BAB II. SUMATERA TIMUR TAHUN 1890-1942
2.5 Perkembangan Gemeente Medan
Medan sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera merupakan hasil dari perkembangan ekonomi perkebunan yang pesat. Wilayah yang disebut Gemeente Medan pada awalnya adalah perkampungan yang sederhana dan kemudian menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi yang kompleks. Hal ini disebabkan oleh masuknya ekspansi ekonomi perkebunan yang dimulai pada 1865. Namun terdapat hal yang unik dalam perkembangan Gemeente Medan. Pada dasarnya proses pengembangan Gemeente Medan bukanlah sebuah hal yang telah direncanakan oleh pemerintah kolonial Belanda seperti halnya Gemeente Batavia ataupun Gemeente Bandung.54
Gemeente Medan terbentuk karena adanya kepentingan dari pengusaha-pengusaha untuk menjadikan daerah ini sebagai poros ekonomi perkebunan.
Perkembangan Gemeente Medan mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu sangat bergantung pada kapitalisme perkebunan. Gemeente Medan menjadi pusat dari kegiatan industri perkebunan itu sendiri. Hampir semua bangunan perkantoran dibangun di wilayah Gemeente Medan bertujuan untuk menopang industri tersebut. Dalam pengembangan ekonomi kota, terjadi struktur piramida antara tiga kelompok. Kelompok tersebut adalah planter (tuan kebun), entrepreuner (terutama pengusaha Cina) dan Sultan Deli sebagai penguasa wilayah Deli.55
54 Alexander Avan, Parijs Van Sumatra, Medan: Rainmaker Publishing, 2012, hal. 45.
55 Dirk A. Buiskool, “Medan, A Plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942”, dalam Freek Colombijn, dkk., (eds.), Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak, 2005, hal. 286-287.
Seperti telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, awal mula perkembangan wilayah Gemeente Medan adalah ketika J. Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya yaitu Deli Maatschappij dari Labuhan ke daerah Medan Putri. Kemudian dilakukan perluasan ke arah hulu sungai Deli dan sungai Babura sementara pusat kota ditetapkan di areal makam Panglima Perunggit di pinggir sungai Deli. Dalam hal perluasan wilayah kota, Deli Maatschappij berpartisipasi dengan menyerahkan areal konsesi perkebunan Mabar-Deli Tua dalam tahun 1891 seluas 326 bau atau ± 225 ha dan 63 ha areal konsensi perkebunan Polonia dalam tahun 1886, tentunya atas izin dari Sultan Deli.56 Di atas lahan tersebut dilakukan pembangunan kota Medan yang modern sebagai pusat perkebunan di Sumatera Timur. Perubahan wilayah Medan semakin berkembang dengan adanya aktivitas ekonomi perkebunan. Perubahan tersebut dapat dilihat dengan dibangunnya kantor- kantor perusahaan perkebunan seperti Deli Maastchappij, Deli Batavia Maatschappij, Tabak “Arendsburg”
Maatschappij, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Selain itu pemerintah kolonial Belanda juga memindahkan ibukota Keresidenan Sumatera Timur pada 1 Maret 1887 ke Medan dari sebelumnya di Bengkalis. Dengan perkembangan wilayah Medan yang pesat tersebut maka Sultan Deli juga memindahkan pusat kekuasaannya dari Labuhan ke Medan pada 1891.57
56 Tengku Lukman Sinar, op.cit.., hal. 44.
57 Ibid., hal. 100.
Dengan dijadikannya Medan sebagai ibukota Keresidenan Sumatera Timur pada tahun 1887 membuat Medan berubah sebagai pusat kegiatan perekonomian dan pemerintahan di Sumatera Timur. Wilayah Sumatera Timur kemudian dibagi menjadi beberapa afdelingen (wilayah setingkat dengan kabupaten sekarang).
