• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Aksara di Indonesia 1 Perkembangan Sejarah

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DATA (Halaman 23-34)

Kebanyakan aksara Asia Tenggara keturunan aksara Palawa dari India Selatan. Ini merupakan aksara setengah silabis turunan dari Brahmi, sistem tulisan yang dikembangkan oleh analisis Brahmani mengenali bahwa suku kata adalah unit dasar suatu bahasa yang diucapkan. Perangkat utama hurufnya mewakili konsonan, masing-masing dianggap muncul dengan vokal inheren, -a-. Tanda yang mewakili vokal lain dapat ditambahakan pada rangkaian utamnya, sama dengan bentuk singkatan konsonan dapat dipakai untuk mewakili gugus konsonan (Mc Glynn 3).

Penggunaan huruf Palawa pertama kali di Kepulauan Indonesia oleh tiang Yupa dari Kutai (kira-kira 400 M). Penulisannya pada saat itu menggunakan daun tal yang mungkin telah merangsang timbulnya pembaharuan, karena menjelang 760 M sifat yang penting dari huruf Palawa telah hilang, diganti oleh “asas sama tinggi”. Inovasi selanjutnya menghasilkan sistem tulisan pribumi yang dikenal sebagai Kawi Kuna ini dibuktikan oleh banyak prasati lempeng tembaga dan batu dari abad ke-9 M. Sejak saat itu , rantai perkembangan tak terputus menghasilkan banyak inovasi kecil dan variasi setempat, tetapi huruf dasarnya tetapp sama hingga awal abad ke-16, ketika bentuk huruf semakin kursif mengisyratkan pengaruh pena, tinta, dan media kertas.

2.2.2. Huruf Kawi Akhir Zaman Majapahit

Setelah mengalami evolusi sistem penulisan setempat, huruf Palawa yang telah ada sejak tahun 400 M berkembang sampai jaman Majapahit. Perkembangan huruf pun mengalami perubahan sedikit-demi sedikit mulai Palawa Awal, Palawa Akhir (600 M), Kawi Awal (750 M), Kawi Akhir dan Kadiri Kuadrat (1000 M), hingga Kawi akhir jaman Majapahit (1200 M). Pada tahun 1294, dinasti Singasari, yang meninggalkan sedikit prasasti, digantikan oleh wangsa Majapahit, dinasti yang sangat berkuasa, berlangsung hingga akhir abad ke-15. Dukungan kerajaan terhadap sastra dan seni serta dukungan yang murah hati dari Biara Siwa dan Buda yang rahib-rahibnya merupakan praktisi seni sastra yang terkenal, merupakan ciri pemerintahan Majapahit.

seringkali dengan variasi setempat yang tampaknya telah dipromosikan oleh istana Majapahit. Prasasti lempeng tembaga dari jaman Majapahit jelas menunjukkan pengaruh teknik lengkung yang cocok untuk menulis naskah lontar;

prasasti lempeng tembaga ditandai oleh serif horisontal teratur yang menciptakan kesan garis horisontal tertur yang menciptakan kesan garis atas yang tak nyata, terpecah hanya oleh lengkungan anggun dari huruf ‘r’. Gaya Singosari-Majapahit juga dikenal dari prasasti-prasasti yang ditemukan di luar Jawa. Sementara prasasti-prasasti Bali membuktikan adanya ahli-ahli tulis yang menulis dengan huruf Kawi Awal sedini 882 M, banyak prasati Bali yang selamat merupakan salinan yang diterbitkan kembali dari maklumat-maklumat yang lebih tua yang ditulis dengan gaya yang sangat dekat dengan gaya lempeng tembaga Majapahit (John McGlynn 3)

2.3. Bali

Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata.

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.

2.3.1. Sejarah Bali

Penghuni pertama Pulau Bali diperkirakan berasal dari penduduk di Asia yang bermigrasi pada tahun 3000-2500 SM. Saat itu Bali masih berada pada jaman prasejarah dimana semua peralatan masih terbuat dari batu. Mereka berdiam di daerah sebelah barat pulau Bali.

Baru sekitar abad ke-1 setelah masehi, kedatangan bangsa India yang beragama hindu ke Bali mengakhiri jaman prasejarah. Secara pasti kebudayaan yang dibawa mereka tersebar ke seluruh Bali. Oleh karena itu mayoritas penduduk Bali beragama Hindu. Hal ini semakin diperkuat dengan datangnya para penganut hindu dari Kerajaan majapahit yang mermigrasi ke Bali setelah Majapahit mengalami keruntuhan di pulau Jawa.

Nama Bali diambil dari kata Balidwipa yang tertulis pada prasasti Blanjong. Prasasti tersebut dibuat pada tahun 913 oleh Sri Kesari Warmadewa.

