• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BENTUK-BENTUK PELANGGARAN HAK CIPTA LAGU

3. Perkara Perdata

a. Putusan No.254 K/PDTSUS/2009.

Tanggal Putusan: 28 Mei 2009

Dalam perkara: Penggugat Kohar Kahler melawan Tergugat PT EMI Indonesia.

JAKARTA: MA mengabulkan upaya hukum kasasi yang diajukan seorang musisi dan pencipta lagu bernama Kohar Kahler, terkait dengan perkara gugatan Hak Cipta melawan PT EMI Indonesia.Dengan demikian, putusan Mahkamah Agung (MA) ini membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang sebelumnya menyatakan gugatan Kohar Kahler terhadap PT EMI Indonesia, tidak dapat diterima.

Berdasarkan keterangan dengan susunan majelis Rehngena Purba, Syamsul Ma'arif, dan M. Taufik. Kuasa hukum Kohar Kahler, Dedy Kurniadi, menyambut positif putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan pihaknya dalam perkara Hak Cipta tersebut, sebelumnya, PT EMI Indonesia yang merupakan perusahaan rekaman menghadapi tuntutan hukum yang dilayangkan oleh Kohar Kahler yang berprofesi sebagai musisi dan pencipta lagu.

Dalam gugatan No.62/Hak Cipta/2008/PN.NIAGA.JKT.PST, penggugat menuding perusahaan itu telah memperbanyak lagu ciptaannya, tanpa izin dirinya sebagai pemegang Hak Cipta.Dalam gugatannya, penggugat menuntut tergugat menghentikan peredaran lagu- lagu karyanya a.l. lagu Tiada Lagi dan Hilang yang dinyanyikan Mayang Sari.

Selain itu, penggugat juga menuntut ganti rugi Rp599.06 juta, yang merupakan ganti rugi materiel dan imateriel yang diklaim penggugat, telah dideritanya karena kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan sebagai Pencipta lagu. Akan tetapi,

majelis Hakim yang terdiri dari Makmun Masduki, Sugeng Riyono, dan Elly Marjani, menyatakan gugatan penggugat itu tidak dapat diterima, karena dinilai kurang pihak, karena tidak menyertakan PT Suara Publisindo dan PT Arga Swara Kencana Musik sebagai pihak.

Dalam pertimbangan hukum majelis hakim pengadilan tingkat pertama, disebutkan bahwa tergugat mendapatkan hak untuk merekam, memperbanyak, menjual, dan mendistribusikan lagu berjudul Tiada Lagi dan Hilang dari PT Suara Publisindo dan PT Arga Swara Kencana Musik.

Dalam pertimbangan hukum pengadilan tingkat pertama, disebutkan ada bukti tergugat sebagai pemegang lisensi dari PT Suara Publisindo, bukti pembayaran royalti dari tergugat kepada PT Suara Publisindo, dan pembayaran dari PT Suara Publisindo kepada penggugat. Akan tetapi, dalam upaya hukum kasasi penggugat mendasarkannya pada pasa156 (1) UU No. 19/2002 tentang Hak Cipta.57

b. Putusan No. 2266.K/Pdt/1990,

Tanggal Putusan: 29 Oktober 1996

.

Dalam perkara

:

Penggugat Ismail Hutajulu melawan Tergugat PT Lolypop Records Kasus posisi:

Ismail Hutajulu adalah seorang Pencipta lagu-lagu dalam bahasa Batak. Pada tahun 1942 ia menciptakan dua lagu bahasa Batak dengan judul Tillo-Tilo dan Alatipang. Kedua lagu menjadi lagu yang terkenal di kalangan masyarakat Batak. Pada tahun 1984, Ismail

