Penguatan Infrastruktur Pariwisata Bali sebagai Gerbang Pariwisata Indonesia
2010 2011 No. Kelompok Barang
II- 2011 No. Kelompok Barang
3.3. PERKEMBANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)
Kinerja BPR pada triwulan II-2011 mengalami peningkatan yang signifikan, aset BPR tercatat tumbuh sebesar 33,52% (y-o-y) meningkat dibanding periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 31,58%. Seluruh indikator kinerja perbankan menunjukkan terjadinya peningkatan, selain aset, DPK dan kredit masing-masing tumbuh sebesar 32,63% (y-o-y) dan 31,50% (y-o-y). Pertumbuhan aset perbankan pada triwulan II-2011 sangat dipengaruhi oleh meningkatnya DPK yang mampu dihimpun oleh BPR, hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap BPR tetap terjaga. Peningkatan pada sisi DPK memungkinkan BPR untuk meningkatkan ekspansi kreditnya, sehingga pada triwulan I–2011 loan to deposit ratio mencapai 82,94%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 76,98%.
Tabel 3.3. Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Di Bali
(dalam miliar Rp)
Tr. III Tr. IV Tr. I Tr. II Tr. III Tr. IV Tr. I Tr. II
1. Total Aset 2,489 2,690 2,826 2,963 3,142 3,431 3,718 3,956 . Dana Pihak Ketiga 1,667 1,810 1,952 2,013 2,133 2,331 2,559 2,670
a. Tabungan 583 634 660 671 698 743 799 805 b. Deposito 1,084 1,177 1,292 1,342 1,435 1,588 1,759 1,865 redit 2,022 2,113 2,231 2,359 2,487 2,666 2,862 3,103 4. LDR (%) 83.97 81.95 82.22 83.42 83.36 81.07 80.74 82.94 PLs gross (%) 6.99 5.97 6.47 3.94 4.22 3.67 4.43 3.66 2009 INDIKATOR 2011 2010 2 3. K 5. N
Sumber : Bank Indonesia
Peningkatan ekspansi kredit dan penghimpunan dana menunjukkan terjadinya peningkatan pelaksanaan fungsi intermediasi BPR. DPK BPR yang berbentuk dari deposito dan tabungan tumbuh sebesar Rp 657 miliar. Dari jenisnya, DPK umumnya didominasi oleh simpanan dalam bentuk deposito yang mencapai Rp 1.865 miliar dengan andil 69,85%. Deposito tercatat tumbuh sebesar 37,97%, jauh lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan tabungan yang hanya mencapai 19,96% pada periode yang sama, hal ini diindikasikan didorong oleh tingginya suku bunga deposito yang ditawarkan oleh BPR. BPR sebagai lembaga keuangan skala kecil, dengan infrastruktur dan jasa yang terbatas, menggunakan instrument suku bunga deposito sebagai daya tarik utama untuk menarik minat deposan. Hal ini berpotensi menyebabkan BPR tidak beroperasi secara efisien dan memicu suku bunga kredit.
Grafik 3.14
Pertumbuhan Aset, Kredit dan LDR
72% 74% 76% 78% 80% 82% 84% 86% 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2008 2009 2010 2011 (L DR ) (m ilia r Rp ) ASET KREDIT LDR (aksis kanan)
Sementara kredit tumbuh sebesar Rp 743 miliar atau sebesar 31,50% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya dan tercatat mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 28,25% (y-o-y). Dilihat dari komposisi kredit terhadap aset BPR, komposisi kredit terhadap aset mengalami peningkatan dari 76,98% pada triwulan I-2011 menjadi 78,43% pada triwulan II-2011. Tingginya komposisi kredit dibandingkan aset mengindikasikan bahwa aktiva produktif BPR dikonsentrasikan melalui penyaluran kredit.
