bagus Hadikusumo menyatakan pendapatnya (Bahar, 1998: 264):

Di dalam segala keterangan Tuan Syusa tadi hanya satu, perkara yang kecil sekali, yang saya minta dicabut atau dihilangkan: saya menguatkan voorstel Kiyai Sanoesi dalam pembukaan di sini yang mengatakan, bahwa perkataan dengan kewajiban umat Allah swt,

“bagi pemeluk-pemeluknya”, adalah menurut keterangan Kiyai Sanoesi, tidak ada haknya dalam kata-kata Arab, dan menambah janggalnya kata-kata. Jadi, tidak ada artinya, dan hanya menambah kejanggalan, menambah perkataan yang kurang baik, menunjukkan pemecahan kita. Saya harap supaya “bagi pemeluk-pemeluknya” itu dihilangkan saja. Saya masih ragu-ragu, bahwa di Indonesia banyak perpecahan-perpecahan dan pada praktiknya maksudnya sama saja.

Itulah pendapat saya yang menguatkan permintaan Kiyai Sanoesi.

Sekianlah.

(32)

Rancangan ini dibahas dalam rapat-rapat selanjutnya yaitu tanggal 14, 15 dan akhirnya disepakati pada 16 Juli 1945 dengan kata-kata dari ketua Badan Penyelidik bahwa Preambule dan batang tubuh Undang-Undang Dasar diterima “dengan sebulat-bulatnya” (Bahar, 2013: 361).

Sidang Badan Penyelidik selesai pada 16 Juli 1945, kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945 dan terbentuk Panitia Perseiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dookuritsu Junbi Inkai pada tanggal 7 Agustus 1945 (Budiyanto, 2018:

99). PPKI beranggotakan 27 orang dengan 4 anggota dari kalangan Islam yaitu Ki Bagus Hadikusumo, K.H. A. Wahid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, Mr. T.M.

Hasan (Hakiem, 2013: 14-15). Jumlah anggota dari kalangan Islam mengalami kemerosotan, walaupun demikian mereka tetap memberikan konstribusi dalam setiap sidangnya.

Dibentuk PPKI Karena Jepang menyerah pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Awalnya Badan Penyelidik dibentuk oleh pemerintah Jepang atas janji kemerdekaannya, kemudian setelah kalah Jepang tidak dapat lagi meneruskan janjinya dan rakyat Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk memerdekaan Indonesia. Rapat PPKI pertama pada tanggal 16 Agustus 1945, dilaksanakan dirumah Laksamana Muda Maeda dan dihadiri oleh Angkatan Muda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, B.M. Diah serta golongan tua seperti Dr. Buntaran dan Semaun Bakri (Suhatno, 1983: 116). Hasil rapat pertama PPKI menghasilkan tersusunnya teks Proklamasi yang ditanda tangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta mewakili bangsa Indonesia.

PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 mengadakan sidang di Pejambon dan sebelum sidang banyak yang mengusulkan tentang klausul tujuh kata dalam Piagam Jakarta untuk dihapuskan. Tentu saja hal ini dapat menjadi perdebatan hebat, karena kalangan Islam tidak akan menyetujuinya. Pada saat itu ada seorang yang beragama non Islam menyampaikan pesannya kepada Mohammad Hatta bahwa kalimat tersebut diskriminasi terhadap kaum minoritas, dan jikalau tetap dipakai maka mereka akan membuat negara sendiri. Mendengar ancaman seperti itu membuat Ir.

Soekarno meminta kepada Mohammad Hatta untuk membicarakan hal tersebut kepada Ki Bagus Hadikusumo (Hakiem, 2013: 16-17). Sebelum sidang PPKI

Referensi

Dokumen terkait

Untuk kurva proporsional, data yang digunakan adalah data plot sementara, dengan mengasumsikan bahwa semua kualitas tempat tumbuh telah tersebar secara merata pada tiap umur

Fungsi produksi yang menunjukkan fully efficient firm (perusahaan yang efisiens penuh) SS ` secara praktik tidak diketahui. Oleh sebab itu , perlu diestimasi melalui

Dari perbandingan kedua sistem tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem tertutup dengan menggunakan tungku kupola jelas mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan

Penelitian Yaser Mansour Almansour, 2012, menjelaskan bahwa variabel TQM yaitu; 1) Komitmen pada kualitas; 2) Keterlibatan karyawan; 3) Fokus pada pelanggan; 4)

TIU:M AHASISWA MAMPU MENERAPKAN ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL NORMAL DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN , DENGAN BERTITIK TOLAK DARI PERUBAHAN - PERUBAHAN BIOFISIK

Jumla h Halam an Nasional/ Internasi onal Pener bit Sebag ai Penuli s Utama (Ketua / Anggo ta) Bukti Penulisa n (Cover Buku). PENGALAMAN ORAL SEMINAR ILMIAH SEBAGAI PEMBICARA

Astra Internasional Tbk pada tahun 2005-2006 dari hasil saham prioritas per lembar dan saham biasa per lembar yang akan diterima para pemegang sahamnya. Untuk itu penulis

dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan laba yang ditahan, perubahan modal sendiri, dan laba yang ditahan, perubahan