VII. KEJADIAN DAN TRANSAKSI PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN . 45
16. Perkara Hukum Yang Dihadapi Perseroan, Entitas Anak, Dewan Komisaris,
Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan tidak sedang terlibat dan/atau tercatat dalam suatu perkara perdata, pidana, kepailitan, arbitrase, tata usaha negara maupun perburuhan, kecuali atas perkara-perkara sebagai berikut:
No. Perkara Kedudukan
Emiten Nilai Tuntutan Materiil/Perkara
(dalam Rupiah atau ditentukan lain) Keterangan 1. Perkara No.
498/XII/ARB-BANI/2012 antara PT Waskita Karya Divisi II (“Pemohon”) melawan Dipl. Ing. John Wirawan selaku Pribadi maupun selaku Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari (“Termohon”).
Pemohon Rp.1.485.088.600,00 (satu miliar empat ratus delapan puluh lima juta delapan puluh delapan ribu enam ratus Rupiah)yang merupakan hak Pemohon terkait Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan (SPPP) Sub Pelaksana Konstruksi Proyek Tol Semarang-Bawen Seksi III, No.: 14/
SPPP/WK/D. II/2012 tanggal 14 Maret 2012.
BANI dalam amar putusannya
memerintahkan Termohon mengembalikan Uang Muka sebesar
Rp.742.544.300,00 (tujuh ratus empat puluh dua juta lima ratus empat puluh empat tiga ratus Rupiah). Termohon mengajukan Pembatalan putusan BANI ke Pengadilan Negeri Semarang.
Tanggal 23 Januari 2014 Pengadilan Negeri Semarang mengeluarkan amar menolak seluruh permohonan termohon.
Termohon mengajukan kasasi, saat ini masih menunggu Putusan Kasasi dari Mahkamah Agung.
2. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga adanya persekongkolan horinzontal dan vertikal pada Proyek Pembangunan Gedung Perawatan dan Pelayanan Kelas I dan VIP Rumah Sakit Sulawesi Tenggara antara Panitia (Terlapor I), PT Waskita Karya (Persero) (Terlapor II), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (Terlapor III) dalam register KPPU No 04/KPPU-L/2012.
Pelapor Putusan KPPU menyatakan bahwa Telapor I (PT. Waskita Karya ( Persero) Tbk)) untuk membayar denda sebesar Rp.3.168.820.000,00 (tiga miliar seratus enam puluh delapan juta delapan ratus dua puluh ribu Rupiah) dan menghukum Terlapor II membayar denda sebesar Rp.4.475.525.000,00 (empat miliar empat ratus tujuh puluh lima juta lima ratus dua puluh lima ribu Rupiah).
KPPU memutuskan bahwa Terlapor, Terlapor II dan Terlapor II terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan menghukum Terlapor I membayar denda sebesar Rp.3.168.820.000,00 (tiga miliar seratus enam puluh delapan juta delapan ratus dua puluh ribu Rupiah) dan menghukum Terlapor II membayar denda sebesar Rp.4.475.525.000,00 (empat miliar empat ratus tujuh puluh lima juta lima ratus dua puluh lima ribu Rupiah). Para Terlapor mengajukan keberatan atas Putusan KPPU No. 04/KPPU-L/2012 pada tanggal 10 Mei 2013.
Fatwa Mahkamah Agung No. 01/Pen/
Pdt.Sus/2014 tanggal 1 April 2014 yang menunjuk dan menetapkan Pengadilan Negeri Jakarta Timur untuk memeriksa dan memutus keberatan yang diajukan oleh PT. Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT. Adhi Karya (Persero) Tbk terhadap Putusan KPPU No. 04/KPPU-L/2012 pada tanggal 10 Mei 2013, dengan No Perkara01/Pdt.KPPU/2013/PN.Jkt.Tim yang mana pihak Termohon adalah KPPU, Panitia Pengadaan Barang/Jasa APBD Lingkup Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Anggaran 2011 (“Turut Termohon I”), dan PT. Adhi Karya (Persero) Tbk (“Turut Termohon II”).
Telah dikeluarkan Putusan Keberatan terhadap Putusan KPPU tanggal 21 Mei 2015 dengan Putusan Menyatakan Batal demi Hukum Putusan KPPU No.
04/KPPU-L/2012 Tanggal 26 April 2012 dengan segala akibat hukumnya. Sampai saat ini masih menunggu upaya hukum dari Terlapor.
No. Perkara Kedudukan
Emiten Nilai Tuntutan Materiil/Perkara
(dalam Rupiah atau ditentukan lain) Keterangan 3. Perkara No. 208/Pdt.G/2012/
PN.Jkt.Tim antara PT Albok Boiler Industri (“Penggugat”)
Tergugat Atas pemutusan kontrak pekerjaan olehTergugat terhadap Penggugat pada Proyek PLTU Malinau 2x3 MW,Total Kerugian Materil sebesar Rp.22.807.555.500,00 (dua puluh dua miliar delapan ratus tujuh juta lima ratus lima puluh lima ribu lima ratus Rupiah). Total Kerugian moril sebesar Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh miliar Rupiah) sehubungan dengan Proyek PLTU Malinau 2x3 MW.
