Triwulan III - 2009
Kantor Bank Indonesia Kupang
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
Provinsi Nusa Tenggara Timur
KKKAAATTATAA PPPEENENNGGGAAANNNTTATAARRR
Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia, Kantor Bank Indonesia (KBI) di daerah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan kontribusi secara optimal dalam proses formulasi kebijakan moneter. Secara triwulanan KBI Kupang melakukan pengkajian dan penelitian terhadap perkembangan perekonomian daerah sebagai masukan kepada Kantor Pusat Bank Indonesia dalam kaitan perumusan kebijakan moneter tersebut.
Selain itu kajian/analisis ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi eksternal stakeholder setempat, yaitu Pemda, DPRD, akademisi, serta masyarakat lainnya.
Kajian ini mencakup Makro Ekonomi Regional, Perkembangan Inflasi, Perkembangan Perbankan, Sistem Pembayaran Regional, serta Prospek Perekonomian Daerah pada periode mendatang. Dalam menyusun kajian ini digunakan data baik yang berasal dari intern Bank Indonesia maupun dari ekstern, dalam hal ini dinas/instansi terkait.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan kajian ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan masukan dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas isi dan penyajian laporan. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam bentuk penyampaian data maupun dalam bentuk saran, kritik dan masukan sehingga kajian ini dapat diselesaikan. Kami mengharapkan kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini, kiranya dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.
Kupang, Oktober 2009 Bank Indonesia Kupang
Lukdir Gultom Pemimpin
DDDAAAFFFTTTAAARRRIIISSSIII
HALAMAN JUDUL--- 1
KATA PENGANTAR --- 2
DAFTAR ISI --- 3
RINGKASAN EKSEKUTIF --- 6
MAKRO EKONOMI REGIONAL 1.1 SISI PERMINTAAN --- 12
1.2 SISI PENAWARAN --- 17
PERKEMBANGAN INFLASI 2.1 KONDISI UMUM--- 24
2.2 INFLASI KOTA KUPANG--- 26
2.3 INFLASI MAUMERE --- 27
PERKEMBANGAN PERBANKAN 3.1 KONDISI UMUM--- 29
3.2 INTERMEDIASI PERBANKAN --- 30
3.3 KREDIT UMKM--- 36
3.4 PERKEMBANGAN BPR--- 37
SISTEM PEMBAYARAN 4.1 KONDISI UMUM--- 40
4.2 TRANSAKSI RTGS --- 41
4.3 TRANSAKSI KLIRING --- 42
4.4 TRANSAKSI TUNAI --- 43
KEUANGAN DAERAH 5.1 KONDISI UMUM--- 45
5.2 PENDAPATAN DAERAH--- 46
5.3 BELANJA DAERAH --- 47
BOKS --- 49 3
TENAGA KERJA DAN KESEJAHTERAAN
6.1 KONDISI UMUM--- 51
6.2 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN --- 51
6.3 PERKEMBANGAN KESEJAHTERAAN --- 54
BOKS --- 57
OUTLOOK PEREKONOMIAN 7.1 PERTUMBUHAN EKONOMI --- 60
7.2 INFLASI --- 61
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Kelompok Kajian, Statistik dan Survei KBI Kupang Jl. Tom Pello No. 2 Kupang – NTT [0380] 832-047 ; fax : [0380] 822-103 www.bi.go.id
5
Ringkasan Eksekutif
Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan III-2009
PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI
Kinerja pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan III-2009, diperkirakan relatif lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.
Membaiknya kinerja konsumsi, investasi, maupun ekspor menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi triwulan ini. Peningkatan pendapatan, kebutuhan belanja menjelang hari raya Idul Fitri, serta dukungan lembaga pembiayaan, baik perbankan, koperasi, maupun jasa pembiayaan lainnya disinyalir memberikan sentimen positif bagi aktivitas konsumsi. Tren kenaikan omset penjualan distributor makanan serta peningkatan jumlah penjualan motor baru telah memberikan optimisme kepada pelaku ekonomi terhadap situasi bisnis selama tahun 2009. Hal tersebut diperkirakan menjadi salah satu trigger terhadap aktivitas investasi, dimana lonjakan penjualan barang konstruksi, secara khusus konsumsi semen cenderung mengalami peningkatan. Dari sisi ekspor, aktivitas loading di Pelabuhan Tenau, baik yang menggunakan peti kemas maupun kargo biasa juga terus mengalami perkembangan positif.
Membaiknya prospek perekonomian dunia, mendorong peningkatan ekspor mangan, dimana pada tahun 2008 lalu sempat mengalami penurunan.
Sehingga secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 4,11%;yoy.
Secara sektoral, kontribusi pertanian terhadap pembentukan PDRB masih dominan, kemudian diikuti dengan sektor jasa-jasa, sektor perdagangan hotel dan restoran. Tren meningkatnya jumlah pengiriman hewan ternak (sapi) menjadi salah satu indikasi, bahwa peran NTT dalam menyuplai kebutuhan daging nasional masih cukup dominan. Pada bulan September sektor perdagangan, hotel dan restoran mendapat berkah tersendiri, seiring dengan pelaksanaan event bertaraf internasional di Pulau Rote, yaitu lomba selancar dan pancing yang diikuti lebih dari 20 negara.
Peningkatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, prospek situasi bisnis yang mendukung, menyebabkan sektor jasa (tersier) berkembang pesat, sebagaimana ditunjukan dengan penigkatan kinerja bisnis persewaan kendaraan.
PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL
Inflasi tahunan NTT pada triwulan III-2009 berada pada level 5,50%;
y-o-y. Terjadi peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara fundamental, dari sisi eksternal tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap
pasokan dari luar NTT mengakibatkan pembentukan harga di NTT sebagian besar dipengaruhi oleh harga pembelian dari daerah pemasok (imported inflation). Kemudian dari sisi struktur pasar yang cenderung didominasi okeh beberapa pedagang besar (oligopoli), membuat pembentukan harga di tingkat pengecer sangat ditentukan oleh pedagang besar tersebut. Kemudian dari sisi permintaan, perkembangan harga kebutuhan pokok yang selalu cenderung meningkat menjelang hari raya Idul Fitri akibat lonjakan permintaan di Pulau Jawa, mengakibatkan harga barang di NTT juga ikut melonjak. Meskipun di wilayah NTT sendiri relatif tidak terjadi kenaikan permintaan yang signifikan.
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN
Kinerja perbankan di Provinsi NTT pada triwulan III tahun 2009 masih menunjukkan perkembangan yang positif. Perannya sebagai lembaga intermediasi juga menunjukan peningkatan, meskipun sebagian besar pembiayaan yang disalurkan tidak bersifat produktif, sehingga kurang memberikan efek domino yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Asset bank umum di wilayah NTT tumbuh sebesar 15,33%;
y-o-y. Sejalan dengan hal tersebut, penghimpunan dana oleh pihak ketiga juga mengalami perkembangan yang positif dengan 14,28%;y-o-y. Sementara itu dari segi pembiayaan, penyaluran kredit oleh bank umum di Provinsi NTT tumbuh 23,39%;y-o-y walaupun akselerasinya cenderung melambat sepanjang tahun 2009.
