BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG AIKIDO DAN SILEK
2.2. Sejarah Dan Perkembangan Silek
2.2.3. Perkembangan Silek
Silek mempunyai pengertian sebagai gerak beladiri yang sempurna yang bersumber pada kerohanian suci murni, keselamatan diri ataupun kesejahteraan bersama (Ben Haryo, 2005:40). Sebelum menjelaskan perkembangan silek paninjauan lebih jauh lagi, penulis terlebih dahulu akan menjelaskan perkembangan pencak silat secara umum sebagai berikut:
Kedudukan orang yang memiliki keterampilan beladiri sangat menentukan bagi kekuatan tentara kerajaan. Kerajaan mempunyai guru yang melatih para prajurit dalam olahraga beladiri, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Keterampilan menggunakan senjata tajam sangat dimahirkan untuk membentuk lascar yang kuat dan ampuh. Kerajaan-karajaan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu beladiri. Tercatat dalam sejarah bahwa R. Wijaya dengan kemampua beladirinya, ia bersama prajuritnya pada tahun 1293 dapat mengusir tentara Tartar yang mencoba menaklukkan kerajaan Singosari (Suwirman, 2004:3).
2. Zaman penjajahan Belanda (Abad ke 20)
Pada zaman penjajahan belanda, pencak silat hanya boleh diberikan pada kalangan tertentu seperti sekolah pendidikan pegawai pemerintah, sekolah polisi dan tidak semua pendekar diizinkan melatih dan mengajar pencak silek. Akan tetapi pencak silat masih tetap diajarkan dipesantren-pesantren yang menjadi bagian dari pendidikan jasmani dan mental para santri. Melalui kegiatan latihan pencak silek, para pendekar yang patriotik diisi dengan iman yang teguh, kepribadian nasional, keberanian dan semangat juang yang takkunjung padam melawan kezhaliman.
Karena diangggap membahayakan pemerintah belanda, maka diadakan oleh pemerintah belanda larangan untuk berkumpul lebih dari 5 orang. Dengan adanya larangan tersebut para guru pencak silek tidak dapat leluasa mengajarkan keahliannya pada semua orang.
Pada permulaan penjajahan jepang rakyat Indonesia merasa gembira karena telah lepas dari belenggu belanda selama lebih kurang tiga setengah abad lamanya. Semangat keprajuritan dibangun dengan latihan-latihan militer melalui milisi dengan latihan beladiri seperti ju-jutsu, sumo, kenjutsu (kendo). Latihan pencak silek boleh diajarkan dimana-mana. Para pendekar dikumulkan untuk mempertahankan asia timur raya karena jepang harus menghadapi sekutu, Amerika serikat, inggris, Australia, belanda dan china. Karena itu jepang mempersiapkan heiho dan PETA dibawah tekanan disiplin yang keras dan diluar kemanusiaan. Akan tetapi semua itu membangkitkan semangat juang bangsa Indonesia hingga akhirnya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Silek paninjauan sunur-kuraitaji merupakan perguruan silek berpagar ruyung (berdinding rapat) bertempat di Tanjung Medan, nagari Ulakan kecamatan Nan sabaris Pariaman, Sumatera Barat yang didirikan oleh Tuanku Syekh Burhanuddin beserta pengikutnya yang bertujuan selain mengajarkan seni beladiri juga untuk mengembangkan ajaran agama Islam di daerah tersebut. Setelah wafatnya Tuanku Syekh Burhanuddin perguruan dilanjutkan oleh murid beliau dintaranya Inyiak Idjuak dan kawan-kawannya.
Pada awal perkembangannya silek paninjauan disambut baik oleh masyarakat Ulakan khususnya. Metode pengajarannya yang berdasarkan pada alam takambang dijadikan guru menjadi antusis bagi masyarakat. Hal itu ditambah lagi dengan aliran silek yang bernapaskan Islam. Guru-guru silek juga merupakan tokoh pemuka adat dan agama yang mengajarkan dan mengembangkan ajaran Islam seperti: Tuanku Syekh Burhanuddin, Tuanku Lareh, Inyiak Idjuak dan lain-lain. Silek panijauan berkembang pesat seiring dengan
berkembangnya ajaran Islam di Pariaman. Masyarakat Minangkabau yang terkenal kuat dengan adatnya dapat menerima dan memakai beladiri silek.
