Pesantren
Setelah dianggap cukup menimba ilmu untuk kedua kalinya di Mekkah, K.H.R Syamsul Arifin kembali lagi ke Kembang Kuning. Bagi As’ad kedatangan sang ayah kali ini merupakan momentum yang sangat penting untuk menceritakan
pengalamannya, baik yang berhubungan dengan peristiwa pembakaran hutan di Desa Sumberejo lokasi yang telah dijajaki As’ad untuk membangun pesantren, maupun terkait pesan Habib al-Musawa yang terus melekat pada pikirannya.
Setelah mendengarkan cerita putranya itu, K.H.R Syamsul Arifin segera bertolak menuju Situbondo. Pada perantauan kedua kalinya ini, K.H.R Syamsul Arifin bersama putranya As’ad yang kelak menjadi kiai karismatik bernama K.H.R As’ad Syamsul Arifin langsung menyeberang menuju pulau jawa bagian timur itu. Setibanya di Situbondo, K.H.R Syamsul Arifin langsung menuju kediaman Kiai Sambi yang berada di lingkungan Pesantren Kesambirampak . Setelah itu, mereka bersilaturrahmi ke Kiai Nahrawi, Penghulu Situbondo. Di rumah penghulu itu, K.H.R Syamsul Arifin kembali bertemu Habib Asadullah yang dulu pernah menyarankan kembali lagi ke mekkah dan juga bertemu dengan Habib Hasan al-Musawa yang pernah ditemui oleh As’ad muda.
Dalam pertemuan itu, kedua tokoh tersebut kembali mengatakan bahwa sudah saatnya K.H.R Syamsul Arifin membangun Pondok Pesantren sendiri. Jika K.H.R Syamsul Arifin berminat, maka kedua tokoh itu pun bersedia menunjukkan lokasi yang tepat. Mendengar tawaran itu, K.H.R Syamsul Arifin langsung setuju. Namun, baik Habib Asadullah maupun Habib al-Musawa menyarankan agar K.H.R Syamsul Arifin dan As’ad bersilaturahmi dulu kepada Kiai Abdul Alim yang tinggal di wilayah Banyuputih. Saran itu pun diturutinya.
Tiba di Banyuputih, K.H.R Syamsul Arifin agak terkejut pasalnya, apa yang pernah dikatakan gurunya di Makkah ternyata betul. Kala itu sang guru menuturkan “suatu ketika kamu (Syamsul) akan bertemu seorang alim yang
sedang bertapa, dan itu tanda bahwa kamu (Syamsul) sudah saatnya mendirikan pondok pesantren untuk mengembangkan ajaran islam”.
Terbukti, ia bertemu Kiai Abdul Alim tidak di sebuah rumah, tapi justru di sebuah gua karena dia sedang bertapa. K.H.R Syamsul Arifin segera teringat pesan kedua habib, jika sudah sampai di tempat Kiai Abdul Alim sebaiknya sabar menunggu. K.H.R Syamsul Arifin dan As’ad pun kemudian menunggu di mulut gua.
Tak lama kemudian, kedua Habib tadi datang menyusul. Lalu mengajaknya berjalan ke arah timur menuju hutan belukar di wilayah desa Sumberejo. Ketika memasuki kawasan tengah hutan yang banyak kolamnya, mereka dihadang dua ekor harimau putih. Tentu saja, K.H.R Syamsul Arifin dan As’ad merasa takut. Namun, kedua Habib itu ternyata tenang-tenang saja. Mereka malah bergerak mendekati kedua harimau itu dan berkata, minggir dulu, kami akan lewat. Kedua harimau putih itu pun pergi meninggalkan mereka. Gangguan serupa datang lagi sebelum sampai ketempat tujuan, tetapi selalu bisa diatasi dengan mudah oleh kedua Habib tersebut. Akhirnya sampailah pada sebuah kolam di tengah hutan. Disinilah, kedua Habib itu menancapkan tongkat sembari berkata kepada K.H.R Syamsul Arifin “Disinilah tempat yang baik untuk kamu”. Lokasi itu, tidak begitu jauh dari hutan yang telah dibabat oleh Kiai As’ad ketika merantau ke tanah jawa untuk pertama kalinya.
