GRANT SULTAN DI KERAJAAN DELI 1890-1942
T E S I S
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister of Art Dalam Program Studi Ilmu Sejarah Pada Program Pasca Sarjana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Disusun oleh:
MUHAMMAD NUR NIM. 137050001
PROGRAM STUDI MAGISTER (S2) ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019
ii
RIWAYAT HIDUP
NAMA : MUHAMMAD NUR
GELAR AKADEMIK : Sarjana Sastra
ALAMAT RUMAH : Jl. Pantailabu Desa Sidodadi Ramunia Dusun Kauman No.77, Kecamatan Beringin INSTANSI : Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Sejarah FIB USU ALAMAT INSTANSI : Jalan Universitas No. 19 Kampus USU Medan,
Prodi. Magister Sejarah
TELEPON : -
HANDPHONE : 0812 6 469 469
EMAIL : [email protected]
WEBSITE : -
PENDIDIKAN TERAKHIR : Strata 1 (S-1)
HASIL KARYA : -
iii
iv
v
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Hidup yang baik adalah hidup yang diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu pengetahuan.”
-Bertrand Russell-
Dipersembahkan untuk:
Seluruh Keluarga
vii ABSTRAK
Penelitian ini diberi judul “Grant Sutan Di kerajaan Deli 1890-1942”. Dalam pembahasannya terdapat dua poin utama dalam fokus permasalahannya yakni menjelaskan latar belakang kebijakan tersebut dan implementasinya di lapangan.
Sebelumnya untuk melihat perubahan yang terjadi dan faktor-faktor pendukung dijelaskan pula gambaran umum Gemeente Medan. Dalam penelitian tersebut dapat diketahui bahwa faktor yang melatar belakangi adanya kebijakan Sutan kolonial tentang hak tanah pemakaman di Gemeente Medan adalah perkembangan pemerintahan Gemeente Medan, pengelolaan infrastruktur di Gemeente Medan, dan pengaturan dan pencegahan konflik antar etnis. Dalam bagian yang menjadi inti permasalahan penelitian ini dijelaskan mengenai implementasi kebijakan pemerintah kolonial tentang tanah Grant di Gemeente Medan tahun 1890-1942. Pada bagian tersebut dijelaskan mengenai peraturan dalam pelaksanaan kebijakan, badan pengelola pembagian letak tanah Grant, serta kendala-kendala yang terjadi dalam penerapan kebijakan pemerintah tentang pembagian Grant tersebut. Pembentukan Gemeente Medan berdasarkan surat keputusan yang tertuang dalam Staatsblad 1909 No. 180, salah satu isinya adalah masalah tentang pengaturan tanah. Pengaturan diatur berdasarkan pengelompokan yang dilakukan yakni berdasarkan kelompok kelompok yang ada. Kebijakan peraturan yang diberlakukan memiliki tujuan praktis bagi pemerintah kota yakni menghasilkan uang pajak dan pendapatan untuk kas keuangan Gemeente Medan. Namun penngaturan tanah pemakaman juga mempunyai tujuan dalam penataan tata kota dan lingkungan. Selain itu banyak peraturan dan kebijakan ditujukan kepada kelompok orang Eropa yang menurut pemerintah mempunyai sumbangsih yang besar untuk pembangunan Gemeente Medan. Secara umum peraturan tentang pembagian tanah Grant di Gemeente Medan di bagi menjadi dua yakni tanah untuk bumiutera dan orang orang Eroah yang dikelola oleh pemerintah Gemeente dan kesultanan. Pengelolaan tersebut terkadang berimbas pada adanya tumpeng tindih kebijakan antara kedua pemerintahan tersebut. Peraturan pemerintah Gemeente tentang tersebut berlaku terhadap seluruh penduduk Gubernemen walaupun bertempat tinggal di wilayah kesultanan. Sedangkan kesultanan mempunyai peraturan tersendiri dalam mengatur tanah pemakaman yang di bawah yuridiksi mereka, sehingga pemerintah Gemeente tidak mempunyai kewenangan dalam menngatur yang terletak di daerah kesultanan.
Kata Kunci: Grant Sultan, Hak Kepemilikan Tanah, Belanda, Kesultanan Melayu, Sumatera Timur
viii ABSTRACT
This research is entitled “Grant Sutan Di kerajaan Deli 1890-1942”. In the discussion, there are two main points in this problem, namely explaining the background of the policy and its implementation in the field. Previously, to see the changes that have occurred and the supporting factors that support the general picture of Gemeente Medan. From this investigation, it can be seen that the factors behind the existence of the colonial Sutan policy regarding burial land rights in Gemeente Medan were the development of the Gemeente Medan government, the management of infrastructure in Gemeente Medan, and the regulation and prevention of inter-ethnic conflicts. In the part that is the core of this research problem regarding the implementation of the colonial government policy regarding the Grant land in Gemeente Medan in 1890- 1942. In this section the regulations regarding statutory regulations, the management body for the distribution of land for grants, and government regulations that apply to government policies regarding the distribution of grants. The formation of Gemeente Medan was based on a decree contained in Staatsblad 1909 No. 180, one of the contents is a matter of land arrangement. Arrangements are arranged based on grouping carried out based on existing groups. The policy in effect has a practical objective for the city government, namely to generate tax money and income for the financial treasury of Gemeente Medan. However, burial ground arrangements also have a purpose in urban and environmental planning. Apart from that, laws and regulations and policies for European groups, according to the government, have contributed greatly to the development of Gemeente Medan. In general, the regulations regarding the division of Grant's land in Gemeente Medan were divided into two, namely the land for the Earthutera and the Eroah people which was managed by the Gemeente government and the Sultanate. This management sometimes results in overlapping policies between the two governments. Gemeente government regulations regarding the agreement for all residents of the Gubernemen even though they live in the sultanate. Meanwhile, the sultanate had the authority to regulate burial land assistance under their jurisdiction, so that the Gemeente government did not have the authority to regulate the area of the sultanate.
Keywords: Grant Sultan, Land Ownership Rights, Netherlands, Malay Sultanate, East Sumatera
ix
x
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbli’alamin. Puji syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya ke jalan yang benar. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan tesis ini walaupun meleset dari waktu yang seharusnya.
Tantangan, beban dan kesulitan dalam proses penelitian sejak akhir tahun 2013 hingga penulisan tesis ini diselesaikan pada tahun 2019, secara perlahan telah terlewati setelah menguras waktu dan energi serta biaya yang tidak terhitung. Bagi diri penulis, tesis ini merupakan pencapaian terbaik dalam produksi karya ilmiah dalam bidang Ilmu Sejarah. Tantangan terberatnya yaitu karena unit peristiwa sejarah yang diteliti.
Selain itu, data-data mengenai Grant Sultan dalam dokumen lama sangatlah minim.
Oleh karena itu, proses penulisan sejarah tetap diupayakan maksimal dengan penggunaan sumber-sumber sekunder yang sezaman serta ditambah dengan wawancara. Namun, berkat keyakinan dan kesabaran, tugas yang sebelumnya begitu asing menjadi lebih ringan karena dilalui dengan semangat petualangan dan kecintaan terhadap sejarah. Proses penulisan pada keilmuan tersebut tidak mudah, sebab butuh proses. Jika telah menjalaninya memang tidak mudah dilalui, karena harus mengejar ketertinggalan dan segala macam proses adaptasi keilmuan. Namun segala pencapaiannya sangat bermanfaat bagi peningkatan kapasitas diri penulis.
Topik dan judul tesis ini dipilih berdasarkan kerisauan terhadap persoalan tanah di Sumatera Utara yang semakin berkecamuk. Pada kesempatan ini, penulis sebagai putra daerah terpanggil untuk memberi sumbangan kecil ini kepada tanah air. Di dalam karya ilmiah ini pula terselip harapan semoga bisa bermanfaat mengisi kekurangan ilmu historiografi tentang Grant Sultan.
Penulis juga telah berusaha dengan segala segenap kemampuan yaitu untuk menyajikan yang terbaik dari tesis ini, namun penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari isi maupun penyajiannya. Untuk itu penulis sangat
xi
mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dan kesempurnaan tesis ini di masa yang akan datang, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya, dan dapat menjadi bahan masukan bagi yang membutuhkannya.
Medan, 23 Desember 2019
Penulis,
Muhammad Nur NIM.137050001
xii
UCAPAN TERIMA KASIH Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarrakatuh.
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan karunia kesehatan, kesempatan, kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan tenaga, pikiran, serta bimbingan yang telah diberikan dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya penulis mengucapkan terimakasih kepada banyak pihak yang memiliki andil selama proses penulisan tesis ini, yaitu kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Mauly Purba, M.A., Ph.D., selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Suprayitno, M.Hum., selaku ketua Program Studi Magister (S2) Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara dan juga selaku tim pembimbing dan penguji atas dukungan dan juga bimbingannya selama masa belajar dan membimbing penulisan tesis ini. Banyak hal yang penulis serap dari beliau mengenai cara menulis sejarah yang benar, membiasakan berpikir historis, sistematis, memahami sejarah yang metodologis, pendekatan keilmuan, mencermati tata bahasa, dan redaksional tulisan.
4. Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si., selaku sekretaris Program Studi Magister (S2) Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara dan juga selaku penguji.
5. Bapak Dr. Edy Ikhsan, M.A selaku anggota Tim Pembimbing dan Penguji atas dukungan, motivasi dan kesabaran kepada penulis yang telah memberikan akses literatur kepustakaan dari Belanda.
6. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku anggota Tim Pembimbing.
7. Bapak Warjio, Ph.D., selaku anggota Tim Penguji.
xiii
8. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Studi Magister (S2) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan.
9. Jajaran Staf di Fakultas Ilmu Budaya maupun Program Studi Magister (S2) Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan informasi dan urusan administrasi kepada penulis, terkhusus kepada Drs. Zulham, Dra.
Khasna, Ibu Tapi Lubis, Mahaga Perangin-angin.
10. Staf Lembaga Perpustakaan Tengku Lukman Sinar.
11. Tengku Mira Rozana Sinar, M.A., atas kebaikan dan kemurahan hati yang telah memberi akses luas kepada penulis untuk mengeksplor perpustakaan Tengku Lukman Sinar secara pribadi maupun secara umum.
12. Ibunda tersayang Saanah boru Situmorang yang selalu memberikan semangat dan doa’-doa’ terbaik untuk kami ank-anaknya, kepada Ayahanda Alm.
Bachtiar Nainggolan yang telah menjadi figure seorang bapak yang baik bagi penulis, semoga tenang di sisi Allah SWT, kemudian kepada adik-adik Oktiva Sahriani Nainggolan, S.Tr., Keb., dan Olgian Arlianto Nainggolan, S.H., dan keponakan tersayang Nurul Fatiha Syafia Harahap atas segala dukungan dan semangat dalam penyelesaian tesis ini.
13. Istri tersayang Candidate Doctor Mayasari yang tiada henti memberikan segala dukungan, perhatian, kesabaran, dan doa’-doa’ dalam upaya menyelesaikan tesis ini dari awal hingga akhir, dan untuk anak tersayang Malika Nur Nainggolan yang telah menemani hari-hari bahagia kami, semoga dengan selesainya tesis ini menjadi motivasi di masa depan untuk dirinya kelak.
14. Mertua saya Pak Warijo beserta seluruh keluarga besar di Dusun Kauman Sidodadi Ramunia, yang telah memberikan semangat dan doa’-doa’ untuk menyelesaikan tesis ini dengan baik.
15. Keluarga besar Alm. Ir. Sehat Keloko yang telah memberikan dukungan secara moril dan materil kepada penulis.
xiv
16. Keluarga besar Situmorang dan Nainggolan yang berada di Medan, Batam, dan Kalimantan Selatan atas semangat dan dukungan kepada penulis.
17. Keluarga besar Kelompok Penggemar Kegiatan di Alam Bebas SANGKALA atas segala motivasi dan doa’ terbaik kepada penulis.
18. Managemen TRAS SUMATERA atas segala bentuk dukungan yang diberikan kepada penulis.
19. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister (S2) Ilmu Sejarah yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam penyelesaian penulisan tesis ini.
20. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penulisan tesis ini.
Akhir kata hanya kepada Allah SWT penulis memohon dan berserah diri atas segala dosa dan kesalahan, agar penulis menjadi orang yang sukses dan bertaqwa.
Amin yarabbal alamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Medan, 23 Desember 2019
Penulis,
Muhammad Nur NIM.137050001
xv DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL .. ... i
RIWAYAT HIDUP ... ii
JUDUL TESIS ... iii
PERSETUJUAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... ix
KATA PENGANTAR ... x
UCAPAN TERIMA KASIH ... xii
DAFTAR ISI ... xv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Fokus Penelitian ... 6
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
1.6 Kajian Sebelumnya ... 8
1.7 Metodologi Penelitian ... 12
1.8 Sistematika Penulisan ... 13
BAB II. SUMATERA TIMUR TAHUN 1890-1942 ... 15
2.1 Kondisi Geografis ... 15
2.2 Kondisi Demografis ... 20
2.3 Kondisi Sosial Ekonomi Tahun 1870-1930 ... 23
2.4 Gambaran Umum GEMEENTE Medan Kondisi Geografis dan Demografis ... 29
2.5 Perkembangan Gemeente Medan ... 35
xvi
BAB III. LATAR BELAKANG KEBIJAKAN PEMERINTAH KOLONIAL
TENTANG TANAH DI GEMEENTE MEDAN 1909-1942 ... 43
3.1 Perkembangan Pemerintah Gemeente Medan ... 43
3.2 Pengelolaan Infrastruktur di Gemeente Medan ... 48
3.2.1 Pola Permukiman ... 48
3.2.2 Pengelolaan Fasilitas Umum ... 52
3.3 Pengaturan dan Pencegahan Konflik Antar Etnis ... 54
BAB IV. GRANT SULTAN ... 58
4.1 Grant Sultan dan Grant Datuk ... 62
4.2 Grant Controleur ... 63
4.3 Grant Deli Maatschappij ... 64
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ... 65
5.1 Simpulan ... 65
5.2 Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini masalah tentang pertanahan masih menjadi topik dan isu yang hangat serta menjadi kajian dan perdebatan serta sengketa yang berlarut-larut antar lembaga, baik pengusaha maupun perorangan. Kajian tentang pertanahan banyak dikaji dari sudut pandang hukum karena memang merupakan bagian dari hukum, namun dalam kajian sejarah tidak banyak membahas tentang bagaimana pertanahan itu sebenarnya. Memang ada beberapa bagian kajian sejarah yang membahas tentang aspek hukum, sosial dan lain sebagainya tetapi hanya disinggung sepintas lalu dan tidak mengupas secara mendalam. Padahal jika dikupas dari sisi sejarah maka akan menjadi suatu masukan dan menjadi rujukan baru dan diharapkan menjadi solusi bagi persoalaan tanah yang ada.
Pada awalnya ketika penduduk Sumatera Timur1 masih sedikit dan keperluan akan tanah juga tidak banyak tidak ada masalah dengan batas kepemilikan tanah.
Seiring dengan di bukanya perkebunan dan pemberian konsesi maka dengan otomatis peruntukan akan tanah mulai mengalami perubahan. Persinggungan antar kepentingan kepemilkian tanah antara para pengusaha untuk perkebunaan dan para penduduk lambat laun mulai menjadi persoalan baru. Kepentingan para investor di Sumatera Timur yang bermotifkan keuntungan membawa perubahan besar juga
1 Keresidenan Sumatera timur terdiri dari 5 afdeling, yaitu : Langkat, Deli, dan Serdang, Asahan,Simalungun dan tanah Karo dan Bengkalis Deli Gids 1938
pada pola sisitem pertanahan yang ada. Kedatangan para Investor dalam hal ini orang-orang Belanda ke Sumatera Timur adalah akibat dari Traktat Siak2 Perubahan yang ada tersebut membuat Sultan mengeluarkan surat peruntukan yang berdasarkan pemakaian atas tanah yang ada. Di keluarkannnya surat oleh Sultan tentang peruntukan tanah di pengaruhi pembagian wilayah antara pengusaha perkebunan dan masyarakat yang ada juga hal itu atas desakan para pengusaha perkebunan untuk mendaptkan keabsahan tanah yang ada di wilayah tersebut juga sebagai tertib administrasi pertanahan di wilayah Sumatera Timur.
Kecemburuan sosial yang timbul dikalangan masyarakat yang tanahnya di serobot oleh para pemilik perkebunan semangkin membuat jurang pemisah yang dalam antar rakyat pemilik tanah dan pengusaha perkebunan. Mereka merasa merasa berhak atas tanah yang ada dan dengan datangnya pengusaha perkebunan lahan mereka semakin menyempit sementara pengusa perkebunan mendapatkan lahan secara cuma- cuma dan dalam jumlah yang sangat luas dengan lahan konsesinya. Akibat dari meluasnya perkebunan pada tahun 1870-an dan awal tahun 1880-an hal yang ditakuti adalah pembakaran lumbung sebagai akibat dari ketidaksenangan penduduk dari meluasnya perkebunan.3 Kepincangan kepemilikan
2 Tentang isi Traktat siak baca W.H.M Schade, Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust, Dell I Mededeelingen No 2. Amsterdam: Oostkust van sumatra-Instituut,1918, hlm.73-74
3 Jan Bremen, Menjinakkan Sang Kuli : Politik Kolonial pada Awal Abad ke 20. (Jakarta:PT.Pustaka Utama Grafiti dan KITLV.1992)
tanah ini menjadikan kesemerawutan masalah pertanahan yang ada. Sudah ada pembagian yang jelas antar rakyat Gubernemen4 dan daerah Swapraja5 yang ada.
