BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG AIKIDO DAN SILEK
2.1. Sejarah dan Perkembangan Aikido
2.1.3. Perkembangan Aikido
2.1.3.1 Perkembangan Aikido Di Jepang
Istilah Aikido baru muncul dan resmi digunakan pada tahun 1942. Sebelumnya Morihei tidak pernah mendemonstrasikan seni bela diri ini dihadapan umum selain hanya dihadapan para muridnya. Morihei juga membatasi jumlah murid yang diterimanya unluk belajar aikido. Ini bertujuan agar ia dapat memperhatikan setiap murid yang diajarkan. Pada saat perang dunia ke II.
Aikido mengalami kemunduran karena muridnya banyak yang meninggalkan dojo dan ikut terlibat dalam kemiliteran. Dojo Kobukan hancur Iebur dibom pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat. Akibatnya, sekitar 30 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal, dan untuk sementara pusat kegiatan aikido dipindahkan ke Iwama. Dojo Kobukan kemudian diserahkan kepada anaknya yang bernama Kisshomaru. Morihei menjalani hidupnya dengan bertani dan membuat sebuah dojo di Imawa untuk tempat berlatih aikido bersama muridnya yang sekarang hanya tersisa sedikit sekali. la juga mendirikan sebuah kuil yang diberi nama aiki-jinja.
Pada tanggal 15 agustus 1945 Jepang kalah dalam perang dan dibawah perjanjian militer Jepang harus mengikuti beberapa peraturan dari sekutu yang salah satunya adalah larangan untuk berlatih seni bela diri di seluruh Jepang. Larangan ini membuat latihan
Di dojo Kobukan terhenti dan aktifitasnya dipindahkan ke Imawa. Larangan tersebut kemudian dicabut pada-tahun 1948 dan aklifitas aikido mulai hidup kembali di tahun 1949.
Pada awal lahun 1950-an aikido mulai berkembang ke dunia barat berkat upaya Kishomaru serta Mochisuzuki yang memperkenalkan aikido ke Perancis dan Hawai. Organisasi aikido mulai membesar, Kisshomaru kembali berkonsentrasi mengelola dojo pusat yang dipindahkan lagi ke Tokyo. Pertengahan 1950-an Morihei lebih terbuka dengan dunia luar, ia membiarkan dirinya dipotret dan difilmkan dengan bebas. Morihei menyadari bahwa orang harus melihat aikido secara langsung, menyaksikan dengan mata sendiri dan ia menjadi promotor untuk mempromosikan aikido. la juga mendemonstrasikan aikido di depan umum.
Aikido tidak hanya diminati oleh orang dewasa tetapi aikido juga mendapat sambutan yang baik dari anak-anak.
Morihei mengizinkan didirikannya klub aikido di universitas-universitas, sehingga banyak generasi muda yang bisa mempelajari aikido. Kisshomaru dibimbing oleh Morihei untuk membuat sistematika latihan aikido dan mengelompokkan teknik-teknik aikido untuk diberi nama. Hal ini disebabkan karena sebelumnya teknik aikido diajarkan tanpa nama. la mempublikasikan bukunya yang pertama berjudul Aikido pada tahun 1957.
Era tahun 1960-an menjadi tahun emas bagi aikido. Teknik-teknik yang diajarkan Morihei menjadi Iebih lembut. Perkembangan aikido diluar negeri semakin meluas dan dikirimkanlah lebih banyak instruktur-instruktur aikido ke Eropa dan Amerika. Aikido akhirnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah Jepang.
Pada tahun 1960 Morihei mendapatkan "Medali Kehormatan Pita Ungu" dan pada 7 Agustus 1962 diadakan festival aikido terbesar untuk merayakan 60 tahun Morihei menjadi praktisi aikido dan seni bela diri lain yang pernah ditekuninya. Pada tahun 1964 ia menerima penghargaan "Bintang Kelas 4 Matahari Terbit" dari Kaisar Naruhito karena jasanya dalam menciptakan aikido dan mengembangkan seni bela diri tradisional Jepang.