F. Kisah Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin Ketika Menimba Ilmu di Pondok Pesantren hingga Tanah Suci Mekkah
Sejak muda KH. As’ad adalah pencinta ilmu, rentetan Ulama dan Kiai terkemuka dari dalam dan luar negeri membina beliau. Pengalaman belajar dari berbagai guru inilah yang kelak membentuk karakter kuat dan ketangguhan diri K.H.R As’ad Syamsul Arifin.
Ketika As’ad muda berusia 16 tahun, ia di kirim ke Mekkah oleh ayahnya untuk bersekolah di Madrasah Shaulatiyah Mekkah. Belajar ilmu nahwu dan bahasa Arab berguru kepada Syaikh Hasan al-Massad, belajar tauhid dan fiqh kepada Sayyid Muhamad Amin Qutby, belajar bahasa Arab kepada Sayyid Hasan Al-Yaman, belajar ilmu tasawuf kepada Sayyid Abbas Al-Maliki, belajar tafsir kepada Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki. Setibanya di tanah air As’ad muda masih harus berkelana di beberapa pondok pesantren antara lain Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan
dibawa bimbingan Kiai Haji Nawawi, Pondok Pesantren Buduran Panji Sidoarjo dibawa bimbingan Kiai Haji Khozin, Pondok Pesantren Demangan Bangkalan dibawa bimbingan Kiai Haji Moh. Kholil bin Abdul Latif, Pondok Pesantren
Tebuireng Jombang dibawa asuhan Kiai Haji Hasyim Asy’ari.
Pada saat As’ad menimba ilmu kepada beberapa ulama’, As’ad muda terkenal dengan karakter santri yang patuh pada gurunya. Setiap perintah dari sang
guru selalu As’ad lakukan dengan sepenuh hati. As’ad juga tidak pernah mengeluh pada saat menuntut ilmu, ia cenderung menyelesaikan hafalan kitabnya dengan senang dan riang hati. Kehidupan As’ad di pondok pesantren juga sangat sederhana, misalnya saja As’ad menggunakan keranjang untuk menyimpan pakaiannya, padahal sang ayah K.H.R Syamsul Arifin telah memberikan koper yang bagus untuk As’ad sebagai tempat menyimpan pakaiannya. Namun pemberian itu tidak digunakannya, As’ad lebih memilih keranjang biasa sebagai tempat pakaiannya.
As’ad muda tergolong santri yang cepat menghafal banyak kitab, ketekunannya dalam membaca banyak kitab juga semakin mempermudah As’ad menghafal isi kitab-kitabnya. Selain sebagai santri yang tekun belajar dan sangat haus akan ilmu pengetahuan, As’ad juga dikenal dengan santri yang sangat mandiri.
Karakter santri mandiri itu tercermin dari karakter As’ad yang tidak mau merepotkan orang tuanya ketika meminta uang saku. Selama As’ad masih menjadi seorang santri, ia juga menjual beberapa bahan rumah tangga. Seperti yang sudah ditulis pada paragraf sebelumnya bahwa kebiasaan As’ad muda yang menjual rampan ketika sedang mengembara juga terus berlanjut ketika As’ad kembali menjadi seorang santri.
Sikap Sabar, Giat dan patuh terhadap kiai sangat nampak pada diri As’ad muda. Ketaatan pada sang guru tercermin dari perilaku As’ad muda yang senantiasa mengerjakan tugas dari sang guru dengan sangat baik. Beberapa kisah lainnya As’ad juga sering sekali membantu untuk mengumpulkan kayu bakar guna keperluan pondok, serta tugas-tugas lainnya yang telah dibagi dan As’ad mendapat tugas itu. Tunduk dan kepatuhan As’ad juga sangat nampak dari amanah yang di titipkan oleh KH. Holil Bangkalan (sang guru) kepadanya
berupa sebuah Tongkat dan Tasbih untuk di serahkan pada KH. Hasyim Asy’ari.
Dalam perjalanan mengantarkan Tongkat dan Tasbih yang diantarkan secara bergantian itu, As’ad muda tidak berbicara sepanjang perjalanan hingga sampai di kediaman KH. Hasyim Asy’ari. Demikian pula ketika mengantarkan Tasbih, As’ad tidak berani memegang Tasbih itu. As’ad menganggap barang itu adalah milik orang lain yang berarti bukan miliknya, sehingga ia sangat menjaga barang itu sebagai wujud kepatuhan dan sikap amanah yang tercermin dari diri As’ad muda.
