• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan dan Peranan Antropologi Kesehatan

PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA DAN PENGEMBANGAN POSYANDU

PERANAN ANTROPOLOGI DALAM PELAYANAN KESEHATAN

B. Perkembangan dan Peranan Antropologi Kesehatan

Biological or physical Antropologi, berusaha untuk memahami jasad/fisik manusia

melalui evolusi, kemampuan adaptasi, genetika populasi dan primatologi (studi tentang makhuk primate/binatang yang menyerupai manusia). Sub bidang dari Anthropologi fisik ini mencakup: anthropometrics, forensik Antropologi, osteology dan nutritional Antropologi. Ada beberapa ilmu yang berhubungan dengan antropologi dan saling berkontribusi dalam memberikan sumbangan untuk perkembangan ilmu lain. Misalnya dalam bidang biologi,

antropologi kesehatan memiliki peranan dalam menggambarkan teknik dan penemuan ilmu kedokteran dan variasinya, termasuk mikrobiologi, biokimia, genetik, parasitologi, patologi, nutrisi dan epidemiologi.

Hal ini memungkinkan untuk menghubungkan antara perubahan biologi yang didapatkan dengan menggunakan teknik tersebut terhadap faktor sosial dan budaya di masyarakat tertentu. Contoh: penyakit keturunan albinism di suatu daerah di Nusa Tenggara Timur ditransmisikan melalui gen resesif karena pernikahan diantara anggota keluarga.

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu kesehatan lain sebagai berikut:

1. Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu pada akar kepribadian masyarakat yang membangun. Contoh pendekatan sistem, holistik, emik, relativisme yang menjadi dasar pemikiran antropologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah dan mengembangkan situasi masyarakat menjadi lebih baik.

2. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses sosial budaya bidang kesehatan.

3. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian baik dalam merumuskan suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interpretasi hasil tentang suatu kondisi yang ada di masyarakat.

Konsep sehat dan sakit

Membicarakan faktor perilaku dari kesehatan dan penyakit adalah pengertian mengenai sehat. Suatu batasan yang sering kali dikutip adalah yang dikemukakan oleh World Health

Organization (WHO), bahwa sehat itu adalah:

“a state of complete physical, mental, and sosial well being, and not merely the absence of disease of disease or infirmity’.

Kalangan ahli ilmu sosial umumnya dan banyak ahli ilmu kedokteran tidak menerima rumusan ini karena dianggap mengandung kelemahan prinsipil. Kecuali bahwa rumusan ini bersifat utopis, juga menunjukan bahwa kondisi sehat adalah statis dan mutlak, menurut ukuran-ukuran yang dianggap universal. Olehnya, rumusan ini tidak memberi ruang bagi kenyataan-kenyataan yang menunjukan keragaman atau perbedaan, padahal secara budaya kondisi sehat atau sakit tertentu bagi suatu masyarakat tidak selalu dianggap demikian oleh masyarakat lain (variasi antar budaya). Bahkan di kalangan warga sesuatu kesatuan kemasyarakatan, seperti kelompok etnis dan penduduk suatu desa sekalipun dapat dijumpai keragaman yang dimaksud (variasi intra budaya). Selain dari itu, rumusan yang yang relativistic mengenai konsep ini dihubungkan dengan kenyataan akan adanya pengertian dalam masyarakat bahwa ide kesehatan adalah sebagai kemampuan fungsional dalam menjalankan peranan-peranan sosial dalam kehidupan sehari-hari (Wilson 1970:12). Dunn dan Audy (Dunn 1967b; Audy dan Dunn 1974) menjelaskan konsep sehat dan sakit sebagai suatu kondisi individu dan kelompok sosial yang dinamis, selalu dalam keadaan berubah-ubah. Sifat berubah-ubah ini bukan hanya dapat diamati dan dirasakan dalam suatu masa tertentu yang

relative panjang (seperti massa bayi atau massa usia lanjut) tetapi juga dalam periode singkat (seperti sehari atau seminggu).

