Dalam kancah perdagangan internasional, persaingan tidak dapat terhindarkan. Setiap persaingan pasti akan melibatkan beberapa pesaing, begitupun dengan perdagangan karet alam. Dalam hal ini, karet alam di pasar internasional didominasi oleh sedikitnya tiga eksportir utama, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Meskipun demikian, keberadaan Vietnam kini juga patut diperhitungkan, mengingat peningkatan nilai ekspornya yang semakin membaik. Tabel 16 memperlihatkan perkembangan kuantitas ekspor negara eksportir utama karet alam di pasar internasional pada periode tahun 2001 hingga 2009.
Tabel 16. Kuantitas Ekspor Negara Pesaing Utama Karet Alam Dunia
Tahun Thailand Malaysia
2001 2.549.748 820.891 2002 2.785.088 886.966 2003 3.107.760 946.877 2004 3.021.938 1.109.380 2005 2.952.191 1.128.174 2006 3.056.972 1.132.408 2007 2.966.128 1.018.052 2008 2.832.071 915.651 2009 2.741.045 703.080
Sumber: International Trade Statistics, 2010
Adapun nilai ekspor masing-masing eksportir tersebut disajikan pada Tabel 17. Thailand yang merupakan pemegang utama ekspor karet alam masih mendominasi ekspornya yang mana negara ini mampu mengekspor karet alam sejumlah 2,7 juta ton pada tahun 2009 dengan nilai 4,3 milyar US$. Meskipun demikian, nilai tersebut bukanlah nilai tertinggi ekspor karet alam Thailand.
74 Kuantitas ekspor tertinggi Thailand dicapai pada tahun 2003 yang mana Thailand mengekspor karet alam sejumlah 3,1 juta ton. Namun nilai tertingginya diperoleh justru di tahun yang berbeda, yaitu tahun 2008 yang mana ekspornya hanya sebesar 2,8 juta ton dengan nilai ekspor 6,72 milyar US$. Perbedaan antara nilai dan kuantitas ekspor tersebut diindikasi dari harga karet alam yang semakin mengalami perbaikan (meningkat) dari tahun ke tahun.
Tabel 17. Nilai Ekspor Negara Pesaing Utama Karet Alam Dunia (000 US$)
Tahun Thailand Malaysia
2001 1.321.208 496.454 2002 1.737.762 655.775 2003 2.796.830 942.848 2004 3.414.560 1.371.326 2005 3.694.645 1.528.476 2006 5.430.350 2.246.584 2007 5.640.503 2.135.917 2008 6.720.964 2.431.235 2009 4.315.650 1.267.076
Sumber: International Trade Statistics, 2010
Malaysia yang merupakan eksportir ke tiga terbesar karet alam juga mengalami peningkatan nilai ekspor terhadap komoditas ini. Meskipun demikian, sejak tahun 2007 kuantitas ekspor karet alam Malaysia cenderung menurun. Hal ini dikarenakan produksi karet alam Malaysia yang semakin rendah. Tercatat produksi pada tahun 2007 sebesar 1,2 juta ton, menurun dari 1,28 juta ton pada tahun sebelumnya (Food And Agriculture Organization, 2010). Menurut laporan dari Departemen Statistik Malaysia (2010), pada tahun 2009 produksi karet alam negara ini hanya sebesar 857 ribu ton. Penurunan tersebut terjadi karena makin berkurangnya areal sadap karet Malaysia akibat alih fungsi lahan, yaitu dari seluas 750 ribu hektar pada tahun 2008 menjadi 590 ribu hektar pada tahun 2009 (Association of Natural Rubber Producing Countries, 2010).
75 Karet alam merupakan produk perkebunan yang sangat rentan terhadap perubahan harga. Fluktuasi yang terjadi dapat diakibatkan oleh berbagai hal, baik faktor internal maupun eksternal. Sensitifitas harga tersebut mendorong tiap negara untuk terus melakukan rekonstruksi terhadap produk masing-masing sehingga dapat terus bertahan dan tetap memiliki daya saing yang cukup kuat di pasar internasional.
