UMUM TERBATAS III
PT BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL TBK 11. Perjanjian dan Kontrak Penting Dengan Pihak Lain
12. Perkara-perkara yang Dihadapi Perseroan
12. Perkara-perkara yang Dihadapi Perseroan
Perseroan menghadapi/terlibat perkara perdata di pengadilan di Indonesia. Dasar hukum yang melatari timbulnya perkara tersebut adalah hubungan kredit antara Perseroan dengan nasabahnya dan hubungan pemberian jaminan kredit kepada Perseroan.
13. No. Wilayah Yurisdik si Nomor Register Perkara
Jenis Perkara Pihak Berperkara
Posisi Perser oan Hubungan Hukum Dengan Perseroan
Pokok Permasalahan Status Perkara 1 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 108/2007 Eks Perdata. Permohonan Eksekusi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 490/
PDT.G/1998/PN.
PT Geria Wijaya Prestige sebagai Pemohon Eksekusi. melawan
PT Bank Arta Niaga, BPPN selaku pemegang hak atas PT Bank PDFCI, PT Bank Rama dan PT Bank
Termohon Eksekusi VI PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
GWP tidak laksanakan kewajiban bayar pokok angsuran atas fasilitas kredit senilai USD 17,000,000 yang disediakan Bank Sindikasi sesuai Akta Perjanjian Pemberian Kredit No. 8 tanggal 28 Nopember 1995 yang dibuat di hadapan Hendra Karyadi SH, Notaris di Jakarta, sehingga Bank Sindikasi
Perseroan wajib bayar ganti rugi kepada Penggugat sesuai porsi Perseroan yakni sebesar 11,76% x Rp 20.000.000.000,- = Rp2.352.000.000,-.
PT BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL TBK JKT.PST. jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 880/PDT/ 1999/PTDKI tanggal 16 Mei 2000 jo. Putusan Kasasi Mahkamah Agung No. 3140/ K/PDT/ 2001 tanggal 11 Juni 2002 jo. Putusan Peninjauan Kembal Mahkamah Agung No. 292 PK/Pdt/2003 tanggal 18 April 2006 yang sudah berkekuatan hukum tetap.
Dharmala, PT Bank Rama, PT Bank Indovest Tbk., PT Bank Finconesia, PT Bank Multicor (setelah merger
dengan PT Bank Windu Kentjana menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk./Perseroan), dan PT
Bank Dharmala, sebagai Termohon Eksekusi I, II, III, IV, V, VI, VII.
menyatakan GWP lalai/wanprestasi dan seluruh kewajiban GWP menjadi jatuh tempo dan harus dibayar, meliputi angsuran pokok, bunga dan denda.
Fasilitas kredit diberikan untuk pembangunan hotel berbintang empat bernama Sol Paradiso terletak di Jl. Kartika Plaza, Kuta, Tuban, Badung, Bali. Agunan berupa 3 bidang tanah yakni tanah HGB No. 204/Kuta seluas 4.750 m2, HGB No. 205/Kuta seluas 4.800 m2 dan HGB No. 01/Kuta seluas 3.375 m2 berikut bangunan hotel dan
kelengkapannya yang masing-masing telah dibebani dengan Hak Tanggungan. Bank Sindikasi terdiri dari (1) PT Bank PDFCI selaku anggota bank sindikasi dan selaku agen fasilitas dan agen jaminan, berikut para anggota bank sindikasi lainnya yakni, (2) PT Bank Multicor (setelah merger
dengan PT Bank Windu Kentjana menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk./ Perseroan), (3) PT Bank Rama, (4) PT Bank
Indovest Tbk., (5) PT Bank Finconesia (yang
kemudian menjadi PT Bank Agris), (6) PT
Bank Artha Niaga Kencana Tbk., dan (7) PT Bank Dharmala ).
Bank Sindikasi ajukan permohonan sita eksekusi dan eksekusi Hak Tanggungan kepada Pengadilan Negeri Denpasar dan permohonan tersebut dikabulkan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Denpasar No. 14/Pdt.Ht/1998/PN.DPS berturut-turut tanggal 6 April 1998, dimana rencana lelang tanggal 9 Mei 1998 telah ditangguhkan oleh Mahkamah Agung yang direncanakan dilakukan lelang kembali tanggal 12 Oktober 1998.