57

Hutajulu menemukan sebuah casette rekaman yang diproduksi oleh PT Lolypop Records berisi lagu-lagu Tillo-Tillo dan Alatipang, ciptaan Ismail Hutajulu tersebut. Casette rekaman ini diperdagangkan di pasaran umum.Lagu/ nyanyian Tillo-Tillo dan Alatipang yang direkam, diproduksi dan dijual dipasarkan oleh PT Lolypop Records tersebut. Dicantumkan huruf N.N (Noname) dan dinyanyikan oleh Christine Panjaitan. Perekaman lagu-lagu ciptaan Ismail Hutajulu tersebut diatas dilakukan oleh PT Lolypop Records tanpa ijin dari penciptanya, Ismail Hutajulu. Perbuatan PT Lolypop Records tersebut dinilai oleh Ismail Hutajulu sebagai perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian baik moral maupun materiil. Karena usaha musyawarah tidak berhasil, maka Ismail Hutajulu mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap PT Lolypop Records; sebagai Tergugat, dengan tuntutan sebagai berikut:

1. Menyatakan Penggugat adalah pencipta lagu-lagu Tillo-Tillo dan Ala tipang. 2. Menyatakan Tergugat melakukan perbuatan melanggar hukum.

3. Menghukum Tergugat membayar sekaligus lunas kepada Penggugat ganti rugi uang Rp. 60.000.000,- sebagai akibat perekaman dan memproduksi lagu Tillo-Tillo dan Alatipang, tanpa ijin Penggugat sebagai penciptanya.

4. Memerintahkan kepada Tergugat untuk menarik semua casette rekaman yang beredar di dalam masyarakat yang memuat kedua lagu-lagu tersebut.

5. Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) Rp. 100.000,- setiap hari, bila Tergugat lalai.

Pengadilan Negeri

Terhadap gugatan tersebut di atas pihak Tergugat Lolypop Records, memberikan berupa:

a. Eksepsi yang berisikan dalil bahwa gugatan Penggugat adalah kabur, karena "Surat Kuasa Khusus" di dalamnya tidak memuat masalah/object yang disengketakan padahal dalam surat kuasa khusus tersebut, Penggugat menuntut ganti rugi uang. Karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Penggugat. Dengan demikian surat kuasa tersebut tidak sempurna dan tidak dapat dipakai sebagai proses partij formeel di pengadilan. Dengan alasan di atas, Penggugat mohon gugatan Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima oleh pengadilan.

b. Terhadap pokok perkara pihak Tergugat menyangkai semua dalil gugatan Penggugat, karena tidak didukung oleh bukti-bukti. Karena itu Tergugat mohon agar pengadilan menolak gugatan yang diajukan oleh Penggugat tersebut.

Hakim pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum yang pokok isinya sebagai berikut:

Eksepsi yang diajukan oleh Tergugat harus ditolak, karena tidak menyangkut mengenai masalah kompetensi pengadilan baik absolut maupun relatif. Mengenai pokok perkara Hakim pertama berpendirian bahwa dari bukti P 1- P2 - P3 - P4 - P5 - P8 - terbukti bahwa lagu-lagu yang disengketakan ini dicipatakan oleh Ismail Hutajulu (Penggugat). Kedua lagu tersebut telah sangat populer di dala.m masyarakat Batak sehingga menjadi lagu rakyat (folklor), meskipun demikian adalah tidak mungkin kedua. lagu rakyat tumbuh dengan sendirinya tanpa ada pencipta lagu tersebut. Terbukti bahwa kedua lagu yang sudah

menjadi lagu rakyat tersebut yang mencipta adalah Penggugat. Berdasar bukti P6 terbukti bahwa Tergugat telah merekam, memproduksi dan menjual casette rekaman lagu Alatipang dengan penyanyi Christine Panjaitan, semuanya dilakukan Tergugat tanpa izin dari Penggugat. Dibelakang nama lagu tersebut ditulis "N.N" artinya no name. Tergugat telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang harus memberi ganti rugi kepada Penggugat. Karena yang terbukti hanya satu lagu saja yaitu lagu Rambadia (Alatipang) maka tuntutan ganti rugi hanya dikabulkan separuhnya Rp. 30 juta. Berdasar atas pertimbangan tersebut di atas, akhirnya Pengadilan Negeri memberikan putusan sebagai berikut:

Mengadili:

Dalam Eksepsi: menolak eksepsi Tergugat. Dalam Pokok Perkara:Mengabulkan gugatan untuk sebagian. Menyatakan Penggugat adalah Pencipta lagu Tillo-Tillo dan Rambadia (Alatipang). Menyatakan Tergugat melakukan perbuatan melanggar hukum. Menghukum Tergugat untuk membayar sekaligus lunas kepada Penggugat ganti rugi Rp.30 juta, sebagai akibat perekaman dan memproduksi lagu Alatipang (Rambadia) oleh Tergugat tanpa seizin Penggugat sebagai Penciptanya. Memerintahkan kepada Penggugat untuk menarik semua casette yang beredar di dalam masyarakat yang memuat lagu tersebut di atas. Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom), Rp. 100,000,-(seratus ribu rupiah) sehari, bila Tergugat Ialai menjalankan petitum di atas, dst.

Pengadilan Tinggi

PT Lolypop Records, menolak putusan Hakim pertama tersebut di atas dan mohon banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Hakim banding setelah memeriksa perkara ini di dalam putusannya berpendirian bahwa apa yang dipertimbangkan dan di putus oleh

Hakim pertama, baik dalam eksepsi maupun dalam pokok perkara adalah sudah tepat dan benar menurut hukum, serta dijadikan pertimbangan Pengadilan Tinggi sendiri dalam memberi putusannya. Akhirnya Pengadilan Tinggi memberikan putusan menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 230/Pdt.G/1988/PN.Jkt.Sel.

Mahkamah Agung RI.

PT Lolypop Records, menolak putusan Pengadilan Tinggi tersebut di atas dan mohon pemeriksaan Kasasi Mahkamah Agung. Mahkamah Agung sebelum memberi putusan akhir, menerbitkan putusan sela yang amarnya: Sebelum memberi putusan akhir; Memerintahkan kepada PN Jakarta Selatan untuk membuka kembali persidangan atas perkara ini, memanggil para pihak berperkara dan melakukan pemeriksaan para saksi yang telah membuat surat keterangan kesaksian yaitu: (1) Gordon Tobing, (2) Bambang Suwondo, (3) H.P. Siagian, (4) N. Simanungkalit dan (5) D.M. Simanjuntak. . Pemeriksaan saksi mana untuk memperoleh fakta yang lebih jelas tentang kepastiannya: Siapa pencipta lagu-lagu tersebut serta kapan lagu tersebut diciptakan, dan lain-lain yang dianggap perlu dalam perkara ini.

Pengadilan Negeri telah melaksanakan, "putusan sela" tersebut dan melaksanakan "pemeriksaan tambahan."Mahkamah Agung setelah memeriksa perkara ini dalam putusannya berpendirian bahwa, judex facti Pengadilan Tinggi DKI Jakarta telah salah menerapkan hukum, sehingga putusan judex facti tersebut harus dibatalkan dan selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini. Putusan Mahkamah Agung tersebut didasari oleh alasan yuridis yang intinya sebagai berikut: Dasar pertimbangan dan kesimpulan judex facti Pengadilan Negeri mengenai terbuktinya dalil gugatan Penggugat,

ditarik dari bukti P 1-P2-P3-P4 sehingga judex facti menyimpulkan bahwa Pencipta lagu yang disengketakan tersebut adalah Penggugat (Ismail Hutajulu).