Pengaruh para pengusaha perkebunan tampaknya mempengaruhi Sultan untuk memberikan hak konsesi kepada mereka untuk lebih melapangkan jalan untuk mendapatkan tanah yang lebih luas. Hal ini terbukti dengan Sultan Deli yang memeberikan tanah konsesi dengan cuma – cuma bagi mereka yang akan menanamkan modalnya di Sumatera Timur.
Mengenai hak dan wewenang sesorang membeli tanah dan sewa- menyewa dengan suatu perjanjian yang tinggal di suatu daerah dengan maksud untuk tidak menimbulkan konflik atas tanah, maka pihak Gubernemen akhirnya mengeluarkan apa yang di sebut dengan Grant6. Tumpang tindih antara tanah jaluran dan pemukiman mulai menimbulkan konflik-konflik yang ada di masyarakat. Suasana kacau tentang pembagian tanah jaluran yang menjadi tempat tinggal juga menjadi tanah garapan bagi mereka.
4 Gubernemen adalah wilayah pemerintahan Hindia Belanda, segala perangkat hukum dan undang- undang yang ada dia atur di buat dan di jalankan untuk orang – orang di luar prbumi dan hanya berlaku bagi orang-orang Belanda dan masayarakat Eropa lainnya.
5 Daerah Swapraja disebut Inlandshe Zelfbestur gebeid, yaitu daerah- daerah yang menyelenggarakan pemerintahan sendiri serta menagtur rumahtangganya sendiri, karena pemerintah Hindia Belanda tidak memerintah secara langsung atas wilayah ini. Dalam kondisi seperti ini sikap pemerintah Hindia Belanda hanya member pengakuan bukan pengaturan. Dengan pengakuan ini Belanda berharap dapat mengadakan pengawasan dan pembatasan. Artinya, meski secara de facto daerah-daerah swapraja ini diperintah oleh raja pribumi dengan berbagai gelar tetapi secara de jure mereka di bawah kekuasaan pemerintah kerajaan Belanda. Sebagai konsekuensinya para raja mengakui :
a. Kedaulatan pemerintah kerajaan Belanda di daerah mereka sendiri dan bersumpah setia kepada Ratu Belanda dan Gubernur Jenderal
b. Mematuhi semua aturan dan perintah Gubernemen
c. Tak akan menagadakan perjanjian politik dengan Negara asing.
6 Nama Grant di ambil dari Malaka lihat Gerrad Jansen.Grantrechten in Deli ( Uitgave van sumatera- institut,1925)
Perselisihan tanah yang timbul membuat pihak kesultanan mengeluarkan apa yang disebut dengan Grant sultan7. Pemberian Grant oleh Sultan kepada seseorang di kemudian hari banyak menimbulkan permasalahan dan sengketa dikarenakan timbulnya grant sultan yang palsu di atas lahan yang sama. Terdapat pula pemeberian ganda oleh Sultan untuk orang yang sama. Banyaknaya perbedaan model yang menyangkut isi juga persyaratan perolehan grant maka banyak orang yang memalsukan untuk kepentingan- kepentingan yang lebih besar.
Permasalahan yang timbul dari latar belakang sejarah yang timbul akibat dari kesimpang siuran Grant Sultan terjadi pada saat ini seperti pemalsu sertifikat tanah kerabat Sultan Deli seluas 13.356 meter persegi di kawasan Padang Bulan Selayang I, Medan selayang Kota Medan yang dilepas oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polisi daerah Sumatera Utara. Tersangka bernama Gunawan alias Aguan8. Kasus lain yang timbul seperti pemangku adat kerajaan padang tebing tingi meminta badan Pertanahan nasional ( BPN ) kota Tebing Tinggi untuk membatalkan sertifikat BPN konversi dari Grant Sultan No 4 tahun 1910. Permintaan itu didsarkan karena lahan dengan alas hak grant sultan tersebut adalah milik kerajaan Padang dan bukan
7 Grant Sultan di berikan kepada kaula Swapraja. Pada mulanya orang tidak memerlukan surat, sebab tanah banyak dan luas. Setelah datangnya perusahaan-perusahaan perkebunan , yang memerlukan tanah yang luas dan kepastian tentang batas- batas tanah, yang diserahkan kepada mereka maka timbul sesuatu faktor baru dalam penguasaan tanah yaitu orangtidak lagi dapat bebas bertualang, berpindah-pindah secara bebas menggarap tanah yang di sukainya. Dengan demikian, kebiasaan berpindah-pindah mulai berkurang dan diambil tempatnya oleh keinginan menetap diatas sebidang tanah tertentu serentak dengan itu timbul pula keinginan supaya hak atas tanah itu mendapat penetapan atas pengakuan dari penguasa, terlebih-lebih lagi berhubungan dengan bertambahnya peristiwa-peristiwa jual beli tanah disebabkan kedatangan orang-orang dari daerah lain yang memerlukan pertapakan rumah. Baca Mahadi Sedikit sejarah perkembangan hak-hak suku melayu atas tanah di Sumatera Timur ( tahun 1800-1975) Badan Pembinaan Hukum Nasional ( Bandung: Alumni, 1976) hlm.256
8 Tempo.co.Medan Rabu 01 Oktober 2014
milik perorangan/pribadi9. Kasus lain yang timbul adalah antara ketua harian Yayasan Pembangunan Pertanian Angkatan Pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia ( YP2AP3) M.Amiruddin SE selaku kuasa dan ahli waris CBD Poonia Medan. Dalam Grant sultan No 12 yang dia andalkan Alm Azidin tersebut tertera surat penunjukkan hak kebun oleh sultan Amaluddin sani pada ahun 1900 akan tetapi yang menandatangani grant tersebut Sultan Mahmud Al-Rasyid,disini tampak tak ada kesesuaian antara pemberi grant dengan yang menandatangani10
Dari uraian diatas jelaslah bahwa persoalan pertanahan yang ditimbulkan di wilayah Sumatera Timur akibat dari masuknya para pemodal untuk mendapatkan dan memperluas lahan kebun mereka demi kepentingan perekonomian mereka pribadi saja. Perluasan lahan lahan yang ada pada akhirnya menimbulkan perpecahan dan konflik yang berkepanjangan hingga saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka beberapa permasalahan pokok dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Faktor apa saja yang melatar belakangi Sultan mengeluarkan sebuah Grant di wilayahnnya dan kepada siapa saja serta apa persyaratan untuk memperoleh Grant?
9 Medan bisnis Kamis 05 Maret 2015
10 Medan DNA berita .com Jumat 07 Agustus 2015
2. Berapa luas wilayah masing-masing Grant yang diberikan dan bagaimana ciri- ciri Grant Sultan yang asli?
3. Mengapa ada Grant Sultan dan Grant Datuk?
1.3 Fokus Penelitian
Sasaran studi penelitian tesis ini adalah untuk melihat latar belakang timbulnya Grant dan tujuan di buatnya Grant tersebut di Sumatera Timur. Apakah ada peran pemerintahan Hindia Belanda dalam kepentingan sebuah Grant yang untuk memenuhi ambisi poltiknya serta memenuhi pundi pundi ekonominya. Selain daripada itu sasaran penelitian ini juga untuk melihat bagaimana masing masing Sultan mengeluarkan sebuah grant untuk kepentingan yang berpihak kepada pribumi atau berpihak kepada Belanda.
Seperti di ketahui bahwasannya dengan di bukanya perkebunan di Sumatera Timur telah terjadi perubahan yang pesat terhadap pertumbuhan sebuah daerah gemente dan juga mempengaruhi perkembangan masyarakatnya.
Ruang lingkup penelitian ini akan di batasi dari tahun 1890-1942. Angka tahun 1890 diambil berdasarkan pertimbangan bahwa dimasa ini Sultan Makmoen Al Rasyid mulai berkuasa dan pertama sekali mengeluarkan Grant yang di gunakan untuk pengaturan sistem tata kelola pertanahan di wilayah ini. Di masa pemerintahannya semakin berkembang pemakaian dan perluasan tanah bukan saja untuk perkebunan melainkan juga untuk usaha, pembuatan pertapakan rumah,berladang dan bercocok tanam dan pemakaian lainnya. Pengambilan angka
tahun 1945 didasari masa periode berkuasanya kesultanan Amaludin Perkasa Alamsyah yang berkuasa pada 1925-1945 dan di periode inilah Grant Sultan sudah tidak di keluarkan lagi.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan pokok seperti yang telah disebutkan dengan berusaha mengungkapkan kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Motif- motif apa yang mendorong para Sultan mengeluarkan sebuah Grant.