Wilayah Medan disebut dengan hoofdplaats dan masuk dalam Afdeeling Deli en Serdang.58
Setelah Medan dijadikan ibukota Keresidenan Sumatera Timur maka terjadi pembagian wilayah, penduduk, dan hukum antara pemerintahan Gubernemen dengan daerah langsung kesultanan atau swapraja. Di dalam wilayah kekuasaan langsung sultan yang terpisah dari wilayah Gubernemen, dibuat peraturan-peraturan dan ketentuan tentang batas dan hak sultan atas segala isi yang terdapat dalam hukumnya. Di samping itu, diatur pula tentang hak Gubernemen dalam mencampuri urusan kesultanan Deli. Dalam tahun 1887, Residen Sumatera Timur mengeluarkan aturantentang penyerahan tanah untuk perumahan. Implementasi dari peraturan ini terlaksana pada tahun 1889 dengan dikeluarkan model akte atau sertifikat penyerahan tanah yang disebut dengan grant. Dalam perkembangannya kemudian terdapat beberapa jenis akte atau grant yaitu, Grant Sultan, Grant Deli Maatschappij dan Controleursgrant.59
58 M. A. Loderichs, D. A. Buiskool, B. B. Hering (et.al.), op.cit., hal. 24.
59 Gerard Jensen, Grantrechten in Deli, Mededeeling No. 12, Amsterdam: Oostkust van Sumatra-Instituut, 1925, hal. 7 dan 9.
Pembentukan Gemeente Medan serta masih berkuasanya sultan di wilayahnya, memberi gambaran adanya dualisme pemerintahan dan wilayah di Medan khususnya dikarenakan sebagian wilayah Gemeente Medan dengan penduduk gubernemen dan sebagian lagi penduduk sultan yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Kepada penduduk yang berdomisili di wilayah gemeente, pemerintah biasanya menetapkan kewajiban yang agak ringan apabila dibandingkan dengan penduduk yang ada di wilayah kesultanan. Salah satu contoh misalnya dalam kewajiban pembayaran belasting atau pajak, penduduk gemeente hanya terbatas pada pembayaran belasting saja, sedangkan penduduk kesultanan ditambah lagi dengan membayar uang ganti kerja rodi.60
Untuk memudahkan urusan mengenai pembangunan dan pengaturan wilayah Medan, kemudian pada tahun 1886 pemerintah kolonial membentuk suat komisi yang bernama “Negorijraad” atau Commissie tot beheer v/h Gemeente fonds. Badan ini bertugas mengatur dan memperhatikan kepentingan wilayah Medan setempat bersama-sama dengan alat-alat yang ada padanya. Badan ini berfungsi sebagai instansi awal pemerintahan di wilayah Medan namun kekuasaan Residen, Asisten Residen dan Controleur masih besar di wilayah ini sehingga terjadi tumpang tindih kepentingan dan kekuasaan.
60 Usman Pelly, op.cit., hal. 12.
Gemeente Fonds mengumpulkan dana awal sebanyak f 32.000,- yang diperuntukkkan dalam pemeliharaan kebersihan sanitasi, keperluan air minum, perawatan pompa kebakaran dan lain-lain. Pengumpulan dana dari komisi ini dihasilkan di antaranya dari tunjangan Kesultanan Deli, kontribusi secara sukarela dari penduduk, penghasilan dari sewa dan bangunan dan sebagian hasil tanah dalam lingkungan wilayah Medan.61
Di samping badan Gemeente Fonds yang sudah ada, pada tahun 1906 dibentuk pula lembaga lain yakni Afdeelingsraad van Deli, lembaga sejenis dewan kota. Namun, Gemeente Fonds masih tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Selama hampir 20 tahun badan ini merupakan pelopor bagi urusan rumah tangga wilayah Medan yang mempunyai kewenangan tersendiri sebelum terbentuknya Gemeente Medan.62
Gemeente Medan terbentuk sesuai dengan surat keputusan yang tertuang dalam Staatsblad 1909 No. 180 yang didasari pada Desentralisatiewet 1903 (lihat lampiran I). Desentralisatiewet 1903 merupakan undang-undang ketatanegaraan Belanda yang berdasarkan pasal-pasal dari undang-undang tersebut, beberapa daerah ataupun bagian dari daerah daat didesentralisasikan, yaitu diberikan kewenangan sendiri dalam mengatur keuangan yang terpisah dari pemerintah pusat untuk digunakan dalam mengurus kepentingan khusus daerahnya.63
61Nurhamidah,2004,op.cit.,hal.19
62 Tengku Luckman Sinar, op.cit., hal. 56.
63 Staatsblad van Nederladsch-Indie, 1903, No. 329; lihat juga Staatsblad van Nederladsch- Indie, 1909, No. 180.
Setelah Gemeente Medan terbentuk pada 1 April 1909, tidaklah langsung dipimpin oleh walikota melainkan oleh seorang Gementeraad yaitu E. G. Th.