Pada saat itu masyarakat Bali sudah bercocok tanam dengan menggunakan sistem pengairan sawah bernama Subak.

Saat penjajah datang ke Indonesia, Bali turut menjadi daerah yang mengalami peperangan. Kedatangan Belanda ke Bali telah menewaskan ribuan rakyat sehingga mendapatkan perlawanan dari Kerajaan-Kerajaan yang ada di Bali perang tersebut terkenal dengan Perang Puputan. Kedudukan Belanda di Bali pun tidak sekuat seperti di daerah Indonesia lainnya. Para gubernur Belanda yang memerintah di Bali sangat sedikit memberikan kekuasaannya, sehingga pengendalian terhadap agama dan kebudayaan pun umunya tidak berubah.

Setelah berturut-turut mengalami penjajahan dan peperangan, Bali perlahan tumbuh menjadi daerah yang mampu mempertahankan kebudayaannya secara turun temurun hingga sekarang.

Namun Bali sempat mendapatkan musibah ketika serangan teroris terjadi pada 12 Oktober 2002, saat itu sebuah Bom meledak di kawasan Kuta dan menewaskan 202 orang serta 209 orang lainnya cedera. Tidak sampai di situm pada tahun 2005 kembali terjadi serangan bom yang terjadi di dua tempat yaitu Kuta dan Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapatkan liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.

Kebudayan menduduki posisi penting di Bali. Pembangunan pada semua segi memiliki wawasan kebudayaan. Tak heran jika Bali masih menjadi daerah yang menjadikan tradisi sebagai patokan utama dalam kegiatan sehari-hari.

Sejak tahun 1920, Bali telah menempatkan diri sebagai pintu gerbang utama untuk pergaulan dengan dunia luar sehingga Bali pun secara tidak langsung turut berinteraksi dengan budaya Barat. Kontak dengan budaya barat tersebut memberikan impulsif untuk lebih membangkitkan potensi serta menjadi landasan bagi perkembangan kebudayaan Bali di masa selanjutnya.

Produk kebudayaan Bali setelah melakukan interaksi dengan kebudayaan barat tampak agak beda dengan produk-produk sebelumnya. Hal ini terlihat dari hasil para seniman Bali yang mengalami perubahan dengan menghasilkan bentuk-bentuk baru yang khas, meskipun tidak terlepas dari akar budaya aslinya. Jika sebelumnya kesenian Bali hanya diperuntukkan untuk keagamaan maka sejak tahun 1930-an kesenian mulai disajikan untuk sekuler. Karya seniman lukis dan patung mulai berani mengangkat tema kehidupan sehari-hari.

Orang Barat yang menetap di Bali turut berbaur bersama dengan kehidupan setemapt sehingga mereka dapat menggali dan mengembangkan potensi kebudayaan setempat dan memberi sentuhan dengan budaya Barat yang mereka bawa. Interaksi antar budaya tersebut mampu menunjukkan sifat fleksibel dan adaptif tanpa menghilangkan kekhasan yang dimiliki.

Budaya Bali memiliki sifat yang ekspresif karena mereka memiliki ruang yang luas sehingga bisa berkembang dan mempunyai perpaduan yang utuh antara tradisi dengan agama hindu yang berintikan nilai religi, estetika, dan solidaritas.

Gambar 2.32. Ritual adat Bali

Kegiatan ritual Bali merupakan warisan yang masih melekat hingga sekarang. Agama dan seni begitu menyatu dalam kehidupan masyarakat, tidak ada kegiatan upacara keagamaan tanpa mempertunjukkan keseniannya. Seni yang selalu bertautan dengan agama ini disebut dengan Seni Wali, sedangkan seni yang digunakan sebagai pelengkap upacara disebut Seni Bebali, yang diperuntukkan khusus untuk keperluan menghibur disebut Seni Bali-balihan. Kesenian merupakan hal yang penting bagi masyarakat Bali, ritual-ritual tersebut terus diwariskan dan tatap ada hingga kini.

2.3.3. Naskah Bali dan Kegunaannya

Kesusastraan Bali meliputi teks sastra kuna yang dikarang di Jawa, didasarkan pada cerita kepahlawanan India, Ramayana dan Mahabharata. Syair dan tulisan prosa tentang pokok-pokok yang berhubungan, tentang agama dan sejarah setempat yang diciptakan di Jawa antara abad ke-10 dan ke-16 dialihkan ke Bali. Karya-karya itu masih digunkan dan disalin, sedangkan di Jawa sendiri telah menghilang atau telah menerima makna Islam baru (McGlynn 26).