2. Adakah peran para investor perkebunan mempengaruhi Sultan dalam mengeluarkan sebuah Grant.
3. Bagaimana reaksi para para datuk yang tanahnya di tetapkan oleh sultan menjadi sebuah Grant.
4. Bagaimana pembagian Grant di wilayah kedaktukan dan kesultanan.
1.5 Manfaat Penelitian
Dalam historiografi Indonesia masih sangat jarang sejarawan tertarik untuk menulis tentang sejarah Grant. Kemungkian hal ini didasari oleh kesulitan memperoleh data atau kesimpang siuran masalah Grant yang ada juga bahasa sumber yang njlimet. Untuk itu penelitian sejarah Grant di wilyah kesultanan Deli ini diharapkan dapat memberi manfaat:
1. Mengetahui dengan jelas berapa besar luas wilayah Grant di Sumatera Timur
2. Dapat menegetahui keaslian sebuah Grant
3. Memperkaya khasanah sejarah di Sumatera Utara dan member kontribusi bagi sejarah Nasional.
1.6 Kajian Sebelumnya
Sebagai bahan kajian penelitian yuang telah dilakukan maka peneliti mengkaji beberapa rujukan Desertasi,tesis, skripsi dan buku yang telah membahas tentang Grant antara lain:
Sebuah Disertasi oleh Edy Ikhsan yang berjudul Antan Patah Lesungpun Hilang : Pergeseran Hak Tanah Komunal dan Pluralisme Hukum dalam Perspektif Sosio- Legal ( Studi pada Etnis Melayu Deli di Sumatera Utara ). Disertasi ini memuat permasalahan konversi tanah atas kontrak konsesi yang sengaja di setting untuk menjadi erfpacht. Tekanan dan cara pandang kolonial yang melihat tanah sebagai bahan untuk pemenuhan pundi-pundi perekonomian mereka saja tanpa mengindahkan tentang aturan adat yang telah lama hidup di kawasan itu. Dalam disertasi jelas konflik yang timbul adalah permasalahan tanah yang menjadi permasalahan dan kekuatan para sultan yang telah dilucuti semakin tidak berdaya dengana adanya perjanjian yang telah mengikat.
Dalam disertasi ini memang tidak membahas secara sepesifik mengenai masalah grant yang ada di sumatera timur namun lebih banyak mengupas tentang tanah konsesi dan masalah adat dan masyarakat adat yang ada. Hal ini di rasa penting bagi peneliti untuk memasukkan disertasi ini sebagai bagian pijakan
sumber untuk mengawali permasalahan tanah yang memang awalnya di mulai dari konsesi dahulu yang akhirnya nanti diperbaiki dengan di terbitkannya sebuah grant.
Kajian selanjutnya adalah tentang sebuah tesis oleh Apriliyani yang berjudul Pelaksanaan Pendaftaran Konversi Hak Atas Tanah Adat : Studi Mengenai Hak Atas Tanah Grant Sultan di Kota Medan. Dalam tesisi ini di teliti mengenai tentang konversi hak atas tanah yang masih berstatus grant sultan. Dalam tesis ini dikemukakan ada terdapat 3 (tiga ) jenis konversi atas tanah yaitu:
1. Konversi hak atas tanah, berasal dari tanah hak Barat.
2. Konversi hak atas tanah, berasal dari Hak Indonesia.
3. Konversi hak atas tanah, berasal dari tanah bekas Swapraja.
Selain tanah-tanah konversi yang telah disebutkan diatas di dalam tesis ini juga membahas tentang tanah yang tunduk terhadap hukum adat seperti tanah hak milik,hak yasan,adarbeni,hak atas druwe desa ,pesini. Istilah dan lembaga yang telah disebutkan sebelumnya adalah istilah yang terdapat di pulau Jawa yang merupakan istilah lokal. Namun si peneliti tesis ini tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan hak tanah yang ada di pulau Jawa tersebut. Jika ingin membandingkan dengan yang ada di sumatera Timur harus juga di dapat istilah lokal yang ada di sini. Mungkin hanya sekedar memberikan gambaran tentang hak atas tanah saja. Terungkap juga dalam tesis ini bebrepa bentuk hak-hak atas tanah yang lain yang di kenal dengan nama seperti : ganggam bauntik, anggaduh, bengkok, lingguh piutas dan lain-lain. Terlihat dalam tesis ini begitu banyak hak atas tanah yang tunduk kepada hukum adat dan ini bisa di jadikan penelitian lanjutan mengenai
sistem pertanahan yang ada di Indonesia. Dalam penelitian tesis ini grant sultan hanya di gunakan sebagai dasar untuk penguatan atas tanah saja dan tidak di bahas secara mendalam tentang sejarah dan permasalahan grant secara mendalam.
Sedangkan pada kajian selanjutnya adalah penelitian skripsi yang di lakukan oleh Sheila Wiyasih Elang dengan judul Peranan Grant Sultan Sebagai Alat Bukti Kepemilikan Tanah Dikaitkan Dengan konversi Hak atas Atas Tanah. Pada penelitian skripsi ini membahas konversi hak atas tanah di Medan. Konversihak atas tanah yang di paparkan dalam skripdi ini adalah konversi hak atas tanah yang sebelumnya masih menggunakan Grant sultan. Di dalam skripsi ini disebutkan bahwa sulit sekali untuk mengkonversi hak atas tanah yang berdasarkan grant sultan yang memenuhi persyaratan dikarenakan banyaknya tanah atas Grant Sultan yang tidak terdaftar di kantor pertanahan kota Meddan. Disebutkan juga dalam skripsi ini bahwa hanya di jumpai 8 ( delapan ) buku register Grant Sultan sedangkan buku register yang ke 9 ( sembilan ) hilang hal ini menimbulkan kesulitan dan kekacauan pendataan tanah yang memakai bukti Grant Sultan.
Penelitian Tesis ini merujuk sumber utama yang membahas tentang masalah Grant di Sumatera Timur sesuai dengan judul yang diteliti. Buku pertama sebagai sumber rujukan adalah karya Gerard Jansen yang berjudul: Grantrechten in Deli Uitgave Van Het Oostkust Van Sumatra Instituut 1925.
Buku ini mengupas tentang masalah Grant yang ada di Deli pada masa Gerad jansen menjabat sebagai kepala urusan biro pertanahan kotapraja Medan.
Sebagaimana kebanyakan pejabat Hindia Belanda yang di tempatkan disemua
wilayah yang terdapat di Nusantara khususnya di Sumatera Timur kala itu dia juga membuat laporan tentang aktifitasnya dimana dia ditempatkan yang pada akhirnya di buat menjadi sebuah karya buku yang menjadi panduan penting bagi peneliti- peneliti tentang kota Medan terlebih tentang hal pertanahannya.
Buku ini memuat tentang pengaturan agraria di daerah yang dikuasai, tentang bagaimana terjadinya grant-grant dan apa saja isinya, perbaikan Grant dengan usaha serta perbaikan Grant-Grant dengan registrasi yang lebih baik dan pengukurannya.
Buku kedua adalah karya dari Prof Mahadi S.H yang berjudul Sedikit Sejarah Perkembangan Hak-Hak Suku Melayu atas Tanah Sumatera Timur (Tahun 1800- 1975) Penerbit alumni- kotak Pos 272- Bandung yang di terbitkan pada tahun 1976.
Buku ini menggambarkan tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang melatarbelakangi perkembangan hukum tanah, perkembangan hak tanah sebelum kedatangan perkebunan asing di Sumatera timur, perkembangan hak tanah konsesi contoh-contoh konsesi, hak hak Grant juga mengenai Medan dan status tanahnya.
Buku ketiga adalah sebuah karya dari Karl J. Pelzer dengan judul Planters and peasant; Colonial Policy and The Agrarian Struggle in East Sumatra 1863-1947, Verhandelingen KITLV No 84,’S-Gravenhage-Martinus Nijhoff,1978. Buku ini menggambarkan tentang keadaan sejarah dan geographi Sumatera Timur. Dalam buku ini juga ditulis tentang Nienhys dan perkebunan awal tambakau juga tentang perkembangan perkebunan, pekerja, populasi dan perkembanngannya. Mengenai kebijakan agraria juga disinggung dalam buku ini bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sosial juga tentang masalah peneyewaaan lahan pertanian.
Buku keempat masih merupakan karangan Karl J Pelzer yang berjudul Planters againstPeasant: The Agrarian Struggle in East Sumatra 1947-1958, (Verhandelingen KITLV No 97,’S-Gravenhage-Martinus Nijhoff,1982). Dalam buku ini menggambarkan beberapa hal seperti Negara Sumatera Timur dan masalah agrarianya juga tentang Republik Indonesia dan juga tentang pertanahan.