Membaiknya perekonomian NTT, sejalan dengan menigkatnya kegiatan transaksi pembayaran. Perkembangan transaksi non tunai yang dilakukan melalui fasilitas Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), dimana meningkat sebesar 7,57%.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Kebijakan fiskal bagi provinsi NTT memiliki kontribusi yang penting bagi pendorong (stimulus) pertumbuhan ekonomi. Sampai dengan akhir semester I-2009 tingkat realisasi belanja APBD sebesar 33,09%, yang didominasi untuk keperluan belanja rutin, sedangkan realisasi belanja modal masih relatif sangat minim, yaitu 11,01%. Sementara untuk relaisasi pendapatan sudah relatif baik dengan 54%, karena sumber pendapatan yang sebagian besar berasal dari dana perimbangan.
OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI
Pada triwulan IV-2009 diperkirakan perekonomian NTT akan tumbuh 3,9 ; y-o-y. Sehingga secara keseluruhan, tahun 2009 pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 4,01%. Lonjakan aktivitas konsumsi diperkirakan akan terus terjadi sampai dengan akhir tahun sejalan dengan perayaan Natal dan Tahun
7
Baru. Hal tersebut tentunya akan memberikan dampak positif terhadap kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sedangkan untuk sektor pertanian diperkirakan akan cenderung menurun, seiring dengan dimulainya masa tanam untuk komoditi tabama yang diperkirakan akan sedikit lebih lambat dibandingkan tahun 2008 lalu sebagai dampak badai el nino.
Sementara itu, tekanan inflasi NTT pada akhir tahun diperkirakan berada pada kisaran 6,0% – 6,5% ; y-o-y. Atau dengan kata lain, diperkirakan selama triwulan IV tekanan inflasi akan berada pada kisaran 2,0% - 2,4% (quartal to quartal). Hal tersebut didasari pada asumsi perkembangan harga minyak nasional yang tidak akan berubah sepanjang tahun 2009. Tantangan utama dari sisi suplai pada triwulan IV mendatang akan berasal dari kondisi cuaca yang umumnya kurang bersahabat. Hal tersebut ditambah dengan tekanan dari sisi permintaan, dimana lonjakan permintaan dipastikan akan terjadi menjelang perayaan Natan dan Tahun Baru nanti.
Laju Inflasi Tahunan (yoy %)
- Kupang 10.90 8.40 3.64 6.02
- Maumere 16.17 11.73 5.61 2.45
PDRB - Harga Konstan (miliar Rp)** 3,022.65 2,782.79 2,900.14 3,062.59 - Pertanian 1,118.62 1,118.03 1,164.87 1,182.10 - Pertambangan dan Penggalian 39.38 35.37 37.35 39.01 - Industri Pengolahan 44.02 39.48 42.79 44.56 - Listrik, gas dan air bersih 12.13 10.69 11.39 11.94 - Bangunan 194.53 167.18 177.57 193.01 - Perdagangan, Hotel dan Restoran 505.88 460.57 472.51 504.29 - Pengangkutan dan komunikasi 219.81 206.16 218.40 226.30 - Keuangan, Persewaan, dan Jasa 107.67 95.29 102.68 111.95 - Jasa 780.62 650.02 672.57 749.43
Pertumbuhan PDRB (yoy %) 2.77 4.89 3.25 4.11
Ekspor - Impor*
Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 11.26 1.36 9.10 3.87
Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 102.67 0.52 21.06 27.63
Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 0.09 14.21 0.08 0.00
Volume Impor Nonmigas (ton) 26.40 262.48 373.94 27.50
Sistem Pembayaran
Inflow (miliar Rp) 273.20 596.39 211.99 277.05
Outflow (miliar Rp) 919.40 164.24 523.52 408.91
Netflow (miliar Rp) -646.20 432.15 -311.53 -131.85
MRUK (miliar Rp) 42.75 29.97 46.82 74.79
Uang Palsu (ribu Rp) 50.00 100.00 400.00 900.00
Nominal RTGS (miliar Rp) 69.26 13.71 105.73 16.81
Nominal Kliring (miliar Rp) 420.70 398.09 373.10 402.14
Sumber : Berbagai sumber (diolah) Keterangan :
1) LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi) PDRB atas dasar harga konstan 2000 2) (y-o-y) = year on year, thn dasar 2002
3) Ekspor data dari Bagian PDIE-BI bln Agustus 2009 * 4) **) Angka Proyeksi BI
INFLASI DAN PDRB
Tw.IV-08 Tw.I-09 Tw.II-09 Tw.III-09
TAB E L INDIK ATOR E K ONOMI TE R P IL IH P R OVINS I NUS A TE NGGAR A TIMUR
INDIKATOR
9
PERBANKAN
Bank Umum
Total Aset (Rp Triliun) 9.94 9.61 10.32 10.99
DPK (Rp Triliun) 8.00 8.23 8.82 9.01
- Tabungan (Rp Triliun) 4.32 3.82 4.03 4.19
- Giro (Rp Triliun) 1.90 2.54 2.81 2.79
- Deposito (Rp Triliun) 1.78 1.91 1.99 2.09
Kredit (Rp Triliun) 5.40 5.52 6.06 6.46
- Modal Kerja 1.50 1.48 1.66 1.79
- Konsumsi 3.74 3.88 4.20 4.46
- Investasi 0.16 0.16 0.20 0.22
LDR (%) 67.51 66.81 66.67 71.71
NPLs (%) 1.39 1.61 1.73 1.83
Kredit UMKM (Triliun Rp) 5.34 5.45 6.00 6.38
BPR
Total Aset (Rp Miliar) 68.32 75.08 84.02 102.08
DPK (Rp Miliar) 38.89 44.44 52.08 67.66
- Tabungan (Rp Miliar) 17.52 20.34 23.15 29.38
- Deposito (Rp Miliar) 21.38 24.09 28.93 38.28
Kredit (Rp Miliar) 51.48 59.11 67.97 79.47
- Modal Kerja 27.80 32.24 37.12 42.52
- Konsumsi 22.34 24.01 26.86 5.07
- Investasi 1.34 2.86 3.99 31.88
Kredit UMKM (Rp Miliar) 51.48 59.11 67.97 79.47
Rasio NPL Gross (%) 2.61 4.35 3.12 3.63
LDR (%) 132.37 133.01 130.52 117.46
Sumber : Bank Indonesia Kupang (diolah)
Tw.II-09 Tw.I-09
Tw.IV-08 Tw.III-09
TAB E L INDIK ATOR E K ONOMI TE R P IL IH P R OVINS I NUS A TE NGGAR A TIMUR
INDIKATOR
B B B A A A B B B I I I M M M A AK A K K R RO R O O E EK E K K O ON O N NO O O M M M I I I R R R E E E G GI G I IO O ON N N A AL A L L
Perekonomian NTT, tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III, perekonomian NTT diperkirakan tumbuh 4,11%
(year on year), sementara pada triwulan sebelumnya relatif lebih rendah dengan 3,25% (year on year). Sehingga bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akan terjadi peningkatan sekitar 5,6% (quartal to quartal). Peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan III, diperkirakan masih sangat dipengaruhi aktivitas konsumsi yang sumbernya antara lain berasal dari peningkatan pendapatan atau pembiayaan, baik dari perbankan, maupun lembaga keuangan non bank. Secara simultan peningkatan aktivitas ekonomi dari sisi permintaan, direspon oleh sisi penawaran, dimana sampai saat ini kontribusi sektor pertanian masih tetap dominan. Membaiknya kegiatan ekonomi pada triwulan III jika dibandingkan dengan triwulan II lalu, juga diakui oleh pedagang eceran maupun pelaku dunia usaha di Kota Kupang.
