• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Kondisi Umum Desa Haurngombong

5.1.3 Perkembangan dan pengelolaan Biogas di Desa

Potensi limbah kotoran ternak yang melimpah serta naiknya harga BBM, menimbulkan inisiatif kepala Desa Haurngombong Bapak Adang untuk melakukan pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas. Pada tahun 2003

Kelompok Tani Ternak Jumlah Peternak (orang) Jumlah Ternak (ekor) Wargi Saluyu 135 400 Harapan Jaya 48 223 Harapan Sawargi 25 80 Jumlah 208 703

41 diprakarsai oleh Bapak Komar ketua kelompok peternak Harapan Sawargi yang membuat instalasi biogas dengan peralatan yang digunakan masih sangat sederhana yaitu reaktor dan penampungan gas yang terbuat dari plastik, kompor yang terbuat dari kaleng bekas serta selang plastik. Upaya pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi biogas didukung oleh pemerintah desa sebagai salah satu upaya untuk menjadikan Desa Haurngombong sebagai Desa Mandiri Energi.

Pada tahun 2004-2005 Desa Haurngombong bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan memberikan dukungan teknologi biogas dan pembinaan warga. Pada Tahun 2008 konstruksi biogas plastik berkembang menjadi konstruksi yang terbuat dari fiber, namun tempat penampungan gas masih terbuat dari plastik. Pada tahun 2010 Bapak Mamat selaku ketua kelompok peternak Harapan Jaya bekerjasama dengan SIPOS (Belanda). Pada Oktober 2010 bantuan dalam rangka promosi reaktor biogas konstruksi beton skala Rumahtangga dengan kapasitas reaktor 6 m3 dibangun. Perbedaan konstruksi ketiga instalasi biogas pada Tabel 7.

Tabel 7. Perbedaan Konstruksi Reaktor Biogas Di Desa Haurngombong

Jenis Konstruksi

Reaktor

Tempat Penampung Gas

Alat Bantu Pipa Saluran

Plastik Plastik Alat kendali gas

(blower)

Selang plastik

Fiber Plastik Blower Selang plastik- pipa

paralon

Beton Tanpa alat penampung Keran pengatur gas Pipa parlon

Sumber : Data Primer, 2012

Desa Haurngombong merupakan salah satu Desa Mandiri Energi (DME) dengan energi non-BBM. Desa mandiri energi di Indonesia sendiri ada dua jenis, yaitu DME yang menggunakan energi non-BBM dan DME yang menggunakan energi nabati atau biofuel.

42 Berdasarkan surat keputusan Kepala Desa Haurngombong Nomor 141/05/SK/DS/2007 tentang disahkannya Desa Haurngombong sebagai salah satu desa mandiri energi (DME). Tujuan dari pelaksanaan program DME di Desa Haurngombong ini adalah meningkatkan ketersediaan energi alternatif berbasis biogas sapi perah bagi peternak sapi perah serta anggota masyarakat lainnya di sentra peternakan sapi perah. DME Haurngombong sangat sesuai untuk pengembangan energi alternatif biogas dikarenakan mayoritas penduduk Desa Haurngombong adalah peternak.

Berdasarkan SK Kepala Desa Haurngombong nomor 141/05/SK/DS/2007, tertanggal 7 Oktober 2007, maka dibentuklah panitia pembangunan instalasi biogas Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang. Struktur kepanitiaan ini terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, tim teknis dan tenaga kerja. Hasil akhir yang diharapkan dari program DME Haurngombong adalah terpasangnya instalasi biogas dengan optimal yang digunakan oleh keluarga peternak maupun non-peternak. Manfaat yang diharapkan adalah peningkatan jumlah instalasi biogas yang ada akan memberikan kontribusi nyata bagi penghematan energi bahan bakar minyak dan kayu bakar sehingga mengurangi pengeluaran rumahtangga, dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Desa Haurngombong juga menjalin kerjasama dengan pihak luar dalam mengembangkan program biogas di desa tersebut, antara lain kerjasama antara Desa Haurngombong dengan Pemerintah melalui Dinas Pertambangan Energi Sumberdaya Mineral baik Pusat, Provinsi maupun Kabupaten, Fakultas Peternakan UNPAD serta Yayasan Cahaya Keluarga (YCK)

43 yang bekerja sama dengan PT. PLN Persero, ITENAS dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat bidang pengembangan Energi Alternatif (Tabel 8).

