• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkara Tindak Pidana Korupsi Mantan Direktur Utama Perjan TVRI Perjan TVRI

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN. Disusun Oleh: MOCH. IQBAL (Halaman 134-150)

MENGADILI SENDIRI

3. Perkara Tindak Pidana Korupsi Mantan Direktur Utama Perjan TVRI Perjan TVRI

a) Kasus Posisi

Bahwa Terdakwa SUMITA TOBING, SH., Ph.D., M.Sc selaku Mantan Direktur Utama Perusahaan Jawatan Televisi Republik Indonesia (Perjan TVRI), baik sacara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan ENDRO UTOMO selaku Ketua Oanitia Pelelangan dan Penilai Kewajaran Harga Pengadaan Barang Peralatan Teknik dan Umum Kantor Pusat Perjan TVRI Tahun Anggaran 2002 dan LINDRA RITA selaku Direktur PT. Lilit Kaman Guna (kedua-duanya diajukan dalam berkas tersendiri), pada waktut-waktu sejak tanggal 1 Juli 2002 sampai dengan Tanggal 27 Januari 2003 atau setidak-tidaknya di dalam Tahun 2002 sampai dengan Tahun 2003, betempat di Kantor Perusahaan Jawatan TVRI Jakarta Jl. Gerbang Pemuda Senayan, Jakarta Pusat atau setidak-tidaknya pada suatu tempat di dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, telah melakukan, menyuruh melakukan atau turur serta melakukan, secara melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau Perekonomian Negara, yang dilakukan dengan cara sebagai berikut :

- Bahwa Terdakwa SUMITA TOBING, SH, Ph.D, M.Sc diangkat sebagai Direktur Utama Perusahaan Jawatan Televisi Republik Indonesia (Perjan TVRI bedasarkan Surat Keputuan Menteri Keuangan No.376/KMK.05/2001 Tanggal 20 Juni 2001, dengan tugas pokok sebagai berikut :

 Mengkordinasikan tugas-tugas para anggota Direksi dalam memimpin dan mengelola Perjan TVRI;

 Bertindak atas nama direksi berdasarkan persetujuan para angora direksi lainnya, dalam melakukan kegiatan intern dan ekstern Perjan TVRI;

 Melakukan pengawasan terhadan pelaksana tugas semua unsur di lingkungan Perjan TVRI;

Terdakwa Secara Hukum telah melakukan perbuatan sebagai berikut :

 Terdakwa seharusnya tidak berwenang menunjuk Endri Utomo selaku Ketua Penitia Lelang karena sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.

501/MK.01/UP.11/2001 Tanggal 7 September 2001 seharusnya yang menunjuk Ketua Penitia Lelang adalah Direktur Utama No. 02/KEP.I.1/2002 Terdakwa telah membentuk Penitia Pelelangan dan Penilaian Kewajaran harga Pengadaan Barang Teknik dan umum Kantor Pusat Perusahaan Jawatan Televisi Republik Indonesia yang dananya berasal dari Anggaran pendapatan dan Belanja Negara tugas sebagai berikut :

a. Melaksanakan Pelelangan pengadaan barang peralatan teknik dan umum yang anggarannya bersumber dari DIK/DIKSI perusahaan Jawatan TVRI Tahun Anggaran 2002;

b. Menilai kewajaran harga atas pengadaan barang peralatan teknik dan umum yang pengadaannya dilakukan dengan cara penunjukan dan atau pemilihan langsung yang anggarannya bersumber dari DIK/DIKSI Perusahaan Jawtan TVRI Tahun Anggaran 2002;

c. Dalam melaksanakan pelelangan dan menilai kewajaran harga penitia harus;

 Menyusun Rencana Kerja dan Syarat – syarat (RKS) Pekerjaan;

 Mencari/menemukan informasi harga dari berbagai sumber yang dapat diyakini sebagai harga yang wajar sebagai referensi;

 Menetapkan harga yang menguntungkan bagi Perusahaan Jawatan TVRI;

 Menyusun jadwal Pelelangan, penunjukan/pemilihan langsung;

 Menyusun harga barang yang telah dinilai tersebut sebagai salah satu pedoman harga dalam pembelian barang berikutnya;

 Wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 2000 dan Keppres RI No. 18 Tahun 2000;