Grafik 1.1 Perkembangan PDRB NTT
Sumber : Proyeksi BI
Grafik 1.2 Struktur Sisi Penawaran
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Ket ; **) Proyeksi BI
IV I II III**
PDRB (miliar) 3,022.65 2,782.79 2,900.14 3,062.59
y-o-y 2.77% 4.89% 3.25% 4.11%
q-t-q 2.75% -7.94% 4.22% 5.60%
NTT 2008 2009
Grafik 1.3 Struktur Sisi Permintaan Tabel 1.1 Perkembangan PDRB NTT
Sumber : Proyeksi BI
11
1.1 Sisi Permintaan
Grafik 1.5 PDRB Konsumsi
Grafik 1.6 Penjualan Pakaian & Alt Rumah Tangga
Konsumsi menjadi penopang kegiatan ekonomi. Selain dari kontribusinya yang sangat dominan, perannya dalam mendukung laju pertumbuhan juga sangat signifikan (share of growth). Kemudian dari sisi investasi, meski belum signifikan pada triwulan ini tetap menunjukan perkembangan positif. Dari sisi neraca perdagangan (ekspor-impor), pertumbuhan ekspor diperkirakan relatif lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya, meski disatu sisi volume impor antar pulau juga ikut meningkat sejalan dengan pertumbuhan konsumsi domestik.
1. Konsumsi
Dari total pertumbuhan sebesar 4,11%, diperkirakan 3,61% didukung oleh kinerja konsumsi. Baik konsumsi rumah tangga, swasta, maupun pemerintah diperkirakan masing-masing tumbuh pada kisaran 3% - 4%. Pada triwulan III-2009, konsumsi secara total diperkirakan tumbuh 3,30%, dimana share paling dominan diperkirakan masih dari konsumsi rumah tangga. Tren penurunan tekanan inflasi selama tahun 2009, dibandingkan tahun 2008 lalu diindikasikan ikut mendorong peningkatan aktivitas konsumsi.
Tabel 1.2 PDRB Sisi Permintaan
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Ket ; **) Proyeksi BI
Grafik 1.4 Sumber Pertumbuhan Sisi Permintaan
Permintaan
(miliar) IV I II III**
Konsumsi 3,395 3,053 3,254 3,327 Investasi 385 339 364 382 Ekspor 969.68 810.13 880.13 988.25 Impor 1,841 1,466 1,735 1,863 Perubahan stok 114 48 137 227 PDRB 3,023 2,783 2,900 3,063
2008 2009
Sumber : Proyeksi BI
Grafik 1.7 Perkembangan NTP
Peningkatan pendapatan diperkirakan menjadi pendorong utama, selain dukungan dari sektor pembiayaan. Sentimen positif pendapatan masyarakat pada triwulan III, terutama berasal dari pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), sehubungan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut menjadi salah satu pendorong meningkatnya penjualan kebutuhan sandang untuk keperluan hari raya. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada level petani.
Kecenderungan nilai tukar petani (NTP) selama tahun 2009 menunjukan perkembangan positif.
Peningkatan pendapatan diperkirakan menjadi pendorong utama, selain dukungan dari sektor pembiayaan. Sentimen positif pendapatan masyarakat pada triwulan III, terutama berasal dari pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), sehubungan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut menjadi salah satu pendorong meningkatnya penjualan kebutuhan sandang untuk keperluan hari raya. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada level petani.
Kecenderungan nilai tukar petani (NTP) selama tahun 2009 menunjukan perkembangan positif.
Sumber : SPE BI
Grafik 1.8 Listrik Rumah Tangga
Sumber : PLN Wilayah NTT
Peningkatan daya beli masyarakat juga tercermin dari durable goods consumption (konsumsi barang tahan lama), dimana jumlah penjualan motor baru, maupun barang-barang peralatan rumah tangga selama tahun 2009 relatif mengalami peningkatan. Kemudian tren penggunaan konsumsi listrik rumah tangga menjadi tanda bahwa kemampuan masyarakat secara umum relatif membaik. Dukungan pembiayaan perbankan untuk keperluan konsumsi sampai dengan akhir September, masih tumbuh positif (24,56%) meski cenderung melambat. Tercatat posisi outstanding kredit konsumsi mencapai Rp 4,46 triliun. Selain perbankan, pembiayaan yang dilakukan oleh jasa pegadaian mencapai lebih dari Rp 114 miliar posisi bulan Agustus lalu. Hal ini tentu menjadi salah satu katalis bagi perekonomian NTT.
Peningkatan daya beli masyarakat juga tercermin dari durable goods consumption (konsumsi barang tahan lama), dimana jumlah penjualan motor baru, maupun barang-barang peralatan rumah tangga selama tahun 2009 relatif mengalami peningkatan. Kemudian tren penggunaan konsumsi listrik rumah tangga menjadi tanda bahwa kemampuan masyarakat secara umum relatif membaik. Dukungan pembiayaan perbankan untuk keperluan konsumsi sampai dengan akhir September, masih tumbuh positif (24,56%) meski cenderung melambat. Tercatat posisi outstanding kredit konsumsi mencapai Rp 4,46 triliun. Selain perbankan, pembiayaan yang dilakukan oleh jasa pegadaian mencapai lebih dari Rp 114 miliar posisi bulan Agustus lalu. Hal ini tentu menjadi salah satu katalis bagi perekonomian NTT.
Grafik 1.10 Omset Pegadaian NTT
13
Sumber : KBI Kupang
Grafik 1.9 Kredit Konsumsi
Sumber : Pegadaian Denpasar
2. Investasi
Kegiatan investasi diperkirakan tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya. Pada triwulan III-2009, diproyeksikan akan terjadi pertumbuhan sebesar 4,72% (year on year). Ekspektasi pelaku dunia usaha terhadap situasi bisnis masih tetap menunjukan optimisme. Meningkatnya aktivitas investasi, khususnya investasi bangunan tercermin jumlah penjualan semen maupun bahan konstruksi yang mengalami perkembangan positif. Bertambahnya jumlah kegiatan bisnis di NTT juga ditunjukan oleh perkembangan jumlah pelanggan listrik sektor bisnis yang terus mengalami peningkatan. Dari sisi pembiayaan, meski proporsinya masih relatif kecil, perkembangan kredit investasi setiap tahun tetap mengalami ekspansi. Untuk posisi September outstanding kredit investasi tumbuh 37,78%, atau menjadi Rp 218 miliar.
Grafik 1.11 Perkembangan Investasi Grafik 1.12 Konsumsi Semen NTT
Sumber : Proyeksi BI Sumber : ASI
Faktor keterbatasan infrastruktur maupun dan aspek kepastian hukum diperkirakan menjadi penghambat laju investasi, khususnya oleh swasta. Pasokan listrik untuk beberapa wilayah relative masih belum memadai.