Maier yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Afdeelingsraad van Deli yang juga merangkap sebagai Asisten Residen Deli en Serdang. Kemudian sidang yang dilakukan pertama kali yakni pada 6 April 1909. Pada masa peralihan tersebut, sebelum adanya walikota Gemeente Medan, terdapat tumpang tindih kewenangan dalam mengatur kepentingan dan pemerintahan di Gemeente Medan. Dalam tahun 1918, ketua Gemeenteraad tersebut diserahkan kepada seorang Burgermeester (walikota) Gemeente Medan yang pertama yaitu Baron Daniel Mackay.64 Perkembangan Gemeente Medan didukung dengan dibangunnya fasilitas dan infrastruktur kota seperti, kantor-kantor pemerintah, kantor perusahaan perkebunan, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Fasilitas umum ini berupa jalan raya, stasiun kereta api, pusat pasar, kantor pos, rumah sakit, kereta api, rumah potong hewan, perusahaan air, perusahaan listrik, sekolah, lapangan dan alun-alun, taman kota, dan lain sebagainya.
Dalam perkembangannya yang sangat pesat, Gemeente Medan banyak berkembang dalam berbagai bidang. Dalam hal perkembangan perkampungan, pada awalnya Gemeente Medan terdiri dari 4 kampung yaitu Kesawan, Sei Renggas, Petisah Hulu, dan Petisah Hilir. Seiring berjalannya waktu mulai berkembang kampung dan permukiman lainnya seperti Kampung Aur dan Kampung Madras.65
64 Tengku Luckman Sinar, op.cit., hal. 65.
65 Dirk A. Buiskool, op.cit., hal. 291-294.
Selain itu, terdapat juga permukiman eksklusif bagi orang Eropa dan pedagang-pedagang Cina. Bahkan pada penduduk pribumi juga ada beberapa suku yang tinggal secara eksklusif atau berkelompok seperti kampung suku Mandailing.66 Perkembangan Gemeente Medan didukung dengan bertambah luasnya wilayah kota. Perluasan wilayah kota tersebut terjadi karena adanya hibah tanah yang diberikan oleh Kesultanan Deli kepada pemerintah Gemeente Medan pada tanggal 30 November 1918. Tanah yang dihibahkan tersebut yang berbatasan dengan wilayah Gemeente Medan kecuali tanah di Kota Maksum, dan Kampung Sei Kerah Percut yang merupakan tanah yang dimiliki oleh Kesultanan Deli, tanah yang dikuasai oleh pemerintah kolonial (Gubernemen) dan tanah yang dipakai oleh Deli Spoorweg Maatschappij.67
Pada tahun 1919, wilayah Gemeente Medan adalah 1.583 ha. Dari 1.583 ha.
tanah tersebut 77,4 % atau 1.223 ha. dimiliki oleh Gemeente, 6,3 % atau 101 ha.
dimiliki oleh pemerintah kolonial Belanda (Gubernemen), dan 16,3 % atau 258 ha. masih dimiliki oleh Kesultanan Deli. Dari 77,4 % atau 1.223 ha. tanah yang dimiliki Gemeente Medan, 6,7 % atau 105 ha. dimiliki oleh perusahaan Deli Maatschappij. Sedangkan dari 6,3 % atau 101 ha. tanah yang dimiliki oleh pemerintah kolonial Belanda (Gubernemen), 3,7 % atau 59 ha. dimiliki oleh perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij. Untuk tanah yang dimiliki oleh Kesultanan Deli yaitu 258 ha. semuanya diperuntukkan untuk keperluan dan kepentingan perkampungan penduduk sultan.