Grafik 3.15
Komposisi Kredit terhadap Aset dan Pertumbuhan Kredit 0 5 10 15 20 25 30 35 40 70 72 74 76 78 80 82
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2008 2009 2010 2011 (% ) (% ) komposisi Kredit Pertumbuhan Kredit (Rhs)
Penyebaran kredit yang disalurkan oleh BPR dapat dikatakan tidak merata, konsentrasi penyaluran kredit dilakukan untuk sektor perdagangan yang mencapai Rp 1.197 miliar atau 38,57% dari total kredit. Fokus kredit lainnya adalah kredit konsumsi dan kredit kepada sektor yang belum jelas batasannya masing-masing sebesar Rp 1.215 miliar atau 39,15% dan Rp 372 miliar atau 11,99%. Sementara penyaluran kredit untuk sektor lainnya relatif cukup rendah dengan rata-rata andil untuk 15 sektor lainnya tidak lebih dari 1%. Konsentrasi kredit pada jenis konsumsi dan sector perdagangan berpotensi menimbulkan risiko kredit yang cukup besar, mengingat kredit konsumsi BPR umumnya bukan merupakan kredit dengan pola pelunasan yang terjamin seperti pola pemotongan gaji bagi kredit konsumsi yang terdapat di bank umum.
Meskipun kredit mengalami pertumbuhan yang tinggi, namun kualitas kredit dapat dijaga oleh bank, hal ini diindikasikan dari penurunan rasio NPL dari 4,43% pada triwulan I-2011 menjadi 3,66% pada triwulan II-2011. Penurunan rasio NPL ditengah ekspansi yang tinggi menunjukkan BPR dapat semakin selektif dan berhati-hati dalam alokasi aktiva produktifnya. Selain itu hal ini juga menujukkan fungsi monitoring kredit yang berjalan dengan baik sehingga kredit non perform dapat ditekan dan dikurangi.
Boks C.
Faktor Penentu Pilihan Masyarakat akan Layanan Lembaga Keuangan di Bali
Peran lembaga keuangan pada peningkatan kegiatan ekonomi adalah menjadi penghubung (intermediaries) bagi pemilik dana kepada pengguna dana. Peran lembaga keuangan yang kuat akan mengoptimalkan injeksi dana kepada sektor usaha sehingga mendorong pertumbuhan output ekonomi. Peningkatan peran lembaga keuangan salah satunya dapat dicapai dengan pemberian akses yang lebih luas kepada masyarakat melalui pelayanan jasa keuangan, baik dari sisi pengumpulan dana maupun pembiayaan. Namun demikian upaya menjangkau masyarakat tentunya harus memperhatikan karakteristik sosial, ekonomi dan budaya untuk mewujudkan efektifitas layanan lembaga keuangan yang sesuai bagi suatu daerah.
Masyarakat Bali sudah dikenal dengan warna budaya yang kuat. Ketaatan akan pelestarian tradisi yang kuat menyebabkan masyarakat Bali sangat unik dan memiliki corak sosial ekonomi yang berbeda dengan masyarakat lainnya di Indonesia. Bagi lembaga keuangan di Bali, selain menarik untuk dipelajari lebih lanjut, keunikan ini juga menuntut strategi pendekatan yang berbeda bagi upaya perluasan usaha.
Untuk melihat pola masyarakat terhadap pilihan lembaga keuangan, Bank Indonesia Denpasar melakukan survey mengenai layanan jasa keuangan yang dibutuhkan dengan mengkhususkan pada layanan simpanan (investasi) dan pinjaman. Survei dilakukan pada penduduk di sekitar banjar yang aktif dalam kegiatan banjar, dengan jumlah responden yang dikumpulkan sebanyak 141 responden yang tersebar di 60 banjar di Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Pilihan lokasi survey didasarkan pada kegiatan ekonomi yang relatif besar pada ketiga wilayah tersebut.