Konsep kesehatan dalam pengertian ini menjelaskan pula reaksi adaptif yang terjadi karena organisma manusia (atau kelompok) mengalami dan menggadakan respons terhadap serangkaian gangguan kesehatan (penyakit) secara berturut-turut sehingga nmenimbulkan imunitas terhadap infeksi penyakit itu. Demikian pula kita dapat belajar menghadapi berbagai bentuk stres psikologis dan sosial karena kita sering mengalaminya. Pengalaman ini menghasilkan kemampuan imunitas untuk mengatasinya. Adalah merupakan kenyataan bahwa seseorang dapat menentukan kondisi kesehatannya baik (sehat) bila mana ia tidak merasakan terjadinya suatu kelainan fisik maupun psikis. Ataupun, sekalipun ia menyadari akan adanya kelainan tetapi tidak terlalu menimbulkan perasaan sakit dan/atau tidak dipersepsikan sebagai kelainan yang memerlukan perhatian medis secara khusus (karena dapat dianggap sembuh dengan sendirinya), atau kelainan ini sama sekali tidak dianggap sebagai suatu penyakit. Demikian pula halnya dengan adanya anggapan bahwa suatu kelainan yang begitu umum atau sering terjadi tetapi tidak dianggap bukan penyakit, atau kalau kalau dianggap penyakit ini tergolong sebagai penyakit ringan.

Dasar utama dari penentuan tersebut (bahwa ia sehat atau hanya mengidap suatu penyakit ringan yang tidak perlu diperhatikan) adalah bahwa ia tetap dapat menjalankan peranan-peranan mulai terganggu barulah pengakuan bahwa ia tidak sehat (sakit) dinyatakaan serta diikuti dengan usaha mencari pengobatan. Persepsi seseorang terhadap kondisi kesehatannya tidak hanya dilakukan oleh yang bersangkutan secara pribadi tetapi berlangsung dalam jaringan sosialnya dengan komponen pengelompokan, seperti kekerabatan, persahabatan, tetangga, perkejaan, dan komunitas. Proses ini berlaku pula dalam mengambil keputusan perawatan medis yang harus diusahakan pada saat seseorang jatuh sakit. Sebelum keputusan dibuat saran-saran dan pendapat diperoleh, diminta atau tidak, dari orang dari berbagai kelompok sosial ini. Keputusan dibuat bersama oleh yang bersangkutan (kalau ia sudah dewasa) dan orang dewasa lainnya, terutama istri atau suami dan orang tuanya.

Individu dalam keadaan sakit, aspek sosial mengikuti urutan waktu: Tingkat permulaan (kesadaran akan adanya simptom pertama); tingkat perkembangan penuh dari penyakit (proses sosial dan fisiologis yang terjadi); dan tingkat akhir (sembuh atau meninggal). Setiap tingkat dalam episode ini, harus diadakan keputusan medis dan sosial oleh atau bagi si penderita, pengaturan kembali akan peranannya, dan perubahan sikap diperlukan untuk dapat menyesuaikan dirinya dengan realitas situasi lain (terkecuali kalau akhir dari episode ini adalah kematian).

Ada beberapa ilmu yang memberikan sumbangan terhadap antropologi kesehatan, antara lain:

1. Antropologi fisik/biologi/ragawi. Contoh: nutrisi mempengaruhi pertumbuhan, bentuk tubuh, variasi penyakit. Selain itu juga mempelajari evolusi penyakit sebagai akibat faktor budaya, migrasi dan urbanisasi.

2. Etnomedisin, awalnya mempelajari tentang pengobatan pada masyarakat primitif atau yang masih dianggap tradisional, meski dalam perkembangan lebih lanjut stereotipe ini harus dihindari karena pengobatan tradisional tidak selamanya terbelakang atau salah.

3. Kepribadian dan budaya, adalah observasi terhadap tingkah laku manusia di berbagai belahan dunia. Misalnya: perawatan schizophrenia di suatu daerah untuk mencari penyembuhan yang tepat dapat digunakan untuk mengevaluasi pola perawatan penyakit yang sama.