Saat ini sedang dilaksanakan pengembangan jaringan, dan diperkirakan baru akan selesai antara 2010 – 2011 (proyek 10 ribu MW). Terkait masalah kepastian hukum, pemerintah daerah telah melakukan langkah positif dengan membentuk Kantor Pelayanan Perizinan, Terpadu Satu Pintu (KP2TSP) per Januari 2009 (semacam one stop service). Namun demikian, implementasi di lapangan lembaga tersebut masih perlu dioptimalkan.
Grafik 1.13 Pegiriman Barang Konstruksi Grafik 1.14 Kredit Investasi
Sumber : Pelindo Tenau Sumber : KBI Kupang
3. Net Ekspor
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi, diperkirakan kegiatan impor juga menunjukan perkembangan. Kondisi tersebut mengakibatkan tekanan pada neraca perdagangan NTT. Defisit angka net ekspor diperkirakan akan semakin tinggi. Meskipun pertumbuhan kinerja ekpor relatif mulai membaik selama tahun 2009. Tingkat ketergantungan yang sangat tinggi pada pasokan barang dari perdagangan antarpulau, mengakibatkan struktur impor didominasi oleh impor antar daerah. Kemudian, permasalahan operasional maupun inefisiensi, kegiatan ekspor luar negeri dari barang-barang asal NTT, sebagian besar tidak dilakukan melalui pelabuhan di NTT. Minimnya produksi sumber daya alam asal NTT yang dijual ke luar daerah tercermin dari kondisi bongkar muat di Pelabuahan Tenau yang sebagian besar didominasi oleh aktivitas unloading. Bahkan sebagian besar kontainer yang digunakan untuk mengirim barang ke NTT, kembali dalam kondisi kosong. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab harga barang di NTT relatif tinggi, karena pihak pelayaran membebankan biaya freight kapal untuk biaya pengiriman dan biaya kembali.
Grafik 1.15 Perkembangan Ekspor - Impor Grafik 1.16 Bongkar-Muat Kargo
15
Sumber : Proyeksi BI Sumber : Pelindo Tenau
Kegiatan ekspor NTT, diperkirakan selama triwulan III akan tumbuh sebesar 3,92% (yoy). Aktivitas ekspor selama triwulan III didukung oleh peningkatan pengiriman hewan ternak untuk menyuplai kebutuhan daging nasional selama menjelang perayaan Idul fitri. Selain itu, mulai pulihnya kinerja ekonomi dunia mulai berdampak terhadap pengiriman hasil tambang batu- batuan (marmer, mangan) ke negara Asia, khususnya Cina. Dari sisi impor, pada triwulan ini diperkirakan akan tumbuh 3,52% (yoy). Dorongan dari aktivitas konsumsi selama triwulan III menjadi penggerak utama meningkatnya kegiatan impor, khususnya impor antarpulau.
Grafik 1.18 Pengiriman Hewan Ternak
Sumber : Pelindo Tenau
Grafik 1.17 Arus Peti Kemas NTT
Sumber : Pelindo Tenau
Volume ekspor luar negeri NTT pada triwulan III munjukan peningkatan. Selama triwulan III (Agustus), volume barang asal NTT yang dikirim ke luar neger sebesar 27,63 ribu ton. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun
sebelumnya yang hanya 4,39 ribu ton.
Sedangkan pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar 21,06 ribu ton. Negara tujuan utama ekspor masih berada di daratan Asia (85%), secara khusus Cina. Jenis komoditi yang paling dominan adalah bahan-bahan hasil galian (batu-batuan, mangan).
Grafik 1.19 Tujuan Ekspor NTT
Sumber : EDW DSM BI
1.2 Sisi Penawaran
Dari sisi penawaran, kontribusi sektor pertanian relatif masih dominan, meskipun pertumbuhannya cenderung lambat. Tiga sektor utama yang menjadi penggerak roda ekonomi NTT, yaitu : sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan, sektor perdagangan, hotel & restoran pada triwulan III- 2009. Sektor-sektor tersebut secara total menyumbang lebih dari 75% angka PDRB pada triwulan III-2009. Dari 4,11% pertumbuhan ekonomi triwulan ini ketiga sektor tersebut masing-masing menyumbang 1,31% untuk sektor pertanian, 1,15% sektor jasa, dan 0,62% sektor perdagangan, hotel dan restoran.
1. Pertanian
Kinerja sektor pertanian diperkirakan akan terus membaik pada triwulan III. Pada triwulan ini, pertumbuhan sektor pertanian diproyeksikan sebesar 3,38% (yoy). Meskipun untuk subsektor tanaman pangan diperkirakan cenderung mengalami kontraksi, namun untuk subsektor perkebunan dan
Tabel 1.3 PDRB Sisi Penawaran Grafik 1.20 Sumbangan Pertumbuhan
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Ket ; **) Proyeksi BI
Sumber : Proyeksi BI
Grafik 1.21 Perkembangan Pertanian Grafik 1.22 Perkiraan Produksi Padi
Sumber : BPS NTT diolah Sumber : Proyeksi BI
17
peternakan justru relatif mengalami ekspansi. Pada triwulan III, merupakan periode masa puncak panen untuk sebagian besar komoditi perkebunan NTT (kopi dan mete). Kemudian pada triwulan III, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, hal ini mendorong terjadinya peningkatan pengiriman ternak (sapi) ke Jawa untuk memasok kebutuhan daging yang biasanya melonjak pada saat hari raya.
Bagi subsektor tanaman pangan, kondisi pertanian NTT yang bersifat marginal menyebabkan tingkat ketergantungan pada cuaca sangat tinggi. Selama triwulan III, musim hujan di NTT secara umum sudah lewat. Sementara musim tanam berikutnya yang umumnya dimulai bulan November, untuk tahun ini
diperkirakan akan sedikit mengalami kemunduran. Kondisi diatas merupakan bagian dari dampak badai elnino yang melanda Indonesia secara keseluruhan.
Bahkan curah hujan yang akan turun diperkirakan relatif lebih rendah dari kondisi normal (Sumber : BMKG Kota Kupang)
Selain itu faktor keterbatasan modal juga relatif menjadi kendala berkembangnya sektor pertanian di NTT. Hal ini sejalan dengan kondisi penyaluran pembiayaan perbankan NTT pada sektor pertanian yang relatif kecil.
Outstanding kredit sektor pertanian hanya 1,39% dari Rp 6,46 triliun, meski tren laju pertumbuhannya selama tahun 2009, masih lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.
2. Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi, kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran juga ikut terdongkrak. Sekitar 90%
kinerja sektor PHR dikendalikan oleh subsektor perdagangan. Hubungan antar daerah yang relatif erat, dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi insentif bagi sektor ini. Pada triwulan III, sektor PHR diperkirakan tumbuh 3,78% (yoy). Peningkatan penjualan seperti sudah disebutkan sebelumnya akibat melonjaknya konsumsi terutama menjelang hari raya Idul Fitri. Kondisi tersebut dari meningkatnya omset penjualan barang-barang
Sumber : KBI Kupang
Grafik 1.23 Kredit Sektor Pertanian
kebutuhan sandang. Selain itu, peningkatan kinerja sektor PHR juga tidak terlepas dari adanya indikasi peningkatan kemampuan daya beli masyarakat yang ditunjukan dengan pertumbuhan penjualan barang tahan lama (alat rumah tangga).
