• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

C. Status Identitas

2. Perkembangan dan Pembentukan Identitas Diri

Perkembangan identitas merupakan hal yang kompleks. Freud

(dalam Schwartz, 2001) adalah psikolog pertama yang mencetuskan

pertanyaan dasar mengenai arti diri atau “diri itu apa?”. Freud percaya

bahwa definisi diri pada seseorang itu didapat dari introyeksi parental

yang terjadi pada akhir oedipal konflik. Setelah tahap tersebut, Freud

percaya bahwa identitas diri yang dimiliki seseorang tidak berubah

secara signifikan tetapi tetap mungkin untuk berubah.

Tidak seperti para teoritis lain yang terikat sepenuhnya dengan

psikoanalisis Freudian, Erikson menggunakan teorinya untuk

menyempurnakan teori Freud. Teori Erikson yang terkenal adalah ego

psychology, menekankan pada konsep “diri (self)” yang diatur oleh ego

bawah sadar serta memiliki pengaruh yang besar dari kekuatan sosial

dan budaya. Ego bawah sadar ini menjaga keterlibatan individu dalam

dunia sosial, termasuk untuk mendapatkan makna hidup (Feist, J., &

Erikson (dalam Feist, J., & Feist, G.J., 2008)

mengidentifikasikan tiga aspek ego yang saling terkait, yaitu ego tubuh

(body ego) mengacu pada pengalaman dengan tubuh, cara kita melihat

fisik berbeda dari orang lain, ideal ego (ego ideal) merupakan

gambaran diri kita jika dibandingkan dengan gambaran ideal ego orang

lain, dan terakhir adalah identitas ego (ego identity) merupakan

gambaran diri mengenai peran sosial yang dimainkan. Perubahan

ketiga komponen tersebut selalu terjadi di setiap tahap kehidupan.

Marcia merupakan salah satu tokoh Neo-Eriksonia yang

membangun teori identitas terukur dari teori Erikson. Marcia

mengembangkan metode interview untuk mengukur ego identity

dengan menggunakan dua kriteria yaitu eksplorasi (krisis) dan

komitmen. Eksplorasi merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk

mencari informasi atau alternatif sebanyak banyaknya untuk masa

depan sedangkan komitmen merupakan sikap yang cenderung

menetap, memberikan kesetiaan terhadap alternatif yang telah dipilih

dan diyakini paling baik untuk masa depan (Santrock, 2002).

Hasil dari metode interview yang dilakukan, Marcia

menemukan adanya hubungan antara status identitas dengan

karakteristik seperti kekhawatiran, harga diri, penalaran moral, dan

pola perilaku (Papalia dkk, 2008). Berdasarkan teori Marcia tersebut,

keluarga yang berhubungan dengan status identitas seperti ditunjukkan

pada tabel 2 :

Tabel 2

Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pembentukan Status Identitas

Faktor Diffusion Foreclosure Moratorium Achievement

Keluarga Orang tua permisif, tidak berwibawa, tidak memberi bimbingan dengan baik

Orang tua tidak menerima sikap/perasaan anak, tidak mendengarkan keluhan/kehendak anak Orang tua tidak punya aturan yang jelas, anak bingung terhadap otoritas orang tua Orang tua suportif, perhatian, mempercayai anak Kepribadian Perkembangan konsep diri anak lambat, kemampuan kognitif tidak berfungsi baik, ragu ragu, pasif, tidak inisiatif Anak tergantung, kontrol diri eksternal, cemas,

tidak percaya diri

Anak cemas, takut gagal, egois, kurang percaya diri, harga diri rendah Anak punya kemandirian, kontrol diri internal, akrab, percaya diri, inisiatif, kreatif, dan berprestasi

Purwadi (2004) salah satu peneliti yang menggunakan teori

Marcia menyebutkan beberapa faktor yang mendahului pembentukan

identitas diri pada remaja antara lain tingkat identifikasi pada orang tua

sejak kanak-kanak hingga mencapai remaja, gaya pengasuhan yang

diterapkan oleh orang tua atau pihak yang mengasuh dan merawat

remaja tersebut, keberadaan figur tokoh sukses yang dilihat remaja,

harapan sosial tentang identitas seseorang, tingkat keberhasilan

seseorang mengungkap berbagai alternatif identitas diri, dan

Selain adanya faktor-faktor yang mendahului pembentukan

identitas diri, identitas diri juga berkaitan dengan berbagai macam

domain yang terdapat dalam masyarakat. Domain merupakan area

yang mewakili tingkat eksplorasi dan komitmen pada status identitas

diri seseorang. Menurut Erikson (dalam The OMEIS, 1998), ada dua

komponen yang merupakan formasi dari status identitas yaitu

ego-identity dan self ego-identity. Ego-ego-identity merujuk kepada komitmen,

seperti dalam masalah pekerjaan, dan nilai ideologi berhubungan

dengan politik, agama, filosofi kehidupan, dan lain-lain, sedangkan

self-identity dapat diilustrasikan dari formasi identitas yang jelas

terlihat seperti hubungan sosial dengan sesama, misalnya di Indonesia

remaja sudah mulai ikut serta melaksanakan pemilu dengan memilih

salah satu partai politik yang sesuai dengan pemikirannya.

Hasil dari beberapa penelitian sebelumnya juga menyebutkan

bahwa masa remaja membawa ketertarikan seseorang pada

perkembangan sosial dirinya, sehingga remaja banyak tertarik pada

pengaruh luar seperti agama, politik, dan aspek interpersonal lainnya,

sedangkan dalam masalah komitmen, remaja mulai berpikir mengenai

kebutuhan untuk bertanggungjawab seperti dalam masalah pilihan

pekerjaan.

Grotevant, Thorbecke, & Meyer, (dalam Adams, 1998)

menyebutkan bahwa identitas ideologis terdiri dari pilihan pekerjaan,

pandangan gaya hidup seseorang), sedangkan identitas interpersonal

berhubungan dengan domain pertemanan, hal berpacaran, peran gender

(berhubungan dengan peran suami-istri, peran gender dalam dunia

kerja, dan peran anak laki-laki dan perempuan), dan pilihan rekreasi.

Ini menjadi dasar pemilihan domain pada status identitas. Kesuksesan

pencapaian status identitas remaja dapat dilihat melalui pencapaian

status pada masing-masing domain tersebut.

Seorang remaja yang telah mencapai status identitas tertentu,

misalnya status identity achievement, belum tentu remaja tersebut juga

mencapai status yang sama pada domain lainnya. Status identitas tidak

selalu stabil sampai akhir hidup (Santrock, 2002). Contohnya, remaja

dengan eksplorasi dan komitmen tinggi dalam pekerjaan, belum tentu

memiliki eksplorasi dan komitmen yang tinggi pula dalam agama.

Nauta, Khan, & Lucas (dalam Sawitri, 2009) menyebutkan

bahwa perbedaan budaya dapat menyebabkan perbedaan pencapaian

status identitas, misalnya budaya di Negara barat yang mengajarkan

kemandirian sejak dini akan membuat pencapaian status identity

achievement pada domain pekerjaan oleh remaja di Negara tersebut

lebih cepat dibanding remaja pada Negara, misalnya Indonesia dengan

budaya yang orang tuanya kurang mendorong eksplorasi, komitmen

dan kurang mendorong remaja untuk mengandalkan dirinya sendiri,

Dokumen terkait