Bila mana Bukti P 1 dan P2 diuji dengan ketentuan ex pasal 1871 jis 1874-1878 B. W., maka surat bukti tersebut dikonstruksi secara analog dengan pasal 1883 B.W., yakni hanya berupa "catatan biasa" yang kekuatan pembuktiannya hanya sebagai "permulaan pembuktian dengan tulisan", sehinggaa semua alat bukti yang dikemukakan judex facti tersebut belum dapat membuktikan dalil gugatan Penggugat bahwa Penggugat adalah Pencipta lagu-lagu yang disengketakan dalam perkara ini. Apalagi bila bukti surat tersebut dikaitkan dengan fakta hasil pemeriksaan tambahan, maka semakin lumpuh nilai kekuatan pembuktian permulaan yang terkandung dalam bukti P 1 dan P2. Sebabnya, sesuai dengan keterangan pada saksi: N. Simanungkalit dan M.P. Siagian diperoleh fakta sebagai berikut:

Bahwa kedua lagu yang diclaim oleh Penggugat sebagai Penciptanya (1942), sudah populer dimasyarakat sejak 1940. bahwa para saksi tidak memungkiri kedua lagu tersebut ada Penciptanya, sampai sekarang ini belum diketahui dengan pasti siapa Pencipta sebenarnya, sehingga lagu-lagu tersebut di N.N. (= No Name) dan lebih digolongkan sebagai Lagu Rakyat (folklore). Jika keterangan kedua saksi ini dikaitkan dengan keterangan Tergugat, bahwa sebelum, Tergugat merekam lagu-lagu tersebut dalam casette, pada tahun 1960, Remaco telah pernah merekamnya.

Lagu-lagu tersebut tergolong folklore sehingga perekaman, oleh Tergugat dalam casette dengan code "N.N." menurut Majelis Mahkamah Agung tidak dapat dianggap melanggar Hak Cipta Penggugat. Berdasar atas alasan yuridis tersebut di atas, maka Majelis Mahkamah Agung memberi putusan sebagai berikut:

Mengadili:

Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Mengadili Sendiri:

Menolak gugatan Penggugat, dst. Peradilan:

a. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

No. 230/Pdt.G11988/PN Jakarta Selatan, tanggal 7 April 1989 b. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta

No. 452/Pdt/1989/PT DKI tanggal 5 Desember 1989 c. Mahkamah Agung RI

No. 2266.K/Pdt/1990, tangga129 Oktober 1996. 58

c. Putusan No. 036 K/N/HAKI/2006

Tanggal putusan

:

27 Desember 2006

Tergugat CV.Pangranggo QQ Hp2 melawan Penggugat Yayasan Karya Cipta Indonesia. Tergugat :

CV.Pangranggo QQ Hp2 diwakili oleh Aminah Ridziq direktur CV. Pangranggo (Hotel Pangranggo) berkedudukan di jalan Raya Padjadjaran No.32 Jakarta diwakili kuasa hukumnya Ezrin Rosep. sebagai pemohon kasasi atau tergugat melawan Yayasan Karya

Cipta Indonesia berkedudukan di Jakarta diwakli oleh Dahuri ,General Manager Karya Cipta Indonesia, memberi kuasa kepada kuasa hukumnya .H.M.Efran Hemi Juni.

Kasus posisi:

Penggugat adalah Yayasan yang bergerak dalam bidang Hak Ekonomi para Pencipta Lagu. Bahwa Tergugat adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang penginapan dengan mempergunakan Karya Cipta musik dan lagu orang lain dari dalam dan luar negeri dalam pelayanan terhadap konsumennya. Bahwa tergugat tanpa membayar royalti atas mengumukan karya orang lain sebagaiman diatur dalam Pasal 1angka(14) UUHC. Bahwa Penggugat telah beberapa kali memperingatkan Tergugat dengan surat: Surat nomor :LD/BOTABEK044050081. Tanggal 18 Mei 2004 perihal lisensi pengumuman musik. Surat nomor :LD/BOTABEK04070106 TANGGAL 2 Juli 2004 perihal Surat Peringatan I. Surat Nomor: LD/BOGOR 04070105 TANGGAL 13 Juli 2004 perihal Surat Peringatan II. Dalam Provisi:Menolak tuntutan provisi penggugat;Dalam Eksepsi :Menolak Eksepsi Penggugat;

Dalam Pokok Perkara :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan Tergugat telah melakukan pengumuman Karya Cipta Lagu atau musik tanpa izin Penggugat.