Kejujuran, sikap rendah hati, mandiri, dan giat dalam menuntut ilmu pada saat pengembaraan As’ad muda itulah yang melatarbelakangi dan mempengaruhi kepribadian beliau. Misalnya dalam hal perjuangan Kiai As’ad meneladani Kiai Hasyim Asy’ari, sedangkan ahklak beliau meneladani Kiai Holil Bangkalan.
Adapun dzikir beliau meneladani Kiai Jazuli Pamekasan, dan dalam hal keilmuan beliau berguru kepada Kiai Khozin Sidoarjo.
Masa Perjuangan Kh. As’ad Syamsul Arifin
A. Perjuangan Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin Mengikuti Jejak Sang Ayah
Perjuangan K.H.R As’ad Syamsul Arifin atau yang lebih dikenal dengan Kiai As’ad sangat nyata dan sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya di daerah tapal kuda terlebih kabupaten Situbondo. Kecintaan terhadap Negara dan Bangsa tidak dapat diragukan lagi. Dalam menanamkan kecintaannya terhadap tanah air dan bangsa, Kiai As’ad mengimplementasikan ide, gagasan, dan gerakan perjuangan melalui barisan kepemudaan dan kemasyarakatan secara umum. Sebuah gerakan nyata yang digagas Kiai As’ad, yang mengikuti jejak sang ayah yaitu Kiai Syamsul Arifin adalah gerakan perjuangan kemasyarakatan bernama pelopor. Pelopor dirintis oleh Kiai Syamsul Arifin pada zaman penjajahan Hindia Belanda, jauh sebelum Jepang masuk ke Indonesia. Pelopor merupakan wadah masyarakat dan pemuda yang dibina pesantren Sukorejo untuk dakwah dan perjuangan.
B. Peran Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin Dalam Pelucutan Sisa Pasukan Jepang
Pada tahun 1943, Kiai As’ad mengembangkan barisan pelopor. Jika sebelumnya anggota barisan tersebut berkiprah dalam bidang dakwah dan syiar islam di kampung-kampung, maka saat Ini dikembangkan dalam perjuangan, terutama dalam rangka mengusir penjajah. Barisan ini juga mendorong masyarakat secara umum untuk ikut dalam barisan Hizbullah dan Sabililah. Hizbullah adalah laskar santri, sedangkan Sabilillah adalah laskar kiai yang mengawasi Hisbullah agar tidak menyimpang.
Anggota pelopor (gerilyawan) menyebar ke seluruh daerah karesidenan Besuki, terutama daerah basis masyarakat Madura. Misalnya Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi. Anggota gerilyawan ini juga banyak berada diluar karesidenan Besuki misalnya Lumajang, Surabaya, dan Madura. Karena itu jumlah anggota gerilyawan ini sangat banyak hingga berjumlah kurang lebih 30.000 orang.
Wadah pejuang Hizbullah dan Sabilillah yang telah berdiri, segera diikuti oleh masyarakat secara luas dan Kiai As’ad menjadi komando laskar Sabillah di karesidenan Basuki pada tahun 1943. Pada tanggal 22 Oktober 1945 diadakan pertemuan para Kiai dan Laskar Pejuang yang telah bersepakat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pasukan Belanda yang akan menjajah lagi. Kiai As’ad termasuk salah seorang Kiai yang menghadiri pertemuan tersebut. Setelah itu Kiai As’ad dan salah seorang kepercayaannya melakukan sosialisasi berdasar keputusan yang telah disepakati dalam pertemuan. Beliau segera menuju pulau Madura untuk menyampaikan hasil keputusan musyawarah Kiai dan para pejuang, Kiai As’ad langsung menuju
Pondok pesantren untuk bertemu para Kiai dan Santri. Setelah kembalinya Kiai As’ad menghimpun pasukan pemuda, maka dilakukanlah gerakan untuk pertama kalinya. Masyarakat, Santri dan Pemuda dilatih untuk menghadapi Belanda yang telah merencanakan untuk datang dan menjajah Indonesia lagi.
Langkah pertama yang dilakukan Kiai As’ad yaitu memimpin pelucutan pasukan Jepang di Garahan kabupaten Jember pada akhir Oktober hingga awal November 1945. Dalam sebuah gedung perdebatan antara para pejuang dan tentara jepang semakin memanas, masing-masing pihak mempertahankan argumentasi dan bersikukuh dengan pendiriannya. Para pejuang yang hadir lantas berteriak “Negeri ini milik kami bukan milik Gubernur, bukan milik Presiden apalagi milik Jepang, kalian harus meninggalkan negeri ini” Ucap Kiai As’ad sambil menggebrak meja dihadapannya. Pemimpin Jepang bercucuran keringat dingin tampak sangat ketakutan, keangkuhan pasukan Jepang tersebut dapat ditaklukkan dengan gertakan Kiai As’ad Syamsul Arifin.