GWP membantah telah wanprestasi dengan alasan sudah memenuhi kewajiban membayar bunga secara bertahap seluruhnya sebesar USD 2.775.177,58, sehingga GWP mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 490/PDT.G/1998/ PN.JKT.PST. Perkara gugatan GWP tersebut hingga ke tingkat Peninjauan Kembali. Perkara tersebut dimenangkan oleh GWP dimana Bank SIndikasi harus bayar ganti rugi kepada GWP seluruhnya Rp 20.000.000.000,-, Putusan perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 490/ PDT.G/1998/PN. JKT.PST. jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 880/PDT/1999/PTDKI tanggal 16 Mei 2000 jo. Putusan Kasasi Mahkamah Agung No. 3140/ K/PDT/ 2001 tanggal 11 Juni 2002 jo. Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No. 292 PK/Pdt/2003 tanggal 18 April 2006 tersebut sudah berkekuatan hukum tetap (in-kracht). Atas putusan yang sudah in-kracht tersebut GWP ajukan permohonan eksekusi. Porsi Perseroan dalam ganti rugi sebesar 11,75% dari total nilai ganti rugi.
Eksekusi belum dilaksanakan. 2 Pengadilan Negeri Denpasar Pengadilan Negeri Denpasar No. 183/PDT.G/1 998/ PN.DPS. Jo. Pengadilan Tinggi Denpasar No. 114/PDT/19 99/PTDPS, Jo. Mahkamah Agung No. 679/K/PDT/2 001 Perdata. Perlawanan terhadap Permohonan Eksekusi Hipotik/ Akta Hak Tanggungan (aanmaning, sita eksekusi, dan lelang eksekusi) sehubungan perkara Perdata No. 14/Pdt/ HT/1998/ PN.Dps. tanggal 17 Maret 1998
PT Geria Wijaya Prestige sebagai Pelawan. Melawan
PT Bank PDFCI, PT Bank Multicor (setelah merger
dengan PT Bank Windu Kentjana menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk. /Perseroan), PT Bank
Rama, PT Bank Indovest Tbk., PT Bank Finconesia, PT Bank Dharmala, PT Bank Artha Niaga Kencana Tbk., berturut-turut sebagai Terlawan I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII. Terlawan PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
Pelawan ajukan perlawanan/verzet terhadap Permohonan Eksekusi Hipotik/Akta Hak Tanggungan (aanmaning, sita eksekusi, dan lelang eksekusi) sehubungan perkara No. 14/Pdt/HT/ 1998/PN.Dps. tanggal 17 Maret 1998 mengenai wanprestasi Pelawan atas kewajibannya berdasarkan perjanjian kredit sebesar USD 17.000.000 dengan tujuan pemberian fasilitas kredit untuk pembangunan sebuah Hotel berbintang 4 di Kuta Bali. Pelawan tidak sependapat dengan putusan tersebut dengan alasan telah ada sejumlah pembayaran kepada bank kreditur. Maka Pelawan ajukan
menunda/menangguhkan pelaksanaan pelelangan dalam perkara No.
14/Pdt/HT/1998/PN.Dps. hingga perlawanan ini mempunyai kekuatan hukum tetap, menyatakan Pelawan belum wanprestasi, memerin-tahkan pengangkatan sita eksekutorial terhadap aset-aset Pelawan yang disebut dalam Berita Acara Eksekusi tanggal 6 April 1998 No. 14/Pdt/HT/ 1998/PN.Dps., dan membatalkan pelelangan atas aset-aset Pelawan yang akan dilakukan tanggal 21 Oktober 1998.
GWP dimenangkan dalam putusan tingkat pertama dan banding. PT Bank Artha Niaga Kencana ajukan kasasi. Dalam putusan
Permohonan Peninjauan Kembali.
PT BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL TBK
tanggal 7 Oktober 2002 pihak PT Bank Artha Niaga Kencana dimenangkan. Atas putusan MA tersebut GWP ajukan permohonan Peninjauan Kembali pada tanggal 10 April 2003. 3 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 306/PDT.G/ 1998/ PN.JKT.PST . Perdata. Gugatan Perbuatan Melawan Hukum
PT Geria Wijaya Prestige sebagai Penggugat. melawan
Tuan Hermanto Karyadi selaku pribadi maupun sebagai Direktur PT Geria Wijaya Prestige sebagai Tergugat.