Secara umum, situasi bisnis di Kota Kupang relatif masih mendukung. Perkembangan kegiatan usaha tersebut, juga tercermin dari pertumbuhan jumlah pelanggan sektor bisnis. Hal ini sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah ruko usaha yang beroperasi. Pertumbuhan sektor PHR juga tidak terlepas dari dukungan pembiayaan perbankan. Kredit perbankan untuk sektor PHR sebesar 21,17% dari total outstanding, atau setara dengan Rp 1,54 triliun pada akhir September. Umumnya pemafaatan kredit di sektor PHR adalah untuk keperluan modal kerja.
Grafik 1.24 Perkembangan PHR Grafik 1.25 Penjualan Ritel Kupang
Sumber : Proyeksi BI Sumber : SPE KBI Kupang
Grafik 1.27 Kredit Sektor PHR Grafik 1.26 Konsumsi Listrik Bisnis
Sumber : BI Kupang Sumber : PLN Wilayah NTT
19
3. Jasa-jasa
Kinerja sektor jasa diperkirakan masih ditopang oleh jasa pemerintahan. Pertumbuhan selama triwulan III-2009 diperkirakan mencapai 4,72%;yoy. Kontribusi sektor jasa terhadap pembentukan PDRB triwulan III- 2009 diproyeksikan mencapai 24,47%. Aktivitas sektor jasa pemerintahan, juga bisa tergambar dari perkembangan kondisi arus dana milik pemerintah yang ada di perbankan NTT. Tren menurunnya jumlah dana pemerintah di perbankan, bisa menjadi indikasi bahwa sektor jasa pemerintah sudah mulai bergerak.
Kondisi tersebut pada umumnya terjadi dalam semester II setiap tahun.
Grafik 1.29 Giro Milik Pemerintah Grafik 1.28 PDRB Sekor Jasa
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Ket ; **) Proyeksi BI Sumber : Bank Indonesia Kupang
4. Sektor lainnya
Selain tiga sektor unggulan yang mendominasi pembentukan angka PDRB NTT diatas, dari 6 sektor ekonomi lainnya, sektor transportasi dan komunikasi, serta sektor bangunan relatif memberikan kontribusi yang dominan.
Kontibusi kedua sektor tersebut masing-masing sebesar 7,39% dan 6,30%.
Sebagai provinsi kepulauan, peran transportasi baik laut maupun udara menjadi sangat vital.
Grafik 1.30 PDRB Transportasi &
Komunikasi
Grafik 1.31 Pelanggan Seluler
Selama triwulan III pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi relatif lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan ini terjadi pertumbuhan 5,62% (yoy), sedangkan triwulan sebelumnya hanya 4,42%. Untuk subsektor transportasi, pertumbuhannya didukung oleh kinerja transportasi udara. Arus mudik selama masa menjelang lebaran melalui pesawat, praktis mendongkrak kinerja subsektor ini. Prospek bisnis transportasi di NTT relatif menjanjikan. Setelah masuknya maskapai Garuda Indonesia pada awal tahun ini, maskapai Batavia kembali menambah frekuensi penerbangan ke Kupang. Kemudian untuk subsektor komunikasi perkembangannya terlihat pertumbuhan jumlah pelanggan telepon seluler yang terus meningkat.
Sumber : Proyeksi BI
Grafik 1.32 PDRB Bangunan
Sumber : ASI
Grafik 1.33 Konsumsi Semen NTT
Dari sektor bangunan, jumlah konsumsi semen pada triwulan III yang relatif meningakat menjadi salah satu indikator kinerja sektor bangunan. Kemudian jumlah pengiriman beberapa jenis barang konstruksi yang masuk lewat pelabuhan Tenau, juga semakin banyak selama triwulan III dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dukungan pembiayaan perbankan padea sektor bangunan juga masih positif. Pertumbuhan outstanding kredit pada posisi September 2009 mencapai 46,89%, atau secara nominal sebesar Rp 198 miliar. Kinerja sektor bangunan juga relatif dipengaruhi oleh kinerja keuangan pemerintah daerah. Proyek pembangunan fisik yang dibiayai perbankan sebagian merupakan proyek pemerintah, sehingga peningkatan kredit sektor konstruksi biasanya sejalan dengan proses realisasi proyek pemerintah.
21
Sumber : Pelindo Tenau Sumber : Bank Indonesia Kupang
Sektor Listrik dan Air Bersih sebagai supporting ikut terdongkrak seiring meningkatnya kinerja ekonomi secara keseluruhan. Pada triwulan III-2009, kinerja sektor ini diindikasikan mengalami ekspansi sebesar 4,85%
(yoy). Kondisi tersebut sejalan dengan tingkat konsumsi (kwh) seluruh pelanggan PLN maupun jumlah pelanggan yang cenderung mengalami peningkatan. Jaminan ketersediaan pasokan listrik yang memadai, medorong beroperasinya kembali pabrik semen PT. Semen Kupang yang sempat terhenti sejak April 2008. Sinyal positif kinerja industri secara keseluruhan juga tercermin dari tingkat konsumsi listrik untuk kategori industri. Sehingga pada triwulan ini sektor industri diperkirakan mengalami pertumbuhan 1,09% (yoy). Kemudian, maraknya aktivitas penambangan bahan galian jenis batu-batuan mendorong sektor pertambangan mengalami ekspansi sebesar 3,76% (yoy). Peningkatan aktivitas sektor bangunan juga ikut mendorong peningkatan kinerja sektor ini.
Grafik 1.35 Konsumsi Listrik NTT Grafik 1.36 Konsumsi Listrik Industri
Sumber : PLN wilayah NTT Sumber : PLN wilayah NTT
Peran perbankan dalam mendukung perekonomian juga relatif menunjukan penigkatan. Sebagai penggerak utama sektor keuangan, persewaan, dan jasa sampai dengan akhir triwulan III-2009 masih menunjukan perkembangan positif. Bahkan potensi NTT memberikan daya tarik tersendiri
bagi lembaga perbankan. Salah satu bukti nyata adalah jumlah bank yang beroperasi terus mengalami pertumbuhan. Yang terakhir adalah Bank Sinar Mas yang mulai beroperasi sejak 6 Oktober 2009. Sampai dengan bulan September 2009, asset bank umum di wilayah NTT tumbuh sebesar 15,33%;y-o-y. Sejalan dengan hal tersebut, penghimpunan dana oleh pihak ketiga juga mengalami perkembangan yang positif dengan 14,28%;y-o-y. Sementara dari segi pembiayaan, penyaluran kredit oleh bank umum di Provinsi NTT tumbuh 23,39%;y-o-y. Bahkan, tingkat penyaluran kredit yang diberikan dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun (rasio LDR) telah menembus level 71,71%. Didukung dengan kualitas kredit yang masih dibawah batas rekomendasi yaitu 1,83%.
Kegiatan pembiayaan tidak semata-mata merupakan area perbankan, ada lembaga-lembaga lain, salah satunya pegadaian.