3. Menghukum Tergugat membayar kerugian materil sebesar Rp. 100.000.000.- (seratus juta rupiah).

4. Menghukum Tergugat membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000.000,-(lima juta rupiah).

5. Menolak gugatan Tergugat selebihnya.

Mengadili: Mengabulkan permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi : CV.Pangranggo QQ HP2 tersebut, membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 20 Juli 2006 No.22/HAK CIPTA/2006/PN.NIAGA .JKT.PST;

Mengadili Sendiri, Dalam Provisi :Menolak Eksepsi ;Menolak Eksepsi Tergugat;Dalam Pokok Perkara ; Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima, menghukum termohon Kasasi/ Penggugat asal untuk membayar biaya perkara baik dalam peradilan tingkat pertama maupun dalam tingkat Kasasi ditetapkan sebesar Rp. 5.000.000.-(lima juta rupiah).59

d. Putusan No.038 K/N/HaKI/2005

Tanggal Putusan Dalam perkara : 26 Oktober 2005 Tergugat

1) PT. Hotel Sahid Jaya Int.

2) Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia Melawan Penggugat:

1) Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) yang amarnya berbunyi :

Mengadili : Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I. Hotel Sahid Jaya Internasional dan Pemohon Kasasi II. Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) tersebut ; Menolak permohonan dari Pemohon Kasasi dan

59

Pemohon Kasasi III Yayasan Karya Cipta Indonesia (YCKI) tersebut ; Menghukum para Pemohon Kasasi I dan II untuk membayar biaya perkara pada semua tingkat peradilan, yang dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) Catatan atas kasus ini :

Putusan Pengadilan Niaga

Penggugat menggugat Tergugat dengan dasar perbuatan melawan hukum karena tidak membayar royalty ; Pengadilan Niaga mengabulkan gugatan Penggugat ; Membatalkan putusan Pengadilan Niaga dengan pertimbangan tarif baru royalty sebesar 500% belum disepakati dan belum mengikat, maka ganti rugi oleh Hakim didasarkan pada perbuatan melawan hukum Pasal 1365 KUHPerdata, serta sesuai pasal 45 s/d 48 UUHC No19/2002 serta KEPRES 34, tentang keberadaan YKCI sebagai pihak atas kepentingan Pemegang Hak Cipta, sehingga putusan yang dijatuhkan tersebut tepat jika dinilai akan pelanggaran yang dilakukan tergugat.

Membatalkan Putusan NO.17/HAK CIPTA/2005/PN.NIAGA.JKT.PST. Tanggal 14 Juli 2005, yang amarnya berbunyi :

Dalam Posisi:

Tergugat I adalah merupakan badan usaha yang bergerak dibidang perhotelan, yang beroperasi secara profit dengan menggunakan Karya Cipta Lagu secara ilegal dan Terguat Tergugat II merupakan wadah dari tergugat I.

Mengadili : Dalam provisi :

Dalam Pokok Perkara : Mengabulkan gugatan Penggugat sebagian ; Menyatakan Para Tergugat telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum; Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk membayar Royalty, Denda dan Bunga terhitung sejak tanggal 31 Mei 2003 dengan perincian sebagai berikut :Membayar Royalty sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) setahun ; Denda sebesar 200% per tahun dari Royalty ; Bunga 2 % per bulan dari Royalty ; Menolak gugatan Penggugat untuk selain selebihnya ; Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).60

e. Putusan Nomor 030 K/N/HAKI/2006

Tanggal Putusan: 10 November 2006

Dalam perkara: Pemohon Kasasi Nurham Yahya dkk (dahulu Tergugat I)melawan Datuk M.Jamil Idris, Emi Music Malaysia Publishing SDN Bhd, Sri Barat alias Iyet Bustami (dahulu Penggugat I.II.III) dan Pemerintah Republik Indonesia (dahulu tergugat I).