Ilustrasi : Tentara Jepang yang Telah Menyerah
Diluar gedung pertemuan itu, beberapa ribu orang berkumpul, Mereka bergerombol sambil membawa senjata tradisional. Masyarakat yang berkumpul
sudah tidak tahan lagi, ingin menangkap tentara Jepang yang tersisa. Tentara Jepang takut dan tidak berani menegur. Para tentara Jepang yang beberapa bulan lalu amat gagah, sekarang berjalan lunglai, apalagi saat digiring naik truk ke Stasiun Balung Tutul. Mereka hanya diperkenankan membawa pakaian dan makanan.
Setelah peristiwa pelucutan tentara jepang, perjuangan K.H.R As’ad terus berlanjut. Kali ini berperan dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Saat itu situasi di kota Surabaya cukup memanas. Ketegangan ini berawal saat pendaratan 6.000 tentara Inggris di Tanjung Perak, yang dipimpin oleh AWS Mallaby pada tanggal 25 Oktober 1945. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya oleh para pejuang, kedatangan tentara Inggris ini cepat mendapat respon dan reaksi keras dari para pejuang.
Perlawanan para pejuang atas kedatangan pasukan Inggris itu mencapai puncaknya ketika AWS Mallaby gugur dalam sebuah pertempuran pada tanggal 30 Oktober 1945. Kemudian pada tanggal 1 November 1945 terdapat 1500 pasukan Inggris yang mendarat secara diam-diam di Surabaya yang
Ilustrasi : Kedatangan Pasukan Inggris di Surabaya
selanjutnya disusul oleh 24.000 prajurit dengan persenjataan lengkap, Tank, Meriam dan Pesawat tempur
C. Perjuangan Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin dalam Pertempuran 10 November
Pada pagi hari tanggal 10 November 1945, Tentara Inggris mulai mengadakan penyerangan dan pengeboman. Kota Surabaya digempur dari laut, darat dan udara.
Maka pecahlah perang antara rakyat Surabaya dan tentara sekutu. Korban berjatuhan, dan Kota Surabaya bisa dikalahkan setelah diadakan pertempuran sengit selama 3 minggu. Padahal dalam perkiraan panglima tentara Inggris, Surabaya akan dapat dikalahkan hanya selama beberapa hari.
Mendengar pertempuran di Surabaya yang begitu dahsyat Kiai As’ad mengirim anggota Gerilyawan, Pasukan Hizbullah dan Sabilillah dari Situbondo. Komando pasukan tersebut berada di tangan Kiai As’ad Syamsul arifin. Pasukan Gerilyawan dan Sabilillah dari Situbondo ini juga bergabung dengan laskar Hizbullah sebagai garda terdepan saat pertempuran. Para pasukan dikirim menuju Tanjung Perak dan kemudian bertempur hebat di Jembatan Merah.
Pengikut Kiai As’ad yang berasal dari Bondowoso juga langsung menuju Tanjung perak kemudian membantu para pejuang yang telah bertempur di
Ilustrasi : Pertempuran 10 November di Surabaya
Jembatan Merah itu. Kiai As’ad terlibat aktif memimpin pertempuran di Surabaya.
Dalam pertempuran itu para Kiai bermarkas di rumah Kiai Yasin jalan Blauran No. 4/25.
Di rumah itu berkumpul para Kiai diantaranya Kiai Ghufron, Kiai Ridwan, Kiai Ali, Kiai Muhammad Sedayu, Kiai Maksum, Kiai Mahrus Ali Kediri dan beberapa Kiai lainnya. Para Kiai inilah yang memompa semangat para anggota pasukan Gerilyawan, Hizbullah dan Sabilillah serta para pejuang lainnya.
Selama berhari- hari para pejuang melawan pasukan sekutu, sementara itu Kiai As’ad menuju Gedangan Sidoarjo, untuk menyusun strategi kembali.
Pasukan bantuan yang berasal dari Situbondo segera berangkat. Pasukan bantuan itu merupakan Gerilyawan dan Sabilillah, mereka menuju Sidoarjo menggunakan kereta api melalui Stasiun Sumber kolak. Peran Kiai As’ad memimpin pertempuran Surabaya hingga usai.