 Melaporkan dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama Perusahaan Jawatan TVRI;

- Bahwa kemudian Endro Utomo Selaku Ketua Penitia Lelang Meminta kepada R.T Sudibyarto selaku Manager Pemeliharaan Peralatan Teknik Produksi Perjan TVRI agar membuat surat usulan pengadaan suku cadang yang berjenis barangnya akan diberikan oleh Endro Utomo, Padahal prosedur TVRI, yang seharusnya terlebih dahulu ada permintaan dari user. Namun permintaan Endro Utomo yang tidak lazim tersebut telah dilaksanakan oleh saksi R.T Sudibyarto karena sudah disetujui oleh Direktur Teknik Perjan TVRI (Ahmad Adi Wijaya).

Kemudian surat usulan yang tidak lazim tersebut selaku Direktur Utama Perjan TVRI dan ternyata Terdakwa menyetetujuinya;

- Terdakwa menyetujui permohonan tersebut tanpa persetujuan dari anggota Direksi – direksi lainnya padahal sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun

2000 tentang Pendirian Perjan TVRI, Direktur Utama dapat bertindak atas nama Direksi berdasarkan Persetujuan para Anggota Direksi Lainnya karena kepengurusan Perjan TVRI adalah bersifat kolektif;

- Terdakwa yang menyetujui hasil pelaksanaan pelelangan untuk pengadaan barang tersebut, padahal Terdakwa mengetehui bahwa pelaksanaannya tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Keppres RI No. 18 Tahun 2000 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah karena dilaksanakan secara tertutup dan tidak dimumkan melalui media cetak dan papan pengumuman yang resmi;

Disamping itu pelaksanaan lelang juga dilaksanakan dengan rekayasa;

Seolah – olah di ikuti oleh 7 (tujuh) perusahaan yaitu : a. PT. LILIR KAMAN GUNA;

b. PT. ARINDA RAKSA TEGUH;

c. PT. TINTON MARINA;

d. PT. PARO REJEKI;

e. PT. ECHO ZORO 81;

f. PT. DIAN KARYA PANCAR JAYA;

g. PT. PANGGU ARTHADIPA;

Sebagaimana yang di persyaratkan dalam ketentuan Kepres Nomor : 18 Tahun 2000, padahal semua dokumen peserta lelang telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Syahtit (sebagai orang yang sudah biasa memberikan jasa dalam menyiapkan data-data perusahaan dalam suatu kegiatan pelelangan fiktif), yang kemudian Penitia Lelang menetapkan sebagai pemenang lelang adalah PT.

Lilir Kaman Guna;

a. Berdasarkan hasil lelang yang direkayasa tersebut, Terdakwa telah menandatangani kontrak No. TVRI/1.1.SP/584/2002 dan No. 040/LKG/KTR/XII/2002 Tanggal 02 Desember 2002, dengan nilai kontrak Rp. 12.433.432.000,- ( Dua Belas Milyar Empat Ratus Tiga Puluh Tiga Juta Empat Empat Ratus Tiga Puluh Dua Ribu Rupiah) termasuk bea materai dan pajak

lainnya untuk pengadaan barang berupa alat-alat teknik yaitu:

dan seterusnya.

Dakwaan Primer

Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 ayat 1 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Undang Nomor 29 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Psal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

Dakwaan Subsidair

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat 1 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke – 1 Kitab Undang-Undang hukum Pidana ;

b) Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Serang dalam Putusannya No.

1567/Pid.B/2008/PM.Jkt.PST. Tanggal 12 Februari 2009 yang amar lengkapnya sebagai berikut :

1. Menyatakan Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc., Ph.D.

tersebur, tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana KORUPSI sebagaimana dimaksud dalam Dakwaan Primair maupun Dakwaan Subsidair;

2. Membebaskan Terdakwa dari seluruh Dakwaan Penuntut Umum tersebut;

3. Membaskan terdakwa dari tahanan;

4. Memulihkan hak-hak Terdakwa dalam kemampuan, Kedudukan harkat serta mertabatnya;

5. Menetapkan barang bukti sebagaimana tercantum dalam berita acara penyitaan tetap disita untuk perkara lain;

6. Membebankan biaya perkara kepada Negara;

Pertimbangan Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Menimbang unsur setiap orang menurut Ketentuan Pasal 1 angka 3 undang – undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi;