66 Tengku Luckman Sinar, loc.cit.
67 Ibid., hal. 50-51.
Gemeente Medan sebenarnya merupakan tanah konsesi dan tanah-tanah yang diberikan Sultan Deli kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dijadikan daerah gubernemen. Dalam penyerahan ini oleh Sultan Deli ditetapkan beberapa pengecualian daerah yang tidak termasuk wilayah Gemeente Medan yaitu: (1) Kampung Kota Maksum dan Sei Kerah Percut, (2) Tidak termasuk tanah-tanah yang telah dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda, (3) Tidak termasuk tanah-tanah yang telah diserahkan pada Deli Maatschappij, (4) Dan tidak mengurangi hak-hak yang telah dipunyai oleh orang secara pribadi.68
68 Usman Pelly, op.cit., hal. 11.
BAB III
LATAR BELAKANG KEBIJAKAN PEMERINTAH KOLONIAL TENTANG TANAH DI GEMEENTE MEDAN 1909-1942
3.1 Perkembangan Pemerintahan Gemeente Medan
Medan terbentuk menjadi sebuah gemeente adalah pada tahun 1909, sesuai dengan surat keputusan yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu J. B. van Heutz. Namun, hingga tahun 1918 masih terdapat sistem kekuasaan yang tumpang tindih dalam pemerintahan di wilayah Gemeente Medan.69 Pada saat itu Medan masih berstatus sebagai daerah administratif Afdeeling Deli en Serdang, otomatis masih berada dalam kekuasaan Asisten Residen. Sistem desentralisasi seperti yang diinginkan bersifat sangat terbatas, tidak penuh daerah otonom yang mempunyai hak mengatur rumah tangga sendiri, tetapi lebih bersifat membentuk pengurusan keuangan yang terpisah dari keuangan pusat.70
Sebelum Medan dijadikan sebagai gemeente, lembaga yang mengatur urusan keperluan kota adalah Afdeelingsraad van Deli yang dibentuk pada 1906. Lembaga tersebut dipimpin oleh E. G. Th. Maier yang merangkap sebagai Asisten Residen Deli Serdang.
69Nurhamidah, “Perkembangan Kota Medan 1909-1951”, dalam e-USU Repository, Medan:
Universitas Sumatera Utara, 2004, hal. 19.
70 Usman Pelly, dkk., Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Kotamadya Medan, Jakarta:
Depdikbud, 1984, hal. 10.
Namun seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa ada lembaga yang mengurusi rumah tangga Medan yakni Gemeente Fonds yang dibentuk pada 1886 hingga berakhir masa tugasnya pada 1 April 1909. Selama 2 tahun yakni dari 1906 hingga 1908 Afdeelingsraad van Deli mempunyai 23 anggota yang terdiri dari orang Eropa, Timur Asing, dan bangsawan Kesultanan Deli.
Anggota Afdeelingraads van Deli tersebut adalah:
1. E. G. Th. Maier (Voorzitter)
20. Tengku Besar van Deli (Tk. Amaluddin) 21. Datuk Hamparan Perak
22. Kpt. Tjong A. Fie
23. Kpt. India Mohd. Ali.71
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa pada tanggal 1 April 1909 terbentuklah Gemeente Medan dan sejak saat itu pula dibubarkan Afdeelingsraad van Deli. Sebagai gantinya dibentuk sebuah lembaga lain yang disebut dengan Cultuurraad untuk luar kota Medan dan Gemeenteraad khusus untuk dalam kota Medan. Setelah terbentuknya Gemeente Medan, Gemeente Fonds juga dibekukan dan sekaligus menyerahkan tugasnya kepada lembaga yang baru dibentuk tersebut.72 Anggota-anggota Gemeenteraad menurut keterangan sebanyak 15 orang dan diambil dari anggota- anggota Afdeelingsraad van Deli, yang terdiri dari 12 orang Eropa, 2 orang pribumi, dan 2 orang Timur Asing.73
Gemeenteraad (dewan kota) bertugas mengatur segala bentuk kebijakan dan urusan dalam kota, karena pada saat itu belum ada walikota. Ketua Gemeenteraad tersebut adalah E. G. Th. Maier, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Afdeelingsraad van Deli dan sedang menjabat Asisten Residen Deli Serdang, sehingga dapat simpulkan pada saat itu sering terjadi tumpang tindih kewenangan dalam mengatur Gemeente Medan.74
71 Nurhamidah, op.cit., hal. 20.
72 Tengku Luckman Sinar, Sejarah Medan Tempo Doeloe, Medan: Lembaga Penelitian Budaya Melayu Medan, 1991, hal. 65.
73L. J. Winckel, Gemeente Medan 1909-1934, Medan: [s.n], 1934, hal. 1.