Aikido memiliki organisasi secara nasional (Jepang) maupun International. Beberapa Organisasi Internasional yang cukup besar antara lain: Aikikai, Yoshinkai-kan, Aikido Association of America, Tomiki Aikido dan Ki society atau Ki no Kenkyukai Aikido.
2.1.3.2 Perkembangan Aikido Di Indonesia
Awalnya aikido masuk ke Indonesia dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang belajar selama beberapa tahun di Jepang. Mereka adalah Ir. Josef Izaak Poetiraj. Ir. Mansur Idbam dan Ir. Tamsu Ibrahim. Pada tahun 1965, mahasiswa tersebut kembali ke tanah air dan mengajarkan aikido secara terpisah di beberapa tempat di Jakarta. Namun akibat terbatasnya fasiiitas dan minimnya publikasi yang dilakukan, perkembangan aikido saat itu berjalan tersendat-sendat. Pada awal tahun 1982, Ir. Josef I. Poetiraj dan Ir. Mansur Idham bersama-sama membuka tempat berlatih aikido (dojo) dengan menggunakan aula kantor Philips Indonesia di Jl. Pierre Tendean Jakarta dengan hanya menggunakan 11 buah matras serta jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang, antara lain Ir.Gunawan Danurahardja dan Ir. Robert Felix. Selanjutnya untuk mengembangkan aikido lebih lanjut, tempat latihan dipindahkan ke aula gulat Istora Senayan Jakarta. Namun dampak dari perpindahan ini berpengaruh terhadap perkembangan aikido akibat kurang strategisnya letak dojo tersebut dan masih kurangnya publikasi keberadaan aikido di Indonesia,
Tepatnya tanggal 28 Oktober 1983, dibentuklah Yayasan Indonesia Aikikai oleh Ir. Josef I. Poetiraj (Ketua Dewan Guru) Ir. Mansur Idham (Ketua Umum), Ir. Prawira Wijaya (Pendiri Aikido Surabaya), Ir. Gunawan Danurahardja, Ir. Robert Felix dan Gatot yang diakui oleh International Aiki Foundation - International Aikido World Headquartes Jepang. Sejak saat itu aikido semakin berkembang, hal ini ditandai dengan diadakannya embukai/peragaan teknik aikido setiap tahun yang dihadiri oleh pelatih aikido setingkat Shihan (master) dan Shidoin (asisten pelatih) yang datang dari Aikido World Headquarters (Hombu
Dojo/Dojo Pusat), serta bertambahnya jumlah dojo menjadi 4 buah di Jakarta pada tahun 1985.
Berkat usaha yang Iebih agresif dan dengan program promosi di televisi dan media cetak serta aktifitas latihan yang Iebih kompak maka terjadi peningkatan peminat aikido di Indonesia pada tahun 1987. Pada tahun itu lebih banyak dojo didirikan. Pada lahun 1990 dengan adanya program bantuan Jepang (JICA) yang mengirimkan tenaga ahli pelatih Jepang dan beredarnya film Steven Seagal, aikido menjadi lebih popular dan lebih mudah diperkenalkan kepada masyarakat. Peminat aikido bertambah secara kwantitas. Tahun 1992-1993 terjadi reformasi dan derivasi arah perkembangan aikido dalam semangatnya. Sejak saat itu dasar pengembangan aikido mengemuka, kemudian lahirlah organisasi yang dibentuk para aikidoka dalam bentuk yayasan dengan nama Yayasan KBAI pada tahun 1993. Yayasan KBAI bersifat formal-legal dalam akta notaris yang disahkan pengadilan negeri Jakarta Selatan.
Pada tahun 1999 jumlah dojo di Jakarta sudah berjumlah 25 buah, ditambah dengan dojo-dojo di Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera Utara dan Lampung.
Sekarang aikido di Indonesia sudah sangat berkembang. Tempat pelatihan aikido juga banyak didirikan di universitas-universitas Indonesia, seperti UKM aikido di Universitas Bina Nusantara Jakarta yang berdiri pada tahun 1994 dan UKM aikido di Universitas Sanata Dharma yang berdiri sejak tahun 1997.
2.2. Sejarah Dan Perkembangan Silek