PT Bank Multicor (setelah
merger dengan PT Bank Windu Kentjana menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk./Perseroan),
PT Bank Rama,PT Bank Indovest Tbk., PT Bank Finconesia, PT Bank Artha Niaga Kencana Tbk., dan PT Bank Dharmala berturut-turut sebagai Turut Tergugat 1, 2, 3, 4, 5, 6. Turut Tergugat PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
GWP menggugat Tergugat melakukan perbuatan melawan hukum dan menuntut Tergugat untuk ganti rugi karena menggunakan dana kredit dari Bank Sindikasi sesuai Akta Perjanjian Pemberian Kredit No. 8 tanggal 28 Nopember 1995 yang dibuat di hadapan Hendra Karyadi SH, Notaris di Jakarta untuk kepentingan pribadi Tergugat.
Majelis hakim berpendapat perbuatan Tergugat tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada para Turut Tergugat, karena itu segala kerugian yang timbul akibat perbuatan Tergugat tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada para Turut Tergugat.
Sudah ada putusan tgl. 26/04/1996 Tergugat harus bayar kerugian kepada Penggugat sebesar Rp 4.185.995.187,- . Perkara ini tidak ada hubungannya dengan Perseroan. 4 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 123/Pdt.G/2 010/ PN.Jkt.Pst. Perdata. Gugatan Perbuatan Melawan Hukum.
PT Bank Agris (d/h PT Bank Finconesia) sebagai Penggugat. melawan
PT Geria Wijaya Prestige sebagai Tergugat. Perseroan sebagai Turut Tergugat. Turut Tergugat PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
Penggugat menggugat GWP dengan pertimbangan: (i) GWP wanprestasi karena tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada Penggugat atas pembayaran angsuran-angsuran pokok dan kewajiban bunga sesuai perjanjian fasilitas kredit tersebut dan (ii) Turut Tergugat (Perseroan) juga tidak berupaya secara maksimal untuk mempertahankan hak dan kewajiban yang dimilikinya serta para pemberi pinjaman termasuk Penggugat dengan menagih dan/atau melakukan tindakan hukum untuk meminta agar GWP mengembalikan seluruh kewajibannya kepada para pemberi pinjaman yang hingga saat itu sudah lebih 9 tahun GWP tidak mengembalikan seluruh kewajibannya, dan Penggugat merasa sudah berulangkali mengirimkan permintaan kepada Turut Tergugat (Perseroan) agar menjalankan fungsinya sebagai Agen Fasilitas dan Agen Jaminan dalam rangka mendapatkan kembali hak yang dimiliki Penggugat atas kredit yang telah diberikannya kepada GWP Penggugat berpendapat hal tersebut menyebabkan Penggugat menderita kerugian sebesar USD 18,212,301.88 dan Rp 10.000.000.000,- yang terdiri dari kerugian material berupa (i) kewajiban pokok USD 2,000,000, (ii) bunga USD 2,634,267.72, dan (iii) denda-denda berupa denda tunggakan bunga USD 6,558,377.72 dan denda tunggakan pokok USD 7,019,656.44, dan kerugian immaterial sebesar Rp 10.000.000.000,-.
Sudah ada putusan tgl. 17 Agt 2011 Tergugat wanprestasi dan harus bayar ke Penggugat USD 20,389,661.26. 5 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 27/PDT.G/20 11/ PN.JKT.PST Perdata. Gugatan Wanprestasi.