Tinjauan pustaka yang lainnya adalah buku yang berjudul Perjuangan Rakyat Revolusi danHancurnya Kerajaan di Sumatera. Sebuah buku yang di tulis oleh Anthony Reid dengan juduk aslinya adalah The Blood of the End of Traditional Rule in North Sumatra yang di terjemahkan opleh tim PSH yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan Jakarta,1987. Pada buku ini digambarkan tentang susunan kerajaan- kerajaan di bawah birokrasi Belanda dan jaringan suku-suku yang terdapat di Sumatera Timur yang mengisahkan tentang kehidupan para bangsawan di kerajaan Deli, Serdang dan Langkat dan pada akhir buku di gambarkan ambruknya kekuasaan para Raja yang ada di Sumatera Timur akibat dari Revolusi Sosial serta sejumlah buku pendukung lainnya.
1.7 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang akan saya teliti adalah tentang sejarah Grant dimana akan melakukan penelusuran arsip pribadi dan kolonial yang ada di tangan pemilik grant baik itu dari keturunan kesultanan maupun kedatukan dan bahan yang berada di Arsip Nasional sebagai lemabaga arsip. Juga akan dilihat dari dokumen pribadi atau koran sebagai penambhan data refrensi yang berhubungan dengan grant.
Metode wawancara juga akan dilakukan untuk menelusuri dokumen- dokumen yang
terkait dengan grant kepada keturunan kesultanan juga kedatukan dan orang yang berhubungan dengan pertanahan di lokasi wilayah penelitian ini.
Setelah terkumpulnya data penelitian maka akan dilanjutkan ketahapan penyeleksian data serta fakta yang akan dipakai sebagai bahan untuk penelitian yang akan di teliti. Kemudian akan melakukan interpretasi data. Interpretasi merupakan proses yang cukup rumit dan penuh kehati- hatian dikarenakn sedikit saja salah menginterpretasi maka alur tentang penelitian akan menjadi kacau balau. Dan proses yang terakhir dari semua rangkaian yang ada adalah penulisan. Penulisan yang baik tentunya sesuai dengan fakta dan data yang ada karena memang menulis sejarah harus apa adanya seperti yang tertulis.
1.8 Sistematika Penulisan
Bab I merupakan Bab pendahuluan yang memuat tentang latar belakang masalah. Sekilas tentang pembukaan perkebunan tembakau dan kondisi pertanahan yang ada di wilayah Suamatera Timur. Kemudian masuk ke Bab II yang menjelaskan tentang gambaran umum kondisi wilayah Sumatera Timur seperti Letak Geographi, kondisi tanah,masyarakat serta sistem pemerintahan dan peraturan yang ada sebelum dan sesudah masuknya Belanda. Lalu pada Bab III merupakan hasil dari penelitian yang mengurai jawaban dari masalah yang di teliti. Untuk mendapatkan jawaban dari masalah penelitian di mulai dari munculnya sebuah Grant dan peneyebabnya ,seberapa luas peruntukan dari masing- masing grant yang dibuat,serta siapa saja yang berhak menerima Grant dan berbagai tipe grant dan seberapa banyak grant yang telah dikeluarkan.
Bab IV merupakan metode penelitian yang membahas isi dari penelitian serta hasil yang akan di peroleh dilanjutkan ke BAB V yang merupakan kesimpulan dari penelitian yang diteliti.
BAB II
SUMATERA TIMUR TAHUN 1890-1942
2.1 Kondisi Geografis
Selama abad ke-17 sampai abad ke-19 Aceh dan Siak adalah dua kerajaan terpenting di Sumatera. Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh sejumlah negara sungai kecil yang terletak di antara sungai Tamiang di Utara dan sungai Barumun Panai di Selatan. Negara- negara sungai kecil ini disebut dengan negara- negara Pantai Timur yang terdiri dari Tamiang, Langkat, Deli, Serdang, Batu Bara, Asahan Kualu, Panai, dan Bila.11 Negara-negara Pantai Timur ini diperebutkan oleh kedua Kerajaan Aceh dan Siak. Mereka bergantian mengakui berdaulat atas daerah tersebut.
Kesultanan Siak dan daerah-daerah taklukannya termasuk Negara- negara Pantai Timur secara administrasi berada di bawah wewenang Residen Riau.
Akan tetapi pada tahun 1873 memisahkan diri menjadi Keresidenan Pantai Timur Sumatera dengan Kota Bengkalis sebagai ibukotanya. Pada tanggal 1 Maret 1887, kedudukan pemerintah ibukota Pantai Timur dari Bengkalis dipindahkan ke kota Labuhan.12 Seperti tercatat dalam sejarah bahwa Sumatera Timur dibagi atas 5 (lima) Afdeeling, salah satu di antaranya Deli dan Serdang, Afdeeling ini dipimpin
11Beschrijving van het eiland Sumtera 1824, Arsip Sumatra Westkust/SWK, No. 144/11, Arsip Nasional Republik Indonesia. Lihat juga W.H.M. Schadee, Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust I (Amsterdam: Oostkust van Sumatra- Instituut, 1919), hlm. 30.
12Reorganisatie en bestuurmiddelen in Oostkust van Sumatra, 1913, Arsip Binnenland Bestuur, No. 725, Arsip Nasional Republik Indonesia. Lihat juga Statsblaad van Nederlandsch Indie van het jaar 1887, No. 45.
seorang Asisten Residen yang beribukota di Medan. Keresidenan Sumatera Timur terbagi atas 4 (empat) Onder Afdeeling yaitu Beneden Deli beribukota Medan, Boven Deli beribukota Pancur Batu, Serdang beribukota Lubuk Pakam, dan Padang Bedagai beribukota Tebing Tinggi. Masing- masing Onder Afdeeling dipimpin oleh seorang Kontrolier.13
Sumatera Timur membentang mulai dari titik batas di puncak Baisabukit (dulu disebut Wilhelmina Gebergte) dan barisan bukit Simanuk- manuk. Berangsur-angsur menurun dari Barisan Bukit Simanuk- manuk menyentuh pantai timur Danau Toba, terus ke dataran rendah dan rawa-rawa sepanjang pantai Selat Malaka. Luas Sumatera Timur 94.583 kilometer terletak di antara dua barisan bukit yang merupakan bagian dari sistem Bukit Barisan yang membentang dari Banda Aceh di utara sampai Tanjung Cina (Selat Sunda) di selatan dengan panjang 1.650 km.14
Secara geografis Sumatera Timur terletak di antara garis khatulistiwa dan garis Lintang Utara 40, berbatasan dengan Aceh di barat laut, dan Tanjung Cina di Selat Sunda bagian Selatan. Sumatera Timur mempunyai iklim pantai tropik yang sifat iklim mikronya dipengaruhi oleh topografi seperti daerah-daerah tanah tinggi “Tumor Batak”, antara lain; dataran tinggi Karo, pegunungan Simalungun, dan pegunungan Habisaran.15
13Binnenlandsch Bestuur, ibid.
14Sumatra Westkust/SWK, op.cit., no. 144/11.
15Karl J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani, Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatera Timur, 1863-1947
(Jakarta: Sinar Harapan, 1985), hlm. 31.
Daerah pantai rata-rata bersuhu 250C maksimum 320C, sedangkan di daerah-daerah yang lebih tinggi suhu menurun mencapai 120C dan berkisar antara 5,50C dan 180C.16 Curah hujan di Sumatera Timur rata-rata 2000 mm/tahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Suatu ciri iklim yang penting di Sumatera Timur adalah angin yang bertiup sangat kencang, terjadi pada bulan Juli sampai September. Angin bertiup di sepanjang lembah- lembah sungai, turun dari Tumor Batak melalui zona kaki pegunungan terus ke tanah-tanah rendah di Langkat. Angin ini dinamakan angin Bohorok, suatu nama yang diambil dari lembah sungai Bohorok yang merupakan anak sungai Wampu. Angin Bohorok menggantikan angin laut yang berhembus ke pedalaman selama siang hari.
Hembusan angin Bohorok yang sangat kencang, menimbulkan kegersangan yang dapat menghancurkan tanaman.
Wilayah Sumatera Timur merupakan hutan belantara, namun dalam beberapa dekade terbukti wilayah Sumatera Timur berubah menjadi salah satu daerah penghasil komoditi ekspor tembakau terpenting di Hindia Belanda. Selat Malaka sebagai jalur ekonomi yang strategis menghubungkan Asia-Eropa seperti terlihat dalam gambar 2.1 di bawah ini. Daerah-daerah yang berada di sepanjang Pesisir Pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya menjadi incaran para pengusaha Eropa untuk mengembangkan tanaman komoditas yang tengah laku di pasaran dunia.
16Lima Puluh Tahun Kota Medan (Medan: Jawatan Penerangan, 1959), hlm. 72.
Gambar 2. 1. Peta Sumatera Timur yang letaknya sangat strategis, Tanpa Tahun
Sumber: Kartografi Indonesia Jilid 1, No Inventaris KG. 1, No.1312, ANRI.