Bahwa munurut teori hukum orang perseorangan adakah subyek hukum sebagai penyandang hak dan kewajiban yang mampu bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan pidana yang dilakukannya;

Bahwa kemampuan bertanggung jawab itu sendiri menurut para ahli hukum pidana dapat didiskripsikan bahwa pelaku tindak pidana sebagai subyek hukum mempunyai kemampuan untuk membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk, yang sesuai hukum dan yang melawan hukum, disamping itu pelaku tindak pidana mempunyai kemampuan untuk menentukan mengerti akan perbuatannya dan dapat menentukan kehendaknya secara sadar;

Bahwa dari fakta di persidangan Terdakwa adalah benar subyek Hukum yang mempunyai identitas sebagaimana disebutkan dalam surat dakwaan, dengan demikian terbukti tidak terjadi kesalahan orang (error in persona), in casu adalah SUMITA TOBING, SH. M.Sc.

PhD., disamping itu terdakwa sehat dan cakap menuntut hukum hal demikian dibuktikan atas kemampuannya untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya secara lancar dan terhadap diri terdakwa tidak melekat alasan – alasan pemaaf maupun alasan pembenar yang dapat menghapuskan sifat perbuatan pidana ;

Bahwa dari uraian di atas maka Majelis berpendapat unsure

“setiap orang” telah terpenuhi;

Unsur “Dengan tujuan Menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan”;

Bahwa apabila mencermati ketentuan Pasal 3 ini maka yang menjadi unsure paling esensial atau “menjadi inti delik”

(bestanddeel delict) adalah tujuan dari tindak pidana ini dalah menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi, dengan

demikian perbuatan melawan hukumnya dengan cara menyalahgunakan kewenangan yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya;

Bahwa dengan demikian unsure perbuatan melawan hukum dalam pasal ini hanya sebagai elemen delik yang tidak tersurat secara tegas, melainkan tersirat sebagai unsur yang diam-diam, akan tetapi juga harus dibuktikan untuk mengungkapkan fakta hukumnya ;

Bahwa oleh karena unsur perbuatan melawan hukum dalam Dakwaan Primer tidak terbukti, maka dalam dakwaan subsidair ini dinyatakan tidak terbukti, Karena elemen perbuatan elawan hukum yang di pergunakan sebgaia cara untuk mencapai tujuan dari pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal ini, sedangkan tindakan Panitia Lelang yang sarat dengan rekayasa dalam melaksanakan prosedur lelang, yang tidak sesuai dengan yang di tentukan dalam Kepres No. 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah, adalah tangging jawab Panitia Lelang serta pihak-pihak yang turut serta merekayasa hal tersebut, dan kesalahan tersebut tidak dapat ditimpahkan begitu saja kepada Terdakwa selaku atasannya.

Menimbang, bahwa oleh Karen salah satu unsur dari ketentuan pasal 3 inipun tidak terbukti, maka terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan susidair tersebut ;

Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan hukum di atas, pada akhirnya Majelis Hakim berkeyakinan bahwa terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Dakwaan Primair dan Dakwaan Subsidair, oleh karena itu terdakwa haruslah dibebaskan dari seluruh dakwaan;

c) Putusan Majelis Kasasi

- Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : JAKSA PENUNTUT UMUM pada KEJAKSANAAN NEGERI JAKARTA PUSAT tersebut;

- Putusan Mahkamah Agung No. 856 K/Pid.sus/2009, Tanggal 6 Januari 2011 telah Membatalkan putusan majelis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.

1567/Pid.B/2008/PN.JKT.PST. Tanggal 12 Februari 2009 - Menyatakan Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc.,

Ph.D. tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “KORUPSI SECARA BERSAMA – SAMA” sebagaimana dalam Dakwaan Primair;

- Membebaskan Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc., Ph.D dari Dakwaan primair tersebut;

- Menyatakan Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc., PhD. Telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “KORUPSI SECARA BERSAMA – SAMA” sebagaimana dalam Dakwaan Subsidair;

- Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc., Ph.D dengan pidana penjara selama 1 (satu) Tahun 6 (enam) bulan dan pidana denda sebesar Rp.

250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibarat, maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enak bulan kurungan;

- Menyatakan barang bukti berupa; dan seterusnya.