Kinerjanya di NTT seluruh NTT juga tumbuh positif, volume bisnisnya (omset) pada bulan Agustus 2009, tumbuh lebih dari 19% dibandingkan bulan Januari 2009. Salah satu pendukung utamanya adalah persyaratannya yang relative lebih mudah dibandingkan bila dengan lembaga perbankan.
Sumber : Pedagaian Denpasar
Grafik 1.37 Omset Pegadaian Tabel 1.4 Perkembangan Indikator Perbankan
indikator
utama IV I II III
Aset (miliar) 9,941.95 10,321.059,610.96 10,994.03
y-o-y aset 16.74% 15.53% 20.77% 15.33%
Kredit (miliar) 5,404.28 6,059.125,524.35 6,463.72
y-o-y kredit 28.58% 28.67% 25.84% 23.39%
DPK (miliar) 8,004.80 8,823.988,268.80 9,013.42
y-o-y DPK 9.71% 15.45% 18.64% 14.28%
LDR 67.51% 66.81% 68.67% 71.71%
NPL 1.39% 1.61% 1.73% 1.83%
2008 2009
Sumber : KBI Kupang
23
B B B A A A B B B I I I I I I P P P E ER E R RK K K E EM E M MB B BA A AN N N G GA G A AN N N I IN I N N F F F L L L A AS A S S I I I
2.1 Kondisi Umum
Tekanan tahunan inflasi pada akhir triwulan III-2009 menunjukan peningkatan signifikan. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terjadi kenaikan dari 3,9% menjadi 5,5%. Lonjakan inflasi di NTT secara umum dipengaruhi oleh gejolak yang terjadi di Kota Kupang, sedangkan di Maumere justru relative mengalami penurunan. Namun demikian dengan kontribusi yang jauh lebih kecil, hanya 15,5%, maka praktis pergerakan inflasi di NTT sangat ditentukan oleh kondisi harga Kota Kupang. Selama triwulan III, tekanan paling tinggi terjadi pada bulan September. Kondisi tersebut, tentu tidak terlepas dari pengaruh gejolak harga yang selalu terjadi saat menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Tabel 2.1 Perkembangan Inflasi NTT Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi NTT
Tekanan paling dominan untuk provinsi NTT, masih berasal dari kelompok pangan, baik bahan makanan, ataupun makan jadi. Pada akhir triwulan III-2009, inflasi tahunan kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 13,86%, kemudian kelompok makanan jadi juga relatif hampir sama, yaitu 13,69%. Sedangkan sepanjang tahun 2009 (ytd) tekanan kedua kelompok tersebut masing-masing sebesar 11,20% untuk bahan makanan, dan 9,37%
untuk kelompok makanan jadi. Gejolak harga kedua kelompok tersebut, memang cenderung selalu terulang setiap menjelang hari raya Idul Fitri.
Sumber : BPS diolah
Sumber : BPS diolah
III IV I II III
year on year
NTT 12.4% 11.7% 8.9% 3.9% 5.5%
Kupang 10.4% 10.9% 8.4% 3.6% 6.0%
Maumere 22.9% 16.2% 11.7% 5.6% 2.5%
year to date
NTT 10.4% 11.7% 0.8% 1.2% 4.2%
Kupang 8.8% 10.9% 0.8% 1.2% 4.0%
Maumere 19.1% 16.2% 0.4% 1.5% 5.0%
2008 2009
Inflasi
Pergerakan harga di NTT, tentu sangat dipengaruhi kondisi di bebrbagai daerah lain sebagai pemasok barang-barang tersebut. Selain itu, tekanan dari sisi administered price diperkirakan juga ikut menambah tekanan inflasi NTT, terkait keputusan pemerintah untuk menaikan harga elpiji (12kg : Rp 69.000 menjadi Rp 70.200) dan tarif PDAM (Rp 1.500/kubik menjadi Rp 3.000/kubik).
Jika dibandingkan dengan pergerakan inflasi nasional, tingkat inflasi NTT relatif masih lebih tinggi. Pada triwulan II-2009, inflasi tahunan nasional tercatat sebesar 3,65%, sedangkan untuk NTT sedikit lebih tinggi dengan 3,95%. Namun pada triwulan III perbedaan yang terjadi relative signifikan, dimana untuk nasional justru relative lebih rendah dengan 2,83%.
Tabel 2.2 Inflasi NTT yoy
Grafik 2.2 Inflasi NTT vs Nasional
Sumber : BPS diolah
Tabel 2.3 Inflasi NTT ytd
Sumber : BPS diolah
III IV I II III
UMUM 12.39% 11.72% 8.90% 3.95% 5.47%
BAHAN MAKANAN 15.10% 12.43% 10.79% 8.26% 13.86%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 9.75% 12.78% 14.20% 12.14% 13.69%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 17.30% 18.61% 12.52% 2.95% 1.25%
SANDANG 6.95% 4.32% 6.51% 3.28% 4.57%
KESEHATAN 6.92% 7.98% 5.80% 5.11% 2.20%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 3.53% 2.26% 2.62% 2.84% 2.11%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 7.27% 4.50% -1.15% -7.64% -4.92%
KOMODITI 2008 2009
III IV I II III
UMUM 10.38% 11.72% 0.78% 1.25% 4.16%
BAHAN MAKANAN 10.04% 12.43% 4.39% 6.49% 11.20%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 8.56% 12.78% 3.80% 4.63% 9.37%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 15.74% 18.61% 0.33% -0.92% -1.20%
SANDANG 3.89% 4.32% 2.55% 2.00% 4.15%
KESEHATAN 6.76% 7.98% -0.48% 0.78% 1.05%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 1.89% 2.26% 0.35% 1.29% 1.74%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 8.39% 4.50% -7.07% -6.73% -1.36%
KOMODITI 2008 2009
25
2.2 Inflasi Kota Kupang
Pembentuk inflasi di Kota Kupang relatif tidak mengalami perubahan. Pada dasarnya tingkat inflasi di Kota Kupang sangat dikendalikan oleh : [1] kemompok bahan makanan; [2] makanan, minuman, rokok dan tembakau; [3] kelompok perumahan. Adapun tiga kelompok tersebut menyumbang hingga 70% dari total nilai konsumsi. Pada triwulan III inflasi tahunan Kota Kupang mencapai 6,02%, melonjak cukup signifikan dibandingkan akhir triwulan II kemaren yang hanya 3,64%. Sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2009 kelompok transportasi cukup berperan bila melihat pembentukan inflasi setiap bulannya.
Gejolak harga yang terjadi pada kelompok tersebut, sangat menentukan apakah Kota Kupang mengalami inflasi atau deflasi. Secara khusus, pergerakan di kelompok transportasi terjadi pada angkutan udara.