Selain itu mutu tanah yang berada di Sumatera Timur memiliki prospek untuk penanaman tembakau yang bernilai tinggi. Para pengusaha perkebunan sangat menaruh perhatian kepada mutu tanah dalam mempertimbangkan lahan untuk dikembangkan. Selama bertahun-tahun pengusaha-pengusaha perkebunan membedakan mutu tanah di Sumatera Timur, untuk menentukan lahan mana yang cocok ditanami tembakau sehingga dapat menghasilkan tembakau yang bermutu tinggi. Mutu dan harga tembakau tergantung kepada tanah tempat tembakau ditanam, seperti terlihat dalam tabel 2.1.
Tabel 2. 1. Harga Rata-rata Tembakau Menurut Jenis Tanah di Sumatera Timur Tahun 1893-1930
Jenis Tanah Gulden per ½ kg Dollar pon
AS per
A
B
Tanah-tanah lama
Debu dan tanah gembur liparitik 0,90 0,45
Tanah gembur dasitik 1,34 0,67
Liparitik-dasitik 1,51 0,75
Lahar dasitik-andesitik 1,70 0,90
Lahar dasitik 1,99 0,99
Tanah-tanah baru
Liparitik 1,16 0,58
Dasitik-andesitik 1,81 0,90
Sumber: Rein W. Van Bemmelen, The Geology of Indonesia (De Hague:
van Hove, 1949 ), hlm. 691.
Berdasarkan tabel tersebut di atas, tembakau yang ditanam baik di atas tanah lama maupun di atas tanah baru liparitik mempunyai nilai mutu lebih rendah, dibandingkan apabila ditanam di atas tanah yang berasal dari tanah dasitik atau dasitik-andesik.17 Tanah-tanah liparitik sangat asam, sebaliknya tanah-tanah dasitik dan andesistik hanya memiliki sedikit keasaman dan mempunyai pH 6 sampai 6,7. Tanah yang subur inilah merupakan kunci untuk pertumbuhan daerah perkebunan, sehingga menarik perhatian para pengusaha untuk membuka lahan- lahan luas yang akan di tanami tembakau.
17Tanah liparitik adalah endapan tanah gembur dari lahan vulkanik yang berasal dari semburan gunung berapi dan memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Tanah dasitik-andesistik hampir sama dengan tanah liparitik hanya memiliki keasaman lebih rendah. Lihat Rein W. Van Bemmelen, The Geology of Indonesia (De Hague: van Hove, 1949 ), hlm. 691.
Ketika perkebunan-perkebunan pertama dibuka di atas lahan yang terletak antara Sungai Wampu dan Sungai Ular, dapat menghasilkan tembakau yang bermutu tinggi. Namun ketika penanaman tembakau dilakukan ke luar dari lahan kedua sungai tersebut, hasil tembakaunya bermutu rendah.18 Kesimpulannya adalah bahwa tanah yang cocok untuk ditanami tembakau hanyalah di daerah antara Sungai Wampu dan Sungai Ular, dan daerah-daerah tersebut hampir seluruhnya berada di wilayah Deli, sebagian di daerah Langkat dan Serdang.19
2.2 Kondisi Demografis
Penduduk Sumatera Timur dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu masyarakat Melayu yang mendiami daerah pesisir pantai di Sumatera Timur dan masyarakat Batak yang mendiami daerah pedalaman di Sumatera Timur. 20 Daerah yang didiami oleh penduduk Melayu terletak di sepanjang pantai timur mulai dari Aceh sampai dengan Asahan. Mereka menghuni perkampungan dekat hilir sungai. Penduduk tersebut merupakan keturunan para imigran Melayu dari Jambi, Palembang, dan Semenanjung Malaya.
Beberapa di antaranya keturunan dari Minangkabau, Bugis, dan Jawa yang telah menetap di sepanjang
18A. Hoynck van Papendrecht, Gedenkschrijft van de Tabak Maatschappij Arendsburg, tergelegenheid van het 50- jarig bestaan, 1877-1927 (Rotterdam: van Hove, 1972), hlm. 20.
19Arsip Brieven Gouvernments Secretaris/BGS, 5 Maret 1929, No. 418/A2, Arsip Nasional Republik Indonesia.
Lihat juga Arsip Commissorial, 19 Nopember 1926, No. 31713, Arsip Nasional Republik Indonesia.
20Beschrijving de Battalanden op Sumatera Westkust 1843 , Arsip Sumatra Westkust/SWK, no. 144/12, Arsip Nasional Republik Indonesia.
pantai. Penduduk Melayu terdiri dari 5 (lima) kerajaan (kesultanan) yaitu Langkat, Deli, Serdang, Asahan, dan Kota Pinang.21 Masyarakat Batak terdiri dari 2 kelompok yaitu Batak Karo dan Batak Simalungun. Mereka mendiami daerah pedalaman Sumatera Timur yang terletak di derah timur laut dan sebelah timur Danau Toba. Penduduk Batak Karo mempunyai beberapa kerajaan yaitu Lingga, Suka, Sari nambah, Kuta buluh, dan Barus Jahe.
Masing- masing raja lokal ini menguasai sejumlah desa-desa, yang secara bersama-sama terikat oleh adat yang membentuk kerajaan. Kekerabatan dalam masyarakat Karo tradisional yang terpenting adalah marga, yang terdiri dari Makaro Ginting, Sembiring, Perangin-angin, dan Tarigan.
Masyarakat tradisional Batak Simalungun secara politik dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) kerajaan kecil yaitu Siantar, Tanah Jawa, Panei, Dolok, Raja Panai, dan Silimaluta. Sistem kekerabatan orang-orang Batak Simalungun sama dengan kelompok-kelompok Batak lainnya dengan penekanan pada marga.
22 Masuknya kekuasaan kolonial Belanda dan munculnya perkebunan- perkebunan besar serta missionaris asing di Tapanuli dan Simalungun memiliki dampak yang luas dan mendalam terhadap pola masyarakat tradisional. Pengaruh Melayu yang kuat terdapat di daerah pemukiman Batak Karo, khususnya dalam seni tari, musik, dan agama. Orang-orang Batak Karo mengindentifikasikan diri sebagai orang Melayu setelah mengawini penduduk Melayu di daerah tersebut.
21Mickel van Langenberg, ”Revolution in North Sumatra, Sumatra Timur and Tapanuli, 1942-1950” (Ph.D.
Dissertation, University of Sid ney, 1977), hlm. 82. 22Riddle, R.W, “ Ethnicity, Part and National Integration: An Indonesian Case (PhD Tesis, University of Yale, 1970)
Masyarakat yang berbeda suku bangsa ini memiliki kontak terbatas hanya pada perdagangan. Namun adanya ikatan perkawinan dan agama, mengakibatkan terselenggaranya hubungan di antara kelompok masyarakat tersebut.23 Pertumbuhan ekonomi yang cepat membawa perubahan besar dalam pola tata guna lahan serta pola sebaran dan komposisi penduduk.
Semakin banyak jumlah perkebunan semakin bertambah pula jumlah tenaga kerja yang didatangkan ke Sumatera Timur, sehingga dapat mempengaruhi jumlah penduduknya. Keadaan masyarakat di perkebunan yang multirasial, terdiri dari berbagai bangsa seperti, Asia (Jepang, India, dan Cina), Eropa (Belanda, Inggris, Perancis, Belgia, Swiss, dan Jerman), Amerika, dan pribumi (Melayu dan Batak), serta tenaga kerja dari Jawa.24 Tenaga kerja yang dipekerjakan lebih banyak dikerahkan dari luar daerah seperti Cina dari Straits Settlements, India, dan Jawa. Hal ini menyebabkan tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru, seperti tertera dalam tabel 2. 2 yang menjelaskan bahwa jumlah penduduk di Sumatera Timur semakin meningkat.25 Pada tahun 1880 jumlah penduduk Sumatera Timur berjumlah 118.755, naik menjadi 420.928 orang (naik 88%) pada tahun 1900. Pada tahun 1905 penduduknya berjumlah 568.417 orang (naik 35%). Demikian pula tahun 1915 penduduknya berjumlah 833.320 orang (naik 47%).
23Karl J. Pelzer, op.cit., hlm. 42.
24J. De. Waard, “De Oostkust van Sumatra”, Tijdscrift voor Economische Geographie, No 7, Juli 1934, hlm. 257.
25Deli data 1863-1938 (Mededeeling van het Oostkust van Sumatra- Institunt), No. 26, hlm. 35.
Hampir semua penduduk baik penduduk Eropa, penduduk pribumi maupun penduduk Cina bertambah jumlahnya, hanya penduduk Arab dan lainnya saja yang menurun menjadi 14.320 orang.
Tabel 2.2. Penduduk Sumatera Timur Tahun 1850-1915.