Atas Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut, Majelis Mahkamah Agung telah mempertimbangkan dan memutuskan sebagai berikut :

- Bahwa Majelis Hakim juga tidak mempertimbangkan Fakta Hukum yang diperoleh dalam persidangan bahwa Terdakwa SMITA TOBING, SH., M.Sc., Ph.D selaku Dirut TVRI dengan surat No. TVRI/I.I/820/2002 Tanggal 28 Oktober 2002 (copy terlampir) secara sepihak menetapkan HPS (Harga Perkiraa Sendiri) saat pengadaan alat teknik produksi dan suku cadang Tahun Anggaran 2002 yang dopersoalkan dalam kasus ini, padahal sesuai dengan Bab I Point. 6 huruf b dan huruf f angka 3 tentang Juknis Keppres No. 18 Tahun 2000, yang berbunyi

bahwa HPS disusun oleh Panitia Pelelangan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa bukan oleh Terdakwa SUMITA TOBING, SH, M.Sc, Ph.D selaku Dirut TVRI;

- Bahwa pertimbangan Majelis Hakim halaman 68 point 3 berbunyi antara lain : Menimbang, bahwa sebelum Majelis Hakim mempertimbangkan menegenai surat dakwaan ada baiknya apabila meluruskan beberapa hal, karena dalam Dakwaan a quo Jaksa Penuntut Umum mencampur - adukan mana fakta – fakta Hukum, mana fakta dan mana isu – isu Hukum, padahal dakwaan terhadan Terdakwa adalah melakukan tindakan pidana korupsi, oleh karena itu terhadap isu – isu hukum di luar ranah Tindak Pidana Korupsi Majelis Hakim tidak mempertimbangkannya, seperti misalnya mengenai Keputusan Direktur Utama TVRI berkaitan dengan pergantian Direksi (rolling), Penolakan pergantian Direksi, kewenangan DIrektur Utama melakukan penunjukan Penitia Lelang, ketidak harmonisan antara Anggota Direksi dengan Direktur Utama, karena sebagian besar masuk ranah hukum administrasi;

Adalah pertimbangan yang keliru menerapkan peraturan karena SUrat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum sudah tidak bermasalah dan apabila ada masalah maka seharusnya Surat Dakwaan dipersoalkan dalam Keputusan Sela Majelis Hakim tentang Eksepsi Penasehat Hukum tetanggal 4 September 2008, padahal pertimbangan hukum Majelis Hakim pada halaman 27 point 3, Majelis Hakim tegas telah menolak Eksepsi Penasehat Hukum dan memerintahkan persidangan dilanjutkan. Oleh karenanya terbuktilah adanya kekeliruan Mejelis Hakim dalam memberikan pertimbangan, di mana pertimbangan yaitu pada halaman 68 point 3 bertentangan yang satu sama lain bertolak belakang ini, keputusan Hakim menjadi tidak adil dan memihak, menguntungkan Terdakwa;

Bahwa Majelis Hakim dalam putusannya kurang cermat tidak mempertimbangkan pembuktian unsur dari tiap – tiap pasal terutama unsur ke – 3 pasal 3 Jo. Pasal 18 ayat 1 huruf b Undang

– undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Undang – undang Nomor 31 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang – undang 31 Tahun 1999 Jo.

Pasal 55 ayat (1) ke – 1 Kitab Undang – undang Hukum Pidana, pdahal perbuatan Terdakwa SUMITA TOBING, SH., M.Sc., Ph.D pada intinya adalah penyalahgunaan kewenangan sebagai Direktur Utama TVRI, karena kurang cermat dalam pertimbangan menyebabkan Majelis Hakim tidak adil dan berpihak kepada Terdakwa;

Bahwa Majelis Hakim dalam putusannya tidak mempertimbangkan fakta Hukum bahwa Terdakwa adalah swasta (bukan pegawai negeri) sehingga sebagai Direktur Utama TVRI Terdakwa dalam melaksanakan tugasnya seharusnya berpedoman kepada SK Menteri Keuangan RI. No. 501/KMK.01/UP.11/2001 Tanggal 7 September 2001, sebagaimana dipertegas oleh SK.