4. Kesehatan Masyarakat, dimana beberapa program kesehatan bekerja sama dengan antropologi untuk menjelaskan hubungan antara kepercayaan dan praktek kesehatan.

Antropologi kesehatan membantu mempelajari sosio-kultural dari semua masyarakat yang berhubungan dengan sakit dan sehat sebagai pusat dari budaya diantaranya:

1. Penyakit yang berhubungan dengan kepercayaan (misfortunes)

2. Di beberapa masyarakat misfortunes disebabkan oleh kekuatan supranatural maupun supernatural atau penyihir.

3. Kelompok healers ditemukan dengan bentuk yang berbeda di setiap kelompok masyarakat. Healers mempunyai peranan sebagai penyembuh

Adapun perhatian terhadap suatu keberadaan sakit atau penyakit tidak secara individual, terutama illness dan sickness pada keluarga ataupun masyarakat. Jika diumpamakan sebagai kewajiban, maka tugas utama ahli antropologi kesehatan diantaranya: bagaimana individu di masyarakat mempunyai persepsi dan bereaksi terhadap ill dan bagaimana tipe pelayanan kesehatan yang akan dipilih, untuk mengetahui mengenai budaya dan keadaan sosial di lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Foster/Anderson, antropologi kesehatan mengkaji masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya.

1. Pokok perhatian kutub biologi:

1. Pertumbuhan dan perkembangan manusia 2. Peranan penyakit dalam evolusi manusia 3. Paleopatologi (studi mengenai penyakit purba) 4. Pokok perhatian kutub sosial-budaya :

1) Sistem medis tradisional (etnomedisin)

2) Masalah petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka 3) Tingkah laku sakit

4) Hubungan antara dokter pasien

5) Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat tradisional.

Antropologi mempunyai pandangan tentang pentingnya pendekatan budaya. Budaya merupakan pedoman individual sebagai anggota masyarakat dan bagaimana memandang dunia, bagaimana mengungkapkan emosionalnya dan bagaimana berhubungan dengan orang lain, kekuatan supernatural atau Tuhan serta lingkungan alamnya. Budaya itu sendiri diturunkan dari suatu generasi ke generasi selanjutnya dengan menggunakan simbol, bahasa, seni, dan ritual yang dilakukan dalam perwujudan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, latar belakang budaya mempunyai pengaruh yang penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia (kepercayaan, perilaku, persepsi, emosi, bahasa, agama, ritual, struktur keluarga, diet, pakaian, sikap terhadap sakit dan lainnya). Selanjutnya, hal tersebut tentunya mempengaruhi status kesehatan masyarakat dan pola pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat tersebut.

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu kesehatan lain sebagai berikut:

1. Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu pada akar kepribadian masyarakat yang membangun.

2. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses sosial budaya bidang kesehatan. Memang tidak secara tepat meramalkan perilaku individu dan masyarakatnya, tetapi secara tepat bisa memberikan kemungkinan luasnya pilihan yang akan dilakukan bila masyarakat berada pada situasi yang baru.

3. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interpretasi hasil tentang suatu kondisi yang ada di masyarakat.

Antropologi kesehatan sebagai disiplin ilmu yang memberi perhatian pada aspek biologis dan sosio - budaya dari tingkah laku manusia, sepanjang pengamatan terhadap manusia maka bagaimana cara manusia berinteraksi terhadap lingkungan dan kehidupannya, dapat mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia. Berdasarkan hal ini menurut Foster (1978) ada tiga tipe kajian antropologi budaya yang menjadi akar antropologi kesehatan, yaitu: 1) Kajian tentang obat “primitif”, tukang sihir dan majic. 2) Kajian tentang kepribadian dan kesehatan diberbagai setting budaya. 3). Keterlibatan ahli antropologi dalam program kesehatan internasional dan perubahan komunitas yang terencana. McElroy dan Townsend (1985) menambahkan dua kajian antropologi lain, yaitu: 1) Antropologi ekologi dan 2) Teori evolusioner. Hal itu terlepas dari arti antropologi sebagai “ilmu filsafat dan teologi” tentang manusia.