Bahwa Penggugat I ahli waris dari Ketua Yayasan Lembaga Adat:Datuk Laksemana Raja Di Laut Kabupaten Bengkalis mewakili masyarakat Melayu serta keluarga Besar masyarakat Lembaga Adat Melayu, Kabupaten Bengkalis, Riau(bukti P-1). Bahwa syair- syair lagu Laksemana Raja Di Laut milik Penggugat I yang telah tumbuh dimasyarakat Melayu Riau sejak lama yang tidak diketahui penciptanya (bukti P-2). Bahwa pada bulan April tahun 2003 Penggugat III memproduksi album lagu Laksemana Raja Di Laut

60

aransemen Mara Karma karena tidak diketahui Penciptanya dicantumkan NN (No Name) pemasaran oleh PT.Mazenta Graha Mandiri (PT.MGM) selaku distributor (bukti P-3).

Bahwa Penggugat II berhak sepenuhnya atas hak Cipta lagu “Nostalgia Aidil Fitri” miik Penggugat II baik judul lirik, melodi yang diciptakan Suhaimi B.Mohd Zain (Pak Ngah) berdasarkan perjanjian Penggugat II dengan Pak Ngah tanggal 4 Maret 1997(bukti P-4). Bahwa lagu Nostalgia Adil Fitri dinyanyikan artis Malaysia Sarifah Aini diproduksi dan diedarkan penggugat II sejak tahun 1996 populer di Malaysia (bukti P-5). Bahwa lagu Zapin Dut Laksemana Raja Dilaut notasi dan lagunya mirip dengan lagu Nostalgia Adil Fitri milik Penggugat II diciptakan Penggugat II mengizinkan Penggugat III menggunakan melodi atau notasi lagu Nostalgia Adil Fitri untuk digunakan pada lagu Zapin Dut Lakseman Raja Di Laut (bukti P-6). Bahwa Penggugat III menerima surat tertanggal 17 Desember 2003 No.22/LBH-BN/S/XII/2003 dari Lembaga bantuan Hukum Bela Negara (LBHBN) selaku kuasa hukum tergugat I (bukti P-7).

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan kasasi tidak dapat dibenarkan karena judex facti Pengadilan Niaga Medan serta menimbang burti P-5a, P-5b dan P-4a serta saksi menimbang atas petimbangan tersebut diatas tersebut Mahkamah agung berpendapat Menolak permohonan kasasi dari Pemohon kasasi Nurham Yahya dkk tersebut, menghukum Pemohon Kasasi dahulu Tergugat I untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi yang ditetapkan sebesar Rp.5.000.000.-(lima juta rupiah).61

61

B. Pelanggaran Pidana

1. Pelanggaran Hak Moral

Disebutkan pula pelanggaran Hak Moral seperti pada pasal 72 ayat 6 UUHC Nomor 19 tahun 2002 :

Hak Cipta atau ahli warisnya berhak untuk menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap di cantumkan, dimana hak tersebut merupakan hak yang melekat pada Pencipta yang tidak boleh utuk dipisahkan begitu juga hak Pencipta atau Pengarang mengubah karyanya atau melarang orang lain untuk memodifikasi karyanya.

Intinya adalah hak Pencipta atau pengarang mencegah pendistorsian atas karyanya sehingga karya cipta tersebut sesuai dengan aslinya tidak ada dikurang atau dilebihkan dari keadaan semula. Seperti pada hal akan perubahan lirik lagu dimana hal tersebut menjadi salah satu sengketa dalam Hak Cipta lagu bila hal tersebut tidak mendapatkan izin dari Pencipta sebab hal tersebut merupakan satu kesatuan terhadap Pencipta yang tidak bisa di pisahkan begitu juga akan halnya akan perubahan melodi lagu bahkan jenis musik serta temponya, yang mana menjadi satu kesatuan terhadap sang Pencipta yang tidak dapat terpisahkan terlebih lagi tidak boleh merubah judul ciptaanya.