74 Nurhamidah, op.cit., hal. 20-21.
Setelah melalui proses peralihan yang panjang, pada 1 April 1918 Gemeente Medan mendapat walikotanya yang pertama yakni Baron Daniel Mackay yang juga merangkap sebagai ketua Gemeenteraad (dewan kota). Walikota bersama dewan kota bersama-sama menjalankan tugas sehari-hari Gemeente Medan.
Pemilihan anggota Gemeenteraad dilakukan berdasarkan sistem golongan, yaitu 10 orang Eropa, 5 orang pribumi, dan 2 orang Timur Asing. Kemudian anggota-anggota Gemeenteraad dibagi dalam beberapa seksi atau bidang yakni, peraturan, keuangan, kesehatan, teknik, pajak dan perizinan, perumahan, pertanahan, pendidikan, kepegawaian, dan pemilihan umum anggota.75
Dalam menjalankan pemerintahannya, walikota Gemeente Medan menyusun dan mengorganisasikan perangkat, dinas dan bagian kepegawaian yang mendukung kegiatan pemerintahannya. Setiap tahun terjadi dinamika dan perubahan perangkat sesuai dengan kebutuhan dan keperluan pemerintahan Gemeente Medan. Pada tahun 1918 disusun tiga perangkat atau bagian kepegawaian yakni, administrasi kota, dinas pekerjaan umum, dan dinas kebersihan lingkungan.76
Pada tahun 1919, perangkat atau dinas kepegawaian bertambah menjadi lima bagian yaitu administrasi kota, bagian perpajakan, dinas pekerjaan umum, dinas kebersihan lingkungan, dan bagian pertanahan kota.
75 Tengku Luckman Sinar, loc.cit.
76 Verslag van de Verrichtingen van den Gemeenteraad van Medan over het Jaar 1918, Medan:
TYP. Varekamp & Co., hal. 5-6.
Struktur dan perangkat kepegawaian tersebut berlangsung hingga tahun 1921. Pada tahun 1922, terjadi perubahan struktur tersebut menjadi tiga yakni, administrasi kota, dinas pekerjaan umum, dan dinas kebersihan lingkungan.
Tahun 1923, terjadi perubahan struktur pada dinas kebersihan lingkungan menjadi dinas kesehatan umum. Hal ini berlangsung hingga tahun 1924. Setahun berikutnya yakni pada tahun 1925 terjadi penambahanstruktur dan dinas kepegawaian yakni, administrasi kota, dinas pekerjaan umum, dinas kesehatan umum, dinas pertanahan kota, dinas pengawasan bangunan dan perumahan, dan dinas urusan perumahan kota. Struktur dan dinas kepegawaian tersebut melakukan pekerjaannya hingga tahun 1929.77Dalam segi pemerintahan, Gemeente Medan telah mencapai perkembangan yang pesat. Pencapaian kinerja pemerintahan baik walikota, Gemeenteraad (dewan kota), struktur dan perangkat kepegawaian serta lembaga lainnya telah menghantarkan Gemeente Medan menuju kota yang bertaraf internasional yang modern. Infrastruktur dan fasilitas umum yang lengkap dibuat sedemikian rupa agar dapat melayani penduduk kota. Keindahan dan modernnya Gemeente Medan telah membuat kota ini dijuluki sebagai Parijs van Sumatra atau Paris-nya Sumatera.78 Pemerintahan walikota Baron D. Mackay (21 April 1918 – 15 April 1931) bersama dewan kota dan lembaga pemerintahan lainnya dilanjutkan oleh walikota- walikota Gemeente Medan berikutnya,
77 Verslag Betreffende de Gemeente Medan over het Jaar 1919-1929, Medan: TYP. Varekamp &
Co., 1920-1931.