Tahun Eropa Pribumi Cina Arab/Timur
Asing
Jumlah
1880 522 90.000 25.700 2.533 118.705
1900 2.097 306.035 103.768 9.028 420.928
1905 2.667 450.941 99.236 15.573 568.417
1915 5.200 681.800 132.000 14.320 833.320
Sumber: Deli data 1863-1938 (Mededeeling van het Oostkust van Sumatra- Instituut), No. 26, hlm. 35.
2.3 Kondisi Sosial Ekonomi Tahun 1870-1930
Sebelum pengusaha-pengusaha Barat datang untuk membuka lahan perkebunan, lahan vulkanik yang subur telah dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah sekitarnya, yaitu Batak Karo dan Melayu untuk menanam padi, cabai, dan tembakau secara berselang-seling.26 Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang dilakukan secara berhuma, yaitu bercocok tanam dengan cara berladang di hutan-hutan. Petani-petani ladang telah melakukan pembukaan dan pembakaran hutan pada musim kering yang akan digunakan menanam umbi-umbian, sayur- mayur, tebu, dan pisang. Pada musim hujan berikutnya, lahan tersebut akan digunakan untuk menanam padi. Setelah penduduk mengenal tanaman lada, mereka
26Anthony Reid (editor), Soematera Tempo Doeloe Dari Marco Polo sampai Tan Malaka (Jakarta: Komunitas Bamboe,
2010), hlm. 300.
memadukannya dengan sistem pertanian tradisional yaitu menanam lada secara berselang-seling di antara tanaman ubi-ubian dan padi.
Lada merupakan tanaman yang relatif baru di Sumatera Timur, namun sebaliknya di daerah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan lada merupakan komoditi ekspor yang sudah lama ditanam. Pada awal tahun 1800 di wilayah Sumatera Timur khususnya Deli, Langkat, dan Serdang mengalami panen besar lada. Hal ini didukung oleh data statisik Penang bahwa pengiriman lada dari Sumatera Timur meningkat dari 3000 pikul pada tahun 1814 menjadi 26.000 pikul pada tahun 1822.27 Meningkatnya hasil ekspor lada menunjukan bahwa telah dilakukan perluasan penanaman lada yang sangat besar di daerah tersebut. Lada ditanam secara besar-besaran di wilayah Sumatera Timur khususnya Deli, Langkat, dan Serdang.
Sejak saat itu Sumatera Timur menjadi daerah penting sebagai pasar bagi barang-barang ekspor Penang terutama lada. Pulau Penang yang terletak di Semenanjung Malaya telah dikuasai Inggris sejak tahun 1786, selain berfungsi sebagai pintu masuk bagi pemasaran ekspor barang-barang industri Inggris, juga menampung barang-barang produksi ekspor dari pelabuhan- pelabuhan di Sumatera. Kemampuan masyarakat di Sumatera Timur selain menanam lada juga menanam tembakau yang sudah dilakukan sebelum kedatangan pengusaha- pengusaha perkebunan Barat. Hal itu sudah diketahui juga oleh orang Asing sejak
27Karl J. Pelzer, op.cit., hlm. 20.
masa Anderson.28 Pengamatan Anderson mengenai penanaman tembakau Deli sangat penting karena tanaman inilah yang kemudian membuat Deli terkenal ke seluruh dunia. Tembakau yang ditanam oleh orang-orang Melayu dan Batak dilakukan dengan cara yang sangat sederhana.29 Produksi dan ekspor tembakau pada saat itu sudah mendekati produksi dan ekspor lada, sehingga Deli menjadi suatu daerah makmur karena hasil lada dan tembakaunya. Tanaman tersebut ditanam secara besar-besaran, karena merupakan komoditi ekspor terpenting.
Pada saat itu Deli berada di bawah pemerintahan Sultan Panglima Pengedar Alam Syah. Sultan memperoleh penghasilan, dari cukai barang masuk dan ke luar serta uang pabean lainnya yang diperkirakan berjumlah 4500 ringgit burung30 atau sekitar 1000 dollar.31 Jumlah penduduk Deli diperkirakan sekitar
28Tanggal 1 Januari 1823 Sekretaris Gubernur Perusahaan Hindia Timur Inggris di Penang, menugaskan Jhon Anderson untuk mensurvei Pantai Timur Tamiang di Utara sampai ke Jambi di Selatan. Laporan Anderson mencakup uraian tentang perjalanan dan gambaran Pantai Sumatera Timur yang dituangkan dalam bukunya, Mission to the Eastcoast of Sumatra (London: Cornell University Press, 1826), Ibid.
29Mereka menaburkan bibit di persemaian kecil, kemudian mencabut dan menanamnya kembali sesudah dua puluh hari dalam deretan kira-kira 2 (dua) kubit (45,72 cm). Dalam waktu 4 (empat) bulan tembakau s iap dipanen. Pada saat berusia 2 (dua) bulan pucuknya dipotong agar daun-daunnya bertambah lebar. Apabila tanaman itu telah mempunyai tujuh helai daun, para penanam mulai memanen daun-daun tembakau tersebut. Tanda tembakau siap dipanen adalah daunnya mulai layu dan berwarna kecoklat-coklatan. Daun-daun tembakau dibiarkan disinari matahari selama empat hari kemudian dimasukan ke dalam keranjang-keranjang kecil dan siap untuk dipasarkan.
Lihat Mission to the Eastcoast of Sumatra (London: Cornell University Press, 1826), hlm. 281.
30Ringgit burung adalah rial Spanyol, 1 rial Spanyol sama dengan 8 shilling, 1 shilling sama dengan 30 du Belanda.
Du atau Duit adalah mata uang Belanda. 1 rial Spanyol adalah 240 du (8 x 30 du). 8 du Belanda adalah 1 stuiver setara dengan 5 sen, berarti 1 sen adalah 1,6 du. 100 sen/1 gulden setara dengan 160 du. Jadi 1 rial Spanyol setara dengan 1,5 gulden. Lihat W. H. M. Schadee II, op.cit., hlm. 180.
3000 orang Melayu, dan penduduk suku Batak Karo yang tinggal di pedalaman berjumlah 8000 orang.32 Penduduk Batak Karo di wilayah Sunggal dipimpin oleh Kepala Suku Batak Karo yang disebut Orang Kaya Sunggal. Hubungan Sultan Deli dengan Orang Kaya Sunggal tidak pernah baik. Produksi ekspor di wilayah Sunggal dijadikan sumber cukai oleh Sultan Deli sehingga di antara mereka sering terjadi pertikaian.
Kesultanan Deli membuka hubungan dengan dunia luar terutama Belanda, untuk mengurangi pengaruh Kerajaan Aceh dan Siak. Perjanjian politik yang pertama dengan Belanda ditandatangani pada bulan Agustus tahun 1862. Perjanjian tersebut menentukan bahwa orang-orang Eropa tidak diperkenankan masuk ke Deli tanpa persetujuan leb ih dahulu dari residen.33 Orang-orang Eropa yang dimaksud adalah Inggris yang telah lebih dahulu mendirikan kantor pusat perdagangan di Penang, bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris. Inggris ingin mendirikan serangkaian pos kecil di sepanjang pantai Sumatera Timur.
Pada tanggal 5 Maret 1863 perjanjian tersebut diperbaharui dengan ketentuan bahwa orang-orang yang berdagang boleh masuk ke Deli tanpa izin.
31Begroting van het Cultuurgebied der Oostkust van Sumatera, 1902-1932, Arsip Binnenland Bestuur, No. 725, ANRI. Lihat juga Sumatra Post, 5 Mei 1923.
32W.H.M. Schadee I, op.cit., hlm. 29.
33Pemerintah Inggris selain bertujuan untuk mencari keuntungan bagi perniagaan mereka, juga bertujuan untuk mengurangi perselisihan yang banyak terjadi di antara kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut. Inggris khawatir, jika Belanda akan menjalankan praktek monopoli perdagangan di Sumatera Timur yang terletak tepat di seberang Penang. Ibid.
Jika mereka bermukim lebih dari 3 bulan, sultan harus melapor kepada residen. Hal ini membuka kesempatan kepada para peminat Eropa lainnya untuk menanamkan modalnya di Deli.
Terbukanya kesempatan bagi para pengusaha Eropa untuk menanamkan modalnya di Wilayah Sumatera Timur juga didukung oleh pemberlakuan Undang- Undang Agraria tahun 1870. Undang-undang tersebut memberi peluang untuk membuka lahan perkebunan seluas- luasnya di wilayah Sumatera Timur. Pembukaan hutan belantara untuk dijadikan daerah perkebunan dimulai dari daerah Deli, selanjutnya meluas ke daerah Serdang, Langkat, Simalungun, dan Asahan.34
Sejak berlakunya Undang-undang Agraria tahun 1870, peran pemerintah dalam bidang ekonomi diserahkan kepada pihak swasta.