Grafik 2.4 Struktur Inflasi Bulanan Grafik 2.3 Inflasi Kota Kupang
Sumber : BPS diolah Sumber : BPS diolah
Tabel 2.4 Inflasi Kota Kupang yoy
III IV I II III
UMUM 10.45% 10.90% 8.38% 3.64% 6.02%
BAHAN MAKANAN 11.63% 11.34% 10.80% 8.17% 15.57%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 9.09% 12.78% 14.70% 13.65% 15.56%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 15.98% 18.13% 11.48% 2.15% 1.04%
SANDANG 6.32% 3.17% 5.83% 3.25% 4.74%
KESEHATAN 6.44% 7.45% 5.23% 5.03% 2.24%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 1.81% 2.12% 2.58% 2.88% 2.33%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 5.88% 3.02% -2.40% -8.28% -4.60%
KOMODITI 2008 2009
Tabel 2.5 Inflasi Kota Kupang ytd
III IV I II III
UMUM 8.78% 10.90% 0.85% 1.20% 4.00%
BAHAN MAKANAN 7.10% 11.34% 5.10% 7.09% 11.17%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 7.86% 12.78% 4.51% 5.33% 10.53%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 14.63% 18.13% -0.03% -1.51% -1.95%
SANDANG 2.90% 3.17% 2.52% 2.08% 4.46%
KESEHATAN 6.29% 7.45% -0.64% 0.83% 1.14%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 1.71% 2.12% 0.39% 1.42% 1.92%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 7.17% 3.02% -7.42% -7.06% -0.76%
KOMODITI 2008 2009
Grafik 2.4 Inflasi Maumere
Grafik 2.5 Perkembangan Produksi Gula
Kelompok makanan mengalami laju inflasi relatif paling tinggi.
Secara tahunan laju inflasi untuk kelompok bahan makanan dan makanan jadi masing-masing sebesar 15,57% dan 15,56%. Kemudian jika melihat perkembangannya sepanjang tahun 2009 (ytd), kedua kelompok tadi juga mengalami kondisi yang sama dimana 11,17 untuk bahan makanan, dan 10,53 untuk makanan jadi. Khusus untuk kelompok pangan, sebagai dampak kondisi kelangkaan gula secara nasional, kenaikan harga gula pada bulan September lalu cukup tinggi. Akibatnya para distributor tidak berani mengambil risiko untuk mendatangkan dalam jumlah besar, karena dikhawatirkan bila terjadi penurunan harga, kerugian yang
ditanggung sangat besar.
Pergerakan harga gula nasional relatif dipengaruhi harga gula internasional.
Kapasitas pabrik pengolahan gula nasional sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi gula, akibatnya volume impor gula terus mengalami peningkatan.
Sumber : www.indexmundi.com
2.3 Inflasi Maumere
Kecenderungan peningkatan inflasi juga terjadi di Maumere. Meski secara tahunan (yoy) masih relatif lebih rendah dibandingkan triwulan II, namun dari pergerakan selama tahun 2009 (ytd) kecenderungan untuk meningkat sudah mulai nampak sejak bulan Juli
2009. Sama halnya dengan kondisi di Kupang, barang-barang di Maumere juga sebagian besar didatangkan dari Jawa. Pada akhir triwulan III-2009 inflasi tahunan (yoy) tercatat sebesar 2,45%, turun dibandingkan dengan triwulan II lalu yang mencapai 5,61%, namun angka inflasi year to date mulai
Sumber : BPS diolah
27
beranjak naik. Dimana sebelumnya pada triwulan II hanya 1,49%, pada triwulan III sudah mencapai 5,02%.
Sampai dengan triwulan III-2009, kelompok bahan makanan masih tetap mendapat tekanan paling dominan. Secara tahunan kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 4,53%, kemudian disusul dengan selompok sandang dengan 3,67%, dan kelompok makanan jadi sebesar 3,50%. Namun bila melihat perkembangan sepanjang tahun 2009 (ytd), praktis hanya didominasi oleh kelompok bahan makanan dengan 11,34%. Kemudian sampai dengan akhir triwulan III-2009 hanya kelompok transportasi yang mengalami deflasi. Penurunan harga BBM cukup berpengaruh menekan laju inflasi pada kelompok transportasi yang terkena dampak paling pertama (first round effect).
Tabel 2.6 Inflasi Maumere yoy
III IV I II III
UMUM 22.94% 16.17% 11.73% 5.61% 2.45%
BAHAN MAKANAN 33.96% 18.37% 10.78% 8.73% 4.53%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 13.35% 12.80% 11.44% 3.86% 3.50%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 24.44% 21.22% 18.14% 7.32% 2.37%
SANDANG 10.38% 10.58% 10.24% 3.44% 3.67%
KESEHATAN 9.54% 10.87% 8.94% 5.57% 2.00%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 12.93% 3.05% 2.86% 2.65% 0.91%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 14.81% 12.59% 5.62% -4.16% -6.66%
KOMODITI 2008 2009
Tabel 2.7 Inflasi Maumere ytd
III IV I II III
UMUM 19.08% 16.17% 0.39% 1.49% 5.02%
BAHAN MAKANAN 26.09% 18.37% 0.53% 3.24% 11.34%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 12.35% 12.80% -0.03% 0.81% 3.08%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 21.80% 21.22% 2.31% 2.27% 2.86%
SANDANG 9.27% 10.58% 2.68% 1.56% 2.45%
KESEHATAN 9.31% 10.87% 0.41% 0.55% 0.56%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 2.87% 3.05% 0.10% 0.55% 0.73%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 15.08% 12.59% -5.16% -4.93% -4.60%
KOMODITI 2008 2009
Sumber : BPS diolah
B B B A A A B B B I I I I I I I I I P PE P E E R R R K K K E E E M M M B B B A AN A N NG G G A AN A N N P PE P E E R R R B B B A AN A N NK K K A AN A N N
3.1 Kondisi Umum
Tren perkembangan kinerja perbankan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Pertumbuhan beberapa indikator utama perbankan yaitu aset dan penyaluran kredit sampai dengan triwulan III-2009 masih menunjukkan tren peningkatan walaupun akselerasinya menurun dibandingkan dengan triwulan III-2008. Sementara itu, pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan akselerasi peningkatan dibandingkan dengan triwulan sama tahun 2008.
Meningkatnya aktivitas konsumsi dan perkembangan investasi yang menjanjikan di Provinsi NTT berdampak pada pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang persisten tinggi dibandingkan dengan dua indikator perbankan lainnya, yaitu aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Tabel 3.1 Perkembangan Kinerja Perbankan
indikator
utama I II III IV I II III
Aset (miliar) 8.318,80 8.546,12 9.533,02 9.941,95 9.610,96 10.321,05 10.994,03
y-o-y aset 10,85% 8,26% 13,39% 16,74% 15,53% 20,77% 15,33%
Kredit (miliar) 4.293,58 4.814,82 5.238,52 5.404,28 5.524,35 6.059,12 6.463,72 y-o-y kredit 30,20% 30,58% 30,68% 28,58% 28,67% 25,84% 23,39%
DPK (miliar) 7.162,46 7.437,54 7.887,35 8.004,80 8.268,80 8.823,98 9.013,42
y-o-y DPK 7,48% 7,28% 10,45% 9,71% 15,45% 18,64% 14,28%
LDR 59,95% 64,74% 66,42% 67,51% 66,81% 68,67% 71,71%
NPL 1,79% 1,62% 1,64% 1,39% 1,61% 1,73% 1,83%
2008 2009
Sumber : Bank Indonesia Kupang
Performance kredit perbankan pada triwulan III-2009 relatif menurun seiring dengan peningkatan nominal penyaluran kredit namun masih terjaga di bawah level 2,00%. Rasio non performing loan (NPLs) perbankan NTT relatif meningkat di level 1,83%. Peningkatan rasio NPLs merupakan implikasi dari peningkatan penyaluran kredit perbankan NTT baik kredit konsumsi, investasi maupun kredit modal kerja. Akselerasi penyaluran kredit yang lebih besar daripada penghimpunan DPK berdampak
29
pada peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 71,71% pada triwulan laporan. Secara umum tekanan dari sisi risiko bagi perbankan di NTT, khususnya terkait risiko likuiditas, relatif belum menunjukkan gangguan yang berarti. Meskipun sebagian besar dana yang disimpan sebagian besar bersifat jangka pendek. Tren peningkatan fungsi intermediasi perbankan di NTT diprediksi akan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Hal itu disebabkan pertumbuhan perekonomian di NTT membuat beberapa bank tertarik untuk membuka cabang di propinsi NTT. Salah satunya adalah bank Sinar Mas yang merupakan bank umum kedua yang membuka cabang untuk wilayah NTT selama tahun 2009 dan mulai beroperasi pada tanggal 06 Oktober 2009.
