B
BB
BBAB XAB XAB XAB XAB X
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
DAN KESENIAN ISLAM
A
rsitektur dan kesenian dalam sejarah Islam mengalami perkembangan sejalan dengan persentuhan kaum muslim dengan sosial-budaya daerah baru yang ditaklukkan oleh para penguasa. Dengan demikian perkembangan arsitektur dan kesenian dalam sejarah Islam mengadopsi nilai-nilai arsitektur kekuasaannya, dan khusus untuk per-kembangan kesenian, kaum muslimin melakukan revisi pada bagian tertentu agar sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam.A. PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
Pada masa awal Islam, yaitu pada masa Nabi saw dan para sahabat, keadaan arsitektur Islam identik dengan arsitek bangun Arab, berupa suatu bangunan yang terdiri dari empat dinding batu bata tanpa plaster baik pada bagian dalam maupun luarnya dengan pintu pada bagian depan dan belakangnya serta diberi jendela yang tidak berdaun. Bentuk lubang untuk jendela terdiri dari kusen batu-batu yang disusun berbeda dari susunan batu batu untuk dindingnya. Batu-batu itu direkatkan dengan tanah liat yang baru dapat dianggap kuat setelah mengering. Bentuk bangunannya biasanya berbentuk empat persegi (mirip bangunan Ka’bah sekarang). Atapnya berbentuk lengkung memanjang
yang sangat persis dengan atas sebuah banker (tempat perlindungan seperti yang dibuat Irak dalam perang teluk).1
Setelah pasukan Islam menguasai Persia, arsitek bangunan di kalangan muslim segera mendapat pengaruh arsitek Persia, berupa suatu bangunan yang mempunyai teras dengan tiang yang banyak. Tiang yang banyak itu belum mempergunakan besi beton sebagai tulang, sebagaimana biasanya bangunan yang kita lihat sekarang, tetapi berupan susunan batu-batu yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi empat persegi dengan ketinggian sekitar dua meter sedikit. Pada bagian atas dibentuk melengkung setengah lingkaran.
Pengaruh Persia adalah pada model banyak tiang pada terasnya. Persia sendiri mempunyai wujud arsitek bangunan seperti itu pengaruh dari Yunani. Pengertian kata yunani sendiri, pada abad ke-3 sebelum Masehi menunjukkan kepada wilayah yang dikuasai oleh Alexander yang agung, yang kekuasaannya meliputi Yunani sekarang hingga sampai ke Iran dan Mesir.2
Contoh bangunan yang telah mendapat pengaruh Persia adalah masjid Umayyah di Damaskus yang masih ada hingga sekarang. Lengkungan setelah lingkaran pada arsitek itu adalah arsitek Arab. Dengan demikian, tambahan sebagai wujud pengaruh arsitek Persia adalah pada banyaknya tiang pada terasnya, sedangkan lengkungan setelah lingkaran yang terdapat pada bagian tiang pada teras itu adalah dibawa dari Arab. Arsitek Arab juga dapat dilihat pada bentuk jendela-jendela yang terdapat pada bagian atas lengkung dari tiang-tiang teras itu.3
Bentuk bangunan demikian juga dapat kita saksikan sekarang ini pada peninggalan istana al-Hamra di Granada, Spanyol. Demikian juga pada beberapa bangunan peninggalan Islam di Indonesia.
Ketika kekuasaan Islam telah dapat memasuki Asia Tengah, arsitektur Islam segera menerima pengaruh bangunan yang terdapat di Asia
1 PM Holt, The Cambridge History of Islam, London, Cambridge University Press, 1977, h. 221
2 Ira M Lapidus, A History of Ilam Societies, Cambridge University Press, New York, 1988, h. 83.
3 Ahmad Y al-Hassa dan Donald R. Hill, Teknologi Dalam Sejarah Islam, Penterjemah Tuliani Liputo, Mizan, Bandung, 1991, h. 101.
Tengah, berupa kubah-kubah dengan bentuk mirip buah bawang merah pada bagian atasnya.4 Arsitek bangunan seperti ini sebagian dapat kita lihat pada banyak bangunan masjid di berbagai daerah Islam.