Masuknya pemerintahan Kolonial Belanda tidak begitu mempengaruhi perjalanan silek di Ulakan. Kehidupan sosial masyarakat berjalan seperti biasanya. Kekuatan hukum adat berperan dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Walaupun ada beberapa pemuka adat terbawa arus politik Belanda (devide et impera), yang akhirnya merupakan pemicu terjadinya perang paderi dengan terjadinya pertikaian antara kaum agama dan kaum adat. Dimana kaum adat didukung oleh Belanda. Namun keadaan demikian tidak sampai merusak tatanan adat istiadat Minangkabau dikarenakan masyarakat hanya patuh pada pemuka adat ataupun pemuka agama yang memiliki kewibawan dan tanggung jawab terhadap kaumnya.
Dalam kehidupan tradisional, pengetahuan dan keahlian pemuka adat atau penghulu dihargai dan dibutuhkan masyarakat. Segala bentuk aktivitas yang akan dan sudah dilakukan masyarakat dihadapkan kepada penghulu untuk mendapat arahan dan bimbingan. Oleh karena itu yang menjadi penghulu kaum di daerah Minangkabau bukanlah orang sembarangan, ia harus memenuhi syarat dan kriteria yang telah ditentukan dan memiliki garis keturunan yang layak untuk dijadikan penghulu. Keberadaan penghulu dalam hal ini diungkapkan dalam pituah adat Minangkabau yang berbunyi “Pai tampek rang batanyo, pulang tampek rang mangadu”, ( pergi tempat orang bertanya, pulang tempat orang mengadu).
Keberadaan silek sebagai seni beladiri Minangkabau tidak terlepas dari fungsinya yang bermacam-macam. Selain sebagai seni beladiri silek juga berfungsi sebagai permainan rakyat, seni, sarana pembinaan mental dan menjalin
persaudaraan, dan olahraga. Dalam permainan rakyat Minangkabau yang berunsur seni seperti Randai, silek merupakan aspek dasar pembangun dan pembentuk. Tanpa adanya silek tidak memungkinkan adanya randai, karena gerakan-gerakan yang digunakan dalam randai adalah gerakan-gerakan dasar dari silek.
Silek berbeda dengan beladiri lainnya dikarenakan silek hanya diperuntukkan bagi laki-laki yang telah cukup umur (baligh), dengan kata lain, silek tidak diperuntukkan bagi anak-anak, ataupun wanita. Dalam adat Minangkabau, wanita merupakan perhiasan nagari yang disebut dengan Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang. Kedudukan seorang wanita di Minangkabau layaknya perhiasan yang menyinari rumah dan nagari yang harus dijaga dan dilindungi. Oleh karena itulah wanita tidak dibenarkan belajar silek ataupun bermain randai. Silek oleh masyarakat dikembangkan kedalam berbagai bentuk tarian. Gerakan-gerakan silek yang meliuk-liuk dikembangkan hingga menjadi bentuk gerak tarian yang indah seperti tari piring, tari galombang,dan lain-lain.
Sekitar tahun 1950-an, pendidikan dalam perguruan silek mulai mengalami pasang surut. Hingga terjadinya pergolakan PRRI dan berlanjut sampai sekarang. Hal ini disebabkan oleh beberapa permasalahan seperti : meninggalnya guru-guru yang akan mengajarkan ilmu beladiri dimana beliau tidak sempat menurunkan semua ilmunya kepada muridnya. Disamping itu adanya permasalahan klasik, yaitu seputar hal yang bersifat finansial. Tidak ada lagi orang yang mau mengajarkan silek dengan ikhlas dan tanpa dibayar.
Dapat dianalisa beberapa kendala silek dalam perkembangannya saat sekarang ini sebagai berikut:
1. Tempat perguruan silek dengan sistem terbuka tidak lagi sesuai dengan masa sekarang ini, karena mudah dilihat orang dan hal ini dapat menggangu pikiran para murid yang sedang belajar.
2. Tidak adanya yang bertanggung jawab secara personal terhadap perkembangan perguruan silek sunur kuraitaji ini.
3. Sumber dana yang jelas tidak ada, hanya diharapkan sumbangan murid, tidak ada patokan dan kepastian.
Dari permasalahan diatas dapat dilihat bahwa silek paninjauan mengalami kendala dalam perkembangannya. Silek paninjauan yang merupakan salah satu ilmu beladiri yang mempunyai ciri khas yaitu berdasarkan pada alam, bernapaskan Islam, dan berfungsi sebagai alat beladiri dan seni olahraga. Silek paninjauan sunur kuraitaji salah satu seni budaya yang harus dipertahankan, semakin langkanya guru yang kebanyakan telah meninggal tanpa sempat menurunkan ilmunya kepada muridnya.