Mulai abad ke-16, orang Bali menciptakan sastra mereka sendiri, yang didasarkan pada cerita-cerita “klasik” Jawa Kuna; karena bahasa yang digunakan untuk karya ini adalah bahasa Jawa Kuna, namun dengan perbedaan−yang ini dibuat di Bali. Penggunaan bahasa Bali untuk kesusastraan baru berkembang relatif belakangan, pada akhir abad ke-18. ia digunakan untuk cerita rakyat, terjemahan karya klasik dan syair yang dibuat di Bali.

2.3.4. Bahasa

Bahasa yang digunakan di Bali adalah bahasa Indonesia, bahasa Bali, dan bahasa Inggris (khususnya bagi mereka yang bekerja di sektor pariwisata). Bahasa Indonesia dan Bali merupakan bahasa yang paling luas pemakaiannya. Sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Umumnya mereka menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomuniksi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek dalam bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna agama Hindu Dharma, meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang.

Sundik, lebih spesifik lagi dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini juga digunakan oleh masyarakat di daerah Lombok Barat dan sedikit wilayah ujung timur Jawa. Bahasa ini memiliki tingkat penggunaan yaitu Bali Alus, Bali madya, dan Bali Kasar.

Bali Alus digunakan untuk bertutur formal seperti pada saat pertemuan tingkat desa adat, untuk meminang putri orang, serta digunakan oleh kastra rendah kepada kasta yang lebih tinggi. Bali Madya digunakan untuk masyarakat menengah seperti antara pejabat dengan bawahannya sedangkan Bali Kasar digunakan untuk kasta rendah seperti kaum Sudra dan antara bangsawan kepada para abdi dalemnya.

Secara kekerabatan bahasa Bali berkerabat dengan bahasa Sasak dan Sumbawa Barat sedangkan fonologis mempunyai kemiripan dengan bahasa Melayu. Pengaruh paling banyak didapatkan dari Jawa, terutama Jawa Kuno, terlihat dari tingkat-tingkat bahasanya.

Tabel 2.1. Bahasa Bali mendapatkan pengaruh dari Bahasa Jawa

Melayu Bali Jawa

Tabel 2.2. Secara fonologis Bahasa Bali memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu

2.3.5. Aksara Bali

Aksara Bali ini digunakan untuk menulis Bahasa Bali, bisa juga untuk menulis bahasa sansekerta. Seiring dengan perkembangan jaman, pemakaian Aksara Bali semakin sempit dan berkurang, sehingga Aksara Bali menjadi salah satu kekayaan budaya yang hampir punah. Sebenarnya aksara Bali memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan budaya masyarakat Bali dan berfungsi :

a. Digunakan dalam kehidupan nyastra b. Wadah dan wahana seni budaya Bali

c. Sarana pendidikan dan istiadat agama Hindu

2.3.5.1. Sejarah Aksara Bali

Aksara Bali merupakan bentukan dari Brahmic Script yang berasal dari India yang juga menjadi dasar dari aksara Jawa (Hanacaraka). Oleh karena itu Aksara Bali memiliki kesamaan cara penulisan dengan aksara Jawa, selain itu juga memiliki kemiripan dengan tulisan dari Asia selatan dan tenggara. Tulisan ini dibawa oleh pelajar dari India yang datang ke Indonesia. Lambat laun tulisan tersebut mendapatkan perubahan dan penyesuaian yang akhirnya menjadi aksara Bali seperti sekarang ini.

Sebelum kedatangan Belanda, aksara Bali mengalami kejayaan dan digunakan sebagai bahasa dan aksara resmi di kerajaan-kerajaan di Bali. Banyak karya tulis, terutama yang dituliskan pada lontar-lontar, yang sampai saat ini masih menjadi sumber ilmu pengetahuan pengobatan tradisional.

2.3.5.2. Perkembangan Aksara Bali

Jika pada jaman dahulu karya sastra Bali menggunakan aksara Bali sekarang sulit dijumpai karya sastra yang demikian. Aksara ini pun hanya digunakan oleh golongan tertentu saja sehingga ruang pemakaianya menjadi sempit, padahal aksara termasuk bahasa dan sastra memiliki posisi penting dalam pembangunan Bali yang berwawasan Budaya, namun kenyataannya pemakaian ketiga unsur tersebut belum sepenuhnya menjadi kebanggaan masyrakat pemakainya.

Gambar 2.33.Aksara bali pada lontar-lontar jaman dahulu

Untuk menyelamatkan Aksara bali di tengah tekanan kemajuan jaman dan teknologi, sejumlah pemuda Bali, yang tergabung dalam Babad Bali, menggagaskan untuk merancang sebuah program komputerarisasi Aksara bali menjadi sebuah font Truetype sehingga masyarakat bisa menuliskan aksara Bali secara otomtis dalam komputer. Tujuan lain dari pembuatan font tersebut adalah untuk menyelamatkan Aksara Bali bagi generasi mendatang.