Tabel 8. Perkembangan Biogas di Desa Haurngombong

Tahun Keterangan Gambar

2003 Biogas dengan rektor yang

terbuat dari plastik

2004-2005 kerjasama dengan pihak UNPAD melalui penelitian, pembinaan dan pengawasan instalasi biogas

2007 Desa Haurngombong Dijadikan Desa Mandiri Energi

2008 instalasi biogas terbuat dari fiber umur teknis 5 tahun

menggunakan blower dan plastik penampung gas

2010 instalasi biogas biru (beton) umur teknis 10 tahun

tanpa blower dan plastik tempat menampung gas.

2011 instalasi biogas beton bantuan pemerintah

umur teknis 10 tahun

tanpa blower dan plastik tempat menampung gas.

44 Pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas di Desa Haurngombong ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ialah peternak yang memiliki 1-2 ekor sapi. Kelompok kedua ialah peternak yang memiliki lebih dari dua ekor sapi. Pada kelompok pertama, peternak dapat menggunakan biogas bersama keluarga non-peternak di dekat rumahnya 1-2 KK dengan kapasitas reaktor 6 m3. Pada kelompok peternak kedua peternak dapat memanfaatkan biogas bersama rumahtangga nonpeternak sekitar 4-7 KK di dekat lokasi usahaternak/instalasi biogas dengan kapasitas reaktor 40 m3. Pendistribusian biogas dihubungkan dengan pipa paralon ke kompor biogas pada tiap rumah. Penggunaan biogas non peternak dengan sistem pembagian kerja secara bergiliran dalam pengisian bahan baku atau secara bergotong royong. Pengguna biogas baik peternak maupun non peternak dikenakan biaya iuran sebesar Rp 10.000/bulan untuk biaya perawatan dan lainnya yang dikelola oleh kelompok peternak. Limbah sisa biogas dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pengelolaan dan Pengawasan instalasi biogas dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali (Gambar 4).

Gambar 4. Skema Pengelolaan dan Pengawasan Instalasi Biogas Program DME Pengelola Program DME Peternak dengan 1-2 ekor sapi Kelompok Peternak Peternak dengan >2 ekor sapi Non Peternak Instalasi Biogas

45 Kondisi perkembangan usahaternak dalam pemanfaatan limbah ternak sapi perah menjadi biogas sebagai energi alternatif terbarukan pengganti minyak tanah, gas elpiji, dan tenaga listrik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Total peternak pengguna biogas di Desa Haurngombong sebanyak 135 peternak (65%) di Desa Haurngombong. Jumlah pengguna biogas terbanyak yaitu 73 peternak (53%) berada pada kelompok Wargi Saluyu dikarenakan merupakan kelompok dengan jumlah peternak terbanyak jika dibandingkan dengan kelompok yang lain.

Jumlah peternak pengguna biogas pada masing-masing kelompok sebanyak 42 peternak (31%) Harapan Jaya dan 22 peternak (16%) kelompok Harapan Sawargi. Program Desa Mandiri Energi di Desa Haurngombong telah berhasil mengajak 115 keluarga non peternak untuk menggunakan biogas atau sebesar 46% dari total pengguna biogas, sedangkan 71 peternak (34%) tidak menggunakan biogas (Tabel 9). Hal ini dikarenakan sebagian peternak masih memiliki persepsi penggunaan biogas yang tidak praktis, sebagian responden merupakan peternak yang mengalami kerusakan pada instalasi biogas berupa kebocoran dan rapuh dengan instalasi jenis plastik dan fiber, namun tidak adanya upaya perbaikan, serta kerusakan pada komponen lainnya seperti kompor biogas, blower (alat kendali gas), pipa paralon, dan lainnya.

Tabel 9. Data Jumlah Pengguna Biogas di Desa Haurngombong

Keterangan Kelompok Peternak

Wargi Saluyu Harapan Jaya Harapan Sawargi Jumlah Pengguna Biogas a. Peternak 73 42 22 137 b. Non Peternak 76 18 20 115

Jumlah Pengguna Biogas 149 60 42 251

Peternak Non Biogas 62 6 3 71

46

Dokumen terkait