• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Perkembangan Akreditasi

A. Akreditasi Rumah Sakit di Manca Negara

Perkembangan akreditasi rumah sakit di manca negara perlu diketahui berhubung program dan pelaksanaan akreditasi rumah sakit di Indonesia mengikuti perkembangan akreditasi di manca negara dan menggunakan sistem dan instrumen yang berlaku di luar negeri sebagai acuan penting dalam menetapkan program dan pelaksanaannya di Indonesia.

1. Amerika Serikat

Pada tahun 1910 Dr. Codman, seorang ahli bedah, merintis dan mendorong disusunnya Hospital Standardization Program, yang kemudian diberlakukan sebagai

Minimum Standard for Hospital oleh The American College of Surgeon pada tahun 1917. Pada tahun 1926 disusun Standard Manual yang pertama. Pada tahun 1951, dibentuk badan akreditasi rumah sakit dengan nama Joint Commission on Accreditation of Hospital (JCAH). Pada tahun 1987 (setelah 36 tahun) cakupan tugas

pekerjaan badan JCAH berkembang dan bertambah luas meliputi Rumah Sakit,

Home Care Organization, Nursing Home, Health Care Network, Mental Health Care Organization, Ambulatory Health Care Organization and Clinical Laboratory

sehingga badan tersebut berubah nama menjadi Joint Commission on Accreditation of

Health Care Organization (JCAHO) dengan misi untuk meningkatkan kualitas

pelayanan melalui penyelenggaraan akreditasi sarana pelayanan kesehatan.

Mulai tahun 1987 / 1998 akreditasi sebelumnya ditekankan pada penilaian unsur struktur dan proses, melalui program ORYX (The Next Evolution in Accreditation) mulai dikembangkan lebih mendalam dengan melakukan penilaian terhadap unsur outcome dari pelayanan.

2. Australia

Pada mulanya Australia dibimbing oleh Amerika, yaitu ketika pada tahun 1958. JCAHO memaparkan sistem akreditasi yang diberlakukan di Amerika. Pada tahun 1974 Australian Medical Association dan Australian Hospital Association

membentuk badan akreditasi dengan nama Australian Council on Hospital Standard

yang kemudian berubah menjadi Australian Council on Health Care Standard (ACHS).

Pada tahun 1978 dilaksanakan program akreditasi untuk pertama kali dan penilaian ditujukan hanya pada unsur struktur dan proses. Pada tahun 1989 program akreditasi mengalami evolusi dengan penilaian ditujukan pada outcome pelayanan.

Pada tahun 1996 dimulai program baru yang disebut dengan EQUIP (Evaluation and Quality Improvement Program) dimasukkan dalam sistem akreditasi dengan fokus penilaian beralih pada asuhan pasien (continuum of care of patients)

3. Kanada

Pada tahun 1951 Canadian Medical Association ikut berperan mendirikan

JCAH di Amerika dan pada tahun 1958 Kanada dibantu oleh Amerika mendirikan

The Canadian Council on Hospital Accreditation yang kemudian diubah namanya menjadi The Canadian Council on Health Services Accreditation (CCHSA). Ditahun 1995 Client – Centered Accreditation Program (CCAP) merupakan program baru yang dimasukkan ke dalam sistem akreditasi.

4. Jepang

Pada tahun 1990 dibentuk JHQAS (Japan Hospital Quality Assurance Society) kemudian pada tahun 1995 namanya berubah menjadi JSQua (Japan Society for Quality in Health Care) dan selanjutnya menjadi Japan Council for Quality Health Care (JCQHC).

5. Afrika Selatan

Pada tahun 1995 dibentuk Council for Health Service Accreditation of Southern Africa (COHSASA) yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan sarana pelayanan kesehatan melalui standard and process quality assurance.

6. Inggris

Pada tahun 1990 setelah dilakukan reformasi pelayanan yang pada intinya membedakan “Purchaser dan Provider”, Departemen Kesehatan mendorong

dikembangkannya sistem akreditasi yang independen, dijalankan oleh tiga organisasi yaitu King’s Fund Organizational Audit (KFOA) untuk Acute Hospitals, Hospital Accreditation Program (HAP) untuk Small Community Non Acute Hospitals dan

Health Services Accreditation untuk sarana pelayanan kesehatan lainnya. 7. Amerika Latin

Melihat keberhasilan JCAHO di Amerika Serikat, pada tahun 1990-an Pan

American Health Organization Regional Office WHO menetapkan standar manual

untuk pelayanan rumah sakit disertai pembentukan Badan Akreditasi di 7 (tujuh) negara anggota WHO regional office di daerah Amerika Latin.

Pada tahun 1998 negara anggota WHO regional office di daerah Amerika Latin yang sudah mulai melaksanakan program akreditasinya adalah Argentina (terbatas), Brazil, Chile (pada Public Hospitals), Cuba, Dominica, Guatemala, Mexico, Nicaragua (terbatas), Peru, Uruguay (terbatas).

8. South East Asia WHO Region

Pada tanggal 7 – 11 Desember 1998 di Bangkok diadakan Intercountry Meeting on Hospital Accreditation, yang disponsori oleh WHO, dihadiri oleh 9 (sembilan) negara, Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan satu tamu dari Maroko. Dari pertemuan ini diketahui hampir semua negara anggota ini masih berkonsentrasi pada pengembangan konsep dan upaya Quality Assurance / Improvement kecuali Thailand, Malaysia dan Indonesia.