Pada Pengadilan tingkat pertama, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam putusannya menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Timur tidak berwenang secara mutlak (absolut) untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut. Pada Pengadilan Tinggi, Majelis Hakim menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Hingga saat ini masih menungguputusan Kasasi dari Mahkamah Agung RI.
4 Perkara Pengadilan Negri Lubuk Pakam No.: 15/
PDT.G/2014/PN-LP antara PT. Waskita Karya (Persero) Tbk. dan Yasa Patria Perkasa (“Penggugat”) melawan Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru (“Tergugat”).
Penggugat Rp.168.471.023.440,00 (seratus enam puluh delapan miliar empat ratus tujuh puluh satu juta dua puluh tiga ribu empat ratus empat puluh Rupiah) ditambah bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulannya yang merupakan ganti rugi materiil maupun immaterial sehubungan dengan Pekerjaan Tanah Tahap III, Perbaikan Tanah dan Aeronautical Pavement Runway Pembangunan Bandar Udara Medan Baru.
Berkaitan tentang wanprestasi yang dilakukan tergugat terkait pembayaran penyesuaian harga (eskalasi), pembiayaan biaya Pajak Galian C, pembayaran biaya percepatan dan kerugian perhitungan bunga pada Proyek Paket Jasa Pemborongan Pekerjan Tanah Tahap III, Perbaikan Tanah dan Aeronautical Pavement Runway Pembangunan Bandar UDara Medan Baru (Paket 4) yang mengakibatkan kerugian materiel dan immateriel sejumlah Rp.168.471.023.440,00 (seratus enam puluh delapan miliar empat ratus tujuh puluh satu juta dua puluh tiga ribu empat ratus empat puluh Rupiah). Putusan PN Lubuk Pakam tanggal 23 Oktober 2014 yang mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian yaitu menghukum Tergugat membayar Rp. 97.383.218.000,- (sembilan tujuh Miliar tiga ratus delapan puluh tiga juta dua ratus delapan belas ribu rupiah).
Bahwa Tergugat telah mengajukan Permohonan Banding pada tanggal 9 Desember 2014, dan posisi saat ini adalah proses menunggu Putusan Pengadilan Tinggi.
No. Perkara Kedudukan
Emiten Nilai Tuntutan Materiil/Perkara
(dalam Rupiah atau ditentukan lain) Keterangan 5. Perkara No. 16/PDT.G/2014/
PN.LBB antara PT. Waskita Karya (Persero) Tbk (“Penggugat”) melawan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kabupaten Agam (“Tergugat”).
Penggugat Rp. 2.150.080.000,- (Dua miliar seratus lima puluh juta delapan puluh ribu Rupiah) terkait hak pembayaran Sisa Termin atas Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak Tahun Jamak) No.
04/SC/PRP/DPUK-AG/XI/2007, yang dibuat antara Pemohon dengan Termohon tanggal 19 November 2007 serta Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (Dwangsom) kepada peggugat sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap hari apabila Tergugat lalai atau terlambat dalam melaksanakan putusan ini, terhitung sejak perkara a quo mempunyai kekuatan hukum tetap;
Tanggal 12 Agustus 2010 BANI mengeluarkan Pendapat yang mengikat (Binding Opinion) mengenai masalah aspek kontraktual tentang Pemblokiran Termijn Kontraktor atas Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI (Badan Pengawasa Keuangan Republik Indonesia) Perwakilan Propinsi Sumatera Barat pada Pekerjaan Pembangunan Sport Centre Bukik Bunian Lubuk Basung Kabupaten Agam Tahun Anggaran 2007 yang diajukan oleh PT. Waskita Karya (Persero) dengan kesimpulan Bahwa Dana sebesar Rp 2,150,080,000 (dua miliar seratus lima puluh juta delapan puluh ribu rupiah) yang selama ini ditahan adalah merupakan hak Penyedia Jasa (PT. Waskita Karya (Persero)). Dengan demikian, Penyedia Jasa berhak untuk menerima dana tersebut dan Pengguna Jasa (Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam) wajib membayarkannya kepada Penyedia Jasa (PT. Waskita Karya (Persero));
Pada tanggal 23 Oktober 2013, Waskita melakukan Somasi (Teguran) secara tertulis yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam dan sampai sekarang belum ada jawaban perihal somasi tersebut, sehingga Pihak Penggugat, mengajukan gugatan ke PN Lubuk Pakam.
Telah dikeluarkan putusan Dari PN Lubuk Basung pada tanggal 13 Mei 2015 dengan putusan Menghukum Tergugat untuk membayar sisa Termin sebesar Rp. 2.150.080.000 kepada Penggugat.
Sampai saat ini masih menunggu upaya hukum dari Tergugat.
6. Perkara No. 627/XI/ARB-BANI/2014 antara PT.
Waskita Karya (Persero) Tbk (“Pemohon”) melawan PT.
DOK & Perkapalan Kodja Bahari (“Termohon”).
