DAFTAR LAMPIRAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.2.1 Perkembangan ikan
Volume kuning telur berbeda nyata pada beberapa perlakuan (Gambar 2). Pada dasarnya, perlakuan perendaman hormon tiroksin dapat menurunkan volume kuning telur dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan hormon tiroksin dapat memacu perkembangan proses pembentukan organ pada larva ikan sehingga volume kuning telur lebih banyak terserap. Hal ini didukung oleh Lam dan Reddy (1992) bahwa pemberian tiroksin dapat mempercepat proses diferensiasi, dan pertumbuhan pada ikan mas koki, serta memacu pembentukan jari-jari sirip dorsal dan anal.
Volume telur larva ikan patin yang diberi perlakuan hormon tiroksin dan hormon rGH dapat menurun dengan cepat, akan tetapi pada perlakuan
a b
c d
20 µm 20 µm
perendaman menggunakan rGH volume kuning telur tidak cepat menurun dan belum bekerja . Hal ini juga didukung oleh volume pada perlakuan hormon rGH yang tidak terlalu cepat menurun. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan hormon ini tidak bekerja antara lain, hormon ElrGH yang diberikan ke larva ikan patin tidak kompatibel, dosis yang diberikan tidak optimum, serta waktu perendaman yang tidak optimum. Selain itu pada penelitian ini juga tidak dilakukan kejutan salinitas seperti pada penelitian ikan gurame, ikan betok maupun ikan sidat sehingga diduga hormon rGH tidak dapat masuk ketubuh ikan secara maksimum.
Laju penyerapan kuning telur tertinggi yaitu 96,98% didapatkan pada perlakuan perendaman hormon tiroksin. Pada jam ke-16 hampir semua larva yang diamati kuning telurnya telah terserap, dan pada jam ke-20 semua larva yang diamati telah habis kuning telurnya. Dengan demikian, hormon tiroksin 0,1 mg/L yang diberikan pada larva ikan patin bekerja dengan optimum. Norfirdaus (1997) menyatakan bahwa pembentukan bintik mata, gelembung renang, dan pigmentasi lebih cepat terjadi pada larva ikan betutu yang diberi hormon tiroksin konsentrasi 0,1 ppm. Perlakuan gabungan antara hormon tiroksin dan rGH tidak begitu meningkatkan laju penyerapan kuning telur tetapi pertumbuhan pada perlakuan ini sangat cepat sehingga pemanfaatan kuning telurnya lebih efisien dibandingkan perlakuan tiroksin. Hal ini diduga karena volume kuning telur pada perlakuan tersebut tidak cepat habis sehingga laju penyerapan kuning juga tidak cepat.
3.2.2 Pertumbuhan ikan
Pertumbuhan panjang total larva ikan patin yang tertinggi didapatkan pada perlakuan perendaman hormon tiroksin dengan peningkatan panjang total sebesar 14,41% dibandingkan kontrol (Gambar 5 dan Lampiran 9). Pertumbuhan panjang total pada hari ke-0 pengamatan tidak terjadi beda nyata antar perlakuan. Pada hari ke-3 terlihat bahwa pada perlakuan perendaman hormon tiroksin lebih cepat tumbuh dibandingkan perendaman hormon lain. Hal ini diduga karena laju penyerapan kuning telur ikan dapat terserap dengan cepat, sehingga dapat membentuk organ ikan yang mengakibatkan pertumbuhan menjadi lebih cepat. Etherge (1993) dalam Daneyanti (2001) melaporkan bahwa, pemberian hormon
tiroksin dapat meningkatkan metabolime tubuh. Dengan peningkatan metabolisme tubuh, dapat menyebabkan larva ikan patin yang direndam dengan hormon tiroksin memiliki tingkat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.
Perlakuan perendaman gabungan hormon tiroksin dan rGH memiliki pertumbuhan panjang total sebesar 24 mm pada saat hari ke-12. Pertumbuhan hormon gabungan ini diduga hanya hormon tiroksin yang bekerja, sedangkan hormon rGH belum bekerja secara optimum. Hal ini didukung dengan tidak telalu maksimum hasil perlakuan dengan hormon rGH. Meskipun perlakuan hormon gabungan bukan pertumbuhan terbaik tetapi hormon gabungan lebih efesien dibandingkan hormon tiroksin. Hal ini dikarenakan pada jam ke-16 kuning telur perlakuan tiroksin telah terserap 96,97%/jam dengan panjang total pada hari ke-3 sebasar 7,88±0,56 mm sedangkan pada perlakuan hormon gabungan kuning telur yang terserap hanya 20,596%/jam dengan panjang total pada hari ke-3 sebesar 7,72±0,61 mm. Dengan demikian bahwa hormon gabungan dapat meningkatkan panjang total dengan tidak mempercepat laju penyerapan kuning telur.