Hasil survey menunjukkan bahwa sebagian besar responden atau 82,26% dari total responden memanfaatkan lembaga keuangan sebagai tempat menabung. Lembaga keuangan sebagai sumber pinjaman dana dinyatakan oleh 41,48% responden, sementara untuk transaksi maupun investasi hanya dinyatakan oleh 26,95% dan 20,57% responden. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan jasa lembaga keuangan masih terbatas pada sarana simpan pinjam.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa bank komersial tetap menjadi pilihan utama responden dalam memanfaatkan jasa lembaga keuangan. Penurunan proporsi pemanfaatan layanan bank komersial adalah pada layanan pinjaman dana, yaitu hanya dinyatakan oleh 41,13% responden dibandingkan dengan layanan penyimpanan dan investasi yang dinyatakan oleh 64,54% dan 67,38% responden. Alternatif kedua selain bank komersial adalah layanan koperasi dan Lembaga Pekreditan Desa (LPD). Sementara penggunaan layanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih dibawah ketiga lembaga tersebut. Rendahnya penggunaan layanan BPR disebabkan oleh karakteristik responden yang berada di
Grafik 1.
Jasa Lembaga Keuangan yang Dimanfaatkan
0 20 40 60 80 100 120
Menabung Pinjam Transaksi Investasi Lainnya
re
sp
on
de
n
banjar-banjar dengan tradisi budaya yang kuat. Khusus untuk layanan investasi, hasil survey menunjukkan perayanan yang relatif meningkat dari institusi Asuransi. Pengetahuan masyarakat yang tinggi akan alternatif investasi pada berbagai lembaga keuangan banyak dimanfaatkan oleh lembaga asuransi.
Tabel 1. Proporsi Responden yang Memanfaatkan Layanan Lembaga Keuangan (dalam %)
Bank Syariah
Pasar Modal
Bank Umum BPR LPD Koperasi Asuransi lainnya
64.54 0.00 6.38 15.60 18.44 0.71 7.09 0.71 Penyimpanan 67.38 0.71 10.64 24.82 39.72 2.13 17.02 3.55 Investasi 41.13 0.71 7.09 24.11 Pinjaman 31.21 0.71 1.42 3.55
Sumber : Survey Bank Indonesia Denpasar, diolah
Analisis mengenai faktor utama penentu pilihan akan lembaga keuangan menunjukkan bahwa kemudahan transaksi merupakan penentu utama pilihan responden. Hasil ini merupakan indikasi awal kebutuhan masyarakat akan transaksi yang mudah dan cepat serta terpercaya. Khusus untuk transaksi pinjaman, transaksi tanpa agunan merupakan pilihan utama responden. Kesulitan masyarakat akan kecukupan agunan kemungkinan masih banyak terjadi di masyarakat. Terobosan-terobosan untuk mengatasi permasalahan ini seperti pembentukan lembaga penjaminan kredit dapat menjadi alternatif penyaluran pinjaman yang lebih ekspansif kepada masyarakat. Faktor aksesibilitas fisik seperti kedekatan, kelancaran lalu lintas dan ketersediaan parkir belum merupakan faktor yang dianggap penting oleh responden. Demikian pula untuk faktor yang terkait sosial budaya seperti kepemilikan lembaga keuangan oleh banjar juga bukan merupakan faktor yang menentukan.
Hasil survei menunjukkan bahwa potensi penggunaan layanan lembaga keuangan yang tidak terbatas pada aktivitas simpan pinjam cukup besar. Pendidikan keuangan kepada masyarakat dapat lebih ditingkatkan agar pemanfaatan jasa layanan keuangan menjadi lebih luas. Lembaga keuangan juga dapat berinovasi dengan cara menyediakan produk-produk yang mudah dipahami dan mudah diakses masyarakat untuk penetrasi pasar yang lebih luas. Perluasan layanan lembaga keuangan akan mendorong inklusi keuangan (financial inclusion) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan perekonomian.
Tabel 2.
Faktor Penentu Pilihan Lembaga Keuangan
Faktor Ranking Rata-rata
Kepentingan
Kemudahan Transaksi 1 5.3072
Keuntungan 2 5.1164
Aksesibilitas Fisik 3 4.9951
Sosial Budaya 4 4.0150