2. Pelanggaran Hak Ekonomi

Pelanggaran pidana dalam Hak Ekonomi banyak menyangkut akan hak yang bersifat memperbanyak ataupun pengumuman seperti tersebut dalam pasal 72 ayat 2 UUHC Nomor 19 tahun 2002 bahwa :

Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, tau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000.(lima ratus juta rupiah).

Dapat disimpulkan dimana hak tentang untuk menyiarkan serta memamerkan dan mengedarkan atau dengan tujuan menjual kepada umum, maka hal tersebut masuk dalam bagian hukum pidana, dimana seseorang tersebut sudah melanggar akan Hak Ekonomi dari pemilik Hak Cipta tersebut.

Dalam era yang serba multi kasus, dimana dapat digambarkan bahwa pelaggaran sengketa kasus Hak Cipta selama 2008 sebanyak 167 kasus, selama semester kedua 2008 dimana POLRI menangani 106 kasus, Kejaksaan Agung 61 kasus dari jumlah tersebut POLRI menangani 122 kasus dengan sarana cakram padat yang diproses menggunakan 23 duplikator dan didistribusikan melalui 98 toko, sedikitnya 2.659.075 keping cakram padat telah disita yang berisi film, video porno, musik dan perangkat lunak Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual mengidentifikasi 18 kasus pelanggaran bidang merk, 5 kasus pelanggaran desain industri dan 1 kasus paten kasus- kasus ditangani POLRI dan Kejaksaan Agung Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM (DEPKUMHAM), Andi N.Someng belum bisa mengindentifikasi potensi kerugian negara yang berhasil dicegah dalam pengungkapan kasus pelanggaran hak kekayaan intelektual, menurutnya nilai ekonominya bisa dihitung dari rumus:

Estimasi= harga satuan barang sitaan x jumlah barang sitaan itu belum termasuk perhitungan dalam bidang pajak.62

Pada pasal 72 ayat 5 UUHC No 19 tahun 2002 menyebutkan tentang pelanggaran Hak Cipta Ekonomi secara pidana seperti:

Barang siapa dengan sengaja melanggar pasal 19, pasal 20 atau pasal 49 dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.150.000.000. (seratus lima puluh juta rupiah).

Prilaku masyarakat dalam hal melakukan pelanggaran atas Hak Cipta orang lain sering melakukan tanpa izin pemiliknya melakukan memperbanyak serta menyiarkan rekaman suara atau gambar, sehingga menimbulkan kerugian bagi si pemilik hak tersebut. Dalam kesimpulan tentang pasal 49 UUHC No 19 tahun 2002 dimana pelaku dalam hal Hak Terkait memilik Hak Ekslusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain dalam hal memperbanyak serta menyiarkan rekaman suara, ataupun akan gambar serta Produser Rekaman Suarapun memiliki Hak Ekslusif guna memberikan serta melarang terhadap pihak lain dalam hal menyewakan atas karya rekaman suara atau bunyi. Satu hal yang sangat terpenting dalan hal persengketaan dimana persengketaan tersebut bukan hanya antar perorangan atau terhadap perusahaan akan tetapi pesengketaan tersebut terhadap negara dimana dalam hal ini karya cipta tersebut bertentangan dengan segala yang dilarang oleh negara seperti disebutkan Pasal 17 UUHC No.19 tahun 2002 yaitu “Pemerintah melarang pengumuman setiap ciptaaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan

62

pemerintah dibidang agama, pertahanan dan keamanan negara, kesusilaan serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta”.

Dokumen terkait