D. Perjuangan Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin dalam Memimpin Perlawanan Grilya
Kiprah Kiai As’ad Syamsul Arifin dalam perjuangan fisik kembali berlanjut dalam memimpin perang gerilya di karesidenan Besuki. Suatu hari setelah Agresi militer Belanda I pada tahun 1947 Kiai As’ad bersama para gerilyawan mengadakan perjalanan mengambil senjata dan amunisi di daerah Dabasah Kabupaten Bondowoso.
Ilustrasi : Musyawarah Para Kiai Dalam Menyusun Strategi
Pada Agresi militer Belanda I, pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melakukan penyerangan, dengan sasaran sudut timur daerah Malang dan Besuki. Untuk melaksanakan operasi militer yang disebut operasi “Product Zuid”. Operasi tersebut dipimpin oleh Jenderal Mayor dan Mr. De Bruyne sebagai panglima divisi A. Mereka menugaskan Brigadir Marinir yang dipimpin Kolonel Marinir W.A.J. Roelofsen. Jika dilihat dari nama operasi dan daerah sasaran, menunjukkan tujuan operasi itu memang untuk menguasai hasil pertanian dan perkebunan. Sedangkan di daerah Malang dan Besuki, memang merupakan gudang beras dan hasil perkebunan. Operasi ini didahului dengan pendaratan pasukan di Pasir Putih Situbondo dan di teluk Meneng Banyuwangi. Lalu bergerak menuju kota-kota di daerah Besuki, Bondowoso, Jember, dan Lumajang. Selain menguasai daerah timur, ada pula pasukan yang bergerak dari Pasir Putih menuju arah Probolinggo sampai Pasuruan, lalu bertemu dengan pasukan yang berasal dari Surabaya menuju Malang.
Setelah Belanda mendaratkan pasukan di daerah Pasir Putih Situbondo, Kiai As’ad menyuruh Kiai Chudlori (salah seorang pengurus pesantren), untuk menulis surat. Surat tersebut antara lain, berisi berita tentang penyerangan oleh tentara Belanda. Surat itu dikirim kepada beberapa Kiai dan tokoh
Foto : Pendaratan Pasukan Belanda di pasir putih Situbondo Strategi
gerilyawan di daerah karesidenan Besuki, terutama di daerah Bondowoso dan Jember. Kepada para kiai, Kiai as’ad menghimbau untuk membekali beberapa pemuda di desanya dengan keterampilan mempertahankan diri jika sewaktu waktu ada penyerangan dari pihak Belanda.
Hanya beberapa hari setelah pendaratan, pasukan Belanda di Pasir Putih dan Pantai Meneng Banyuwangi, seluruh daerah karesidenan Besuki berhasil diduduki Belanda. Namun tentara Belanda tidak berhasil masuk ke wilayah timur Situbondo.
E. Kembalinya Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin ke Pondok Pesantren Sukorejo
Penguasaan daerah-daerah di timur Pulau Jawa ini membuat para pejuang berkumpul di Pesantren Sukorejo. Pesantren Sukorejo memang menjadi tempat yang relatif aman untuk berkumpulnya para pejuang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Lokasi pesantren yang berada di tengah hutan menjadi tempat yang strategis untuk mengumpulkan kekuatan. Di Sukorejo mereka dilatih, digembleng jiwa dan rohaninya.
Peta Regional Tapal Kuda
Ilustrasi : Pejuang yang Sedang Berlatih Mengantisipasi Penyerangan Oleh Tentara Belanda
Banyak pejuang dari Madura, Probolinggo, Besuki, Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi yang bergabung di Sukorejo. Di antaranya adalah Mayor Rasyid, Letnan Zainuddin, Letnan Madjid, Letnan Dua Abuyamin, Kolonel Chandra Hasan, Kiai Rahbini Sumenep, Kiai Sulton Mahmud Nahrowi, Kiai Junaidi Asmuni pendiri Pesantren Bustanul Makmur Kebun Rejo Banyuwangi, Kiai Haji Raden Bakir Abdul Majid pendiri Pesantren An-Nur Kalibaru Banyuwangi, Lora Khozin Ilyas Guluk-Guluk, Lora Jufri Madura, Kiai Zaini Mun’im dari Madura pendiri pesantren Nurul jadid Paiton, Probolinggo, dan ratusan para pejuang lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang berlindung di Pesantren Sukorejo. Mereka menyamar menjadi santri. Selain itu kesatuan macan putih dari Banyuwangi yang telah melakukan pertempuran dengan pasukan Belanda juga bergabung dengan pejuang lainnya di Pondok Pesantren Sukorejo.