PT Bank Agris (d/h PT Bank Finconesia) sebagai Penggugat. melawan
PT Geria Wijaya Prestige sebagai Tergugat. PT Bank Windu Kentjana International Tbk. (“Perseroan”), Fireworks Ventures Limited, Menteri Keuangan RI cq. Kepala Kantor Pengurusan Piutang Dan Lelang Negara (KP2LN) Jakarta, (IV) PT Bank Commonwealth, berturut-turut sebagai Turut Tergugat I, II, III. Turut Tergugat PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
Penggugat menggugat GWP wanprestasi dan menuntut agar GWP membayar kerugian baik secara materiel maupun immaterial kepada Penggugat yang hingga tanggal 7 Januari 2011 keseluruhannya kewajiban GWP kepada Penggugat sebesar USD 20,389,661.28 dan Rp
10.000.000.000,- dengan perincian: Kerugian Materiel: y Kewajiban pokok USD 2,000,000. y Bunga USD 2,963,481.09. y Denda yang terdiri dari: A. Denda atas tunggakan bunga USD 7,628,523.70, dan B. Denda atas tunggakan pokok USD 7,797,656.47. Kerugian Immateriel: Rp 10.000.000.000,-
Sudah ada putusan tgl.18 Agt 2011 Tergugat harus bayar seluruh kewajibannya kepada Penggugat sebesar USD 20,389,661.26. Penggugat ajukan banding tanggal 24 Agustus 2011. Proses banding. 6 Pengadilan Negeri Cibinong Pengadilan Negeri Cibinong No. 130/Pdt.Bth/ 1999/ PN.Cbn. jo. Pengadilan Tinggi Bandung No. 288/Pdt/ 2001/PTBdg jo. Mahkamah Perdata. Bantahan Bantahan terhadap Penetapan Ketua PN Cibinong tanggal 19 Mei 1999 No. 29/Pdt/ Del.Eks/ 1999/PN.Cbn jo. No. 14/Pdt/ Eks.Akte/ 1999/ PN.Bgr
Rizal Andrian sebagai Pembantah. melawan
• Nyonya Sri Purwati, PT Diwangkara Dharma, Anom Laksono SE, Agnes Yenny Dwi Putranti Bsc, Drs. Hardi Atmoko Theodolus, Ir. Suhardy Djalins, Blasius Srihardiyanto, Perseroan (d/h PT Bank Multicor), Departemen Keuangan RI Terbantah VIII PT Diwang-kara Dharma (Debitur)
Bantahan terhadap Penetapan Ketua PN Cibinong tanggal 19 Mei 1999 No. 29/Pdt/Del.Eks/1999/PN.Cbn jo. No. 14/Pdt/Eks.Akte/1999/PN.Bgr dan acara penyitaan eksekusi tanggal 18 Mei 1999 No. 29/Pdt/Del/Eks/1999/PN.Cbn jo. No. 14/Pdt/Eks.Akte/ PN.Bgr terkait eksekusi Sertipikat Hak Tanggungan No. 2401/1997 tanggal 16 September 1997 dibuat di hadapan Turut Terbantah III yang merupakan jaminan utang PT Diwangkara Dharma (Terbantah II) kepada Perseroan (Terbantah VIII) berdasarkan perjanjian
Dalam Putusan Pengadilan Negeri Cibinong No. 130/Pdt.Bth/1999/ PN.Cbn. tanggal 14 Oktober 2000 Perseroan merupakan pihak yang dimenangkan. Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 288/Pdt/2001/ PTBdg tanggal 27 Agustus 2001 dan Mahkamah
PT BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL TBK
Agung RI No. 2562 K/Pdt/2003
Badan Urusan Piutang Dan Lelang Negara Kantor Wilayah IV Bandung cq Kepala Kantor Lelang Negara Bogor, berturut-turut sebagai Terbantah I, II, III, IV, V, VII, VIII, IX. • Pemerintah RI cq Kepala BPN cq Kepala Kanwil BPN Prov. Jawa Barat cq Kepala Kantor Pertanahan Bogor, Notaris/PPAT H. Mohamad Said SH, Notaris/PPAT Ny. Agusty Ridwan SH, Notaris Amrul Partomuan SH LLM, berturut-turut sebagai Turut Terbantah I, II, III, IV.
kredit yang dibuat di hadapan Turut Terbantah IV. Pembantah mengklaim sebagai pemilik yang sah atas sebidang tanah seluas 2.470 m2 SHM No. 9/Sadeng atas nama Nyonya Sukentin Keneng terletak di Desa Sadeng, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang diperolehnya berdasarkan Akta Jual Beli No. 593.4/131/JB/1993 tanggal 8 Februari 1993 di hadapan Camat Leuwiliang selaku PPAT dari Nyonya Hj. Sukentin selaku penjual, dan diatas tanah tersebut Pembantah sudah membangun rumah tinggal yang dilengkapi IMB, namun SHM No. 9/Sadeng tersebut masih belum dibaliknama ke atas nama Pembantah, dan sertifikat tanah tersebut diserahkan kepada Terbantah I sebagai jaminan untuk mendapat pinjaman, dan Pembantah merasa tidak pernah mengalihkan bidang tanah tersebut kepada siapapun namun malah mendapat Penetapan Ketua PN Cibinong tanggal 19 Mei 1999 tersebut