9. Taiwan

Pada tahun 1978 Taiwan melakukan akreditasi pertama kali terhadap rumah sakit pendidikan dan secara bertahap terhadap rumah sakit pemerintah pada tahun 1979, 1982, 1984 dan 1986. Pada tahun 1986 diundangkan “Medical Care Law“

sehingga akreditasi untuk rumah sakit dikuatkan dengan suatu peraturan / undang- undang. Pada tahun 1988 pertama kali dilakukan akreditasi rumah sakit berdasarkan undang-undang tersebut.

10.Korea

Pada tahun 1961 peraturan tentang akreditasi rumah sakit telah siap namun sampai tahun 1978 belum ada kegiatan akreditasi dari pemerintah karena kendala sumber daya manusia ahli.

Pada tahun 1979 pemerintah mendelegasikan wewenang untuk melakukan akreditasi rumah sakit pada “Korean Medical Association”. Oleh karena adanya perbedaan tingkat dari fasilitas rumah sakit pada tahun 1985 maka Korean Hospital Association dan Korean Medical Association yang merupakan Komite Standarisasi Rumah Sakit mengembangkan standar akreditasi yang dibutuhkan rumah sakit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).

B. Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008) mengemukakan bahwa pada tahun 1987 Departemen Kesehatan menerima bantuan teknis dari Amerika Serikat melalui US-AID berhasil menyusun suatu sistem dan perangkat ukur obyektif yang untuk menilai kinerja manajemen rumah sakit disebut standar

pelayanan rumah sakit dan standar pelayanan medik. Penyesuaian, pengurangan atau penambahan dari standar acuan yang berlaku di Amerika Serikat dan Australia dilakukan standar dapat diaplikasikan menurut kondisi di Indonesia. Penilaian lebih berfokus kepada struktur dan proses yang kelak sebagai landasan kuat untuk menyusun standar outcome di kemudian hari.

Pada tahun 1993 standar pelayanan rumah sakit yang terdiri dari 20 kegiatan pelayanan dan standar pelayanan medik ditetapkan berlaku di seluruh rumah sakit di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan. Setiap kegiatan pelayanan terdiri dari 7 (tujuh) standar yaitu falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, staf dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan serta evaluasi dan pengendalian mutu. Ke-20 kegiatan pelayanan tersebut adalah administrasi dan manajemen, pelayanan medik, pelayanan gawat darurat, pelayanan perinatal risiko tinggi, pelayanan keperawatan, pelayanan anestesi, pelayanan radiologi, pelayanan farmasi, pelayanan laboratorium, pelayanan rehabilitasi medis, pelayanan gizi, rekam medik, pelayanan kesehatan, kebakaran dan kewaspadaan bencana, kamar operasi, pelayanan intensif, pengendalian infeksi di rumah sakit, pelayanan sterilisasi sentral, pemeliharaan sarana, pelayanan lain, perpustakaan.

Pada tahun 1993 / 1994 dilakukan sosialisasi dan uji coba penerapan standar pelayanan rumah sakit dan standar pelayanan medik tersebut. Hasil uji coba tidak semua dari 20 kegiatan pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik oleh rumah sakit hanya kegiatan pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan medik, pelayanan

gawat darurat, pelayanan keperawatan dan rekam medik memberikan kontribusi nilai skor diatas 60% sehingga dari dasar uji coba tersebut maka pelaksanaan akreditasi pada tahap pertama adalah untuk 5 (lima) kegiatan pelayanan tersebut.

Akreditasi rumah sakit mulai dilaksanakan pada tahun 1995 dengan 5 (lima) kegiatan pelayanan terhadap 10 rumah sakit yang ditunjuk oleh Departemen Kesehatan karena rumah sakit tersebut pernah menjadi nominasi pemenang penilaian kinerja rumah sakit dalam rangka Hari Kesehatan Nasional.

Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta manajemen perumah-sakitan, pada tahun 1999 standar pelayanan rumah sakit dan standar pelayanan medik tersebut direvisi dengan melibatkan berbagai organisasi profesi. Kegiatan pelayanan ada yang dikurangi dan ada kegiatan pelayanan yang mengalami perubahan nama dengan alasan adanya duplikasi dari substansi yang dimuat dalam instrumen yang ada, baru dari hasil revisi. Kegiatan pelayanan saat itu berjumlah 16 (enam belas) . Standar pelayanan rumah sakit dan standar pelayanan medik hasil revisi tahun 1999 pada tahun 2007 mengalami revisi lagi dengan menambahkan

Patient Safety (keselamatan pasien) yang diintegrasikan di kegiatan pelayanan administrasi manajemen dan kegiatan pelayanan medik.

Sejalan dengan peningkatan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berfokus kepada pasien dengan sistem akreditasi yang mengacu pada JCI maka pada tahun 2012 telah dilakukan perubahan paradigma akreditasi dari yang semula berfokus pada provider dengan dokumentasinya menjadi akreditasi yang berfokus kepada pasien dengan melihat implementasi atau pelaksanaan kegiatan menggunakan

metodologi telusur. Perubahan ini merubah kompetensi dan fungsi dari seluruh staf yang terlibat dalam akreditasi yang semula hanya mampu dan berfungsi untuk mempersiapkan dokumen, tetapi sekarang dituntut harus mampu dan berfungsi sebagai assessor internal dalam mempersiapkan akreditasi rumah sakit (Sutoto, 2013).

Dokumen terkait