Jika kita memperhatikan berbagai bangunan keagamaan kaum muslimin kita juga dapat melihat bahwa arsitekturnya tidak sedikit yang mengadopsi seni bangunan daerah setempat dengan berbaur nuansa arsitek timur tengah yang telah bercampur dengan budaya masyarakat yang pernah dikuasai kaum muslimin, seperti dapat dilihat pada bangunan mesjid di Kudus, Demak maupun Cina.
B. SENI LUKIS DAN PATUNG
Dari dua bidang seni ini, yang tidak berkembang di dunia Islam adalah seni patung, sebab ajaran Islam melalu hadits Rasululullah SAW ada yang melarang membuat patung. Para ulama kemudian masih memandang boleh membuat patung jika untuk kebutuhan-kebutuhan penting seperti alat peraga pada pengajaran. Sedangkan patung untuk hiasan, terdapat banyak pendapat yang melarangnya.5 Peninggalan sejarah Islam yang terdapat patung adalah di depan istana Singa di Spanyol, di dekat kolam. Di dalam pagar tembok istana itu terdapat patung empat ekor singa, walaupun sulit untuk dipastikan bahwa patung itu dibuat pada masa pemerintahan siapa.
Implikasi ketidakberkembangnya seni patung ini, kaum muslimin mengembangkan seni interior pada berbagai bangunan-bangunan penting, seperti istana kepala pemerintahan, masjid-masjid, maupun gedung-gedung yang lain. Seni interior tersebut banyak menggunakan motif-motif mosaik, daun-daunan, maupun kaligrafi.6
Seni lukis juga tidak berkembang dalam Islam, kecuali untuk kepentingan-kepentingan pengajaran. Sebagai hak seni patung, Islam juga melarang melukis makhluk hidup (makhluk bernyawa) dalam wujud yang memung-kinkan hasil lukisan itu diberi nyawa, seperti lengkap dengan kaki dan
4 PM Holt, The Cambridge History of Islam, London.., h. 223.
5 Nurchish Majid, Islam/Doktrin dan Peradaban, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1992, h. 445
kepalanya, karena itu, seni lukis Islam hanya sebatas obyek-obyek tumbuh-tumbuhan.
C. SENI MUSIK
Ada dua jenis musik dalam kalangan Islam. Pertama, musik vokal, dan yang kedua musik instrumental. Musik vokal telah melahirkan berbagai jenis musik, seperti Qashidah (curahan kalbu), Qit’a fragment, ghazal, dan yang populer adalah mawal. Jenis zayal dan muwashash banyak dibawa orang Eropa.7
Pabrik alat-alat musik terdapat di kota Seville, Spanyol. Berbagai alat musik telah dihasilkan, ada yang bernama murabba (rebab), yaitu alat semacam biola yang digesek dalam posisi berdiri, juga Qitara atau yang sekarang disebuh Gitar, Urghanun (Sekarang disebut organ), Dulab, al-Shaqira, maupun Harmonika.8
Sejarah Islam mencatat pula beberapa ahli musik. Al-Kindi juga ahli dalam bidang musik. Bukunya tentang musik kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dengan judul The Essentials of knowledge in Musik
on the Melodies, dan The Necessary Book in Composition of Melodies.9 Orang Islam yang dianggap penulis pertama tentang teori musik adalah Yunus al-Khatib (w. 765 M). Sekolah musik didirikan pada mulanya oleh Shafi al-Din Abd al-Mukmin (w. 1294 M). Teori-teori musiknya dapat dilihat dalam bukunya yang sangat masyhur, yaitu Syarafiya.
Karya al-Farabi tentang musik masyhur, yaitu Syarafiya, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, diantaranya Grand Book on Music. Styles in Music,
On the Classification of Rhytm (tingkatan-tingkatan Rhytm).10
7 Iman Munawir, Kebangkitan Islam, Bina Ilmu, Surabaya, 1984, h. 103.
8 Ibid, h. 104.
9 Ibid, h. 105.