78 Untuk lebih lengkap dalam penjelasan istilah Parijs van Sumatra lihat Alexander Avan,Parijs Van Sumatra, Medan: Rainmaker Publishing, 2012.
yaitu Mr. J. M. Wessenlink (25 April 1931 – 19 Agustus 1934), Mr. G. Pitlo (19 Agustus 1934 – 27 Agustus 1938), dan Mr. C. E. E. Kuntze (27 Agustus 1938 – 13 Maret 1942). Namun pada tanggal 13 Maret 1942, kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda pada Gemeente Medan haruslah berakhir. Hal ini dikarenakan masuknya pasukan militer Jepang ke Gemeente Medan dan mengambil alih kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Gemeente Medan. Sejak saat itu pemerintahan Gemeente Medan dijalankan dan dikuasai oleh pemerintahan militer Jepang.79
3.2 Pengelolaan Infrastruktur di Gemeente Medan 3.2.1 Pola Permukiman
Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada masa awal pembentukan Gemeente Medan terdiri dari beberapa kampung yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sei Rengas, Kampung Petisah Hulu, Kampung Petisah Hilir. Kemudian berkembang beberapa kampung seperti Kampung Aur dan Kampung Madras atau Keling. Keseluruhan kampung-kampung tersebut berada pada wilayah Gubernemen, sehingga hukum dan peraturan yang berlaku adalah hukum dan peraturan kolonial Belanda. Namun, terdapat juga kampung-kampung yang berada di wilayah Kesultanan Deli, seperti Kampung Sei Mati, Kampung Baru, Kampung Sei Kerah, dan Kota Maksum. Sehingga hukum dan peraturan yang berlaku di kampung-kampung tersebut adalah hukum dan peraturan kesultanan.80
79 Nurhamidah, op.cit., hal. 21.
80 Tengku Luckman Sinar, op.cit., hal. 57-58.
Dalam perkembangan Gemeente Medan selanjutnya, terjadi pembangunan pola dan pembagian permukiman eksklusif bagi penduduk kota berdasarkan etnisitas, sehingga terbentuklah kawasan permukiman Eropa, kawasan permukiman Timur Asing yang terdiri dari kawasan Cina atau pecinan, dan kawasan Kampung India, serta kawasan permukiman penduduk Bumiputera.
Kawasan permukiman orang Eropa terletak di daerah Kesawan. Pemilihan lokasi Kesawan sebagai pusat permukiman orang Eropa tentu sudah direncanakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dikarenakan daerah Kesawan merupakan inti dari Gemeente Medan. Di daerah ini dibangun dan dipenuhi dengan bangunan-bangunan bergaya dan berarsitektur Eropa dengan tata kota yang modern, sehingga daerah ini merupakan sebuah bukti dari keberhasilan pemerintah kolonial Belanda dalam membangun Gemeente Medan.81
Selain itu di Gemeente Medan juga terdapat kawasan permukiman orang Cina atau disebut pecinan. Disebut seperti itu karena kawasan tersebut dihuni kebanyakan penduduk beretnis Cina. Pada awalnya penduduk Cina banyak tinggal di daerah Kesawan. Di daerah tersebut mereka membangun toko-toko dengan segala perlengkapannya. Namun setelah adanya pembagian wilayah permukiman oleh pemerintah kolonial Belanda. Permukiman penduduk Cina dipindahkan ke wilayah sekitaran Kesawan.
81 M.A. Loderichs, D. A. Buiskool, B. B. Hering (et.al.), Medan: Beeld van Een Stand,Purmerend:
Asia Maior, 1997, hal. 18.