Agung RI No. 2562 K/Pdt/2003 tanggal 25 April 2005 Perseroan merupakan pihak yang dikalahkan. 7 Pengadilan Negeri Tangerang Pengadilan Negeri Tangerang No. 209/ Pdt.Bth/1999 /PN.Tng jo. Pengadilan Tinggi Bandung No. 652/Pdt/ 2000/ PTBdg jo. Mahkamah Agung RI No. 172 K/Pdt/2005 Perdata. Bantahan terhadap Penetapan Ketua PN Tangerang tanggal 12 Mei 1999 No. 30/Pen. Eks/ APHT/1999/ PN.Tng jo. berita acara penyitaan eksekusi No. 30/ BA.Eks/ APHT/1999/ PN.Tng tanggal 1 Juni 1999
Fachri Saleh sebagai Pembantah. melawan
Nyonya Sri Purwati, Hardi Atmoko Theo Dolus, PT Diwangkara Dharma, Blasius Srihardiyanto, Perseroan (d/h PT Bank Multicor), Saifudin Arief SH, PPAT Nyonya Hamidah Abdurahman SH, Notaris A. Partomuan SH, Kepala Kantor BPN Kabupaten Tangerang, berturut-turut sebagai Terbantah I, II, III, IV, V, VII, VIII, IX. Terbantah VIII Ir. Blasius Srihadi-yanto (PT Diwang-kara Dharma) (Debitur)
Bantahan terhadap Penetapan Ketua PN Tangerang tanggal 12 Mei 1999 No. 30/Pen.Eks/ APHT/1999/PN.Tng jo. berita acara penyitaan eksekusi No. 30/BA.Eks/APHT/ 1999/PN.Tng tanggal 1 Juni 1999 terkait eksekusi Sertipikat Hak Tanggungan No. 2789/24/
Pamulang/1996 tanggal 20 Agustus 1996 dibuat di hadapan Terbantah VII yang merupakan jaminan utang Ir. Blasius Srihadiyanto (Terbantah IV) kepada Perseroan (Terbantah V) berdasarkan perjanjian kredit yang dibuat di hadapan Terbantah VIII. Pembantah mengklaim sebagai pemilik yang sah atas sebidang tanah seluas 1.710 m2 SHM No. 1211 terletak di Desa Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kabupaten Tangerang, dan sertifikat tanah tersebut diserahkan kepada Terbantah I sebagai jaminan untuk mendapat pinjaman, dan Pembantah merasa tidak pernah menjual bidang tanah tersebut kepada siapapun namun malah mendapat Penetapan Ketua PN Tangerang tanggal 12 Mei 1999 tersebut. Dalam Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 209/Pdt.Bth/ 1999/PN. tanggal 17 Februari 2000 dan Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 652/Pdt/2000/ PTBdg tanggal 26 April 2011 serta Putusan Mahkamah Agung RI No. 172 K/Pdt/2005 tanggal 7 Des 2005 Perseroan merupakan pihak yang dimenangkan. 8 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 591/Pdt.G/ 2011/PN.JK T Sel. Perdata. Permohonan sita eksekusi pengosongan No. 06/Eks.RL 2011/ PN. Jak.Sel. tanggal. 21 April 2011.
Max Hendrik sebagai Pembantah. melawan
Donald Leonardo Mamondol, PT Bank Windu Kentjana International Tbk. (“Perseroan”), dan Philipus Eddy Santoso, berturut-turut sebagai Terbantah I, II, dan III. Terbantah II Donald Leonardo Mamondol(D ebitur)
Pembantah keberatan dengan Surat Panggilan/Aanmaning Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Sita Eksekusi Pengosongan No. 06/Eks.RL/2011/PN.Jak.Sel. tanggal 21 April 2011 yang ditujukan kepada Terbantah I dengan alasan obyek sita eksekusi pengosongan tersebut adalah tanah dan bangunan di Lebak Buluh yang merupakan miliknya dan Pembantah tidak merasa memiliki hubungan dengan Terbantah II dan Terbantah III, dan Pembantah tidak pernah menjual dan menerima uang jual beli maupun menandatangani Akta Jual Beli obyek sita tersebut kepada Terbantah I, sehingga Pembantah berpendapat bahwa sita eksekusi pengosongan tersebut tidak berdasar kepada Pembantah. Pembantah meminta agar pelaksanaan eksekusi tanah berikut bangunan diatasnya sebagaimana penetapan sita eksekusi pengosongan No.
06/Eks.RL/2011/PN.Jak.Sel. tanggal 21 April 2011 ditunda/ditangguhkan, Surat Penetapan No. 06/Eks.RL/2011 /PN.Jak.Sel. tanggal 21 April 2011 dinyatakan tidak dapat dilaksanakan sampai adanya suatu putusan yang berkekuatan tetap dalam bantahan ini, dan agar memerintahkan pengangkatan kembali eksekusi pengosongan No. 06/Eks.RL/2011/PN.Jak.Sel. tanggal 21 April 2011.
