• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN BPR

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 37-41)

I II III IV I II III

KREDIT UMKM 4.268 4.777 5.202 5.339 5.470 5.999 6.377

y-o-y 30,29% 30,29% 30,59% 28,11% 28,15% 25,60% 22,59%

MIKRO 2.411 2.500 2.636 2.647 2.603 2.723 2.746

y-o-y 9,29% 9,89% 11,49% 9,67% 7,97% 8,93% 4,19%

KECIL 1.244 1.535 1.742 1.894 2.026 2.327 2.605

y-o-y 86,17% 67,09% 60,96% 62,98% 62,90% 51,59% 49,51%

MENENGAH 613 742 824 798 813 949 1.027

y-o-y 52,62% 56,95% 53,44% 34,86% 32,60% 27,99% 24,57%

2009 2008

KREDIT (Rp miliar)

Tabel 3.3 Perkembangan Komponen Kredit MKM

Sumber : Bank Indonesia Kupang

Komposisi penyaluran kredit MKM didominasi kredit berjenis mikro dan kecil. Perbedaan akselerasi yang signifikan antar jenis kredit dapat merubah struktur kredit MKM perbankan NTT dalam jangka pendek.

Terlihat dari meningkatnya share penyaluran kredit jenis kecil dari 33,49%

menjadi 40,85% pada triwulan laporan, sedangkan kredit berjenis mikro menunjukkan penurunan share dari 50,67% menjadi 43,06%. Diperkirakan pada triwulan IV-2009 akan terjadi perubahan komposisi dalam penyaluran kredit jika akselerasi penyaluran kredit jenis kecil tetap lebih tinggi dibandingkan dengan jenis mikro, dimana komposisi penyaluran kredit akan lebih didominasi oleh kredit berjenis kecil dibandingkan mikro. Kondisi tersebut juga mengindikasikan pergeseran kemampuan (capacitiy) debitur dan peningkatan kapasitas ekonomi secara keseluruhan.

3.4 Perkembangan BPR

Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) triwulan III-2009 masih menunjukkan pergerakan yang positif. Tren peningkatan aktivitas perekonomian provinsi NTT menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja BPR. Terlihat dari peningkatan aset, penyerapan DPK dan penyaluran kredit yang menunjukkan laju peningkatan yang signifikan walaupun mulai menunjukkan tren perlambatan. Pertumbuhan aset, DPK dan kredit BPR yang jauh diatas rata-rata pertumbuhan Bank Umum mengindikasikan bahwa masih besar peluang pengembangan BPR, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas BPR di wilayah NTT.

37

0%

y-o-y aset y-o-y DPK y-o-y kredit

Penyerapan DPK oleh BPR provinsi NTT triwulan laporan menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah BPR di wilayah NTT yang secara kontinu bertambah, berdampak langsung pada meningkatnya dana yang dihimpun oleh BPR baik dalam bentuk rekening tabungan maupun rekening deposito. Nilai imbal jasa yang lebih besar dibandingkan dengan Bank Umum menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat untuk menempatkan dana di BPR sehingga laju penghimpunan dana BPR jauh lebih tinggi dibandingkan Bank Umum.

Kinerja intermediasi BPR secara perlahan menuju ke level yang disyaratkan. Akselerasi penyaluran kredit yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan jumlah dana yang dihimpun BPR berpengaruh pada Loan to Deposit Ratio (LDR) yang menurun signifikan pada level 117,46%.

Namun LDR BPR Provinsi NTT masih berada diatas level 100% yang mengindikasikan bahwa sumber dana penyaluran kredit tidak hanya berasal

Indikator

(juta) I II III IV I II III

Aset 40.722 48.494 58.285 68.323 75.097 84.022 102.075

y-o-y aset 61,17% 66,77% 79,18% 96,09% 84,41% 73,26% 75,13%

DPK 20.838 27.794 35.399 38.893 44.438 52.076 67.662 y-o-y DPK 100,37% 109,09% 120,56% 126,59% 113,26% 87,36% 91,14%

Kredit 26.963 36.627 47.704 51.479 59.111 67.971 79.474 y-o-y kredit 39,33% 70,12% 102,54% 108,80% 119,23% 85,57% 66,60%

LDR 129,40% 131,78% 134,76% 132,36% 133,02% 130,52% 117,46%

NPLs (nominal) 1.431 1.297 1.604 1.345 2.572 2.118 2.889

NPLs 5,31% 3,54% 3,36% 2,61% 4,35% 3,12% 3,63%

2008 2009

Tabel 3.4 Perkembangan Usaha BPR (juta)

Sumber : Bank Indonesia Kupang

Grafik 3.11 Pertumbuhan Kinerja BPR Grafik 3.12 Perkembangan LDR

Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang

dari penghimpunan dana, tetapi juga dari modal BPR. Salah satu faktor yang mendorong tingginya penyaluran kredit BPR adalah kemudahan administrasi dalam pengajuan kredit yang selama ini merupakan masalah yang sering dikeluhkan oleh calon debitur bank umum. Selain itu, linkage program antara bank umum dan BPR juga dinilai sebagai penyebab tingginya penyaluran kredit BPR. Peningkatan kredit BPR membawa dampak pada menurunnya performance kredit BPR yang tercermin dari ratio NPLs yang meningkat dibandingkan triwulan III-2008 namun masih berada dibawah level 5,00%. Hal ini menunjukkan bahwa kemamp

(Rp juta) MODAL KERJA INVESTASI KONSUMSI

Industri;

uan BPR dalam melakukan assesm

ng tersebut

total kredit yang disalurkan oleh BPR.

Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang

Grafik 3.13 Kredit BPR Menurut Penggunaan Grafik 3.14 Komposisi Kredit sektoral BPR

ent terhadap pengajuan kredit relatif baik.

Komposisi kredit BPR ditinjau dari sisi penggunaan relatif lebih produktif dibandingkan dengan bank umum. Penyaluran kredit BPR NTT cenderung didominasi oleh kredit modal kerja. Besarnya share kredit modal kerja dalam pembentukan kredit BPR disebabkan sebagian besar pelaku usaha dalam skala kecil mengalami kesulitan dalam memperoleh kredit dari Bank Umum karena dinilai feasible namun tidak bankable. Pelua

yang diambil oleh BPR sebagai sasaran utama penyaluran kredit.

Secara sektoral, komposisi kredit BPR masih didominasi oleh sektor lain-lain. Penyaluran kredit pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) dan sektor pertanian sebagai sektor utama penyumbang PDRB NTT mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Terlihat dari meningkatnya share kedua sektor tersebut terhadap

39

B B B A A A B B B I I I V V V S SI S I IS S ST T T E EM E M M P PE P E E M M M B B B A AY A Y Y A AR A R RA A AN N N

4.1 Kondisi Umum

Aktivitas sistem pembayaran triwulan III-2009 masih mencatatkan nilai negatif pada arus net inflow. Aktivitas peredaran uang di wilayah NTT masih bersifat outflow, dimana jumlah uang yang keluar lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah uang yang masuk. Kondisi perekonomian provinsi NTT yang didominasi pelaku usaha dari luar NTT (pendatang) mengakibatkan banyak uang yang dibelanjakan di luar wilayah NTT, terkait dengan peringatan Hari Raya Idhul Fitri dimana sebagian besar pendatang membawa dana keluar NTT untuk dibelanjakan di kampung halamannya. Kondisi tersebut tercermin pada data peredaran uang kartal yang dihimpun oleh KBI Kupang, dimana volume setoran (inflow) lebih rendah dibandingkan dengan volume bayaran (outflow). Namun bila dibandingkan dengan triwulan III-2008 aktivitas sistem pembayaran relatif lebih baik, sehingga net inflow uang kartal pada triwulan III-2009 relatif menurun dibandingkan dengan triwulan III-2008 walaupun masih bernilai negatif. Pemilihan presiden (pilpres) dan perayaan Hari Raya Idhul Fitri yang dilaksanakan pada bulan Juli dan September 2009 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas sistem pembayaran.

Tabel 4.1 Perkembangan Transaksi Tunai

Pembayaran

Tunai (miliar) I II III IV I II III

setoran 527,55 175,25 247,34 273,20 596,39 211,99 277,05

y-o-y -25,53% -44,84% -9,20% 17,90% 13,05% 20,97% 12,01%

bayaran 359,75 562,25 683,34 919,40 164,24 523,52 408,91

y-o-y 58,11% -7,01% 43,06% -4,87% -54,35% -6,89% -40,16%

net 167,80 -387,00 -436,00 -646,20 432,15 -311,53 -131,85

y-o-y -65,10% 34,89% 112,39% -12,05% 157,54% -19,50% -69,76%

2009 2008

Sumber : KBI Kupang

Tabel 4.2 Perkembangan Transaksi Non Tunai

lembar nominal lembar nominal volume nominal

I 11.974 418.765 63 2.089 24 1.744

II 11.915 441.091 66 1.215 85 10.523

III 12.758 373.837 71 1.727 57 21301

IV 13.390 420.699 136 4.953 221 69.264

I 12.517 398.095 85 3.621 74 13.707

II 12.745 373.201 134 4.362 131 105.731

III 13.362 402.144 169 4.905 63 16.813

2009

Sumber : KBI Kupang

Aktivitas pembayaran non tunai pada triwulan II-2009 kondisinya relatif bervariasi. Transaksi dengan menggunakan fasilitas Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) cenderung lebih diminati dibandingkan dengan fasilitas Real Time Gross Settlement (RTGS). Pengguna fasilitas RGTS adalah pelaku transaksi dengan nominal diatas Rp 100 juta, sementara untuk transaksi dibawah nominal tersebut fasilitas yang digunakan adalah SKNBI. Hal tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas transaksi non tunai di wilayah NTT sebagian besar merupakan transaksi nominal kecil dengan rata-rata Rp Rp 30,10 juta per transaksi.

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 37-41)

Dokumen terkait