Menkeu RI No. 202/MK. 1/2002 Tanggal 5 November 2002 (copy terlampir); Dengan demikian alasan - alasan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara dapat dibenarkan dan Putusan Pengadilan Negeri haruslah dibatalkan.

Abstrak Hukum

- Bahwa telah terjadi adanya penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan Terdakwa, yaitu Terdakwa tidak berwenang menunjuk Endro Utomo sebagai ketua Panitia Lelang sehingga melanggar SK Menteri Keuangan No. 501/MK.01/UP.II/2001/Tangal 7September 2001, yang menentukan seharusnya yang menunjuk Ketua Panitia Lelang adalah Direktur Administrasi Keuangan ;

- Bahwa Judex Facti salah menerapkan hukum, karena perbuatan Terdakwa menyetujui hasil pelaksanaan pelelangan yang dilaksanakan secara tertutup dan tidak diumumkan melalui media cetak dan papan pengumuman yang resmi melanggar ketentuan Pasal 12 ayat (1) Keprers No. 18 Tahun 2000 ;

- Bahwa Judex Facti salah menerapkan hukum, Karena perbuatan Terdakwa menandatangani kontrak berdasarkan hasil lelang yang direkayasa tersebut mempunyai hubungan kausal dengan kerugian keuangan Negara sebesar Rp. 5.210.622.200,- (lima milyar dua ratus sepuluh juta enam ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah) sesuai perhitungan keuangan Negara oleh BPKP;

d) Analisis Hukum

Bahwa terdakwa diangkat sebagai Direktur Utama Perusahaan Jawatan Televisi Republik Indonesia (Perjan TVRI), berdasarkan surat Keputusan Menteri Keuangan No. 376/KMK.05/2001 tanggal 20 Juni 2001 yang bertujuan untuk membenahi TVRI.

Bahwa dalam langkah pembenahan tersebut terdakwa telah mengeluarkan surat Keputusan Direktur Utama No.02/KEP.1.1/2002 tanggal 7 Januari 2002 tentang Pembetukan Panitia Lelang Pengadaan Barang Peralatan Teknik dan Umum untuk tahun Anggaran 2002 dan Surat No. 557/KEP/1.1/2002 tanggal 29 Nopember 2002 tentang

Penetapan Pemenang Lelang, yang diketuai oleh Endro Utomo selaku Ketua Panitia Lelang.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam pertimbangan Hukumnya menyatakan bahwa ketentuan Pasal 3 UU.No.31/1999 Jo. UU.No.

20/2001 tentang unsur perbuatan terdakwa dalam keterkaitan dengan Pasal ini hanya sebagai elemen delik yang tidak tersurat secara tegas, melainkan tersirat sebagai unsure yang diam-diam, yang masih harus dibuktikan fakta hukumnya.

Selanjutnya Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mempertimbangkan bahwa tidak ada satu saksi pun atau alat nukti surat yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum yang dapat membuktikan perbuatan Terdakwa melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dimakusd dalam ketentuan pasal ini, sedangkan tindakan Panitia Lelang yang sarat dengan rekayasa dalam melaksanakan prosedur lelang, yang tidak sesuai dengan yang ditentukan dalam Kepres No. 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah, adalah tanggung jawab Panitia Lelang serta pihak-pihak yang turut serta merekayasa hal tersebut, dan kesalahan tersebut tidak dapat ditimpahkan begitu saja kepada Terdakwa selaku atasannya.

Bahwa pertimbangan Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut diatas telah di batalkan oleh putusan Majelis Kasasi dengan pertimbangan sebagai berikut :

- Bahwa yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) adalah mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma – norma kehidupan social dalam masyarakat, maka perbuatan terebut dapat dipidana;

- Bahwa terhadap unsur “secara melawan hukum” sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Mahkamah Konstitusi dalam putusannya

Tanggal 25 Juli 2006 Nomor 003/PUU/IV/2006 menyatakan

“Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 31 1999 akan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan telah pula dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

- Bahwa terhadap putusan Mahkamah Konsitusi tersebut Yurisprudensi Mahkamah Agung dalam perkara Nomor 2065 K/Pid/2006 Tanggal 21 Desember 2006 an. Drs. Kuntjoro Hendarmoto, MBA dan Putusan Nomor 207 K/Pid/2007 Tanggal 28 Februari 2007 an. Ir. Ishak tetap member makna “perbuatan melawan hukum” yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, baik dalam arti formil maupun dalam materiil, mengingat alasan-alasan yang selengkapna dikutip sebagai berikut;