Pengaruh swasta di dalam sistem monopoli ekonomi menjadikan peluang kesejahteraan rakyat semakin menurun. Hal ini disebabkan seluruh kegiatan eksploitasi perekonomian dimiliki oleh swasta dan tanah-tanah subur telah disewa oleh pengusaha- pengusaha swasta yang bergerak di bidang tanaman ekspor. 35 Dampak liberalisasi ekonomi menyebabkan perkembangan ekonomi di kawasan tersebut semakin pesat. Wilayah Sumatera Timur selain membawa keberuntungan bagi pengusaha-pengusaha Eropa dalam mengelola tanaman ekspor, juga membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi penduduk
34Commissorial, op. cit., no. 31713.
35Ibid.
setempat.36 Hal ini disebabkan pertama, proses produksi dan pemasaran ditentukan oleh pemerintah kolonial, pengusaha, serta keluarga kerajaan yang memberikan konsesi.37 Sementara itu rakyat hanya berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja yang tidak memiliki kekuatan tawar-menawar untuk menentukan besar kecilnya nilai dan hasil produksi. Kedua, sistem penyewaan tanah yang berlaku di Sumatera Timur menimbulkan keresahan sosial bagi masayarakat di wilayah tersebut dan berujung pada peristiwa perang Sunggal yang meletus pada tahun 1872.38 Ketiga, Hubungan ekonomi antara kelompok elite perkebunan dan masyarakat sekitarnya sangat minim, demikian pula hubungan sosial antara dua masyarakat tersebut. Minimnya hubungan sosial ekonomi karena adanya perbedaan yang mencolok dalam kehidupan antara masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitarnya. Hal ini menyebabkan masyarakat perkebunan hidup dalam suatu enclave yang terpisah dari masyarakat sekitarnya. Kecemburuan sosial dalam situasi tersebut tidak dapat dihindari di kalangan masyarakat sekitar terhadap masyarakat perkebunan. Kecemburuan sosial muncul karena disatu sisi sebagian besar masyarakat hidup dalam kemiskinan karena tidak memiliki tanah, di sisi lain pengusaha perkebunan menguasai puluhan sampai ratusan ribu hektar tanah.
36Indera, “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah
Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940” (Makalah, disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 Nopember 2006), hlm. 2. 37Bambang Purwanto, ”Menelusuri Akar Ketimpangan dan Kesempatan Baru: Catatan tentang Sejarah Perkebunan Indonesia” dalam website (http://sejarah.fib.ugm.ac.id /artdetail. Phpid, hlm.12), diunduh 31/8/2010 7:38 PM. 38William O’Malley, “Indonesian in The Great Depression: A Study of Jokyakarta and East Sumatra” (PhD Thesis: Cornell University, 1977), hlm.145.
Kecemburuan sosial seperti ini yang kemudian mudah dimanfaatkan oleh pihak anasir luar, untuk memunculkan gerakan sosial yang dapat mengganggu stabilitas politik di wilayah tersebut.39
2.4 Gambaran Umum GEMEENTE Medan Kondisi Geografis dan Demografis
Medan merupakan wilayah yang terletak di pesisir Pantai Timur Sumatera. Wilayahnya terletak pada 3˚ 35’ lintang utara dan 98˚ 40’ bujur timur.40 Daerah ini berada lebih kurang 14 meter dari permukaan laut, dan beriklim tropis. Wilayahnya yang terletak antara pantai Selat Malaka dan pegunungan Dataran Tinggi Karo membuat daerahnya tergolong panas. Suhu panas rata-rata per tahun mencapai 27˚ Celcius dengan pengaruh udara pegunungan dan laut tersebut.41 Wilayah yang disebut dengan Medan pada awalnya terdiri dari beberapa kampung-kampung kecil seperti kampung Medan Putri, kampung Pulo Brayan, dan kampung Kesawan. Kampung Medan Putri merupakan perkempungan orang Melayu yang disebut sebagai asal-usul wilayah Medan. Kampung Medan Putri tersebut terletak antara pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli yang termasuk dalam wilayah XII Kuta Hamparan Perak. Menurut John Anderson penduduk kampung Medan pada saat itu berjumlah 200 jiwa.42
39 Sistem penyewaan tanah di sumatera timur menimbulkan keresahan sosial yang berujung pada eristiwa tahun 1872 yaitu meletusnya perang sunggal.Lihat William O’Malley, loc.cit40 Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, No. 7, s’Gravenhage-Leiden: Martinus Nijhoff-E. J. Brill, 1917, hal. 1126. 41 Usman Pelly, dkk., Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Kotamadya Medan, Jakarta: Depdikbud, 1984, hal.1. 42 John Anderson, Mission to East Coast of Sumatra in 1823, Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1971, hal, 273.
Letak Medan yang berada di antara pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli sangatlah strategis mengingat transportasi utama pada masa itu adalah melalui sungaiyang menghubungkan antara pedalaman di Deli Tua dengan Labuhan yang merupakan pusat kesultanan Deli. Pusat kesultanan Deli tersebut merupakan bandar yang ramai dan penting serta mampu menampung kegiatan ekspor dan impor barang dagangan dari dan ke luar kesultanan Deli.43 Dalam akses transportasi masyarakat, selain melalui sungai terdapat juga akses darat yaitu jalan setapak dan berlumpur jika hujan datang yang menyusuri sepanjang sungai Deli.44Wilayah Medan tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan kesultanan Deli. Kesultanan Deli yang berpusat di Labuhan merupakan suatu bandar yang ramai dan makmur sebelum masuknya kolonialisme Belanda di wilayah.16Kolonialisme Belanda masuk ke wilayah Deli yaitu ketika sultan Deli yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam menandatangani perjanjian dengan pemerintahan kolonial Belanda melalui Residen E. Netscher pada tanggal 22 Agustus 1862. Perjanjian ini dikenal dengan nama Acte van Verband.45
43 Ratna, “Labuhan Deli: Riwayatmu Dulu”, dalam Historisme, Edisi No. 22/Tahun XI/Agustus 2006, Medan: USU Press, 2006, hal. 7.
44 M.A. Loderichs, D. A. Buiskool, B. B. Hering (et.al.), Medan: Beeld van Een Stand, Purmerend: Asia Maior, 1997, hal. 14-15.
45 Kolonialisme Belanda masuk ke wilayah Deli melalui kerajaan Siak dengan Traktat Siak (Perjanjian Siak). Dengan Traktat Siak tersebut, kolonial Belanda mulai melakukan ekspansi politik ke kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur yang merupakan vasal dari kerajaan Siak, yaitu Kota Pinang, Batu Bara, Bedagai, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta daerah kesultanan Deli. Lihat W. H. M. Schadee, Geschiedenis van Sumatra Oostkust, Deel I, Amsterdam: Oostkust van Sumatra Instituut, 1918, hal. 71- 73. 46 Dalam hal ini Sultan Mahmud Perkasa Alam bersedia mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda dengan syarat bahwa kerajaan Siak bukan merupakan atasan bagi kesultanan Deli;
Untuk memperkuat pengaruh dan kedudukannya di wilayah Deli, pemerintah kolonial Belanda membangun kantor perwakilannya di Labuhan (ibukota kesultananDeli) dan menempatkan Kontrolir J. A. M. de Cats Baron de Raet. Setelah penandatanganan Acte van Verband wilayah Deli khususnya Labuhan mulai dilirik untuk dijadikan wilayah perkebunan tembakau. Pada tahun 1863, J. Nienhuys seorang berkebangsaan Belanda datang ke Deli untuk mengusahakan tembakau dan mendapat konsesi tanah dari Sultan Mahmud Perkasa Alam. Daerah konsesi yang pertama terletak di tepi sungai Deli yaitu seluas 4000 bau. Konsesi ini diberikan selama 20 tahun dan selama 5 tahun pertama dibebaskan dari pajak dan sesudah itu baru membayar f 200,- per tahun.47
Usaha perkebunan tembakau J. Nienhuys ternyata berhasil dan keberhasilan ini dimanfaatkan oleh J. Nienhuys untuk memperluas perkebunan tembakaunya dengan menyusuri sungai Deli ke hulu hingga sampai ke daerah Medan. Pada tahun 1869, J. Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya, Deli Maatschappij yang sebelumnya terletak di Labuhan ke Medan. Hal ini dikarenakan letak Medan yang lebih tinggi dari Labuhan sehingga dapat terhindar dari banjir. Alasan lainnya adalah karena Medan terletak di pusat lahan perkebunannya. Pada saat itu Medan masih disebut kampung Medan Putri yang terletak pada pertemuan sungai Deli dan sungai Babura.48
47 Nurhamidah, “Sejarah Buruh Perkebunan di Sumatera Timur”, dalam Historisme, Edisi No. 21/Tahun X/Agustus 2005, Medan: USU Press, 2005, hal. 19-20. 48 Tengku Luckman Sinar, Sejarah Medan Tempo Doeloe, Medan:
Lembaga Penelitian Budaya Melayu Medan, 1991, hal. 53-54.