Pemohon Rp. 36.646.444.340,55 (Tiga puluh enam miliar enam ratus empat puluh enam juta empat ratus empat puluh empat koma lima puluh lima Rupiah) yang merupakan Tagihan Termin tidak dibayar dan hal-hal lainnya atas Kontrak No.29/IV/KONTR/DKB/2010 yang dibuat antara Termohon dan Pemohon pada tanggal 16 Juli 2010, sebagaimana diubah terakhir kali dengan AddendumKontrak KetigaNo.0293/ADD3/IV/
KONTR/DKB/2012 tanggal 25 Juni 2012.
Berkaitan dengan Tagihan progress 70,57% (Termin ke IV) yang belum dibayarkan oleh Termohon, Sisa progress pekerjaan yang sudah dilaksanakan dan disepakati, Nilai progress pekerjaan tambah yang sudah disepakati, Nilai progress pekerjaan Bouxit, Nilai perhitungan (opname) material Proyek , Denda Keterlambatan per tanggal 30 September 2014 pada Proyek Pengurukan Lahan PT. DOK & Perkapalan Kodja BAHARI (Persero) di Distrik Kabil Batam.
Telah dikeluarkan Putusan dari BANI tanggal 22 Mei 2015 dengan putusan menghukum Termohon untuk membayar tagihan Termin IV sebesar 26.260.304.200,- kepada Pemohon.
Sampai saat ini masih menunggu upaya hukum dari Termohon.
No. Perkara Kedudukan
Emiten Nilai Tuntutan Materiil/Perkara
(dalam Rupiah atau ditentukan lain) Keterangan 7. Perkara No. 44/PDt.G.2015/
PN.Pbr antara PT. Waskita Karya (Persero) Tbk (“Penggugat”) melawan Pemerintah Republik Indonesia cq Pemerintah Provinsi Riau cq DInas Pekerjaan Umum Provinsi Riau cq Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) selaku Pengguna Anggaran (“Tergugat”).
Penggugat Rp. 8.458.275.593,58 (delapan miliar empat ratus lima puluh delapan juta dua ratus tujuh puluh lima ribu lima ratus sembilan puluh tiga koma lima puluh delapan Rupiah) ditambah bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulannya, terhitung sejak gugatan ini didaftarakan dan kerugian Immateriil kepada Penggugat, uang sebesar Rp 25.000.000.000,00 (Dua puluh lima miliar Rupiah) yang merupakan hak Penggugat sesuai Surat Perjanjian Harga Satuan Program Pembangunan Jembatan Teluk Mesjid Nomor : 630/SPHS/PEMB-TM/38/2012, tanggal 9 April 2012.
Berkaitan dengan Tagihan progress pekerjaan yang belum dibayar, Denda keterlambatan pekerjaan, Biaya Advokat, dan Retensi pada Proyek Pembangunan Jalan dan Jembatan Kegiatan Pembangunan Jembatan Teluk Mesjid.
Posisi sampai saat ini adalah masih proses sidang dengan Agenda sidang terakhir adalah Pemeriksaan Bukti Tergugat.
8. Perkara No. 7/PDT.G/2015/
PN.Tpg antara PT. Waskita Karya (Persero) Tbk (“Penggugat”) melawan Pemerintah Republik Indonesia cq Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau cq Dinas Pekerjaan Umum Kepulauan Riau cq Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kepulauan Riau selaku Pengguna Anggaran (“Tergugat”).
Penggugat Rp. 12.445.532.527,52 (Dua belas miliar empat ratus empat puluh lima juta lima ratus tiga puluh dua ribu lima ratus dua puluh tujuh koma lima puluh dua Rupiah) sudah termasuk beban pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, ditambah bunga sebesar 2%
(dua persen) setiap bulannya terhitung sejak gugatan ini didaftarkan dan kerugian immateriil sebesar Rp.25.000.000.000,00 (Dua puluh lima miliar Rupiah) yang merupakan Penyesuaian Harga (Eskalasi) atas Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SPPP) Nomor:8.07/
SPPP/DPU/MYKEPRI/XII/2007 tertanggal 15 Desember 2007sebagaiman diubah terakhir kali dengan Addendum Kesembilan Kontrak Eskalasi SPPP, Nomor : B.07.i/SPPP/DPU/MY-KEPRI/XII/2007, tanggal 15 Desember 2011
Berkaitan dengan Penyesuaian Harga (Eskalasi), Denda Keterlambatan Pembayaran , Biaya Pengacara dan Bunga atas Proyek Pekerjaan Pembangunan Masjid Raya dan Islamic Centre Provinsi Kepulauan Riau (“Pembangunan Masjid Raya dan Islamic Centre”).
Posisi sampai saat ini masih proses sidang dengan Agenda sidang terakhir adalah Kesimpulan.
Selain dari yang telah disebutkan diatas, Perseroan tidak memiliki perkara lain yang mempunyai dampak material terhadap kelangsungan usaha Perseroan di kemudian hari atau mempengaruhi rencana Penawaran Umum Terbatas I.
Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan dan Entitas Anak tidak terlibat perkara perdata, pidana, tata usaha Negara, kepailitan, arbitrase dan hubungan industrial di lembaga peradilan terkait yang berwenang.