1) Bahwa dengan dinyatakannya penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan telah dinyatakan pula tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, maka yang di maksud dengan unusr “melawan hukum” adalah Pasal 2 ayat (1) undang-undang tersebut menjadi tidak jelas rumusannya, oleh karena itu berdasarkan Doctrine “Sens clair” (La Doctrine Du Sens Clair) hakim harus melakukan penemuan hukum dengan memperhatikan;

a) Bahwa Pasal 28 ayat (1) Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2004 yang menentukan “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”, Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dialih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya”;

b) Bahwa Hakim dalam mencari makna “melawan hukum” seharusnya mencari dan menemukan kehendak public ang bersifat unsure pada saati ketentuan tersebut diberlakukan pada kasus konkrit (bandingkan M.Yahya Harahap, SH, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Edisi Kedua Halaman 120);

c) Bahwa Hamaker dalam keterangannya Het Recht en de Maatschappij dan juga Recht, Wet en Rechter antara lain berpendapat bahwa, Hakim seyogyana mendasarkan putusannya sesuai dengan kesadaran Hukum dan penerapan hukum yang sedang hidup di dalam masyarakat ketika putusan itu di jatuhkan;

Dan bagi I.H Hymas (dalam keterangannya: Het recht der werkelijkheid), hanya putusan hakim yang sesuai dengan kesadran hukum dan kebutuhan hukum warga masyarakatnya yang merupakan “hukum dan makna sebenarnya” (Het recht der werkelijkheid) (lihat Prof.

Dr. achmad AN, SH, MH menguak tabir hukum (suatu kajian filosifis dan sosiologis) cetakan kedua 2002, hal 140;

Bahwa apabila kita memperhatikan Undang-Undang, ternyata bagi kita bahwa Undang-Undang tidak saja menunjukan banyak kekurangan-kekurangan, tapi seringkali juga tidak jelas. Walaupun demikian Hakim harus melakukan peradilan. Teranglah bahwa dalam hal sedemikian Undang-Undang member kuasa kepada Hakim untuk menerapkan sendiri maknanya ketentuan Undang-Undang itu atau artinya suatu kata yang tidak jelas dalam suatu ketentuan secara gramatikan atau historis baik “Recht maupun Wetshistoris” (Lie Oen Hok), Jurisprudensi sebagai sumber hukum, pidato diucapkan pada waktu peresmian pemangkuan jabatan Guru Besar Luar

Biasa dalam Ilmu Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia pada Fakultas hukum dan Pengetahuan Mayarakat di Unversitas Indonesia di Jakarta pda Tanggal 19 September 1959 hal, 11);

Bahwa Mahkamah Agung dalam hubungan dengan perkara ini adalah akan mengadopsi ajaran prioritas baku dari Gustac Rad Bruch yang berpendapat bahwa tujuan hukum berdasarkan prioritas adalah keadilan, manfaat baru kepastian hukum;

2) Bahwa memperhatikan butir tersebut maka Mahkamah Agung dalam memebri makna unsur “secara melawan hukum‟ dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 akan memperhatian Dokrin dan Yurisprudensi Mahkamah Agung yang berpendapat bahwa unsur

“secara melawan hukum” dengan tindak pidana korupsi adalah mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti materiil yang meliputi fungsi positif dan negatifnya, yang pengertiannya Mahkamah Agung berpedoman pada : a. Bahwa tujuan diperluasnya unsur “perbuatan

melawan hukum” yang tidak lagi dalam pengertianformil, namun meliputi perbuatan melawan hukum secara meteriil adalah untuk mempermudah pembuktiannya di persidangan sehingga melawan hukum secara meteriil atau tercela perbuatannya, dapatlah pelaku dihukum

melawan hukum” yang tidak lagi dalam pengertianformil, namun meliputi perbuatan melawan hukum secara meteriil adalah untuk mempermudah pembuktiannya di persidangan sehingga melawan hukum secara meteriil atau tercela perbuatannya, dapatlah pelaku dihukum

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN. Disusun Oleh: MOCH. IQBAL (Halaman 134-150)