Di daerah tersebut banyak terdapat hal yang bernuansa Cina, seperti jalan-jalan di kawasan permukiman Cina tersebut diberi nama-nama Cina yaitu Jalan Hongkong, Jalan Hakka, Jalan Peking, Jalan Amoy, Jalan Shanghai, dan Jalan Swatow. Di sepanjang jalan-jalan tersebut penduduk Cina membangun toko-toko mereka.82
Selain kawasan permukiman orang Eropa dan Cina, di Gemeente Medan juga terdapat kawasan permukiman penduduk India. Kawasan yang menjadi permukiman penduduk India tersebut dikenal dengan Kampung Madras atau Kampung Keling. Kampung ini terletak di pinggiran Sungai Babura. Penduduk India di Kampung Madras mayoritas beragama Hindu, dan pekerjaan mereka adalah kebanyakan sebagai pedagang. Namun ada juga yang bekerja sebagai rentenir atau membungakan uang, dan mereka disebut dengan orang Chetti.
Kawasan penduduk India di Kampung Madras tersebut diwarnai dengan nuansa India, seperti terlihat dari nama jalan di kawasan ini yaitu, Jalan Bombay dan Jalan Calcutta.83
Tidak hanya kawasan permukiman eksklusif bagi orang Eropa dan Timur Asing, di Gemeente Medan juga terdapat permukiman bagi penduduk Bumiputera baik penduduk setempat maupun penduduk pendatang.
82 Dirk A. Buiskool, “Medan, A Plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942”, dalam Freek Colombijn, dkk., (eds.), Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak, 2005, hal. 291-292.
83 Ibid., hal. 293-294.
Kawasan permukiman tersebut terdapat di wilayah Kesultanan Deli.
Kawasan permukiman tersebut seperti Kota Maksum, yang ditempati oleh keluarga Kesultanan Deli dan penduduk Melayu. Selain itu terdapat juga penduduk pendatang yang mengambil bagian di kawasan tersebut seperti etnis Minangkabau dan Aceh. Lain halnya dengan penduduk pendatang lainnya seperti etnis Mandailing, mereka lebih eksklusif dengan mendirikan permukiman sendiri di kawasan Gelugur, Kampung Baru dan Sei Mati.84
Adanya pola permukiman penduduk yang eksklusif di Gemeente Medan telah menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial di masyarakat. Pembagian pola permukiman penduduk yang dilakukan oleh pemerintahan Gemeente Medan adalah untuk mempermudah penerapan regulasi dan peraturan serta menunjukkan diskriminasi antar kelompok dan etnis. Orang Eropa menempati puncak tertinggi dalam lapisan sosial masyarakat di Gemeente Medan, selanjutnya adalah kelompok bangsawan dan keluarga Kesultanan Deli sebagai golongan menengah ke atas. Kemudian kelompok pedagang Cina dan pegawai pemerintah bumiputera menempati golongan menengah rendah dan terakhir para buruh kasar kota dan kuli bumiputera menempati strata yang paling rendah.85
84Tengku Luckman Sinar, op.cit., hal. 65
85 Suprayitno, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Dari Federalisme ke Unitarisme: Studi Tentang Negara Sumatera Timur 1947-1950, Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 2001, hal.32
3.2.2 Pengelolaan Fasilitas Umum
Perkembangan sebuah kota tidak bisa dilepaskan dari pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum. Infrastruktur dan fasilitas umum tersebut dibangun dan ditata untuk melayani masyarakat dan penduduk di dalam kota tersebut. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebelum diresmikan menjadi gemeente pada tahun 1909, Medan telah berkembang sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi di wilayah Sumatera Timur. Pada masa itu, Medan telah memiliki kelengkapan infrastruktur dan fasilitas umum yang memadai. Berbagai infrastruktur tersebut di antaranya, jalan raya, pusat pasar, jembatan, perusahaan listrik, perusahaan penyediaan air minum, rumah sakit, hotel, laboratorium penelitian penyakit tropis, bank, lapangan atau alun-alun, gedung pemerintahan, serta perusahaan transportasi kereta api.86
Pusat kawasan Gemeente Medan adalah Esplanade. Sebuah lapangan yang berbentuk persegi dan dikelilingi oleh jalan raya. Di sekitarnya berdiri Medan
Pusat kawasan Gemeente Medan adalah Esplanade. Sebuah lapangan yang berbentuk persegi dan dikelilingi oleh jalan raya. Di sekitarnya berdiri Medan