Selain komputerarisasi aksara Bali yang telah dibuat oleh Made Suatjana yang memungkinkan pengetikan aksara Bali langsung di komputer, Gubernur Kepala Derah Tingkat I Bali telah ngeluarkan surat edaran no. 01/1995 yang isinya menghimbau semua pihak untuk menggunakan aksara Bali di bawah tulisan Latin pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta, di samping itu juga termasuk pada nama hotel-hotel, restoran, nama jalan, bale banjar, pura-pura, tempat obyek wisata, dan tempat penting lainnya.

Gambar 2.34. Aksara Bali yang tertera pada papan nama kantor pemerintahan

Gambar 2.35. Aksara bali pada papan nama jalan

Masalah pokok yang selalu timbul adalah sulitnya menyesuaikan ejaan bahasa latin ke dalam aksara Bali, karena belum adanya pedoman yang pasti untuk penulisan unsur yang berasal dari luar Bali. Untuk hal ini perancangan tipografi akan berperan sebagai salah satu alat bantu memasyarakatkan aksara Bali ke dalam tulisan alfabet.

2.3.5.3. Persamaan Aksara Bali dengan Aksara Jawa

Karena berasal dari induk yang sama maka banyak orang yang keliru membedakan Aksara Jawa dan aksara bali, untuk itu kita perlu mengetahui apa saja yang merupakan kesamaan dan perbedaan dari masing-masing aksara tersebut.

Aksara Bali sama dengan aksara Jawa bila ditinjau dari segi cara penggunaan dan pemakaiannya kesamaan terletak pada :

• Tiap huruf berupa Syllable (kesuku-kataan), artinya terdiri dari paling tidak 2 buah huruf latin

Contoh : ha Æ h dan a Na Æ n dan a

• Penulisannya dimulai dari kiri ke kanan

• Tidak ada spasi antar kata (word spacing)

• Setiap suku kata memiliki bentuk pendek yang disebut ‘pengangge aksara’, gunanya adalah untuk ‘membunuh’ bunyi vokal pada aksara sebelumnya.

Letaknya bisa di belakang atau di bawah aksara yang bersangkutan Contoh : Bakta ditulis dengan Ba - Ka + pengangge Ta

2.3.5.4. Perbedaan Aksara Bali dan Aksara jawa

Kendati memiliki kesamaan dengan aksara Jawa, namun aksara Bali bisa dengan mudah dibedakan dengan aksara Jawa secara jumlah dan anatomi bentuk.

Gambar 2.36. Aksara Jawa

Gambar 2.37. Aksara Bali Warna merah adalah Aksara Pengangge

2.3.5.5. Katakteristik utama Aksara Bali :

• Goresan awal pada aksara Bali tidak dimulai dari bawah tetapi dimulai dari sepertiga tinggi huruf baru melengkung ke bawah.

Gambar 2.38. Perbedaan antara Aksara Jawa dan Bali

• Goresan Aksara Bali lebih ekspresif dan lengkungan lebih dinamis.

Lengkungan kedua cenderung lebih runcing daripada lengkungan ke satu

• Penulisan sebuah huruf pada Aksara Bali umumnya tidak terputus Contoh :

Tabel 2.3. Salah satu ciri khas Aksara Bali

Ba Nga Nya

Jawa

Bali

Aksara Bali secara umum dapat dibagi menjadi:

a. Aksara Wianjana, yang terdiri dari:

Masing-masing aksara wianjana memiliki gempelan (gantungan) yang digunakan untuk membentuk huruf mati dari sebuah aksara wianjana. Dengan demikian aksara Bali bisa digunakan untuk menuliskan sebuah huruf mati.

Contohnya : Ha menjadi H saja

b. Aksara Swalalita, terdiri dari 9 huruf :

Gambar 2.39. Aksara Swalalita

c. Pengangge suara (sandang suara) yang peletakannya dipasangkan pada Aksara pokok dan tidak dapat berdiri sendiri, bisa di atas, bawah, kanan, kiri, atau kanan-kiri

Gambar 2.40. Pengangge suara

Huruf mati yang mempunyai aksara khusus sehingga tidak perlu memakai gempelan lagi.

e. Angka

f. Akasara yang merupakan simbol tertentu

Gambar 2.41. Aksara Khusus

Kemunculan Truetype Aksara Bali menciptakan standarisasi bentuk aksara Bali yang baku. Font tersebut pun telah mampu menunjukkan bentuk khas dari aksara Bali sehingga aksara Bali dengan mudah dapat dibedakan dengan aksara lainnya.

2.4. Yayasan Bali Galang

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DATA (Halaman 23-34)

Dokumen terkait