Tingkah laku ikan pada saat pemeliharaan meliputi pergerakan ikan, nafsu makan, dan warna kulit ikan. Pada tingkah laku ikan, ikan yang paling aktif dalam berenang adalah perlakuan hormon tiroksin sedangkan pergerakan ikan kontrol pasif (lebih banyak diam). Hal ini diduga karena pada perlakuan hormon tiroksin laju metabolismenya tinggi, sehingga ikan bergerak aktif mencari makan. Djojosoebagio (1996) menyatakan bahwa hormon tiroksin dapat merangsang laju oksidasi dalam sel terhadap bahan makanan, meningkatkan laju konsumsi oksigen, meningkatkan pertumbuhan, dan mempercepat proses metamorfosis. Nafsu makan ikan perlakuan hormon tiroksin dan gabungan sangat tinggi dibandingkan perlakuan kontrol dan perlakuan hormon pertumbuhan. Hal ini terlihat pada saat ikan diberi pakan, pakan yang diberikan pada perlakuan ini lebih cepat habis. Cepatnya pakan yang habis pada saat diberikan akibat pergerakan ikan yang aktif sehingga dibutuhkan energi yang lebih banyak. Warna ikan yang diberi perlakuan hormon tiroksin dan gabungan lebih bening dibandingkan perlakuan lainnya. Beningnya warna ikan pada perlakuan hormon tiroksin dan hormon gabungan menandakan ikan sehat.
3.2.3 Tingkat kelangsungan hidup
Rerata tingkat kelangsungan hidup larva ikan patin pada penelitian ini sebesar 79%. Perlakuan dengan perendaman hormon tiroksin memiliki tingkat kelangsungan hidup paling tinggi. Hal ini dikarenakan, adanya penyerapan kuning telur yang optimum, sehingga dapat menyebabkan perkembangan pada organ tubuh ikan berjalan dengan baik. Selain itu, diperkuat dengan pertumbuhan larva ikan patin yang cepat. Hasil penelitian Lam (1980) pada ikan mujair menggunakan hormon tiroksin dengan kadar 0,1 ppm diperoleh tingkat kelangsungan hidup lebih baik dibandingkan kontrol.
Perlakuan perendaman hormon gabungan hormon tiroksin dan hormon rGH memiliki tingkat kelangsungan hidup paling rendah. Rendahnya tingkat kelangsungan hidup dimungkinkan karena larva ikan stres akibat perendaman hormon secara bersamaan.
3.2.4 Histologi hati
Hati merupakan organ yang memiliki peran penting dalam mahluk hidup. Berdasarkan hasil histologi hati larva ikan didapat pada perlakuan kontrol, perlakuan hormon tiroksin dan rGH, serta perlakuan hormon rGH didapat ukuran jaringan sel hati dan ukuran sitoplasma masih kecil. Ukuran jaringan sel dan sitoplasma masih kecil dikarenakan pertumbuhan pada larva ikan tidak cepat. Perlakuan tiroksin memiliki ukuran jaringan sel hati dan ukuran sitoplasma sangat besar (Gambar 7b). Besarnya ukuran sel dan sitoplasma ini diakibatkan oleh hormon tiroksin yang harus dikonversi menjadi triiodotironin atau beberapa bentuk lainnya. Djojosoebagio (1996) menyatakan bahwa proses konversi ini berlangsung di hati dan ginjal dengan bantuan enzim T4-5‟-deiodinase yang dihasilkan oleh mikrosoma.
Pada perlakuan perendaman hormon gabungan hormon tiroksin dan hormon rGH terjadi kerusakan jaringan berupa cloudy swelling (Gambar 7c.). Cloudy swelling ditandai oleh adanya sel-sel yang membengkak disertai dengan sitoplasma yang bergranula (berbutir-butir) sehingga jaringan tampak keruh. Hal ini sejalan dengan pernyataan Himawan (1990) bahwa sel hati bengkak dengan
sitoplasma berbutir keruh mungkin disebabkan oleh pengendapan protein yang disebut sebagai degenerasi albumin.
3.2.5 Analisis biaya
Kegiatan budidaya merupakan suatu usaha yang berorientasi profit sehingga biaya produksi harus minimalis dan keuntungan yang maksimum. Pada penelitian ini secara ekonomi lebih menguntungkan karena mampu memproduksi larva ikan patin benih berukuran 1 inci dengan waktu 12 hari, sedangkan ukuran ini biasanya diproduksi selama 20-30 hari dengan kepadatan pemeliharaan yang sama yaitu 40 ekor/liter. Semakin singkat usaha budidaya, maka semakin cepat siklus budidaya sehingga keuntungan semakin besar. Ditingkat petani pada hari ke-12 ukuran larva patin hanya mencapai ukuran ¾ inci dengan harga berkisar Rp.50-60,- per ekor. Melalui penelitian ini harga ikan patin dapat meningkat menjadi Rp. 80,- karena ukuran yang didapatkan 1 inci sehingga apabila diaplikasikan dapat memiliki keuntungan Rp.20-30,- per ekor (Lampiran 16 dan 17).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Perendaman hormon (hormon tiroksin, kombinasi hormon tiroksin dan hormon pertumbuhan, dan hormon pertumbuhan) dapat meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan larva ikan patin Siam. Perendaman dengan kombinasi hormon tiroksin 0,1 mg/L dan hormon pertumbuhan rekombinan 10 mg/L secara bersamaan memiliki pertumbuhan yang tinggi (24 mm) yang dicapai selama 12 hari, dengan efisiensi penyerapan laju kuning telur yang tinggi (80%). Kelangsungan hidup larva sama pada semua perlakuan.
4.2 Saran
Perendaman larva patin dengan hormon tiroksin 0,1 mg/l dan hormon pertumbuhan rekombinan 10 mg/l secara bersama disarankan diaplikasikan di petani karena dapat mempercepat perkembangan dan pertumbuhan larva. Serta memiliki laju penyerapan kuning telur yang lebih efisien dalam pertumbuhan ikan ini.