Ada empat hal utama yang dapat disumbangkan oleh antropologi terhadap ilmu kesehatan.

1. Perspektif antropologi

a. Pendekatan Holistik memahami suatu gejala sebagai suatu sistem. Pendekatan ini dilandasi oleh pengalaman lapangan bahwa batas pranata budaya tidak jelas, bahwa suatu pranata tidak dapat dipelajari sendiri lepas dari hubungannya dengan pranata lain dalam keseluruhan sistem, bahwa suatu pranata hanya dapat dipelajari dalam konteks pranata lain yang menopang atau ditopangnya.

b. Relavisme Budaya. Konteks relativisme budaya, maka dalam merencanakan program perubahan akan bijaksana jika diawali dengan upaya untuk mengetahui apa yang telah ada yang relevan dengan program.

2. Perubahan, proses dan persepsi/perubahan terencana. Suatu perubahan terencana akan lebih berhasil manakala perencanaan program bertolak dari konsep budaya. Perencanaan program pembaharuan kesehatan dalam upaya mengubah perilaku kesehatan memfokuskan diri pada bangunan fisik, perilaku yang nampak, juga aspek psiko-budaya. 3. Metodologi penelitian antropologi. Hidup ditengah masyarakat yang diteliti untuk

beberapa bulan bahkan untuk mendapatkan data yang sebenarnya dibutuhkan pemahaman apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat yang menjadi target.

4. Premis antropologi. Beberapa premis dari sebagian besar ahli antropologi kesehatan yang perlu diketahui oleh ahli kesehatan antara lain:

1) Penyakit dalam beberapa bentuk merupakan fakta umum dari kehidupan manusia. Penyakit terjadi pada tiap tempat, waktu dan individu dalam masyarakat.

2) Seluruh kelompok manusia, telah mengembangkan metode dan aturan, sesuai dengan sumber daya dan strukturnya, untuk mengatasi atau merespon terhadap penyakit. 3) Seluruh kelompok manusia telah mengembangkan seperangkat kepercayaan,

pengertian, dan nilai yang konsisten dengan matriks budayanya untuk memahami tentang penyakit dan menentukan tindakan untuk mengatasinya.

Secara umum antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu kesehatan lain sebagai berikut: Memberikan cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan memberikan kontribusi yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan bertumpu pada akar kepribadian masyarakat yang membangun. Contoh pendekatan sistem, holistik, emik, relativisme, yang menjadi dasar pemikiran antropologi dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mengembangkan situasi masyarakat menjadi lebih baik. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses sosial budaya bidang kesehatan. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interpretasi hasil tentang suatu kondisi yang ada di masyarakat.

Ahli antropologi tertarik untuk mempelajari faktor biologis dan sosio budaya yang mempengaruhi kesehatan dan munculnya penyakit di masa sekarang dan sepanjang sejarah kehidupan manusia dipengaruhi oleh dua keinginan. Pertama, memahami perilaku sehat manusia dalam manifestasinya yang luas, kedua kepercayaan bahwa teknik penelitian, konsep teoritik dan data empiris dari antropologi dapat dan seharusnya digunakan dalam program yang direncanakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya dibidang kesehatan.

Antropologi kesehatan mempunyai tujuan akhir mendeskripsikan secara meluas dan interpretasi mengenai saling hubungan bio-budaya, antara perilaku manusia di masa lalu dan masa kini, dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut. Partisipasi profesional ahli antropologi dalam program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang mendalam mengenai hubungan antara gejala biososiobudaya dan kesehatan serta melalui perubahan perilaku sehat dalam arah yang dipercaya dapat memperbaiki kesehatan dalam arah yang lebih baik.