3.2 Interm
ra laju penyerapan dana pada rekening giro hanya sebesar 7,26% (y-o-y).
ediasi Perbankan
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh perbankan NTT mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Nominal penyerapan DPK pada triwulan III-2009 sebesar Rp 9.013,42 miliar atau meningkat sebesar 2,15% dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan (y-o-y), akselerasi perkembangan DPK mengalami peningkatan hingga mencapai 14,28% dibandingkan dengan triwulan III-2008 sebesar 10,45%.
Peningkatan penyerapan DPK pada triwulan III-2009 merupakan implikasi dari peningkatan ketiga komponen DPK yaitu rekening giro, deposito dan tabungan. Laju penyerapan dana pada rekening deposito dan tabungan secara tahunan meningkat cukup signifikan masing-masing sebesar 20,04%
dan 16,48% (y-o-y) sementa
2008 2009
I II III IV I II III
DPK (miliar) 7.162,46 7.437,54 7.887,35 8.004,80 8.268,80 8.823,98 9.013,42
y-o-y DPK 7,48% 7,28% 10,45% 9,71% 15,45% 18,64% 14,28%
Giro 2279,15 2427,78 2554,48 1899,56 2540,89 2807,69 2739,86
y-o-y 1,69% -3,77% -4,91% -14,82% 11,48% 15,65% 7,26%
Deposito 1.599,32 1.644,06 1.738,88 1.785,96 1.912,63 1.989,79 2.087,35
y-o-y -3,98% 0,58% 10,71% 16,49% 19,59% 21,03% 20,04%
Tabungan 3.283,98 3.365,70 3.593,98 4.319,28 3.815,29 4.026,50 4.186,21 21,26% 24,62% 22,25% 16,18% 19,63% 16,48%
DPK
y-o-y 19,11%
Tabel 3.2 Perkembangan Komponen DPK
Sumber : Bank Indonesia Kupang
Penyerapan dana pada rekening giro relatif meningkat dibandingkan dengan triwulan III-2008 baik dari nilai nominal maupun akselerasi perkembangannya. Faktor yang dominan berpengaruh terhadap peningkatan dana pada rekening giro adalah peningkatan pagu anggaran belanja pemerintah (APBD) tahun 2009 dibandingkan dengan APBD 2008 tercermin dari komposisi kepemilikan rekening giro yang didominasi oleh pemerintah dengan share sebesar 81,78% meningkat dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 81,72%.
Besarnya dana pemerintah yang dialokasikan pada rekening giro dikonfirmasi dengan hasil survei yang dilakukan KBI Kupang yang menyebutkan bahwa sebanyak 86% dana pemerintah dari APBD ditempatkan pada rekening giro. Walaupun secara tahunan mengalami kenaikan, namun dibandingkan dengan triwulan II-2009 (q-t-q) perkembangan dana pada rekening giro mengalami penurunan sebesar 2,42%. Salah satu penyebab adalah realisasi belanja pemerintah yang mencapai 62,5% sehingga dana yang tersimpan sebagian besar telah digunakan untuk pembiayaan proyek pemerintah.
Akselerasi perkembangan dana pada rekening deposito mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan triwulan III- 2008 (y-o-y). Faktor keamanan menjadi salah satu faktor utama bagi masyarakat NTT dalam menentukan produk perbankan yang digunakan untuk penempatan dana jangka panjang. Tren penurunan suku bunga deposito sebagai pengaruh dari penurunan BI rate hingga mencapai 6,5%
belum berpengaruh secara signifikan terhadap minat masyarakat untuk menempatkan dana pada rekening deposito.
Penyerapan dana pada rekening tabungan triwulan III-2009 mengalami peningkatan relatif signifikan dibandingkan dengan triwulan III-2008. Walaupun secara nominal penempatan dana masyarakat pada rekening tabungan meningkat, namun akselerasinya mengalami perlambatan. Peningkatan tersebut merupakan sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menempatkan dana yang bersifat jangka pendek di perbankan.
31
Grafik 3.2 DPK Menurut Golongan Pemilik Grafik 3.1 Komposisi DPK
Tabungan;
46,44%
Deposito;
23,16%
Giro;
30,40%
Sw asta;
3,90%
lainnya;
1,90% Pemerintah;
33,09%
Perorangan
; 61,11%
Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : Bank Indonesia Kupang
Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK) relatif belum mengalami perubahan dibandingkan dengan triwulan III-2008. Struktur DPK pada triwulan III-2009 masih didominasi oleh penempatan dana pada rekening tabungan dengan share sebesar 46,44% atau meningkat dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 45,57%. Kondisi sama pada rekening deposito yang mengalami peningkatan signifikan dan berdampak pada peningkatan share rekening deposito menjadi 23,16% pada triwulan laporan. Di sisi lain, akselerasi peningkatan dana pada rekening tabungan dan deposito yang jauh lebih tinggi dibandingkan rekening giro menyebabkan penurunan share rekening giro terhadap total DPK pada triwulan III-2009 hingga menjadi 30,40% dari total DPK. Sementara itu, komposisi DPK dari golongan pemilik masih relatif sama dengan triwulan III-2008, dominasi kepemilikan DPK masih bersumber pada pemilik perorangan dengan share sebesar 61,11%
walaupun sedikit menurun dibandingkan dengan triwulan III-2008 sebesar 61,51% dimana sebagian besar dialokasikan dalam rekening giro dan deposito. Peningkatan alokasi dana pemerintah yang ditempatkan pada rekening giro berimplikasi menaikkan share rekening giro dari 32,92% pada triwulan III-2008 menjadi sebesar 33,09% pada triwulan laporan. Sementara itu, terjadi peningkatan komposisi dana milik pihak swasta dari 3,80% pada triwulan III-2008 menjadi 3,90% pada triwulan III-2008. Peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas dunia usaha di provinsi NTT yang secara tidak langsung berdampak pada meningkatnya aktivitas perputaran modal, baik yang diedarkan maupun yang ditempatkan di perbankan dalam bentuk giro, tabungan maupun deposito.