Saat ini hutang Debitur telah lunas dan aset telah dijual kepada pihak ketiga secara as is . Pembantah mengajukan Banding. 9 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 26/Pdt.G/ 2013/PN Jkt.Pst. Perdata. Gugatan Wanprestasi.
Gaston Investment Limited, berkedudukan di Republic of Seychelles, sebagai Penggugat. melawan
Harijanto Karjadi, Hermanto Karjadi, Hartomo Karjadi; PT Saka Utama Dewata, PT Griya Wijaya Prestige (“GWP”), dan PT Bank Windu Kentjana Tergugat VI PT Geria Wijaya Prestige (GWP) (Debitur)
Gugatan Penggugat pada intinya adalah: - Menyatakan Tergugat I, II, III, IV, V, VI telah melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi). - Menyatakan bahwa Penggugat adalah kreditur yang mempunyai hak tagih terhadap Tergugat I, II, III, IV, dan V (GWP), yang terdiri atas utang Pokok, Bunga, dan Denda sebesar USD 20,389,661.25.
- Seluruh utang Tergugat I s/d V (GWP) sebesar USD 20,389,661.25 tersebut harus
Menurut keterangan tertulis Satuan Kerja SAM Perseroan tgl 9 Okt 2013, hasil putusan perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 26/Pdt.G/ 2013/ PN Jkt.Pst. tgl 8 Okt 2013 pada intinya menyatakan: - Menerima gugatan Penggugat untuk
PT BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL TBK
(“Perseroan”), berturut-turut sebagai Tergugat I, II, III, IV, V, dan VI. Alfort Capital Limited, berkedudukan di Republic of Seychelles, Fireworks Ventures Limited, berkedudukan di British Virgin Island, Pemerintah Republik Indonesia Cq. Menteri Keuangan Republik Indonesia Cq. KP2LN Jakarta, berturut-turut sebagai Turut Tergugat I, II, dan III.
Menyatakan menurut hukum bahwa Penggugat berhak tanpa persetujuan dari agen Fasilitas Tergugat VI atau para Turut Tergugat lainnya, untuk menjual secara umum/lelang maupun secara di bawah tangan saham-saham milik Tergugat I, II, III pada Tergugat V yang digadaikan kepada Penggugat.
- Menyatakan bahwa Akta Perjanjian Antar Pemberi Jaminan No. 9 tanggal 28 Nopember 1995 yang dibuat di hadapan Hendra Karyadi SH, Notaris di Jakarta adalah Batal dan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat antara Penggugat, Tergugat VI, dan para Turut Tergugat. - Menyatakan bahwa PT Bank Windu Kentjana International Tbk. sebagai agen Fasilitas (Agen Jaminan) sudah tidak berhak lagi menjadi agen Fasilitas.
- Menyatakan GWP membayar kewajibannya kepada Penggugat, yaitu Pokok, Bunga, dan denda serta biaya lainnya. - Menyatakan bahwa Akta Perjanjian antar pemberi kredit No. 9 tanggal 28 Nop 1995 yang dibuat di hadapan Hendra Karyadi SH Notaris di Jakarta adalah Batal dan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat antara Penggugat dan para Tergugat. - Menyatakan PT Bank Windu Kentjana International Tbk. sebagai agen Fasilitas (Agen Jaminan) sudah tidak berhak lagi menjadi agen Fasilitas. Saat ini Perseroan menunggu apakah ada upaya banding dari Tergugat I s/d V (GWP).
Perseroan menyatakan bahwa sehubungan perkara dengan PT Geria Wijaya Prestige (“GWP”), Perseroan berkeyakinan bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan melalui negosiasi dan tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan Perseroan dengan pertimbangan: (1) Perseroan sudah mencadangkan 100% dari tuntutan ganti rugi tersebut yakni sejumlah Rp 2,3 milyar; dan (2) Perseroan masih memiliki Hak Tagih atas GWP yang jumlahnya jauh melebihi tuntutan ganti rugi.
Baik perkara yang dihadapi/melibatkan Perseroan maupun permasalahan hukum Perseroan tersebut tidak secara material dapat mempengaruhi keadaan keuangan, harta kekayaan dan kelangsungan usaha Perseroan.