Kiai As’ad menerima dengan tangan terbuka setiap pejuang yang ingin bergabung di Pondok Pesantren Sukorejo. Kiai As’ad menggerakkan pasukan gerilyawan untuk mengumpulkan logistik dalam waktu singkat. Pengumpulan logistik berupa bahan makanan dapat terkumpul dengan cepat dan kemudian dibagikan kepada para pejuang yang berada di Pondok Pesantren tak terkecuali
di kirimkan juga untuk para pejuang yang bergerilya di dalam Hutan. Selain mendapat bantuan dari masyarakat Kiai As’ad juga menyiapkan bahan makanan untuk para pejuang setiap harinya. Setiap hari Kiai As’ad memotong dua ekor sapi untuk lauk para pejuang hingga jumlahnya mencapai 480 ekor sapi.
F. Perjuangan Kiai Haji Raden (K.H.R) As’ad Syamsul Arifin dalam Pengambilan Senjata Milik Penjajah
Dalam upaya menghadapi pasukan Belanda Kiai As’ad beserta para pejuang merencanakan siasat untuk
mengambil persenjataan Belanda yang berada di kabupaten Bondowoso.
Para pejuang berencana menuju gudang Mesiu dengan menyusuri hutan dan gunung, mereka
meneguhkan hati untuk berangkat seusai sholat subuh. Kiai As’ad memandangi para pejuang satu per satu. Beliau senantiasa mewanti wanti untuk merahasiakan rencana ini, sebab banyak sekali mata-mata Belanda yang terus mengawasi mereka.
Para pejuang yang telah siap, segera melangkah menuju gerbang luar pondok kemudian bunyi dentuman terdengar di angkasa. Terlihat api berkobar dari ekor pesawat yang terus berputar- putar, pesawat itu sepertinya menuju pantai yang berada tidak jauh dari pondok pesantren Sukorejo. Para gerilyawan terheran heran melihatnya tidak berapa lama terdengar ledakan di atas pondok
Ilustrasi : Keberangkatan Kh As’ad Syamsul Arifin
Menuju Gudang Senjata di Bondowoso
pesantren, rupanya pesawat itu tengah menjatuhkan bom di Pondok Pesantren, namun terlebih dahulu meledak di udara. Orang–orang yang menyaksikan itu terpana, sontak seisi pondok pesantren ribut. Mereka berlarian hendak mengetahui kondisi pesawat yang jatuh akibat bom itu. Para pengurus pondok pesantren menenangkan para santri, sementara Kiai As’ad beserta pasukan gerilyawannya melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan itu Kiai As’ad menunggangi kuda putih kesayangannya. Kuda putih itu tak tampak lelah meskipun telah berjalan jauh dengan medan berliku, berbatu, dan menanjak.
Memasuki perbatasan desa Bayeman Kiai As’ad memilih untuk berjalan kaki karena jalan semakin sulit. Kuda putih beliau dititipkan pada salah seorang pejuang untuk diantarkan pulang ke Sukorejo. Sepanjang perjalanan Kiai As’ad berpenampilan layaknya rakyat jelata. Sehingga, tak seorang pun warga yang mengenal Kiai As’ad saat berpapasan di jalan. Di desa Bayeman itu, Kiai As’ad memerintahkan untuk beristirahat sejenak di sebuah pasar. Tak berapa lama ketika Kiai As’ad melanjutkan perjalanan tiba-tiba seorang remaja berlari dan mendekat. Remaja itu menggambarkan bahwa pasukan Belanda yang mendarat di teluk Meneng Banyuwangi juga sedang menuju gudang senjata di Bondowoso. Belanda hendak menangkap gerilyawan melalui jalur belakang, mereka telah berhasil melewati para pejuang yang mencoba menahannya.
Menurut remaja itu banyak penduduk yang ketakutan dan mengungsi ketempat yang aman. Setelah melewati desa Bayeman, jalan semakin sulit dilalui.
Nampak rumah penduduk yang sangat sederhana terbuat dari bambu sangat
Nampak rumah penduduk yang sangat sederhana terbuat dari bambu sangat