Perkembangan yang demikian kemudian mendorong negara-negara pengekspor karet melakukan suatu upaya untuk menstabilkan harga karet. Upaya tersebut diwujudkan dengan terbentuknya suatu perusahaan patungan karet alam bernama “International Rubber Consortium Limited (IRCo)” pada tahun 2002. Pendirian lembaga ini lambat laun terbukti dapat memperbaiki harga ekspor karet alam di pasar internasional. Peningkatan yang terjadi pada nilai ekspor karet alam Malaysia pun juga disebabkan karena semakin membaiknya harga karet alam dunia. Hal tersebut dapat terlihat sebagaimana disajikan pada Tabel 18 berikut ini. Tabel 18. Harga Ekspor Karet Alam Negara Eksportir Utama (US$/ton)
Tahun Thailand Indonesia Malaysia
2001 518 541 605 2002 624 694 739 2003 900 899 996 2004 1.130 1.163 1.236 2005 1.251 1.276 1.355 2006 1.776 1.890 1.984 2007 1.902 2.023 2.098 2008 2.373 2.638 2.655 2009 1.574 1.629 1.802
Sumber: International Trade Statistics, 2010
Sayangnya, peningkatan harga karet dunia tidak berlangsung lama. Krisis global yang melanda pada kuartal ke 3 tahun 2008 menyebabkan melemahnya industri otomotif yang berakibat pada menurunnya permintaan terhadap karet alam. Hal ini membawa dampak terhadap jatuhnya harga karet alam di pasaran
76 dunia (Sore, 2010). Menghadapi masalah tersebut, ITRC (International Tripartite
Rubber Council) yang merupakan perkumpulan dari tiga negara eksportir karet
alam dunia menetapkan adanya pengurangan volume ekspor karet alam dengan tujuan mempertahankan harga karet alam. Pengurangan itu bukan tanpa sebab, mengingat krisis global menyebabkan turunnya permintaan karet alam dunia hingga 1 juta ton. Kesepakatan pengurangan total ekspor karet alam ketiga negara tersebut pada tahun 2009 mencapai 915 ribu ton yang masing-masing ditetapkan sebanyak 700 ribu ton melalui skema kesepakatan tiga negara (Agree Export
Tonnage Scheme=AETS) dan 215 ribu ton dari peremajaan pohon karet di tiga
negara tersebut. Penurunan yang dilakukan pada triwulan pertama tahun 2009 sendiri sejumlah total 270 ribu ton, dengan pembagian 132 ribu ton untuk Thailand, 116 ribu ton untuk Indonesia, dan 22 ribu ton untuk Malaysia (Hanggokusumo, 2008 dalam AntaraNews, 2008).
77 VII. STRUKTUR PASAR KARET ALAM DI PASAR INTERNASIONAL 7.1. Pangsa Pasar Karet Alam
Dalam rangka mengetahui struktur pasar karet alam yang terbentuk dalam perdagangan karet alam di pasar internasional, penting untuk mengetahui besarnya penguasaan pasar oleh masing-masing negara eksportir. Penguasaan pasar ini menggambarkan seberapa besar pengaruh perdagangan (dalam hal ini ekspor) yang dilakukan suatu negara untuk komoditas tertentu terhadap perdagangan dunia. Hasil perhitungan mengenai besarnya penguasaan pasar komoditas karet alam dunia disajikan pada Lampiran 3.
Komoditas karet alam secara umum dikuasai oleh tiga eksportir utama, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai pangsa pasar yang dikuasai oleh masing-masing negara tersebut, yang mana penguasaan ketiganya memiliki nilai penguasaan terbesar dibandingkan dengan negara lain dalam perdagangan internasional. Pada periode tahun 2001-2008, rata-rata penguasaan pasar oleh Thailand, Indonesia, dan Malaysia masing-masing sebesar 38, 26, dan 14%. Hal ini berarti sekitar 78% pasar karet alam internasional dikuasai oleh ketiga negara tersebut.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan terhadap penguasaan pasar negara eksportir tersebut, maka dapat dilihat trend perkembangan dalam pasar karet alam negara eksportir utama sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 7. Gambar tersebut menunjukkan besaran perubahan penguasaan pasar eksportir utama karet alam dari tahun ke tahun. Nilai yang diperoleh merupakan nilai persentase penguasaan pasar dan pertumbuhan pasar masing-masing negara eksportir.
78 Sumber: International Trade Statistics (diolah), 2010
Gambar 7. Penguasaan Pasar Eksportir Utama Karet Alam
Berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa terjadi penurunan penguasaan pasar oleh Thailand dan Malaysia sejak tahun 2004. Berbeda dengan kedua negara tersebut, Indonesia perlahan-lahan mengalami peningkatan penguasaan pasar. Peningkatan tersebut terjadi karena persentase pertumbuhan ekspor Indonesia lebih besar dibandingkan persentase pertumbuhan dunia, di mana pertumbuhan ekspor karet alam dunia, dalam periode tahun 2001-2008 sebesar 30%, dan pertumbuhan ekspor karet alam Indonesia pada periode yang sama mencapai 35%. Hal ini mengakibatkan terjadinya kenaikan terhadap penguasaan pasar. Penyebab lain adalah pertumbuhan ekspor karet alam negara pesaing, yaitu Thailand dan Malaysia lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertumbuhan Indonesia dan dunia, di mana rata-rata pertumbuhan Thailand dan Malaysia masing-masing sebesar 27,5 dan 27%, sehingga mengakibatkan turunnya persentase penguasaan pasar kedua negara ini terhadap penguasaan pasar secara global.
Pada tahun 2009, terlihat bahwa Indonesia mengalami penurunan penguasaan pasar. Hal ini terjadi sebagai akibat dari menurunnya persentase pertumbuhan ekspor karet alam dunia maupun yang terjadi pada masing-masing negara sebagai akibat yang ditimbulkan oleh krisis global dan kebijakan yang
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 2000 2002 2004 2006 2008 2010 P a n g sa P a sa r Tahun Thailand Indonesia Malaysia